Guru Baruku Menyuruhku Keluar Kelas karena Lip Balm, Tanpa Tahu Delapan Kakakku Sudah Menjagaku Sejak Lahir

Avatar penulis
Cerita 01
22 menit baca 10 tayangan
Guru Baruku Menyuruhku Keluar Kelas karena Lip Balm, Tanpa Tahu Delapan Kakakku Sudah Menjagaku Sejak Lahir
Indeks

Guru Baruku Menyuruhku Keluar Kelas karena Lip Balm, Tanpa Tahu Delapan Kakakku Sudah Menjagaku Sejak Lahir

Bagian 1

Menurut cerita keluarga, selama belasan generasi keluarga Pradipta hampir selalu melahirkan anak laki-laki. Karena itu, ketika aku lahir sebagai anak kesembilan sekaligus satu-satunya perempuan, delapan kakakku memperlakukanku seolah rumah kami baru saja menerima benda paling rapuh di dunia.

Foto pertamaku bahkan bukan bersama Ayah atau Ibu.

Di foto itu, delapan anak laki-laki berdiri berdesakan di sisi tempat tidur rumah sakit, masing-masing berusaha melihat wajahku lebih dekat.

Kakak pertama, Arga, yang sekarang memimpin perusahaan keluarga, sering membanggakan satu cerita yang entah benar atau sudah dibesar-besarkan bertahun-tahun. Katanya, saat aku baru beberapa jam lahir, dia menyelipkan sebuah kartu bank ke dalam selimut bayi.

“Buat Nayara,” katanya waktu itu. “PIN-nya nanti tanggal lahirnya.”

Ibu langsung mengambil kartu itu dan memukul lengannya dengan bantal.

Guru Baruku Menyuruhku Keluar Kelas karena Lip Balm, Tanpa Tahu Delapan Kakakku Sudah Menjagaku Sejak Lahir

Kakak kedua, Bayu, yang sejak muda punya pergaulan jauh lebih keras dibanding kami semua, malah berdiri paling jauh dari ranjang.

“Ini benar adik kita?” tanyanya pelan. “Kenapa kecil sekali?”

Kakak ketiga, Damar, yang sekarang menjadi dokter, sudah cerewet bahkan ketika masih kuliah kedokteran.

“Kenapa dia bikin gelembung dari mulut?” katanya. “Kalian jangan terlalu dekat. Tangan kalian bersih tidak?”

Bayu menyahut, “Yang paling kotor di sini justru mulutmu.”

Begitulah hidupku dimulai.

Delapan kakak laki-laki yang menganggap lecet di lututku sebagai keadaan darurat keluarga.

Kalau aku demam, satu orang mencari termometer, dua orang menelepon Damar, sisanya berdiri di depan kamar sambil membuat suasana jauh lebih ribut daripada penyakitku sendiri.

Kalau aku menginginkan sesuatu, hampir selalu ada yang membelikannya.

Kalau aku sedih, selalu ada orang yang bertanya siapa yang membuatku menangis.

Akibatnya, sampai SMA pun aku masih kadang menyebut diriku sendiri “bayi” saat berada di rumah.

Ibu bilang itu akibat delapan laki-laki yang tidak tahu kapan harus berhenti memanjakan adiknya.

Aku tidak membantah.

Hari ketika masalah dengan guru baruku dimulai sebenarnya terasa seperti hari sekolah biasa.

Bu Sinta baru beberapa minggu menggantikan guru olahraga sekaligus membantu beberapa jam pelajaran pengganti di kelasku. Sejak awal aku sudah merasa caranya memperlakukan murid perempuan dan laki-laki berbeda.

Saat istirahat setelah olahraga, sebagian teman sedang makan camilan dan minum di kelas.

Bu Sinta berdiri di dekat meja beberapa anak laki-laki sambil tertawa.

Seorang anak menyodorkan keripik kentang ke arahnya. Bu Sinta langsung mengambilnya.

“Lumayan,” katanya sambil tertawa. “Ibu enggak pilih-pilih kalau kalian yang kasih.”

Dia lalu mengambil biskuit dari tangan murid lain dan menepuk bahu anak itu.

Beberapa teman perempuan saling pandang.

Aku tidak ikut memperhatikan lama.

Aku membuka tas merah muda, mengambil cermin kecil dan lip balm rasa stroberi. Setelah olahraga, bibirku terasa kering. Aku mengoleskannya tipis-tipis lalu merapatkan bibir.

Harumnya manis.

Saat aku hendak memasukkannya kembali ke tas, Bu Sinta sudah berdiri di sebelah mejaku.

“Kamu pakai apa?”

“Lip balm, Bu.”

Tatapannya turun ke tanganku.

“Lipstik?”

“Bukan.”

Dia mengambil posisi di depan mejaku sehingga seluruh kelas bisa mendengar.

“Masih sekolah sudah sibuk dandan. Mau dilihat siapa?”

Aku mengernyit.

Beberapa anak langsung berhenti makan.

Bu Sinta melanjutkan, “Bibir dibuat begitu untuk menarik perhatian siapa?”

Aku menutup lip balm sebelum menjawab.

“Ini pelembap bibir anak-anak, Bu.”

Aku mengangkat tabung kecil itu.

“Kalau kulit sensitif sebaiknya memang pakai yang ringan.”

Lalu, karena saat itu aku masih Nayara yang terbiasa membalas kakak-kakakku tanpa berpikir panjang, aku menambahkan dengan wajah sangat serius, “Lagi pula bibirku sudah merah. Aku belum perlu lipstik seperti orang dewasa.”

Seseorang di belakang terkekeh.

Salahku adalah aku ikut menatap warna lipstik Bu Sinta.

Tawanya langsung hilang.

“Kamu menyindir Ibu?”

Aku memiringkan kepala.

“Saya cuma menjawab pertanyaan Bu Sinta.”

“Nayara Pradipta.”

Nada suaranya berubah.

“Jangan kurang ajar.”

Bel masuk berbunyi.

Aku pikir masalah selesai.

Ternyata belum.

Hari itu Bu Sinta juga menggantikan satu jam pelajaran karena guru kami mengikuti rapat. Baru beberapa menit kelas berjalan, dia memanggil namaku.

“Nayara. Berdiri.”

Aku berdiri.

Dia membuka buku latihan lalu membacakan soal matematika dari bagian yang belum pernah dibahas guru kami.

Aku mengenali beberapa rumus, tetapi belum tahu langkah lengkapnya.

“Saya belum belajar bab itu, Bu.”

Dia tertawa pendek.

“Tadi waktu istirahat pintar sekali menjawab.”

Beberapa teman mulai gelisah.

Bu Sinta menaruh buku di meja.

“Sekarang kenapa diam?”

Aku tidak menjawab.

“Anak sekolah seperti kamu pikirannya ke mana? Bawa cermin, pakai lipstik, berpakaian mencolok, lalu melawan guru.”

Seragamku sama seperti seragam seluruh murid perempuan lain.

Aku menunduk melihat rok dan sepatu sendiri, benar-benar mencoba mencari bagian mana yang mencolok.

Bu Sinta masih berbicara.

“Kamu pikir semua orang akan memaklumi tingkah seperti itu hanya karena kamu memasang wajah polos?”

Aku mulai kesal, tetapi lebih banyak bingung.

Dia belum selesai.

“Kalau dari sekarang fisik sedikit-sedikit minta dispensasi, nanti sudah berumah tangga mau bagaimana? Hidup itu bukan cuma minta dilayani.”

Aku menatapnya.

Tadi sebelum olahraga aku memang sempat meminta izin tidak mengikuti beberapa kegiatan karena merasa pusing. Permintaan itu ditolaknya.

Namun aku sama sekali tidak mengerti apa hubungannya dengan kehidupan rumah tangga.

Salah satu teman perempuan di sisi jendela menunduk. Wajahnya terlihat tidak nyaman.

Bu Sinta berbicara hampir lima menit.

Tentang murid yang katanya terlalu dimanjakan.

Tentang anak perempuan yang menurutnya suka mencari perhatian.

Tentang bagaimana dunia nyata tidak akan selalu memperlakukanku dengan lembut.

Aku berdiri di samping meja sambil mendengarkan.

Anehnya, bagian terakhir justru membuatku berpikir tentang rumah.

Dunia nyata tidak akan memperlakukanku dengan lembut?

Kalau delapan kakakku mendengar kalimat itu, mungkin mereka malah akan mengatakan aku tidak perlu menguji teori tersebut.

Arga bahkan pernah bilang selama aku mau sekolah, bekerja, atau membuka usaha sendiri, dia akan mendukung. Kalau aku tidak mau bekerja di perusahaan keluarga pun tidak masalah.

“Yang penting kamu bisa menjaga diri sendiri,” katanya waktu itu.

Masalahnya, delapan kakakku sering menerjemahkan “menjaga diri” menjadi “kami menjaga Nayara.”

Aku tidak pernah menang dalam perdebatan itu.

Bu Sinta tampaknya semakin kesal karena aku tidak menangis atau meminta maaf.

“Itu wajah apa?” katanya.

“Saya mendengarkan, Bu.”

“Kamu tidak merasa salah?”

“Salah yang mana?”

Meja di belakangku berderit. Seseorang mungkin hampir tertawa lagi.

Bu Sinta menepuk meja.

“Keluar!”

Aku berkedip.

“Bu?”

“Berdiri di luar kelas. Kamu tidak perlu ikut pelajaran saya.”

Seorang teman laki-laki berbisik, “Soalnya saja belum pernah diajarkan.”

Temannya menyikut.

Bu Sinta menoleh tajam.

“Siapa yang bicara? Mau ikut keluar?”

Kelas langsung sunyi.

Aku masih berdiri.

Bu Sinta menatapku seolah menunggu aku menyerah.

“Tidak mengerti bahasa Indonesia? Saya bilang keluar dari kelas.”

Aku meraih tas.

Bu Sinta mungkin mengira aku akan berdiri di koridor.

Masalahnya, dia cuma bilang keluar dari kelas.

Jadi aku keluar.

Berjalan melewati koridor.

Turun tangga.

Melewati halaman depan.

Lalu langsung pulang.

Dalam pikiranku saat itu, logikanya sederhana sekali.

Bu Sinta tidak ingin aku berada di kelasnya.

Aku juga tidak ingin melihat Bu Sinta.

Selesai.

Aku sama sekali belum memikirkan bahwa meninggalkan sekolah sebelum jam pulang tanpa prosedur izin merupakan ide yang cukup bodoh.

Rumah kami tidak terlalu jauh dari sekolah. Ketika sampai, aku membuka pintu dengan sidik jari.

Lampu ruang masuk menyala hangat.

“Aku pulang!”

Arga muncul dari dapur dengan celemek terikat di pinggang dan spatula di tangan. Kemeja kantornya masih dikenakan, hanya lengan bajunya digulung sampai siku.

Dia memandang jam dinding.

Lalu menatapku.

“Kenapa sudah pulang?”

Aku melempar tas ke sofa dan menjatuhkan tubuh di sebelahnya.

“Pulang cepat.”

“Sekolah libur?”

“Enggak.”

Alis Arga terangkat.

“Bagian akademik tidak kirim pemberitahuan.”

Aku mengambil susu dari meja.

“Guru menyuruh keluar.”

Arga diam beberapa detik.

Aku buru-buru menunjuk ke arah dapur.

“Kak, masakannya.”

Dia berbalik.

Aroma bawang yang mulai terlalu matang memang sudah tercium.

Arga kembali ke dapur sambil membawa spatula, tetapi dari ekspresinya aku tahu percakapan itu belum benar-benar selesai.

Aku tidak berniat menceritakan semuanya.

Bukan karena takut.

Justru karena aku terlalu tahu kakak-kakakku.

Masalah kecil bisa berubah menjadi rapat keluarga kalau menyangkut diriku.

Aku juga merasa tidak benar-benar dirugikan.

Bu Sinta menyuruhku berdiri di luar.

Aku malah pulang dan bisa minum susu di sofa.

Kalau dipikir-pikir, aku merasa menang.

Sekitar setengah jam kemudian pintu depan kembali terbuka.

Damar masuk sambil melepas sepatu. Hari itu dia pulang lebih cepat dari rumah sakit.

Begitu melihatku meringkuk di sofa dengan seragam sekolah, langkahnya langsung berubah arah.

“Kenapa kamu di rumah?”

Dia menaruh tas kerja.

Aku belum sempat menjawab ketika telapak tangannya sudah menempel ke dahiku.

“Hari ini pulang cepat begini, badanmu enggak enak?”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

“Aku sehat.”

Aku menyingkirkan tangan Damar dari dahiku, tetapi dia malah menatap wajahku lebih teliti.

“Pusing?”

“Tadi sedikit.”

“Demam?”

“Enggak.”

“Sesak?”

“Enggak.”

Dari dapur Arga menyela, “Katanya gurunya menyuruh keluar.”

Damar menoleh begitu cepat sampai aku langsung menyesal sudah pulang.

“Apa?”

“Tidak ada apa-apa,” kataku. “Aku juga tidak berdiri di luar. Aku pulang.”

Damar menatapku beberapa detik.

“Tanpa izin piket?”

Aku terdiam.

Dia menarik kursi.

“Nayara.”

Nada itu lebih menakutkan daripada wajah marah.

Aku akhirnya menceritakan semuanya, mulai dari permintaanku untuk tidak mengikuti sebagian olahraga karena pusing, komentar Bu Sinta, lip balm, soal yang belum diajarkan, sampai perintah keluar kelas.

Damar tidak menyela.

Arga berhenti memasak dan ikut duduk.

Ketika ceritaku selesai, Damar justru berkata, “Pertama, gurumu tidak boleh mempermalukanmu begitu. Kedua, kamu juga tidak boleh meninggalkan sekolah tanpa izin.”

Aku mengerucutkan bibir.

“Dia menyuruh aku keluar.”

“Dari kelas, bukan dari sekolah.”

“Aku melakukan interpretasi bebas.”

Arga menutup wajah sebentar.

Damar menunjukku.

“Jangan senyum.”

Ponsel Arga berbunyi.

Nomor sekolah.

Dia mengangkatnya di depan kami.

Ternyata wali kelasku, Bu Ratna, baru mengetahui aku tidak ada di sekolah ketika guru berikutnya melakukan absensi. Satpam depan juga tidak melihatku karena aku keluar bersama beberapa murid yang sedang menuju gedung kegiatan dan melewati pintu samping.

Arga menjelaskan aku sudah di rumah dengan selamat.

Dia tidak langsung menuduh siapa pun.

“Besok kami bisa datang,” katanya. “Tapi saya ingin Nayara juga hadir.”

Setelah telepon selesai, aku berkata, “Kenapa aku harus ikut?”

“Karena yang mengalami kamu.”

Aku mengira delapan kakakku akan langsung mengambil alih masalah seperti biasanya.

Ternyata malam itu Arga justru melarang enam kakak lain ikut ke sekolah setelah grup keluarga berubah menjadi ruang interogasi.

Bayu menulis bahwa dia bisa “sekadar menemani”.

Arga menjawab, “Tidak.”

Kakak kelima menawarkan menghubungi kenalan di dinas pendidikan.

Arga menjawab, “Jangan.”

Damar menambahkan, “Tidak ada yang menghubungi siapa pun sebelum sekolah menjelaskan.”

Untuk pertama kalinya aku melihat mereka menahan diri.

Masalah berikutnya datang dari ponselku.

Rani, teman sebangkuku, mengirim pesan.

Kamu sudah di rumah?

Aku membalas iya.

Beberapa detik kemudian muncul pesan lain.

Bu Sinta bilang kamu kabur karena tidak terima ditegur.

Aku duduk tegak.

Rani mengirim foto halaman buku catatan kelas yang biasanya dipakai guru untuk mencatat kejadian selama jam pelajaran.

Di sana tertulis:

Nayara meninggalkan pembelajaran tanpa izin setelah menolak mengikuti arahan guru.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

“Aku memang meninggalkan sekolah tanpa izin,” kataku pelan. “Tapi aku tidak menolak keluar. Dia sendiri yang menyuruh.”

Damar mengangguk.

“Itulah bedanya fakta dengan cara seseorang menuliskan fakta.”

Pesan berikutnya datang dari ketua kelas, Aldi.

Dia tidak mengirim rekaman rahasia atau sesuatu yang dramatis.

Dia hanya menulis:

Kalau besok ditanya, aku akan bilang yang sebenarnya. Soal matematika itu memang belum diajarkan. Dan Bu Sinta memang menyuruh kamu keluar.

Kemudian satu teman perempuan lain menghubungiku.

Lalu satu lagi.

Ternyata masalah dengan Bu Sinta tidak hanya terjadi padaku.

Bukan perkara besar yang tersembunyi bertahun-tahun. Dia baru mengajar beberapa minggu.

Namun beberapa murid perempuan sudah pernah mengeluhkan komentar tentang penampilan, cara duduk, berat badan, dan kalimat bahwa anak laki-laki “lebih santai” dibanding anak perempuan.

Sebagian cuma memilih diam karena takut dianggap terlalu sensitif.

Aku mulai tidak merasa lucu lagi.

Keesokan paginya aku datang bersama Arga dan Damar.

Kami belum sampai ruang kepala sekolah ketika Bu Ratna menghampiriku.

“Nayara, nanti kamu cerita sendiri, ya.”

Aku menatap kedua kakakku.

Arga mengangguk.

“Kami dengarkan.”

Di dalam ruangan sudah ada kepala sekolah, konselor, Bu Ratna, dan Bu Sinta.

Kepala sekolah membuka sebuah map tipis.

Sebelum aku duduk, beliau berkata, “Nayara, kami perlu mendengar versimu. Bukan hanya tentang kemarin.”

Beliau berhenti sebentar.

“Karena setelah kejadianmu dilaporkan, konselor memeriksa catatan beberapa minggu terakhir. Ternyata sebelumnya sudah ada lima murid perempuan yang menyampaikan keluhan serupa tentang cara Bu Sinta berbicara kepada mereka.”

Untuk pertama kalinya sejak masalah itu dimulai, Bu Sinta tidak menatapku dengan marah.

Dia terlihat pucat.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku duduk di kursi paling dekat pintu.

Arga berada di sebelah kiriku. Damar duduk sedikit lebih jauh, sengaja memberi ruang agar aku tidak merasa sedang berlindung di belakang mereka.

Bu Sinta duduk berhadapan denganku.

Kepala sekolah, Pak Hendra, meminta semua orang berbicara bergantian.

“Nayara dulu.”

Aku menelan ludah.

Aneh sekali.

Kemarin aku bisa membalas Bu Sinta tanpa berpikir. Sekarang, ketika diminta menjelaskan dengan serius di depan orang dewasa, telapak tanganku justru dingin.

Arga tidak mengatakan apa-apa.

Aku akhirnya membuka mulut.

“Sebelum olahraga saya bilang sedang pusing dan ingin tidak ikut beberapa kegiatan.”

“Benar,” kata Bu Sinta cepat. “Dan saya bilang dia terlalu manja.”

Pak Hendra mengangkat tangan.

“Bu Sinta, nanti ada giliran.”

Aku melanjutkan.

Aku menjelaskan kejadian saat istirahat, komentar tentang lip balm, pertanyaan untuk siapa aku membuat bibir terlihat seperti itu, soal matematika dari materi yang belum kami pelajari, lalu kalimat-kalimat tentang anak perempuan, penampilan, dan kehidupan berumah tangga.

Aku juga mengakui bagian yang salah dariku.

“Saya memang pulang tanpa izin.”

Bu Sinta langsung bersandar.

“Nah.”

Aku menoleh kepadanya.

“Tapi Ibu memang menyuruh saya keluar dari kelas.”

“Saya menyuruh kamu berdiri di luar untuk merenungkan sikap.”

“Ibu tidak bilang soal merenungkan sikap.”

Bu Sinta membuka mulut, lalu menutupnya.

Aku berkata, “Ibu bilang saya tidak perlu ikut pelajaran Ibu dan menyuruh saya keluar.”

Ruangan sunyi sebentar.

Bu Ratna membuka jadwal pembelajaran.

“Untuk soal matematika yang diberikan kepada Nayara, saya sudah menghubungi Pak Yudi. Materi itu baru dijadwalkan minggu depan.”

Bu Sinta menarik napas.

“Saya cuma ingin mengetes cara berpikirnya. Ini anak terlalu percaya diri.”

Damar yang sejak tadi diam akhirnya bergerak sedikit.

Aku tahu ekspresi itu.

Kalau di rumah, dia pasti sudah bicara.

Namun Arga menyentuh lengannya.

Biarkan aku.

Aku tidak tahu kenapa, tetapi melihat gerakan kecil itu membuatku lebih berani.

“Kalau Ibu ingin mengetes saya, saya tidak masalah,” kataku. “Tapi setelah saya bilang belum belajar, Ibu memakai itu untuk mempermalukan saya di depan kelas.”

“Saya mendisiplinkan.”

“Dengan bilang murid perempuan yang pakai lip balm ingin menarik perhatian siapa?”

Wajah Bu Sinta mengeras.

“Itu cara bicara saja.”

Konselor sekolah, Bu Mira, membuka catatannya.

“Masalahnya, komentar serupa dilaporkan beberapa murid lain.”

Bu Sinta berbalik.

“Sekarang semua ucapan guru dianggap salah?”

“Tidak,” jawab Bu Mira. “Kami sedang melihat pola.”

Pak Hendra kemudian menjelaskan lima keluhan sebelumnya.

Seorang siswi pernah ditegur karena menggunakan pelembap wajah setelah olahraga dan ditanya apakah ingin “cari perhatian”.

Siswi lain pernah dibandingkan dengan murid laki-laki karena dianggap “terlalu banyak alasan”.

Ada pula komentar bahwa perempuan seharusnya tidak mudah mengeluh karena kelak akan mengurus rumah tangga.

Tidak semuanya terjadi di depan seluruh kelas.

Tidak semuanya ditulis resmi.

Namun setelah kejadian denganku, Bu Mira menghubungi murid-murid tersebut satu per satu dan meminta mereka menuliskan apa yang mereka alami dengan kata-kata sendiri.

Tidak ada cerita tentang konspirasi besar.

Tidak ada bukti rahasia.

Hanya enam murid yang ternyata mengalami bentuk perlakuan hampir sama.

Bu Sinta mulai terlihat kesal.

“Saya juga perempuan. Kenapa saya disebut merendahkan perempuan?”

Bu Mira menjawab dengan tenang, “Ini bukan tentang Ibu perempuan atau bukan. Ini tentang ucapan kepada murid.”

Bu Sinta kemudian menunjukku.

“Anak ini juga menghina saya. Dia menyebut saya tua.”

Aku menghela napas.

Bagian itu memang tidak bisa kuhindari.

“Saya memang membalas.”

Arga melirikku.

Aku menatap meja.

“Saya kesal karena Ibu menuduh saya pakai lip balm untuk menggoda orang. Jadi saya bicara tentang lipstik orang dewasa. Saya tahu itu tidak sopan.”

Bu Sinta tampak sedikit puas.

“Tuh.”

“Tapi,” lanjutku, “kalau Ibu mau saya minta maaf karena jawaban saya kasar, saya bisa. Saya tetap tidak setuju kalau itu berarti ucapan Ibu sebelum itu jadi benar.”

Senyumnya hilang lagi.

Aku baru sadar satu hal.

Selama ini kalau berbuat salah, aku terbiasa membayangkan kakak-kakakku akan membelaku sepenuhnya.

Namun ternyata mengakui kesalahanku sendiri tidak membuat posisiku lebih lemah.

Justru terasa lebih ringan.

Pak Hendra mencatat sesuatu.

“Kami bisa memisahkan dua persoalan. Nayara meninggalkan lingkungan sekolah tanpa izin. Itu tetap pelanggaran.”

Aku mengangguk.

“Siap.”

“Kamu akan mendapat pembinaan dari wali kelas dan surat peringatan ringan. Bukan karena kamu keluar dari kelas, tetapi karena meninggalkan sekolah tanpa memberi tahu petugas.”

“Baik, Pak.”

Arga tidak protes.

Itu sedikit mengejutkanku.

Kemudian Pak Hendra menatap Bu Sinta.

“Sementara keluhan tentang perlakuan guru akan ditangani melalui evaluasi internal. Selama proses tersebut, Ibu tidak mengajar kelas Nayara.”

Bu Sinta langsung duduk tegak.

“Pak Hendra, saya baru beberapa minggu di sini.”

“Justru karena baru beberapa minggu sudah ada beberapa keluhan, kami harus memeriksanya.”

“Jadi hanya karena anak-anak tersinggung?”

“Tidak. Karena ada pola profesional yang perlu dievaluasi.”

Aku menatap Arga.

Kupikir dia akan meminta Bu Sinta langsung diberhentikan.

Dia tidak melakukan itu.

Setelah pertemuan selesai, Pak Hendra meminta Arga dan Damar menunggu beberapa menit untuk membicarakan prosedur sekolah.

Aku keluar bersama Bu Ratna.

Di koridor, Bu Ratna berhenti.

“Kamu marah sama sekolah?”

“Sedikit.”

Dia tertawa kecil.

“Wajar.”

Aku menggeser tali tas.

“Bu, lima anak sebelumnya sudah mengadu. Kenapa baru sekarang diperiksa?”

Pertanyaanku membuat wajahnya berubah.

“Sebagian hanya menyampaikan secara lisan, dan kami salah karena menganggapnya kasus terpisah.”

Setidaknya dia tidak mencari alasan.

“Kami harus memperbaiki itu.”

Aku mengangguk.

Saat kembali ke kelas, hampir semua kepala langsung menoleh.

Aldi mengangkat alis.

Rani menarik kursi untukku.

“Gimana?”

“Masih diperiksa.”

“Bu Sinta?”

“Untuk sementara tidak mengajar kita.”

Seseorang di belakang berseru pelan.

Aku langsung menoleh.

“Jangan bikin pesta.”

“Siapa juga yang pesta?”

Dia menyembunyikan senyum.

Aku duduk.

Baru beberapa menit kemudian aku menyadari aku sebenarnya takut.

Bukan takut kepada Bu Sinta.

Aku takut teman-teman akan berpikir aku memakai keluargaku untuk menyingkirkan guru yang tidak kusukai.

Kekhawatiran itu semakin besar ketika saat makan siang seorang anak dari kelas lain bertanya, “Katanya kakakmu datang ke sekolah?”

Aku menjawab pendek, “Iya.”

“Terus gurunya langsung dicopot?”

“Enggak. Sekolah sedang memeriksa keluhan beberapa murid.”

Aku sengaja mengatakan itu berulang kali kepada siapa pun yang bertanya.

Bukan delapan kakakku yang menjatuhkan Bu Sinta.

Bukan Arga.

Bukan Damar.

Bukan nama keluarga kami.

Sekolah mengambil keputusan karena ada keluhan yang perlu diperiksa.

Aku ingin batas itu jelas.

Sore hari di rumah, aku baru mengetahui kenapa Arga terlihat begitu tenang.

Ternyata selama aku berada di kelas, enam kakakku yang lain sudah menunggu kabar di grup keluarga.

Begitu aku membuka ponsel, ada lebih dari seratus pesan.

Bayu: Kalau sekolah tidak serius, bilang.

Kakak keempat: Nayara sudah makan?

Kakak kelima: Kenapa pertanyaan terpenting selalu makanan?

Kakak keenam: Karena kalau dia lapar dia lebih galak.

Aku menulis:

Aku bisa baca semuanya.

Grup mendadak sepi.

Lalu Bayu mengirim:

Adik bayi sudah pulang?

Aku membalas:

Aku SMA. Berhenti panggil bayi.

Tiga detik kemudian tujuh stiker bayi muncul.

Aku melempar ponsel ke sofa.

“Kenapa aku lahir di keluarga ini?”

Arga, yang sedang memotong buah di meja makan, menjawab, “Kami juga sering bertanya kenapa mendapat adik sepertimu.”

Aku mengambil satu potong apel.

“Kak.”

“Hm?”

“Tadi kenapa tidak marah waktu aku dapat surat peringatan?”

“Karena kamu salah.”

Jawaban itu begitu cepat sampai aku tersinggung.

“Aku adikmu.”

“Betul.”

“Adik satu-satunya.”

“Masih betul.”

“Seharusnya sedikit bela.”

Arga menaruh pisau.

“Kami datang supaya kamu diperlakukan adil, bukan supaya semua kesalahanmu dihapus.”

Aku tidak langsung menjawab.

Dia melanjutkan, “Kalau kami membuat aturan tidak berlaku untukmu, itu bukan melindungi.”

Damar, yang baru masuk ruang makan, menyahut, “Nah. Tolong rekam ucapan ini. Kak Arga akhirnya terdengar bijaksana.”

Arga melempar tisu kepadanya.

Aku menatap apel di tanganku.

Entah kenapa kalimat Arga menggangguku sampai malam.

Mungkin karena ada sedikit kebenaran yang tidak ingin kuakui.

Aku memang tumbuh dengan keyakinan bahwa selalu ada delapan orang di belakangku.

Bukan hanya secara emosional.

Benar-benar di belakangku.

Kalau aku bertengkar dengan anak lain saat SD, kakakku datang.

Kalau aku takut suntik, Damar mendampingiku.

Kalau aku kehilangan barang, tiga orang membantu mencari.

Kalau aku sedih, selalu ada yang mengurus.

Kasih sayang seperti itu menyenangkan.

Tetapi tanpa kusadari, aku mulai menganggap dilindungi sama dengan tidak perlu menghadapi akibat.

Hari itu aku mulai memahami bedanya.

Dua hari kemudian sekolah meminta beberapa murid memberikan keterangan tertulis.

Aku juga diminta menulis kejadian dari awal sampai akhir.

Aku menulisnya sendiri.

Arga sempat menawarkan membaca.

Aku menolak.

“Ini versiku.”

Dia mengangkat kedua tangan.

“Baik.”

Aku bahkan memasukkan bagian ketika aku menyindir lipstik Bu Sinta.

Rani membacanya karena kami diminta saling mengecek waktu dan urutan kejadian.

“Kamu tulis juga bagian ini?”

“Memang terjadi.”

“Kalau aku jadi kamu, kuhapus.”

“Kalau kuhapus nanti sama saja.”

Rani menatapku beberapa saat.

“Sekarang kamu aneh.”

“Dari dulu.”

“Itu benar.”

Seminggu berjalan tanpa Bu Sinta mengajar kelas kami.

Guru olahraga lain menggantikan sementara.

Aku mulai mengira masalah akan berakhir diam-diam sampai Bu Mira memanggilku ke ruang konseling.

“Ada perkembangan,” katanya.

Hasil evaluasi sekolah tidak hanya mempertimbangkan keluhan murid.

Mereka juga memeriksa catatan pembelajaran Bu Sinta, beberapa laporan wali kelas, dan cara pemberian disiplin selama beberapa minggu terakhir.

Tidak ditemukan sesuatu yang mengerikan.

Namun ditemukan pola yang cukup jelas.

Bu Sinta cenderung memberikan toleransi lebih besar kepada murid laki-laki, sementara perilaku kecil murid perempuan sering diberi komentar personal tentang penampilan, sifat, atau bagaimana perempuan “seharusnya” bersikap.

Dia juga beberapa kali memberi hukuman yang tidak tercatat dengan baik.

Sekolah memberinya teguran tertulis, menariknya sementara dari tugasku dan beberapa kelas lain, serta mewajibkannya mengikuti pendampingan sebelum kembali menangani siswa secara penuh.

“Dia tidak dipecat?” tanyaku.

“Tidak.”

Aku sedikit terkejut mendengar diriku sendiri merasa lega.

Aku sebenarnya tidak tahu apakah Bu Sinta pantas kehilangan pekerjaan.

Yang kuinginkan hanya agar dia berhenti melakukan hal yang sama.

Bu Mira menatapku.

“Bu Sinta juga meminta kesempatan bicara denganmu. Di sini, dengan saya hadir. Kamu boleh menolak.”

Aku diam cukup lama.

“Aku boleh pikir dulu?”

“Tentu.”

Di rumah aku menceritakan permintaan itu.

Tujuh kakakku langsung mempunyai pendapat.

Bayu: “Tidak perlu.”

Damar: “Kalau Nayara ingin, boleh.”

Kakak kelima: “Apa tujuannya?”

Arga justru bertanya kepadaku, “Kamu sendiri mau apa?”

Aku memainkan ujung bantal sofa.

“Aku tidak tahu.”

“Kalau begitu jangan jawab malam ini.”

Besoknya aku memutuskan datang.

Bukan karena ingin berbaikan.

Aku hanya tidak ingin percakapan terakhir kami selamanya menjadi Bu Sinta menyuruhku keluar kelas.

Bu Mira duduk di ruangan ketika Bu Sinta datang.

Penampilannya jauh berbeda dari hari pertama.

Tidak ada senyum mengejek.

Tidak ada suara keras.

Dia duduk di kursi di depanku.

“Nayara.”

Aku menunggu.

“Saya ingin minta maaf.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Cara saya berbicara waktu itu tidak pantas.”

Masih terdengar formal.

Dia menarik napas.

“Dan setelah membaca keterangan siswa lain, saya sadar ternyata bukan cuma kamu yang merasa diperlakukan seperti itu.”

Aku bertanya, “Kenapa Ibu lebih suka anak laki-laki?”

Bu Sinta tampak terkejut.

Mungkin dia tidak menyangka aku bertanya langsung.

Beberapa detik kemudian dia menjawab.

“Waktu saya sekolah, saya sering bermasalah dengan kelompok teman perempuan. Saya merasa lebih nyaman berteman dengan laki-laki. Lama-lama saya membawa cara pikir itu ke mana-mana.”

Dia berhenti.

“Itu bukan alasan yang membenarkan sikap saya.”

Jawaban itu tidak membuat semuanya tiba-tiba selesai.

Tapi setidaknya terdengar seperti jawaban manusia.

Bukan penjahat yang membenci semua perempuan.

Hanya seorang dewasa yang membawa prasangka lama ke ruang kelas dan tidak sadar dia sedang mewariskannya kepada murid.

Aku berkata, “Waktu Ibu bilang perempuan kecil-kecil sudah sibuk menarik perhatian laki-laki, rasanya menjijikkan.”

Wajahnya berubah.

“Saya mengerti.”

“Belum tentu.”

Aku bicara pelan.

“Tapi mudah-mudahan sekarang Ibu mulai mengerti.”

Bu Mira tidak menyela.

Aku melanjutkan, “Aku juga minta maaf karena menyindir umur dan lipstik Ibu. Aku kesal, tapi aku tetap tidak seharusnya ngomong begitu.”

Bu Sinta mengangguk.

“Terima kasih.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada air mata dramatis.

Aku tidak memanggilnya guru terbaik setelah itu.

Kami hanya menyelesaikan percakapan yang sebelumnya rusak.

Beberapa minggu kemudian Bu Sinta kembali mengajar beberapa kelas, tetapi bukan kelasku. Menurut Bu Ratna, sekolah masih melakukan pendampingan.

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Masalahku dengannya sudah selesai.

Yang belum selesai justru urusanku sendiri dengan delapan kakak di rumah.

Suatu malam, aku mengumpulkan mereka di ruang keluarga.

Delapan laki-laki memandangku seolah aku hendak mengumumkan sesuatu yang sangat serius.

“Aku punya aturan baru.”

Bayu langsung mengerutkan dahi.

“Aturan?”

“Kalau ada masalah di sekolah, jangan semua orang ikut campur.”

Kakak keenam menunjuk dirinya.

“Aku kemarin enggak ikut.”

“Karena Kak Arga melarang.”

“Itu tetap berarti aku enggak ikut.”

Aku mengabaikannya.

“Dan jangan menghubungi orang lain tanpa bilang aku.”

Arga menyandarkan punggung.

“Setuju.”

Aku menatapnya curiga.

“Mudah banget?”

“Karena memang seharusnya begitu.”

Bayu mengangkat tangan.

“Kalau keadaan darurat?”

“Darurat sungguhan boleh.”

“Definisi darurat?”

“Kalau aku diculik.”

Damar menimpali, “Demam empat puluh derajat juga.”

“Bukan urusanmu.”

“Aku dokter.”

“Kau tetap kakakku.”

Perdebatan kecil langsung pecah.

Aku melihat mereka satu per satu dan tiba-tiba tertawa.

Aku tidak ingin delapan kakakku berhenti menyayangiku.

Aku juga tidak ingin mereka menjauh.

Aku hanya mulai memahami bahwa suatu hari aku harus bisa menyelesaikan lebih banyak hal tanpa menjadikan mereka perisai.

Sebulan setelah kejadian itu, sekolah mengadakan olahraga pagi lagi.

Hari itu aku datang membawa botol minum, handuk kecil, dan lip balm stroberi yang sama.

Rani melihatku mengeluarkannya.

“Masih pakai itu?”

“Kenapa enggak?”

Aku mengoleskannya lalu memasukkan kembali ke tas.

Guru olahraga baru menghampiri.

“Nayara, tadi katanya agak pusing?”

“Iya, Bu.”

“Kalau masih pusing, duduk dulu sepuluh menit. Setelah itu lihat kondisi. Kalau tidak membaik, ke UKS.”

“Baik.”

Sesederhana itu.

Tidak ada komentar soal menjadi perempuan.

Tidak ada cerita tentang calon suami.

Tidak ada pertanyaan tentang siapa yang ingin kulihat.

Aku duduk di bangku pinggir lapangan sampai kepalaku terasa lebih ringan.

Kemudian aku berdiri dan bergabung dengan teman-teman.

Sepulang sekolah, delapan kakakku ternyata sedang berada di rumah.

Aku baru membuka pintu ketika Bayu berteriak dari ruang makan, “Bayi pulang!”

Aku menutup pintu lagi.

Dari dalam langsung terdengar suara gaduh.

“Nayara!”

“Buka!”

“Cuma bercanda!”

Aku berdiri di teras sambil menahan tawa, lalu membuka pintu sekali lagi.

Delapan kepala menoleh ke arahku.

Aku mengangkat tas.

“Hari ini tidak ada masalah.”

Arga tersenyum.

“Bagus.”

Aku menunjuk mereka satu per satu.

“Dan kalau besok ada masalah, tunggu aku minta bantuan dulu.”

Bayu hendak bicara.

Aku mengangkat telunjuk.

“Tidak ada negosiasi.”

Anehnya, kali ini mereka benar-benar diam.

Aku berjalan masuk, menutup pintu dengan tanganku sendiri, lalu memasukkan lip balm stroberi ke laci dekat sofa.

Masih ada delapan kakak yang siap berdiri di belakangku.

Bedanya, sekarang aku tahu kapan harus meminta mereka maju dan kapan aku harus berdiri sendiri.

Menurutmu, apakah Nayara tepat meminta kakak-kakaknya berhenti menyelesaikan semua masalah untuknya meski mereka hanya ingin melindunginya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.