Di Depan Keluarga Besar, Selingkuhan Suamiku Menuding Bayiku Bukan Darahnya—Namun Hasil DNA dan Satu Berkas Klinik Membuka Rahasia yang Membuat Mertuaku Menjatuhkan Gelas di Tengah Ruang Tamu yang Mendadak Membeku

Avatar penulis
admini
13 menit baca 38 tayangan
Indeks

Di Depan Keluarga Besar, Selingkuhan Suamiku Menuding Bayiku Bukan Darahnya—Namun Hasil DNA dan Satu Berkas Klinik Membuka Rahasia yang Membuat Mertuaku Menjatuhkan Gelas di Tengah Ruang Tamu yang Mendadak Membeku

Bagian 1 — Satu Tuduhan di Meja Makan Membuat Suamiku Menuntut Tes DNA, Sementara Aku Justru Memintanya Dilakukan Hari Itu Juga Tanpa Menunggu Besok

“Bayi itu bukan anak Mas Arga!”

Suara Selvi Maharani memotong percakapan di ruang makan rumah keluarga Pratama di Surabaya seperti pisau yang dilempar tepat ke tengah meja.

Sendok di tangan Ibu Ratna berhenti di udara.

Ayah mertuaku, Pak Harjono, perlahan menurunkan gelasnya.

Sedangkan aku masih duduk sambil menggendong Rafa, putraku yang baru berusia sembilan bulan.

Selvi berdiri di samping suamiku.

Gaun kremnya cukup ketat untuk memperlihatkan perut yang mulai membesar.

Empat bulan.

Itulah usia kehamilan yang baru diumumkannya kepada keluarga beberapa menit sebelumnya.

Dan menurutnya, bayi dalam kandungannya adalah anak Arga.

Aku tidak terkejut soal perselingkuhan itu.

Yang membuatku hampir tertawa justru keberaniannya menunjuk Rafa.

Ibu Ratna berdiri.

“Kamu bilang apa tadi?”

Selvi menelan ludah, lalu mengambil ponsel.

“Saya tahu Tante mungkin marah. Tapi saya tidak sanggup melihat Mas Arga membesarkan anak laki-laki orang lain.”

Dia memperlihatkan sebuah foto.

Aku mengenal foto itu.

Aku keluar dari sebuah klinik fertilitas di Surabaya Barat bersama seorang dokter laki-laki berkacamata.

Tanggalnya sekitar satu setengah tahun lalu.

Saat aku sedang menjalani program kehamilan.

Selvi memperbesar gambar itu.

“Lihat tanggalnya. Bu Nabila bahkan bertemu pria ini diam-diam beberapa kali sebelum hamil.”

Arga langsung merebut ponselnya.

Dia menatap foto tersebut lama sekali sebelum mengangkat wajah kepadaku.

“Nabila.”

Aku tidak menjawab.

“Siapa laki-laki ini?”

“Apa kamu benar-benar ingin tahu?”

“Jawab!”

Nada suaranya membuat Rafa terkejut.

Putraku mulai merengek.

Aku berdiri, menepuk-nepuk punggungnya.

“Jangan membentak di depan anak.”

Ibu Ratna mencibir.

“Masih sempat-sempatnya kamu bermain sebagai ibu yang baik?”

Aku menatapnya.

Belum pernah selama empat tahun menjadi menantunya aku melihat wajahnya begitu puas.

Dia mendekati Rafa, memperhatikan mata dan hidungnya.

“Sudah lama Mama merasa aneh. Tidak ada satu pun bagian wajah anak ini yang mirip keluarga Pratama.”

Aku mundur satu langkah.

“Jangan sentuh anak saya.”

“Kalau memang bukan cucu saya, siapa juga yang mau menyentuh?”

Kalimat itu membuat dadaku seperti ditusuk.

Bukan karena aku takut.

Karena selama sembilan bulan terakhir perempuan yang sama selalu berebut menggendong Rafa di depan tamu.

Dialah yang meminta Rafa memakai nama belakang keluarga mereka.

Dialah yang mengunggah fotonya sambil menulis, “Penerus keluarga Pratama.”

Sekarang hanya karena satu foto dan ucapan seorang selingkuhan, dia bisa membuang cucunya seolah bayi itu barang rusak.

Arga membanting ponsel ke meja.

“Kita tes DNA.”

Aku menatap wajah laki-laki yang sudah empat tahun tidur di sampingku.

“Karena satu foto?”

“Karena kamu tidak menjelaskan siapa laki-laki itu.”

“Aku sudah bilang jangan menemui Selvi di luar pekerjaan. Kamu tidak pernah menjelaskan juga.”

“Itu tidak ada hubungannya!”

Aku tersenyum tipis.

“Tentu. Kesalahanmu selalu punya penjelasan. Kesalahanku bahkan belum terbukti, tapi sudah punya hukuman.”

Selvi memegang lengan Arga.

“Mas, tenang. Yang penting kebenaran keluar.”

Aku memandang tangannya.

Di pergelangan Selvi ada gelang emas bermotif bunga melati milik Ibu Ratna.

Aku pernah melihatnya di kotak perhiasan keluarga.

Dulu Ibu Ratna mengatakan gelang itu hanya akan diberikan kepada perempuan yang melahirkan pewaris keluarga Pratama berikutnya.

Jadi rupanya semuanya sudah dibicarakan sebelum aku datang.

Aku mengangguk.

“Baik.”

Arga mengerutkan dahi.

“Apa?”

“Kita lakukan tes DNA.”

Selvi terlihat kaget.

Ibu Ratna malah tertawa.

“Sekarang berani, nanti setelah hasil keluar jangan pura-pura pingsan.”

“Tidak perlu menunggu besok.”

Aku mengambil tas.

“Hari ini.”

Senyum Selvi langsung kaku.

Kami pergi ke laboratorium forensik swasta yang memiliki layanan tes hubungan biologis resmi.

Arga memilih paket tercepat.

Ibu Ratna bahkan ikut masuk sampai ruang administrasi.

“Gunakan sampel yang jelas. Jangan sampai bisa dimanipulasi.”

Petugas menatapnya aneh.

Aku tidak berkata apa pun.

Setelah sampel diambil, aku duduk di kursi ruang tunggu sambil memberi susu kepada Rafa.

Selvi mendekat.

“Bu Nabila.”

Aku tidak menoleh.

“Masih tenang?”

“Harusnya bagaimana?”

“Kalau saya jadi Anda, saya sudah ketakutan.”

Baru kali itu aku menatapnya.

“Selvi, kamu menginginkan aku menangis?”

Bibirnya terangkat.

“Aku hanya kasihan.”

“Kepada siapa?”

“Rafa. Setelah hari ini dia mungkin kehilangan ayah.”

Aku mengusap kepala anakku.

“Jangan terlalu yakin.”

“Apa maksudnya?”

“Ketika satu pintu dibuka, kadang yang keluar bukan rahasia orang yang kita tuduh.”

Wajahnya berubah sedikit.

Sore menjelang malam ketika hasil digital dikirim.

Kami kembali berkumpul di rumah keluarga Pratama.

Pak Harjono sudah pulang dari kantor pusat perusahaan furnitur keluarga.

Begitu mendengar masalahnya, dia tidak bertanya bagaimana perasaanku.

Pertanyaan pertamanya justru:

“Kalau anak itu bukan darah Arga, kamu tahu konsekuensinya?”

Aku menatapnya.

“Konsekuensi apa?”

“Pergi dari keluarga ini.”

Ibu Ratna langsung menyambung.

“Apartemen di Darmo, mobil, dan saham di perusahaan jangan harap bisa kamu bawa.”

Aku hampir ingin mengingatkan bahwa apartemen itu kubeli dua tahun sebelum menikah.

Dan delapan belas persen saham PT Pratama Living tercatat atas namaku karena uang investasiku sendiri.

Tetapi aku memilih diam.

Biarkan mereka bicara sebanyak mungkin.

Arga membuka email.

Selvi berdiri sangat dekat di sebelahnya.

Ibu Ratna bahkan tersenyum sebelum hasilnya terbaca.

Lalu wajah Arga berubah.

Matanya bergerak sekali lagi dari atas ke bawah.

“Tidak mungkin.”

Ibu Ratna merebut ponsel.

“Berapa persennya?”

Beberapa detik kemudian bibirnya terbuka.

“Hubungan biologis ayah-anak… dikecualikan?”

Selvi langsung tertawa.

“Saya sudah bilang! Rafa bukan anak Mas Arga!”

Arga memukul meja.

“Nabila! Siapa ayahnya?”

Rafa menangis.

Aku menggendongnya lebih erat.

Pada saat itulah bel rumah berbunyi.

Asisten rumah tangga masuk membawa sebuah amplop besar.

“Bu Nabila, kurir dari Klinik Bunda Sentosa. Katanya dokumen yang Ibu minta pagi tadi.”

Wajah Selvi mendadak menegang.

Sedangkan Ibu Ratna benar-benar berhenti bernapas beberapa detik.

Aku membuka amplop.

Di dalamnya ada salinan laporan embriologi, data penyimpanan sampel, riwayat persetujuan prosedur, dan hasil pemeriksaan laboratorium lama.

Pak Harjono melihat kop dokumennya.

“Klinik fertilitas?”

Aku mengeluarkan lembar pertama.

Laki-laki dalam foto yang diberikan Selvi bukan kekasihku.

Namanya dr. Reza Wicaksono.

Dokter fertilitas yang menangani program kehamilanku.

Arga mengambil satu halaman.

“Kenapa aku tidak pernah melihat dokumen ini?”

“Karena berkas yang diberikan kepada kita dulu tidak lengkap.”

Ibu Ratna mendadak menyambar map dari tanganku.

Dia membaca dua baris.

Lalu tiga.

Wajahnya kehilangan seluruh warna.

Tangannya mulai gemetar.

Pak Harjono berdiri.

“Ratna?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengambil kembali map itu.

Di halaman berikutnya tercatat bahwa sampel sperma milik Arga yang disimpan untuk prosedur fertilisasi dinyatakan tidak memiliki sel sperma hidup yang dapat digunakan.

Di bawahnya ada kode sampel lain.

Kode donor.

Arga mematung.

“Apa ini?”

Aku menatapnya.

“Belum selesai.”

Aku menarik halaman terakhir.

Ibu Ratna tiba-tiba menjatuhkan gelas ke lantai.

Pecahannya berhamburan.

Kemudian dia berteriak begitu keras sampai Rafa kembali menangis.

“JANGAN BACA HALAMAN ITU!”

Bagian 2 — Hasil DNA Menyingkirkan Nama Suamiku, Tetapi Dokumen Klinik Lama Membuktikan Ada Seseorang yang Sengaja Mengubah Nasib Rumah Tangga Kami Sejak Awal

Semua mata berpindah kepada Ibu Ratna.

Arga berdiri perlahan.

“Mama tahu apa?”

“Tidak ada.”

“Kalau tidak ada, kenapa Mama takut aku membaca?”

Aku meletakkan Rafa di stroller yang dijaga pengasuh, lalu membuka halaman terakhir.

“Pada 8 Februari tahun lalu, klinik mencatat perubahan sampel untuk prosedur kami.”

Pak Harjono mendekat.

“Perubahan oleh siapa?”

Aku menunjuk nama pada catatan administrasi.

Ratna Kusumawati Pratama.

Suasana langsung mati.

Ibu Ratna menggeleng cepat.

“Itu salah catat.”

“Benarkah?”

Aku mengeluarkan satu lembar lagi.

Bukti transfer sebesar Rp85 juta.

Dari rekening pribadinya kepada mantan kepala administrasi klinik, Yudi Santoso.

Keterangan transfernya hanya dua kata:

“Biaya bantuan.”

Arga membaca angka itu berkali-kali.

“Mama bayar orang klinik?”

Ibu Ratna akhirnya meledak.

“Mama melakukan semuanya untuk kamu!”

Selvi mundur satu langkah.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Biarkan dia sendiri yang membuka kuburannya.

Ibu Ratna menunjuk Arga.

“Dua tahun kalian menikah tanpa anak. Mama menemani kamu periksa diam-diam. Dokter bilang kondisi kamu buruk.”

Arga memucat.

“Dokter bilang peluangku masih ada.”

“Dokter pertama bilang begitu supaya kamu tidak hancur!”

Pak Harjono menatap istrinya seperti melihat orang asing.

“Jelaskan.”

Ibu Ratna menangis, tetapi kali ini bukan air mata orang yang dizalimi.

Itu tangisan seseorang yang rahasianya tidak bisa disembunyikan lagi.

Pemeriksaan Arga sebelum program kehamilan menunjukkan azoospermia berat.

Pada beberapa pemeriksaan, tidak ditemukan sperma dalam sampel ejakulasi.

Aku tidak pernah diberi tahu hasil lengkapnya.

Kepadaku hanya dikatakan jumlah spermanya rendah dan dokter akan mencoba menggunakan sampel beku terbaik.

Saat hari prosedur tiba, ternyata sampel Arga tetap tidak bisa digunakan.

Menurut dokumen internal, staf seharusnya membatalkan prosedur dan meminta persetujuan kami untuk langkah berikutnya.

Tetapi Ibu Ratna tidak mau.

Dia takut keluarga besar mengetahui putra tunggalnya kemungkinan tidak dapat memiliki anak biologis.

Melalui kenalannya, dia menghubungi Yudi.

Seorang donor anonim dipilih berdasarkan golongan darah dan karakteristik fisik yang mendekati Arga.

Tanda tangan elektronik persetujuan tambahan dimasukkan ke sistem menggunakan akses administrasi.

Aku tidak pernah melihat formulir itu.

Arga pun tidak.

“Aku cuma ingin keluarga kita punya penerus!” teriak Ibu Ratna.

Aku menatapnya.

“Dengan menipu tubuh saya?”

Dia terdiam.

“Dengan membuat saya menjalani kehamilan sembilan bulan sambil percaya embrio itu berasal dari saya dan suami saya?”

“Nabila, Rafa tetap anakmu!”

“Justru karena dia anak saya, saya tidak akan membiarkan siapa pun menganggap yang Mama lakukan benar.”

Arga memegang kepalanya.

“Kenapa Mama tidak bilang?”

Ibu Ratna mendekatinya.

“Kalau Mama bilang, kamu pasti menolak. Kamu selalu terlalu memikirkan harga diri.”

Aku hampir tertawa mendengar ironi itu.

Laki-laki yang beberapa jam lalu berteriak meminta nama ayah Rafa sekarang berdiri tanpa sanggup menatap anak yang selama sembilan bulan memanggilnya Papa.

Selvi tiba-tiba bicara.

“Mas Arga, tidak apa-apa. Sekarang kita bisa mulai dari awal.”

Semua kepala menoleh kepadanya.

Dia memegang perutnya.

“Anak kita akan menjadi darah daging Mas sendiri.”

Ibu Ratna seperti menemukan penyelamat.

“Benar! Selvi sedang mengandung anak Arga.”

Aku memandang mereka.

Kemudian mengambil satu amplop kecil dari tas.

“Aku tadinya tidak berniat membuka ini di depan semua orang.”

Arga menatapku.

“Apa lagi?”

“Dua minggu lalu, ketika aku pertama kali menemukan pembayaran klinik dalam rekening lama Mama, aku meminta dokter meninjau seluruh riwayat medis.”

Aku mengeluarkan hasil pemeriksaan terbaru Arga.

Pemeriksaan dilakukan enam bulan lalu untuk keperluan asuransi kesehatan eksekutif perusahaan.

Aku membaca bagian kesimpulannya.

“Azoospermia masih terkonfirmasi.”

Tangan Selvi langsung turun dari perutnya.

Pak Harjono menoleh kepadanya.

“Katamu janin itu anak Arga.”

Selvi menjawab terlalu cepat.

“Ya. Memang anak Mas Arga.”

“Kalau begitu,” kataku pelan, “tidak ada masalah melakukan tes paternitas setelah bayi lahir.”

Selvi menggigit bibir.

Aku melanjutkan.

“Atau kalau dokter kandungan menilai aman dan kalian memang ingin kepastian lebih awal, bicarakan prosedur noninvasif dengan dokter.”

Dia mundur.

Arga menatapnya tajam.

“Selvi?”

“Aku capek. Aku mau pulang.”

Dia berbalik.

Arga menangkap pergelangan tangannya.

“Siapa ayah anak itu?”

“Lepaskan!”

“SELVI!”

Untuk pertama kalinya wajah perempuan itu kehilangan seluruh kesombongannya.

Kemudian ponselnya yang tadi diletakkan di meja bergetar.

Sebuah pesan masuk muncul di layar.

Nama pengirimnya terlihat jelas.

Dimas.

Dan potongan pesannya cukup membuat semua orang membeku.

“Kamu janji setelah Arga mengakui bayi itu, kita tidak perlu sembunyi lagi…”

Bagian 3 — Rahasia Infertilitas Suamiku Membongkar Kebohongan Selingkuhannya, dan Bukti Transfer Mertuaku Membuat Mereka Kehilangan Rumah, Jabatan, serta Keluarga Sekaligus dalam Satu Malam

Arga membaca pesan itu dua kali.

Lalu melepaskan tangan Selvi seolah baru menyentuh sesuatu yang kotor.

“Dimas siapa?”

Selvi tidak menjawab.

Aku tahu namanya.

Dimas Aditya.

Mantan tunangan Selvi sebelum dia bekerja sebagai sekretaris direktur di perusahaan keluarga kami.

Hubungan mereka ternyata tidak pernah benar-benar berakhir.

Setelah didesak Pak Harjono, Selvi akhirnya mengaku.

Kehamilannya memang bukan hasil hubungannya dengan Arga.

Ketika mengetahui dirinya hamil, dia panik karena Dimas belum memiliki pekerjaan tetap.

Pada saat yang sama, hubungannya dengan Arga sudah berlangsung hampir tujuh bulan.

Ibu Ratna menyukainya.

Bahkan menjanjikan gelang keluarga dan tempat di rumah Pratama apabila Selvi bisa memberi Arga “anak kandung.”

Selvi melihat kesempatan.

Dia mengaku bayi itu milik Arga.

Lalu menemukan foto lama aku bersama dr. Reza dari sebuah unggahan klinik yang sudah dihapus.

Foto itu dipotong sedemikian rupa sehingga terlihat seperti pertemuan pribadi.

“Aku cuma ingin Mas Arga memilih aku,” katanya sambil menangis.

Aku menatapnya datar.

“Jadi caramu mendapatkan suami orang adalah menuduh bayi sembilan bulan sebagai anak hasil perselingkuhan?”

Dia tidak mampu menjawab.

Arga mencoba mendekatiku.

“Nabila…”

Aku mengangkat tangan.

“Jangan.”

“Aku tidak tahu Mama melakukan semua itu.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak tahu Selvi berbohong.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu beri aku kesempatan memperbaiki semuanya.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali sebagai seorang istri.

“Masalah kita bukan cuma rahasia Mama dan kebohongan Selvi.”

Dia diam.

“Ketika satu orang menudingku selingkuh, kamu tidak bertanya. Kamu menghukum.”

Aku menunjuk meja tempat beberapa jam sebelumnya dia membanting ponsel.

“Kamu bahkan membiarkan ayahmu mengusirku sebelum hasil apa pun dijelaskan.”

Pak Harjono menundukkan kepala.

Ibu Ratna terisak.

Aku mengambil map kedua.

Di dalamnya sudah ada salinan permohonan cerai dari pengacaraku.

Aku sudah menyiapkannya sejak mengetahui hubungan Arga dan Selvi sebulan sebelumnya.

Hari ini hanya menghapus keraguan terakhirku.

“Apartemen Darmo dibeli tiga tahun sebelum kita menikah dan atas namaku.”

Aku memandang Pak Harjono.

“Jadi tidak ada yang bisa mengambilnya.”

Lalu aku mengeluarkan salinan akta saham.

“Delapan belas persen saham PT Pratama Living juga berasal dari investasi pribadi saya, dengan bukti transfer dan perjanjian pemegang saham.”

Pak Harjono menatap istrinya tajam.

Tidak ada lagi yang berani bicara soal mengambil hartaku.

Dua minggu kemudian, semuanya mulai runtuh.

Pak Harjono mencopot Arga dari posisi direktur operasional setelah audit internal menemukan penggunaan kartu perusahaan untuk hotel, perjalanan, dan hadiah bagi Selvi.

Selvi dipecat.

Dimas datang menjemputnya setelah skandal itu tersebar di lingkaran keluarga mereka, meski aku tidak tahu apakah hubungan mereka bertahan.

Dan itu bukan lagi urusanku.

Aku menyerahkan bukti perubahan data klinik, transfer Rp85 juta, serta salinan persetujuan yang tidak pernah kutandatangani kepada pengacara.

Klinik membuka investigasi.

Yudi, mantan kepala administrasi, dilaporkan atas dugaan pemalsuan dan pelanggaran prosedur medis.

Ibu Ratna juga diperiksa karena keterlibatannya.

Proses hukumnya panjang dan tidak selesai dalam sehari.

Tetapi untuk pertama kalinya, dia harus menjelaskan tindakannya kepada orang yang tidak bisa dibungkam dengan status keluarga atau uang.

Tiga bulan kemudian, perceraian kami diputus.

Aku tidak meminta rumah keluarga mereka.

Tidak meminta mobil Arga.

Aku hanya mengambil yang memang milikku.

Untuk saham perusahaan, Pak Harjono menawarkan pembelian kembali berdasarkan valuasi independen.

Aku menerimanya.

Sebelum menandatangani, dia berkata pelan:

“Saya gagal melindungi kamu sebagai menantu.”

Aku menjawab:

“Yang paling penting sekarang, jangan pernah memperlakukan Rafa seolah dia penyebab semua ini.”

Dia mengangguk.

Arga masih meminta bertemu Rafa.

Secara biologis Rafa memang bukan putranya.

Tetapi selama sembilan bulan Arga adalah sosok yang digendong Rafa ketika demam, yang mengajarinya bertepuk tangan, dan yang pertama dipanggilnya “Pa.”

Aku tidak menghapus itu.

Namun pertemuan hanya kulakukan dengan batas yang jelas.

Tidak ada lagi Ibu Ratna yang menentukan siapa yang pantas disebut keluarga berdasarkan darah.

Setahun setelah malam tes DNA itu, aku pindah ke Malang.

Aku membuka studio konsultasi keuangan kecil dengan sebagian dana hasil penjualan saham.

Rafa tumbuh menjadi anak yang cerewet, suka berlari mengejar burung di halaman, dan selalu tertawa setiap kali hujan turun.

Suatu sore aku menerima pesan dari Arga.

“Aku baru mengerti. Waktu itu aku sibuk mencari siapa ayah biologis Rafa sampai lupa bertanya apakah aku sendiri masih pantas menjadi ayahnya.”

Aku membaca pesan itu sekali.

Lalu mengunci layar.

Aku tidak merasa menang.

Aku hanya merasa bebas.

Karena malam ketika seluruh keluarga menunggu hasil DNA untuk mempermalukanku, mereka mengira selembar kertas akan menentukan harga diriku.

Ternyata kertas itu justru membongkar kebohongan mereka sendiri.

Dan Rafa?

Dia tidak kehilangan sebuah keluarga.

Aku hanya membawanya keluar dari rumah yang menganggap cinta harus dibuktikan dengan kecocokan darah.

Sekarang dia tumbuh di tempat yang jauh lebih sederhana.

Tetapi setiap kali dia berlari memelukku sambil berteriak, “Mama pulang!”

Aku tahu satu hal dengan pasti.

Kami tidak kehilangan rumah.

Kami akhirnya menemukannya.