Ayah yang Meninggalkan Kami Dua Puluh Tahun Lalu Berlutut di Rumah Sakit dan Memintaku Menyelamatkan Putranya

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 23 tayangan
Ayah yang Meninggalkan Kami Dua Puluh Tahun Lalu Berlutut di Rumah Sakit dan Memintaku Menyelamatkan Putranya
Indeks

Ayah yang Meninggalkan Kami Dua Puluh Tahun Lalu Berlutut di Rumah Sakit dan Memintaku Menyelamatkan Putranya

Bagian 1

“Ayah cuma minta satu hal. Tolong selamatkan adikmu.”

Di tengah lobi Rumah Sakit Arunika Bandung, seorang laki-laki hampir enam puluh tahun berlutut di depanku.

Mantel mahalnya menyentuh lantai granit. Beberapa keluarga pasien yang sedang menunggu lift menoleh. Dua perawat di meja informasi berhenti berbicara.

Aku tidak bergerak.

Sudah sepuluh tahun aku tidak melihat wajahnya dari jarak sedekat ini.

Dua puluh tahun lalu, namanya Arman Pratama dan aku masih memanggilnya Ayah.

Sekarang, bagiku dia hanya seorang laki-laki yang tahu alamat tempat kerjaku.

“Bapak salah orang.”

Ayah yang Meninggalkan Kami Dua Puluh Tahun Lalu Berlutut di Rumah Sakit dan Memintaku Menyelamatkan Putranya

Aku hendak melewatinya, tetapi tangannya cepat meraih pergelangan tanganku.

“Nadira, Ayah tahu kamu membenci Ayah.”

Kutarik tanganku.

“Jangan panggil nama saya seperti kita masih keluarga.”

Wajahnya berubah.

“Raka sedang di ICU. Kondisinya memburuk sejak tadi malam.” Suaranya terdengar lebih kecil. “Tim transplantasi bilang peluang terbaiknya mungkin ada pada kamu.”

Aku tertawa pendek.

“Raka?”

Dia mengangguk.

“Adikmu.”

Dua kata itu terasa aneh ketika keluar dari mulut orang yang dua puluh tahun tidak pernah menjalankan peran sebagai ayahku.

Saat berumur sepuluh tahun, aku tinggal bersama Ibu di sebuah rumah sederhana di Salatiga. Rumah itu tidak besar. Cat tembok depannya sering mengelupas setelah musim hujan, tetapi hampir seluruh ingatan masa kecilku tinggal di sana.

Suatu sore, Ayah memasukkan dua koper ke bagasi mobil.

Ibu berdiri di teras sambil memegang surat perceraian.

Aku berlari mengejar mobilnya sampai ujung gang.

“Ayah!”

Dia tidak menoleh.

Ibu yang akhirnya mengejarku.

Tangannya memegang bahuku dan menarikku kembali.

“Nadira, sudah. Jangan dikejar.”

Aku menangis sampai sulit bernapas.

Bertahun-tahun kemudian, aku baru memahami maksud kalimat Ibu. Kalau seseorang sudah memutuskan pergi, seorang anak bisa berlari sekuat apa pun tanpa pernah bisa membuat mobil itu berhenti.

Tidak lama setelah perceraian selesai, Ayah menikahi Maya Kusuma di Jakarta.

Maya adalah putri tunggal Darma Kusuma, pemilik perusahaan properti yang saat itu sedang berkembang pesat. Foto pernikahan mereka sempat muncul di halaman sosial sebuah majalah bisnis.

Aku mengetahuinya bukan dari Ayah.

Tetangga kami yang membawakan majalah itu kepada Ibu.

Ibu membaca sebentar, menutupnya, lalu melanjutkan menjemur pakaian.

Sejak hari itu, kami hampir tidak pernah menyebut nama Arman Pratama lagi.

Ibu bekerja menerima jahitan dari rumah, kemudian membantu pembukuan toko kelontong milik seorang kenalan. Aku belajar sekeras yang kubisa sampai akhirnya diterima di fakultas kedokteran dengan beasiswa dan bantuan pendidikan.

Ayah tidak pernah membayar uang kuliahku.

Tidak pernah menelepon pada hari ulang tahunku.

Tidak pernah datang ketika aku diwisuda.

Sepuluh tahun lalu, kesehatan Ibu memburuk.

Pada minggu terakhir hidupnya, aku duduk di lorong rumah sakit sambil menelepon satu nomor yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kusentuh.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Sampai panggilan ketujuh, seorang perempuan menjawab.

“Pak Arman sedang rapat.”

“Saya Nadira.”

Hening sebentar.

“Nadira siapa?”

Aku hampir menutup telepon.

Sebagai gantinya aku berkata, “Putrinya. Tolong bilang Ibu saya meninggal.”

Perempuan itu tidak langsung menjawab.

Aku menunggu sampai dia berkata pelan, “Baik. Akan saya sampaikan.”

Ayah tidak datang.

Pada hari pemakaman, sebuah karangan bunga putih dikirim ke rumah.

Tulisan pada pitanya hanya berbunyi:

Turut berduka cita untuk keluarga yang ditinggalkan.

Tidak ada kata suami.

Tidak ada kata ayah.

Tidak ada namaku.

Setelah semuanya selesai, aku menjual rumah lama kami karena tidak sanggup tinggal di sana sendirian. Aku pindah, menyelesaikan pendidikan spesialis, lalu bekerja di Bandung.

Aku tidak pernah kembali ke Salatiga kecuali sesekali untuk berziarah ke makam Ibu.

Dan sekarang laki-laki yang bahkan tidak datang ketika Ibu dikuburkan sedang berlutut di tempat kerjaku.

“Nadira, Raka baru dua puluh tiga tahun,” kata Ayah. “Dia masih muda.”

Aku menatapnya.

“Ibu waktu itu umur berapa?”

Dia terdiam.

“Waktu Ibu sakit, saya menelepon.”

“Nadira…”

“Saya menelepon tujuh kali.”

Dia menunduk.

Aku menatap wajahnya lebih tajam.

“Bapak tahu Ibu meninggal?”

Bibirnya bergerak.

“Ayah tahu.”

Kukedipkan mata sekali.

“Bapak tahu?”

“Iya.”

Jawaban itu membuat telapak tanganku dingin.

Aku selama bertahun-tahun mencoba memberi ruang bagi satu kemungkinan kecil bahwa pesan dari sekretarisnya mungkin tidak pernah sampai.

Ternyata sampai.

Dia tahu.

Dan memilih tidak datang.

“Jadi Bapak tahu Ibu meninggal, tapi tetap tidak datang?”

“Ayah punya alasan.”

“Alasan apa?”

Dia membuka mulut, tetapi suara sepatu hak tinggi terdengar dari arah pintu utama.

Seorang perempuan berkemeja gelap dan mantel hitam berjalan cepat ke arah kami.

Aku mengenalinya bahkan sebelum dia cukup dekat.

Maya Kusuma.

Usianya sudah mendekati akhir lima puluhan, tetapi cara berjalannya masih sama seperti perempuan dalam foto majalah yang dulu kulihat di rumah.

Begitu melihatku, langkahnya berhenti sesaat.

“Arman!”

Dia menarik lengan Ayah supaya berdiri.

“Kamu sedang apa?”

Ayah menepis tangannya.

“Waktu Raka tidak banyak.”

“Bukan berarti kamu boleh datang ke sini dan berlutut di depan dia.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Sepertinya Ibu Maya masih sama. Tetap tidak senang melihat saya.”

Rahangnya mengeras.

“Nadira, kita tidak punya waktu untuk membicarakan masa lalu.”

“Aneh. Dua puluh tahun kalian punya waktu untuk tidak membicarakannya.”

Dia memasukkan tangan ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah cek yang sudah ditandatangani.

Lalu diletakkannya cek itu di meja kecil dekat resepsionis.

“Tulis angka yang kamu mau.”

Aku tidak segera mengerti.

“Apa?”

“Kamu dengar saya.” Maya menatapku lurus. “Apa pun yang kamu minta. Isi sendiri. Asal kamu bersedia menjalani pemeriksaan yang diminta tim transplantasi dan melakukan apa yang diperlukan kalau ternyata cocok.”

Dia berhenti sebentar.

“Setelah itu, jangan masuk ke kehidupan keluarga kami lagi.”

Aku memandang cek itu.

Dulu aku pernah melihat Ibu menghitung uang belanja sampai lembar terakhir supaya cukup membeli obat.

Sekarang seseorang menawarkan cek kosong kepadaku seolah tubuhku adalah barang yang bisa dinegosiasikan.

“Ambil kembali.”

“Nadira.”

“Saya bilang ambil kembali.”

“Cukup, Maya!” Ayah membentak.

Maya menoleh tajam.

“Kamu yang seharusnya diam!”

Suara beberapa orang di lobi kembali mengecil.

Maya menurunkan volumenya, tetapi aku masih mendengar jelas kalimat berikutnya.

“Dua puluh tahun lalu kita sudah sepakat masalah ini tidak pernah dibicarakan lagi.”

Aku menatapnya.

“Masalah apa?”

Ayah langsung menghindari tatapanku.

“Tidak ada.”

“Arman…”

“Kamu pulang saja.”

Reaksi mereka membuat sesuatu dalam kepalaku mulai terasa tidak pas.

Dua puluh tahun.

Raka dua puluh tiga.

Aku tiba-tiba menghitung umur itu sekali lagi.

Sebelum sempat bertanya, pintu lift terbuka.

“Dokter Nadira!”

Dokter Reza dari unit transplantasi berjalan cepat ke arahku sambil membawa sebuah map.

“Ada hasil tambahan untuk pasien Raka Pratama. Dokter Bima minta Anda melihatnya.”

Aku mengambil map itu.

Maya langsung pucat.

“Jangan.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Dia maju dan mencoba mengambil map dari tanganku.

Refleks aku mundur.

Salah satu lembar terlepas lalu jatuh ke lantai.

Namaku tercetak di bagian atas.

NADIRA PRATAMA.

Di bawahnya tertulis:

RAKA PRATAMA.

Aku baru hendak membungkuk ketika sepatu Maya menahan kertas itu.

“Jangan dibaca.”

Aku mengangkat kepala.

Tangannya gemetar.

Bukan karena marah.

Dia takut.

“Kenapa?”

“Nadira, berikan saja berkasnya kepada saya.”

“Berkas pasien tidak bisa Ibu ambil hanya karena Ibu keluarganya.”

“Ini bukan urusanmu.”

“Nama saya ada di situ.”

Ayah menutup mata.

Aku menatapnya.

“Apa yang kalian sembunyikan?”

“Nadira,” katanya pelan, “jangan tanyakan itu sekarang.”

“Kenapa?”

Dia tidak menjawab.

Aku membungkuk dan mencoba menarik lembar yang tertahan di bawah sepatu Maya.

Dia tidak mau bergeser.

Saat kami sama-sama bergerak, sebuah amplop tua jatuh dari sela map kulit yang dibawa Ayah.

Amplop itu mendarat tepat di dekat kakiku.

Aku membeku.

Aku mengenal tulisan pada bagian depannya.

Sepuluh tahun telah berlalu, tetapi aku masih ingat setiap lengkung huruf itu.

Tulisan tangan Ibu.

Tanganku terasa kaku ketika mengambil amplop tersebut.

Di bagian depan hanya ada satu kalimat.

Untuk Nadira. Kalau suatu hari ayahmu kembali memintamu menyelamatkan putranya, buka surat ini.

Aku mengangkat kepala.

“Kenapa surat Ibu ada pada Bapak?”

Ayah tidak menjawab.

Maya mundur satu langkah.

Kumasukkan jari ke tepi amplop.

“Nadira!” Ayah memanggil.

Aku berhenti.

Untuk beberapa detik aku hanya menatap laki-laki yang dulu pergi dari rumah kami tanpa menoleh.

Lalu aku bertanya satu hal.

“Raka… benar-benar adik saya?”

Wajah Ayah berubah.

Wajah Maya juga.

Aku menarik surat Ibu dari amplop.

Baris pertama baru saja terlihat ketika dari belakangku terdengar suara laki-laki tua yang serak.

“Dokter Nadira… kalau surat itu dibaca, rahasia dua puluh tahun lalu tidak bisa disembunyikan lagi.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Aku mengenali laki-laki itu dari foto-foto lama di media bisnis.

Darma Kusuma.

Ayah Maya.

Dua puluh tahun lalu, namanya cukup besar di dunia properti Jakarta sehingga pernikahan putrinya dengan Ayah menjadi berita kecil di beberapa majalah.

Sekarang tubuhnya lebih kurus. Dia berjalan dengan tongkat, ditemani seorang perawat yang berhenti beberapa langkah di belakang.

Aku memegang surat Ibu lebih erat.

“Bapak tahu apa isinya?”

Darma menatap Arman, kemudian Maya.

“Saya tahu kenapa surat itu ditulis.”

“Kalau begitu saya akan membacanya.”

Maya langsung berkata, “Nadira, jangan.”

Aku membuka kertasnya.

Tulisan Ibu mulai sedikit memudar.

Nadira,

kalau kamu membaca surat ini, berarti sesuatu yang selama bertahun-tahun Ibu khawatirkan akhirnya terjadi.

Jangan marah kepada Raka sebelum kamu tahu seluruh ceritanya. Anak itu tidak memilih bagaimana dia dilahirkan, sama seperti kamu tidak memilih menjadi anak yang ditinggalkan.

Aku berhenti.

Ayah duduk perlahan di kursi dekat dinding.

Kulanjutkan.

Tiga tahun sebelum ayahmu meninggalkan rumah kita, dia sudah mempunyai hubungan dengan Maya. Raka adalah anak mereka. Jadi kalau suatu hari kamu bertanya apakah dia benar adikmu, jawabannya iya.

Aku mengangkat mata.

Ayah tidak membantah.

Jadi Raka sudah berumur tiga tahun ketika Ayah memasukkan koper ke dalam mobil dan meninggalkan kami.

Selama ini, aku mengira Raka lahir setelah pernikahan mereka.

Ternyata perselingkuhan itu sudah berlangsung bertahun-tahun.

Tanganku kembali bergerak.

Saat Raka masih kecil, dokter menemukan kelainan pada sumsum tulangnya yang harus dipantau jangka panjang. Ayahmu pernah membawamu melakukan pemeriksaan darah dengan alasan pemeriksaan kesehatan biasa. Setelah itu Ibu menemukan salinan pemeriksaan kecocokan jaringan.

Ibu marah bukan karena Raka sakit.

Ibu marah karena ayahmu tidak menjelaskan apa yang sebenarnya diperiksa dari tubuhmu.

Aku menatap lembar hasil di lantai.

Sekarang aku mengerti mengapa namaku muncul bersama nama Raka.

Surat itu belum selesai.

Ibu kemudian menuntut agar tidak ada lagi pemeriksaan terhadapmu tanpa izin dan penjelasan. Ayahmu setuju untuk tidak menghubungimu mengenai Raka selama kamu masih anak-anak.

Kalau suatu hari penyakit Raka memburuk dan mereka datang lagi, jangan membuat keputusan karena kasihan pada Ibu. Jangan juga menolak hanya untuk membalas apa yang mereka lakukan.

Minta semua informasi medis.

Pastikan pilihan itu benar-benar milikmu.

Raka tidak mengambil ayahmu darimu. Orang dewasa yang membuat pilihan itu.

Aku menurunkan surat.

Tidak ada kalimat dramatis setelahnya.

Hanya tanda tangan Ibu.

Sari.

Untuk beberapa saat tidak ada seorang pun berbicara.

Kemudian aku menatap Ayah.

“Bapak membawa anak umur sepuluh tahun menjalani pemeriksaan untuk menjadi calon donor tanpa menjelaskan apa pun?”

Wajahnya tampak tua untuk pertama kalinya.

“Waktu itu baru pemeriksaan awal.”

“Itu bukan jawaban.”

“Ayah takut kalau menjelaskan semuanya, ibumu akan menolak.”

“Dan Ibu memang menolak.”

Dia mengangguk.

“Ya.”

Maya mendekat.

“Raka waktu itu sakit. Kami panik.”

Aku menatapnya.

“Panik tidak membuat kalian berhak berbohong kepada anak kecil.”

Maya menunduk.

Dokter Reza mengambil lembar yang tadi jatuh dan menyerahkannya kepadaku.

“Dokter Nadira, ini bukan hasil pemeriksaan baru Anda,” katanya. “Ini data lama yang dimasukkan keluarga ke riwayat medis pasien. Tim transplantasi belum melakukan apa pun pada Anda.”

Itu sedikit melegakan.

“Jadi tidak ada sampel saya yang diambil sekarang?”

“Tidak.”

“Apa arti hasil lama ini?”

“Dua puluh tahun lalu pemeriksaannya terbatas. Tapi ada indikasi Anda dan pasien berbagi sebagian profil HLA sebagai saudara satu ayah. Itu sebabnya tim ingin menawarkan pemeriksaan ulang. Hanya kalau Anda bersedia.”

Maya membuka mulut.

Reza langsung menambahkan, “Dan keputusan donor tidak boleh dibeli atau dipaksakan. Tim donor akan berbicara dengan Dokter Nadira secara terpisah dari keluarga pasien.”

Aku melirik cek kosong yang masih ada di meja.

Maya mengikuti arah mataku.

Pelan-pelan dia mengambilnya kembali.

Aku kemudian menatap Ayah.

“Waktu Ibu meninggal, Bapak sudah tahu.”

“Iya.”

“Kenapa tetap tidak datang?”

Dia menarik napas.

“Karena saya pengecut.”

Aku tidak menyangka jawaban itu.

Dia tidak menyebut rapat.

Tidak menyebut bisnis.

Tidak menyalahkan Maya.

“Saya takut kalau datang, semua yang kami sembunyikan akan terbuka. Raka sudah remaja. Keluarga Maya selalu mengatakan masa lalu sebaiknya tidak diganggu lagi.”

“Dan Bapak setuju.”

“Ya.”

Aku melipat surat Ibu.

“Setidaknya sekarang Bapak tidak bohong soal itu.”

Aku meminta Dokter Reza membawaku ke ruang konsultasi transplantasi. Aku ingin mengetahui kondisi Raka, pilihan lain yang tersedia, serta apa yang benar-benar dibutuhkan dariku.

Aku belum mengatakan ya.

Aku juga belum mengatakan tidak.

Di depan ruang isolasi, seorang perawat memintaku memakai masker sebelum melihat pasien dari balik kaca.

Raka tampak jauh lebih kurus daripada foto yang pernah kulihat di internet. Wajahnya pucat. Selang infus terpasang pada tangannya.

Ketika dia melihatku, ekspresinya berubah.

Dia berbicara kepada perawat.

Beberapa menit kemudian aku diizinkan masuk sebentar.

Raka menatapku lama.

“Kak Nadira?”

Aku tidak menjawab sapaan itu.

Dia menelan ludah.

“Saya baru tahu Ayah benar-benar datang menemui Kakak.”

“Kamu menyuruhnya?”

Raka menggeleng.

“Saya justru bilang jangan.”

Aku terdiam.

Dia menarik napas pendek.

“Saya tidak mau hidup karena seseorang dipaksa menolong saya.”

Lalu dia menatap lurus ke mataku.

“Kalau Kakak memilih pergi sekarang, saya tidak akan menyalahkan Kakak.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku keluar dari ruang isolasi tanpa memberi Raka jawaban.

Bukan karena ingin membuat siapa pun menunggu.

Aku sendiri belum tahu apa jawabanku.

Selama sepuluh tahun bekerja sebagai dokter, aku berkali-kali menjelaskan kepada keluarga pasien bahwa keputusan medis yang besar tidak boleh dibuat ketika seseorang sedang panik. Ironisnya, sekarang aku harus mengingatkan diriku sendiri pada nasihat yang biasa kuberikan kepada orang lain.

Dokter Bima, kepala tim transplantasi, menemuiku di ruang konsultasi.

Dia laki-laki awal lima puluhan dengan kebiasaan membaca berkas sampai selesai sebelum berbicara.

“Kita pisahkan dua hal,” katanya. “Dokter Nadira adalah dokter di rumah sakit ini, tetapi untuk kasus Raka, Anda bukan anggota tim perawatannya. Kalau Anda mempertimbangkan menjadi donor, posisi Anda adalah calon donor.”

Aku mengangguk.

“Apa kondisinya?”

“Kelainan sumsum yang sudah lama dipantau berkembang menjadi kegagalan sumsum berat. Terapi sementara membantu, tetapi tidak cukup untuk jangka panjang.”

“Donor lain?”

“Kami sudah melakukan pencarian.”

Dia memutar layar komputer ke arahku.

Ada beberapa kandidat dari registri yang masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Tidak ada satu pun yang dapat langsung digunakan.

“Keluarganya?”

“Sudah diperiksa yang bersedia dan memenuhi syarat. Tidak ada yang sebaik kemungkinan kecocokan Anda berdasarkan data lama.”

“Kemungkinan?”

“Data Anda dua puluh tahun lalu tidak cukup untuk membuat keputusan transplantasi hari ini. Kita harus mengulang pemeriksaan HLA, pemeriksaan kesehatan, konseling donor, dan penilaian independen.”

Aku menyandarkan punggung.

“Kalau saya menolak?”

“Kami lanjut mencari donor lain dan mempertahankan Raka dengan terapi yang tersedia selama kondisinya memungkinkan.”

“Dan kalau saya setuju?”

“Kita tetap belum tahu apakah Anda memenuhi syarat sampai semua pemeriksaan selesai.”

Aku menghargai jawabannya karena dia tidak mencoba menakut-nakutiku dengan batas waktu yang dibuat dramatis.

Aku bertanya lagi.

“Apakah keluarganya boleh membayar saya?”

“Tidak untuk organ atau sel yang Anda donorkan.”

“Biaya pemeriksaan?”

“Itu bisa ditanggung sesuai prosedur, termasuk biaya wajar terkait proses donor. Tapi bukan pembayaran sebagai imbalan.”

Aku teringat cek kosong Maya.

“Bagus.”

Bima menatapku sebentar.

“Kalau Anda mengatakan tidak, saya akan memastikan keputusan itu juga dihormati.”

Untuk pertama kalinya sejak Ayah berlutut di lobi, aku merasa ada seseorang yang tidak sedang menarikku ke satu arah.

Aku pulang malam itu tanpa menemui Ayah lagi.

Apartemenku sunyi.

Kutaruh tas di kursi makan, tetapi surat Ibu tidak bisa kutaruh begitu saja.

Aku membacanya lagi.

Lalu sekali lagi.

Di bagian belakang kertas ada beberapa baris yang tadi terlewat karena tulisan Ibu lebih kecil.

Nadira, kamu mungkin akan marah setelah tahu semuanya. Marahlah kalau memang perlu.

Tapi jangan biarkan keputusan orang lain dua puluh tahun lalu memilihkan siapa dirimu hari ini.

Kalau kamu menolong Raka, lakukan karena kamu memang mau.

Kalau tidak, jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa menjadi orang jahat.

Aku duduk hampir satu jam dengan surat itu di tangan.

Aku memikirkan Ibu.

Tentang bagaimana dia menghitung uang obat sendiri ketika sakit.

Tentang karangan bunga putih di hari pemakamannya.

Tentang seorang anak bernama Raka yang ternyata sudah berumur tiga tahun saat Ayah meninggalkan kami.

Dan tentang laki-laki kurus di ruang isolasi yang tidak memintaku menyelamatkannya.

Keesokan paginya, aku meminta satu hal sebelum memberikan keputusan apa pun.

Aku ingin bicara dengan Ayah dan Maya tanpa Darma, tanpa pengacara keluarga, tanpa orang dari perusahaan mereka.

Kami menggunakan ruang pertemuan kecil di rumah sakit.

Ayah datang lebih dahulu.

Maya menyusul beberapa menit kemudian.

Tidak ada cek di tangannya kali ini.

Aku meletakkan salinan hasil pemeriksaan lama di meja.

“Bapak masih punya berkas pemeriksaan saya waktu umur sepuluh tahun?”

Ayah mengangguk.

“Yang asli?”

“Sebagian.”

“Saya mau melihatnya.”

Dia membuka map kulit yang kemarin dibawanya.

Dari dalamnya dia mengeluarkan dokumen kusam.

Di bagian bawah formulir permintaan pemeriksaan ada tanda tangannya.

Nama pasien: Nadira Pratama.

Usia: 10 tahun.

Pada kolom keterangan tertulis pemeriksaan kecocokan keluarga.

Aku menunjuk kalimat itu.

“Saya ingat hari ini.”

Ayah menatapku.

“Bapak bilang kita mau cek alergi karena saya sering mimisan.”

Tangannya mengepal.

“Saya ingat.”

“Kenapa tidak bilang yang sebenarnya?”

“Karena kalau saya bilang Raka anak saya, semuanya selesai.”

“Selesai apa?”

Dia tidak langsung menjawab.

Maya yang akhirnya berbicara.

“Pernikahan kami belum terjadi.”

Aku memandangnya.

“Jadi?”

Wajahnya memucat.

“Raka sudah berumur tiga tahun.”

“Ya. Saya bisa menghitung.”

Maya menundukkan kepala.

“Ayah saya takut skandal itu merusak perusahaan dan mempermalukan keluarga. Arman waktu itu masih menikah dengan ibumu.”

“Kalian takut malu.”

Tidak ada yang membantah.

“Tapi kalian tidak takut seorang anak berumur sepuluh tahun menjalani pemeriksaan tanpa tahu untuk apa.”

Ayah mengusap wajah.

“Saya mengatakan kepada diri sendiri itu hanya pemeriksaan darah.”

“Dan setelah itu?”

“Sari mengetahui formulirnya.”

Aku jarang mendengar Ayah menyebut nama Ibu.

“Dia datang menemui saya di kantor,” lanjutnya. “Dia membawa salinan hasilmu. Dia bilang kalau saya mencoba menyentuh satu helai rambutmu lagi tanpa menjelaskan semuanya, dia akan menghentikan seluruh komunikasi.”

“Lalu?”

“Saya setuju.”

“Bukan karena Bapak sadar salah?”

Ayah menggeleng pelan.

“Waktu itu saya cuma ingin masalahnya berhenti.”

Jawaban itu justru terdengar lebih jujur daripada permintaan maaf panjang.

Aku menatap Maya.

“Dan Ibu?”

“Saya setuju Nadira tidak perlu dilibatkan.”

“Kenapa?”

Maya menghela napas.

“Karena setiap kali melihat namamu, saya diingatkan bagaimana Raka lahir.”

Aku menunggu.

Dia menggenggam kedua tangannya.

“Dan saya tidak ingin anak saya tumbuh tahu bahwa awal hidupnya adalah alasan sebuah keluarga hancur.”

“Dia bukan alasannya.”

Maya menatapku.

“Orang dewasa yang membuat keputusan itu alasannya.”

Kalimat itu berasal dari surat Ibu, tetapi baru sekarang aku memahami mengapa Ibu menuliskannya.

Maya mengangguk kecil.

“Saya tahu itu sekarang.”

“Sekarang?”

“Saat itu saya tidak mau tahu.”

Aku bersandar.

“Baik. Sekarang soal Raka.”

Keduanya langsung menegang.

“Kalau saya setuju menjalani pemeriksaan, saya punya syarat.”

Ayah mengangguk cepat.

“Apa saja.”

“Jangan jawab sebelum dengar.”

Dia diam.

“Pertama, tidak ada uang untuk saya. Tidak ada cek, hadiah, apartemen, mobil, saham, atau apa pun.”

Maya mengangguk.

“Kedua, tidak ada satu pun orang dari keluarga atau perusahaan kalian yang menghubungi saya soal keputusan donor. Semua lewat koordinator medis.”

“Baik.”

“Ketiga, jangan mengatakan kepada siapa pun bahwa saya melakukan ini karena kita sudah berdamai.”

Ayah menunduk.

Aku melanjutkan.

“Karena kita belum berdamai.”

Wajahnya mengeras, tetapi dia tetap mengangguk.

“Keempat, Raka harus tahu seluruh kebenaran sebelum transplantasi dilakukan. Bukan karena saya ingin menghukumnya. Karena tubuhnya dan hidupnya sudah terlalu lama menjadi alasan kalian menyimpan kebohongan.”

Maya tampak ingin membantah.

Aku menunggu.

Akhirnya dia berkata, “Baik.”

Ayah menatapku.

“Jadi kamu mau?”

“Saya mau menjalani pemeriksaan.”

Hanya itu.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada tangisan bersama.

Aku keluar ruangan terlebih dahulu.

Tiga hari berikutnya dipenuhi pemeriksaan.

Darah.

Jantung.

Fungsi organ.

Riwayat penyakit.

Konseling psikologis.

Wawancara terpisah untuk memastikan tidak ada tekanan keluarga dan tidak ada transaksi.

Untuk pertama kalinya aku memahami proses donor bukan sebagai dokter, tetapi sebagai orang yang harus menjawab pertanyaan tentang tubuhnya sendiri.

Seorang konselor bahkan bertanya, “Kalau Raka meninggal meskipun Anda mendonorkan sel, apakah Anda siap menghadapi kemungkinan itu?”

Aku terdiam cukup lama.

“Saya tidak tahu.”

“Itu jawaban yang boleh.”

“Kalau saya menolak setelah semua pemeriksaan ini?”

“Anda masih boleh.”

Aku mengangguk.

Hak untuk berubah pikiran ternyata terasa sangat penting ketika seluruh keluargamu datang dengan harapan mereka sendiri.

Hasil HLA keluar dua hari kemudian.

Aku dan Raka bukan kecocokan penuh.

Kami berbagi satu haplotipe, sesuai hubungan saudara satu ayah, dan secara medis aku dapat dipertimbangkan sebagai donor haploidentik.

Bima menjelaskan semuanya tanpa janji palsu.

Ada risiko.

Ada kemungkinan transplantasi gagal.

Ada kemungkinan komplikasi pada Raka.

Ada juga risiko dan efek samping bagiku dari proses mobilisasi sel, meskipun secara umum dapat dikelola.

Aku membawa berkas informasi itu pulang.

Malamnya Raka mengirim pesan melalui nomor yang diberikan koordinator setelah aku mengizinkannya.

Pesannya hanya satu.

Terima kasih sudah mau diperiksa. Tapi Kakak masih boleh bilang tidak.

Aku menatap kata Kakak beberapa detik.

Lalu kubalas.

Saya tahu.

Tidak ada percakapan lain malam itu.

Dua hari kemudian, kondisi Raka cukup stabil sehingga aku bisa berbicara dengannya lebih lama.

Dia duduk di tempat tidur dengan masker, rambutnya dipotong pendek.

“Ayah dan Mama sudah cerita,” katanya.

“Semua?”

Dia tertawa kecil tanpa suara gembira.

“Kalau maksud Kakak, termasuk fakta saya lahir tiga tahun sebelum mereka menikah, iya.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Raka menatap tangannya.

“Saya umur delapan belas waktu pertama kali tahu Ayah punya anak perempuan.”

Aku mengangkat kepala.

“Dari siapa?”

“Saya dengar Mama dan Kakek bertengkar.”

“Lalu?”

“Saya tanya Ayah. Dia bilang Kakak tinggal di luar kota dan tidak mau punya hubungan dengan kami.”

Aku menahan napas.

“Itu saja?”

“Dia bilang masa lalu sudah selesai.”

“Dia tidak bilang bagaimana dia meninggalkan kami?”

Raka menggeleng.

“Tidak.”

“Apa kamu pernah mencari saya?”

“Iya.”

“Kenapa tidak menghubungi?”

Dia tersenyum pahit.

“Saya menemukan artikel tentang Kakak waktu selesai pendidikan spesialis. Saya sempat mengetik pesan.”

“Kenapa tidak dikirim?”

“Karena saya pikir kalau seseorang sudah berhasil membangun hidup baru setelah keluarganya menyakiti dia, mungkin hal paling sopan adalah tidak mengetuk pintunya.”

Jawaban itu membuatku diam.

Raka lalu bertanya, “Kak, boleh saya tanya sesuatu?”

“Silakan.”

“Kalau Kakak akhirnya mendonor, apakah itu berarti Kakak sudah memaafkan Ayah?”

“Tidak.”

Dia terlihat sedikit terkejut.

“Dua hal itu tidak sama.”

Raka menunduk.

“Saya lega.”

“Kenapa?”

“Karena saya tidak mau hidup saya menjadi alasan Kakak dipaksa memaafkan siapa pun.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihatnya sebagai “putra Ayah”.

Aku melihat seorang laki-laki dua puluh tiga tahun yang baru mengetahui hidupnya dibangun di atas kebohongan orang lain.

“Kamu juga tidak perlu meminta maaf kepada saya,” kataku.

Dia menatapku.

“Kamu umur tiga tahun waktu Ayah pergi.”

Matanya memerah.

“Kamu tidak mengambil siapa pun dari saya.”

Raka mengusap wajah.

“Terima kasih.”

Aku tidak mengatakan bahwa aku adalah kakaknya.

Belum.

Tapi untuk pertama kalinya, kata adik tidak terdengar sepenuhnya asing dalam kepalaku.

Seminggu kemudian, aku menandatangani persetujuan donor.

Ayah menungguku di ujung lorong.

Ketika aku keluar dari ruang konseling, dia berdiri.

“Nadira.”

Aku berhenti.

“Terima kasih.”

“Saya tidak melakukan ini untuk Bapak.”

“Saya tahu.”

“Jangan membuat Raka merasa dia punya utang seumur hidup kepada saya.”

“Saya tidak akan.”

“Dan jangan membuat cerita seolah semua kesalahan Bapak selesai karena saya membantu dia.”

Wajahnya menegang.

“Saya tidak akan.”

Aku berjalan melewatinya.

Lalu dia berkata dari belakang.

“Ayah pergi ke Salatiga minggu lalu.”

Aku berhenti.

“Makam Ibu?”

“Iya.”

Aku tidak menoleh.

“Untuk apa?”

“Untuk melakukan sesuatu yang seharusnya saya lakukan sepuluh tahun lalu.”

Aku akhirnya menatapnya.

“Bapak datang ke sana tidak mengubah hari pemakamannya.”

“Saya tahu.”

“Tidak membuat Ibu melihat Bapak datang.”

“Saya tahu.”

“Tidak membuat saya berhenti menunggu di depan rumah hari itu.”

Dia menunduk.

“Saya tahu.”

Tidak ada kalimat yang bisa kuberikan kepadanya setelah itu.

Jadi aku pergi.

Proses donor dimulai beberapa hari kemudian.

Aku menerima obat mobilisasi sesuai jadwal, menjalani pemantauan, lalu pengambilan sel dilakukan melalui prosedur aferesis.

Tidak dramatis seperti bayangan Maya.

Tidak ada ruang operasi dengan seluruh keluarga menunggu di luar sambil menangis.

Aku duduk berjam-jam ditemani seorang perawat, dengan mesin yang memisahkan sel dari darahku sebelum mengembalikan bagian lainnya ke tubuh.

Setelah selesai, aku merasa lelah dan sedikit nyeri.

Bima menyuruhku pulang dan beristirahat.

“Bagaimana Raka?”

“Timnya sedang mempersiapkan transplantasi.”

Aku mengangguk.

Itu saja yang perlu kuketahui hari itu.

Transplantasi bukan tombol yang ditekan lalu seseorang langsung sembuh.

Hari-hari berikutnya justru terasa panjang.

Raka harus berada di ruang isolasi.

Jumlah sel darahnya turun sebelum perlahan mulai menunjukkan perubahan.

Ada demam.

Ada hari ketika dia terlalu lemah untuk membalas pesan.

Ada hari ketika aku bangun dan hal pertama yang kulakukan adalah membuka ponsel, lalu memarahiku sendiri karena merasa seperti anggota keluarga yang menunggu kabar.

Pada hari kesebelas, Bima menemukanku di kafetaria.

“Sel donor mulai terdeteksi.”

Aku meletakkan sendok.

“Itu berarti?”

“Tanda awal yang baik.”

“Bukan jaminan?”

“Bukan.”

Aku mengangguk.

Aku menghargai orang-orang yang tidak menjual harapan terlalu mahal.

Dua minggu kemudian, jumlah sel Raka mulai naik.

Pelan.

Tidak sempurna.

Tapi bergerak ke arah yang benar.

Maya menungguku di luar lift suatu sore.

Aku hampir melewatinya ketika dia berkata, “Nadira.”

Aku berhenti.

Dia menyerahkan sebuah amplop.

Aku tidak mengambilnya.

“Kalau ini uang…”

“Bukan.”

“Apa?”

“Surat.”

Aku masih tidak menyentuhnya.

Maya menarik napas.

“Saya tidak minta kamu membacanya sekarang.”

“Apa isinya?”

“Permintaan maaf.”

Aku menatapnya.

“Saya tidak tahu apakah saya akan membacanya.”

“Saya mengerti.”

Tangannya turun.

Untuk beberapa detik dia tampak bukan seperti perempuan yang pernah meletakkan cek kosong di depanku, melainkan seorang ibu yang akhirnya kehabisan cara untuk mengendalikan situasi.

“Kenapa dulu Ibu begitu takut saya tahu?” tanyaku.

Maya terdiam.

“Karena kalau kamu tahu semuanya, saya harus mengakui bahwa selama bertahun-tahun saya membangun hidup dengan mengatakan kepada diri sendiri bahwa ibumu dan kamu hanya bagian dari masa lalu Arman.”

“Padahal kami orang.”

Dia mengangguk.

“Ya.”

“Dan Ibu nyaman selama kami tidak terlihat.”

Mata Maya turun.

“Ya.”

Aku tidak memeluknya.

Aku juga tidak menghina.

“Akhirnya Ibu mengatakannya.”

Aku masuk lift.

Suratnya tetap ada di tangannya.

Sebulan setelah transplantasi, Raka diizinkan keluar dari ruang isolasi ketat meskipun kontrolnya masih sering.

Rambutnya belum tumbuh banyak.

Berat badannya turun.

Tapi suatu pagi dia datang ke ruang konsultasi transplantasi sambil membawa dua gelas teh hangat dari kantin.

Satu diletakkan di depanku.

“Tanpa gula.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu dari mana?”

“Perawat.”

“Jangan menyuap staf medis.”

Dia tertawa.

Itu pertama kalinya aku mendengar tawanya tanpa terdengar kelelahan.

Kami duduk beberapa menit.

Tidak membicarakan transplantasi.

Dia bercerita tentang pekerjaannya sebelum sakit. Tentang apartemen kecilnya di Jakarta yang belum sempat dia tinggali lagi. Tentang dua tanaman di balkon yang sekarang hampir mati karena ayahnya lupa menyiram.

Kemudian dia bertanya tentang Ibu.

Bukan tentang kematiannya.

Tentang hidupnya.

“Ibu suka apa?”

Pertanyaan sederhana itu membuatku lebih sulit menjawab daripada seluruh pertanyaan medis yang pernah diajukan kepadaku.

“Menjahit.”

“Serius?”

“Dia bisa memperbaiki hampir semua pakaian.”

Raka tersenyum.

“Ayah tidak pernah cerita.”

“Tentu saja tidak.”

“Apa lagi?”

Aku memandang teh di tanganku.

“Ibu suka lagu lama. Kalau sedang masak, dia sering menyanyi tapi nadanya tidak pernah tepat.”

Raka tertawa lagi.

Aku ikut tersenyum.

Sedikit.

“Aku ingin tahu lebih banyak tentang dia,” katanya.

Itu pertama kalinya dia berhenti memakai saya kepadaku.

Aku memperhatikannya.

“Pelan-pelan.”

Dia mengangguk.

“Pelan-pelan.”

Hubunganku dengan Ayah jauh lebih lambat.

Setelah Raka keluar dari rumah sakit, Ayah mulai mengirim satu pesan setiap dua atau tiga minggu.

Bukan pesan panjang.

Kadang hanya:

Semoga kerjamu hari ini lancar.

Aku tidak selalu membalas.

Kalau dia menelepon tanpa izin, aku tidak mengangkat.

Setelah dua kali, dia berhenti menelepon mendadak.

Ketika ingin bertemu, dia bertanya lebih dulu.

Itu terdengar seperti hal kecil.

Tetapi bagi orang yang dua puluh tahun lalu mengambil keputusan atas hidupku tanpa bertanya, belajar meminta izin adalah perubahan yang bisa kulihat.

Aku belum memanggilnya Ayah.

Mungkin suatu hari.

Mungkin tidak.

Darma kembali ke Jakarta dan tidak pernah mencoba menemuiku sendirian lagi. Dari Raka aku tahu lelaki tua itu akhirnya mengakui di depan keluarganya bahwa dialah yang selama bertahun-tahun mendorong semua orang menyembunyikan waktu kelahiran Raka demi nama perusahaan.

Tidak ada perusahaan yang bangkrut.

Tidak ada rumah yang disita.

Tidak ada polisi datang.

Hidup hanya menjadi lebih tidak nyaman bagi orang-orang yang sebelumnya terbiasa menyelesaikan segala sesuatu dengan diam dan uang.

Dan terkadang itu sudah merupakan konsekuensi yang cukup besar.

Maya tidak lagi menawarkan apa pun kepadaku.

Enam minggu setelah dia mencoba memberikan surat permintaan maaf, aku akhirnya memintanya mengirim surat itu lewat Raka.

Kubaca di rumah.

Tidak ada pembelaan diri panjang.

Dia mengakui perselingkuhan.

Mengakui bahwa dia tahu Ayah masih menikah.

Mengakui bahwa dia pernah menganggap diamnya Ibu sebagai kemenangan, padahal sekarang dia memahami Ibu hanya sedang melindungi anaknya.

Di akhir surat, Maya menulis:

Saya tidak meminta kamu menganggap saya keluarga. Saya hanya ingin berhenti berpura-pura bahwa apa yang saya lakukan tidak ikut melukai hidupmu.

Aku melipat surat itu.

Tidak membalas malam itu.

Dua minggu kemudian aku hanya mengirim satu pesan.

Saya sudah membaca.

Maya membalas:

Terima kasih.

Percakapan berhenti di sana.

Tidak semua permintaan maaf harus langsung menghasilkan kedekatan.

Tiga bulan setelah transplantasi, pemeriksaan Raka menunjukkan perkembangan yang cukup stabil.

Dia masih harus berhati-hati terhadap infeksi.

Masih rutin kontrol.

Masih ada risiko jangka panjang.

Tetapi suatu sore dia bisa berjalan sendiri dari parkiran ke klinik tanpa kursi roda.

Aku melihatnya dari ujung lorong.

Ayah berjalan beberapa meter di belakang.

Ketika sampai di depan ruang kerjaku, Raka mengetuk.

“Kak?”

Aku mengangkat kepala.

Dia berdiri di pintu sambil membawa wadah makanan.

“Apa itu?”

“Sup.”

“Dari mana?”

“Mama bikin.”

Aku menatap wadah itu.

Raka tertawa.

“Kalau Kakak belum mau makan masakannya, saya yang makan.”

“Kamu datang kontrol atau membuka restoran?”

“Keduanya bisa.”

Aku menunjuk kursi.

“Duduk.”

Ayah masih berdiri di luar.

Dia tidak masuk.

Dulu, laki-laki itu mengira menjadi ayah berarti dia boleh membuat keputusan atas hidupku.

Sekarang dia menunggu di lorong sampai seseorang mengundangnya.

Aku melihatnya sebentar.

Dia tidak bertanya apa-apa.

Aku kembali menatap Raka.

“Kontrolmu bagaimana?”

“Dokter bilang hasil hari ini cukup baik.”

“Cukup baik bukan berarti boleh keluyuran.”

“Saya cuma dari parkiran ke sini.”

“Itu tetap keluyuran kalau tujuanmu membawa sup.”

Dia tersenyum.

Lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Amplop tua milik Ibu.

Aku menatapnya.

“Kok ada padamu?”

“Waktu terakhir kita bicara, Kakak ketinggalan ini di ruang konsultasi.”

Aku mengambilnya.

Selama dua puluh tahun, surat itu berpindah-pindah di antara orang yang menyimpan rahasia.

Sekarang kembali ke tanganku.

Kubuka laci meja paling bawah.

Di dalamnya ada beberapa dokumen pribadi.

Aku meletakkan surat Ibu di sana, lalu menutup laci dan menguncinya.

Kuncinya kusimpan di saku jas.

Raka sudah membuka wadah sup.

Ayah masih menunggu di luar.

Untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang mencoba membuka pintu, membaca surat, menentukan keputusan, atau masuk ke hidupku tanpa izin.

Dan untuk saat itu, keadaan seperti itu sudah cukup.

Menurutmu, apakah Nadira benar menolong Raka tanpa memaafkan ayahnya, atau seharusnya ia menjaga jarak sepenuhnya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.