ISI KOTAK TERAKHIR MENGUBAH MASA DEPAN NARA, DAN PABRIK YANG DULU MENYIMPAN LUKA MENJADI TEMPAT KELUARGANYA MEMULAI KEMBALI

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 4 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — ISI KOTAK TERAKHIR MENGUBAH MASA DEPAN NARA, DAN PABRIK YANG DULU MENYIMPAN LUKA MENJADI TEMPAT KELUARGANYA MEMULAI KEMBALI

Di dalam kotak kayu itu tidak terdapat uang.

Tidak ada emas.

Tidak pula perhiasan.

Hanya puluhan lembar kain kecil dengan berbagai pola.

Nara mengambil salah satunya.

Pada sudut kain terdapat tulisan tangan:

“Nara — usia 1 tahun.”

Kain berikutnya:

“Nara — usia 2 tahun.”

Kemudian tiga tahun.

Empat tahun.

Lima tahun.

Sampai dua puluh.

Nara menatap Ratih.

—Apa ini?

Ratih tersenyum sambil menangis.

—Setiap ulang tahunmu, aku membuat satu motif baru.

Selama dua puluh tahun, Ratih menciptakan pola tenun untuk anak yang tidak bisa ditemuinya.

Burung kecil untuk tahun ketika Nara belajar berjalan.

Bunga melati untuk usia tujuh tahun.

Gunung untuk usia dua belas tahun.

Dan pada kain terakhir terdapat pola jalan panjang yang berakhir di sebuah rumah.

Nara menyentuhnya perlahan.

—Kenapa jalan?

—Karena aku berharap suatu hari kamu menemukan jalan pulang.

Pertahanan yang sejak tadi dipertahankan Nara akhirnya runtuh.

Ia memeluk Ratih.

Tidak ada kata “Ibu”.

Belum.

Hanya pelukan panjang yang menggantikan dua puluh tahun kehilangan.

Tiga bulan berikutnya tidak mudah.

Penyelidikan menemukan beberapa transaksi dan dokumen bermasalah yang berkaitan dengan usaha Harun. Tabungan Nara serta sepeda motornya akhirnya dikembalikan. Persoalan hukum mengenai dokumen lama diserahkan kepada pihak berwenang, sementara kepemilikan pabrik dan tanah dikukuhkan sesuai dokumen yang sah.

Nara tidak merasa menang ketika mengetahui itu.

Ia hanya merasa bebas.

Ia juga memilih tidak tinggal bersama Ratih secara langsung.

Sebaliknya, Nara membersihkan salah satu kamar di bagian depan pabrik.

—Kita mulai sebagai dua orang yang sedang saling mengenal —katanya.

Ratih tersenyum.

—Aku suka itu.

Mereka mulai dari hal sederhana.

Sarapan bersama.

Pergi ke pasar.

Memperbaiki atap.

Mengecat jendela.

Kadang mereka berbicara berjam-jam.

Kadang satu hari penuh berlalu tanpa percakapan berarti.

Ada hari ketika Nara marah karena merasa Ratih seharusnya berusaha lebih keras mencarinya.

Ada pula malam ketika Ratih menangis karena merasa telah gagal sebagai seorang ibu.

Namun mereka tidak lagi menyembunyikan apa pun.

Suatu pagi, Bu Sari datang membawa tiga perempuan dari desa.

—Katanya kalian mau membersihkan pabrik?

Nara tertawa.

—Siapa bilang?

—Pak Darto.

Satu jam kemudian Pak Darto datang membawa dua orang lagi.

Hari berikutnya, lebih banyak warga muncul.

Mereka membersihkan mesin.

Memperbaiki meja.

Mengganti genteng bocor.

Mencuci jendela yang selama bertahun-tahun tertutup debu.

Untuk pertama kalinya setelah hampir dua dekade, cahaya matahari memenuhi ruang produksi.

Suatu sore, Nara menemukan mesin jahit kecil.

Tiba-tiba ia teringat uang yang dahulu dikumpulkannya untuk kursus membuat kue.

—Aku masih ingin belajar membuat kue —katanya kepada Ratih.

—Lalu belajarlah.

—Tapi sekarang aku punya pabrik.

Ratih menggeleng.

—Memiliki sesuatu bukan berarti kamu harus menjadi budaknya.

Kalimat itu melekat di kepala Nara.

Akhirnya ia menggunakan sebagian tabungannya untuk mengikuti kursus yang selama ini diinginkannya.

Setiap pagi ia belajar.

Sore hari ia kembali ke pabrik.

Lalu sebuah gagasan muncul.

Mengapa harus memilih?

Nara mengubah ruang depan bangunan menjadi kedai kecil.

Ia menjual kopi, teh, klepon, kue lapis, roti buatannya, dan beberapa makanan ringan.

Di belakang kedai, para perempuan desa mulai menggunakan kembali alat tenun.

Produk pertama mereka bukan kain mahal.

Melainkan tas kecil, taplak meja, sarung bantal, dan syal dengan motif-motif yang pernah dibuat Ratih untuk ulang tahun Nara.

Mereka memberi nama koleksi pertama itu:

Pulang.

Pesanan pertama hanya tujuh buah.

Minggu berikutnya menjadi dua puluh.

Seorang pengunjung memotret produk mereka dan mengunggahnya ke media sosial.

Beberapa bulan kemudian, pesanan datang dari berbagai kota.

Namun Nara menetapkan satu aturan.

Tidak boleh ada pekerja yang dibayar di bawah upah yang telah disepakati.

—Dulu tempat ini hancur karena seseorang menganggap uang lebih penting daripada manusia —katanya.—Kalau kita membangunnya kembali, kita akan melakukan kebalikannya.

Setahun berlalu.

Pabrik tua itu berubah.

Halaman yang dahulu dipenuhi rumput liar kini memiliki taman kecil.

Ruang belakang menjadi tempat pelatihan menenun gratis bagi perempuan yang ingin memperoleh penghasilan tambahan.

Kedai Nara berkembang.

Yang paling membuatnya bahagia bukanlah jumlah uang di rekening.

Melainkan setiap pagi, ketika pintu dibuka, tempat yang dahulu membuatnya ketakutan kini dipenuhi suara orang bekerja dan tertawa.

Suatu sore, sebuah mobil berhenti di depan gerbang.

Harun turun sendirian.

Nara yang sedang menyusun roti di etalase membeku.

Ratih muncul dari belakang.

Tidak seorang pun berbicara selama beberapa detik.

Harun terlihat jauh lebih tua.

—Aku tidak datang meminta apa pun —katanya.

Ia meletakkan sebuah amplop di meja.

—Ini sisa uangmu yang dulu kupakai. Aku mengembalikannya.

Nara tidak menyentuh amplop itu.

—Kenapa sekarang?

Harun menunduk.

—Karena untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa meminta maaf tanpa mengembalikan apa yang kita ambil hanyalah cara lain untuk membuat diri sendiri merasa lebih baik.

Nara menatap pria yang selama bertahun-tahun dipanggilnya Ayah.

Ia belum mampu memaafkan semuanya.

Mungkin tidak dalam waktu dekat.

Namun ia juga tidak ingin menghabiskan hidupnya dengan kebencian.

—Aku menerima uangnya —kata Nara.—Tapi pengampunan bukan sesuatu yang bisa Ayah dapatkan hanya dengan satu amplop.

Harun mengangguk.

—Aku tahu.

—Kalau Ayah benar-benar menyesal, buktikan dengan hidup Ayah setelah hari ini.

Harun menatapnya.

Kemudian mengangguk sekali lagi sebelum pergi.

Ratih mendekati Nara.

—Kamu baik-baik saja?

Nara menarik napas panjang.

—Sekarang iya.

Dua tahun setelah malam ketika pintu rahasia terbuka, Nara berdiri di halaman pabrik mengenakan celemek berlumur tepung.

Hari itu adalah perayaan ulang tahun kedua tempat tersebut dibuka kembali.

Anak-anak berlarian di halaman.

Para penenun memamerkan karya mereka.

Pak Darto sibuk bercerita kepada siapa saja yang bersedia mendengarkan.

Bu Sari mengomel karena seseorang meletakkan kursi di tempat yang salah.

Sementara Ratih berdiri di teras sambil membawa sebuah kotak kecil.

—Nara!

—Apa lagi?

—Hadiah.

Nara membuka kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat selembar kain baru.

Motifnya menggambarkan dua perempuan berdiri di depan sebuah rumah dengan pintu terbuka.

Di atas mereka terdapat matahari.

Nara tertawa.

—Usia dua puluh dua?

Ratih mengangguk.

—Aku pikir tradisinya tidak perlu berhenti.

Nara memeluknya.

Kali ini tanpa ragu.

—Terima kasih, Bu.

Ratih membeku.

Itulah pertama kalinya Nara memanggilnya dengan sebutan itu tanpa ketakutan, kebingungan, ataupun kemarahan.

—Bisa bilang sekali lagi? —bisik Ratih.

Nara tertawa sambil menangis.

—Tidak. Tunggu ulang tahunku berikutnya.

Mereka tertawa bersama.

Dari ruang belakang terdengar suara alat tenun mulai bekerja.

Klak.

Klak.

Klak.

Nara menoleh.

Dulu suara itu membuatnya takut.

Kini suara yang sama berarti puluhan keluarga memiliki pekerjaan.

Berarti sebuah bangunan tua hidup kembali.

Berarti masa lalu tidak lagi menentukan masa depannya.

Nara teringat malam ketika keluarganya meninggalkannya di sana hanya dengan 120.000 rupiah.

Saat itu ia mengira dirinya telah kehilangan segalanya.

Ternyata justru di tempat ia dibuang, ia menemukan kebenaran tentang dirinya, menemukan seorang ibu yang tidak pernah berhenti menunggunya, dan menemukan kehidupan yang akhirnya benar-benar menjadi miliknya sendiri.

Ratih menggenggam tangannya.

Di depan mereka, pintu-pintu pabrik terbuka lebar.

Tidak ada lagi ruangan yang harus disembunyikan.

Tidak ada lagi cerita yang harus dikubur.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun hidupnya, ketika Nara memandang bangunan tua itu, ia tidak melihat tempat keluarganya pernah meninggalkannya.

Ia melihat rumah.

TAMAT.