Hari Kedua Setelah Menikah, Ibu Mertuaku Menamparku Tujuh Kali. Suamiku Pucat dan Berkata, “Ibu Membuat Masalah Besar”
Bagian 1
Hari kedua setelah menikah, ibu mertuaku menamparku tujuh kali hanya karena aku bangun pukul setengah delapan. Suamiku berdiri beberapa meter dari kami dan tidak menghentikan tamparan pertama, kedua, bahkan ketujuh. Namun begitu ibunya selesai, wajah Arman justru berubah pucat dan ia berteriak, “Ibu membuat masalah besar!”
Aku terbangun karena pintu kamar digedor berkali-kali.
Jam di ponselku menunjukkan 07.31.
Malam sebelumnya resepsi pernikahan kami baru benar-benar selesai mendekati tengah malam. Setelah tamu terakhir pulang, masih ada kotak suvenir yang harus dipindahkan, beberapa barang milikku yang belum dibereskan, dan amplop pemberian tamu yang diminta Arman untuk kami hitung bersama.
Aku baru selesai mandi lewat pukul satu.
Saat kepalaku menyentuh bantal, sudah hampir pukul dua pagi.
Kupikir orang yang mengetuk pintu adalah Arman. Ia sudah bangun lebih dulu dan tadi mengatakan hendak keluar sebentar untuk mengecek sesuatu di ruang depan.
Aku membuka pintu dengan rambut masih berantakan.
Di depanku berdiri Bu Sulastri, ibu Arman.

Ia masih mengenakan pakaian rumah berwarna merah tua. Rambutnya belum disisir dan kedua tangannya bertolak pinggang.
“Sekarang jam berapa?”
Aku belum sempat menjawab ketika ia mendorong pintu lebih lebar.
“Baru hari kedua jadi menantu sudah bangun setinggi ini matahari. Kamu kira setelah menikah tugasmu cuma tidur?”
Suara sendok beradu dengan mangkuk terdengar dari ruang makan.
Pak Darto, ayah Arman, duduk di meja dengan secangkir kopi di depannya. Arman berdiri dekat sofa sambil memegang ponsel.
Aku menatap suamiku.
Ia melihat ke arahku, tetapi tidak bergerak.
Bu Sulastri melangkah mendekat.
“Tadi malam Ibu sudah bilang. Setengah tujuh bangun, buat bubur, goreng telur, siapkan sarapan.”
Aku mengusap wajah.
“Bu, tadi malam aku baru tidur sekitar jam dua. Sarapan sebenarnya bisa dibuat siapa saja. Kalau Ibu membangunkanku baik-baik, aku juga akan turun.”
Wajah Bu Sulastri langsung berubah.
“Bisa dibuat siapa saja?”
Ia menoleh kepada Arman.
“Man, kamu dengar istrimu bicara apa?”
Arman membuka mulut.
Tidak ada suara yang keluar.
Bu Sulastri kembali memandangku.
“Di rumah orang tuamu memang tidak diajari bagaimana seorang menantu bersikap?”
Sisa kantukku hilang saat itu juga.
Aku berdiri lebih tegak.
“Orang tuaku mengajariku menghormati orang lain, Bu. Tapi mereka juga tidak pernah mengajariku bahwa perempuan harus bangun lebih dulu untuk melayani orang dewasa yang sebenarnya bisa menyiapkan makanannya sendiri.”
Mungkin seharusnya aku tidak menjawab sepanjang itu.
Mungkin aku bisa mengatakan nanti kami bicara setelah semuanya lebih tenang.
Tetapi aku baru beberapa jam resmi menjadi bagian dari keluarga ini, dan sejak malam pertama Bu Sulastri sudah beberapa kali memberi perintah tentang kapan aku harus bangun, pakaian apa yang pantas kupakai di rumah, bahkan berapa sering aku seharusnya pulang menemui orang tuaku.
Aku mengira itu hanya kegugupan seorang ibu yang belum terbiasa anak laki-lakinya menikah.
Aku salah.
Bu Sulastri mengangkat tangan.
Tamparan pertama mengenai pipi kiriku sebelum aku sempat bereaksi.
Aku terdiam.
Bukan karena tidak bisa menghindar.
Aku benar-benar tidak percaya ia melakukannya.
“Bu!” suara Arman terdengar dari ruang depan.
Namun ia tetap berada di tempatnya.
Bu Sulastri menamparku lagi.
“Ini supaya kamu tahu aturan.”
Tamparan kedua membuat telingaku berdenging.
Tamparan ketiga menyusul begitu cepat hingga aku hanya sempat menoleh sedikit.
Aku tidak membalas.
Aku juga tidak berlari masuk ke kamar.
Sesuatu dalam diriku justru menjadi sangat tenang.
Aku ingin melihat sampai sejauh mana keluarga yang baru kumasuki ini menganggap tindakan seperti itu wajar.
Setelah tamparan keempat, Pak Darto akhirnya meletakkan cangkirnya.
“Sudahlah, Las. Jangan keterlaluan.”
Bu Sulastri menoleh tajam kepada suaminya.
“Kalau dari awal dibiarkan, besok-besok dia naik ke kepala kita.”
Kemudian tangannya kembali terangkat.
Tamparan kelima.
Keenam.
Ketujuh.
Setelah itu rumah mendadak sunyi.
Semangkuk bubur di meja masih mengeluarkan uap tipis.
Sudut bibirku terasa perih. Ketika kusentuh dengan ujung jari, ada sedikit darah.
Bu Sulastri mengibaskan tangannya seolah baru menyelesaikan pekerjaan rumah.
“Ingat baik-baik. Di rumah ini, kalau orang yang lebih tua bicara, dengarkan.”
Aku tidak menjawab.
Aku menoleh kepada Arman.
Ponselnya ternyata sudah jatuh ke lantai.
Wajah lelaki yang baru sehari menjadi suamiku itu putih seperti kertas. Kedua tangannya gemetar.
Aku menunggunya mendekat.
Ia tidak melakukannya.
Itu yang paling kuingat dari pagi itu.
Bukan suara tamparannya.
Bukan rasa panas di pipiku.
Melainkan jarak beberapa meter antara aku dan Arman yang tidak ia lewati meski ibunya memukulku tujuh kali.
Bu Sulastri mengikuti arah pandangku.
“Kamu lihat Arman untuk apa?”
Ia menunjuk meja makan.
“Laki-laki bekerja mencari uang. Perempuan mengurus rumah. Masa hal begitu saja harus dijelaskan?”
Arman tiba-tiba mengangkat kepala.
“Bu!”
Suara itu begitu keras sampai Pak Darto ikut menoleh.
Mata Arman memerah.
“Ibu membuat masalah besar!”
Bu Sulastri berhenti.
Hanya beberapa detik.
Lalu ia tertawa pendek.
“Ibu mendidik menantu sendiri, masalah besar apanya?”
“Dia sudah menikah denganmu. Berarti dia anggota keluarga ini.”
Bu Sulastri menunjuk ke arahku.
“Jangankan tujuh kali. Kalau sepuluh kali pun orang luar tidak punya hak ikut campur.”
Aku memandang Arman tanpa mengatakan apa pun.
Ia membungkuk mengambil ponselnya.
Tangannya gemetar sampai tiga kali salah memasukkan kode layar.
“Bu,” katanya dengan napas terburu-buru, “Ibu tahu dia siapa?”
Bu Sulastri mengerutkan kening.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
“Ibu tahu uang yang menyelamatkan percetakan kita tiga bulan lalu berasal dari siapa?” tanya Arman.
Bu Sulastri masih berdiri di depanku.
“Apa hubungannya dengan ini?”
“Uang Rp240 juta itu uang Ratih.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku melihat perubahan kecil di wajah ibu mertuaku. Bukan penyesalan. Lebih seperti seseorang yang baru mendengar angka yang tidak ia perkirakan.
Pak Darto berdiri dari kursinya.
“Uang Ratih?”
Arman menelan ludah.
“Iya, Pak.”
Bu Sulastri menatap putranya.
“Katamu itu pinjaman usaha.”
“Memang pinjaman.”
“Dari siapa?”
Arman tidak langsung menjawab.
Aku menjawab untuknya.
“Dari saya.”
Aku sengaja menggunakan kata saya.
Bukan karena ingin terdengar formal, melainkan karena mendadak aku merasa sedang berbicara dengan orang-orang yang hampir tidak kukenal.
Tiga bulan sebelum pernikahan, usaha percetakan yang dikelola Arman bersama ayahnya mengalami masalah arus kas. Dua pelanggan besar terlambat membayar, sementara cicilan mesin cetak, tagihan kertas, dan gaji pegawai tetap berjalan.
Arman datang kepadaku.
Ia tidak meminta hadiah.
Ia meminta pinjaman.
Aku bekerja hampir sembilan tahun di bagian keuangan sebuah perusahaan distribusi alat kesehatan di Semarang. Uang Rp240 juta itu bukan warisan, bukan uang orang tuaku, dan bukan uang yang tiba-tiba jatuh dari langit.
Itu sebagian besar tabungan yang kukumpulkan bertahun-tahun.
Kami membuat perjanjian tertulis. Arman bersikeras akan membayar kembali secara bertahap setelah kondisi percetakan stabil.
Aku setuju karena waktu itu aku percaya kepadanya.
Dan karena kami akan menikah, aku juga setuju menyiapkan tambahan Rp90 juta untuk membantu uang muka mesin digital yang menurut Arman diperlukan agar percetakan bisa menerima pesanan dengan margin lebih baik.
Transfer kedua itu belum dilakukan.
Jadwalnya tiga hari lagi.
Rupanya Bu Sulastri tidak tahu semua itu.
Yang lebih buruk, Pak Darto juga tidak tahu sumber uang tersebut.
Arman selama ini hanya mengatakan ia mendapat pinjaman dari seseorang yang mempercayai usahanya.
Aku menatap suamiku.
“Jadi itu sebabnya kamu panik?”
Arman menatapku.
“Ratih, bukan begitu.”
“Kamu diam waktu ibumu menamparku.”
“Aku kaget.”
“Tujuh kali, Man.”
Ia tidak bisa menjawab.
Aku mengambil ponsel dari meja kecil di dekat pintu kamar.
Tanganku tidak gemetar saat membuka aplikasi mobile banking.
Transfer Rp90 juta yang sudah kujadwalkan masih tercatat sebagai transaksi terencana.
Kubatalkan.
Arman langsung melihat apa yang kulakukan.
“Ratih, tunggu dulu.”
“Tidak.”
Hanya satu kata itu yang keluar.
Bu Sulastri mendengus.
“Jadi sekarang mau pakai uang untuk mengancam keluarga?”
Aku menatapnya.
“Bukan uang keluarga, Bu.”
Ia hendak menjawab, tetapi Pak Darto memotong.
“Las, cukup.”
Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, suaranya terdengar tegas.
Aku masuk kamar dan mengambil tas kecil, dompet, laptop kerja, beberapa pakaian, serta map tipis berisi salinan dokumen penting yang belum sempat kupindahkan.
Arman mengikutiku sampai depan pintu.
“Kamu mau ke mana?”
“Apartemen lama.”
Sebelum menikah aku menyewa apartemen studio kecil dekat tempat kerja. Masa sewanya masih tersisa hampir satu bulan karena aku sengaja tidak buru-buru menghentikannya.
“Ratih, kita bicara dulu.”
“Aku akan bicara kalau wajahku sudah tidak panas dan aku bisa melihatmu tanpa mengingat kamu berdiri diam tadi.”
Arman memegang kusen pintu, bukan tanganku.
Setidaknya ia masih tahu batas.
“Maaf.”
Aku mengangkat tas.
“Maaf untuk bagian mana?”
Ia terdiam terlalu lama.
Aku melewatinya.
Pak Darto berdiri dekat meja makan dengan wajah muram.
“Saya minta maaf, Ratih.”
Aku mengangguk tipis.
Bu Sulastri tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya duduk, seolah masih mencoba memahami bagaimana menantu yang baru saja ia pukul ternyata berhubungan dengan uang usaha keluarga.
Menjelang siang, aku sudah berada di apartemen lama.
Setelah membersihkan luka kecil di bibir dan mengompres pipiku, aku membuka laptop.
Aku ingin melihat satu hal.
Tiga bulan lalu, ketika mentransfer Rp240 juta, aku meminta Arman mengirimkan laporan penggunaan dana sederhana setiap akhir bulan. Bulan pertama ia melakukannya. Bulan kedua terlambat. Bulan ketiga belum kukaji karena persiapan pernikahan menyita banyak waktu.
Kubuka berkas terakhir yang ia kirim.
Sebagian besar sesuai pembicaraan kami: pembayaran tunggakan pemasok kertas, cicilan mesin, gaji pegawai, dan beberapa tagihan operasional.
Namun ada satu angka yang membuatku berhenti.
Rp58.500.000.
Keterangan di lembar laporan hanya berbunyi: pembayaran vendor.
Aku membuka bukti transfer yang dilampirkan.
Nama penerimanya kukenal.
Itu perusahaan katering dan dekorasi yang menangani resepsi pernikahan kami.
Aku membaca bukti transfer itu dua kali.
Tanggalnya dua minggu sebelum pernikahan.
Arman sebelumnya mengatakan bagian biaya resepsi yang ditanggung keluarganya berasal dari tabungan orang tuanya.
Ternyata hampir Rp60 juta dari uang yang kupinjamkan untuk menyelamatkan usaha dipakai untuk pesta pernikahan tanpa memberitahuku.
Saat itulah aku mengerti bahwa masalah pagi itu jauh lebih besar daripada tujuh tamparan.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku tidak menelepon Arman malam itu.
Ia yang meneleponku sebelas kali.
Aku tidak mengangkat satu pun.
Bukan karena ingin menghukumnya. Aku tahu kalau aku menjawab dalam keadaan marah, percakapan kami hanya akan berubah menjadi saling menyalahkan, sementara ada dua masalah berbeda yang harus kupahami dengan kepala jernih.
Pertama, ibunya memukulku dan suamiku tidak menghentikannya.
Kedua, suamiku menggunakan sebagian uang pinjamanku untuk sesuatu yang tidak pernah kusetujui.
Menjelang pukul sembilan malam, pesan darinya masuk.
Ratih, aku sudah lihat laporan yang kamu maksud. Aku bisa jelaskan. Tolong beri aku kesempatan besok.
Aku membalas singkat.
Besok pukul sepuluh. Di percetakan. Bawa semua mutasi rekening dan bukti penggunaan uang sejak transferku masuk.
Balasannya datang kurang dari semenit.
Baik.
Beberapa detik kemudian muncul pesan kedua.
Aku benar-benar minta maaf soal pagi tadi.
Aku membaca kalimat itu lalu meletakkan ponsel.
Aku belum tahu apakah permintaan maaf itu berarti ia mengerti kesalahannya atau hanya takut aku menarik dukungan keuangan.
Pagi berikutnya aku datang ke percetakan di Banyumanik pukul sepuluh kurang lima.
Bangunannya tidak besar, hanya ruko dua lantai dengan area produksi di belakang. Di sana ada lima pegawai tetap, dua mesin cetak lama, satu mesin potong, serta tumpukan kertas berbagai ukuran yang memenuhi rak dinding.
Aku sudah beberapa kali datang sebelum menikah.
Tempat itu bukan perusahaan besar.
Justru karena itulah aku bersedia membantu.
Aku tahu setiap rupiah berarti bagi mereka.
Arman menungguku di ruang kantor kecil di lantai dua.
Pak Darto ada di sana.
Bu Sulastri tidak.
Di meja sudah tersusun beberapa map, laporan bank, kuitansi, dan laptop.
Aku duduk di kursi paling dekat pintu.
Arman tampak tidak tidur semalaman.
“Aku sudah cetak semuanya.”
Aku membuka map pertama.
“Jelaskan Rp58,5 juta.”
Pak Darto langsung menoleh kepada anaknya.
Arman menarik napas.
“Dua minggu sebelum acara, uang dari keluarga kurang.”
“Uang siapa yang kurang?”
“Ibu dan Bapak sudah menyiapkan sekitar Rp45 juta. Tapi Ibu menambah dekorasi, jumlah tamu naik, dan katering harus ditambah.”
Pak Darto menutup mata sesaat.
Aku menatap Arman.
“Lalu kamu mengambil uang usaha.”
“Iya.”
“Uang usaha yang berasal dari pinjamanku.”
“Iya.”
“Tanpa bicara denganku.”
Arman menunduk.
“Iya.”
Aku tidak berteriak.
Tidak ada gunanya.
“Kenapa?”
Ia mengusap wajah.
“Karena waktu itu Ibu bilang kalau pesta dibuat terlalu sederhana, keluarga besar akan bicara. Beberapa saudara datang dari luar kota. Ibu sudah mengundang lebih banyak orang dari kesepakatan awal.”
“Itu alasan ibumu. Aku bertanya alasanmu.”
Arman terdiam.
Pak Darto tidak membantu.
Beberapa detik kemudian Arman berkata, “Aku malu.”
Aku menunggu.
“Aku sudah bilang kepada keluargaku bahwa aku bisa menanggung bagian biaya dari pihakku. Kalau aku mengaku uangnya kurang, Ibu pasti bilang aku tidak siap menikah.”
“Jadi kamu mengambil uangku supaya terlihat mampu.”
Ia mengangguk pelan.
Aku membuka laporan lain.
“Ada penggunaan lain yang tidak sesuai?”
“Tidak sebesar itu.”
“Bukan itu pertanyaanku.”
Arman menunjuk dua transaksi.
Rp6,8 juta untuk perbaikan mobil Pak Darto.
Rp4,2 juta untuk pembayaran beberapa tagihan rumah.
Jumlahnya tidak sebesar biaya pesta, tetapi polanya sama.
Uang yang kuberikan untuk menjaga usaha tetap berjalan perlahan dianggap sebagai cadangan keluarga.
Aku memandang Pak Darto.
“Bapak tahu?”
Ia menggeleng.
“Saya tahu mobil diperbaiki dari uang percetakan. Saya tidak tahu uang percetakan saat itu sebenarnya pinjamanmu.”
Aku kembali kepada Arman.
“Total?”
Ia sudah menghitungnya.
“Rp69,5 juta digunakan di luar kebutuhan usaha.”
Aku menyandarkan punggung.
Dari Rp240 juta.
Hampir sepertiganya.
Arman buru-buru berkata, “Aku akan ganti.”
“Dengan uang dari mana?”
“Dari pemasukan usaha.”
“Itu berarti usaha mengembalikan uang yang kamu pakai untuk kepentingan pribadi.”
Arman berhenti bicara.
Aku membuka perjanjian pinjaman yang kubawa dari apartemen.
“Waktu kamu datang kepadaku tiga bulan lalu, apa yang kamu katakan?”
Ia menatap lembar itu.
“Aku bilang percetakan butuh modal kerja.”
“Bukan biaya pesta. Bukan perbaikan mobil keluarga. Bukan tagihan rumah.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kalau kamu benar-benar tahu, kita tidak sedang duduk di sini.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, suaraku meninggi sedikit.
Pak Darto menunduk.
Arman meremas jemarinya.
“Aku salah.”
Aku memandangnya beberapa saat.
“Kemarin waktu ibumu menamparku, kenapa kamu tidak menghentikannya?”
Ia menjawab cepat, seolah sudah menyiapkan kalimat sejak malam sebelumnya.
“Aku kaget.”
“Tamparan pertama mungkin kamu kaget.”
Aku menunjuknya.
“Kedua?”
Ia tidak menjawab.
“Ketiga?”
Tetap diam.
“Keempat sampai ketujuh?”
Wajahnya memerah.
“Aku takut keadaan makin kacau.”
Aku hampir tertawa, tapi tidak jadi.
“Keadaan sudah kacau saat ibumu memukul istrimu.”
“Aku tahu sekarang.”
“Itu juga masalahnya, Man. Kamu baru tahu setelah selesai.”
Ia memandangku.
“Ketika kamu akhirnya berteriak, hal pertama yang keluar dari mulutmu bukan, ‘Ibu jangan pukul istri saya.’ Kamu malah bilang ibumu membuat masalah besar lalu bicara soal siapa aku.”
Arman menunduk lagi.
Aku melanjutkan.
“Kamu takut aku membatalkan Rp90 juta.”
Ia tidak membantah.
Pak Darto bergeser di kursinya.
Arman akhirnya berkata, “Iya. Itu yang terlintas duluan.”
Kalimat itu menyakitkan, tetapi justru karena ia mengakuinya tanpa memutarbalikkan, aku bisa mendengarnya dengan lebih tenang.
“Aku malu mengatakannya,” lanjutnya. “Tapi memang itu. Begitu Ibu selesai menamparmu, aku melihat kamu dan langsung teringat uang tambahan untuk mesin. Aku takut kamu pergi, menghentikan pinjaman, lalu semuanya runtuh.”
“Bukan takut aku terluka?”
“Aku takut juga.”
“Tapi bukan itu yang pertama.”
“Bukan.”
Ruangan sunyi.
Suara mesin dari lantai bawah terdengar teratur.
Aku menutup map.
“Setidaknya sekarang kamu jujur.”
Arman mengangguk.
Aku lalu menyampaikan keputusan pertamaku.
“Rp90 juta tidak akan aku transfer.”
Ia menarik napas panjang.
“Aku mengerti.”
“Kedua, seluruh Rp240 juta tetap dianggap pinjaman. Tidak berubah menjadi uang rumah tangga hanya karena kita menikah.”
“Iya.”
“Ketiga, penggunaan Rp69,5 juta di luar tujuan usaha harus dicatat sebagai tanggung jawabmu, bukan dibebankan diam-diam kepada percetakan.”
Pak Darto mengangkat kepala.
“Bagaimana caranya?”
Aku memandangnya.
“Itu keputusan Arman dan Bapak sebagai orang yang mengelola usaha. Bisa diperhitungkan dari bagian keuntungan Arman atau dibayar bertahap dari penghasilannya. Saya tidak akan menentukan struktur usaha yang bukan milik saya.”
Arman mengangguk.
“Aku akan buat jadwalnya.”
“Bukan hari ini. Hitung dulu kemampuanmu. Aku tidak mau jadwal bagus di kertas tapi membuat gaji pegawai terlambat.”
Pak Darto memandangku cukup lama.
“Ratih, saya tidak tahu soal sebagian besar ini. Tapi saya tetap salah karena kemarin saya cuma menyuruh istri saya berhenti setelah kamu sudah dipukul beberapa kali.”
Aku tidak menjawab langsung.
“Bapak memang tidak memukul saya.”
Ia mengangguk.
“Tapi saya juga tidak melindungi kamu.”
“Itu benar.”
Tidak ada gunanya membuatnya merasa lebih nyaman dari kenyataan.
Pertemuan selesai hampir dua jam kemudian.
Sebelum pergi, Arman bertanya, “Kamu pulang ke rumah kapan?”
Aku berdiri.
“Rumah yang mana?”
Ia tidak bisa menjawab.
Aku mengambil tas.
“Aku tidak akan tinggal bersama ibumu lagi.”
“Kalau kita sewa rumah?”
“Nanti.”
“Ratih…”
“Aku baru menikah dua hari, Man. Aku butuh waktu untuk memutuskan apakah masalah kita bisa diperbaiki atau justru baru terlihat sekarang.”
Ia mengangguk pelan.
Aku pulang ke apartemen.
Sore itu, masalah keluarga besar mulai datang.
Tante Arman mengirim pesan panjang yang mengatakan Bu Sulastri memang keras, tetapi aku seharusnya memaklumi orang tua.
Seorang sepupunya menulis bahwa masalah rumah tangga tidak pantas dibesar-besarkan.
Bu Sulastri sendiri mengirim tiga pesan.
Pesan pertama berisi pembelaan.
Ibu cuma mau mengajarimu supaya tahu tata krama sebagai istri.
Pesan kedua menyalahkanku.
Kalau dari awal kamu tidak menjawab orang tua, Ibu juga tidak emosi.
Pesan ketiga membahas uang.
Jangan campur masalah keluarga dengan percetakan. Kasihan Arman dan Bapak kalau usahanya terganggu.
Aku tidak membalas satu pun.
Namun sekitar pukul tujuh malam, pesan baru masuk dari grup keluarga Arman yang sebelumnya hanya kupakai untuk mengucapkan terima kasih setelah pernikahan.
Pengirimnya Arman.
Aku membaca perlahan.
Ia menulis bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menyalahkanku karena kejadian pagi sebelumnya.
Ia juga mengakui sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
Uang Rp240 juta yang membantu percetakan berasal dariku.
Sebagian uang itu ia gunakan untuk membayar tambahan biaya resepsi dan kebutuhan keluarga tanpa persetujuanku.
Ia menulis bahwa keputusan tersebut adalah kesalahannya, bukan kesalahanku.
Lalu ia menambahkan satu kalimat.
Apa pun pendapat kalian soal Ratih sebagai menantu, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk memukulnya. Saya juga salah karena tidak menghentikan Ibu sejak tamparan pertama.
Aku tidak membalas.
Namun untuk pertama kalinya setelah pernikahan, Arman melakukan sesuatu yang tidak memintaku menanggung akibat dari pilihannya.
Bu Sulastri keluar dari grup malam itu.
Tiga hari kemudian, Arman mengirimkan rancangan jadwal pengembalian uang.
Ia sudah berbicara dengan ayahnya.
Percetakan akan tetap membayar cicilan pinjaman usaha sesuai kemampuan, tetapi Rp69,5 juta yang ia gunakan di luar tujuan usaha akan ditanggung dari bagian pendapatan pribadinya.
Ia juga membatalkan rencana membeli mesin baru.
“Kalau mesin itu memang diperlukan nanti, kami cari pembiayaan yang mampu ditanggung usaha sendiri,” tulisnya.
Aku menjawab, Baik.
Itu saja.
Seminggu kemudian masa sewaku hampir habis.
Arman datang membawa dua alamat rumah kontrakan sederhana yang berjarak sekitar lima belas menit dari percetakan.
“Aku tidak minta kamu langsung tinggal bersamaku,” katanya. “Aku cuma mau bilang aku sudah keluar dari rumah orang tuaku.”
Aku melihatnya.
“Kenapa?”
“Karena kalau aku tetap tinggal di sana sambil memintamu kembali, berarti aku meminta kamu masuk lagi ke situasi yang sama.”
Aku tidak memuji keputusannya.
Keluar dari rumah orang tua setelah istrinya dipukul bukan tindakan luar biasa.
Itu minimum.
“Barangmu?”
“Sudah kupindah.”
“Ibumu bagaimana?”
“Marah.”
“Tentu.”
Arman mengangguk.
“Ibu bilang setelah menikah aku berubah karena istri.”
Aku menatapnya.
“Kamu jawab apa?”
“Aku bilang memang seharusnya ada yang berubah setelah menikah. Aku sekarang punya tanggung jawab kepada istriku juga.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Ia melanjutkan.
“Aku sewa rumah yang lebih kecil. Dua kamar. Kontrak setahun.”
“Kenapa dua?”
“Satu kamar bisa kupakai untuk kerja. Kalau suatu hari kamu memutuskan tinggal di sana, kamar utama buat kita. Kalau tidak, ya tetap rumahku.”
Jawaban itu membuatku sedikit lebih tenang karena untuk sekali ini ia tidak menganggap keputusanku sudah pasti.
Aku memperpanjang sewa apartemen tiga bulan.
Arman tidak protes.
Selama bulan pertama kami lebih sering bertemu di luar daripada di rumah kontrakannya.
Kadang setelah pulang kerja kami makan di warung dekat kantorku. Kadang hanya duduk satu jam membahas pengeluaran percetakan, cicilan pinjaman, atau hal-hal yang seharusnya kami bicarakan sebelum menikah.
Aku baru tahu banyak hal yang tidak pernah ia ceritakan.
Sejak kecil Arman terbiasa menghindari konflik dengan ibunya.
Bu Sulastri bukan orang yang selalu kasar. Ia bisa sangat perhatian ketika anggota keluarga sakit, hafal makanan kesukaan anak-anaknya, dan bertahun-tahun ikut membantu percetakan tanpa gaji tetap.
Tetapi ia juga terbiasa menentukan banyak hal.
Kalau Arman menolak, ia mengatakan anak laki-laki tidak tahu berterima kasih.
Kalau Pak Darto tidak setuju, ia mendiamkan suaminya berhari-hari.
Keluarga itu bertahan bukan karena semua orang setuju dengan Bu Sulastri.
Mereka bertahan karena semua orang belajar mengalah lebih cepat daripada ia marah.
Aku memahami bagaimana Arman bisa tumbuh seperti itu.
Tetapi memahami tidak sama dengan membenarkan.
Suatu malam aku mengatakan kepadanya, “Aku tidak menikah dengan masa kecilmu. Aku menikah dengan orang dewasa yang tetap punya pilihan.”
Ia mengangguk.
“Aku tahu.”
“Kalau setiap kali ibumu marah kamu kembali diam, aku tidak bisa hidup seperti itu.”
“Aku sedang mencoba mengubahnya.”
“Jangan buktikan lewat kata-kata.”
“Baik.”
Beberapa hari kemudian aku melihat perubahannya diuji.
Bu Sulastri datang ke percetakan dan memarahi Pak Darto karena pengeluaran rumah bulan itu dikurangi.
Aku kebetulan berada di sana untuk mengambil salinan pembayaran pertama.
Ia melihatku dan langsung berkata, “Sejak ada kamu, semua harus pakai hitung-hitungan.”
Aku menatap Arman.
Dulu ia mungkin akan mencoba menenangkanku lebih dulu supaya ibunya tidak bertambah marah.
Kali ini ia berdiri dari kursinya.
“Bu, jangan bawa Ratih ke urusan itu.”
“Memangnya salah?”
“Pengeluaran rumah dikurangi karena usaha tidak boleh lagi dipakai seenaknya. Itu keputusan aku dan Bapak.”
“Karena dia!”
“Karena aku sebelumnya salah memakai uang usaha.”
Bu Sulastri terdiam.
Arman melanjutkan dengan suara biasa, bukan berteriak.
“Kalau Ibu mau marah, marah ke aku. Jangan ke Ratih.”
Wajah Bu Sulastri mengeras.
“Sekarang ibumu sendiri dianggap orang luar?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Ratih juga bukan orang yang boleh Ibu perlakukan seenaknya.”
Aku tidak ikut bicara.
Tidak perlu.
Ketika Bu Sulastri akhirnya pergi, Arman duduk kembali.
Tangannya sedikit gemetar.
Aku melihatnya.
“Takut?”
“Masih.”
Aku mengangguk.
Setidaknya kali ini ia tidak membiarkan rasa takut memutuskan tindakannya.
Dua bulan setelah pernikahan, cicilan pertama pengembalian pinjaman masuk ke rekeningku.
Tidak besar.
Rp12 juta.
Arman mengirim bukti transfer, lalu laporan usaha sederhana.
Aku memeriksanya.
Tidak ada transaksi aneh.
Bulan berikutnya Rp15 juta.
Beberapa pelanggan lama mulai membayar tagihan mereka, sehingga arus kas percetakan membaik sedikit.
Tidak ada keajaiban.
Tidak ada pesanan miliaran.
Mereka masih harus berhemat.
Mesin baru tetap ditunda.
Itu justru membuat semuanya terasa lebih bisa dipercaya.
Bu Sulastri tidak meminta maaf kepadaku selama hampir tiga bulan.
Aku tidak mengejarnya.
Hubunganku dengan Arman perlahan membaik, tetapi aku belum pindah ke rumah kontrakannya.
Kami masih tidur terpisah sebagian besar waktu.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri apakah terlalu sulit membangun perkawinan dari awal setelah kejadian seburuk itu.
Lalu aku mengingat bahwa terburu-buru memaafkan bukan kewajiban.
Suatu Sabtu sore, Bu Sulastri datang ke apartemenku.
Sendirian.
Aku hampir tidak membuka pintu.
Ia berdiri di lorong membawa tas kain kecil.
“Saya boleh bicara?”
Ia menggunakan saya.
Itu pertama kalinya.
Aku membiarkannya masuk, tetapi tidak menawarkan tinggal lama.
Ia duduk di kursi dekat meja makan.
Beberapa detik kami hanya saling menatap.
“Aku masih tidak setuju dengan banyak caramu,” katanya akhirnya.
Aku hampir tersenyum pahit.
“Kalau Ibu datang untuk membahas jam bangunku lagi, lebih baik tidak usah.”
“Bukan.”
Ia menatap tangannya.
“Arman bilang kalau saya mau minta maaf, jangan datang kalau masih mau membenarkan diri.”
Aku menunggu.
“Ibu marah pagi itu karena merasa kamu tidak menghargai rumah kami.”
Ia berhenti.
“Kemudian Ibu memukulmu.”
Aku tidak membantu menyelesaikan kalimatnya.
Ia harus mengatakannya sendiri.
“Itu salah.”
Aku tetap diam.
“Tujuh kali itu salah.”
Suara Bu Sulastri mengecil.
“Sebenarnya satu kali pun salah.”
Aku menarik napas pelan.
Ia melanjutkan.
“Ibu sudah terlalu lama terbiasa berpikir kalau anak-anak harus mengikuti apa yang Ibu mau. Waktu kamu menjawab, Ibu merasa ditantang.”
Aku menatapnya.
“Jadi?”
“Jadi Ibu melakukan sesuatu yang tidak seharusnya Ibu lakukan.”
Tidak ada air mata dramatis.
Tidak ada ia berlutut.
Tidak ada permintaan agar aku melupakan semuanya.
Justru karena itu, permintaan maafnya terasa lebih nyata.
“Aku belum bisa dekat seperti tidak pernah terjadi apa-apa, Bu.”
“Ibu mengerti.”
“Kalau suatu hari Ibu datang ke rumahku dan Arman nanti, Ibu tidak berhak menentukan aku harus bangun jam berapa, memasak apa, atau bagaimana aku menjalani rumah tanggaku.”
Wajahnya tampak tidak nyaman.
Namun ia mengangguk.
“Baik.”
“Dan kalau Ibu marah, Ibu bicara. Tidak menyentuh saya.”
“Iya.”
Aku tidak mengatakan aku sudah memaafkannya.
Saat itu aku memang belum tahu.
Sebelum pergi, Bu Sulastri mengeluarkan sesuatu dari tas.
Bukan hadiah.
Sebuah amplop bank.
“Apa ini?”
“Rp10 juta.”
Aku langsung mengernyit.
“Untuk apa?”
“Sebagian uang resepsi.”
Aku menggeleng.
“Bu, masalah utangnya dengan Arman.”
“Ibu tahu. Ini bukan supaya masalah selesai.”
Ia mendorong amplop ke tengah meja.
“Tambahan tamu itu sebagian besar keputusan Ibu. Dekorasi juga Ibu yang minta. Ibu tidak tahu Arman memakai uangmu, tapi Ibu menikmati hasil keputusannya.”
Aku menatap amplop itu.
Bu Sulastri berkata, “Ibu menjual gelang yang sudah jarang dipakai.”
Aku langsung mendorongnya kembali.
“Jangan menjual barang Ibu untuk ini.”
“Sudah dijual.”
Kami saling memandang.
Aku akhirnya berkata, “Kalau begitu berikan uangnya ke Arman untuk dicatat sebagai bagian pembayaran utang. Jangan diberikan langsung kepadaku tanpa catatan.”
Bu Sulastri tampak ingin membantah.
Lalu ia menarik amplop itu kembali.
“Baik.”
Ada sesuatu yang berubah sejak hari itu.
Tidak banyak.
Bu Sulastri tidak berubah menjadi ibu mertua sempurna.
Kadang ia masih memberi komentar yang tidak perlu.
Sekali ia mengomentari kenapa aku membeli makanan daripada memasak ketika pulang kantor terlambat.
Aku hanya berkata, “Karena malam ini aku tidak ingin memasak.”
Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Arman yang mendengar dari ruang depan tidak menyuruhku mengalah.
Kemajuan kadang memang sekecil itu.
Empat bulan setelah pernikahan, aku akhirnya memutuskan pindah ke rumah kontrakan Arman.
Bukan karena keluarga besar mendesak.
Bukan karena merasa seorang istri harus tinggal dengan suaminya apa pun yang terjadi.
Aku pindah karena selama berbulan-bulan Arman konsisten melakukan hal yang sebelumnya tidak bisa ia lakukan.
Ia mengatakan tidak kepada ibunya.
Ia mengakui penggunaan uang tanpa alasan berbelit.
Ia menyerahkan laporan usaha tepat waktu.
Ia membayar cicilan sesuai kemampuan.
Ia tidak pernah lagi memintaku menambah modal.
Dan yang terpenting, ia tidak mendesakku pulang sebelum aku siap.
Malam sebelum aku pindah, kami duduk di ruang tamu rumah kontrakan yang masih hampir kosong.
Ada sofa bekas, meja kecil, kipas angin, dan dua kardus peralatan dapur.
Arman menyerahkan satu kunci rumah kepadaku.
Aku memegangnya.
“Tidak ada kunci cadangan di rumah ibumu?”
“Tidak.”
“Yakin?”
Ia membuka laci kecil di dekat pintu dan menunjukkan satu kunci lain.
“Ini cadangannya. Kita simpan di sini. Kalau mau kasih siapa pun, kita putuskan bersama.”
Aku memasukkan kunci milikku ke tas.
“Bagus.”
Arman tersenyum tipis.
“Aku sadar sekarang kenapa kamu belum percaya sepenuhnya.”
“Aku juga belum bilang sudah percaya sepenuhnya.”
Senyumnya hilang, tetapi bukan karena marah.
“Aku tahu.”
Enam bulan setelah pernikahan, utang belum lunas.
Masih jauh.
Percetakan juga belum menjadi usaha yang sangat sukses.
Pak Darto masih bekerja hampir setiap hari.
Bu Sulastri masih belajar bahwa membantu anak tidak sama dengan mengatur rumah tangga anak.
Aku dan Arman juga masih punya pertengkaran.
Kadang soal uang.
Kadang soal keluarganya.
Kadang soal hal kecil seperti siapa yang lupa membeli air galon.
Namun ada satu aturan yang tidak pernah lagi diperdebatkan.
Tidak ada seorang pun yang punya hak menggunakan uang orang lain tanpa izin.
Tidak ada seorang pun yang punya hak menyentuh orang lain karena merasa lebih tua.
Dan keluarga bukan alasan untuk menghapus batas.
Suatu Minggu pagi aku terbangun hampir pukul delapan.
Tidak ada pintu digedor.
Tidak ada suara orang memerintahkanku masuk dapur.
Aku keluar kamar dan menemukan Arman sedang menggoreng telur.
Ia menoleh.
“Bangun?”
Aku melihat jam dinding.
“Sudah hampir jam delapan.”
“Iya.”
“Kamu tidak panik?”
“Kenapa harus panik?”
Aku menahan senyum.
Di meja ada dua piring nasi, telur, dan teh hangat.
Tidak istimewa.
Aku duduk.
Ponsel Arman berbunyi.
Nama ibunya muncul di layar.
Ia melihatku sebentar, lalu mengangkat telepon.
“Iya, Bu?”
Aku tidak mendengar semua yang dikatakan Bu Sulastri, hanya suara samar dari speaker.
Arman menjawab, “Tidak, hari ini kami tidak ke sana. Ratih mau istirahat.”
Beberapa detik kemudian ia berkata lagi, “Bukan Ratih yang melarang. Aku yang memutuskan kami di rumah saja.”
Ia menutup telepon.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada drama.
Aku mengambil sendok.
Di dekat pintu depan, kunci cadangan rumah kami masih berada di dalam laci yang sama.
Tidak di rumah ibunya.
Tidak di tangan saudara mana pun.
Tetap di rumah kami, tempat kami berdua sepakat menyimpannya.
Menurutmu, apakah Ratih tepat memberi Arman kesempatan setelah ia menunjukkan perubahan nyata, meski awal pernikahan mereka begitu buruk?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
