BAGIAN 2
Bowo adalah orang pertama yang menjawab.
“Jangan bikin besar dulu.”
Aku masuk ke halaman.
Dua pekerja yang sedang mengangkat kursi saling pandang.
Rina berkata kepada mereka, “Mas, lanjut dulu. Yang meja kecil juga dibawa.”
Aku menunggu sampai mereka masuk.
Baru kemudian aku menghadap Bowo.
“Aku tanya sekali lagi. Agunan apa?”
Bowo mengusap leher.
“Pinjaman usaha lama.”
“Pinjaman yang mana?”
Dia tidak segera menjawab.
Rina yang menjawab.
“Yang enam tahun lalu.”
Aku menatapnya.
“Sudah lunas.”
“Belum.”
“Kak Bowo bilang sudah hampir selesai.”
Rina mengangkat dagu sedikit.
“Hampir selesai bukan selesai.”
Bowo mulai bicara cepat.

“Waktu pandemi usahaku kena. Aku restruktur. Habis itu sempat bagus lagi, tapi tahun lalu dua pelanggan besar pindah vendor. Sekarang cuma lagi seret.”
“Dan rumah ini masih jaminannya?”
“Iya.”
Aku menatap Rina.
“Kamu tahu?”
Dia menertawakan pertanyaanku.
“Rumahku yang didatangi orang bank, Man.”
Aku menahan napas.
Enam tahun lalu usaha percetakan Bowo membutuhkan tambahan modal.
Nilainya Rp620 juta.
Waktu itu aku masih menjadi kepala pengadaan di perusahaan distribusi makanan, dan penghasilanku jauh lebih stabil daripada kakakku.
Bowo tidak punya agunan yang cukup.
Rumah kami punya.
Rina menolak selama hampir dua minggu.
Aku yang membujuk.
Bukan sekali.
Berkali-kali.
Aku mengatakan Bowo orang yang membiayai kuliahku ketika Bapak meninggal.
Aku mengatakan bisnisnya sudah berjalan belasan tahun.
Aku mengatakan pinjaman hanya lima tahun.
Yang paling kuingat, aku pernah berkata:
“Kalau keluarga sendiri tidak saling bantu, mau minta tolong ke siapa?”
Sekarang kalimat itu terdengar berbeda.
“Berapa tunggakannya?” tanyaku.
Bowo menjawab, “Sekitar enam puluh satu.”
“Juta?”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Kamu baru menikah.”
Aku hampir tertawa.
“Itu alasanmu?”
“Aku pikir bisa kuatasi.”
Rina masuk ke rumah.
Aku mengikutinya.
Ruang keluarga terlihat lebih kosong daripada terakhir kali aku datang.
Rak buku hilang.
Dua lukisan tidak ada.
Meja sudut juga sudah tidak di tempatnya.
Di lantai terdapat enam kardus.
“Apa kamu jual semua ini buat bayar utangnya?” tanyaku.
Rina berbalik.
“Tidak.”
“Terus?”
“Untuk pindah.”
Aku terdiam.
“Pindah ke mana?”
“Belum tahu.”
Bowo masuk di belakangku.
“Makanya jangan panik. Belum tentu sampai begitu.”
Rina menatapnya.
“Mas Bowo, tiga bulan ini setiap kali datang, kalimatmu selalu ‘belum tentu’.”
Dia membuka laci televisi dan mengambil amplop putih.
Tidak menyerahkannya kepadaku.
Hanya menunjukkannya.
“Aku sudah punya cukup uang untuk sewa rumah kecil setahun kalau memang harus keluar cepat. Aku tidak mau hari terakhir baru sibuk cari tempat.”
Aku membaca logo bank di sudut amplop.
Tidak mengambilnya.
“Kenapa kamu tidak telepon aku?”
Rina memasukkan kembali amplop itu.
“Untuk apa?”
“Karena aku ikut tanda tangan.”
“Aku pernah telepon kamu soal pinjaman ini waktu kita masih menikah.”
“Itu dulu.”
“Tepat.”
Dia menutup laci.
“Dulu saja kamu tidak mau dengar. Kenapa aku harus yakin sekarang akan berbeda?”
Aku hendak menjawab ketika pintu depan terbuka.
Nisa masuk membawa dua kantong plastik.
Dia berhenti begitu melihatku.
“Papa?”
Aku memperhatikannya.
Kaosnya sederhana, rambutnya diikat, dan di bahunya ada tas kain yang tidak kukenal.
“Kamu tahu soal ini?”
Nisa tidak menjawab.
“Nis.”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan.”
Aku merasa sesuatu menekan tenggorokanku.
“Kamu tidak bilang ke Papa.”
Dia meletakkan kantong di lantai.
“Aku pernah coba.”
“Kapan?”
“Waktu minta uang daftar ulang.”
Aku mengerutkan dahi.
“Tiga bulan lalu?”
Dia mengangguk.
Aku ingat.
Nisa meminta tambahan Rp9 juta.
Aku sedang menghitung biaya praktik industri Faris dan renovasi kecil rumah.
Aku menjawab bahwa aku sudah mengirim uang bulanan dan akan membayar UKT pada jadwal berikutnya.
Aku bahkan menambahkan:
Kamu harus mulai belajar membedakan kebutuhan dan keinginan.
Saat itu dia hanya menjawab:
Iya, Pa.
Aku menatapnya sekarang.
“Kenapa tidak bilang terus terang?”
Nisa mengangkat bahu.
“Papa juga tidak tanya kenapa aku butuh.”
“Itu bukan jawaban.”
“Papa sudah memutuskan jawabannya sebelum aku sempat jelasin.”
Bowo menyela.
“Ini jangan melebar dulu. Masalahnya sederhana. Aku butuh nutup tunggakan. Kalau Man bantu Rp61 juta, aku punya waktu buat beresin sisanya.”
Aku menoleh.
“Berapa sisa pinjamannya?”
Bowo menghindari mataku.
“Ya masih ada.”
“Berapa?”
“Dua ratusan.”
“Dua ratus berapa?”
Rina menjawab lagi.
“Angka pelunasan terakhir sekitar tiga ratus delapan juta termasuk tunggakan dan biaya.”
Aku menatap kakakku.
“Kamu minta aku bayar tunggakan supaya utangnya lanjut?”
“Supaya usaha jalan.”
“Dan rumah tetap jadi jaminan?”
“Untuk sementara.”
Sebelum aku sempat menjawab, terdengar klakson kecil dari depan.
Dedi masuk beberapa detik kemudian.
Dia membawa tali pengikat barang di bahu.
Melihatku, ia berhenti.
“Pantas mobilmu di luar.”
Bowo langsung tampak tidak nyaman.
Dedi memandang kursi-kursi yang akan diangkut.
“Yang dua ini jadi dibawa juga?”
Rina mengangguk.
“Jadi.”
Aku berkata, “Ded, kamu tahu soal utang ini?”
Dia tidak menjawab langsung.
Bowo berkata, “Tidak usah libatkan orang lain.”
Dedi melepas tali dari bahu.
“Kalau aku tidak dilibatkan, minggu lalu jangan minta aku nilai mesinmu.”
Aku melihat Bowo.
“Mesin apa?”
Bowo menutup mata sebentar.
Dedi berkata, “Man, sebelum kamu transfer satu rupiah pun, tanya kakakmu berapa harga mesin offset dua warnanya.”
“Dedi.”
“Dan pickup box.”
Bowo maju satu langkah.
“Itu alat kerja.”
“Aku tahu.”
“Kalau dijual, usahaku pincang.”
Dedi memandangnya.
“Pincang berbeda dengan mati.”
Aku berkata, “Berapa nilainya?”
Dedi menghela napas.
“Kalau pembeli yang kemarin masih mau, mesin sekitar Rp230 sampai Rp240 juta. Pickup mungkin delapan puluhan.”
Aku menghitung cepat.
Jumlahnya cukup dekat dengan angka pelunasan.
Aku menatap kakakku.
“Kamu punya aset untuk melunasi?”
Wajah Bowo memerah.
“Kalau aku jual itu, kapasitas produksi turun separuh.”
“Jadi?”
“Sebelas orang kerja di tempatku, Man.”
Suara Bowo meninggi.
“Enam di antaranya masih keluarga kita sendiri. Anak Pakde, anak Bulik, keponakan Ibu. Kalau mesin itu keluar, aku harus kurangi shift. Mungkin harus memberhentikan orang.”
Dia menunjuk lantai.
“Kalau usaha itu mati, bukan cuma aku yang kena.”
Nisa berdiri di dekat pintu.
Rina tidak bergerak.
Bowo menatapku seolah meminta aku melihat sesuatu yang selama ini tidak kulihat.
Kemudian dia berkata pelan:
“Rumah ini ditempati dua orang. Usahaku menghidupi sebelas keluarga. Kalau aku masih punya waktu untuk menyelamatkan semuanya, salah kalau aku mencoba?”
Tidak ada seorang pun yang menjawab.
Dan untuk pertama kalinya aku memahami bahwa kakakku tidak merasa sedang mempertaruhkan rumah orang lain.
Dia merasa sedang memilih keluarga mana yang lebih pantas menanggung risiko.
Menurut Anda, apakah alasan Bowo bisa dibenarkan karena banyak keluarga bergantung pada usahanya?
BAGIAN 3
“Dua orang itu Ibu dan aku.”
Suara Nisa tidak keras.
Justru karena itu semua orang mendengarnya.
Bowo menoleh kepadanya.
“Nisa, Om tidak bermaksud begitu.”
“Tapi Om ngomong begitu.”
“Aku cuma menjelaskan situasinya.”
“Situasinya memang begitu.”
Nisa menyandarkan punggung ke dinding.
“Kalau percetakan Om gagal, banyak orang kehilangan kerja. Kalau rumah ini hilang, yang kehilangan tempat tinggal cuma kami berdua. Jadi lebih murah.”
“Nis.”
Aku mencoba menghentikannya.
Dia menatapku.
“Apa?”
Aku tidak punya jawaban.
Bowo mengangkat kedua telapak tangan.
“Aku bukan sedang menghitung manusia.”
Rina akhirnya bicara.
“Tidak, Mas. Justru itu yang Mas lakukan.”
“Rin, aku sudah bilang aku akan bereskan.”
“Dengan apa?”
“Pesanan tahun ajaran baru masuk bulan depan.”
“Kalau masuk.”
“Sudah ada pembicaraan.”
“Kalau jadi.”
Bowo mengembuskan napas keras.
“Kamu pikir aku tidur nyenyak?”
“Aku tidak tahu bagaimana Mas tidur.”
Rina menunjuk ke arah kamar.
“Aku cuma tahu tiga bulan terakhir aku tidur dengan amplop bank di laci.”
Bowo terdiam.
Aku melihat wajah kakakku.
Untuk pertama kali sejak tiba, kemarahanku sedikit berubah bentuk.
Aku masih marah.
Tetapi aku juga mengenal lelaki di depanku.
Ketika Bapak meninggal, Bowo berusia dua puluh sembilan tahun.
Aku baru dua puluh tiga.
Dia yang membayar semester terakhir kuliahku.
Dia yang memberi Ibu uang belanja.
Dia yang mengambil alih percetakan kecil Bapak dan mengubahnya menjadi usaha yang cukup besar untuk mengirim dua anaknya kuliah.
Aku pernah melihatnya tidur di lantai toko karena mesin harus dijaga semalaman.
Aku juga tahu enam pekerjanya memang masih keluarga kami.
Masalahnya, selama bertahun-tahun semua hal itu berubah menjadi semacam mata uang yang tidak pernah selesai dihitung.
Bowo pernah membantu.
Maka kami membantu Bowo.
Kemudian dia membantu lagi.
Kemudian kami kembali merasa berutang.
Begitu terus sampai tidak ada yang tahu bantuan terakhir sebenarnya membayar bantuan yang mana.
“Kak,” kataku, “berapa lama kamu sudah menunggak?”
“Tidak penuh. Ada pembayaran masuk.”
“Berapa lama?”
Dia menatap lantai.
“Lima bulan.”
Rina tersenyum pahit.
“Sekarang keluar juga angkanya.”
“Kok lima bulan tidak bilang?”
Bowo mengangkat kepala.
“Karena tiga bulan pertama aku masih bisa tutup.”
“Dengan apa?”
“Pinjam dari supplier.”
Aku tertawa pendek.
“Kamu tutup utang bank dengan utang supplier?”
“Hanya arus kas.”
Aku mendengar diriku sendiri dulu.
Kalimat yang hampir sama pernah kukatakan kepada Rina.
Hanya sementara.
Hanya untuk lewat tiga bulan.
Hanya sampai order besar masuk.
Anehnya, kata hanya bisa menampung banyak masalah selama orang yang mengucapkannya tidak tidur di rumah yang dijadikan jaminan.
Aku bertanya, “Kenapa mesin tidak dijual?”
Bowo langsung menjawab.
“Sudah kubilang.”
“Bukan jawaban tentang pekerja. Jawaban tentang kamu.”
Rahangnya menegang.
“Apa maksudmu?”
“Kalau kamu jual mesin, apa yang paling kamu takutkan?”
“Usaha mengecil.”
“Lalu?”
“Pendapatan turun.”
“Lalu?”
“Jangan psikolog-psikologan sama aku.”
Aku tidak bergerak.
Bowo menatapku lama.
Kemudian ia berkata, “Kalau percetakan itu tinggal separuh, orang akan bilang aku gagal.”
Tidak ada seorang pun menyela.
Dia tertawa kecil.
“Puas?”
Aku tidak menjawab.
“Sejak Bapak meninggal, orang datang kepadaku kalau butuh uang. Orang datang kalau anaknya perlu kerja. Kalau ada hajatan, aku yang nombok. Kalau Ibu masuk rumah sakit, aku dulu yang ditanya.”
“Kak…”
“Sekarang kamu bilang jual mesin.”
Dia menepuk dadanya.
“Kamu tahu artinya?”
“Artinya usaha harus mengecil.”
“Artinya orang akan lihat Bowo yang katanya paling bisa ngurus keluarga ternyata tidak bisa ngurus usaha sendiri.”
Rina berkata, “Jadi rumahku harus menanggung harga diri Mas?”
Bowo memandangnya tajam.
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Mas tidak perlu mengatakannya.”
Aku berjalan ke kursi yang masih tersisa dan duduk.
Lututku terasa aneh.
Bukan lemas.
Lebih seperti tubuhku akhirnya berhenti berlari lebih cepat daripada pikiranku.
Aku menatap Nisa.
“Kuliahmu bagaimana?”
Dia langsung membuang pandangan.
“Nisa.”
“Aman.”
Kalimat itu membuatku kesal.
“Semua orang hari ini bilang aman. Papa tanya kuliahmu bagaimana.”
Rina menatap putri kami.
“Nis.”
Nisa meremas tali tasnya.
“Aku ambil cuti.”
Aku berdiri lagi.
“Apa?”
“Satu semester.”
“Kapan?”
“Minggu lalu sudah disetujui.”
Kali ini aku benar-benar tidak bicara beberapa detik.
“Kenapa?”
“Banyak.”
“Jelaskan.”
Nisa terlihat ingin tertawa, tetapi wajahnya tidak berubah.
“Sekarang Papa mau dengar?”
Kalimat itu mengenai tempat yang tidak bisa kubalas dengan marah.
Aku duduk lagi.
“Iya.”
Dia menarik napas.
“Kalau rumah ini sampai harus dikosongkan, Ibu butuh bantuan.”
“Aku bisa bantu.”
“Itu kalimat pertama Papa.”
“Apa salahnya?”
“Papa belum dengar aku selesai.”
Aku menutup mulut.
Nisa melanjutkan.
“Aku juga sudah ketinggalan banyak tugas karena beberapa bulan terakhir kerja malam.”
Aku menoleh.
“Kerja apa?”
“Admin toko daring punya teman.”
“Kenapa kamu kerja malam?”
“Buat nabung.”
“Uang bulanan dari Papa?”
“Ada.”
“Terus?”
“Bukan berarti semua masalah selesai karena setiap tanggal tiga ada empat juta masuk.”
Aku menatap wajah anakku.
Empat juta itu tiba-tiba terasa kecil.
Bukan nilainya.
Maknanya.
Selama sebelas bulan aku menganggap transfer itu bukti bahwa aku tetap hadir.
Padahal bank juga bisa mentransfer uang.
Dan bank tidak pernah menganggap dirinya ayah siapa pun.
“Aku minta tambahan sembilan juta tiga bulan lalu,” katanya. “Waktu itu bukan buat jalan-jalan. Ada biaya daftar ulang yang harus dibayar lebih cepat karena aku mau ambil mata kuliah studio.”
“Aku bilang akan bayar UKT.”
“UKT beda.”
Aku memijat kening.
“Kenapa kamu tidak jelaskan?”
“Karena jawaban Papa langsung panjang.”
Aku masih ingat pesan yang kukirim.
Tentang belajar mengatur uang.
Tentang Faris yang juga butuh biaya praktik.
Tentang semua anak harus belajar bahwa orang tua tidak punya pohon uang.
Aku mengucapkannya dengan perasaan seorang ayah yang sedang mendidik anak.
Aku baru sadar sekarang aku tidak menanyakan satu hal paling sederhana.
Untuk apa?
“Aku tidak pernah minta kamu pilih antara aku dan Faris,” kata Nisa.
“Aku tahu.”
“Tidak kelihatan.”
Bowo bergeser tidak nyaman.
Aku berkata, “Ini bukan urusan Kak Bowo dulu.”
“Baik.”
Dia menyandarkan tubuh ke kusen.
Rina berkata kepada Nisa, “Kamu tidak harus berhenti kuliah karena Ibu.”
“Aku tahu.”
“Semester depan masuk lagi.”
Nisa mengangguk.
Aku berkata, “Papa bayar.”
Dia menatapku.
Aku langsung menambahkan, “Bukan sekarang jawabnya. Kita bicara nanti.”
Untuk pertama kalinya sejak aku datang, tatapan Nisa sedikit melunak.
Bowo kembali ke masalah awal.
“Man, sekarang kamu sudah tahu semuanya. Aku tidak minta tiga ratus juta. Aku cuma minta bantu tunggakan.”
Aku memandangnya.
“Supaya rumah tetap jadi jaminan?”
“Sementara.”
“Berapa lama sementara?”
“Beri aku sampai akhir tahun.”
Sekarang bulan Mei.
Tujuh bulan.
Aku memikirkan tabunganku.
Aku punya uang.
Bukan Rp300 juta dalam bentuk tunai, tetapi Rp61 juta tidak akan menghancurkanku.
Aku bisa mentransfer siang itu juga.
Enam tahun lalu, itulah yang akan kulakukan.
Tiga tahun lalu juga.
Bahkan mungkin pagi tadi.
Membayar adalah cara tercepat menghilangkan suara orang marah.
Masalahnya, masalah yang dibayar sering datang kembali memakai baju berbeda.
Aku menatap Rina.
Dia tidak berkata apa-apa.
Tetapi aku tahu apa yang sedang ditunggunya.
Bukan uangku.
Keputusanku.
“Aku tidak akan bayar tunggakan itu.”
Bowo berdiri tegak.
“Apa?”
“Aku tidak akan kasih Rp61 juta.”
“Man.”
“Aku mau kita ke bank besok.”
“Buat apa?”
“Lihat angka pelunasan resmi. Lihat prosedur pelepasan rumah. Setelah itu mesin dan pickup dijual.”
Bowo tertawa tidak percaya.
“Kamu gampang bicara karena bukan usahamu.”
“Benar.”
“Sebelas keluarga itu bagaimana?”
“Usahamu tetap ada.”
“Dengan mesin separuh?”
“Berarti kapasitasnya turun.”
“Terus aku memberhentikan orang?”
Aku menatap kakakku.
“Kalau memang harus.”
Wajahnya berubah.
“Enak sekali.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Tidak enak. Tapi pekerjamu tidak boleh digaji dengan risiko rumah Rina tanpa persetujuannya.”
“Dia dulu setuju rumah dijaminkan.”
Rina memandangku.
Aku menarik napas.
“Dia setuju karena aku yang terus membujuk.”
Bowo membuka mulut.
Aku tidak membiarkannya bicara.
“Dan aku salah.”
Rina menatapku lama.
Aku belum pernah mengucapkan kalimat itu tentang pinjaman tersebut.
Bahkan ketika kami masih menikah.
Saat dia marah, aku selalu menjelaskan kenapa keputusan itu masuk akal.
Tidak pernah apakah keputusan itu adil.
Bowo berkata, “Kalau kamu merasa bersalah, ya bantu bayar.”
“Nah.”
Aku berdiri.
“Itu persis masalahnya.”
“Apa?”
“Setiap kali aku merasa bersalah, aku kasih uang. Lalu semua orang diam. Masalahnya tetap hidup.”
Bowo menggeleng.
“Kamu sekarang enak. Punya rumah baru, istri baru, anak baru.”
Aku mengerutkan dahi.
“Jangan bawa Faris.”
“Kenapa? Faktanya begitu.”
“Faris tidak ada hubungannya.”
“Makanya. Kamu bisa mulai hidup dari nol. Aku tidak.”
Aku mendengar sesuatu di balik kata-katanya.
Bukan hanya marah.
Iri.
Mungkin lelah.
Mungkin perasaan bahwa aku selalu menjadi adik yang boleh pergi karena ada kakak yang tinggal menjaga semuanya.
“Kak,” kataku lebih pelan, “aku tidak minta kamu jadi kepala semua orang.”
“Tapi waktu kalian butuh aku, kalian senang ada kepala keluarga.”
Aku tidak membantah.
Karena itu benar.
Dedi yang sejak tadi diam akhirnya berkata, “Wo, pembeli mesin yang kemarin masih nunggu sampai Selasa.”
Bowo tidak menoleh.
“Aku belum setuju jual.”
“Ya.”
Dedi memasukkan tangan ke saku.
“Tapi jangan bilang kamu tidak punya pilihan.”
Bowo mengambil kunci mobilnya dari meja.
“Aku pulang.”
“Kita belum selesai,” kataku.
“Aku selesai.”
“Besok jam sembilan ke bank.”
Dia tertawa.
“Kamu sekarang ngatur aku?”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Aku cuma bilang aku datang. Kalau Kakak tidak datang, aku tetap akan minta penjelasan tentang agunan yang namaku ikut tercantum dalam dokumen lama.”
Dia berhenti di pintu.
“Kamu mau bikin aku malu di bank?”
Aku hampir menjawab dengan marah.
Kemudian aku melihat pola yang sama lagi.
Malu.
Gengsi.
Keluarga.
Tiga kata yang berkali-kali membuat kami memilih jalan paling mahal.
“Aku tidak mau bikin Kakak malu,” kataku.
“Tapi aku juga tidak akan menjaga harga diri Kakak dengan rumah orang lain.”
Bowo pergi tanpa pamit.
Setelah suara mobilnya hilang, Rina mulai melipat kardus.
Aku berdiri di dekatnya.
“Rin.”
“Hm?”
“Besok ikut.”
“Aku kerja.”
“Aku jemput.”
Dia tertawa kecil.
“Sebelas bulan cerai, baru sekarang kamu ingat aku bisa punya jadwal sendiri.”
Aku menerima sindiran itu.
“Jam berapa bisa?”
Dia berhenti melipat.
“Setengah sebelas.”
“Oke.”
Aku ingin mengatakan sesuatu lagi.
Permintaan maaf mungkin.
Tetapi kali ini aku tidak ingin mengucapkan maaf hanya karena suasana terasa berat.
Aku ingin tahu dulu apa sebenarnya yang harus kumintakan maaf.
Aku pulang menjelang sore.
Lela sedang menyetrika seragam Faris.
Dia langsung tahu ada sesuatu.
“Ketemu Rina?”
Aku duduk di ujung sofa.
“Dan Kak Bowo.”
Aku menceritakan semuanya.
Tidak sekaligus.
Pelan-pelan.
Tentang pinjaman.
Tentang rumah.
Tentang mesin.
Tentang Nisa mengambil cuti.
Ketika sampai pada bagian sembilan juta, aku berhenti.
Lela mematikan setrika.
“Jadi waktu itu bukan buat belanja?”
Aku menggeleng.
Lela duduk di kursi seberang.
“Aku pernah bilang ke kamu biaya praktik Faris bisa dicicil.”
“Aku tahu.”
“Kamu yang bilang jangan, sekalian saja dibayar.”
“Iya.”
“Jadi jangan pakai Faris sebagai alasan kenapa uangmu waktu itu sempit.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak menyalahkan Faris.”
“Tidak ke aku.”
Lela melipat tangan.
“Tapi mungkin ke dirimu sendiri.”
Aku tidak suka kalimat itu.
Mungkin karena benar.
“Aku cuma ingin semuanya teratur.”
“Tidak.”
Dia menggeleng.
“Kamu ingin hidupmu yang sekarang kelihatan rapi.”
Aku diam.
Lela melanjutkan, “Setiap ada masalah dari rumah lama, kamu memperlakukannya seperti surat salah alamat.”
“Aku tetap bayar kebutuhan Nisa.”
“Arman.”
Nada suaranya tidak tinggi.
“Anakmu tidak butuh laporan transfer. Dia butuh bapaknya bertanya dua kali ketika jawaban pertama terdengar aneh.”
Aku menunduk.
Dari kamar belakang terdengar suara Faris sedang menonton video tutorial mesin.
Lela berkata, “Dan aku tidak mau suatu hari Nisa benci Faris karena kamu selalu membandingkan kebutuhan mereka. Anak itu tidak pernah minta kamu memilih.”
“Aku tahu.”
“Mulai sekarang benar-benar tahu.”
Aku mengangguk.
Malam itu aku menelepon Nisa.
Bukan pesan.
Dia mengangkat pada dering kelima.
“Halo.”
“Papa cuma mau tanya satu hal.”
“Apa?”
“Kalau kamu tidak cuti, semester ini seharusnya ambil mata kuliah apa?”
Dia diam.
Lalu menjawab, “Studio Perancangan Tiga, struktur, sama dua pilihan.”
Aku bertanya tentang jadwalnya.
Tentang kenapa dia suka studio perancangan.
Tentang kerja malamnya.
Aku tidak menawarkan uang selama hampir dua puluh menit.
Ternyata sulit.
Ada banyak momen ketika lidahku hampir otomatis berkata:
Papa bayar.
Aku menahannya.
Ketika dia selesai bercerita, baru aku berkata, “Semester depan kalau kamu mau kembali, kita urus. Tapi kalau kamu butuh waktu lebih lama, bilang juga.”
“Papa marah aku cuti?”
“Marah.”
Dia diam.
“Aku marah karena Papa baru tahu sekarang.”
“Beda?”
“Sedikit.”
Untuk pertama kalinya malam itu, dia tertawa kecil.
Besoknya Bowo tidak muncul pada pukul sembilan.
Aku sudah menduganya.
Pukul sepuluh lewat dua puluh, dia mengirim pesan.
Aku otw.
Kami akhirnya bertemu di bank menjelang sebelas.
Rina datang sendiri dengan ojek daring.
Dia menolak ketika kutawarkan dijemput.
Petugas bank yang menangani kredit Bowo bernama Bu Melati.
Dia berhati-hati.
Tidak membuka data sampai semua dokumen dan pihak yang berwenang diperiksa.
Setelah hampir empat puluh menit, kami akhirnya mendapat gambaran yang jelas.
Angka pelunasan pada hari itu sedikit di bawah Rp309 juta.
Jika pinjaman dilunasi, proses administrasi pelepasan jaminan dapat dilakukan sesuai prosedur bank.
Tidak ada satu tombol yang membuat rumah langsung bebas hari itu juga.
Tetapi ada jalan yang jelas.
Aku bertanya tentang membayar tunggakan saja.
Bu Melati menjelaskan bahwa itu hanya akan memperbaiki posisi pembayaran sementara.
Jaminan tetap ada selama kewajiban belum diselesaikan.
Aku melihat Bowo.
Dia tidak menatapku.
Di parkiran bank, kami berdiri di bawah kanopi karena matahari terlalu terik.
Aku berkata, “Jadi tetap jual.”
Bowo menyalakan rokok.
Rina langsung menjauh setengah langkah.
“Kamu senang sekarang?”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Kamu dapat angka. Dapat bukti. Sekarang gampang menyuruh orang jual alat usaha.”
“Aku tidak senang.”
“Kelihatan.”
Aku hampir membalas.
Kemudian memutuskan tidak.
“Kak, kalau mesin itu dijual, berapa orang yang benar-benar harus dilepas?”
Bowo mengisap rokok.
“Mungkin empat.”
“Bukan sebelas?”
“Empat dulu.”
“Yang lain?”
“Shift dikurangi. Sebagian pekerjaan bisa dilempar ke vendor.”
Aku menatapnya.
Kemarin sebelas keluarga hampir menjadi alasan rumah Rina boleh tetap dijaminkan.
Hari ini ternyata konsekuensi langsungnya empat pekerja.
Tetap berat.
Tapi berbeda.
“Siapa empat orang itu?”
Bowo terlihat kesal.
“Kamu mau ikut atur pegawaiku juga?”
“Tidak.”
“Aku capek diatur orang yang tidak pernah berdiri di lantai produksi.”
Aku berkata pelan, “Aku juga capek diminta membayar masalah yang tidak pernah boleh kutanya.”
Dia menatapku.
Kami berdiri begitu beberapa detik.
Akhirnya Bowo membuang rokok ke tempat sampah logam.
“Aku pikir pesanan kalender sekolah akan masuk.”
“Masih mungkin.”
“Kalau mesin dijual, margin turun.”
“Berarti kamu harus pilih.”
“Aku benci cara kamu ngomong ‘pilih’ seolah ada pilihan bagus.”
“Kak.”
Aku menghela napas.
“Aku tidak bilang ada pilihan bagus.”
Itu mungkin kalimat paling jujur yang kuucapkan hari itu.
Sering kali keluarga kami bertengkar karena setiap orang ingin pilihan yang tidak menyakitkan.
Padahal kadang-kadang pilihan seperti itu memang tidak ada.
Dedi mempertemukan Bowo dengan calon pembeli mesin dua hari kemudian.
Aku tidak ikut.
Rina juga tidak.
Sore harinya Bowo meneleponku.
“Dua ratus tiga puluh lima.”
“Harga mesin?”
“Iya.”
“Pickup?”
“Delapan puluh dua. Ada orang Gresik mau lihat besok.”
Aku menunggu.
Bowo berkata, “Kamu tidak mau bilang apa?”
“Mau bilang apa?”
“Biasanya kamu bilang kurang sekian nanti kamu tambah.”
Aku menatap layar laptop di meja kantor.
“Sekarang tidak.”
Dia tertawa pendek.
“Berubah sekali.”
“Mungkin.”
“Enak ya belajar tegas setelah hidupmu aman.”
Kalimat itu masih menyakitkan.
Namun tidak lagi mengubah keputusanku.
“Kak, aku tetap bantu biaya Ibu seperti biasa. Aku tidak akan putus hubungan.”
“Tidak usah sok baik.”
“Aku juga tidak akan transfer uang usaha.”
Hening.
“Kalau ada biaya Ibu, kirim tagihannya ke aku atau aku bayar langsung.”
“Jadi kamu tidak percaya aku?”
“Untuk urusan usaha sekarang, tidak.”
Dia menutup telepon.
Malamnya grup WhatsApp keluarga mulai ramai.
Seorang sepupu bertanya apakah benar percetakan Bowo menjual mesin.
Lalu Bulik Retno menulis:
Sayang sekali kalau usaha peninggalan Bapak diperkecil.
Sepupu lain menjawab:
Padahal banyak yang cari makan dari situ.
Tidak ada yang menyebut namaku.
Itulah keahlian keluarga besar.
Mereka bisa menunjuk seseorang tanpa menulis siapa yang ditunjuk.
Aku tidak membalas.
Besok paginya Ibu menelepon.
“Ke sini.”
Tidak ada pertanyaan apakah aku sempat.
Aku datang sepulang kantor.
Ibu duduk di teras rumahnya di Gedangan.
Usianya tujuh puluh tujuh.
Tubuhnya jauh lebih kecil daripada yang kuingat saat masih sekolah.
Bowo sudah ada di sana.
Tentu saja.
Aku duduk di kursi plastik di seberang mereka.
Ibu langsung berkata, “Kenapa tidak bantu kakakmu?”
Aku menatap Bowo.
Dia melihat halaman.
“Bu, Kak Bowo cerita apa?”
“Tidak perlu tanya dia cerita apa. Ibu tahu percetakannya susah.”
“Benar.”
“Kamu ada uang.”
Aku tersenyum tipis.
Itulah bentuk paling sederhana dari logika keluarga kami.
Kamu punya.
Dia butuh.
Kalimat di antaranya dianggap tidak penting.
“Aku punya tabungan bukan berarti semua masalah harus dibayar dari tabunganku.”
Ibu mengernyit.
“Dulu kakakmu bayar kuliahmu.”
“Aku ingat.”
“Kalau tidak ada Bowo, kamu mungkin tidak selesai.”
“Aku ingat.”
“Bowo juga bantu biaya pernikahanmu dulu.”
“Aku juga ingat.”
Ibu terlihat semakin kesal.
“Kalau ingat, kenapa sekarang hitung-hitungan?”
Aku menahan napas.
“Karena yang dipertaruhkan bukan uangku.”
Ibu diam.
“Rumah Rina masih jadi jaminan.”
“Ibu tahu.”
Aku menatapnya.
Ternyata masih ada kejutan.
“Sejak kapan?”
“Bowo cerita beberapa minggu lalu.”
“Dan Ibu tidak bilang?”
Ibu tampak bingung dengan pertanyaanku.
“Mau bilang apa?”
“Bahwa rumah tempat Nisa tinggal bisa kena masalah.”
“Bowo bilang masih bisa diselesaikan.”
Aku menatap kakakku.
Dia tetap tidak melihatku.
Ibu melanjutkan, “Kalau kamu bantu sedikit, usaha tidak perlu dijual.”
Aku bertanya, “Kalau yang dijaminkan rumah Ibu, Ibu tetap bilang begitu?”
Ibu langsung menjawab, “Beda.”
“Kenapa?”
“Ini rumah Ibu.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Beberapa detik kemudian, Ibu sendiri menyadari jawabannya.
Wajahnya berubah.
Aku berkata pelan, “Nah.”
Bowo menoleh.
“Jangan jebak Ibu pakai pertanyaan.”
“Aku tidak menjebak.”
“Kamu bikin seolah aku mau mengambil rumah Rina.”
“Kakak tidak mau mengambil.”
Aku menatapnya.
“Tapi Kakak bersedia mengambil risiko kehilangan rumah itu demi mempertahankan ukuran usaha.”
Bowo berdiri.
“Aku sudah setuju jual mesin!”
“Bagus.”
“Jangan ngomong seolah aku penjahat.”
“Aku tidak bilang Kakak penjahat.”
“Semua orang dari kemarin memperlakukanku begitu.”
Aku ikut berdiri.
“Kakak mau tahu kenapa?”
Dia menatapku.
“Karena Kakak tidak pernah bilang, ‘Aku salah membiarkan risiko ini selama lima bulan.’”
Wajahnya memerah.
“Kakak selalu bilang kenapa keputusan Kakak masuk akal.”
Aku terdiam sesaat.
Kalimat itu terdengar sangat familiar.
Karena itulah persis yang selama bertahun-tahun kulakukan kepada Rina.
Aku melanjutkan lebih pelan.
“Aku juga begitu.”
Bowo tidak menjawab.
Ibu memandang kami bergantian.
“Aku yang bujuk Rina tanda tangan dulu,” kataku. “Aku juga yang setiap dia tanya selalu bilang Kak Bowo pasti beresin. Jadi bagian salahku ada.”
Aku menatap Bowo.
“Tapi aku tidak akan memperbaiki kesalahanku dengan memperpanjang kesalahan yang sama.”
Ibu mengusap lututnya.
“Kalau mesin dijual, orang-orang itu bagaimana?”
Bowo menjawab, “Aku atur.”
Nada suaranya lebih rendah.
Ibu menatap anak sulungnya.
“Wo.”
“Hm?”
“Kalau memang harus kecil dulu, ya kecil dulu.”
Bowo menatap Ibu seolah tidak yakin mendengar dengan benar.
Ibu berkata, “Bapakmu dulu mulai dari satu mesin.”
Tidak ada kata-kata ajaib setelah itu.
Bowo tidak tiba-tiba tersenyum.
Dia tidak memelukku.
Dia mengambil kunci mobil dan berkata harus kembali ke percetakan.
Namun sebelum pergi dia berhenti di anak tangga.
“Pickup jadi dilihat orang besok.”
Aku mengangguk.
Itu saja.
Empat hari kemudian mesin terjual.
Pickup menyusul dua hari setelahnya.
Bowo menambah kekurangan dari uang perusahaan dan sebagian tabungan pribadinya.
Butuh waktu lagi sampai pembayaran benar-benar tercatat dan urusan administrasi jaminan selesai.
Tidak ada adegan dramatis ketika seseorang menyerahkan sertifikat sambil menangis.
Ada antrean.
Ada fotokopi.
Ada tanda tangan.
Ada beberapa kali datang kembali karena dokumen belum lengkap.
Hidup nyata ternyata jarang memberi musik latar pada saat masalah penting selesai.
Tiga minggu kemudian, Rina mengirim foto singkat ke grup kecil yang hanya berisi aku, dia, dan Nisa.
Sebuah map transparan berada di atas meja.
Pesannya satu kalimat.
Sudah selesai dari bank.
Aku membalas:
Syukurlah.
Kemudian aku mengetik:
Maaf.
Aku menghapusnya.
Bukan karena aku tidak menyesal.
Aku justru ingin mengatakannya langsung.
Dua hari kemudian aku datang ke rumah Waru untuk menyelesaikan urusan pengalihan hak rumah sesuai kesepakatan perceraian kami.
Rina membuat teh.
Kami duduk bukan di meja makan.
Meja itu sudah dijual.
Kami duduk di dua kursi plastik dekat pintu belakang.
“Aku mau minta maaf,” kataku.
Rina mengaduk tehnya.
“Yang mana?”
Aku tertawa kecil.
“Banyak ternyata.”
Dia tidak ikut tertawa.
Aku mengangguk.
“Waktu pinjaman dulu. Aku tahu kamu tidak mau rumah dijaminkan.”
Rina menatap cangkir.
“Tapi aku bikin seolah keberatanmu berarti kamu tidak peduli keluarga.”
Dia tetap diam.
“Aku juga salah setelah cerai.”
“Karena?”
“Aku terus bilang ke orang bahwa aku sudah kasih rumah ini ke kamu.”
Rina akhirnya menatapku.
“Memang.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Aku menyerahkan bagianku sesuai kesepakatan. Beda dengan memberi hadiah.”
Sudut bibirnya bergerak sedikit.
“Akhirnya belajar bahasa.”
“Aku juga bilang itu seolah rumah ini bukti aku sudah menyelesaikan semua kewajiban.”
“Kamu suka benda yang bisa dihitung.”
Kalimat itu tidak terdengar marah.
Justru itulah yang membuatnya terasa berat.
“Uang bulanan Nisa. Cicilan. Nilai rumah. Semua bisa kamu sebut angka.”
Aku mengangguk.
“Lebih mudah.”
“Ya.”
“Daripada tanya orang masih marah atau tidak.”
“Jauh lebih mudah.”
Aku menatap halaman belakang.
Pohon jambu yang kutanam bertahun-tahun lalu masih ada.
Batangnya lebih besar.
“Aku dulu pikir kamu selalu memperpanjang masalah.”
Rina mengangkat alis.
“Sekarang?”
“Sekarang aku sadar aku sering menutup masalah sebelum orang lain selesai bicara.”
Dia tidak memberiku pengampunan dramatis.
Tidak mengatakan semuanya sudah lewat.
Dia hanya berkata, “Bagus kalau akhirnya sadar.”
Dan anehnya, itu cukup.
Sebelum aku pulang, aku bertanya tentang rencana pindah.
Rina menggeleng.
“Tidak jadi.”
“Barang-barang sudah banyak dijual.”
“Memang sengaja.”
“Kenapa?”
Dia melihat ruang keluarga yang sekarang jauh lebih kosong.
“Rumah ini terlalu penuh barang dari dua puluh tiga tahun.”
Aku tidak tahu apakah dia sedang bicara tentang furnitur.
Mungkin tidak.
“Aku mau bikin ruang depan jadi tempat kerja kecil.”
“Kerja apa?”
“Pesanan makanan kantor. Sudah jalan beberapa bulan.”
Aku teringat tas kain Nisa.
“Dedi bantu?”
“Kadang bantu angkut.”
Aku mengangguk.
Tidak bertanya lebih jauh.
Dua bulan kemudian Nisa mendaftarkan diri untuk aktif kembali pada semester berikutnya.
Aku membayar biaya kuliahnya.
Tetapi kali ini aku tidak berhenti di transfer.
Aku mengantarnya ke kampus untuk mengurus satu dokumen yang harus ditandatangani.
Kami makan soto di dekat kampus sesudahnya.
Dia bercerita hampir satu jam tentang dosen yang paling ditakutinya.
Aku tidak mengerti setengah istilah arsitektur yang dia gunakan.
Aku tetap mendengarkan.
Bowo tidak bicara denganku hampir enam minggu.
Percetakannya tidak tutup.
Dia mengurangi satu shift.
Tiga pegawai pindah ke tempat lain.
Satu keponakan kami masih membantu paruh waktu.
Beberapa pekerjaan besar sekarang dilempar ke vendor lain.
Keuntungan turun.
Gengsinya mungkin juga.
Tetapi setiap bulan pinjaman supplier yang tersisa mulai dibayar satu per satu.
Suatu sore dia mengirim foto kuitansi obat Ibu.
Tidak ada sapaan.
Hanya tulisan:
Yang ini bagianku. Sudah kubayar.
Aku membalas:
Oke. Terima kasih.
Itu bukan rekonsiliasi.
Tapi mungkin memang tidak semua hubungan perlu pulih melalui satu percakapan besar.
Ada yang pulih lewat bukti-bukti kecil bahwa pola lama tidak diulang.
Hubunganku dengan Lela juga berubah sedikit.
Bukan menjadi lebih romantis.
Lebih jujur.
Ketika Faris membutuhkan uang tambahan untuk sertifikasi sekolah, aku tidak langsung membayar.
Aku duduk bersama dia dan Lela.
Kami membahas kebutuhannya.
Bukan karena aku ingin pelit.
Aku akhirnya belajar bahwa bertanya bukan berarti menolak.
Dan membayar bukan selalu berarti peduli.
Tiga bulan setelah kejadian itu, aku kembali ke bengkel Dedi.
Bukan untuk membeli furnitur.
Kami sudah lama tidak minum kopi bersama.
Lemari kecil dari rumah Rina masih ada.
Sudah selesai direstorasi.
Warnanya tetap cokelat tua.
Dedi tidak mengecat bagian dalam pintunya.
Garis-garis pensil tinggi badan Nisa masih di sana.
Aku membuka pintu sebentar.
7 tahun.
9 tahun.
11 tahun.
13 tahun.
Dedi datang membawa dua gelas kopi.
“Mau kamu ambil?”
Aku menoleh.
“Buat apa?”
“Dulu punya rumahmu.”
Aku menutup pintu lemari.
“Dulu.”
Dedi duduk di bangku kerja.
Setelah beberapa saat dia berkata, “Aku mau ngomong sesuatu sebelum kamu dengar dari orang lain.”
Aku tertawa.
“Kalimat pembuka yang buruk.”
“Rina beberapa kali ikut makan sama aku setelah ngurus barang.”
Aku memandangnya.
Dedi menggaruk alis.
“Tidak ada apa-apa yang serius.”
“Terus kenapa cerita?”
“Karena kamu temanku.”
Aku meminum kopi.
Ada sesuatu bergerak kecil di dada.
Bukan marah.
Mungkin sisa kebiasaan lama.
Perasaan bahwa orang-orang seharusnya meminta izin sebelum memasuki bagian hidup yang pernah menjadi milikku.
Aku membiarkannya lewat.
“Kalau suatu hari jadi serius,” kataku, “jangan tanya izin ke aku.”
Dedi menatapku.
“Tanya Rina.”
Dia tersenyum.
“Tumben pintar.”
“Jangan dibesar-besarkan.”
Ponselku bergetar.
Pesan dari Nisa.
Dia mengirim foto jadwal semester barunya.
Di bawahnya ada tulisan:
Studio hari Senin sampai malam. Jangan telepon terus kalau tidak diangkat. 😑
Aku tersenyum.
Lalu membalas:
Siap. Tapi makan tetap.
Tiga titik muncul.
Kemudian:
Iya, Pa.
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Dedi menunjuk lemari kecil.
“Jadi benar tidak mau dibawa?”
Aku membuka pintunya sekali lagi.
Melihat garis-garis pensil yang dulu kukira merusak furnitur.
Kemudian aku menutupnya.
“Tidak.”
Aku mengambil kopi.
“Tempatnya sudah pas di sini.”
Kadang-kadang aku masih ingin memperbaiki semuanya dengan uang.
Kadang aku masih harus menahan diri untuk tidak memberi nasihat sebelum seseorang selesai bicara.
Bowo juga belum menjadi orang yang mudah mengakui kesalahan.
Rina tidak kembali menjadi temanku seperti sebelum kami menikah.
Dan Nisa belum menceritakan semua hal dalam hidupnya kepadaku.
Tapi sekarang aku tahu satu hal.
Keluarga tidak menjadi aman hanya karena seseorang selalu bersedia membayar tagihan.
Kadang yang harus dihentikan justru kebiasaan menyebut pengorbanan sebagai utang yang boleh ditagih seumur hidup.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Menurut Anda, keputusan Arman untuk menolak membayar tunggakan Bowo sudah tepat, atau seharusnya ia tetap membantu demi para pekerja? Semoga keluarga kita selalu diberi keberanian untuk saling membantu tanpa kehilangan batas, rasa hormat, dan tanggung jawab masing-masing.
