Di Hari Pernikahan, Tunanganku Membawa Kakak Ipar Hamil dan Menuntut Dua Istri—Aku Melepas Veil, Membatalkan Kontrak, Lalu Satu Bukti Membuat Keluarganya Gemetar di Depan Tamu yang Terdiam Membeku

Avatar penulis
admini
13 menit baca 20 tayangan
Indeks

Di Hari Pernikahan, Tunanganku Membawa Kakak Ipar Hamil dan Menuntut Dua Istri—Aku Melepas Veil, Membatalkan Kontrak, Lalu Satu Bukti Membuat Keluarganya Gemetar di Depan Tamu yang Terdiam Membeku

Bagian 1 — Di Pelaminan, Raka Menggandeng Janda Kakaknya yang Hamil dan Memaksaku Menerima Mereka Berdua Sebelum Akad Dilanjutkan di Depan Seluruh Keluarga Besar

Aku tahu sebuah pernikahan bisa batal karena perselingkuhan, utang, atau keluarga yang tak merestui.

Aku tidak pernah membayangkan pernikahanku batal karena calon suamiku datang ke pelaminan sambil memegang pinggang kakak iparnya yang sedang hamil tujuh bulan.

Pagi itu ballroom sebuah hotel di Surabaya penuh dengan lebih dari tiga ratus tamu. Keluarga pengusaha, rekan bank, pemasok, sampai beberapa direktur perusahaan yang selama ini bekerja sama denganku duduk rapi menunggu akad dimulai.

Aku, Nadira Prameswari, berdiri di balik rangkaian melati dengan kebaya putih yang dipilih sendiri oleh almarhumah nenekku. Di saku kecil kain songketku tersimpan saputangan miliknya. Itu satu-satunya benda keluarga yang kubawa ke pelaminan.

Sejak ayah dan ibuku meninggal dalam kecelakaan ketika aku berusia tujuh belas tahun, neneklah yang membesarkanku sekaligus mengajariku membaca laporan keuangan, menghadapi komisaris, dan tidak pernah menandatangani dokumen hanya karena sungkan.

Sebelum meninggal dua tahun lalu, beliau hanya pernah meminta satu hal: jangan menikah dengan laki-laki yang membuatku harus mengecilkan diri.

Aku pikir Raka bukan laki-laki seperti itu.

Ternyata aku salah.

Lalu pintu ballroom terbuka.

Raka Wiratama masuk terlambat hampir empat puluh menit.

Di sampingnya ada Maya, janda mendiang kakaknya.

Satu tangannya memegang lengan Raka. Tangan Raka melingkar di pinggang Maya, seolah takut perempuan itu jatuh.

Suasana langsung berubah.

Ayah Raka berdiri tergesa.

Ibunya, Bu Ratih, malah terlihat seperti sudah tahu apa yang akan terjadi.

Yang membuatku semakin dingin adalah gaun Maya. Warnanya krem pucat, modelnya terlalu menyerupai busana keluarga inti pengantin. Tiga hari sebelumnya Bu Ratih bersikeras agar aku menyediakan satu kamar khusus untuk Maya di rumah yang akan kutempati setelah menikah.

Katanya hanya sampai bayi lahir.

Saat itu aku mengalah.

Aku bahkan membayar renovasi kamar bayi karena mengira itu bentuk penghormatan kepada mendiang Ardi.

Sekarang semuanya terasa seperti lelucon yang dirancang dengan uangku sendiri.

Raka naik ke panggung tanpa meminta maaf. Ia menatapku, lalu mengambil mikrofon.

“Nadira, sebelum akad dilanjutkan, ada satu syarat.”

Aku menatapnya tanpa menjawab.

“Maya akan tinggal bersama kita setelah menikah. Aku akan bertanggung jawab atas dia dan anak dalam kandungannya. Bukan hanya sebagai adik ipar. Aku akan memperlakukannya sebagai bagian dari rumah tanggaku sepenuhnya.”

Beberapa tamu langsung berbisik.

Aku masih diam.

Raka melanjutkan, dengan nada yang justru semakin tinggi.

“Keluarga kami sudah sepakat. Aku tidak mungkin menelantarkan istri almarhum kakakku. Kalau kamu mau menjadi istriku, kamu harus menerima bahwa aku punya kewajiban terhadap dua perempuan.”

Aku hampir tertawa.

“Dua perempuan?”

Maya menunduk seolah malu, tetapi sudut bibirnya bergerak kecil.

Bu Ratih buru-buru mendekat.

“Dira, jangan salah paham. Ini cuma soal tanggung jawab keluarga. Maya tidak punya orang tua. Setelah Ardi meninggal, siapa lagi yang menjaga dia?”

Aku memandang perut Maya.

Ardi, kakak Raka, meninggal sebelas bulan lalu dalam kecelakaan di jalan tol.

Maya sedang hamil tujuh bulan.

Aku mengalihkan pandangan kembali kepada Raka.

“Jadi kamu ingin aku menikah denganmu, membiayai rumahmu, menyelamatkan perusahaan keluargamu, lalu menerima perempuan lain tinggal bersama kita dan kamu perlakukan seperti istri?”

Wajah Raka menegang.

“Jangan bicara soal uang di hari pernikahan.”

Kalimat itu membuatku benar-benar tersenyum.

Tiga bulan sebelumnya, perusahaan keluarga Raka, Wiratama Logistik, hampir gagal membayar kewajiban bank senilai Rp68 miliar. Mereka datang ke kantorku berkali-kali. Ayah Raka bahkan membawa laporan arus kas dan meminta grup perusahaanku menjadi penjamin kontrak baru.

Aku setuju karena pernikahan sudah direncanakan.

Grup Prameswari menyiapkan kontrak distribusi lima tahun, fasilitas pembayaran awal, dan akses gudang yang nilainya cukup untuk membuat Wiratama Logistik kembali bernapas.

Mereka menyebutnya “sinergi keluarga”.

Bu Ratih juga berkali-kali mengatakan bahwa setelah menikah, aku tidak perlu terlalu sibuk bekerja karena Raka bisa “membantu mengendalikan perusahaan”.

Aku selalu menganggapnya komentar kuno yang tidak perlu diperdebatkan.

Sekarang aku paham maksud sebenarnya.

Mereka bukan hanya menginginkan menantu.

Mereka menginginkan pintu masuk ke perusahaan yang kubangun.

Sekarang, di depan ratusan orang, Raka bertingkah seolah aku yang membutuhkan pernikahan ini.

Aku melepas veil dari kepalaku.

Ballroom langsung sunyi.

Aku menyerahkannya kepada pendamping pengantin di sampingku, lalu berkata pelan,

“Kalau begitu akadnya dibatalkan.”

Maya mengangkat wajah. Matanya berbinar sebelum ia sempat menyembunyikannya.

Raka tertawa pendek.

“Silakan. Jangan pikir aku akan memohon.”

“Bagus.”

Aku menoleh kepada asistanku, Sinta, yang duduk di baris depan.

“Sinta, telepon kantor sekarang. Bekukan seluruh kontrak yang belum efektif dengan Wiratama Logistik. Hentikan fasilitas pembayaran awal. Batalkan surat dukungan ke bank. Semua aset yang dibeli Grup Prameswari untuk rumah setelah menikah, tarik kembali hari ini.”

Sinta berdiri.

“Baik, Bu Nadira.”

Ayah Raka mendadak pucat.

Bu Ratih mencengkeram lenganku.

“Kamu gila? Masalah rumah tangga jangan dibawa ke bisnis!”

Aku melepaskan tangannya.

“Justru sejak awal kalian yang membawa bisnis ke rumah tangga.”

Raka turun satu langkah dari panggung.

“Jangan sok berkuasa. Kamu cuma beruntung lahir sebagai pewaris. Perempuan sepertimu tanpa nama keluarga tidak akan dihormati siapa pun.”

Aku menatapnya lurus.

“Dan laki-laki sepertimu tanpa uangku akan dihormati siapa?”

Beberapa orang menahan napas.

Raka mengepalkan tangan.

Maya tiba-tiba memegang perutnya dan berkata lirih,

“Raka, jangan bertengkar. Kalau Mbak Nadira memang tidak punya hati untuk menerima anak ini, biarkan saja.”

Anak ini.

Bukan anak almarhum suaminya.

Bukan “anak Ardi”.

Hanya “anak ini”.

Aku menyimpan kalimat itu di kepala.

Lalu ponsel Sinta bergetar.

Ia melihat layar, kemudian mendekat ke telingaku.

“Bu, bagian legal baru mengirim sesuatu. Mereka menemukan dokumen yang mungkin berkaitan dengan Bu Maya.”

“Apa?”

Sinta menurunkan suara.

“Tagihan pemeriksaan kehamilan dari klinik premium di Jakarta. Dibayar memakai kartu perusahaan Wiratama Logistik.”

Aku menatap Raka.

Sinta melanjutkan,

“Nama penanggung jawab pasiennya bukan almarhum Pak Ardi.”

Jantungku tidak berdebar karena sedih.

Aku justru merasa sangat tenang.

“Siapa?”

Sinta menatapku sesaat sebelum menjawab.

“Raka Wiratama.”

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, senyum sombong di wajah calon suamiku benar-benar hilang.

Bagian 2 — Saat Proyek Keluarganya Kucabut, Mereka Menuduhku Kejam—Sampai Catatan Klinik dan Akses Apartemen Membongkar Kebohongan yang Lebih Memalukan di Balik Kehamilan Itu

Raka langsung merebut mikrofon ketika melihat Sinta membisikiku sesuatu.

“Jangan membuat drama baru!”

Aku mengangkat ponsel Sinta.

“Drama? Aku bahkan belum mulai.”

Bu Ratih maju dengan wajah merah.

“Nadira, hari ini sudah cukup memalukan. Kamu boleh membatalkan akad, tapi jangan memfitnah keluarga kami.”

Aku menunjukkan salinan invoice klinik yang baru dikirim tim legal. Pemeriksaan dilakukan enam bulan setelah Ardi meninggal. Ada biaya konsultasi kandungan, tes darah, dan paket prenatal.

Kolom penanggung jawab tertulis jelas: Raka Wiratama.

Raka tertawa sinis.

“Aku yang mengurus karena Maya sendirian. Itu tidak membuktikan apa-apa.”

“Benar,” kataku. “Satu invoice belum membuktikan apa-apa.”

Wajahnya sedikit lega.

“Karena itu aku minta timku mengecek hal lain.”

Dua minggu lalu, sebelum acara, staf keamanan apartemen milikku di Jakarta sempat menanyakan mengapa kartu akses cadangan yang pernah kupinjamkan kepada Raka sering dipakai tengah malam.

Saat itu aku mengabaikannya.

Aku terlalu sibuk mengurus merger dan persiapan pernikahan.

Sekarang semuanya terasa menjijikkan.

Sinta membuka data log akses.

Selama empat bulan terakhir, kartu Raka masuk ke unit yang selama ini kutempati ketika bekerja di Jakarta sebanyak dua puluh tiga kali antara pukul sebelas malam dan tiga pagi.

Masalahnya, pada sebagian besar tanggal itu aku sedang di Surabaya.

Dan kamera lobi menunjukkan Raka tidak datang sendirian.

Maya ada bersamanya.

Salah satu tanggalnya membuat tenggorokanku terasa pahit.

Malam ulang tahunku.

Raka saat itu mengirim pesan bahwa ia harus menemani ayahnya bertemu kreditur dan tidak bisa datang makan malam denganku.

Ternyata ia menghabiskan malam itu di apartemenku sendiri bersama Maya.

Aku tidak menampilkan videonya di layar besar. Aku tidak perlu mempermalukan diriku sendiri lebih jauh.

Cukup kutunjukkan tangkapan waktu dan catatan akses kepada ayah Raka.

Tangannya langsung gemetar.

Pak Hendra menatap anaknya.

“Kamu bilang kamu cuma mengantar Maya kontrol.”

Raka membalas,

“Ayah jangan ikut-ikutan percaya omongannya!”

Maya mulai menangis.

Tangis yang terlalu rapi.

“Semua orang sudah menghakimi saya. Saya cuma perempuan hamil yang kehilangan suami.”

Aku memandangnya.

“Kalau begitu jawab satu hal sederhana. Ayah biologis anakmu siapa?”

Ia diam.

Raka berdiri di depannya.

“Dia tidak wajib menjawab pertanyaanmu!”

Aku mengangguk.

“Tidak wajib. Dan aku juga tidak wajib menyelamatkan perusahaan kalian.”

Pada saat yang sama, ponsel ayah Raka berdering.

Ia mengangkatnya.

Wajahnya berubah dalam hitungan detik.

“Apa? Bank menarik kembali persetujuan restrukturisasi?”

Ia menoleh kepadaku dengan mata membesar.

Tentu saja.

Restrukturisasi itu bergantung pada surat dukungan dan kontrak dari grupku.

Tanpa keduanya, Wiratama Logistik kembali menjadi perusahaan dengan utang jatuh tempo, armada yang sebagian diagunkan, dan arus kas yang tidak cukup membayar vendor bulan depan.

Bu Ratih tiba-tiba memeluk lenganku.

“Dira, Mama minta maaf. Kita bicarakan baik-baik. Raka sedang bingung karena kasihan pada Maya.”

Aku menatap tangannya sampai ia melepasnya.

“Lima menit lalu Ibu bilang aku gila.”

Ia pucat.

Raka justru semakin marah.

“Biarkan saja! Aku bisa cari investor lain.”

Aku mendekat setengah langkah.

“Silakan.”

Lalu aku menyerahkan cincin pertunangan kepadanya.

“Tapi sebelum kamu mencari investor, sebaiknya cari pengacara.”

Senyumnya hilang.

Aku memberi isyarat kepada Sinta.

Ia membuka satu dokumen lain.

Bukan soal kehamilan.

Bukan soal perselingkuhan.

Ini jauh lebih buruk.

Selama proses due diligence untuk kontrak distribusi, tim audit grupku menemukan tiga invoice pengadaan truk senilai total Rp14,7 miliar yang dicatat sebagai pembelian baru.

Nomor rangkanya ternyata milik armada lama.

Uangnya keluar ke perusahaan vendor yang baru berdiri delapan bulan lalu.

Direkturnya adalah sepupu Maya.

Lebih buruk lagi, salah satu pembayaran dilakukan hanya dua hari setelah Raka menandatangani surat pernyataan kepada bank bahwa perusahaan tidak mempunyai transaksi pihak terafiliasi yang belum diungkap.

Aku menatap Raka.

“Kalau kamu pikir aku membatalkan pernikahan hanya karena kamu tidur dengan kakak iparmu, kamu salah.”

Raka membeku.

“Aku juga membatalkannya karena calon suamiku tampaknya memakai perusahaan keluarganya sendiri sebagai mesin uang.”

Pak Hendra meraih dokumen itu dengan tangan gemetar.

Ia membaca satu halaman, lalu halaman berikutnya.

Wajahnya berubah dari pucat menjadi abu-abu.

“Akun otorisasi kedua untuk transfer ini milikmu,” katanya kepada Raka.

Raka tidak menjawab.

Maya mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi berdiri dekat dengannya.

Lalu Pak Hendra mengangkat kepala dan menatap anak bungsunya seperti baru pertama kali melihat siapa sebenarnya laki-laki itu.

“Berapa banyak uang perusahaan yang kamu ambil, Raka?”

Raka membuka mulut.

Sebelum ia sempat menjawab, Maya tiba-tiba berkata dengan suara bergetar,

“Pak… saya punya sesuatu yang belum pernah Raka ceritakan kepada keluarga.”

Semua kepala menoleh kepadanya.

Bagian 3 — Mereka Datang Memohon Dana Penyelamat, Namun Aku Membuka Bukti Terakhir—Dan Raka Kehilangan Perusahaan, Warisan, serta Perempuan yang Dibela Mati-matian

Tiga hari setelah pernikahan yang gagal itu, keluarga Wiratama datang ke kantorku.

Bukan dengan pakaian pesta.

Dengan wajah yang sudah kehilangan kesombongan.

Pak Hendra duduk paling depan. Bu Ratih menangis sejak masuk. Raka berdiri di belakang mereka dengan mata merah. Maya tidak datang bersama mereka.

“Aku tidak meminta kontraknya dikembalikan,” kata Pak Hendra pelan. “Aku cuma minta waktu tiga bulan supaya perusahaan tidak langsung ambruk. Ada ratusan karyawan.”

Itu satu-satunya kalimat mereka yang membuatku berhenti.

Karyawan memang bukan pihak yang bersalah.

Aku sudah memikirkan itu.

“Aku tidak akan menyelamatkan keluarga kalian,” kataku. “Tapi aku juga tidak akan membiarkan staf operasional ikut tenggelam karena keputusan direksi.”

Aku mendorong satu map ke meja.

Grup Prameswari bersedia mengambil alih dua rute distribusi dan merekrut langsung sebagian pengemudi serta staf gudang. Vendor kecil yang tagihannya belum dibayar akan dimasukkan dalam skema penyelesaian melalui kurator jika proses restrukturisasi gagal.

Yang tidak akan kulakukan adalah memberikan satu rupiah pun kepada Raka.

Bu Ratih menatapku seolah ingin protes, tetapi Pak Hendra menunduk.

Ia tahu posisi mereka sudah habis.

Lalu pintu ruang rapat terbuka.

Maya masuk bersama seorang pengacara.

Raka langsung berdiri.

“Maya?”

Perempuan itu tidak melihatnya.

Ia duduk di sisi lain meja dan meletakkan surat hasil tes paternitas prenatal noninvasif yang dilakukan secara legal melalui laboratorium klinis.

Ayah biologis janinnya adalah Raka.

Ruangan diam.

Bu Ratih menutup mulut.

Pak Hendra memejamkan mata.

Raka menatap Maya.

“Kamu bilang kita tidak perlu mengaku sekarang.”

Maya tertawa pendek.

“Karena kamu bilang setelah menikahi Nadira, kamu akan dapat akses ke grupnya. Kamu janji perusahaan aman, rumah aman, dan aku tidak akan kekurangan apa pun.”

Raka memucat.

Aku tidak merasa menang mendengar itu.

Aku hanya merasa muak.

Maya menjelaskan apa yang hampir ia katakan di ballroom. Setelah acara batal, ia mengetahui tiga transfer besar dari rekening vendor milik sepupunya masuk ke rekening pribadi Raka. Namanya dipakai sebagai jembatan untuk menutupi penggelapan.

Raka pernah meyakinkannya bahwa transaksi itu hanya “memindahkan dana keluarga sementara”. Namun setelah audit terbuka, sepupunya panik dan menyerahkan riwayat transfer.

Maya datang bukan untuk membela diri.

Ia datang untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Pengacaranya menyerahkan salinan bukti transfer kepada Pak Hendra dan tim legalku.

Raka membanting telapak tangan ke meja.

“Kalian semua cuma mau menjadikanku kambing hitam!”

Pak Hendra berdiri.

“Tidak. Kamu yang menjadikan keluargamu tameng.”

Untuk pertama kalinya, Bu Ratih tidak membela putranya.

Ia hanya duduk sambil menangis, mungkin baru sadar bahwa kesombongan yang selama ini ia pelihara sudah menghancurkan rumahnya sendiri.

Aku tidak perlu menjadi orang yang menghukum Raka.

Bukti-bukti itu akan berjalan melalui jalurnya sendiri.

Dua bulan kemudian, bank menolak restrukturisasi lama. Dewan keluarga mencopot Raka dari seluruh jabatan di Wiratama Logistik. Pak Hendra menjual sebagian aset pribadi untuk membayar kewajiban paling mendesak, sementara proses audit forensik dan laporan pidana atas dugaan penggelapan berjalan.

Perusahaan tidak langsung tutup. Setelah negosiasi dengan kreditur, operasinya diperkecil. Puluhan karyawan yang sebelumnya terancam kehilangan penghasilan diterima di unit distribusi grupku setelah proses seleksi, bukan karena belas kasihan kepada keluarga Wiratama, tetapi karena mereka memang pekerja berpengalaman.

Maya pindah ke rumah kakaknya di Malang. Ia tetap mempertahankan kehamilannya, tetapi hubungannya dengan Raka berakhir bahkan sebelum anak itu lahir. Melalui pengacaranya, ia menuntut Raka memenuhi tanggung jawab hukum terhadap anak mereka tanpa lagi meminta tempat dalam keluarga yang dibangun dari kebohongan.

Dan Raka?

Ia beberapa kali mengirim pesan.

Mulai dari marah, memohon, sampai mengatakan bahwa semua ini terjadi karena aku “terlalu keras”.

Pesan terakhirnya hanya satu kalimat:

“Kalau hari itu kamu tidak membatalkan semuanya, hidup kita tidak akan sehancur ini.”

Aku menghapusnya.

Hidup “kita” tidak hancur.

Hidup yang ia rancang dengan uangku gagal terwujud.

Enam bulan kemudian, aku kembali ke ballroom hotel yang sama.

Bukan untuk menikah.

Grupku mengadakan acara penghargaan bagi mitra logistik baru, termasuk banyak mantan karyawan Wiratama yang kini bekerja di unit distribusi kami.

Sinta berdiri di sampingku dan berbisik,

“Bu, lucu juga. Dulu orang-orang mengira Ibu yang rugi karena gagal menikah.”

Aku melihat panggung tempat aku pernah melepas veil.

“Tidak,” jawabku. “Aku justru beruntung dia menunjukkan wajah aslinya sebelum akad.”

Malam itu aku pulang tanpa gaun pengantin, tanpa cincin, dan tanpa laki-laki yang merasa perempuan harus mengecil agar egonya terlihat besar.

Aku pulang membawa sesuatu yang jauh lebih penting.

Namaku sendiri.

Bisnisku sendiri.

Dan kehidupan yang tidak lagi harus dibagi dengan kebohongan siapa pun.