Kakek Menendang Perut Ibuku yang Sedang Hamil, Lalu Ayah Menoleh kepada Nenek dan Mengucapkan Satu Keputusan

Avatar penulis
Cerita 01
23 menit baca 28 tayangan
Kakek Menendang Perut Ibuku yang Sedang Hamil, Lalu Ayah Menoleh kepada Nenek dan Mengucapkan Satu Keputusan
Indeks

Kakek Menendang Perut Ibuku yang Sedang Hamil, Lalu Ayah Menoleh kepada Nenek dan Mengucapkan Satu Keputusan

Bagian 1

Aku belum lahir ketika Kakek Hadi Santoso menendang perut ibuku yang sedang hamil besar. Tetapi bertahun-tahun kemudian, aku mendengar cerita hari itu berkali-kali dari Ayah, Ibu, dan terutama Nenek Sulastri. Tidak satu pun dari mereka pernah melupakan lima detik ketika Ayah hanya berdiri diam setelah melihat istrinya jatuh ke lantai.

Semua orang mengira Ayah akan memukul balik Kakek.

Ternyata tidak.

Ia justru menoleh kepada Nenek dan berkata pelan, “Bu, kemasi barang Ibu. Siang ini aku antar Ibu ke pengadilan untuk mengajukan cerai dari Bapak.”

Rumah keluarga Santoso di pinggiran Semarang langsung sunyi.

Beberapa detik sebelumnya, Ibu, Rina, berdiri di dekat meja makan sambil memegang gelas kosong. Perutnya sudah begitu besar hingga berjalan beberapa langkah saja membuatnya harus memperlambat napas. Kakek meminta dibuatkan teh, lalu kesal karena menurutnya Ibu terlalu lama bergerak.

Ucapan kasarnya sudah biasa.

Tendangannya tidak.

Kakek Menendang Perut Ibuku yang Sedang Hamil, Lalu Ayah Menoleh kepada Nenek dan Mengucapkan Satu Keputusan

Kaki Kakek mengenai bagian depan gaun hamil abu-abu Ibu. Ibu kehilangan keseimbangan dan jatuh miring ke lantai, kedua tangannya spontan melindungi perut.

Wajahnya pucat.

“Arif…” hanya itu yang sempat keluar dari mulutnya.

Nenek masih berdiri di dekat dapur membawa piring berisi potongan pepaya. Tangannya bergetar begitu keras sampai dua potong buah jatuh ke lantai.

Ayah menatap Ibu selama lima detik.

Lalu matanya beralih ke noda kotor bekas sandal pada pakaian Ibu.

Kakek bukannya menyesal.

Ia malah mendengus.

“Kenapa lihat-lihat?”

Kakek berusia lebih dari enam puluh tahun, tetapi tubuhnya masih kuat karena hampir seluruh hidupnya bekerja di bengkel miliknya sendiri. Di rumah itu, suaranya selalu menjadi suara terakhir.

“Baru hamil saja sudah merasa harus dilayani,” katanya. “Disuruh ambilkan minum saja lama sekali. Kalau semua orang di rumah ini bergeraknya begitu, siapa yang mau bekerja?”

Aku selalu membayangkan bagian ini sebagai saat Ayah hampir kehilangan kendali.

Menurut Ibu, rahang Ayah mengeras. Tangannya mengepal.

Tetapi sesaat kemudian, ia melepaskannya.

Ia tidak maju ke arah Kakek.

Ia juga belum mengangkat Ibu.

Ayah justru berjalan ke arah Nenek, mengambil piring yang hampir jatuh dari tangannya, lalu meletakkannya di meja.

“Bu.”

Nenek menatapnya.

“Kemasi barang Ibu.”

Suara Ayah begitu tenang sampai kalimat berikutnya terasa jauh lebih berat.

“Siang ini aku antar Ibu ke pengadilan. Kita cari tahu bagaimana Ibu bisa mengajukan cerai dari Bapak.”

Nenek tidak bergerak.

Kakek seperti tidak memahami apa yang baru didengarnya.

Lalu wajahnya memerah.

“Arif!”

Ayah tetap menatap Nenek.

“Kamu sudah gila?” bentak Kakek. “Berani-beraninya menyuruh ibumu menceraikan bapaknya sendiri?”

Ayah tidak menjawab.

“Bu,” katanya lagi, “Ibu punya setengah jam. Bawa pakaian yang penting, obat-obatan Ibu, KTP, buku nikah, dan dokumen yang bisa Ibu temukan.”

Nenek memegang tepi meja.

“Arif… kamu ini bicara apa?”

Suaranya terdengar jauh lebih lemah daripada biasanya.

“Bapakmu memang begitu. Dari dulu orangnya keras. Kamu sudah tahu.”

Ayah menatapnya lama.

Nenek melanjutkan dengan suara memohon.

“Jangan dibesar-besarkan. Rina juga nanti kita periksa ke dokter. Kita satu keluarga. Masa gara-gara satu kejadian langsung bicara cerai?”

“Satu kejadian?”

Ayah tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

“Aku sudah mendengar kalimat itu sejak kecil, Bu.”

Nenek terdiam.

“Waktu Bapak memukulku karena nilai matematikaku jelek, Ibu bilang Bapak melakukannya supaya aku disiplin.”

Ayah menelan ludah.

“Waktu aku sudah bekerja dan Bapak masih memaki aku di depan pegawai bengkel, Ibu bilang mulut Bapak memang kasar, tapi sebenarnya sayang keluarga.”

Kakek menyela, “Jangan kurang ajar!”

Ayah tetap bicara.

“Waktu aku menikah dengan Rina dan Bapak mulai mengatur apa yang harus dia masak, kapan dia boleh mengunjungi orang tuanya, bahkan berapa banyak uang belanja yang pantas dia pegang, Ibu juga bilang, ‘Sudahlah, Rin. Namanya tinggal dengan orang tua, harus menyesuaikan.’”

Ibu masih berada di lantai.

Napasnya pendek-pendek.

Ayah menunjuk ke arahnya.

“Sekarang Bapak menendang istriku ketika dia sedang hamil.”

Untuk pertama kali, suaranya meninggi.

“Anakku ada di dalam perutnya, Bu.”

Ruangan itu kembali hening.

“Jadi Ibu mau aku sabar sampai kapan?”

Nenek menunduk.

Kakek mendekat satu langkah.

“Kamu menuduh bapakmu sendiri?”

Ayah akhirnya menoleh kepadanya.

“Tidak perlu menuduh. Aku melihat sendiri.”

“Kamu membela perempuan itu daripada orang tuamu?”

“Dia istriku.”

Ayah menjawab tanpa berteriak.

“Dan anak yang dia kandung adalah anakku.”

Kakek menunjuk wajah Ayah.

“Sejak menikah kamu berubah!”

Ayah menggeleng.

“Bukan. Aku terlambat berubah.”

Kalimat itu kemudian menjadi salah satu kalimat yang paling diingat Nenek.

Ayah memandang perempuan yang telah melahirkannya itu.

“Bu, rumah tangga Ibu dan Bapak memang seharusnya keputusan kalian. Aku tidak bisa memaksa Ibu bercerai.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi aku juga tidak akan lagi berpura-pura bahwa semua ini normal.”

Nenek menggigit bibir.

Ayah melanjutkan, “Aku tidak bisa memperbaiki empat puluh tahun hidup Ibu. Aku juga tidak bisa mengembalikan semua hari ketika aku masih kecil dan melihat Ibu menangis di dapur lalu besok paginya bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.”

Mata Nenek mulai basah.

“Tapi sekarang aku punya keluarga yang harus kulindungi.”

Ia menoleh kepada Ibu.

“Rina.”

Lalu kembali menatap Nenek.

“Aku tidak mau anak perempuanku nanti tumbuh di rumah ini dan belajar bahwa kalau seorang laki-laki marah, perempuan cukup diam sampai marahnya selesai.”

Kakek tertawa mengejek.

“Anak perempuan? Belum lahir saja sudah kamu manjakan!”

Ayah tidak menjawab ejekan itu.

Ia hanya berkata, “Aku tidak mau anakku melihat neneknya diperlakukan seperti ini, lalu mengira begitulah cara keluarga bekerja.”

Nenek menutup mulut dengan satu tangan.

Seumur hidupnya ia dikenal sebagai perempuan yang selalu mengatakan semuanya baik-baik saja.

Kalau ada tetangga mendengar Kakek berteriak, Nenek akan mengatakan Kakek hanya sedang lelah.

Kalau lengannya memar, ia menyebutnya terbentur lemari.

Kalau anak-anaknya memintanya pergi beberapa hari ke rumah saudara, Nenek selalu menolak.

“Bapakmu sendirian nanti bagaimana?”

Itulah alasannya.

Bahkan ketika semua anaknya sudah dewasa, Nenek masih mengatur hidupnya berdasarkan kemungkinan Kakek marah.

Kini, untuk pertama kalinya, Ayah tidak mengajak Nenek menenangkan Kakek.

Ia mengajak Nenek pergi.

Kakek meraih cangkir teh di meja.

“Dasar anak tidak tahu balas budi!”

Cangkir itu dilempar ke arah Ayah.

Ayah sempat memiringkan kepala. Cangkir melintas dekat pelipisnya, menghantam dinding dan pecah. Air teh yang masih hangat mengenai bahu bajunya.

Ayah bahkan tidak berbalik melihat pecahan cangkir.

Ia tetap berdiri di depan Nenek.

“Aku tanya sekali saja, Bu.”

Nenek gemetar.

“Apa?”

“Ibu mau tetap tinggal di sini?”

Pertanyaan itu sederhana.

Jawabannya tidak.

Nenek memandang kamar tempat ia tidur selama puluhan tahun. Kemudian ia melihat pecahan cangkir di lantai, Ibu yang masih kesakitan, dan Kakek yang bahkan belum bertanya apakah cucunya baik-baik saja.

“Aku…”

Suara Nenek hilang.

“Aku tidak tahu.”

Ayah mengangguk.

“Tidak apa-apa kalau sekarang Ibu belum tahu.”

Ia kemudian berjalan ke arah Ibu.

Barulah ia berjongkok, menyelipkan satu tangan di belakang punggung Ibu dan tangan lainnya di bawah lengannya.

“Pelan-pelan,” katanya.

Ibu menahan napas saat mencoba duduk.

“Aku sakit, Rif.”

“Aku tahu.”

“Bayinya…”

“Kita periksa sekarang.”

Ayah membantu Ibu bersandar kepadanya.

Kakek masih mengomel dari belakang.

“Drama semua! Perempuan hamil itu bukan orang sakit!”

Ayah berhenti.

Punggungnya menghadap Kakek.

Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya pada detik itu. Tetapi menurut Nenek, ia terlihat seperti seseorang yang akhirnya menemukan garis yang tidak akan ia izinkan siapa pun lewati lagi.

Ayah mengeluarkan telepon dari saku.

Ia tidak menelepon paman.

Tidak menelepon tetangga.

Tidak meminta keluarga besar datang untuk “membicarakan baik-baik”.

Ia menekan tiga angka.

Nenek menatapnya dengan panik.

“Arif, kamu mau menelepon siapa?”

Ayah menunggu sambungan.

Ketika suara petugas terdengar, ia berkata dengan jelas:

“Halo, 110?”

“Saya mau melapor.”

“Alamatnya di…”

Ia menyebut alamat rumah itu.

“Terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Istri saya diserang oleh ayah saya. Istri saya sedang hamil.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Hal pertama yang dilakukan Ayah setelah menutup telepon adalah membawa Ibu ke rumah sakit.

Kakek masih berteriak dari ruang tengah, menuduh Ayah mempermalukan keluarga dan mengancam akan memutus hubungan. Ayah tidak menjawab satu pun. Ia mengambil tas Ibu, memasukkan dokumen penting dan charger ponsel, lalu meminta Nenek ikut.

Nenek berdiri di dekat pintu kamar.

“Aku harus menunggu Bapakmu.”

Ayah menatapnya.

“Untuk apa?”

“Polisi mau datang, kan? Kalau dia sendirian…”

“Bu.”

Ayah tidak meninggikan suara.

“Lihat Ibu sendiri.”

Nenek menunduk.

Tangan kirinya masih gemetar.

“Selama empat puluh tahun Ibu selalu memikirkan apa yang akan terjadi pada Bapak kalau Ibu pergi. Pernah sekali saja Ibu bertanya apa yang terjadi pada Ibu kalau terus tinggal?”

Nenek tidak menjawab.

Akhirnya ia mengambil tas kecil dari kamarnya.

Pemeriksaan Ibu berlangsung lebih lama daripada yang Ayah ceritakan kepadaku ketika aku kecil. Baru setelah aku dewasa ia mengakui bahwa ia duduk hampir dua jam di lorong rumah sakit sambil membayangkan kemungkinan terburuk.

Dokter memastikan Ibu harus dipantau karena trauma benturan. Untungnya, tidak ditemukan tanda bahwa aku harus dilahirkan saat itu. Kondisi Ibu stabil, tetapi ia diminta beristirahat dan kembali bila muncul keluhan tertentu.

Ayah baru bernapas lega setelah mendengar detak jantungku.

Ibu menangis.

Bukan keras.

Air matanya keluar begitu saja ketika dokter mengatakan, “Untuk sementara kondisi janin baik.”

Ayah menunduk di samping ranjang.

“Maaf.”

Ibu menatapnya.

“Untuk apa?”

“Aku membiarkan kita tinggal terlalu lama di sana.”

Ibu tidak menjawab cepat.

Mereka memang sudah beberapa tahun tinggal di rumah Kakek dan Nenek. Awalnya karena bengkel tempat Ayah bekerja tidak jauh, sementara Nenek mulai sering sakit pinggang dan membutuhkan bantuan di rumah.

Rencana mereka hanya sementara.

Sementara berubah menjadi bertahun-tahun.

Setiap kali Ibu mengusulkan pindah, Ayah selalu berkata, “Nanti setelah tabungan cukup.”

Setiap kali Kakek memperlakukan Ibu dengan kasar, Ayah mencoba meredakan.

Hari itu, kata “nanti” akhirnya habis.

“Aku juga terlalu banyak diam,” kata Ibu.

Ayah menggenggam tangannya.

“Diam karena takut rumah makin ribut tidak sama dengan setuju diperlakukan begitu.”

Menjelang sore, dua petugas datang untuk meminta keterangan awal. Ayah menjelaskan apa yang dilihatnya. Ibu menjawab seperlunya. Dokumen pemeriksaan rumah sakit disimpan untuk proses berikutnya.

Nenek duduk di kursi dekat jendela.

Tidak ada yang meminta ia bicara.

Sampai salah satu petugas berdiri hendak pergi.

“Tunggu.”

Semua orang menoleh.

Nenek menekan kedua telapak tangannya ke lutut.

“Saya juga mau memberikan keterangan.”

Ayah memandangnya.

Nenek menarik napas.

“Yang dilakukan suami saya hari ini bukan pertama kali dia melakukan kekerasan di rumah.”

Ruangan itu mendadak terasa berbeda.

Petugas kembali duduk.

Nenek mulai berbicara perlahan.

Ia tidak menceritakan empat puluh tahun sekaligus. Ia hanya menyebut beberapa kejadian yang masih bisa ia ingat dengan jelas, termasuk saat Ayah masih SD, ketika Kakek memukul meja sampai pecah karena makan malam terlambat, dan satu malam beberapa tahun sebelumnya ketika Nenek dikunci di luar rumah setelah menolak menyerahkan uang belanja.

Ayah mendengarkan tanpa memotong.

Ada beberapa cerita yang bahkan belum pernah ia dengar.

Malam itu, telepon keluarga mulai ramai.

Adik laki-laki Ayah menelepon dari Surabaya.

“Mas, Bapak bilang polisi datang ke rumah. Memangnya perlu sampai begitu?”

“Bapak menendang Rina yang sedang hamil.”

Di ujung sana hening.

“Dia bilang cuma mendorong.”

“Aku melihat sendiri.”

“Tapi kalau laporan diteruskan, nama keluarga kita bagaimana?”

Ayah menjawab, “Aku sedang menunggu hasil pemeriksaan anakku. Aku tidak punya tenaga memikirkan tetangga akan bilang apa.”

Panggilan selesai kurang dari dua menit.

Sesudahnya, pesan dari beberapa kerabat masuk.

Ada yang meminta Ayah berdamai.

Ada yang berkata Kakek sudah tua.

Ada yang mengatakan urusan rumah seharusnya tidak dibawa keluar.

Nenek membaca beberapa pesan itu dari ponsel Ayah.

Kemudian ia mengembalikannya.

“Aku dulu juga selalu mengatakan begitu kepada diriku sendiri.”

Ayah menunggu.

Nenek menatap Ibu yang sedang tertidur.

“Kalau aku pulang malam ini,” katanya, “besok semuanya akan dianggap selesai lagi.”

Ayah mengangguk pelan.

“Iya.”

Nenek memejamkan mata beberapa detik.

“Aku tidak mau pulang.”

Kalimatnya hampir berbisik.

Namun itulah pertama kalinya dalam empat puluh tahun Nenek memutuskan sendiri di mana ia akan tidur.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Malam pertama Nenek meninggalkan Kakek, kami tidak langsung memiliki tempat yang nyaman untuk dituju.

Ayah membawa Ibu dan Nenek ke rumah kontrakan kecil milik temannya yang sedang kosong selama beberapa minggu. Tempat itu hanya memiliki dua kamar, satu kamar mandi, dan dapur sempit di belakang. Cat ruang tamunya sudah mengelupas di beberapa bagian.

Nenek berdiri di tengah ruang tamu dengan satu tas pakaian dan memandang sekeliling.

“Maaf,” kata Ayah. “Untuk sementara cuma ini yang bisa kupinjam.”

Nenek justru menyentuh sandaran kursi plastik di dekat pintu.

“Di sini pintunya bisa dikunci dari dalam?”

Ayah terdiam sesaat.

“Bisa.”

“Ya sudah.”

Malam itu, Nenek tidur lebih lama daripada siapa pun.

Keesokan paginya, ia bangun pukul lima seperti biasanya.

Selama hampir seluruh hidup pernikahannya, pukul lima adalah waktu ketika ia harus sudah berada di dapur. Air harus panas. Teh harus tersedia. Sarapan harus siap sebelum Kakek keluar kamar.

Di rumah kontrakan itu, Nenek berdiri di depan kompor hampir satu menit sebelum menyadari tidak ada seorang pun yang akan membentaknya karena teh terlambat.

Ia akhirnya memasak bubur untuk Ibu.

Ketika Ayah keluar dari kamar, Nenek sedang duduk sendiri dengan secangkir teh.

“Aneh,” katanya.

“Apa?”

“Tidak ada suara Bapakmu.”

Ayah menarik kursi.

Nenek tersenyum tipis, tetapi matanya basah.

“Aku bahkan tidak tahu rumah bisa sesunyi ini.”

Hari-hari setelahnya tidak mudah.

Keputusan meninggalkan rumah jauh lebih sederhana daripada menata kehidupan setelahnya.

Kakek menelepon Nenek puluhan kali.

Nenek tidak mengangkat.

Lalu ia mulai mengirim pesan.

Pulang.

Jangan bikin keluarga malu.

Aku cuma emosi.

Kamu sudah tua, mau tinggal di mana?

Anakmu menghasutmu.

Besok aku jemput.

Pesan-pesan itu berubah dari marah menjadi membujuk, kemudian kembali marah ketika Nenek tidak menjawab.

Pada hari ketiga, Kakek menulis:

Kita sudah menikah lebih dari empat puluh tahun. Apa semua itu tidak ada artinya?

Nenek membaca kalimat itu lama.

Ayah duduk di seberangnya.

“Aku harus jawab apa?”

“Terserah Ibu.”

“Kamu tidak marah kalau aku masih merasa kasihan?”

Ayah menggeleng.

“Empat puluh tahun tidak hilang dalam tiga hari.”

Nenek menatap layar lagi.

Akhirnya ia mengetik sendiri.

Empat puluh tahun ada artinya. Karena itu aku tahu persis seperti apa hidup bersamamu. Aku belum mau pulang.

Ia menunjukkan pesannya kepada Ayah sebelum mengirim.

“Begini?”

Ayah menggeser ponsel kembali kepadanya.

“Kalau itu yang Ibu mau katakan, kirim.”

Nenek menekan tombol kirim.

Tangannya gemetar sesudahnya.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada pidato kemenangan.

Ia hanya meletakkan ponsel di meja dan meminta Ayah membuatkan teh karena tiba-tiba lututnya lemas.

Sementara itu, Ibu masih harus kontrol.

Secara fisik kondisinya berangsur membaik, tetapi setiap suara keras membuat tubuhnya menegang. Suatu sore, piring jatuh dari tangan Nenek di dapur. Ibu yang sedang duduk di sofa langsung memegang perut dan berdiri.

Ayah melihat reaksinya.

Malam itu ia berkata, “Kita tidak kembali ke rumah Bapak.”

Ibu menatapnya.

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Bengkelmu di sana.”

“Aku cari pekerjaan lain atau tetap bekerja tanpa tinggal di rumah itu. Tapi kamu dan anak kita tidak kembali.”

Itu keputusan yang mahal bagi Ayah.

Selama bertahun-tahun ia mengurus sebagian besar operasional bengkel Kakek. Meski bengkel itu bukan miliknya, pendapatan keluarga kami sangat bergantung pada pekerjaan tersebut.

Kakek tahu itu.

Seminggu setelah kejadian, ia menelepon Ayah.

Kali ini Ayah mengangkat.

“Kamu mau kerja atau tidak?” tanya Kakek tanpa salam.

“Mau.”

“Kalau mau kerja, bawa ibumu pulang. Bawa istrimu juga. Kita selesaikan di rumah.”

“Tidak.”

“Bengkel ini punyaku.”

“Aku tahu.”

“Jangan kira aku tidak berani memberhentikanmu.”

Ayah memandang Ibu yang sedang melipat pakaian bayi di lantai.

“Kalau syarat bekerja di sana adalah membiarkan keluargaku kembali ke rumah Bapak, aku berhenti.”

Kakek tertawa.

“Kamu mau makan apa? Anak sebentar lagi lahir.”

“Aku pikirkan.”

“Kamu pikir dapat kerja baru gampang?”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya Kakek tidak mendapat perlawanan dalam bentuk amarah. Ayah tidak mencoba meyakinkannya. Ia tidak berdebat.

Ia hanya menerima konsekuensinya.

“Besok ambil barangmu,” kata Kakek.

“Baik.”

Telepon ditutup.

Malam itu Ayah duduk lama di teras rumah kontrakan.

Ibu menghampirinya.

“Kamu takut?”

“Banget.”

Ibu duduk di sebelahnya.

“Aku juga.”

Ayah menghela napas.

“Tabungan kita cukup untuk beberapa bulan kalau hemat. Setelah kamu melahirkan nanti, mungkin akan lebih berat.”

“Kita sudah pernah hidup dengan uang sedikit.”

Ayah tersenyum tipis.

“Belum pernah dengan bayi.”

“Berarti kita belajar.”

Mereka tidak menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Mereka hanya mulai menghitung.

Biaya kontrakan.

Kontrol kehamilan.

Persalinan.

Makanan.

Transportasi.

Ayah mencatat semuanya di buku kecil.

Keesokan harinya ia pergi ke bengkel mengambil barang pribadinya ditemani adiknya, Dimas, yang datang dari Surabaya setelah akhirnya memahami bahwa cerita Kakek tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.

Dimas sebelumnya termasuk orang yang meminta Ayah tidak membawa masalah itu terlalu jauh.

Di depan bengkel, ia berkata pelan, “Mas, maaf soal telepon kemarin.”

Ayah membuka pintu mobil.

“Kamu cuma dengar cerita Bapak.”

“Aku seharusnya tanya dulu.”

Ayah mengangguk.

“Kamu sekarang sudah tahu.”

Dimas tidak memaksa dimaafkan.

Ia membantu membawa kotak perkakas, beberapa pakaian kerja, dan dokumen milik Ayah.

Kakek berdiri di pintu bengkel.

“Kalau kamu keluar sekarang, jangan kembali minta pekerjaan.”

Ayah memasukkan kotak terakhir ke mobil.

“Baik.”

“Ibumu juga jangan berharap bisa kembali seenaknya.”

Ayah berhenti.

“Bapak tidak perlu khawatir.”

Kakek menyipitkan mata.

“Apa maksudmu?”

“Ibu memang tidak berencana pulang.”

Wajah Kakek berubah.

Untuk pertama kalinya, kehilangan kendali tampak lebih menakutkan baginya daripada laporan polisi.

“Kamu menghasut dia.”

Ayah menutup bagasi.

“Ibu sudah enam puluh tahun lebih. Kalau setelah empat puluh tahun menikah Bapak masih menganggap dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri, mungkin justru itu masalahnya.”

Ayah masuk mobil.

Ia tidak menunggu jawaban.

Beberapa hari kemudian, Nenek meminta Ayah menemaninya mencari informasi tentang proses perceraian.

Ayah bertanya tiga kali apakah ia yakin.

Jawaban Nenek selalu sama.

“Aku belum tahu apakah aku kuat sampai selesai. Tapi aku mau tahu apa yang harus kulakukan.”

Mereka bertemu seorang advokat yang menjelaskan prosesnya secara sederhana. Nenek diminta menyiapkan dokumen yang diperlukan dan menceritakan keadaan rumah tangganya dengan jujur. Tidak ada janji bahwa semuanya akan cepat.

Ketika keluar dari kantor, Nenek tampak kelelahan.

“Aku kira kalau datang ke sini semuanya langsung selesai,” katanya.

Ayah tersenyum kecil.

“Sayangnya hidup tidak seperti itu.”

“Bagus juga.”

“Kenapa?”

“Kalau terlalu gampang, mungkin aku sendiri tidak percaya aku benar-benar melakukan ini.”

Proses hukum atas kejadian yang menimpa Ibu juga tidak selesai dalam satu atau dua hari.

Ada pemeriksaan.

Ada keterangan.

Ada dokumen rumah sakit.

Ada pertanyaan yang harus dijawab kembali.

Ayah beberapa kali pulang dengan wajah letih karena harus mengulang kronologi yang ingin ia lupakan.

Tetapi setiap kali kerabat menyarankan laporan dicabut agar keluarga berdamai, keputusan akhirnya diserahkan kepada Ibu.

Bukan Ayah.

Bukan Nenek.

Ibu.

Suatu malam, Ibu berkata, “Aku tidak ingin hidupku dipakai untuk menghukum Bapakmu. Tapi aku juga tidak mau kejadian itu dianggap tidak pernah terjadi.”

Ayah mengangguk.

“Jadi?”

“Aku lanjut.”

“Baik.”

Ibu melihatnya.

“Kamu tidak akan minta aku berubah pikiran?”

“Tidak.”

“Walaupun dia ayahmu?”

Ayah menatap tangannya.

“Mungkin justru karena dia ayahku, aku terlalu lama mencari alasan untuknya.”

Itu adalah salah satu hal yang berubah dalam diri Ayah.

Bukan keberaniannya memarahi Kakek.

Bukan karena ia tiba-tiba menjadi orang tanpa takut.

Ayah masih takut kehilangan pekerjaan.

Masih khawatir soal uang.

Masih merasa bersalah setiap kali Nenek menangis.

Tetapi ia berhenti menganggap rasa bersalah sebagai perintah untuk kembali ke keadaan lama.

Sebulan setelah ia keluar dari bengkel, Ayah mendapatkan pekerjaan di bengkel kendaraan milik kenalan lama di bagian lain Semarang.

Gajinya lebih kecil.

Jam kerjanya lebih panjang.

Namun ketika pulang, ia tidak membawa rasa waswas apakah Kakek akan sedang marah di ruang tengah.

Kami pindah dari rumah pinjaman ke rumah kontrakan sederhana dengan dua kamar.

Nenek ikut untuk sementara.

Ia bersikeras membayar sebagian belanja dari tabungannya sendiri.

Ayah menolak.

Mereka berdebat hampir dua puluh menit.

Akhirnya Nenek berkata, “Kamu bilang aku harus belajar membuat keputusan sendiri. Ini keputusan pertamaku. Jangan langsung kamu batalkan.”

Ayah terdiam.

Lalu tertawa.

“Baik.”

Nenek tersenyum puas.

“Besok aku yang beli beras.”

Ada hal lain yang baru kami ketahui setelah Nenek mulai mengurus hidupnya sendiri.

Selama bertahun-tahun, ia bahkan tidak tahu berapa pengeluaran pribadinya dalam sebulan. Kakek memberi uang rumah tangga dalam jumlah tertentu dan selalu menuntut penjelasan untuk hampir setiap pengeluaran.

Ketika Ayah membantunya membuat rekening yang hanya bisa diakses Nenek sendiri, ia beberapa kali bertanya, “Kalau aku ambil uang, harus bilang siapa?”

“Kalau uangnya milik Ibu, ya tidak harus bilang siapa-siapa.”

“Serius?”

“Iya.”

Nenek menatap kartu ATM di tangannya seperti benda asing.

“Aneh sekali.”

Butuh waktu berbulan-bulan sampai hal sederhana itu terasa normal baginya.

Kakek tetap mencoba menghubungi keluarga.

Kadang ia marah.

Kadang ia meminta bertemu.

Kadang ia mengatakan kondisi kesehatannya menurun karena ditinggalkan.

Ayah tidak melarang Nenek menjawab.

Ia juga tidak memaksa Nenek memutus hubungan.

Batas yang mereka sepakati sederhana: tidak ada pertemuan sendiri selama situasi masih tegang, dan Nenek tidak akan kembali tinggal bersama Kakek hanya karena merasa kasihan.

Suatu sore, Nenek akhirnya bersedia bertemu dengannya di tempat umum ditemani Dimas.

Ayah tidak ikut.

“Aku takut kalau melihat Bapak, aku akan terlalu marah,” katanya.

Nenek mengangguk.

Pertemuan itu berlangsung kurang dari satu jam.

Ketika pulang, Nenek langsung duduk di meja makan.

“Apa katanya?” tanya Ibu.

Nenek meletakkan tas.

“Dia minta aku mencabut rencana cerai.”

Ayah yang sedang memperbaiki engsel lemari berhenti bekerja.

“Lalu?”

“Aku tanya satu hal.”

“Apa?”

“Apakah dia menyesal menendang Rina.”

Ibu menatap Nenek.

“Dia bilang?”

“Katanya dia menyesal masalahnya jadi sebesar ini.”

Nenek tersenyum pahit.

“Bukan menyesal melakukan. Menyesal akibatnya.”

Tidak ada yang mengatakan apa pun.

“Jadi aku bilang, aku lanjut.”

Nenek mengambil gelas air.

“Itu saja.”

Ayah berjalan ke dapur dan berdiri beberapa detik membelakanginya.

Ketika kembali, matanya merah.

Ia tidak memeluk Nenek.

Keluarga kami bukan keluarga yang mudah berpelukan.

Ia hanya menaruh satu piring berisi pisang goreng di depan Nenek.

“Makan, Bu.”

Nenek mengambil satu.

“Kurang gula.”

Ayah tertawa.

Itu pertama kalinya setelah berminggu-minggu suasana rumah terdengar ringan.

Aku lahir beberapa bulan kemudian.

Persalinanku tidak dramatis.

Tidak ada Kakek yang tiba-tiba datang membawa bunga.

Tidak ada permintaan maaf besar di depan rumah sakit.

Tidak ada seluruh keluarga berkumpul untuk menangis bersama.

Hanya Ayah yang mondar-mandir di lorong, Nenek yang membawa tas terlalu besar karena memasukkan hampir seluruh isi rumah ke dalamnya, dan Dimas yang datang membawa kopi tetapi lupa membeli untuk dirinya sendiri.

Ketika perawat akhirnya membawa kabar bahwa Ibu dan aku baik-baik saja, Ayah duduk di kursi.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

Dimas menepuk bahunya.

Nenek menangis terang-terangan.

Beberapa jam kemudian, ketika aku berada dalam pelukan Ibu, Ayah berkata kepada Nenek, “Ini cucu Ibu.”

Nenek mendekat.

Ia menyentuh ujung jariku.

“Aku tahu.”

Lalu ia berkata, “Semoga dia tidak tumbuh menjadi perempuan yang terus meminta izin untuk merasa aman.”

Ibu menatapnya.

“Amin.”

Hubungan kami dengan Kakek tidak pernah kembali seperti sebelumnya.

Kasus dan proses keluarga berjalan sesuai jalurnya masing-masing. Tidak semuanya selesai cepat, dan beberapa urusan memerlukan waktu jauh lebih panjang daripada yang keluarga kami bayangkan.

Nenek tetap melanjutkan proses perceraiannya.

Ia beberapa kali hampir berubah pikiran.

Bukan karena Kakek sudah berubah, melainkan karena empat puluh tahun kebiasaan sulit diputus.

Ada malam ketika Nenek menangis dan berkata, “Kalau dia sakit siapa yang merawat?”

Ayah menjawab, “Kita bisa memastikan Bapak mendapat bantuan tanpa membuat Ibu kembali tinggal dengannya.”

Ada hari ketika seorang kerabat menuduh Nenek tidak tahu berterima kasih.

Nenek pulang dari pertemuan keluarga dengan wajah murung.

Dua jam kemudian ia berkata, “Dulu kalimat seperti itu bisa membuatku pulang. Sekarang cuma membuatku kesal.”

Itu kemajuan.

Tidak besar.

Tapi nyata.

Setelah urusan perpisahannya semakin jelas, Nenek tidak terus tinggal bersama kami.

Ia sendiri yang meminta mencari tempat lain.

“Aku sayang kalian,” katanya, “tapi kalau terus tinggal dengan anakku, nanti aku cuma pindah dari bergantung kepada suami menjadi bergantung kepada anak.”

Ayah keberatan.

“Tidak ada yang menganggap Ibu beban.”

“Aku tahu.”

Nenek tersenyum.

“Itu sebabnya aku berani mencoba.”

Ia menyewa rumah kecil tidak jauh dari kami.

Dua kamar.

Halaman sempit.

Satu pohon jambu milik pemilik sebelumnya tumbuh miring di dekat pagar.

Nenek mulai menerima pesanan kue basah dari beberapa tetangga. Bukan usaha besar. Penghasilannya juga tidak selalu sama setiap bulan.

Tapi ia menyukai kenyataan bahwa untuk pertama kalinya uang yang masuk ke rekeningnya berasal dari sesuatu yang ia pilih sendiri.

Ayah masih datang seminggu sekali untuk memperbaiki keran, lampu, atau apa pun yang sebenarnya bisa Nenek minta tukang lakukan.

Nenek selalu mengomel.

“Kamu pikir ibumu tidak bisa menelepon tukang?”

Ayah menjawab, “Kalau begitu kenapa minggu lalu Ibu meneleponku jam enam pagi cuma karena pintu belakang bunyi?”

“Ya karena kamu anakku.”

“Katanya mau mandiri.”

“Mandiri bukan berarti aku tidak boleh merepotkan anak.”

Mereka kemudian tertawa.

Aku tumbuh mengetahui Kakek dari jarak yang jauh.

Ketika aku cukup besar untuk bertanya kenapa kami jarang berkunjung kepadanya, Ibu tidak memberikan kisah menakutkan.

Ia hanya mengatakan, “Kakek pernah melakukan sesuatu yang sangat salah dan orang dewasa di keluarga kita harus membuat aturan supaya semua orang aman.”

Ketika aku lebih besar, mereka menceritakan sisanya.

Aku bertanya kepada Ayah apakah ia pernah menyesal melaporkan ayahnya sendiri.

Ia berpikir lama sebelum menjawab.

“Aku menyesal terlambat.”

“Bukan menyesal melapor?”

“Tidak.”

“Kalau Kakek berubah?”

Ayah menatapku.

“Orang bisa berubah. Tapi perubahan itu bukan kewajiban orang yang terluka untuk menunggu.”

Aku tidak sepenuhnya memahami kalimat itu saat berusia tiga belas tahun.

Aku mengerti beberapa tahun kemudian.

Ketika aku kuliah, Nenek masih tinggal di rumah kecilnya.

Ia sudah tidak membuat kue sebanyak dulu karena lututnya sering sakit. Tetapi setiap pagi ia tetap membuka jendela depan sendiri, menyapu teras, lalu menyeduh teh dengan gula terlalu sedikit.

Suatu hari aku membantunya membereskan lemari.

Di laci paling bawah ada tas kecil yang sudah kusam.

“Ini tas yang Nenek bawa waktu pergi dari rumah Kakek?”

Nenek melihatnya.

“Iya.”

“Kenapa masih disimpan?”

Ia mengambil tas itu dan tertawa.

“Entahlah.”

Aku membuka ritsletingnya.

Di dalamnya hanya ada beberapa barang lama: sisir, kantong kain, fotokopi dokumen, dan selembar daftar tulisan tangan.

Pakaian.

Obat.

KTP.

Buku nikah.

Aku mengenali tulisan Ayah.

“Nenek benar-benar pergi cuma bawa ini?”

“Waktu itu aku pikir aku pergi dua atau tiga hari.”

“Lalu?”

Nenek mengambil tas dari tanganku.

“Dua atau tiga hari ternyata cukup untuk mengetahui aku tidak mau kembali hidup seperti dulu.”

Ia memasukkan tas itu lagi ke laci.

Aku bertanya, “Waktu Ayah bilang akan membawa Nenek ke pengadilan, Nenek marah?”

“Sangat.”

“Kenapa?”

“Karena aku merasa dia lancang.”

Aku tertawa.

“Nenek tetap ikut.”

“Tidak langsung.”

Ia menutup laci.

“Yang membuatku pergi bukan karena ayahmu menyuruh.”

Nenek duduk di tepi ranjang.

“Yang membuatku pergi adalah ketika aku melihat ibumu di lantai.”

Aku diam.

“Selama puluhan tahun, aku selalu merasa apa yang terjadi padaku adalah urusanku. Aku bilang kepada diriku, aku sudah memilih suami, jadi aku harus bertahan.”

Nenek mengusap tangannya.

“Tapi waktu aku melihat ibumu, aku sadar diamku membuat rumah itu menjadi tempat di mana orang lain juga harus belajar bertahan.”

Ia menatapku.

“Aku tidak mau itu diwariskan.”

Di luar, terdengar suara motor penjual sayur lewat.

Nenek bangkit.

“Ayo. Bantu Nenek angkat jemuran.”

Percakapan selesai begitu saja.

Begitulah keluarga kami akhirnya berubah.

Bukan dalam satu hari.

Bukan karena satu pidato.

Hari ketika Kakek menendang Ibu memang menjadi titik pecah, tetapi kehidupan setelahnya dibangun dari keputusan-keputusan kecil: Ayah berhenti bekerja di bengkel Kakek, Ibu melanjutkan laporannya, Nenek tidak kembali ke rumah lama, rekeningnya dipegang sendiri, dan pintu rumah barunya hanya dibuka untuk orang yang ia izinkan masuk.

Bertahun-tahun kemudian, aku pernah menginap di rumah Nenek.

Sebelum tidur, aku bertanya apakah pintu belakang sudah dikunci.

Nenek yang sedang membaca di ruang tengah tidak langsung menjawab.

Ia merogoh saku bajunya, mengeluarkan sebuah kunci, lalu meletakkannya di atas meja di samping cangkir teh.

“Sudah.”

Aku melihat kunci itu.

Dulu, Nenek pernah hidup puluhan tahun di sebuah rumah tempat ia takut membuat pemilik kunci marah.

Sekarang kunci rumahnya berada di tangannya sendiri.

Dan malam itu, sebelum mematikan lampu, Neneklah yang memeriksa pintu untuk terakhir kali.

Menurutmu, apakah Arif benar membawa ibunya pergi saat kekerasan pada Rina akhirnya membuat pola lama keluarga mereka tak bisa lagi ditoleransi?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.