Setelah Aku Pulang dari Rumah Sakit, Suamiku Memintaku Menutup Kekurangan Rp380 Juta di Usaha Keluarganya. Seorang Sopir Lama Lalu Menunjukkan Gudang Baru yang Tidak Pernah Mereka Ceritakan Kepadaku

Avatar penulis
Cerita 01
26 menit baca 188 tayangan
Setelah Aku Pulang dari Rumah Sakit, Suamiku Memintaku Menutup Kekurangan Rp380 Juta di Usaha Keluarganya. Seorang Sopir Lama Lalu Menunjukkan Gudang Baru yang Tidak Pernah Mereka Ceritakan Kepadaku
Indeks

BAGIAN 2

Aku memperbesar foto itu sampai wajah Arman memenuhi layar.

Tidak ada ekspresi bersalah.

Dia sedang tersenyum sambil memegang ujung pita peresmian.

Bu Sri berdiri di sebelahnya.

Wulan membawa gunting.

Jadi bukan keputusan mendadak selama aku dirawat.

Peresmian seperti itu butuh persiapan.

Gudang harus disewa.

Nama usaha dipilih.

Pelanggan dihubungi.

Barang dipindahkan.

“Sudah berapa lama kamu tahu?” tanyaku.

Naya duduk di ujung sofa.

“Papa pertama kali cerita sekitar dua bulan lalu.”

Dua bulan.

Jauh sebelum operasiku.

Setelah Aku Pulang dari Rumah Sakit, Suamiku Memintaku Menutup Kekurangan Rp380 Juta di Usaha Keluarganya. Seorang Sopir Lama Lalu Menunjukkan Gudang Baru yang Tidak Pernah Mereka Ceritakan Kepadaku

“Dia bilang apa?”

“Katanya Nawasena cuma cabang. Mama nanti dikasih tahu setelah semuanya rapi.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Naya menunduk.

“Papa bilang Mama selalu stres kalau ada perubahan besar. Terus waktu Mama masuk rumah sakit…”

Dia berhenti.

“Terus?”

“Papa bilang jangan bikin Mama tambah sakit.”

Kalimat itu sakit justru karena terdengar masuk akal.

Arman selalu pandai menggunakan kepedulian sebagai penutup pintu.

Aku tidak memarahi Naya.

Dia anak kami, bukan penjaga rahasia pernikahan orang tuanya.

Keesokan paginya Pak Wito datang dengan mobil pribadinya.

“Apa Ibu yakin?”

“Tidak.”

Ia menatapku.

Aku memasang sabuk pengaman.

“Tapi tetap jalan.”

Sepanjang perjalanan Pak Wito hanya bicara kalau kutanya.

Pemindahan barang ternyata mulai delapan bulan sebelumnya.

Tidak banyak.

Sepuluh meja.

Beberapa puluh kursi.

Tiga set dekorasi.

Kemudian bertambah.

“Kenapa di catatan gudang tidak kelihatan?”

Pak Wito menggenggam setir lebih erat.

“Dibilang barang keluar untuk servis atau dipakai acara luar kota.”

“Siapa yang bilang?”

“Pak Arman.”

Aku menoleh ke jendela.

Delapan bulan.

Selama delapan bulan aku masih datang ke gudang hampir setiap hari.

Aku masih memeriksa pembayaran.

Aku masih menghitung gaji.

Aku bahkan marah kepada diriku sendiri ketika neraca stok sering tidak cocok.

Kupikir aku sedang kelelahan.

Ternyata sistemnya memang dibuat supaya aku salah membaca keadaan.

Gudang Nawasena berdiri di belakang deretan ruko baru.

Lebih kecil daripada gudang Satrio Pesta, tetapi jauh lebih rapi.

Di dalamnya aku melihat barang-barang yang kukenal.

Tumpukan kursi Tiffany.

Dua mesin pendingin portabel.

Karpet merah.

Rak piring.

Bahkan meja registrasi yang kami beli tahun lalu.

Seorang pekerja muda keluar.

Begitu melihat Pak Wito, dia tersenyum.

“Pak, yang dari Solo nanti sore saja, Mas Dimas bilang…”

Dia berhenti saat melihatku.

“Ada apa?” tanyaku.

“Tidak, Bu.”

“Kamu kerja untuk siapa?”

Ia memandang Pak Wito.

“Jawab saja,” kata Pak Wito.

“Nawasena, Bu.”

“Dulu kerja di Satrio Pesta?”

“Iya.”

“Siapa yang menggaji sekarang?”

“Nawasena.”

“Barang ini milik siapa?”

Anak muda itu benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

Aku tidak memaksanya.

Bukan dia yang membuat keputusan.

Arman menelepon sebelum aku sempat masuk lebih jauh.

“Kamu di mana?”

“Banguntapan.”

Sunyi.

Kemudian suaranya berubah.

“Siapa yang bawa kamu?”

“Pertanyaan pertama kamu itu?”

“Laras, pulang.”

“Aku sedang melihat cabang kita.”

“Jangan bikin keributan di tempat orang.”

Tempat orang.

Aku mengulang dua kata itu di kepala.

“Jadi ini bukan cabang Satrio?”

“Pulang dulu. Kita bicara.”

“Siapa pemilik Nawasena?”

“Wulan yang urus administrasinya.”

“Itu bukan jawabanku.”

Dia mengembuskan napas keras.

“Usaha lama terlalu berat. Utangnya banyak. Sistemnya kaku. Kita butuh usaha baru supaya bisa bernapas.”

Kita.

Aku melihat meja-meja milik Satrio Pesta.

“Kenapa pelanggan lama kita dipindahkan ke sini?”

“Karena kalau terus masuk ke rekening lama, semua habis buat nutup kewajiban.”

Aku akhirnya memahami penjelasan sementara yang ia bangun.

Usaha baru untuk menyelamatkan keluarga dari usaha lama.

Kedengarannya hampir masuk akal.

Sampai aku bertanya:

“Kalau pemasukan bagus dipindah ke Nawasena, siapa yang bayar kewajiban Satrio?”

Arman diam.

Aku sudah tahu jawabannya bahkan sebelum dia bicara.

“Kita cari jalan.”

Bertahun-tahun, “kita cari jalan” berarti satu hal.

Aku mencari uang.

Mereka menunggu.

Di pojok gudang ada papan tulis berisi jadwal acara.

Aku berjalan mendekat.

Nama beberapa pelanggan lama tercantum di sana.

Bukan satu.

Bukan tiga.

Lebih dari dua belas.

Salah satunya membuatku berhenti.

Minggu, 18 Oktober. 1.200 kursi. Gedung Graha Saba.

Itu pesanan terbesar bulan ini.

Uang mukanya seharusnya cukup untuk membayar sebagian besar gaji staf Satrio Pesta.

“Pembayaran acara ini masuk ke mana?” tanyaku.

Pekerja muda tadi menelan ludah.

“Ke Nawasena, Bu.”

“Barangnya?”

Ia menunjuk tumpukan kursi.

Sebagian masih berstiker Satrio Pesta.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Wulan.

Mbak, jangan marah ke pekerja. Mereka cuma menjalankan perintah. Minggu acara besar, jangan sampai keluarga kita malu gara-gara masalah internal.

Aku membaca pesan itu lama.

Kemudian ada pesan kedua.

Setelah acara selesai kita bisa rapat keluarga. Ibu juga sudah tahu semuanya.

Bukan hanya Arman.

Bukan hanya Wulan.

Ibu tahu.

Dan acara besar itu dua hari lagi.

Jika aku menarik barang saat itu juga, keluarga pengantin yang tidak tahu apa-apa bisa kehilangan lebih dari seribu kursi menjelang pernikahan mereka.

Jika aku diam, Nawasena akan menerima uang dari barang Satrio Pesta sekali lagi.

Aku harus memilih antara menghentikan mereka sekarang atau membiarkan satu transaksi terakhir terjadi dengan mataku terbuka.

Untuk pertama kalinya, aku sadar masalahnya bukan sekadar uang yang hilang.

Mereka memilih melakukan semuanya karena yakin aku tetap akan menyelamatkan akibatnya.

Kalau kalian berada di posisi Laras, apakah kalian akan menghentikan acara itu, atau membiarkan pesta berjalan lalu menyelesaikan urusan keluarga setelahnya?

BAGIAN 3

Aku tidak menarik satu kursi pun dari gudang.

Bukan karena aku memaafkan mereka.

Bukan karena takut kepada Arman.

Aku hanya tidak mau seorang pengantin perempuan bangun dua hari sebelum pernikahannya dan mengetahui kursi untuk tamunya hilang karena keluarga penyedia jasanya sedang berperang.

Aku menoleh kepada pekerja muda tadi.

“Acara hari Minggu tetap jalan.”

Wajahnya langsung lega.

“Tapi mulai sekarang tidak ada satu barang Satrio Pesta keluar tanpa dicatat.”

Ia menatapku bingung.

“Bu…”

“Kalau ada yang menyuruh, bilang Laras yang minta.”

Aku mengambil foto setiap sudut gudang.

Bukan diam-diam.

Aku berjalan perlahan, mencatat nomor inventaris yang terlihat, jumlah mesin pendingin, rak dekorasi, meja, dan beberapa gulung karpet.

Wulan menelepon.

Aku biarkan.

Arman menelepon tiga kali.

Aku tidak menjawab.

Di perjalanan pulang, aku meminta Pak Wito berhenti di warung soto dekat Klaten.

Aku lapar.

Hal sederhana itu membuatku terkejut.

Selama dua minggu terakhir semua orang memperlakukanku seperti tubuh rapuh yang sewaktu-waktu pecah.

Namun saat semangkuk soto panas diletakkan di depanku, aku justru merasa lebih hidup daripada beberapa tahun terakhir.

Pak Wito duduk di seberang.

“Maaf, Bu.”

“Untuk apa?”

“Saya tahu barang dipindah.”

“Tapi Bapak tidak tahu semua rencananya.”

Ia menggeleng.

“Awalnya Pak Arman bilang cuma supaya kendaraan tidak bolak-balik Solo-Jogja kalau dapat acara sana.”

“Lalu?”

“Lama-lama saya disuruh antar lebih banyak.”

“Kenapa Bapak tetap lakukan?”

Pak Wito mengaduk sambal.

“Karena saya pekerja.”

Aku mengangguk.

Jawaban itu jujur.

Bukan semua orang punya kemewahan untuk menantang keluarga pemilik usaha.

“Pak Wito.”

“Iya?”

“Besok saya akan melakukan inventaris total.”

Ia mengangkat kepala.

“Semua?”

“Semua.”

“Pak Arman belum tentu setuju.”

“Arman suamiku. Bukan pemilik tunggal perusahaan.”

Itulah pertama kalinya dalam bertahun-tahun aku mengucapkan kalimat itu dengan suara keras.

Satrio Pesta berbentuk CV.

Namaku tercantum sebagai sekutu aktif bersama Arman sejak kami menyusun ulang usaha sepuluh tahun sebelumnya.

Modal awal dari keluarga Arman memang jauh lebih tua daripada kedatanganku.

Namun ketika usaha hampir bangkrut, aku memasukkan pesangon, tabungan, dan uang hasil menjual mobil lamaku.

Kemudian selama satu dekade aku bukan cuma istri pemilik.

Aku bekerja di sana.

Aku ikut menanggung kewajiban.

Aku ikut menandatangani pembelian kendaraan.

Aku ikut membangun pelanggan.

Tapi karena rumah tempat gudang berdiri dulu milik Bapak, karena nama usaha berasal dari nama Bapak, dan karena aku datang sebagai menantu, dalam kepala mereka rupanya statusku tidak pernah benar-benar berubah.

Sesampainya di rumah, Arman sudah menunggu.

Dia berdiri di ruang tamu.

Bu Sri duduk di sofa.

Wulan berada di kursi dekat jendela.

Lengkap.

Aku hampir tertawa melihatnya.

Selama delapan bulan mereka bisa mengadakan pembicaraan tanpa aku.

Begitu aku mulai bertanya, rapat keluarga mendadak sangat mudah diselenggarakan.

“Kenapa Ibu di sini?” tanyaku.

Bu Sri mengangkat dagu.

“Biar semua jelas.”

Aku meletakkan tas.

“Bagus.”

Arman menunjuk kursi.

“Duduk dulu.”

“Aku sudah terlalu banyak duduk sejak operasi.”

“Jangan keras kepala.”

“Aku tidak akan berdiri lama.”

Aku menarik sebuah kursi sendiri dan meletakkannya tidak terlalu dekat dengan mereka.

Naya muncul dari lorong kamar.

Aku menoleh.

“Kamu tidak perlu ikut.”

“Aku mau di kamar.”

“Ya.”

Bu Sri langsung berkata, “Kenapa Naya disuruh pergi? Dia juga keluarga.”

“Justru karena dia anak kita, aku tidak akan menjadikannya saksi pertengkaran orang dewasa kalau tidak perlu.”

Wulan menyilangkan tangan.

“Mbak sudah lihat gudang?”

“Sudah.”

“Berarti sekarang lebih gampang menjelaskan.”

“Silakan.”

Tidak ada yang bicara.

Aku menunggu.

Akhirnya Arman mulai.

“Satrio Pesta sudah terlalu berat.”

“Berat karena apa?”

“Banyak.”

“Sebutkan.”

“Cicilan kendaraan, pajak, perawatan, pegawai terlalu banyak. Klien lama juga banyak yang minta tempo.”

Aku mengangguk.

“Aku tahu kewajiban perusahaan. Aku yang membuat laporan bulanannya.”

Wulan menyela.

“Nah, itu masalahnya.”

Aku menoleh kepadanya.

“Apa?”

“Semua harus lewat Mbak.”

“Karena aku menangani keuangan.”

“Dulu Bapak tidak begitu.”

“Dulu uang muka pelanggan pernah dipakai membeli motor keponakan tanpa dicatat.”

Wulan tersenyum tipis.

“Selalu itu lagi.”

“Karena kita hampir tidak bisa bayar gaji bulan itu.”

Bu Sri berdecak.

“Bapakmu sudah meninggal. Jangan terus bawa kesalahan orang yang sudah tidak ada.”

Aku menahan napas.

“Baik. Kita bicara soal yang hidup.”

Arman mengangkat tangan.

“Sudah, jangan menyerang.”

“Aku belum menyerang siapa pun. Aku sedang bertanya kenapa pelanggan Satrio dipindahkan ke Nawasena, kenapa barang Satrio dipakai, dan kenapa aku baru tahu setelah operasi.”

“Karena kamu pasti menolak,” kata Wulan.

Ruangan hening.

Dia sendiri tampak sadar telah bicara terlalu cepat.

Aku menatapnya.

“Jadi bukan karena aku sakit.”

Wulan tidak menjawab.

“Bukan karena kalian mau menunggu aku sehat.”

Aku menoleh kepada Arman.

“Kalian memang tidak ingin aku tahu sebelum usaha itu jalan.”

Arman menekan bibir.

“Kalau dari awal dibicarakan, kamu akan bikin semuanya ribet.”

“Ribet karena aku akan bertanya aset milik siapa?”

“Laras.”

“Ribet karena aku akan bertanya pelanggan dapat nomor rekening baru dari siapa?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Bu Sri akhirnya ikut bicara.

“Usaha itu peninggalan Bapak.”

Aku mengangguk perlahan.

“Ya.”

“Arman anak sulung.”

“Ya.”

“Wulan juga anak Bapak.”

“Ya.”

“Jangan sampai nanti semuanya terasa seperti milik kamu hanya karena kamu yang pegang buku.”

Aku memandang perempuan yang sudah kupanggil Ibu selama delapan belas tahun.

Ada banyak kalimat yang pernah kuharapkan keluar dari mulutnya.

Kalimat itu bukan salah satunya.

“Apa selama ini Ibu merasa begitu?”

“Bukan merasa.”

Ia memperbaiki posisi duduk.

“Ibu cuma ingin adil.”

“Adil untuk siapa?”

“Untuk anak-anak Ibu.”

Aku menelan ludah.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada piring pecah.

Tetapi sesuatu di dalam diriku bergerak pelan, seperti lemari berat yang akhirnya digeser dari tempatnya setelah bertahun-tahun.

Aku baru memahami posisi yang selama ini mereka berikan kepadaku.

Bukan pemilik bersama.

Bukan orang yang ikut menyelamatkan usaha.

Bukan perempuan yang menghabiskan lebih dari sepuluh tahun hidupnya di sana.

Aku adalah istri Arman yang kebetulan pintar mengatur uang.

Berguna ketika ada masalah.

Terlalu berkuasa ketika meminta aturan.

“Aku mau memastikan satu hal,” kataku. “Nawasena dibuat supaya usaha kembali dikendalikan keluarga Bapak?”

Bu Sri tidak menjawab.

Wulan berkata, “Jangan dipelintir.”

“Aku sedang menyederhanakan.”

Arman mengusap wajah.

“Nawasena dibuat supaya Wulan punya sesuatu sendiri dan supaya bisnis kita bisa masuk pasar baru.”

“Kalau milik Wulan, kenapa memakai barang Satrio?”

“Kan keluarga.”

“Kenapa mengambil pelanggan Satrio?”

“Bukan mengambil.”

“Kalau Bu Diana awalnya pesan ke Satrio lalu disuruh bayar ke rekening Wulan, itu namanya apa?”

Arman berdiri.

“Jangan bicara seperti aku penjahat.”

Aku menggeleng.

“Aku tidak bilang kamu penjahat.”

“Cara kamu bicara seperti sedang mengaudit orang asing.”

“Karena orang yang menikah denganku delapan belas tahun membuka usaha baru delapan bulan lalu dan tidak memberitahuku.”

“Aku mau memberitahu.”

“Kapan?”

“Setelah stabil.”

“Setelah aset sudah pindah? Setelah pelanggan pindah? Setelah Satrio tinggal cicilan dan pegawai?”

Wulan menyahut, “Utang Satrio kan juga utang keluarga.”

“Pemasukannya kenapa bukan pemasukan keluarga?”

Dia diam.

Aku menatap Arman.

“Rp380 juta yang kamu minta aku cari kemarin itu untuk apa sebenarnya?”

“Sudah aku bilang.”

“Dari mana kamu berharap aku mendapatkannya?”

Arman menatapku seolah pertanyaanku tidak masuk akal.

“Ya dari simpanan kita dulu.”

Aku mengangguk.

“Tabungan deposito atas namaku?”

“Laras, jangan mulai hitung punyaku-punyamu.”

Bu Sri langsung menimpali.

“Nah, ini yang Ibu tidak suka. Suami istri kok begitu.”

Aku hampir tersenyum.

Delapan bulan usaha baru dibuat tanpa namaku.

Tapi ketika utang datang, mendadak kami suami istri lagi.

Aku berdiri perlahan.

Bekas operasiku menarik.

Arman refleks maju.

Aku mengangkat tangan.

“Jangan.”

Dia berhenti.

“Aku tidak akan mengambil uang deposito.”

Wajahnya berubah.

“Gaji jatuh tempo empat hari lagi.”

“Ada piutang Satrio.”

“Belum cair semua.”

“Ada uang muka pelanggan yang dipindahkan ke Nawasena.”

“Itu sudah dipakai.”

“Untuk?”

Wulan menjawab, “Sewa gudang. Branding. Perbaikan barang. Operasional.”

Aku menatapnya.

“Berapa?”

“Tidak hafal.”

“Tapi kalian berharap aku hafal berapa kekurangan Satrio.”

Arman memukul sandaran kursi dengan telapak tangan.

Tidak keras.

Tetap membuat Bu Sri terkejut.

“Terus maumu apa? Pegawai tidak digaji?”

“Aku mau uang yang dihasilkan aset Satrio dicatat sebagai penggunaan aset Satrio.”

“Dua hari lagi ada pernikahan.”

“Acara itu tetap jalan.”

Mereka bertiga tampak terkejut.

Wulan yang pertama bicara.

“Maksud Mbak?”

“Aku tidak akan merusak pesta orang lain.”

Bu Sri mengembuskan napas lega.

“Tuh. Kalau dibicarakan baik-baik…”

“Aku belum selesai.”

Ia terdiam.

“Besok pagi inventaris seluruh barang Satrio dilakukan. Barang yang berada di Banguntapan ikut dicatat. Setelah acara Minggu selesai, tidak ada aset keluar untuk Nawasena tanpa perjanjian tertulis dan biaya sewa.”

Wulan langsung bangkit.

“Mbak serius mau menyewakan barang ke adik sendiri?”

“Kalau Nawasena adalah usaha milikmu, iya.”

“Ini usaha keluarga!”

“Kalau begitu masukkan aku sebagai bagian dari keluarga saat membicarakannya.”

Wulan menatapku tajam.

“Dari dulu Mbak memang mau menguasai semuanya.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Tidak ada lagi pembungkus.

Aku memandangnya.

“Jelaskan.”

“Sejak Mbak masuk, semua berubah. Semua harus pakai kuitansi. Semua uang harus jelas. Ibu minta uang saja ditanya untuk apa.”

“Karena uang usaha bukan dompet.”

“Bapak dulu tidak pernah begitu.”

“Dan ketika Bapak meninggal, usaha punya utang hampir Rp900 juta.”

“Jangan bawa Bapak lagi!”

“Kenapa? Karena itu bagian cerita yang tidak nyaman?”

Arman berdiri di antara kami.

“Sudah.”

Wulan menunjukku.

“Mas sendiri sering bilang capek.”

Aku menoleh kepada suamiku.

Dia tidak melihatku.

Itu lebih menyakitkan daripada kalau dia langsung mengiyakan.

“Capek apa?”

Arman menarik napas.

“Capek harus minta persetujuan untuk semua.”

“Kita pasangan usaha.”

“Aku suamimu.”

“Justru itu.”

“Kadang aku merasa di usaha sendiri aku seperti pegawai.”

Aku menatap wajah laki-laki yang telah tidur di sebelahku hampir dua dekade.

Ternyata yang selama ini kusebut disiplin, dia rasakan sebagai penghinaan.

Yang kusebut transparansi, dia rasakan sebagai kehilangan kuasa.

Aku bertanya pelan.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Setiap aku bicara soal usaha, kamu keluarkan angka.”

“Karena kita bicara soal usaha.”

“Kamu tidak mengerti.”

“Mungkin.”

Aku menarik napas.

“Tapi membuka perusahaan lain diam-diam tidak membuatku lebih mengerti.”

Bu Sri berkata, “Arman cuma ingin punya pegangan.”

Aku menoleh kepadanya.

“Dia punya istri.”

“Bukan begitu maksud Ibu.”

“Aku tahu.”

Dan memang aku tahu sekarang.

Mereka bukan sedang berusaha menghancurkanku.

Itu justru bagian paling menyakitkan.

Mereka sungguh merasa apa yang mereka lakukan masuk akal.

Arman merasa sedang merebut kembali martabatnya.

Wulan merasa sedang mengambil hak keluarga yang selama ini dikendalikan menantu.

Bu Sri merasa sedang menjaga peninggalan suaminya tetap berada di tangan anak-anak kandung.

Tidak ada satu pun dari mereka yang duduk delapan bulan lalu dan berkata, “Mari kita menyakiti Laras.”

Mereka hanya membuat keputusan berkali-kali dengan satu asumsi yang sama.

Laras nanti akan mengerti.

Laras nanti akan bantu.

Laras nanti tidak akan tega.

Dan selama bertahun-tahun, aku memang selalu seperti itu.

Setiap kali ada kekurangan, aku menutup.

Setiap kali Bu Sri meminta sesuatu, aku jarang menolak.

Saat Wulan pulang setelah bercerai dan tidak punya penghasilan tetap, aku yang menyarankan agar dia ikut usaha.

Ketika Arman membeli mobil boks kedua tanpa berdiskusi karena mendapat harga murah, aku marah dua hari lalu mencari cara membayar cicilan.

Aku pikir aku sedang menjaga kedamaian.

Padahal aku juga ikut menciptakan sistem yang membuat semua orang yakin batasanku bisa digeser.

Aku mengambil ponsel.

“Besok jam delapan aku datang ke gudang.”

Arman menggeleng.

“Kamu belum sehat.”

“Kalau aku cukup sehat untuk diminta mencari Rp380 juta, aku cukup sehat untuk duduk melihat orang menghitung kursi.”

“Laras.”

“Aku tidak akan berdebat lagi malam ini.”

Aku masuk kamar.

Arman menyusul sepuluh menit kemudian.

Dia berdiri di pintu.

“Ibu sudah pulang.”

Aku sedang mengambil baju tidur dari lemari.

“Ya.”

“Wulan juga.”

Aku tidak menjawab.

Dia mendekat.

“Kamu benar-benar tidak mau bantu gaji?”

“Aku akan bantu mencari uang milik perusahaan.”

“Maksudku deposito.”

“Tidak.”

“Itu uang kita.”

“Sebagian besar berasal dari pesangon dan tabunganku sebelum aku berhenti kerja. Selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan itu karena aku menganggap kita membangun hidup yang sama.”

“Kita memang membangun hidup yang sama.”

Aku menatapnya.

“Kamu membuka usaha lain tanpa aku.”

Arman duduk di ujung tempat tidur.

“Nawasena bukan untuk meninggalkan kamu.”

“Tapi dibuat tanpa aku.”

Dia terdiam.

“Kalau aku tidak masuk rumah sakit, kapan kamu mau bilang?”

“Mungkin bulan depan.”

“Kalau aku menolak?”

Dia tidak menjawab.

Aku duduk di kursi meja rias.

“Jadi sebenarnya tidak penting aku setuju atau tidak.”

“Jangan seperti itu.”

“Begitulah yang terjadi.”

Arman menunduk.

Untuk pertama kalinya malam itu, dia terlihat lelah.

Bukan marah.

Bukan defensif.

Lelah.

“Aku cuma ingin usaha Bapak tetap hidup.”

“Satrio masih hidup.”

“Dengan utang.”

“Karena pemasukan dipindahkan.”

“Masalahnya sudah ada sebelum Nawasena.”

“Itu benar.”

Aku tidak menyangkalnya.

Satrio memang sedang tidak sehat.

Biaya perawatan kendaraan naik.

Kami terlalu banyak mempertahankan pekerja lama.

Beberapa pelanggan terlambat membayar.

Aku sendiri terlalu lama menolak mengurangi armada karena tidak tega memberhentikan orang.

“Aku juga membuat kesalahan,” kataku.

Arman mengangkat kepala.

“Aku terlalu sering menutup kekurangan pakai uang pribadi. Jadi kita tidak pernah dipaksa memperbaiki masalah sebenarnya.”

Dia menatapku.

“Tapi kesalahanku bukan izin untuk kalian memindahkan bagian yang masih sehat lalu meninggalkan beban di tempat lama.”

Arman tidak membantah.

Aku tidur di kamar Naya malam itu.

Bukan sebagai ancaman.

Aku hanya tidak sanggup berbaring di sebelah orang yang baru kusadari sudah membuat rencana besar tanpa kehadiranku.

Pagi berikutnya aku tiba di gudang Satrio pukul delapan kurang sepuluh.

Yanto sudah menunggu.

Begitu melihatku, dia tampak canggung.

“Bu Laras sehat?”

“Belum seratus persen.”

Aku menunjuk meja kantor kecil.

“Tapi bisa menghitung.”

Pak Wito menahan senyum.

Kami mulai dari gudang utama.

Bukan pekerjaan dramatis.

Justru membosankan.

Kursi satu per satu.

Meja.

Kipas.

Lampu.

Karpet.

Peralatan makan.

Tenda.

Besi rangka.

Dekorasi.

Aku duduk sambil mencocokkan nomor.

Setiap selisih ditulis.

Setelah dua jam, Arman datang.

Dia tidak menghalangi.

Hanya berdiri di pintu sambil melihat.

Saat makan siang kami menemukan bahwa barang yang berada di Banguntapan nilainya jauh lebih besar daripada perkiraanku.

Lebih dari Rp600 juta jika dihitung berdasarkan nilai buku dan kondisi.

Yanto menyerahkan daftar lain.

“Ada lagi, Bu.”

“Apa?”

“Empat pegawai sudah pindah penuh ke Nawasena. Tapi bulan lalu gajinya masih dari Satrio.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Katanya sementara.”

“Siapa yang bilang?”

Yanto melirik Arman.

Suamiku menjawab sendiri.

“Aku.”

Aku menuliskannya.

Arman menghela napas.

“Kamu mau catat semua kesalahanku?”

“Aku mau tahu kondisi perusahaan.”

“Bedanya tipis.”

Aku berhenti menulis.

“Kalau kamu merasa angka adalah serangan, kita tidak bisa mengelola usaha bersama.”

Dia terdiam.

Kalimat itu ternyata juga berlaku untuk pernikahan kami.

Sore harinya kami menghitung bahwa dengan piutang yang masih mungkin masuk, ditambah pembayaran dari beberapa pelanggan lama, Satrio sebenarnya tidak membutuhkan Rp380 juta.

Kekurangannya sekitar Rp190 juta.

Tetap besar.

Tapi bukan angka yang dikatakan Arman.

Sisanya berasal dari biaya Nawasena yang selama beberapa bulan dibayar tidak langsung melalui operasional Satrio.

Bahan bakar.

Gaji.

Servis kendaraan.

Perbaikan barang.

Arman duduk di kursi plastik di luar kantor.

“Aku akan ganti.”

“Pakai uang dari mana?”

“Nawasena.”

“Berapa saldo Nawasena?”

Dia diam.

Aku menatapnya.

“Kamu tidak tahu?”

“Wulan yang pegang.”

Aku tertawa pendek.

Untuk pertama kalinya, Arman tampak malu.

Laki-laki yang merasa terlalu dikontrol istrinya ternyata membuka usaha baru dengan adiknya lalu tidak tahu berapa uang yang ada di sana.

Aku tidak mengatakan itu.

Aku tidak perlu.

Wajahnya sudah menjawab.

Hari Minggu, acara di Graha Saba tetap berjalan.

Aku datang pukul enam pagi.

Wulan tampak tidak senang melihatku.

“Mbak ngapain ke sini?”

“Melihat barangku bekerja.”

“Barang perusahaan.”

“Lebih tepat.”

Ia mendengus.

Aku tidak mengganggu persiapan.

Aku membantu memeriksa jumlah kursi.

Aku bicara dengan keluarga pengantin.

Aku memastikan tidak ada satu pun masalah internal kami terlihat oleh mereka.

Menjelang siang, ketika semua tamu mulai datang, aku berdiri di samping gedung dan memandang kursi-kursi yang tersusun rapi.

Ribuan kali aku melihat pemandangan seperti itu.

Tapi hari itu rasanya berbeda.

Aku sadar sebuah usaha bukan nama di papan.

Bukan warisan seorang ayah.

Bukan juga ego seorang istri yang pandai menghitung.

Usaha adalah janji kepada pelanggan, gaji pekerja, cicilan kendaraan, barang yang harus kembali, dan orang-orang yang menggantungkan hidup pada keputusan kami.

Selesai acara, semua barang dibawa kembali ke gudang utama Satrio.

Bukan ke Banguntapan.

Wulan protes.

“Besok aku ada acara di Jogja.”

“Pakai barang Nawasena.”

“Sebagian besar masih di sini.”

“Kalau mau pakai milik Satrio, kita buat biaya sewanya.”

“Mbak benar-benar tega.”

Aku menatapnya.

“Aku sudah terlalu lama menjadikan kata tega sebagai alasan untuk tidak punya aturan.”

Ia mendekat.

“Ibu sakit hati sama Mbak.”

“Aku juga.”

“Jadi mau saling sakit-sakitan?”

“Tidak. Makanya kita berhenti membuat keputusan diam-diam.”

Arman berdiri beberapa meter dari kami.

Wulan menoleh kepadanya.

“Mas, bilang sesuatu.”

Arman tidak langsung menjawab.

Akhirnya dia berkata, “Untuk sementara ikuti Laras.”

Wulan memandang kakaknya seolah baru saja dikhianati.

“Serius?”

“Kita harus bereskan dulu.”

“Mas kemarin bilang…”

“Wulan.”

Nada Arman berubah.

Wulan mengambil tas lalu pergi.

Aku tidak merasa menang.

Aku hanya merasa lelah.

Dua hari berikutnya lebih buruk.

Wulan mengirim pesan panjang di grup keluarga.

Dia tidak menyebut angka.

Tidak membahas aset.

Dia menulis bahwa setelah Bapak meninggal, usaha keluarga perlahan “diambil alih orang luar”.

Aku tidak perlu bertanya siapa orang luar itu.

Beberapa sepupu Arman mulai mengirim pesan pribadi.

Ada yang halus.

Ada yang menyindir.

Ada yang mengatakan seharusnya aku ingat bahwa Satrio Pesta bukan kubangun dari nol.

Untuk pertama kalinya aku tidak menjelaskan diri kepada semua orang.

Dulu aku pasti membuat pesan panjang.

Kali ini aku hanya menjawab orang-orang yang memang terlibat langsung.

Aku juga meminta bantuan seorang akuntan independen yang dulu pernah menjadi rekan kerjaku di hotel.

Bukan untuk “menghancurkan” Arman.

Aku ingin ada orang yang tidak punya hubungan keluarga melihat catatan kami.

Hasilnya tidak menyenangkan bagi siapa pun.

Satrio Pesta memang bermasalah sebelum Nawasena.

Margin kami turun dua tahun terakhir.

Ada kendaraan yang seharusnya sudah dijual.

Beberapa pegawai dipertahankan tanpa pekerjaan cukup.

Aku sendiri ikut bersalah karena terus menutup kekurangan daripada melakukan restrukturisasi.

Namun pemindahan pelanggan dan penggunaan aset membuat kondisi jauh lebih buruk.

Kami punya tiga pilihan.

Menutup Satrio.

Memisahkan usaha dengan benar.

Atau menyatukan kembali semuanya dengan struktur baru.

Arman ingin pilihan ketiga.

Aku tidak.

Keputusan itu mengejutkannya.

Kami bicara malam hari di teras rumah setelah Naya tidur.

“Kamu mau kita berhenti usaha bareng?”

“Iya.”

“Karena Wulan?”

“Karena kita sudah tidak punya cara mengambil keputusan yang sama.”

“Kita bisa mulai lagi.”

“Mulai dari mana?”

“Aku tutup Nawasena.”

Aku menatapnya.

“Kamu mau menutupnya karena kamu merasa salah, atau karena sekarang sulit?”

Dia terdiam.

“Aku tidak tahu.”

“Makanya jangan buat keputusan besar malam ini.”

Arman mengusap tengkuk.

“Terus kamu maunya bagaimana?”

“Satrio diselesaikan dengan benar. Aset dihitung. Utang dibayar dari aset dan piutang usaha. Kalau masih ada sisa, kita bagi sesuai hak. Nawasena jalan sendiri kalau kalian mau.”

“Kalian?”

“Kamu dan Wulan.”

Dia memandangku.

“Kamu sudah tidak menganggap dirimu bagian keluarga?”

Aku hampir menjawab keras.

Tapi pertanyaan itu terdengar terlalu sedih.

“Aku masih istrimu malam ini.”

Arman menelan ludah.

“Tapi aku tidak mau lagi menjadi dana darurat keluarga.”

Dia menatap halaman.

“Deposito benar-benar tidak kamu pakai?”

“Tidak.”

“Kalau perusahaan gagal bayar?”

“Kita jual kendaraan yang tidak produktif.”

“Bapak beli kendaraan itu.”

“Dan sekarang biaya servisnya lebih besar dari keuntungan.”

“Kalau Ibu tahu…”

“Aku sudah tidak bisa menjalankan perusahaan berdasarkan apa yang membuat Ibu tersinggung.”

Kalimat itu menjadi batas yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kubuat.

Dua minggu kemudian dua mobil boks dijual.

Beberapa peralatan yang jarang digunakan ikut dilepas.

Tidak semuanya dengan harga bagus.

Itu harga dari keputusan yang terlambat.

Sebagian uang dipakai membayar vendor.

Sebagian untuk gaji.

Kami juga bicara dengan para pegawai.

Itulah salah satu hari terberat.

Tidak semua bisa dipertahankan.

Aku menjelaskan kondisi sebenarnya tanpa membuka pertengkaran keluarga lebih dari perlu.

Beberapa orang marah.

Mereka berhak marah.

Dua orang memilih pindah ke Nawasena.

Beberapa bertahan selama masa penyelesaian.

Pak Wito berkata dia akan tetap sampai kendaraan terakhir selesai dialihkan.

“Setelah itu saya pensiun saja, Bu.”

“Bapak belum mau kerja lagi?”

Dia tersenyum.

“Saya sudah cukup lihat kursi kawinan.”

Untuk pertama kalinya sejak semua masalah dimulai, aku tertawa sungguhan.

Hubunganku dengan Arman tidak membaik dalam satu malam.

Justru setelah urusan usaha menjadi lebih jelas, masalah pernikahan kami terlihat lebih terang.

Dia marah karena merasa aku tidak memberinya kesempatan.

Aku marah karena selama delapan bulan dia tidak menganggap persetujuanku penting.

Dia mengatakan aku terlalu kaku.

Aku mengatakan dia terlalu takut dianggap gagal oleh keluarganya.

Kami sama-sama mengucapkan hal yang menyakitkan.

Kami juga sama-sama benar dalam beberapa hal.

Aku memang sering menggunakan kemampuan mengatur masalah sebagai cara menghindari percakapan emosional.

Kalau Arman kecewa, aku menawarkan solusi.

Kalau dia takut, aku menunjukkan angka.

Kalau kami bertengkar, aku lebih nyaman membahas pengeluaran daripada membahas perasaan.

Tetapi kekuranganku tidak membuat rahasianya menjadi benar.

Dan rasa malu Arman tidak menghapus delapan bulan kebohongan.

Kami akhirnya sepakat tinggal terpisah sementara.

Bukan perceraian saat itu juga.

Bukan pula drama mengusir koper ke halaman.

Aku pindah ke rumah kecil milik kakakku, Sinta, di daerah Banjarsari.

Rumah itu sudah lama kosong karena Sinta tinggal bersama suaminya di Salatiga.

Ketika kukabari, kakakku hanya bertanya:

“Kasur masih bagus?”

Aku tertawa.

“Masih.”

“Kulkas nyala?”

“Nyala.”

“Ya sudah. Tinggal.”

Tidak ada ceramah.

Tidak ada “aku sudah bilang”.

Padahal tujuh tahun sebelumnya kami sempat bertengkar karena Sinta berkata aku terlalu banyak mengorbankan hidup untuk keluarga Arman.

Aku marah waktu itu.

Kupikir dia iri karena pernikahanku terlihat mapan.

Ternyata kadang orang yang kita jauhi bukan karena mereka salah.

Kadang karena mereka melihat sesuatu yang belum sanggup kita lihat.

Naya membagi waktunya.

Beberapa hari bersamaku.

Beberapa hari di rumah Arman.

Aku melarangnya menjadi pembawa pesan.

Kalau Arman ingin bicara denganku, dia harus menghubungiku sendiri.

Kalau aku perlu bicara dengan Arman, aku juga melakukannya langsung.

Itu salah satu keputusan kecil yang paling banyak mengurangi pertengkaran.

Bu Sri tidak menghubungiku hampir sebulan.

Ketika akhirnya menelepon, suaranya kaku.

“Sehat?”

“Sudah jauh lebih baik, Bu.”

“Nawasena sekarang sewa barang dari tempat lain.”

Aku tahu.

“Mahal.”

“Memang.”

Hening.

“Ibu tidak bilang kamu salah semuanya.”

Aku tersenyum kecil meski ia tidak bisa melihat.

“Tidak apa-apa.”

“Tapi caramu membuat Arman seperti kehilangan usaha Bapak…”

“Arman tidak kehilangan Nawasena.”

“Maksud Ibu Satrio.”

“Satrio memang harus dibereskan. Kalau terus dipertahankan seperti sebelumnya, enam bulan lagi masalahnya lebih besar.”

Bu Sri diam.

Aku melanjutkan dengan pelan.

“Bu, saya tidak pernah ingin mengambil usaha Bapak.”

Ia tidak menyahut.

“Saya juga tidak mau lagi hidup dengan terus membuktikan bahwa saya bukan orang luar.”

Sunyi cukup lama.

Akhirnya Bu Sri berkata, “Ibu belum bisa terima semuanya.”

“Saya tahu.”

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus membuatnya bisa menerima.

Tiga bulan setelah operasi, Satrio Pesta berhenti menerima pesanan baru.

Pesanan lama diselesaikan.

Utang vendor turun drastis.

Satu kendaraan tersisa dijual.

Gudang mulai kosong.

Saat aku berdiri di sana pada hari terakhir, aku melihat bekas-bekas persegi di lantai tempat tumpukan kursi biasa berdiri.

Arman datang membawa dua gelas teh.

Dia memberiku satu.

“Kamu ingat waktu pertama kali bikin nomor inventaris?”

Aku tersenyum.

“Kamu bilang aku gila karena kasih stiker ke hampir dua ribu kursi.”

“Ternyata berguna.”

“Sayangnya baru kamu akui setelah usahanya tutup.”

Dia tertawa pelan.

Kami duduk di bangku panjang.

Hubungan kami saat itu belum kembali seperti dulu.

Mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu.

Anehnya, aku tidak lagi menganggap itu sebuah kegagalan.

“Wulan sekarang punya dua ratus kursi sendiri,” kata Arman.

“Bagus.”

“Dia ambil kredit kecil.”

Aku menoleh.

“Bukan pakai namamu?”

Arman tertawa.

“Bukan.”

“Berarti ada kemajuan.”

Dia mengangguk.

“Dia masih marah sama kamu.”

“Aku tahu.”

“Ibu juga masih suka ngomel.”

“Aku juga tahu.”

Arman memainkan tutup gelas.

“Aku sekarang kerja lebih banyak di Nawasena.”

“Ya.”

“Gajiku jelas.”

Aku memandangnya.

“Bagaimana rasanya?”

“Tidak enak.”

Aku tertawa.

Dia ikut tertawa.

Kemudian wajahnya serius.

“Laras.”

“Hm?”

“Aku minta maaf.”

Aku menunggu.

Bukan karena ingin memperpanjang penderitaannya.

Aku hanya tidak ingin buru-buru menyelamatkannya dari kalimat yang harus dia selesaikan sendiri.

“Aku marah karena merasa semua keputusan harus lewat kamu,” lanjutnya. “Tapi daripada bilang aku merasa kecil, aku malah bikin tempat lain supaya bisa merasa punya kuasa.”

Aku memandang gudang kosong.

“Terima kasih sudah bilang.”

“Aku juga berharap kamu yang nutup semua kekurangan.”

“Aku tahu.”

“Aku pikir itu wajar.”

“Karena aku selalu melakukannya.”

Dia mengangguk.

“Aku tidak tahu kita bisa balik seperti dulu atau tidak.”

Aku menarik napas.

“Aku juga tidak tahu.”

Dia tidak memaksaku menjawab lebih banyak.

Dan justru karena itu, untuk pertama kalinya aku percaya permintaan maafnya bukan sekadar usaha membuatku pulang.

Kami belum kembali tinggal bersama.

Kami juga belum memutuskan bercerai.

Kami mulai dari sesuatu yang lebih kecil.

Makan bersama seminggu sekali.

Bicara tanpa Naya sebagai perantara.

Arman membayar pengeluaran rumahnya sendiri.

Aku membayar pengeluaranku sendiri.

Kalau Bu Sri membutuhkan sesuatu, Arman dan Wulan membahasnya terlebih dahulu.

Aku membantu kalau memang mau.

Bukan karena takut disebut menantu tidak tahu diri.

Enam bulan setelah operasi, aku kembali bekerja.

Bukan di hotel lamaku.

Seorang kenalan membuka perusahaan pengelola gedung dan membutuhkan kepala administrasi.

Gajinya tidak sebesar penghasilanku ketika Satrio sedang ramai.

Tapi setiap akhir bulan, uang masuk ke rekeningku tanpa harus lebih dulu melewati sepuluh masalah keluarga.

Aku pulang sore.

Makan malam sederhana.

Kadang Naya datang membawa cucian terlalu banyak.

Kadang Arman datang mengantar makanan Bu Sri.

Kadang tidak ada siapa-siapa.

Dan aku mulai menyukai malam yang tidak selalu membutuhkan diriku untuk menyelesaikan sesuatu.

Suatu pagi, ketika hendak berangkat kerja, aku membuka laci kecil dekat pintu.

Di sana masih ada gantungan kunci lama Satrio Pesta.

Dulu gantungan itu berat.

Kunci gudang.

Kunci kantor.

Kunci lemari uang.

Kunci kendaraan.

Kunci ruang penyimpanan.

Bertahun-tahun aku membawanya ke mana-mana.

Aku pernah menganggap bunyi kunci-kunci itu sebagai bukti bahwa aku dibutuhkan.

Hari itu hanya satu kunci yang tersisa.

Kunci gudang sudah dikembalikan.

Kunci kendaraan tidak ada lagi.

Kunci kantor sudah diserahkan.

Aku melepas gantungan lama itu, memasukkan kunci rumah kecilku ke tas, lalu menutup laci.

Di luar, matahari Solo baru naik.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Arman.

Makan malam Jumat jadi?

Aku membaca sebentar.

Lalu membalas.

Jadi. Jam tujuh. Jangan telat.

Aku memasukkan ponsel ke tas dan mengunci pintu.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, gantungan kunciku terasa ringan.

Dan aku tidak lagi takut itu berarti hidupku menjadi lebih kecil.

Ternyata beberapa hal memang harus dilepaskan agar kita tahu mana yang benar-benar milik kita.

Terima kasih sudah mengikuti kisah Laras sampai akhir. Menurut kalian, apakah batas yang ia buat terlalu keras, atau justru terlambat dilakukan? Semoga kita semua diberi keluarga yang bisa saling membantu tanpa menganggap pengorbanan seseorang sebagai kewajiban tanpa akhir. Jika kisah ini terasa dekat, silakan bagikan pendapat kalian.