BAGIAN 2 — PRIA DI DEPAN RUMAH MEMBAWA PESAN TERAKHIR AYAH SARI, SEMENTARA API DI GUDANG NOMOR 7 MEMBUKA RAHASIA LAMA
Sari menatap foto di layar ponselnya sampai jemarinya gemetar.
Putrinya berdiri di balik pintu kaca, sementara seorang pria asing berada tepat di luar rumah.
—Kita harus pergi sekarang!
Sari menarik lengan kakek berkemeja batik itu.
Namun sang kakek justru menahan bahunya.
—Jangan pulang sendirian.
—Anak saya ada di sana!
—Justru karena itu.
Ia memberi isyarat kepada salah satu pria yang datang bersamanya.
—Hubungi orang kita yang paling dekat dengan rumah Sari. Minta dia melihat keadaan dari luar. Jangan masuk sebelum kita tahu siapa pria itu.
Sari menatapnya tajam.
—Siapa sebenarnya Bapak?
Kakek itu menarik napas.
—Namaku Harun. Dulu aku bekerja bersama ayahmu.
Itulah pertama kalinya Sari mendengar nama itu.
Harun menunjuk mobil.
—Masuk. Aku akan menceritakan semuanya dalam perjalanan.
Mereka meninggalkan pasar ketika asap dari Gudang Nomor 7 semakin tebal. Beberapa pedagang berlarian menjauh, sementara suara sirene mulai terdengar dari kejauhan.
Di dalam mobil, Harun akhirnya membuka rahasia yang telah terkubur lebih dari dua puluh tahun.
Dahulu, pasar itu hanyalah deretan kios sederhana yang dikelola oleh koperasi pedagang.
Ayah Sari termasuk salah satu pengurusnya.
Ia bukan orang kaya.
Ia hanya seorang tukang kayu yang dipercaya banyak pedagang karena tidak pernah mengambil uang yang bukan miliknya.
Masalah bermula ketika sekelompok orang berusaha mengambil alih tanah pasar melalui transaksi yang mencurigakan.
—Ayahmu menemukan bukti bahwa sejumlah tanda tangan pedagang dipalsukan —kata Harun.
Sari terdiam.
—Lalu?
—Dia mengumpulkan salinan catatan pembayaran, daftar pemilik lapak, dan bukti transaksi. Gudang Nomor 7 digunakan sebagai tempat menyimpan arsip koperasi.
Harun menatap keluar jendela.
—Beberapa hari sebelum dia dijadwalkan menyerahkan bukti, dia menghilang.
Sari merasakan dadanya sesak.
—Tapi keluarga saya diberi tahu bahwa dia mengalami kecelakaan.
—Ada kendaraan yang ditemukan rusak. Ada barang-barang miliknya di dalamnya. Tapi jasadnya tidak pernah benar-benar dikenali keluargamu.
Sari memejamkan mata.
Selama bertahun-tahun ia menerima cerita itu sebagai kebenaran.
—Jadi ayah saya masih hidup?
Harun tidak langsung menjawab.
—Aku tidak tahu.
Jawaban itu justru lebih menyakitkan daripada kepastian.
Mobil mereka tinggal beberapa jalan dari rumah ketika telepon Harun berdering.
Pria di sebelahnya mengangkat telepon, mendengarkan sebentar, lalu menoleh kepada Sari.
—Pria di depan rumah masih ada. Dia tidak mencoba mendobrak pintu. Dia hanya menunggu.
—Siapa dia?
—Belum tahu.
Ketika mobil tiba di ujung jalan, Sari langsung melihat kendaraan hitam yang disebut putrinya.
Seorang pria sekitar lima puluh tahun berdiri di depan pagar.
Sari hendak turun, tetapi Harun menghentikannya.
—Tunggu.
Pria itu menoleh ke arah mobil mereka.
Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak diduga siapa pun.
Ia mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa ia tidak membawa apa-apa.
Harun turun lebih dahulu.
—Siapa kamu?
Pria itu menatap Harun lama.
—Saya mencari Sari.
—Untuk apa?
Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya.
Sari menegang.
Namun benda itu hanyalah potongan kayu berbentuk burung.
Sari membuka pintu mobil.
Begitu melihat ukiran tersebut, wajahnya berubah.
—Dari mana Anda mendapatkannya?
Ayah Sari dahulu sering membuat burung kayu kecil untuknya.
Di bagian bawah selalu ada satu guratan miring yang menjadi tanda khasnya.
Pria asing itu menyerahkan ukiran tersebut.
—Seorang lelaki tua memberikannya kepada saya enam bulan lalu.
Jantung Sari serasa berhenti.
—Siapa?
—Dia tidak menyebut nama lengkapnya. Dia hanya berkata, kalau suatu hari warung seorang perempuan bernama Sari dipaksa tutup, saya harus datang ke alamat ini.
Harun mendekat.
—Di mana lelaki tua itu sekarang?
Pria tersebut menggeleng.
—Saya tidak tahu.
Lalu ia menyerahkan sebuah kunci kecil.
—Dia juga mengatakan, meja kayu itu punya dua dasar.
Sari langsung teringat ucapan Harun.
Mereka membawa meja tua dari mobil bak yang sebelumnya digunakan memindahkan barang Sari.
Di bagian bawah meja terdapat lubang kecil yang selama ini tertutup lapisan kayu.
Kunci itu pas.
Klik.
Sebuah panel tipis terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah kotak logam kecil.
Bukan uang.
Bukan perhiasan.
Isinya sebuah buku catatan tua, beberapa negatif foto, dan sebuah kaset suara kecil.
Harun langsung mengenali tulisan tangan pada buku tersebut.
—Ini tulisan ayahmu.
Sari membuka halaman pertama.
Di sana tertulis tanggal lebih dari dua puluh tahun lalu.
Halaman-halaman berikutnya berisi nama, jumlah pembayaran, nomor lapak, dan catatan mengenai perubahan kepemilikan.
Namun halaman terakhir membuat Sari tercekat.
“Jika Sari membaca ini, berarti mereka kembali mencari apa yang gagal mereka temukan dahulu.”
Air mata Sari jatuh.
Di bawahnya terdapat satu kalimat lagi.
“Jangan percaya bahwa semua bukti ada di Gudang Nomor 7. Gudang itu hanya umpan.”
Harun menatapnya.
Mereka memahami hal yang sama pada saat bersamaan.
Api di Gudang Nomor 7 bukan sekadar upaya menghancurkan bukti.
Seseorang sedang berusaha memastikan semua orang percaya bahwa bukti telah musnah.
Sari membalik halaman.
Terdapat sebuah alamat penyimpanan lama dan serangkaian angka.
Pria asing tadi tiba-tiba berkata,
—Saya tahu tempat itu.
Semua mata beralih kepadanya.
—Dulu bangunan itu milik sebuah koperasi simpan pinjam. Sekarang sudah menjadi gudang dokumen swasta.
Harun segera menghubungi seseorang.
Kali ini Sari menghentikannya.
—Tidak.
Harun mengernyit.
—Apa?
—Kita tidak pergi mengambilnya sendiri.
Sari menatap buku di tangannya.
Ia teringat telepon ancaman, mobil di depan rumah, dan bagaimana orang-orang itu berani membakar gudang di tengah kawasan padat.
—Kalau bukti itu benar-benar ada, kita serahkan lokasinya kepada polisi. Kita jangan memberi mereka kesempatan mengatakan bahwa kita mengubah atau menyembunyikan apa pun.
Harun tersenyum tipis.
—Kamu benar-benar anak ayahmu.
Kurang dari satu jam kemudian, Sari berada di kantor polisi bersama Harun.
Ia menyerahkan ponsel lama, kartu memori, buku catatan, foto, dan informasi mengenai tempat penyimpanan tersebut.
Polisi meminta mereka menunggu.
Malam sudah turun ketika seorang petugas kembali membawa kabar.
Lokasi yang disebutkan dalam buku ayah Sari memang ada.
Dan sebuah kotak arsip dengan kode yang sama masih tercatat dalam penyimpanan.
Tetapi sebelum polisi sempat mengambilnya, kamera keamanan menunjukkan sesuatu yang mengejutkan.
Seseorang telah datang dua jam sebelumnya dan mencoba mengambil kotak itu.
Orang tersebut gagal karena tidak memiliki dokumen otorisasi yang sesuai.
Petugas meletakkan hasil cetak kamera di depan Sari.
Sari langsung mengenali wajahnya.
Pria berkemeja putih dari video.
Orang yang menerima dan mengatur pemindahan peti-peti ke Gudang Nomor 7.
Harun menunjuk foto itu.
—Dia salah satu orang yang bekerja untuk kelompok lama.
Namun petugas menggeleng.
—Ada hal lain.
Ia meletakkan foto kedua.
Foto itu memperlihatkan seorang pria tua berdiri di dekat pintu penyimpanan beberapa minggu sebelumnya.
Rambutnya putih.
Tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan foto dua puluh tahun lalu.
Tetapi Sari mengenali matanya.
Ia menutup mulut dengan kedua tangan.
—Tidak mungkin…
Petugas bertanya pelan,
—Anda mengenalnya?
Sari tidak mampu menjawab.
Harun menatap foto itu dengan wajah pucat.
Lalu ia berbisik,
—Itu ayahmu.
Dan menurut catatan pengunjung, pria tersebut tidak hanya datang ke sana.
Ia meninggalkan sebuah amplop khusus.
Di bagian depan amplop tertulis dua kata:
“Untuk Sari.”
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
