Saat Rumah Sakit Menelepon dan Mengatakan Vonis Kanker Suamiku Keliru, Aku Pulang Membawa Kabar Baik, Tapi Bima Justru Memintaku Bercerai Agar “Harta Keluarganya” Tidak Jatuh ke Tanganku

Avatar penulis
Cerita 01
26 menit baca 192 tayangan
Saat Rumah Sakit Menelepon dan Mengatakan Vonis Kanker Suamiku Keliru, Aku Pulang Membawa Kabar Baik, Tapi Bima Justru Memintaku Bercerai Agar “Harta Keluarganya” Tidak Jatuh ke Tanganku
Indeks

BAGIAN 2

Aku tidak menelepon Bima malam itu.

Besok paginya, sebelum ia sempat datang mengambil dokumen apa pun, aku sudah duduk di ruang rapat kecil sebuah bank di Surabaya.

Aku membawa KTP, SHM rumah, dan PDF yang dikirim Pak Arief.

Petugas yang biasa menangani Satria Kemas, Bu Niken, mengenal namaku karena beberapa tahun sebelumnya aku pernah menandatangani persetujuan fasilitas kredit perusahaan.

Ia membaca proposal di layar.

“Belum ada pencairan, Bu.”

“Sudah sampai mana?”

“Masih pengajuan awal. Untuk tambahan agunan rumah ini, kami tetap perlu dokumen asli dan persetujuan Ibu secara langsung.”

Aku menghembuskan napas.

Jadi belum ada tanda tanganku yang dipalsukan.

Belum.

Saat Rumah Sakit Menelepon dan Mengatakan Vonis Kanker Suamiku Keliru, Aku Pulang Membawa Kabar Baik, Tapi Bima Justru Memintaku Bercerai Agar “Harta Keluarganya” Tidak Jatuh ke Tanganku

“Tapi suami saya bilang saya sudah setuju?”

Bu Niken berhati-hati.

“Yang disampaikan kepada kami, persoalan keluarga sudah dibicarakan.”

Tentu saja.

Semakin lama aku menikah dengan Bima, semakin sering aku mendengar kalimat semacam itu.

Sudah dibicarakan.

Nanti Mira mengerti.

Mira tidak keberatan.

Mira kan keluarga.

Padahal sering kali Mira bahkan belum tahu.

Dari bank aku langsung menuju gudang Satria Kemas di Waru.

Danu sedang berdiri di dekat mesin laminasi ketika melihatku.

Wajahnya berubah.

“Mbak?”

“Kita bicara.”

Ia mengajak aku ke ruangan Bima.

Aku meletakkan proposal kredit di meja.

“Kamu tahu rumahku mau dijadikan jaminan?”

Danu tidak menjawab.

“Itu sudah cukup menjawab.”

“Mbak, dengar dulu.”

“Berapa utang perusahaan?”

Ia mengusap wajah.

“Tidak sesederhana itu.”

“Angkanya.”

“Sekitar Rp980 juta kewajiban jatuh tempo dalam empat bulan.”

Aku menatapnya.

Terakhir kali Bima bicara soal perusahaan, ia mengatakan tahun itu memang berat tetapi masih aman.

“Kenapa?”

“Kita kehilangan dua klien besar. Mesin baru belum balik modal. Harga bahan naik.”

“Dan solusi kalian rumahku?”

“Bukan idemu.”

“Bukan.”

Danu menjawab terlalu cepat.

Aku berhenti.

“Bukan?”

Ia berjalan ke pintu dan menutupnya.

“Mas Bima yang mengajukan.”

Untuk beberapa detik aku hanya mendengar suara mesin dari lantai produksi.

“Aku kira kamu yang menekan dia.”

“Mbak, aku bahkan bilang jangan pakai rumah.”

Aku tertawa tanpa humor.

“Sekarang aku harus percaya kamu?”

Danu membuka laci.

Ia mengambil map biru lusuh.

“Kalau aku mau mengambil semuanya, aku tidak akan menunjukkan ini.”

Di dalamnya ada salinan laporan modal awal Satria Kemas.

Aku mengenali transfer Rp420 juta milikku.

Tapi pada kolom keterangan tertulis:

Pinjaman sementara dari Mira.

Di halaman berikutnya, dua tahun kemudian, ada tulisan:

Kewajiban kepada Mira dinyatakan selesai.

Aku menatap Danu.

“Kapan uang ini dikembalikan?”

“Itulah masalahnya.”

“Jawab.”

“Setahuku tidak pernah.”

Aku membaca nama yang menandatangani pencatatan lama itu.

Bima.

“Kenapa kamu simpan?”

“Pak Arief nemu waktu beresin arsip lama. Aku baru lihat bulan lalu.”

“Bima tahu?”

Danu mengangguk.

“Dia bilang pencatatan itu cuma administrasi.”

“Dan kamu percaya?”

“Waktu itu iya.”

Ia duduk.

“Mbak, aku bukan orang suci. Aku memang butuh perusahaan ini. Dua anakku sekolah dari sini. Aku juga pernah minta bantuan Mas Bima lebih sering daripada seharusnya.”

Ia menarik napas.

“Tapi soal rumahmu, aku bilang jangan.”

“Lalu kenapa proposal tetap jalan?”

Danu menatap meja.

“Karena Mas Bima bilang kamu sudah setuju.”

Aku mulai melihat pola yang lebih buruk daripada sekadar adik ipar serakah.

Bima mengatakan kepadaku bahwa perusahaan harus diberikan kepada Danu.

Bima mengatakan kepada Danu bahwa aku sudah setuju mempertaruhkan rumah.

Lalu kepada bank ia mengatakan urusan keluarga sudah selesai.

“Danu, sebenarnya Bima mau apa?”

Danu lama menjawab.

Akhirnya ia berkata,

“Mas bilang kalau sesuatu terjadi padanya, semua harus kembali ke keluarga kami.”

“Semua apa?”

“Satria Kemas.”

“Perusahaan itu dibangun setelah kami menikah.”

“Aku tahu.”

“Dengan uangku.”

“Aku tahu sekarang.”

Aku menggeser map kembali.

“Kenapa baru sekarang?”

Danu menatapku dengan rasa malu.

“Karena selama ini aku juga diuntungkan.”

Jawaban itu justru membuatku lebih percaya kepadanya.

Ponselku bergetar.

Bu Ratna.

Aku tidak mengangkat.

Lalu muncul pesan.

Mira, datang ke rumah Ibu sore ini. Jangan bikin Bima tambah stres. Dia sedang sakit. Ada surat yang tinggal kamu tanda tangani. Jangan hitung-hitungan terus sama keluarga sendiri.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Kemudian Danu berkata pelan,

“Mbak, ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Mas Bima sudah bicara soal membagi perusahaan jauh sebelum dia sakit.”

Aku menatapnya.

“Sejak kapan?”

“Sekitar delapan bulan lalu.”

Delapan bulan.

Jauh sebelum kanker.

Jauh sebelum ketakutan akan kematian.

Jauh sebelum alasan tentang “sisa hidup”.

Aku berdiri.

“Kenapa?”

Danu tidak segera menjawab.

Lalu katanya,

“Karena Mas selalu bilang satu hal.”

“Apa?”

Ia terlihat benar-benar tidak nyaman.

“Katanya, Mbak sudah punya rumah, katering, dan tabungan sendiri.”

“Lalu?”

Danu menelan ludah.

“Katanya karena kalian tidak punya anak, tidak masuk akal kalau setelah kalian meninggal nanti aset keluarga jatuh ke saudara-saudara Mbak.”

Aku tidak langsung marah.

Justru anehnya, kepalaku terasa sangat jernih.

Ternyata suamiku tidak sedang membuat keputusan gila karena mengira dirinya akan mati.

Ia sudah lama menyusun masa depan.

Hanya saja di dalam masa depan itu, aku tidak pernah diajak duduk sebagai orang yang ikut membangunnya.

Aku hanya orang yang diasumsikan akan mengerti.

Saat itu aku tahu perceraian bukan lagi hal paling menakutkan di hadapanku.

Yang lebih menakutkan adalah kemungkinan bahwa selama puluhan tahun, aku hidup dalam pernikahan di mana suamiku selalu merasa berhak menjawab “iya” atas namaku.

Kalau kamu menjadi aku, apakah kamu masih akan menyimpan kabar bahwa diagnosisnya mungkin salah, atau meminta semua orang duduk bersama sebelum satu dokumen pun ditandatangani?

BAGIAN 3

Aku keluar dari gudang dengan map biru di tangan.

Danu mengejarku sampai ke parkiran.

“Mbak.”

Aku berhenti di samping mobil.

“Kalau bisa,” katanya, “jangan bilang ke Ibu bahwa aku yang kasih dokumen itu.”

“Kenapa?”

Ia tersenyum hambar.

“Karena umur empat puluh empat ternyata belum cukup tua untuk berhenti takut mengecewakan orang tua.”

Aku memandangnya.

Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Bima, aku melihat Danu bukan sebagai adik yang selalu ditolong kakaknya.

Aku melihat seseorang yang hidup di sistem yang sama denganku.

Bedanya, aku membayar dengan uang.

Danu membayar dengan kepatuhan.

“Aku tidak akan melempar kamu ke depan,” kataku. “Tapi kalau nanti kita duduk bersama, kamu harus bicara sendiri.”

Ia mengangguk.

“Baik.”

“Dan jangan bilang ke Bima aku sudah tahu.”

Danu menatapku.

“Mbak mau apa?”

“Memastikan semua angka yang selama ini disebut tidak penting itu benar.”


Pak Arief datang ke rumahku malam itu.

Ia membawa laptop dan dua dus arsip.

Aku sudah mengenalnya tujuh belas tahun.

Dulu, ketika Satria Kemas masih menyewa gudang kecil yang atapnya bocor setiap hujan deras, Pak Arief yang membantu kami membuat pembukuan pertama.

Ia duduk di ruang makan tempat Bima memberiku map perceraian sehari sebelumnya.

“Maaf, Bu.”

“Kenapa Bapak minta maaf?”

“Saya seharusnya bicara lebih cepat.”

“Bapak pegawai. Saya paham.”

Ia menggeleng.

“Kadang-kadang kita pakai kata ‘pegawai’ untuk menghindari hal yang sebenarnya kita tahu tidak benar.”

Aku menyukai kalimat itu karena tidak terdengar seperti pembelaan.

Kami membuka transaksi satu demi satu.

Ternyata masalah Satria Kemas tidak bermula dari satu keputusan buruk.

Justru itu yang membuatnya lebih menyakitkan.

Selama hampir enam tahun, perusahaan mengeluarkan sejumlah uang yang di pembukuan tercatat sebagai uang muka operasional Bima.

Nominalnya tidak selalu besar.

Rp7 juta.

Rp12 juta.

Rp18 juta.

Kadang Rp25 juta.

Sebagian memang untuk kebutuhan perusahaan.

Sebagian lain masuk ke rekening Bu Ratna.

Ada pembayaran renovasi rumah.

Biaya pengobatan.

Uang kuliah salah satu anak Danu.

Cicilan mobil Danu selama delapan bulan ketika usaha sampingannya bangkrut.

Biaya hajatan keluarga.

Sumbangan acara kampung.

Bahkan ada pembayaran uang muka tanah kecil di belakang rumah Bu Ratna.

“Totalnya berapa?”

Pak Arief memasukkan angka terakhir.

“Kalau yang belum pernah dikembalikan ke perusahaan sekitar Rp640 juta.”

Aku menatap angka itu.

“Danu tahu?”

“Tidak semuanya.”

“Bu Ratna?”

“Saya tidak tahu.”

“Bima?”

Pak Arief menatapku.

“Semua transaksi disetujui Pak Bima.”

Aku bersandar.

Tiba-tiba aku teringat beberapa tahun lalu ketika aku menyarankan kami menyisihkan Rp15 juta setiap bulan untuk dana pensiun.

Bima mengatakan arus kas perusahaan sedang ketat.

Aku mengalah.

Ketika aku ingin memperbesar dapur katering, ia meminta aku menunda enam bulan karena ia mungkin membutuhkan dana darurat.

Aku menunda.

Ketika mobilku mulai sering masuk bengkel, aku membeli mobil bekas alih-alih baru.

Bukan karena Bima mengambil semua uang kami.

Ia tidak pernah melarangku bekerja.

Tidak pernah memegang kartu ATM-ku.

Tidak pernah meminta akses ke rekening katering.

Justru itu yang membuat semuanya sulit dikenali.

Ia membiarkanku punya milikku sendiri.

Lalu menggunakan bagian miliknya dari kehidupan kami seolah keputusan itu tidak berdampak kepadaku.

“Pak Arief,” kataku, “proposal kredit Rp1,8 miliar itu untuk apa saja?”

Ia membuka file lain.

“Menutup kewajiban jangka pendek, membayar supplier, dan membeli satu mesin baru.”

“Mesin baru?”

“Iya.”

“Perusahaan sedang kesulitan, kenapa tambah mesin?”

Pak Arief tampak ragu.

“Karena ada rencana mengambil kontrak besar dari perusahaan makanan.”

“Sudah pasti?”

“Belum.”

Aku menutup mata sebentar.

Jadi Bima hendak mempertaruhkan rumah kami untuk ekspansi perusahaan yang sedang kekurangan kas agar perusahaan itu nantinya bisa ia serahkan kepada Danu.

Lalu ia meminta aku menandatangani pelepasan hak atas perusahaan karena ia mengira akan mati.

Sungguh rapi.

Kalau tidak ada telepon dari rumah sakit, mungkin aku akan terlalu sibuk mengurus laki-laki yang kukira sekarat untuk bertanya cukup banyak.

Pukul sembilan malam, teleponku berbunyi.

Bima.

Aku mengangkat.

“Kamu di rumah?”

“Iya.”

“Kenapa tidak datang ke Ibu?”

“Aku tidak merasa diundang untuk makan malam.”

“Jangan bercanda.”

“Aku juga tidak sedang bercanda.”

Hening.

“Aku cuma mau urusan ini selesai tanpa ribut.”

“Urusan yang mana?”

“Perceraian. Perusahaan.”

“Rumah?”

Ia tidak bicara.

Aku memegang ujung meja.

“Kenapa diam?”

“Danu sudah bicara?”

“Aku bertanya padamu.”

“Mira, perusahaan membutuhkan fasilitas kredit sementara.”

“Dengan rumah kita sebagai jaminan.”

“Rumah itu nilainya cukup.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

“Aku sudah berniat menjelaskan.”

“Kapan?”

“Setelah semuanya lebih jelas.”

Aku tertawa pendek.

“Jadi kamu menunggu sampai bank menyetujui dulu baru menjelaskan kepadaku bahwa rumah tempatku tinggal akan dijaminkan?”

“Tidak akan jalan tanpa tanda tanganmu.”

“Lalu kenapa di proposal tertulis persetujuan pasangan menyusul karena sudah dibicarakan?”

Bima terdiam cukup lama.

“Karena aku tahu pada akhirnya kamu akan setuju.”

Kalimat itu terasa lebih telanjang daripada kebohongan.

Bima sungguh mempercayainya.

Bukan karena aku bodoh.

Bukan karena ia ingin menipuku seperti penjahat dalam sinetron.

Karena selama dua puluh tiga tahun, aku hampir selalu setuju setelah cukup lama ditekan.

Aku menekan bibir.

“Kita ke rumah sakit besok.”

“Aku tidak mau.”

“Dokter minta.”

“Aku capek diperiksa.”

“Datang.”

“Untuk apa?”

“Karena ada informasi baru soal hasil pemeriksaanmu.”

Nada suaranya berubah.

“Informasi apa?”

“Besok kamu dengar dari dokter.”

“Mira.”

“Jam sembilan.”

Aku memutus telepon.

Malam itu aku hampir tidak tidur.

Bukan karena takut kehilangan pernikahan.

Aku justru takut pada pertanyaan lain.

Bagaimana kalau setelah mendengar ia tidak sekarat, Bima ingin menarik semua ucapannya?

Apa aku akan berpura-pura semua yang kudengar tidak pernah terjadi hanya karena penyebab awalnya hilang?


Bima sudah menunggu ketika aku sampai di rumah sakit.

Bu Ratna ikut bersamanya.

Aku hampir tertawa melihatnya.

Bahkan untuk menerima hasil pemeriksaan tubuhnya sendiri, Bima masih membawa ibunya.

Bu Ratna mengenakan blus batik cokelat dan kerudung krem. Wajahnya pucat.

Begitu melihatku, ia langsung berkata,

“Kamu semalam ke gudang?”

“Pagi, Bu.”

“Kok bukan jawabannya?”

“Karena kita sedang di rumah sakit.”

Bima menatapku tajam.

“Mira.”

Seorang perawat memanggil nama Bima.

Kami bertiga masuk.

Dokter penyakit dalam yang menangani Bima duduk bersama seorang dokter patologi.

Penjelasannya cukup panjang, tetapi intinya sederhana.

Sampel biopsi awal Bima diduga tertukar ketika proses pelabelan internal.

Setelah pemeriksaan ulang jaringan dan pencocokan ulang identitas sampel, temuan kanker stadium lanjut itu tidak cocok dengan kondisi Bima.

Pemeriksaan tambahan menunjukkan peradangan kronis pada saluran empedu yang bisa ditangani dan perlu dipantau, tetapi tidak ada bukti kanker stadium akhir seperti diagnosis sebelumnya.

Dokter beberapa kali meminta maaf.

Rumah sakit juga membuka pemeriksaan internal.

Bima tidak berkata apa-apa hampir semenit.

Lalu bertanya,

“Jadi saya tidak akan meninggal dalam tiga bulan?”

Dokter menjawab hati-hati.

“Tidak ada dasar medis untuk mengatakan begitu, Pak.”

Bu Ratna langsung menangis.

Ia memegang lengan Bima.

“Alhamdulillah.”

Bima mengusap wajah.

Aku duduk diam.

Sebelas hari lalu aku membayangkan hidup tanpa suamiku dan merasa sesak.

Hari itu, aku mendengar suamiku kemungkinan besar akan hidup bertahun-tahun lagi.

Aneh sekali.

Aku tidak merasa pernikahanku hidup kembali.

Di lorong rumah sakit, Bima akhirnya menatapku.

“Kamu tahu sejak kapan?”

“Kemarin siang.”

“Kenapa tidak langsung bilang?”

“Aku pulang untuk bilang.”

Ia membuka mulut.

Lalu terdiam.

Ia tentu ingat apa yang terjadi ketika aku sampai rumah.

Bu Ratna mengerutkan dahi.

“Kemarin?”

“Iya, Bu.”

“Lalu kamu diam saja semalaman?”

“Aku meminta Bima datang ke rumah sakit.”

“Itu kabar begini harusnya langsung disampaikan!”

Aku menatapnya.

“Kemarin saya juga menerima beberapa kabar yang rupanya selama ini dianggap tidak perlu langsung disampaikan kepada saya.”

Bima menghela napas.

“Jangan sekarang.”

“Kenapa bukan sekarang?”

“Aku baru saja…”

Ia berhenti.

Baru saja tahu ia tidak mati.

Aku mengangguk.

“Baik. Kita tidak bicara di lorong.”

Bu Ratna terlihat lega.

Lalu aku melanjutkan,

“Kita bicara sore ini di rumah Ibu. Aku, Bima, Ibu, dan Danu.”

“Mira.”

“Kalau kamu memang ingin perceraian dan pembagian urusan perusahaan dilakukan baik-baik, tidak ada alasan untuk takut semua orang mendengar hal yang sama pada saat bersamaan.”

Bima menatapku.

Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang tidak kulihat ketika ia merasa hanya punya tiga bulan hidup.

Takut.


Sore itu sandal berjajar di teras rumah Bu Ratna di Sidoarjo.

Aku pernah datang ke rumah itu ratusan kali.

Saat Lebaran.

Ulang tahun.

Pengajian keluarga.

Ketika ayah Bima meninggal.

Ketika Danu menikah.

Ketika keponakan pertama kami lahir.

Rumah itu selalu terasa seperti rumah kedua.

Hari itu rasanya seperti ruang rapat yang kebetulan memiliki dispenser dan toples rengginang.

Danu sudah menunggu.

Pak Arief tidak ikut.

Aku tidak ingin membawa pegawai ke dalam pertengkaran keluarga.

Semua dokumen yang kubutuhkan sudah ada di tas.

Bu Ratna menyuruh kami makan dulu.

Tidak ada yang menyentuh nasi.

Akhirnya Bima berkata,

“Sekarang aku sehat. Menurutku kita tidak perlu membuat semuanya lebih besar.”

Aku hampir kagum.

Belum lima jam sejak dokter memberitahunya bahwa ia tidak sekarat, dan ia sudah menemukan jalan keluar termudah.

“Apa yang tidak perlu dibuat besar?”

“Semua yang kemarin.”

“Perceraian?”

Ia menarik napas.

“Aku membuat keputusan saat pikiranku kacau.”

“Proposal bank dibuat dua belas hari sebelum diagnosis.”

Danu menunduk.

Bu Ratna melihat Bima.

“Proposal apa?”

Aku mengeluarkannya.

“Rp1,8 miliar. Rumah kami akan menjadi tambahan jaminan.”

Bu Ratna menoleh kepada Bima.

“Kamu bilang Mira sudah setuju.”

“Nah,” kataku. “Itulah sebabnya kita duduk bersama.”

Bima menatap Danu.

“Kamu kasih dokumen ke Mira?”

Aku menyela.

“Jangan mulai mencari siapa yang membocorkan. Dokumennya nyata atau tidak?”

“Nyata.”

“Rumah itu mau dijadikan jaminan?”

“Iya.”

“Aku pernah setuju?”

“Belum secara formal.”

“Aku pernah bilang setuju?”

Bima menekan kedua telapak tangan ke meja.

“Mira, kalau kamu terus bicara seperti sedang memeriksa tersangka, kita tidak akan ke mana-mana.”

“Aku sudah dua puluh tiga tahun bicara seperti istri. Hasilnya, kamu merasa bisa menjawab atas namaku. Jadi hari ini aku akan bertanya dengan cara yang membuat jawabannya jelas.”

Bu Ratna menggeser gelas.

“Kalian suami istri jangan bicara keras-keras.”

Aku menoleh kepadanya.

“Saya belum bicara keras, Bu.”

“Masalah keluarga bisa dibicarakan baik-baik.”

“Setuju.”

Aku meletakkan map biru di meja.

“Makanya saya ingin semuanya terbuka.”

Bima langsung mengenali map itu.

Wajahnya berubah.

“Apa lagi itu?”

Aku membuka catatan modal awal.

“Rp420 juta.”

Bu Ratna terlihat bingung.

“Uang apa?”

“Modal awal Satria Kemas dari saya.”

Bima memotong,

“Itu bukan seluruh modal.”

“Aku tidak bilang seluruh.”

“Keluarga juga memberi kontribusi.”

“Benar. Ayah meminjamkan jaringan supplier dan membantu mencarikan gudang pertama. Danu bekerja enam bulan tanpa gaji penuh. Aku tidak pernah menghapus jasa mereka.”

Aku menunjuk tulisan.

“Tapi kenapa uangku ditulis sebagai pinjaman sementara?”

Bima diam.

“Dan kenapa dua tahun kemudian ditulis sudah selesai, padahal tidak pernah dikembalikan?”

Bu Ratna menatap anaknya.

“Memang belum dikembalikan?”

Bima mengusap pelipis.

“Itu pencatatan lama.”

“Jawabannya iya atau tidak.”

“Mira, kita kan menikah. Uangmu uang keluarga.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Menarik.”

“Apa?”

“Waktu uangku masuk perusahaanmu, itu uang keluarga.”

Aku membalik halaman.

“Tapi waktu perusahaan tumbuh, itu tiba-tiba jadi usaha keluargamu.”

Bima terdiam.

Danu menatap lantai.

Bu Ratna berkata,

“Bima mungkin cuma salah mencatat.”

Aku menoleh kepadanya.

“Mungkin.”

Lalu kutarik beberapa lembar transaksi.

“Kalau yang ini bagaimana?”

Bima langsung melihat Danu.

Danu berkata,

“Aku tidak kasih itu.”

“Aku tidak bilang kamu.”

Aku menyebut beberapa transfer.

“Renovasi dapur rumah Ibu, Rp37 juta.”

Bu Ratna mengerutkan dahi.

“Bima bilang itu uangnya.”

“Secara teknis memang keluar melalui dia.”

Aku lanjut membaca.

“Uang muka tanah belakang, Rp85 juta.”

Bu Ratna tidak bicara.

“Biaya kuliah Rafi satu semester, Rp14 juta.”

Danu mengangkat kepala.

“Mas bilang itu bonus dari perusahaan.”

“Cicilan mobilmu delapan bulan, total Rp48 juta.”

Danu memejamkan mata.

“Aku tidak tahu itu uang perusahaan.”

Bima akhirnya membentak,

“Cukup!”

Tidak ada yang bergerak.

Ia berdiri.

“Kalian semua sekarang mau membuat aku seperti pencuri?”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

“Lalu apa?”

“Aku mau tahu kenapa selama enam tahun kamu mengeluarkan sekitar Rp640 juta dari perusahaan untuk keluarga tanpa pernah menjelaskan dampaknya kepadaku.”

“Karena mereka keluargaku!”

“Dan aku apa?”

“Jangan dramatis.”

Aku tertawa kecil.

“Pertanyaan paling sederhana dalam pernikahan kita rupanya dianggap dramatis.”

Bu Ratna mulai menangis.

“Ibu tidak pernah minta Bima mengambil uang perusahaan.”

Aku menatapnya.

“Aku percaya Ibu tidak tahu semuanya.”

Dan memang itu kebenaran yang mulai kulihat.

Bu Ratna bukan dalang yang diam-diam mengatur setiap transaksi.

Ia melakukan hal yang lebih biasa.

Dan justru karena biasa, lebih sulit disadari.

Ia meminta.

Bima selalu memberi.

Kalau Bima kesulitan, ia tidak pernah mengatakan tidak.

Ia hanya mengambil dari tempat lain.

Ketika aku bertanya, ia menyebutku perhitungan.

Ketika Danu bertanya, ia mengatakan semuanya aman.

Ketika Bu Ratna bertanya apakah aku keberatan, ia menjawab bahwa aku pasti mengerti.

“Bu,” kataku, “waktu Bima bilang perusahaan seharusnya nanti menjadi milik Danu, Ibu tahu?”

Bu Ratna menyeka pipinya.

“Bima anak pertama. Dari kecil ayahnya selalu bilang dia harus menjaga adiknya.”

“Itu bukan jawaban.”

Ia terdiam.

“Bu?”

Akhirnya ia berkata,

“Ibu cuma bilang, kalian tidak punya anak. Kalau suatu hari kalian tidak ada, masa usaha bapaknya malah berpindah ke keluargamu?”

Aku mendengar Danu mengembuskan napas.

Bima menatap meja.

Aku bertanya,

“Usaha bapaknya?”

“Ya awalnya dari usaha almarhum.”

Aku mengeluarkan napas perlahan.

“Bu, usaha Ayah sudah tutup sebelum Satria Kemas berdiri.”

“Tapi Bima belajar dari Ayah.”

“Betul.”

Aku mengangguk.

“Dan saya tidak pernah menyangkal itu.”

Bu Ratna terlihat tersinggung.

“Kamu bicara seolah keluarga ini mengambil semua milikmu.”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Saya sedang menjelaskan sesuatu yang selama ini tidak pernah diperbaiki Bima.”

Aku menunjuk Bima.

“Dia membiarkan Ibu percaya perusahaan itu kelanjutan usaha Ayah.”

Lalu aku menunjuk Danu.

“Dia membuat Danu percaya aku sudah setuju rumah kami dijaminkan.”

Aku menunjuk diriku sendiri.

“Dan kepadaku, dia bilang perusahaan harus diserahkan ke Danu karena keluarga membutuhkannya.”

Bima berkata,

“Aku hanya mencoba menjaga semuanya.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamu mencoba memastikan tidak ada seorang pun yang marah kepadamu.”

Ia terdiam.

Itulah pertama kalinya hari itu ekspresinya benar-benar berubah.

Bukan karena angka.

Bukan karena dokumen.

Karena aku akhirnya menyentuh bagian yang sebenarnya.

Bima tidak tahan dianggap anak yang tidak berbakti.

Tidak tahan dilihat Danu sebagai kakak yang meninggalkan adiknya.

Tidak tahan mengatakan kepada ibunya bahwa uang perusahaan tidak bisa terus dipakai.

Dan selama ini cara termudah menghindari semua itu adalah membuatku menjadi orang yang berkata tidak.

Aku yang perhitungan.

Aku yang kaku.

Aku yang tidak memahami keluarga.

Bima bisa tetap menjadi anak baik.

Kakak baik.

Pemimpin perusahaan baik.

Karena setiap batas yang seharusnya ia pasang, ia serahkan kepadaku.

“Aku tidak pernah memintamu jadi penjahat,” katanya pelan.

“Benar.”

Aku tersenyum pahit.

“Kamu cuma menikmati ketika seluruh keluarga menganggap aku penjahat karena itu memudahkan hidupmu.”

Bu Ratna menyela,

“Jangan bicara begitu kepada suami.”

Bima langsung berkata,

“Bu, cukup.”

Bu Ratna membeku.

Mungkin itu pertama kalinya dalam bertahun-tahun Bima menghentikannya.

Aku hampir merasa kasihan.

Hampir.

Bima duduk kembali.

“Aku salah,” katanya.

Tidak ada pidato.

Tidak ada tangis.

Ia hanya menatap tangannya.

“Aku pikir semuanya bisa kubereskan.”

“Dengan rumah kita?”

“Aku pikir kontrak baru akan menutup semuanya.”

“Kalau gagal?”

Ia tidak menjawab.

“Kalau kamu benar-benar meninggal?”

Ia mengusap wajah.

“Danu akan pegang perusahaan.”

“Dengan utang Rp1,8 miliar dan rumahku sebagai jaminan?”

Tidak ada yang bicara.

Aku bersandar.

“Inilah masalahnya, Bim. Kamu menyebut aku terlalu memikirkan angka, padahal angka adalah akibat dari keputusan manusia.”

Aku menunjuk proposal.

“Kalau kontrak gagal, bank tidak menagih idealisme.”

Kuangkat laporan kewajiban.

“Supplier tidak menerima kalimat ‘demi keluarga’.”

Kututup map.

“Dan rumah tidak bisa dibayar dengan niat baik.”

Danu akhirnya bicara.

“Mas.”

Bima melihatnya.

“Aku tidak mau perusahaan kalau caranya begini.”

Bu Ratna cepat menoleh.

“Danu.”

“Bu, sudah.”

Danu menatap kakaknya.

“Aku memang bergantung terlalu banyak sama Mas. Itu salahku. Tapi kalau Mas kasih perusahaan ke aku dalam kondisi utangnya segini, aku juga cuma dikasih masalah.”

Bima terlihat terpukul.

“Kamu pikir aku mau menjatuhkan kamu?”

“Aku tahu Mas mau membantu.”

Danu menelan ludah.

“Tapi kadang bantuan Mas bikin aku tidak pernah belajar berhenti.”

Kalimat itu membuat Bu Ratna menangis lagi.

Namun kali ini tidak ada yang buru-buru menenangkannya.

Ada tangis yang memang harus dibiarkan karena orang sedang mendengar sesuatu yang tidak ia sukai.

Bima menatapku.

“Kita bisa batalkan perceraian.”

Aku sudah tahu kalimat itu akan keluar.

Tetap saja ketika mendengarnya, dadaku terasa aneh.

Ia melanjutkan,

“Aku pikir aku mau mati. Aku panik. Aku merasa harus membereskan semuanya.”

“Rencana membagi perusahaan dibuat delapan bulan lalu.”

“Aku belum tentu melakukannya.”

“Proposal rumah sebelum diagnosis.”

“Aku berniat bicara.”

“Catatan modal sebelas tahun lalu.”

Ia menutup mata.

Aku berkata lebih pelan,

“Kanker itu bukan penyebab, Bim.”

Ia membuka mata.

“Kanker cuma membuatmu merasa tidak perlu lagi menjaga perasaanku.”

Bima diam.

“Itu bedanya.”

Bu Ratna berkata,

“Mira, jangan ambil keputusan besar saat emosi.”

Aku menoleh.

“Aku justru baru berhenti mengambil keputusan karena rasa tidak enak.”

Bima meraih gelas tetapi tidak meminumnya.

“Kamu tetap mau cerai?”

Aku menatap laki-laki yang sudah bersamaku dua puluh tiga tahun.

Aku ingat pagi-pagi ketika ia membuat kopi untukku karena aku harus menerima pesanan seribu nasi kotak.

Aku ingat ia tidur di kursi rumah sakit ketika aku keguguran.

Aku ingat kami mengecat rumah sendiri agar menghemat biaya.

Aku ingat ia pernah menjemputku tengah malam ketika mobilku mogok.

Sebuah pernikahan tidak menjadi palsu hanya karena akhirnya gagal.

Itulah yang membuat keputusan ini sakit.

“Aku akan tetap melanjutkan.”

Bima menunduk.

“Kamu sudah tidak punya perasaan?”

“Aku punya.”

Aku merasakan tenggorokanku menegang.

“Justru karena punya, aku tidak mau menghabiskan sepuluh tahun lagi bertanya-tanya keputusan apa yang dibuat atas namaku ketika aku tidak ada di ruangan.”

Ia tidak menjawab.

“Kalau masalahnya hanya proposal rumah, mungkin bisa diperbaiki.”

Aku menunjuk map biru.

“Kalau cuma soal Rp640 juta, kita bisa menghitung ulang.”

Aku menatapnya.

“Tapi masalah kita bukan dokumen.”

“Masalahnya kamu benar-benar percaya aku akan selalu mengerti, selalu mengalah, selalu menyelamatkan keadaan.”

“Dan ketika suatu hari kamu mengira hidupmu tinggal tiga bulan, orang pertama yang kamu bebaskan dari hidupmu adalah aku.”

Wajah Bima berubah.

Aku tidak perlu mengatakan lebih keras.


Proses setelah itu tidak selesai dalam sehari.

Justru bagian paling tidak dramatis adalah bagian paling melelahkan.

Kami bertemu konsultan hukum keluarga.

Lalu mediator.

Dokumen perusahaan diperiksa.

Status aset dipetakan.

Aku menolak menandatangani penggunaan rumah sebagai jaminan.

Pengajuan tambahan kredit dibatalkan.

Satria Kemas harus mencari jalan lain.

Mereka menjual satu mesin yang jarang digunakan, menegosiasikan ulang pembayaran supplier, dan membatalkan ekspansi.

Danu juga mengambil keputusan yang selama bertahun-tahun ia hindari.

Ia menjual mobil keduanya dan mengembalikan sebagian uang yang dulu dibayarkan perusahaan.

Tidak besar.

Tapi untuk pertama kalinya ia tidak menunggu Bima menyelesaikannya.

Bu Ratna marah ketika Bima menghentikan transfer rutin Rp12 juta per bulan dan menggantinya dengan jumlah tetap Rp6 juta sesuai kebutuhan rumah tangga dan obat.

“Dulu Ayahmu tidak pernah hitung-hitungan sama orang tua,” katanya.

Bima menjawab,

“Ayah juga tidak punya perusahaan yang hampir kehabisan arus kas, Bu.”

Bu Ratna tidak berbicara dengannya dua hari.

Dulu Bima mungkin akan panik.

Kali itu ia membiarkannya.

Beberapa batas memang terasa seperti kekejaman bagi orang yang selama bertahun-tahun tidak pernah mendengarnya.


Satu bulan setelah hari di rumah Bu Ratna, Bima datang ke rumah kami.

Ia masih punya kunci, tetapi memilih menekan bel.

Aku menghargai itu.

Ia duduk di teras.

“Aku sudah bicara dengan Arief.”

“Hmm.”

“Dia bilang perusahaan mungkin bisa stabil dalam satu tahun kalau kontrak lama bertahan.”

“Bagus.”

Ia memandang tanaman melati yang mulai tumbuh terlalu rimbun.

“Kamu yang potong biasanya?”

“Sekarang Pak Eko bantu.”

Ia tersenyum kecil.

Kami lama diam.

Lalu Bima berkata,

“Aku baru sadar sesuatu.”

“Apa?”

“Selama ini aku selalu menganggap kamu kuat, jadi paling mudah meminta kamu mengerti.”

Aku tidak menjawab.

“Kalau Ibu kecewa, aku merasa berdosa.”

Ia menarik napas.

“Kalau Danu kesusahan, aku merasa gagal jadi kakak.”

“Kalau kamu kecewa…”

Ia melihat tangannya.

“Aku pikir kamu akan tetap di sana.”

Aku tersenyum tipis.

“Itulah masalahnya.”

“Aku tahu.”

“Aku bukan furnitur, Bim.”

Ia tertawa pelan.

“Sekarang aku tahu.”

“Agak terlambat.”

“Iya.”

Untuk pertama kalinya selama proses kami, ia tidak meminta kesempatan kedua.

Mungkin akhirnya ia mengerti bahwa permintaan maaf tidak selalu merupakan uang muka untuk mendapatkan hubungan kembali.

Kadang permintaan maaf cuma kewajiban.

Ia tetap harus diucapkan meskipun orang yang kita sakiti tidak memberi hadiah apa-apa setelahnya.

Sebelum pulang, Bima berkata,

“Terima kasih sudah datang ke rumah sakit waktu itu.”

Aku menatapnya.

“Itu memang hal yang akan kulakukan.”

“Aku tahu.”

Ia berdiri.

“Dulu aku pikir itu bukti kamu pasti akan selalu ada.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku tahu itu cuma bukti bahwa kamu orang yang bertanggung jawab.”

Aku mengangguk.

Ia pergi.

Aku tidak menangis.

Tapi malam itu, ketika menemukan cangkir kopi kesukaannya masih tersimpan di rak paling belakang, aku duduk cukup lama di lantai dapur.

Tidak semua kehilangan perlu dibenci supaya bisa dilepaskan.


Tiga bulan kemudian perceraian kami selesai.

Tidak ada yang “pergi dengan tangan kosong”.

Kehidupan nyata jarang serapi itu.

Rumah Surabaya menjadi bagianku berdasarkan kesepakatan pembagian aset.

Bima mempertahankan kepentingannya di Satria Kemas bersama kewajiban usaha yang melekat.

Sebagai bagian dari penyelesaian, kontribusi modalku yang dulu tidak pernah benar-benar diperhitungkan dikompensasikan dalam pembagian aset lain dan pembayaran bertahap.

Aku tidak mendapatkan setiap rupiah yang mungkin bisa kuperjuangkan.

Aku sengaja memilih jalan yang lebih pendek.

Bukan karena mengalah.

Karena setelah dua puluh tiga tahun hidup di tengah urusan keluarga Bima, aku tidak mau menghabiskan tiga tahun berikutnya hanya untuk membuktikan siapa berhak atas kursi, mesin, atau satu meter gudang.

Ada harga untuk pergi.

Aku memilih harga yang sanggup kubayar.

Kateringku juga berubah.

Aku membatalkan rencana membeli ruko baru karena sebagian dana harus tetap kusimpan sebagai cadangan selama proses perceraian.

Awalnya aku kesal.

Kemudian aku menyewa bangunan kecil di Rungkut untuk dapur tambahan.

Lebih sederhana.

Ternyata lebih cocok.

Empat bulan kemudian kami mendapat kontrak makan siang rutin dari sebuah perusahaan distribusi.

Tidak membuatku mendadak kaya.

Tapi cukup untuk menambah tiga pegawai.

Aku menyukai pertumbuhan yang tidak membutuhkan sertifikat rumah sebagai taruhan.


Hubunganku dengan Bu Ratna tidak langsung membaik.

Selama beberapa minggu, ia tidak menghubungiku.

Lalu suatu sore ia menelepon.

“Mira.”

“Iya, Bu.”

“Besok ulang tahun Ibu.”

“Saya ingat.”

“Kamu datang?”

Pertanyaan itu mengejutkanku.

Aku berpikir sebentar.

“Kalau Ibu memang ingin saya datang.”

“Ya kalau tidak ingin, Ibu tidak telepon.”

Itu gaya Bu Ratna.

Aku tersenyum.

“Baik.”

Aku datang membawa kue.

Tidak ada pelukan panjang.

Tidak ada adegan semua orang menangis dan saling memaafkan.

Bu Ratna hanya mengambil kotak kue dari tanganku lalu berkata,

“Kamu masih ingat Ibu tidak suka terlalu manis?”

“Masih.”

Ia mengangguk.

Saat aku hendak pulang, ia mengikutiku sampai teras.

“Mira.”

Aku menoleh.

“Dulu Ibu memang sering bilang ke Bima supaya jangan melupakan Danu.”

Aku menunggu.

“Tapi Ibu tidak tahu dia mengambil sebanyak itu dari perusahaan.”

“Saya tahu.”

“Ibu pikir perusahaan itu memang sebagian besar peninggalan ayahnya.”

“Saya juga tahu.”

Ia tampak tidak nyaman.

“Bima seharusnya menjelaskan.”

“Iya.”

Bu Ratna tidak meminta maaf dengan kata yang jelas.

Ia hanya berkata,

“Kamu juga banyak membantu keluarga ini.”

Bagi perempuan seusianya, mungkin itulah jarak terjauh yang bisa ia tempuh hari itu.

Aku memilih menerimanya tanpa berpura-pura itu lebih dari yang sebenarnya.

“Terima kasih, Bu.”

Kami tidak kembali menjadi menantu dan mertua seperti dulu.

Tapi kami juga tidak menjadi musuh.

Kadang-kadang kedewasaan memang terlihat membosankan.

Tidak ada orang yang dilempar keluar rumah.

Tidak ada sumpah tidak akan bertemu lagi.

Hanya dua orang yang akhirnya berhenti berpura-pura bahwa hubungan harus kembali seperti semula supaya bisa disebut damai.


Danu paling berubah.

Enam bulan setelah pertemuan kami, ia datang ke dapur katering.

Ia membawa satu amplop.

“Apa ini?”

“Rp15 juta.”

Aku menatapnya.

“Untuk?”

“Mulai balikin yang dulu perusahaan bayarin buat mobilku.”

“Itu urusanmu dengan perusahaan.”

“Aku tahu.”

“Jadi bawa ke kantor.”

Ia tersenyum.

“Sudah. Ini cuma mau nunjukin bukti transfernya.”

Aku mendengus.

“Kamu datang jauh-jauh dari Sidoarjo cuma buat pamer struk?”

“Sekali-kali boleh.”

Aku tertawa.

Sebelum pergi ia berkata,

“Mbak.”

“Hm?”

“Dulu aku sering sebel sama Mbak.”

“Aku tahu.”

“Karena Mbak selalu tanya kapan uang dikembalikan.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang juga kadang masih sebel.”

Aku mengangkat alis.

Danu tertawa.

“Tapi setidaknya sekarang aku ngerti kenapa.”

“Bagus.”

Ia memasukkan tangan ke saku.

“Mas Bima juga berubah.”

Aku tidak bertanya.

Danu tetap bercerita sedikit.

Bima masih tinggal beberapa malam dalam seminggu bersama Bu Ratna.

Ia juga menyewa apartemen kecil dekat kantor.

Kondisi kesehatannya stabil dengan pengobatan.

Ia sekarang benar-benar turun mengurus perusahaan, bukan sekadar merancang ekspansi.

Dan untuk pertama kalinya, kalau Bu Ratna meminta sesuatu, Bima kadang menjawab,

“Aku cek dulu.”

Danu bilang kalimat itu membuat ibunya kesal.

Aku tertawa cukup lama.

Hampir delapan bulan setelah telepon dari rumah sakit itu, aku sedang membereskan lemari dokumen.

Di sana masih ada amplop putih berisi salinan hasil pemeriksaan Bima.

Di rak lain tersimpan map cokelat yang dulu ia letakkan di meja makan.

Aku sempat berpikir membuang keduanya.

Akhirnya tidak.

Aku memasukkan hasil pemeriksaan, salinan putusan perceraian, perjanjian pembagian aset, dan bukti penyelesaian rumah ke satu map baru.

Bukan untuk menyimpan dendam.

Aku sudah terlalu tua untuk menjadikan lemari arsip sebagai museum kemarahan.

Aku menyimpannya karena dokumen kadang bukan hanya bukti tentang siapa memiliki apa.

Kadang dokumen adalah pengingat tentang keputusan yang pernah kita buat ketika akhirnya berhenti takut mengecewakan orang.

Ponselku berbunyi.

Grup WhatsApp keluarga Bima.

Bu Ratna mengirim foto masakan.

Danu mengeluh sambalnya terlalu pedas.

Bima menjawab dengan emoji tertawa.

Dulu setiap notifikasi dari grup itu bisa membuatku tegang karena aku selalu bertanya-tanya permintaan apa yang akan muncul berikutnya.

Hari itu aku membacanya tanpa rasa takut.

Aku bahkan membalas foto Bu Ratna.

Kelihatannya enak, Bu.

Lalu kuletakkan ponsel dengan layar menghadap meja.

Di luar, seorang pegawaiku membuka pagar untuk mobil pengantar bahan makanan.

Aku mengunci lemari dokumen.

Kunci kecil itu berbunyi sekali.

Klik.

Dulu aku mengira menjadi istri yang baik berarti selalu menyediakan pintu terbuka untuk semua kebutuhan keluarga.

Sekarang aku tahu rumah tetap bisa hangat meskipun beberapa pintu memiliki kunci.

Dan orang yang benar-benar menghargaimu tidak akan tersinggung hanya karena mereka harus mengetuk terlebih dahulu.

Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk saling membantu tanpa menghapus batas satu sama lain. Kalau kamu berada di posisi Mira, apakah kamu akan tetap melanjutkan perceraian setelah mengetahui pasanganmu ternyata tidak sakit terminal, atau mencoba membangun kembali pernikahan itu? Aku ingin membaca pendapatmu. Jika cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin juga pernah merasa bahwa kata “keluarga” terlalu sering digunakan untuk membuat seseorang terus mengalah.