NAMA AYAH YANG SEHARUSNYA SUDAH MENINGGAL MEMBUKA RAHASIA LAMA, SEMENTARA ARMAN BERUSAHA MENGHAPUS BUKTI SEBELUM FAJAR TIBA

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 8 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — NAMA AYAH YANG SEHARUSNYA SUDAH MENINGGAL MEMBUKA RAHASIA LAMA, SEMENTARA ARMAN BERUSAHA MENGHAPUS BUKTI SEBELUM FAJAR TIBA

Nama yang tertera pada baris terakhir kontrak itu adalah nama ayahku.

Aku membacanya sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tetap sama.

Penerima hak kepemilikan setelah pencairan dana: Surya Pratama.

Ayahku.

Pria yang menurut keluargaku telah meninggal delapan tahun lalu.

Tanganku mulai gemetar.

—Ini tidak mungkin.

Ibu masih terduduk di tanah. Wajahnya kehilangan warna.

Arman justru mundur perlahan.

Aku menatap mereka bergantian.

—Kenapa nama Ayah ada di sini?

Tidak ada jawaban.

Aku berjongkok di depan Ibu.

—Ibu, lihat aku.

Dia menggeleng sambil menangis.

—Sudah terlambat, Nara.

—Terlambat untuk apa?

—Untuk memperbaiki semuanya.

Aku mencengkeram laptop.

—Ayah sudah meninggal delapan tahun lalu. Aku melihat peti matinya. Aku ikut pemakamannya. Jadi jelaskan kenapa namanya ada dalam kontrak ini!

Pemilik bangunan berdiri di sampingku dan berkata pelan:

—Mungkin karena ayahmu tidak pernah menjadi orang yang dimakamkan waktu itu.

Aku menoleh cepat.

—Apa maksud Ibu?

Dia mengeluarkan ponselnya.

—Tiga minggu lalu seorang pria datang ke toko saya. Dia tidak masuk. Hanya berdiri di seberang jalan hampir satu jam.

Dia menunjukkan sebuah foto.

Gambar itu diambil dari kejauhan.

Seorang lelaki berambut putih berdiri di dekat warung kecil sambil memandang ke arah tokoku.

Wajahnya hanya terlihat dari samping.

Namun aku mengenali bahunya.

Cara berdirinya.

Bekas luka kecil dekat telinga.

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

—Ayah…

Ibu menangis semakin keras.

Aku menoleh kepadanya.

—Ayah masih hidup?

Akhirnya dia mengangguk.

Dunia di sekelilingku seperti berhenti.

Delapan tahun.

Selama delapan tahun aku percaya ayahku meninggal dalam kecelakaan saat bekerja di luar kota.

Jenazahnya disebut rusak parah. Peti tidak boleh dibuka.

Aku bahkan masih ingat Ibu memelukku di pemakaman dan berkata bahwa aku harus kuat.

Ternyata semua itu bohong.

—Kenapa?

Suaraku nyaris tak terdengar.

Ibu menutup wajah.

—Ayahmu terlibat utang besar.

Arman memotong.

—Jangan ceritakan semuanya!

Aku berdiri.

—Diam!

Untuk pertama kalinya, Arman benar-benar terdiam ketika aku membentaknya.

Ibu mulai bercerita.

Delapan tahun lalu, bengkel kecil milik Ayah hampir bangkrut. Dia meminjam uang dari orang-orang yang salah. Ketika tidak mampu membayar, dia membuat kesepakatan untuk menghilang.

Kecelakaan itu memang benar terjadi.

Tetapi korban yang meninggal bukan Ayah.

Identifikasi jenazah dilakukan berdasarkan barang-barang pribadi yang sengaja ditinggalkannya.

—Lalu jenazah siapa yang kami makamkan?

Ibu menangis.

—Seorang pekerja yang tidak membawa identitas.

Aku merasa mual.

—Dan Ibu tahu?

Dia mengangguk.

Aku mundur beberapa langkah.

Selama bertahun-tahun aku bekerja keras karena percaya setelah Ayah meninggal, keluarga kami kehilangan tulang punggung.

Aku membayar utang.

Aku membantu Arman.

Aku memperbaiki rumah Ibu.

Sementara pria yang kukira telah meninggal ternyata hidup entah di mana.

—Lalu apa hubungannya dengan tokoku?

Ibu belum sempat menjawab.

Arman tiba-tiba menerjang.

Dia meraih laptop.

Aku berusaha mempertahankannya.

Pemilik bangunan berteriak.

Laptop terlepas dari tanganku dan jatuh ke tanah.

Arman menginjaknya.

Sekali.

Dua kali.

Layar pecah.

—Sekarang tidak ada bukti!

Dia terengah-engah.

Aku hanya memandangnya.

Lalu mengeluarkan ponsel.

—Aku sudah mengirim rekamannya ke penyimpanan daring sejak tadi.

Wajah Arman berubah.

Aku menambahkan:

—Dan salinannya sudah terkirim kepada pengacaraku.

Itu sebenarnya setengah gertakan. Aku memang telah mengunggah videonya, tetapi belum mengirimkannya kepada siapa pun.

Namun Arman mempercayainya.

Dia langsung berbalik hendak lari.

Cahaya lampu kendaraan muncul dari ujung jalan.

Bukan satu mobil.

Tiga.

Dua kendaraan polisi berhenti di dekat gerbang, disusul sebuah mobil tua berwarna abu-abu.

Beberapa petugas turun.

Arman membeku.

Aku juga.

—Siapa yang menelepon polisi? —tanya Ibu.

Pintu mobil abu-abu terbuka.

Seorang lelaki tua turun perlahan.

Rambutnya hampir seluruhnya putih. Tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan yang kuingat.

Tetapi aku mengenal wajah itu.

Wajah yang selama delapan tahun hanya bisa kulihat melalui foto lama.

Ayah.

Dia berdiri beberapa meter dariku.

Matanya memerah.

—Nara.

Hanya satu kata.

Aku tidak bergerak.

Dia mencoba mendekat.

Aku mundur.

—Jangan.

Langkahnya berhenti.

—Ayah tahu kamu membenci Ayah.

—Aku bahkan belum memutuskan apa yang kurasakan.

Dia menunduk.

Polisi mendekati Arman.

Salah satu petugas meminta ponselnya.

Arman menolak.

Namun Ayah mengeluarkan sebuah map dari mobil.

—Semua yang kalian butuhkan ada di sini.

Arman berteriak:

—Bapak yang melakukan semua ini!

Ayah menatapnya.

—Tidak. Bapak kembali karena kamu mulai menggunakan nama Nara.

Aku menoleh.

—Apa maksudnya?

Ayah menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun dia hidup menggunakan identitas berbeda dan bekerja serabutan jauh dari keluarga.

Beberapa bulan lalu, Arman menemukannya.

Bukannya membawa Ayah pulang, Arman melihat kesempatan.

Status kematian Ayah belum sepenuhnya tercatat di beberapa dokumen lama perusahaan keluarga.

Arman kemudian menggunakan nama Ayah untuk membangun skema kepemilikan palsu.

Dengan tanda tanganku sebagai penjamin, dia berencana mengambil pinjaman 2,8 miliar rupiah.

Sebagian digunakan menutup utangnya.

Sisanya akan dipindahkan melalui perusahaan atas nama Ayah.

Jika semuanya terbongkar, secara administratif orang yang terlihat sebagai penerima manfaat adalah pria yang telah dinyatakan meninggal.

—Jadi aku yang menanggung pinjaman, sedangkan orang mati yang menerima uang?

Ayah mengangguk.

—Itulah rencananya.

Aku memandang Arman.

—Dan Ibu?

Keheningan jatuh.

Ibu menangis.

—Awalnya Ibu cuma diminta membuatmu menandatangani satu dokumen. Arman bilang itu untuk menyelamatkan rumah.

—Lalu penculikan palsu?

Ibu tidak bisa menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya.

Dia ikut.

Mungkin karena takut kehilangan Arman.

Mungkin karena selalu menganggap anak laki-lakinya harus diselamatkan.

Tetapi apa pun alasannya, dia memilih mengorbankanku.

Seorang petugas kemudian menunjukkan surat kepada Arman.

Dia akan dibawa untuk diperiksa terkait dugaan pemalsuan dokumen, penipuan, dan penggunaan identitas secara tidak sah.

Arman panik.

Dia menunjuk Ayah.

—Tangkap dia juga! Dia memalsukan kematiannya!

Ayah mengangguk tenang.

—Saya akan ikut.

Aku menatapnya.

Dia tidak mencoba melarikan diri.

Sebelum masuk ke kendaraan polisi, Ayah berhenti di depanku.

—Ada satu hal yang harus kamu ketahui.

Aku diam.

—Bapak tidak kembali untuk meminta maaf saja.

Dia mengeluarkan sebuah kunci kecil dari saku dan meletakkannya di telapak tanganku.

—Besok pagi, pergilah ke bank. Nomor kotaknya tertulis di belakang.

Aku tidak mengambilnya.

—Apa isinya?

Ayah menatapku lama.

—Sesuatu yang seharusnya menjadi milikmu sejak delapan tahun lalu.

Kemudian dia meletakkan kunci itu di atas kap mobil dan pergi bersama polisi.

Aku berdiri sampai kendaraan mereka menghilang.

Aku mengira malam itu telah membuka semua rahasia keluargaku.

Ternyata aku salah.

Keesokan paginya, ketika petugas bank membuka kotak penyimpanan itu, aku menemukan sebuah buku rekening lama, beberapa foto, dan satu surat tulisan tangan.

Di bawah semuanya terdapat dokumen kepemilikan sebuah bidang tanah yang sangat luas.

Nama pemiliknya membuatku terdiam.

Namaku.

Dan tanggal pengalihannya tercatat tepat dua minggu sebelum “kematian” Ayah.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)