Suamiku Memohon Aku Mendonorkan Ginjal untuk Adiknya. Di Ruang Operasi, Kakakku Menyadari Ada Nama Lain di Berkas

Avatar penulis
Cerita 01
23 menit baca 22 tayangan
Suamiku Memohon Aku Mendonorkan Ginjal untuk Adiknya. Di Ruang Operasi, Kakakku Menyadari Ada Nama Lain di Berkas
Indeks

Suamiku Memohon Aku Mendonorkan Ginjal untuk Adiknya. Di Ruang Operasi, Kakakku Menyadari Ada Nama Lain di Berkas

Bagian 1

Saat Arga berlutut di depanku, aku masih memegang kantong belanja dari pasar swalayan dekat rumah kami di Bandung. Plastik yang terlalu penuh itu tiba-tiba robek, membuat tomat dan dua buah jeruk menggelinding ke bawah meja makan.

Arga tidak memedulikannya.

Ia meraih kedua tanganku begitu kuat sampai buku-buku jariku terasa sakit.

“Dinda, tolong selamatkan Naya.”

Aku belum pernah melihat suamiku seperti itu selama enam tahun kami menikah.

Matanya merah. Rambutnya berantakan. Bahkan suaranya terdengar berbeda.

“Naya kenapa?”

“Ginjalnya.”

Suamiku Memohon Aku Mendonorkan Ginjal untuk Adiknya. Di Ruang Operasi, Kakakku Menyadari Ada Nama Lain di Berkas

Arga menarik napas terburu-buru.

“Dokter bilang kondisinya memburuk. Kalau terlalu lama menunggu, risikonya makin besar.”

Naya adalah adik kandung Arga, baru berusia dua puluh empat tahun.

Hubunganku dengannya tidak pernah benar-benar hangat. Naya sering meminta uang kepada kakaknya, kadang langsung menghubungiku ketika Arga tidak menjawab. Kalau aku mengatakan sedang tidak punya uang lebih, ia bisa mendiamkanku berminggu-minggu.

Tapi aku tidak pernah membencinya.

Aku menatap Arga.

“Bukankah transplantasi harus dicari kecocokannya dulu? Mama, Papa, kamu?”

“Sudah.”

Jawabannya terlalu cepat.

“Mama tidak cocok. Papa juga tidak. Aku sudah diperiksa.”

Ia menelan ludah.

“Hasilmu yang paling memungkinkan.”

Aku membeku.

“Hasilku?”

Beberapa minggu sebelumnya Arga memang memintaku melakukan pemeriksaan darah lengkap. Katanya keluarga Naya sedang mencoba mencari donor dan mereka perlu memastikan siapa saja yang mungkin cocok.

Saat itu aku menurut karena kupikir pemeriksaan belum berarti aku harus menyetujui operasi apa pun.

“Aku tidak pernah bilang mau jadi donor.”

“Aku tahu.”

Arga menunduk.

Lalu, tanpa peringatan, ia benar-benar menyentuhkan dahinya ke lantai.

Aku mundur satu langkah.

“Arga, jangan begini.”

“Dinda, aku mohon.”

Ia kembali mengangkat wajahnya.

“Aku tahu selama ini aku bukan suami yang baik.”

Kalimat itu justru membuat dadaku terasa sesak.

Selama enam tahun menikah, ia hampir tidak pernah mengakui kesalahannya.

Ketika ibunya menyindirku karena kami belum punya anak, Arga selalu diam.

Ketika Naya meminjam uang dari tabunganku Rp7 juta dan baru mengembalikan separuh setelah berbulan-bulan, Arga mengatakan aku terlalu perhitungan.

Saat aku pernah demam tinggi dan meminta ditemani ke klinik, ia hanya membelikan obat lalu berkata besok pagi harus masuk kantor.

Namun sekarang laki-laki yang sama berlutut di hadapanku.

“Mama berkali-kali menyalahkanmu soal anak, aku diam saja,” katanya. “Naya sering merepotkanmu, aku juga membiarkan. Aku salah.”

Ia menunduk lagi.

“Tapi jangan hukum Naya karena kesalahanku.”

“Aku tidak sedang menghukum siapa pun.”

“Aku tahu.”

Air matanya jatuh.

“Dia masih muda, Din. Dua puluh empat tahun. Masih banyak yang ingin dia lakukan.”

Aku duduk perlahan di kursi makan.

Ada banyak pertanyaan di kepalaku, tapi melihat suamiku menangis seperti itu membuat semuanya bercampur.

“Kalau aku mendonorkan satu ginjal, bagaimana hidupku nanti?”

Arga segera duduk lebih dekat.

“Dokter sudah jelaskan kepadaku. Dengan pemeriksaan yang benar dan pemantauan setelah operasi, donor bisa tetap menjalani hidup normal.”

“Kepada kamu?”

Ia terdiam sepersekian detik.

“Maksudku, waktu konsultasi keluarga.”

Aku tidak menangkap kejanggalan kecil itu saat itu.

Yang kulihat hanya seorang kakak yang takut kehilangan adiknya.

Arga menggenggam tanganku lagi.

“Aku akan menjagamu.”

Aku menatap wajahnya.

“Menjagaku bagaimana?”

“Aku yang urus rumah selama kamu pulih. Aku akan ambil cuti. Kontrol aku antar. Apa pun yang kamu butuhkan.”

Ia menarik napas.

“Kalau kamu melakukan ini untuk Naya, aku tidak akan melupakannya seumur hidup.”

Aku tidak suka kalimat itu.

Aku tidak ingin suamiku merasa berutang seumur hidup kepadaku.

Aku hanya ingin pernikahan kami kembali terasa seperti pernikahan dua orang, bukan tempat aku terus-menerus diminta mengerti.

Namun malam itu aku akhirnya mengangguk.

Bukan karena Arga menjanjikan akan berubah.

Bukan juga karena keluarga suamiku.

Aku setuju karena membayangkan seorang perempuan berusia dua puluh empat tahun terbaring sakit dan mengetahui bahwa aku mungkin bisa membantunya.

“Kalau memang hasil pemeriksaannya aman,” kataku pelan, “aku akan lanjut.”

Arga memelukku begitu erat hingga bahuku sakit.

“Terima kasih.”

Aku menatap tomat yang masih berserakan di lantai.

Untuk pertama kalinya malam itu, muncul perasaan aneh yang tidak bisa kujelaskan.

Keesokan paginya kami pergi ke sebuah rumah sakit swasta di Bandung.

Hari itu jauh lebih melelahkan daripada yang kubayangkan.

Ada pemeriksaan tambahan, pengambilan darah, konsultasi singkat, formulir, dan pertanyaan yang terasa datang tanpa henti.

Seorang petugas sempat bertanya apakah keputusan ini dibuat tanpa paksaan.

Aku menjawab ya.

Arga duduk di sampingku.

Saat itu aku benar-benar percaya bahwa aku membuat keputusan untuk menyelamatkan Naya.

Itulah sebabnya jawabanku terasa benar.

Menjelang siang, seorang perawat membawa beberapa lembar dokumen.

“Bu Dinda, mohon dibaca dulu sebelum ditandatangani.”

Aku mengambilnya.

Arga menarik kursinya lebih dekat.

Tangannya tidak pernah benar-benar lepas dari bahuku.

Di halaman pertama tertulis persetujuan tindakan medis dan persetujuan donor hidup.

Aku membaca beberapa bagian perlahan.

Ada penjelasan mengenai risiko operasi, pemantauan kesehatan, dan hakku untuk membatalkan persetujuan sebelum prosedur dilakukan.

Lalu aku melihat bagian identitas penerima.

Tangan perawat kebetulan berada tepat di atas nama itu saat ia menunjukkan tempat tanda tangan.

Aku menggeser kertas sedikit.

“Aku mau lihat nama penerimanya.”

Arga langsung menunjuk halaman berikutnya.

“Itu data Naya. Tidak perlu dibaca satu-satu, Din.”

Aku menatapnya.

“Aku cuma mau memastikan.”

“Kita sudah terlambat dari jadwal.”

Nada suaranya berubah sedikit.

Ia lalu tersenyum, tetapi senyum itu terlihat kaku.

“Nanti kamu malah makin tegang kalau terus membaca semua istilah medis.”

Perawat di depan kami tampak hendak mengatakan sesuatu.

Namun telepon di sakunya berbunyi, lalu ia meminta izin menjawab panggilan beberapa langkah dari meja.

Aku kembali melihat dokumen.

Arga menaruh telapak tangannya di atas bagian nama penerima.

“Dinda.”

“Apa?”

“Percaya sama aku.”

Aku tidak menjawab.

Mungkin seharusnya aku menggeser tangannya.

Mungkin seharusnya aku memanggil perawat kembali.

Mungkin seharusnya aku bangkit dari kursi dan meminta penjelasan tanpa Arga di ruangan itu.

Namun enam tahun hidup bersama seseorang bisa membuat kita terbiasa menekan suara kecil di kepala sendiri.

Aku menandatangani dokumen itu.

Setelahnya semuanya bergerak cepat.

Aku berganti pakaian rumah sakit. Ponsel dan barang-barang pribadiku dititipkan. Arga terus berada di dekatku sampai aku dibawa menuju ruang persiapan.

Sebelum pintu tertutup, ia membungkuk dan memelukku.

“Terima kasih, istriku.”

Aku menutup mata.

Entah kenapa, saat wajahnya mendekat, aku tiba-tiba teringat tangannya menutupi nama penerima di formulir.

“Arga.”

“Ya?”

“Nanti jangan bohong lagi kepadaku.”

Tubuhnya membeku sesaat.

Hanya sesaat.

Kemudian ia mengusap rambutku.

“Aku tidak akan bohong.”

“Janji?”

“Janji.”

Aku dibawa masuk.

Ruang operasi terasa jauh lebih dingin daripada lorong rumah sakit.

Lampu besar berada tepat di atas wajahku. Seorang perawat memastikan namaku. Petugas lain memeriksa gelang identitas di pergelangan tanganku.

Aku mencoba bernapas perlahan.

Sebuah selang infus sudah terpasang.

Dokter anestesi menjelaskan bahwa obat akan mulai membuatku mengantuk.

Cairan terasa dingin saat masuk melalui infus.

Jari-jariku perlahan menjadi berat.

Suara-suara di sekelilingku terdengar semakin jauh.

Dalam keadaan setengah sadar, pikiranku kembali kepada Arga.

Aku teringat ia berlutut di lantai.

Aku teringat semua janji yang baru diucapkannya.

Lalu, tanpa bisa dicegah, kenangan lain datang.

Aku sendirian di klinik saat demam tinggi.

Aku berdiri diam ketika ibu mertuaku menyebutku perempuan yang tidak bisa memberikan cucu.

Aku membuka mobile banking dan menemukan transfer lain kepada Naya yang dilakukan Arga dari rekening rumah tangga tanpa memberitahuku.

Mungkin setelah semua ini selesai, pikirku, aku akan meminta Arga duduk dan bicara sungguh-sungguh.

Bukan lagi tentang Naya.

Tentang kami.

Kalau ia memang berubah, mungkin enam tahun pernikahan ini masih layak diperbaiki.

Kalau ternyata tidak, untuk pertama kalinya aku akan mempertimbangkan berpisah.

Kelopak mataku semakin berat.

Seseorang berkata obat anestesi mulai bekerja.

Aku hampir tidak bisa menggerakkan jari.

Lalu tiba-tiba terdengar suara keras.

Pintu ruang operasi terbuka.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Langkah seseorang terdengar cepat mendekati meja operasi.

Aku tidak bisa mengangkat kepala.

Namun suara itu kukenal.

“Dinda?”

Aku mencoba membuka mata.

Bayangan seseorang dengan pakaian operasi berdiri di sebelahku.

“Dinda!”

Itu Bima, kakak kandungku.

Ia seorang dokter bedah yang bekerja di rumah sakit itu, tetapi setahuku hari itu ia seharusnya menangani operasi lain.

Belakangan aku baru tahu dokter yang semula dijadwalkan memimpin prosedur donorku harus menangani kondisi darurat. Bima diminta mengambil alih tim beberapa menit sebelum operasi dimulai.

Ia belum melihatku sejak aku dibawa masuk.

Begitu mengenali wajahku, suaranya langsung berubah.

“Kok kamu di sini?”

Aku mencoba bicara.

Tidak ada suara yang keluar dengan jelas.

Bima menoleh kepada staf.

“Ini adik saya. Hentikan dulu. Jangan lanjutkan anestesinya.”

Ruangan mendadak ramai.

Seseorang memanggil dokter anestesi.

Bima mengambil berkas yang berada di meja samping.

Aku melihat matanya bergerak cepat membaca halaman pertama, lalu kedua.

Wajahnya berubah.

“Siapa yang menjelaskan donor ini kepada pasien?”

Seorang petugas menjawab sesuatu yang tidak bisa kudengar.

Bima membalik kertas lagi.

Kemudian ia mendekat kepadaku.

“Dinda, kamu tahu siapa penerimanya?”

Aku mengumpulkan tenaga.

“Naya.”

Suara yang keluar hanya seperti bisikan.

“Adiknya Arga.”

Bima menatapku beberapa detik.

Lalu ia menoleh tajam ke arah berkas.

“Bukan.”

Satu kata itu menembus kabut di kepalaku.

Aku memaksa membuka mata lebih lebar.

Bima memperlihatkan halaman dokumen kepadaku, meskipun tulisan di sana berbayang.

“Namanya bukan Naya Pradipta.”

Ia menyebut nama lain.

“Keira Anindya.”

Nama itu tidak asing.

Aku pernah melihatnya di layar ponsel Arga beberapa bulan sebelumnya.

Arga mengatakan Keira adalah rekan dari kantor pusat yang sering menghubunginya soal proyek.

Sekarang namanya tertulis sebagai penerima ginjalku.

Bima langsung memerintahkan prosedur dihentikan.

Karena obat anestesi sudah diberikan, aku tidak bisa begitu saja bangun dan pulang. Tim medis memindahkanku ke ruang pemulihan dan memantau kondisiku sampai efek obat berkurang.

Saat kesadaranku mulai kembali, Bima duduk di sebelah tempat tidur.

Tidak ada Arga.

Aku memandang kakakku.

“Mana Naya?”

“Di rumah.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Bima mengeluarkan ponselnya.

“Aku menelepon dia sendiri. Dia sehat. Dia bahkan sedang bekerja hari ini.”

Dinding kamar seakan terasa terlalu dekat.

“Lalu perempuan itu siapa?”

Bima tidak langsung menjawab.

“Keira benar-benar pasien yang membutuhkan transplantasi,” katanya akhirnya. “Itu yang tercatat. Tapi aku tidak bisa membuka informasi medisnya lebih jauh hanya karena aku kakakmu.”

Aku mengangguk lemah.

“Aku cuma perlu tahu kenapa aku ada di sana.”

“Untuk itu kamu berhak meminta penjelasan mengenai dokumen dan persetujuanmu sendiri.”

Pintu kamar terbuka.

Arga masuk dengan wajah pucat.

Ia berhenti ketika melihat Bima.

“Kamu ngapain di sini?”

Bima berdiri.

“Aku seharusnya bertanya begitu kepadamu.”

Arga menatapku.

“Din, aku bisa jelaskan.”

Aku tidak berteriak.

Aku bahkan tidak punya tenaga untuk marah.

Aku hanya bertanya:

“Keira siapa?”

Arga menutup pintu.

“Temanku.”

“Temanmu sampai kamu mau mengambil ginjal istrimu untuknya?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Ia mengusap wajah.

“Keira sakit. Kondisinya memang serius.”

“Kenapa kamu bilang Naya?”

Ia tidak menjawab.

Bima mengambil berkas persetujuanku.

“Dia menyetujui donor karena percaya penerimanya adikmu.”

“Aku tahu.”

Jawaban Arga keluar begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.

Saat itu, sesuatu di dalam diriku berhenti mencari alasan untuknya.

“Keluar.”

Arga menatapku.

“Dinda…”

“Keluar.”

Ia maju setengah langkah.

“Aku melakukan ini karena waktunya sedikit.”

Bima berdiri di antara kami.

“Dia sudah bilang keluar.”

Arga mengepalkan tangan, tetapi akhirnya pergi.

Bima tidak mengejarnya.

Setelah pintu tertutup, ia duduk kembali.

“Kamu mau aku menghubungi pengacara?”

Aku menggeleng.

“Belum.”

Aku meminta ponselku.

Ada tujuh belas panggilan tidak terjawab dari Arga.

Lima dari ibu mertuaku.

Dua pesan dari Naya.

Pesan pertama membuat tanganku berhenti bergerak.

“Mbak, sebenarnya Arga bilang apa sampai Mbak mau masuk rumah sakit?”

Pesan kedua dikirim lima menit kemudian.

“Aku baru tahu dia pakai namaku.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Lalu kubuka rekening bersama kami.

Tiga bulan sebelumnya ada transfer Rp28 juta ke sebuah rekening atas nama Keira Anindya.

Bulan berikutnya Rp16 juta.

Dua minggu lalu Rp35 juta.

Keterangan transfernya selalu berbeda.

Biaya proyek.

Pengembalian uang.

Pinjaman.

Aku menunjukkan layar kepada Bima.

Ia tidak berkata apa-apa.

Ia hanya melihatku menyimpan tangkapan layar dan mengirim salinannya ke email pribadiku.

Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah sakit, tanganku tidak gemetar.

Malam itu aku tidak tahu bagaimana pernikahanku akan berakhir.

Tapi aku tahu satu hal.

Aku tidak akan pulang ke rumah dan membiarkan Arga menjelaskan semuanya sampai kebohongannya terdengar masuk akal.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Keesokan paginya aku masih berada di rumah sakit untuk observasi ketika Naya datang.

Ia berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat, rambutnya hanya diikat seadanya.

Biasanya Naya selalu masuk ke rumah kami tanpa mengetuk.

Hari itu ia tidak berani melangkah lebih jauh.

“Mbak.”

Aku menunjuk kursi.

“Duduk.”

Ia duduk sambil meremas tali tasnya.

“Aku bersumpah aku tidak tahu.”

“Aku percaya kamu.”

Wajahnya berubah sedikit, seolah jawaban itu justru membuatnya lebih malu.

“Arga pernah minta aku kirim foto KTP dua bulan lalu,” katanya. “Katanya buat mengurus asuransi keluarga. Aku kirim.”

Aku menoleh.

“Setelah itu?”

“Tidak ada.”

Ia menunduk.

“Tadi malam Mama marah besar. Bukan ke Arga.”

Aku sudah bisa menebak.

“Kepadaku?”

Naya mengangguk.

“Mama bilang Mbak seharusnya tidak memperpanjang masalah karena operasinya belum terjadi.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

“Jadi menurut Mama, selama ginjalku belum diambil, semuanya baik-baik saja?”

Naya menatap lantai.

“Aku juga marah sama Mama.”

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat Naya tidak mencoba membela keluarganya.

“Aku telepon Arga tadi malam,” lanjutnya. “Dia akhirnya mengaku kalau Keira memang… dekat dengannya.”

Aku menatapnya.

“Dekat?”

Naya menggigit bibir.

“Mereka punya hubungan.”

Aku tidak menangis.

Mungkin karena setelah mengetahui seseorang bersedia membuatmu masuk ruang operasi menggunakan kebohongan sebesar itu, kabar perselingkuhan justru terasa seperti bagian yang paling sederhana.

“Sejak kapan?”

“Aku tidak tahu pasti.”

“Tidak apa-apa.”

Aku tidak ingin mengubah Naya menjadi penyelidik.

“Kalau kamu benar-benar tidak tahu namamu dipakai, cukup bilang yang kamu tahu kalau nanti diminta memberikan keterangan.”

Ia mengangguk cepat.

“Mbak, maaf.”

“Kamu tidak perlu minta maaf atas sesuatu yang tidak kamu lakukan.”

Naya menatapku lama.

“Kak Arga akan kehilangan Mbak, ya?”

Aku menatap jendela.

“Dia sudah mengambil keputusan sebelum aku tahu apa-apa.”

Siang itu aku meminta salinan semua dokumen yang berkaitan dengan persetujuanku sebagai donor.

Rumah sakit tidak menyerahkan rekam medis Keira kepadaku, dan aku tidak memintanya.

Yang kubutuhkan adalah dokumenku sendiri.

Namaku.

Tanda tanganku.

Catatan persetujuan.

Nama penerima yang tercantum pada formulir yang kutandatangani.

Pihak rumah sakit juga memulai peninjauan internal karena aku menyatakan bahwa keputusan donor dibuat berdasarkan informasi palsu dari suamiku.

Aku tidak menuntut seorang perawat memberi informasi yang bukan hakku.

Aku hanya menceritakan apa yang terjadi.

Arga mengatakan penerimanya Naya.

Ia menutupi bagian nama ketika aku mencoba membaca.

Aku mempercayainya.

Itulah urutannya.

Setelah diperbolehkan pulang, aku tidak kembali ke rumah bersama Arga.

Aku pergi ke apartemen Bima untuk beberapa hari.

Arga menunggu di lobi malam pertama.

Satpam menelepon ke atas.

Aku berkata tidak ingin bertemu.

Ia menunggu hampir dua jam sebelum pergi.

Pesannya terus masuk.

“Aku salah.”

“Aku panik.”

“Keira bisa meninggal.”

“Aku tahu caraku salah, tapi niatku menyelamatkan orang.”

Pada pesan kesembilan, aku akhirnya menjawab.

“Kalau tujuanmu hanya menyelamatkan orang, kenapa kamu harus mengatakan namanya Naya?”

Tidak ada balasan selama hampir satu jam.

Kemudian:

“Karena aku tahu kamu tidak akan mau kalau tahu itu Keira.”

Aku menatap kalimat itu lama.

Di situlah seluruh pembelaannya runtuh.

Ia tahu.

Bukan salah paham.

Bukan komunikasi buruk.

Bukan keputusan terburu-buru.

Arga tahu aku tidak akan bersedia, jadi ia mengganti kebenaran dengan sesuatu yang menurutnya akan membuatku mengatakan ya.

Aku menyimpan percakapan itu.

Bukan untuk mengunggahnya.

Bukan untuk mengirim ke grup keluarga.

Aku menyimpannya bersama dokumen rumah sakit dan bukti transfer dari rekening kami.

Dua hari kemudian aku menemui seorang advokat yang direkomendasikan teman Bima.

Namanya Ratih.

Ia tidak menjanjikan Arga akan langsung dipenjara.

Justru itu yang membuatku percaya kepadanya.

Ratih membaca dokumenku dengan tenang.

“Yang perlu kita pisahkan ada beberapa hal,” katanya. “Pernikahan kalian, penggunaan uang bersama, dan dugaan perbuatan yang berkaitan dengan persetujuan medis. Prosesnya berbeda.”

“Aku ingin dia bertanggung jawab.”

“Boleh.”

“Tapi aku tidak mau membuat cerita yang tidak bisa kubuktikan.”

Ratih mengangguk.

“Itu justru penting.”

Aku menyerahkan semua yang kumiliki.

Dokumen rumah sakit.

Pesan Arga.

Riwayat transfer yang berasal dari rekening bersama.

Pesan Naya yang menyatakan dirinya sehat dan tidak mengetahui namanya digunakan.

Tidak lebih.

Ratih menyarankan agar aku tidak menyentuh uang yang menjadi hak Arga, tetapi mengamankan akses pribadiku dan menghentikan penggunaan rekening bersama untuk transaksi baru sampai semuanya jelas.

Hari itu aku mengganti kata sandi email, mobile banking rekening pribadiku, dan PIN beberapa layanan yang sebelumnya diketahui Arga.

Aku juga memindahkan gajiku bulan berikutnya agar masuk ke rekening pribadiku, bukan rekening yang biasa kami gunakan bersama.

Aku tidak mengambil uang Arga.

Aku hanya berhenti membiarkan semua yang kumiliki bisa diakses tanpa batas oleh seseorang yang baru saja membuktikan betapa mudahnya ia berbohong kepadaku.

Malam berikutnya Arga akhirnya datang bersama ibunya.

Mereka tidak bisa naik karena aku tidak memberi izin.

Aku turun ke area tamu apartemen ditemani Bima, tetapi ia duduk cukup jauh agar pembicaraan tetap antara aku dan Arga.

Ibu mertuaku langsung bicara.

“Dinda, Mama ngerti kamu marah.”

Aku hampir tersenyum.

Selama enam tahun, setiap kalimat yang dimulai dengan “Mama ngerti” biasanya diakhiri dengan permintaan agar aku mengalah.

Benar saja.

“Tapi Keira juga manusia.”

Aku menatapnya.

“Mama tahu soal Keira?”

Ia terdiam.

Arga langsung berkata, “Mama baru tahu setelah kejadian.”

Aku beralih kepadanya.

“Yang kutanya Mama.”

Ibu mertuaku menarik napas.

“Aku tahu ada perempuan yang sakit. Aku tidak tahu sedekat apa hubungan mereka.”

“Dan Mama tahu Arga meminta aku jadi donor?”

Wajahnya menegang.

“Arga bilang kamu sudah setuju membantu.”

“Karena dia bilang penerimanya Naya.”

Ibu mertuaku diam.

Itulah pertama kalinya ia benar-benar kehilangan kata-kata.

Arga mencoba menyentuh tanganku.

Aku menariknya.

“Din, dengarkan aku sekali saja.”

“Aku sedang mendengarkan.”

“Keira sudah sakit sejak sebelum hubungan kami menjadi…”

Ia berhenti.

“Menjadi apa?”

Arga mengusap wajahnya.

“Dekat.”

“Bilang yang benar.”

Ia menatap lantai.

“Kami berselingkuh.”

Tidak ada petir.

Tidak ada suara benda pecah.

Bima tidak bangkit menghajarnya.

Aku hanya duduk di kursi apartemen yang terlalu empuk dan mendengarkan suamiku mengatakan sesuatu yang mungkin beberapa bulan sebelumnya bisa menghancurkanku.

Sekarang ada pengkhianatan lain yang lebih sulit kuterima.

“Berapa lama?”

“Hampir setahun.”

Aku mengangguk.

“Uang Rp28 juta?”

“Untuk pengobatannya.”

“Rp16 juta?”

“Sama.”

“Rp35 juta dua minggu lalu?”

“Persiapan perawatan.”

“Semuanya dari rekening rumah tangga.”

“Aku akan ganti.”

Aku memandangnya.

“Dengan uang apa?”

Ia terdiam.

Sebagian besar tabungan rumah tangga berasal dari dua gaji kami, tetapi selama dua tahun terakhir aku memang menyetor lebih banyak karena penghasilanku naik setelah dipromosikan.

Uang itu kami siapkan untuk uang muka rumah yang lebih besar.

Bukan hanya untukku.

Untuk kami.

Arga menggeser kursi lebih dekat.

“Dinda, Keira tidak punya banyak pilihan.”

“Aku tidak menyalahkan dia karena sakit.”

“Dia benar-benar butuh donor.”

“Itu bukan alasan kamu boleh menentukan tubuhku.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kalau kamu tahu, kamu tidak akan melakukannya.”

Arga menunduk.

Ibu mertuaku mulai menangis.

“Kalau kalian cerai karena ini, keluarga kita hancur.”

Aku menatapnya.

“Bu, keluarga ini tidak retak karena aku mengetahui kebohongan. Kebohongannya sudah ada sebelum aku tahu.”

Ia hendak menjawab.

Aku mengangkat tangan.

Bukan untuk membungkamnya dengan kasar.

Aku hanya sudah terlalu lelah mengulang hal yang sama.

“Aku tidak akan membicarakan perceraian dengan Ibu. Itu antara aku dan Arga.”

Aku menatap suamiku.

“Besok pengacaraku akan menghubungimu.”

Wajahnya langsung pucat.

“Pengacara?”

“Ya.”

“Dinda, jangan bawa ini sejauh itu.”

Aku hampir tidak percaya mendengarnya.

“Kamu membawaku sampai meja operasi.”

Ia membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

Aku berdiri.

Pembicaraan selesai.

Tiga hari kemudian, Keira menghubungiku.

Aku sempat ingin mengabaikannya.

Namun setelah berdiskusi dengan Ratih, aku memutuskan menerima satu panggilan dengan syarat pembicaraan tidak digunakan untuk saling mengancam atau menekan.

Suara Keira jauh lebih pelan daripada yang kubayangkan.

“Bu Dinda?”

“Ya.”

“Aku minta maaf.”

Aku tidak mengatakan tidak apa-apa.

Karena memang tidak.

“Apa kamu tahu Arga mengatakan kepadaku bahwa penerimanya Naya?”

Keira diam lama.

“Aku tahu dia tidak bilang yang sebenarnya.”

Jari-jariku mengencang pada ponsel.

“Jadi kamu tahu.”

“Aku tahu dia bilang kamu bersedia membantu keluarga.”

“Keira.”

Aku menarik napas.

“Jawab pertanyaanku.”

Ia mulai menangis pelan.

“Aku tahu dia akan pakai alasan adiknya.”

Untuk beberapa detik aku tidak berkata apa-apa.

Itu bukan pengakuan sempurna yang langsung menyelesaikan semuanya.

Namun itu cukup menjelaskan satu hal.

Keira bukan penerima pasif yang sepenuhnya tidak tahu tentang kebohongan itu.

“Aku sakit,” katanya. “Aku takut.”

“Aku percaya kamu takut.”

“Aku sudah lama menunggu.”

“Aku juga percaya itu.”

“Aku tidak tahu harus bagaimana.”

“Kamu boleh takut. Kamu boleh berharap mendapat donor. Tapi kamu tidak boleh membiarkan seseorang menipu orang lain agar menyerahkan organ tubuhnya untukmu.”

Ia terisak.

Aku tidak merasa menang.

Aku justru merasa sangat lelah.

“Kenapa kamu meneleponku?”

“Arga bilang kamu mau melapor ke polisi.”

“Pengacaraku sedang menangani langkah yang perlu.”

“Kalau kasus ini besar, rumah sakit bisa mengeluarkanku dari proses.”

“Aku tidak bisa mengatur keputusan rumah sakit.”

“Bu Dinda…”

“Aku tidak akan mencabut apa yang sudah kusampaikan hanya supaya semuanya kembali nyaman untuk kalian.”

Aku mengakhiri panggilan.

Setelahnya aku duduk hampir sepuluh menit tanpa bergerak.

Bima keluar dari dapur membawa dua cangkir teh.

Ia tidak bertanya apa yang dikatakan Keira.

Aku sendiri yang bercerita.

“Kamu masih mau mereka masuk penjara?” tanyanya.

Aku ingat apa yang kupikirkan di rumah sakit.

Saat pertama kali menyadari apa yang hampir terjadi, amarahku begitu besar sampai aku ingin Arga dan Keira membayar seberat-beratnya.

Sekarang jawabanku sedikit berbeda.

“Aku ingin prosesnya berjalan berdasarkan apa yang mereka lakukan.”

Bima mengangguk.

“Itu lebih masuk akal.”

“Aku masih marah.”

“Boleh.”

“Tapi aku tidak mau hidupku berikutnya cuma diisi keinginan melihat mereka hancur.”

Ia menyerahkan teh kepadaku.

“Itu juga boleh.”

Penyelidikan tidak selesai dalam seminggu.

Itulah kenyataannya.

Pihak rumah sakit memeriksa prosedur konseling donor karena ternyata ada beberapa tahapan yang seharusnya dilakukan tanpa kehadiran anggota keluarga, tetapi pada hariku beberapa proses berjalan terlalu terburu-buru.

Seorang petugas mendapat teguran administratif karena tidak memastikan aku membaca identitas penerima secara langsung sebelum dokumen ditandatangani.

Namun rumah sakit tidak serta-merta menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas kebohongan Arga.

Catatan mereka justru menunjukkan bahwa nama Keira tercantum di dokumen sejak awal.

Masalahnya adalah aku diyakinkan oleh suamiku bahwa nama di sana adalah Naya, lalu ia secara aktif menghalangiku ketika aku mencoba memeriksanya.

Pengacaraku juga membantu membuat laporan terkait dugaan penipuan dan tekanan yang membuat persetujuan medis itu diberikan tanpa informasi yang sebenarnya.

Aku memberikan keterangan.

Naya memberikan keterangan.

Bima hanya memberikan informasi mengenai apa yang ia lihat dan lakukan saat prosedur dihentikan.

Tidak ada yang bisa menjanjikan bagaimana proses pidana itu akan berakhir.

Aku belajar menerima itu.

Aku tidak membutuhkan hukuman dramatis dalam satu sore untuk mengetahui bahwa hidupku bersama Arga sudah berubah selamanya.

Sementara proses hukum berjalan, aku mengajukan gugatan cerai.

Begitu menerima dokumennya, Arga datang ke kantorku.

Resepsionis menelepon ke meja kerjaku.

“Ada Pak Arga ingin bertemu.”

Aku menatap layar komputer.

Dulu aku pasti turun.

Dulu aku takut kalau tidak segera menenangkan Arga, ia akan marah atau mengeluh kepada keluarganya.

Hari itu aku berkata:

“Tolong bilang saya sedang bekerja. Kalau soal proses hukum, dia bisa menghubungi pengacara saya.”

“Baik, Bu.”

Lima menit kemudian Arga mengirim pesan.

“Aku cuma mau bicara sebagai suami istri.”

Aku menjawab:

“Kita sudah bicara. Sekarang yang belum selesai adalah konsekuensinya.”

Itu saja.

Tidak ada paragraf panjang.

Tidak ada ancaman.

Aku kembali bekerja.

Beberapa minggu kemudian kami bertemu dalam pertemuan resmi untuk membicarakan keuangan.

Arga tampak jauh lebih kurus.

Aku juga berubah.

Bukan menjadi perempuan baru.

Aku masih sering terbangun malam-malam.

Masih ada hari ketika bau antiseptik membuatku teringat lampu ruang operasi.

Aku masih marah kepada diriku sendiri karena menandatangani sesuatu tanpa membaca seluruhnya.

Bima berkali-kali mengingatkanku bahwa kepercayaan kepada pasangan bukan kejahatan.

Tetapi aku juga tidak ingin menghibur diriku dengan berpura-pura tidak punya pelajaran apa pun dari kejadian itu.

Sekarang aku membaca sebelum menandatangani.

Aku bertanya ketika sesuatu tidak jelas.

Dan kalau seseorang membuatku merasa bersalah hanya karena aku ingin mengetahui informasi yang menyangkut hidupku sendiri, aku tidak lagi menganggap rasa tidak nyaman itu sebagai sesuatu yang harus kutelan.

Dalam pertemuan itu, Arga menyetujui bahwa transfer kepada Keira dari rekening rumah tangga harus diperhitungkan dalam penyelesaian keuangan kami.

Ia tidak mampu mengembalikan semuanya sekaligus.

Kami menyepakati mekanisme yang kemudian dituangkan melalui proses hukum.

Rumah yang kami tempati masih berstatus sewa, sehingga tidak ada perebutan sertifikat atau drama tentang siapa pemiliknya.

Perabot rumah dibagi berdasarkan kebutuhan dan bukti pembelian.

Aku mengambil meja kerja, beberapa barang dapur, buku-bukuku, dan lemari kecil peninggalan ayah.

Arga mengambil sebagian besar furnitur ruang tamu.

Saat aku datang mengambil barang terakhir, rumah itu terasa aneh.

Enam tahun hidup kami muat dalam beberapa kardus.

Di meja makan masih ada bekas goresan kecil yang kubuat saat memindahkan panci panas tiga tahun lalu.

Aku menyentuhnya sebentar.

Arga berdiri di dekat dapur.

“Din.”

Aku menoleh.

“Boleh aku tanya satu hal?”

“Apa?”

“Kalau waktu itu aku jujur dari awal, apakah kamu mungkin mau membantu Keira?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

“Mungkin aku akan mau membantu mencarikan informasi atau donor yang legal. Mungkin aku akan menyumbang biaya. Mungkin aku juga akan menolak terlibat sama sekali setelah tahu kalian berselingkuh.”

Aku mengangkat kardus.

“Tapi keputusan tentang tubuhku seharusnya tetap milikku.”

Arga menunduk.

“Aku menyesal.”

“Aku percaya sekarang kamu menyesal.”

Ia mengangkat wajah, seperti berharap ada kalimat setelahnya.

Tidak ada.

Menyesal bukan berarti semuanya harus kembali seperti semula.

Beberapa bulan kemudian, perceraian kami diputus.

Proses terkait laporan medis dan dugaan penipuan masih berjalan lebih lama.

Aku tidak mengikuti setiap perkembangannya dengan obsesi.

Ratih memberitahuku ketika kehadiranku dibutuhkan.

Selain itu, aku kembali menjalani hidup.

Naya beberapa kali menghubungiku.

Hubungan kami aneh pada awalnya.

Ia tetap adik mantan suamiku.

Namun ia juga salah satu orang pertama dari keluarga itu yang tidak memintaku berdamai demi menjaga nama baik.

Suatu hari ia datang membawa wadah makanan.

“Aku belajar bikin sendiri,” katanya.

Aku membuka tutupnya.

Bentuk makanannya tidak terlalu meyakinkan.

Aku tertawa untuk pertama kalinya bersamanya tanpa beban.

“Kalau rasanya buruk, aku boleh jujur?”

“Harus.”

Kami tidak tiba-tiba menjadi sahabat.

Tapi kami akhirnya bisa berbicara tanpa Arga berada di antara kami.

Ibu mertuaku tidak pernah benar-benar meminta maaf.

Ia pernah mengirim pesan panjang yang sebagian besar menjelaskan bahwa seorang ibu selalu ingin melindungi anaknya.

Aku membalas dengan singkat.

“Aku paham Ibu ingin melindungi Arga. Aku juga berhak melindungi diriku.”

Setelah itu kami hampir tidak berhubungan.

Bima tetap menjadi orang yang paling cerewet mengenai kesehatanku, padahal organ tubuhku tidak pernah jadi diambil.

Suatu sore ia menelepon hanya untuk bertanya apakah aku sudah makan.

“Kamu dokter bedah atau ibu-ibu kompleks?” tanyaku.

“Dua-duanya kalau perlu.”

Aku tertawa.

Ada hari-hari ketika aku masih memikirkan Keira.

Aku tahu transplantasinya tidak jadi dilakukan dengan ginjalku.

Aku tidak tahu semua detail perjalanan pengobatannya, dan akhirnya aku memahami bahwa aku memang tidak perlu tahu.

Penyakitnya nyata.

Rasa takutnya juga nyata.

Namun rasa takut seseorang tidak menghapus hak orang lain untuk mengetahui kebenaran sebelum membuat keputusan sebesar itu.

Hampir delapan bulan setelah hari di ruang operasi, aku pindah ke apartemen kecil yang kusewa sendiri.

Tidak mewah.

Hanya dua kamar, dapur sempit, dan balkon yang menghadap deretan rumah.

Untuk pertama kalinya, semua tagihan di sana atas namaku sendiri.

Semua kunci hanya kupegang sendiri.

Pada malam pertama, aku membuka sebuah map biru di meja kerja.

Di dalamnya ada salinan dokumen rumah sakit, dokumen perceraian, dan beberapa surat yang masih berkaitan dengan proses hukum.

Aku tidak membacanya.

Aku hanya memastikan semuanya tersimpan baik, lalu menutup map.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Arga.

Sudah hampir dua bulan ia tidak menghubungiku secara pribadi.

“Aku baru selesai memberikan keterangan lagi hari ini. Aku tidak tahu akhirnya akan bagaimana. Aku cuma ingin bilang aku tidak akan meminta kamu mencabut apa pun lagi.”

Aku membaca sekali.

Lalu untuk kedua kalinya.

Tidak ada permintaan untuk kembali.

Tidak ada kalimat menyalahkan Keira.

Tidak ada “demi keluarga”.

Aku tidak membalas.

Bukan karena ingin menghukumnya.

Aku hanya tidak memiliki sesuatu yang perlu dikatakan.

Aku meletakkan ponsel di meja dan berjalan ke pintu apartemen.

Sebelum tidur, aku memeriksa kuncinya sekali.

Dulu, di rumah bersama Arga, aku selalu meninggalkan satu kunci cadangan di tempat yang kami sepakati supaya anggota keluarganya bisa masuk kalau perlu.

Di apartemen ini tidak ada kunci cadangan di luar.

Tidak ada orang lain yang bisa datang lalu memutuskan sesuatu atas namaku.

Aku mematikan lampu ruang tamu.

Kemudian aku mengunci pintu dari dalam.

Menurutmu, apakah Dinda masih perlu mempertimbangkan kesempatan kedua setelah Arga sengaja menipunya tentang identitas penerima donor?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.