BAGIAN 2 — RAHASIA DI BALIK FOTO LAMA MEMBUKA MASA LALU NENEK NARA DAN ALASAN SEBENARNYA RUMAH ITU TAK BOLEH DIJUAL
—Rumah ini sejak awal tidak pernah boleh dijual.
Kalimat itu membuat suasana di dalam bengkel mendadak sunyi.
Aku menatap agen properti yang masih berdiri di ambang pintu dengan napas tersengal. Di belakangnya, tiga mobil berhenti di sepanjang gang. Beberapa orang turun, termasuk pria paruh baya yang kukenal sebagai pemilik sebelumnya.
Wajahnya jauh berbeda dibandingkan saat kami menandatangani transaksi.
Saat itu dia tampak lega bisa melepaskan rumah ini.
Sekarang wajahnya pucat.
Begitu melihat pria berkemeja batik di sampingku, langkahnya langsung terhenti.
—Pak…
Pria berkemeja batik mengangkat tangan.
—Jangan bicara dulu.
Dia kemudian menatapku.
—Nama saya tidak penting untuk saat ini. Yang penting, Nara berhak mengetahui semuanya.
Pemilik sebelumnya menunduk.
Aku semakin bingung.
—Mengetahui apa?
Pria itu menunjuk foto lama di tanganku.
—Perempuan dalam foto itu memang nenekmu.
Aku menggenggam foto tersebut lebih erat.
—Anda mengenalnya?
—Bukan hanya mengenalnya. Kami pernah bekerja bersama.
Dia menunjuk pria tua yang berdiri di tengah foto.
—Beliau adalah seorang maestro ukir. Tetapi karya-karya yang membuat bengkelnya terkenal bukan hasil kerja satu orang. Nenekmu adalah salah satu orang yang merancang pola, memilih kayu, dan mengembangkan desain bersama beliau.
Aku merasa tenggorokanku tercekat.
Sepanjang hidup, aku hanya mengenal nenek sebagai perempuan sederhana yang tinggal di rumah kecil dan gemar membuat mainan kayu untuk cucu-cucunya.
Nenek meninggal ketika aku masih remaja.
Tak pernah sekalipun dia bercerita tentang tempat ini.
—Kenapa Nenek meninggalkannya?
Pria itu menghela napas.
—Karena bengkel ini pecah akibat perselisihan keluarga.
Menurut ceritanya, puluhan tahun lalu karya-karya mereka mulai diminati kolektor. Uang datang. Pesanan bertambah.
Kemudian masalah muncul.
Beberapa kerabat ingin memproduksi desain mereka secara massal.
Sang maestro menolak.
Nenekku juga menolak.
Mereka percaya setiap karya harus dibuat dengan tangan dan para perajin muda harus diajari tekniknya, bukan sekadar dijadikan pekerja murah.
Pertengkaran membesar.
Akhirnya bengkel ditutup.
Namun sebelum berpisah, empat orang dalam foto membuat kesepakatan.
Rumah dan bengkel tidak boleh dijual kepada pihak luar sebelum hak atas karya-karya di dalamnya diselesaikan.
—Lalu bagaimana rumah ini bisa dijual kepada saya?
Aku menatap pemilik sebelumnya.
Dia terlihat semakin tidak nyaman.
—Saya mewarisinya dari paman saya. Saya tidak tahu kesepakatan lama itu masih dianggap berlaku.
—Tapi Anda tahu ada sesuatu di gudang.
Dia terdiam.
Aku teringat betapa cepat dia menerima tawaranku.
Wajah lega setelah uang masuk.
Peringatannya tentang rumah yang “tidak bersih”.
Tiba-tiba semuanya masuk akal.
—Cerita tentang rumah berhantu itu sengaja dibiarkan menyebar, bukan?
Dia tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Pria berkemeja batik berkata tenang,
—Sebagian orang memang menggunakan rumor untuk menjauhkan calon pembeli. Tapi setelah bertahun-tahun, keluarga yang memegang rumah mengalami masalah keuangan. Rumah akhirnya dimasukkan ke pasar.
Aku memandang sekeliling bengkel.
—Jadi sekarang kalian ingin mengambilnya kembali?
—Tidak.
Jawaban pria itu membuatku terkejut.
—Saya datang untuk memastikan siapa yang menemukannya.
Dia menunjuk kotak kecil di tanganku.
—Dan sekarang saya tahu.
Aku menunduk melihat kepingan kayu bergambar burung.
—Apa maksudnya?
—Lihat bagian belakangnya.
Aku membalik kepingan itu.
Ada sebuah celah tipis.
Setelah ditekan perlahan, kayu tersebut terbuka menjadi dua lapisan.
Di dalamnya terselip secarik kertas kecil.
Tulisan tangan di atasnya sudah memudar.
Namun aku langsung mengenalinya.
Tulisan nenek.
Tanganku mulai gemetar.
Aku membacanya perlahan.
“Jika suatu hari seseorang dari keluarga kita kembali ke tempat ini bukan karena keserakahan, melainkan karena mencintai pekerjaan tangan, biarkan dia melanjutkan apa yang belum sempat kami selesaikan.”
Aku tak mampu berkata-kata.
Di bawah kalimat itu terdapat simbol burung dan empat tanda tangan.
Pria berkemeja batik tersenyum tipis.
—Itulah alasan saya bertanya berapa halaman buku yang kamu temukan. Buku itu sebenarnya belum lengkap.
Dia mendekati rak paling belakang.
Kami mengikutinya.
Dia mengangkat sebuah papan kayu kecil.
Di belakangnya terdapat ruang sempit.
Dari sana, dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain.
Aku membukanya.
Isinya bukan uang.
Bukan emas.
Melainkan lembaran-lembaran desain yang belum pernah kulihat.
Puluhan pola furnitur, ukiran, teknik sambungan kayu, dan catatan tangan.
Pada beberapa halaman terdapat tulisan nenekku.
Aku hampir menangis.
Inilah bagian hidup nenek yang tidak pernah kukenal.
Guruku yang sejak tadi berdiri di belakang mendekat dan memeriksa beberapa lembar.
Wajahnya berubah serius.
—Nara, ini luar biasa.
—Berharga?
Dia menggeleng.
—Jangan mulai dengan harga. Nilai sebenarnya adalah pengetahuan di dalamnya.
Kalimat itu membuatku sadar.
Selama beberapa minggu terakhir, semua orang berbicara tentang uang.
Harga rumah.
Harga furnitur.
Harga koleksi.
Tawaran sepuluh kali lipat.
Tetapi nenek justru meninggalkan pesan tentang meneruskan pekerjaan.
Aku menatap pria berkemeja batik.
—Kalau begitu apa yang harus saya lakukan?
—Itu keputusanmu.
—Tapi katanya rumah ini tidak boleh dijual.
Dia tersenyum.
—Tidak boleh dijual sembarangan. Bukan berarti kamu harus menyerahkannya.
Pemilik sebelumnya segera mengeluarkan suara lega.
Namun sebelum siapa pun melanjutkan, seorang lelaki yang baru turun dari mobil ketiga masuk ke bengkel.
Dia membawa tas kerja.
—Maaf terlambat.
Pria berkemeja batik memperkenalkannya sebagai orang yang selama bertahun-tahun menyimpan salinan dokumen kesepakatan keluarga.
Kami memeriksa semuanya.
Ternyata transaksi rumahku sah.
Kesepakatan lama tidak membatalkan kepemilikan rumah.
Yang dilindungi adalah koleksi, rancangan, dan identitas bengkel.
Artinya rumah tetap milikku.
Tetapi karya-karya di dalamnya memiliki sejarah yang harus dihormati.
Aku mengembuskan napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak orang-orang itu datang, aku merasa bisa bernapas.
Pemilik sebelumnya mendekat.
—Nara, saya minta maaf. Saya seharusnya menceritakan apa yang saya tahu.
Aku menatapnya.
Aku marah.
Namun aku juga tahu satu hal.
Kalau dia tidak menjual rumah ini, mungkin aku tidak akan pernah menemukan bagian hidup nenek.
—Saya tidak akan membatalkan transaksi.
Wajahnya berubah.
—Tapi mulai hari ini, jangan lagi menyebarkan cerita bahwa tempat ini berhantu.
Dia mengangguk cepat.
Aku lalu berbalik kepada pria berkemeja batik.
—Dan saya juga tidak akan menjual rumah ini kepada Anda.
Dia justru tersenyum.
—Bagus.
—Anda tidak kecewa?
—Kalau kamu langsung menerima tawaran saya, justru saya yang akan kecewa.
Aku terdiam.
Ternyata tawaran sepuluh kali lipat itu adalah ujian terakhir.
Dia ingin mengetahui apakah aku melihat bengkel ini sebagai warisan atau sekadar kesempatan mendapat uang.
Aku memandang meja tua, rak-rak kayu, peralatan yang tertutup debu, lalu foto nenek di tanganku.
Untuk pertama kalinya sejak kehilangan pekerjaan dan hubungan, aku tidak lagi merasa hidupku sedang runtuh.
Mungkin semuanya justru sedang membawaku pulang.
Namun saat kami hampir meninggalkan bengkel, guruku tiba-tiba memanggil.
—Nara.
Dia berdiri di depan rancangan kursi yang sebelumnya kuselesaikan.
Ekspresinya aneh.
—Ada apa?
Dia menunjuk simbol kecil di sudut rancangan asli.
—Kamu salah memahami simbol ini.
Aku mendekat.
—Bukankah ini tanda bengkel?
—Bukan.
Dia mengambil salah satu lembar tersembunyi dan menaruhnya berdampingan.
Dua simbol itu membentuk sebuah pola.
Sebuah denah.
Dan titik terakhir pada denah tersebut berada tepat…
di bawah lantai tempat aku berdiri.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
