Kakakku Menolak Rp28 Juta dari Uang Sewa Ruko Keluarga untuk Biaya Kuliah Anakku, tetapi Saat Kami Menuntut Semua Catatan Dibuka, Ia Malah Menyebut Nama Percetakanku

Avatar penulis
Cerita 01
24 menit baca 265 tayangan
Kakakku Menolak Rp28 Juta dari Uang Sewa Ruko Keluarga untuk Biaya Kuliah Anakku, tetapi Saat Kami Menuntut Semua Catatan Dibuka, Ia Malah Menyebut Nama Percetakanku
Indeks

BAGIAN 2

“Maya?”

Istriku tidak menjawab.

Fajar menoleh dari aku ke Maya.

Lela ikut diam.

Aku memanggil sekali lagi.

“Kamu tahu apa?”

Maya akhirnya mengangkat wajah.

“Tidak semuanya.”

Dadaku terasa panas.

“Maksudnya?”

Mbak Ratih langsung memotong.

“Jangan tanya Maya dulu.”

Aku menoleh tajam.

“Jangan atur aku.”

Untuk pertama kalinya Mbak Ratih tidak membalas.

Kakakku Menolak Rp28 Juta dari Uang Sewa Ruko Keluarga untuk Biaya Kuliah Anakku, tetapi Saat Kami Menuntut Semua Catatan Dibuka, Ia Malah Menyebut Nama Percetakanku

Dia berjalan ke lemari ruang tengah, membuka bagian bawah, lalu mengambil sebuah kotak plastik abu-abu.

Bukan map rahasia.

Bukan sesuatu yang tersembunyi.

Kotak itu bahkan pernah kulihat berkali-kali di rak.

Dia meletakkannya di meja.

“Bapak tidak menjual tanah di Garut delapan tahun lalu.”

Aku mengernyit.

“Apa?”

Percetakanku hampir bangkrut delapan tahun sebelumnya.

Aku kehilangan dua pelanggan besar sekaligus dan masih punya cicilan mesin cetak digital.

Saat itu Bapak datang ke toko membawa uang Rp240 juta.

Dia bilang sebagian hasil menjual tanah kecil warisan kakek.

Uang itu menyelamatkanku.

Aku mengembalikannya sedikit demi sedikit hampir tiga tahun.

Rp5 juta kalau sedang ramai.

Rp2 juta kalau sepi.

Kadang tidak sama sekali.

Bapak tidak pernah menagih.

Setelah Bapak sakit, aku bahkan berhenti membayar karena biaya hidup kami juga naik.

“Tanah itu baru dijual dua tahun setelahnya,” kata Mbak Ratih.

Aku memandangnya.

“Terus uangnya dari mana?”

Mbak Ratih membuka kotak.

Dia mengeluarkan beberapa berkas lama dan satu buku catatan milik Bapak yang sampulnya sudah mengelupas.

“Pinjaman bank.”

Fajar berhenti memainkan kalkulator.

Aku justru tertawa kecil.

“Bapak umur enam puluh tujuh pinjam Rp240 juta?”

“Rp300 juta.”

Aku tidak tertawa lagi.

“Jaminannya?”

Mbak Ratih diam sepersekian detik terlalu lama.

“Ruko.”

Fajar berdiri.

“Apa?”

Lela menutup mulut.

Aku menoleh ke Maya.

“Kamu tahu?”

“Raka…”

“Kamu tahu?”

“Waktu itu Bapak pernah minta aku jangan bilang.”

“Kenapa?”

Maya terlihat hampir menangis, tetapi aku terlalu marah untuk merasa kasihan.

“Karena kamu lagi berantakan. Kamu hampir tutup toko. Kamu nggak tidur berhari-hari.”

“Jadi semua orang boleh bohong karena aku stres?”

“Bukan begitu.”

“Terus bagaimana?”

Mbak Ratih menyela.

“Kalau mau marah, marah ke aku.”

Aku menatapnya.

“Dengan senang hati.”

Dia tidak bereaksi.

Pinjaman Bapak tidak sederhana.

Selama beberapa tahun cicilannya dibayar dari pemasukan ruko dan sebagian uang pribadi Bapak.

Ketika Bapak sakit, pembayaran tersendat.

Setelah Bapak meninggal, masih tersisa hampir Rp170 juta.

“Aku pikir utangnya lunas dari penjualan tanah,” kataku.

“Sebagian,” jawab Mbak Ratih.

“Sebagian berapa?”

“Rp76 juta.”

“Berarti sisanya?”

“Dibayar bertahap.”

“Dari kas?”

“Sebagian.”

Fajar menghantam meja dengan telapak tangannya.

“Jadi selama empat tahun duit kita dipakai bayar utang tokonya Mas Raka?”

“Aset yang dijaminkan adalah aset Bapak,” kata Mbak Ratih.

“Setelah Bapak meninggal, aset itu jadi warisan kita.”

“Makanya aku bayar.”

“Pakai uang kita!”

Mbak Ratih menatap Fajar.

“Kamu mau bank mengambilnya?”

“Aku mau diberi tahu!”

“Itu berbeda.”

“Enggak. Itu inti masalahnya.”

Untuk pertama kalinya aku setuju dengan Fajar.

Aku menatap Mbak Ratih.

“Kenapa nggak pernah bilang?”

Dia mengusap tepi buku Bapak dengan ibu jari.

“Karena Bapak minta.”

“Bapak sudah meninggal empat tahun.”

Dia tidak menjawab.

Kalimat itu mengenai tempat yang tepat.

Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya.

Rasa bersalah.

Fajar kembali duduk.

“Saldo pinjamannya sekarang?”

“Sudah selesai.”

Ruangan langsung hening.

“Kapan?”

“Tujuh bulan lalu.”

Aku merasa lega selama kira-kira dua detik.

Lalu pertanyaan lain muncul.

“Kalau sudah lunas tujuh bulan lalu, kenapa saldo kas cuma Rp116 juta?”

Mbak Ratih menatapku.

Tidak marah lagi.

Hanya terlihat sangat tua.

Padahal usianya baru lima puluh enam.

Fajar menunjuk meja.

“Nah.”

Lela berkata pelan, “Masih ada apa lagi, Mbak?”

Mbak Ratih menutup kotak plastik.

“Bukan soal Raka lagi.”

Aku mendengar napas Fajar berubah.

Mbak Ratih memandang kami satu per satu.

“Dan kalau kalian ingin semuanya dibuka hari ini, jangan cuma siap menghitung uang yang menurut kalian hilang.”

Tangannya berhenti di atas buku Bapak.

“Kalian juga harus siap menghitung siapa yang selama ini membayar ketika salah satu dari kita bilang, ‘nanti dulu’.”

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

Kemudian dia mengeluarkan tiga buku tulis tipis dari dasar kotak.

Satu berwarna hijau.

Satu biru.

Satu merah.

Di bagian atas masing-masing buku ada nama.

Raka.

Fajar.

Lela.

Tidak ada buku dengan nama Ratih.

Menurutmu, apa yang lebih menyakitkan, kehilangan uang atau mengetahui bahwa selama bertahun-tahun seseorang diam-diam mencatat harga dari setiap bantuan yang keluargamu anggap biasa?

BAGIAN 3

Fajar mengambil buku biru lebih dulu.

Gerakannya cepat, hampir kasar.

Mbak Ratih langsung menahan tangannya.

“Baca punyamu sendiri.”

“Memangnya ada rahasia negara?”

“Jar.”

Nada suara Mbak Ratih rendah.

Bukan nada orang yang sedang mempertahankan uang.

Lebih mirip orang yang mempertahankan sesuatu yang menurutnya masih layak dijaga.

Fajar menarik bukunya.

“Kalau semua ini pakai uang keluarga, aku berhak tahu semuanya.”

“Kamu berhak tahu uang keluarga. Bukan semua masalah adik-kakakmu.”

Aku menatap buku hijau di depanku.

Namaku ditulis dengan tulisan tangan Bapak.

Bukan tulisan Mbak Ratih.

Huruf R-nya besar dan agak miring ke kanan.

Aku mengenal tulisan itu sejak kecil, dari tanda tangan di rapor sampai catatan yang Bapak tempel di kulkas kalau ingin mengingatkan kami membayar listrik.

Maya menyentuh lenganku.

Aku tidak bergerak.

“Buka,” katanya pelan.

Aku membuka halaman pertama.

Tanggal delapan tahun lalu.

Pinjaman usaha Raka: Rp240.000.000.

Di bawahnya ada catatan.

Bukan pemberian. Jangan bikin anak merasa menerima warisan lebih dulu. Kalau usaha pulih, bayar sesuai mampu.

Aku menelan ludah.

Halaman berikutnya mencatat pembayaran yang pernah kuberikan.

Rp5 juta.

Rp5 juta.

Rp3 juta.

Rp2 juta.

Rp4 juta.

Sampai total Rp79 juta.

Setelah itu tulisannya berubah.

Dari tulisan Bapak menjadi tulisan Mbak Ratih.

Bapak mulai cuci darah. Pembayaran Raka dihentikan sementara.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

“Bapak cuci darah setelah aku berhenti bayar,” kataku.

“Tidak,” jawab Maya.

Aku menoleh.

“Beliau sudah mulai pemeriksaan sebelum itu.”

“Kenapa aku tidak tahu?”

Maya menurunkan wajah.

Mbak Ratih menjawab.

“Karena kamu baru dapat kontrak dari sekolah-sekolah. Bapak takut kalau tahu beliau sakit, kamu jual mesin untuk bantu.”

Aku menatap buku.

Aku memang akan melakukannya.

Waktu itu percetakanku akhirnya mulai berdiri lagi setelah hampir dua tahun terseok.

Mesin cetak yang kupakai sampai sekarang adalah mesin yang hampir disita leasing sebelum Bapak membawakan uang.

Aku selalu menganggap Bapak percaya padaku.

Baru sore itu aku menyadari kepercayaan itu dibeli dengan risiko yang tidak pernah diperlihatkan kepadaku.

Fajar sudah membolak-balik bukunya.

Wajahnya berubah.

“Apa ini?”

Mbak Ratih tidak menoleh.

“Kamu bisa baca.”

“Biaya rumah sakit Rani?”

Rani adalah istrinya.

Tiga tahun lalu dia menjalani operasi kantong empedu.

Fajar pernah bilang kantor menanggung hampir semuanya.

“Yang ditanggung kantor tidak semuanya,” kata Mbak Ratih.

“Ini Rp34 juta.”

“Ya.”

“Aku nggak pernah minta.”

“Ibu yang minta.”

Fajar menatap kosong.

“Ibu bilang beliau pakai tabungan.”

“Tabungan Ibu waktu itu tinggal Rp11 juta.”

“Terus ini dari mana?”

“Kas ruko Rp20 juta. Sisanya aku talangi.”

Suasana berubah.

Sebelumnya kami datang sebagai tiga orang adik yang ingin menuntut kakak membuka pembukuan.

Sekarang setiap orang mendadak sibuk dengan halaman masing-masing.

Lela bahkan belum membuka bukunya.

Dia hanya memandangi sampul merah.

“Punyaku apa?” tanyanya.

Mbak Ratih mengangkat bahu kecil.

“Kalau mau tahu, baca.”

“Aku takut.”

Untuk pertama kalinya sore itu, Mbak Ratih tersenyum.

Tipis sekali.

“Makanya dari dulu jangan suka bilang ke Ibu, ‘nanti aku ganti’, kalau sebenarnya kita semua tahu kamu tidak punya uang.”

Lela menutup mata sebentar.

Kemudian membuka bukunya.

Aku tidak tahu apa saja yang tertulis di sana.

Dan sesuai kata Mbak Ratih, aku tidak perlu tahu.

Aku hanya melihat Lela berhenti di satu halaman cukup lama.

Matanya mulai merah.

“Biaya kontrakan aku waktu Mas Deni di-PHK?”

Mbak Ratih mengangguk.

“Ibu bilang pinjam dari arisan.”

“Arisan yang mana?”

Lela tidak menjawab.

Mbak Ratih melanjutkan.

“Waktu itu kamu punya dua anak kecil. Mau aku bilang apa? Keluar saja dari kontrakan?”

“Mbak bisa bilang kalau itu uang Mbak.”

“Untuk apa?”

“Supaya aku tahu.”

“Nanti kamu malu.”

“Aku lebih malu sekarang.”

Kalimat itu membuat Mbak Ratih diam.

Lela menutup buku.

“Karena selama ini aku pikir Mbak tidak pernah peduli.”

Tidak ada jawaban cepat.

Kipas angin di sudut ruang berbunyi kecil setiap kali kepalanya berputar.

Aku melihat Mbak Ratih duduk lebih tegak.

Seolah ada bagian tubuhnya yang otomatis mengeras ketika dituduh.

“Aku tidak minta kalian pikir aku peduli.”

“Nah,” kata Fajar. “Itu masalah Mbak.”

Mbak Ratih menoleh.

“Masalahku apa?”

“Selalu begitu. Selalu bikin semua orang merasa bodoh kalau tanya.”

“Aku jawab kalau ditanya.”

“Jawaban Mbak cuma tiga kata.”

“Aku tidak suka bicara panjang.”

Fajar tertawa tanpa humor.

“Bukan tidak suka. Mbak mau pegang semuanya sendiri.”

Mbak Ratih mulai membuka mulut, tetapi Fajar belum selesai.

“Uang, rekening, penyewa, pajak, tukang. Semua harus lewat Mbak. Kalau kita tanya, Mbak bilang kita tidak pernah mau repot. Kalau kita tidak tanya, Mbak bilang kita tidak peduli.”

“Karena itu kenyataannya.”

“Bisa jadi. Tapi bukan berarti Mbak boleh merahasiakan utang ratusan juta dari kami.”

Mbak Ratih menatapnya tajam.

“Aku menyelamatkan aset itu.”

“Kami tidak bilang Mbak mencurinya.”

“Dari tadi cara kalian bicara seperti aku mencuri.”

Aku akhirnya menutup buku hijau.

“Cukup.”

Semua melihatku.

Aku berdiri, lalu berjalan ke jendela.

Dari sana terlihat atap ruko sebelah dan bagian belakang bangunan yang dulu menjadi gudang Bapak.

Ada beberapa bekas tanda kapur di dinding.

Tiba-tiba aku teringat cerita Pak Wawan soal orang bangunan.

“Gudang belakang mau diapakan?”

Mbak Ratih tidak langsung menjawab.

Fajar mendengus.

“Masih ada lagi rupanya.”

“Aku tanya gudang.”

Mbak Ratih melipat kedua tangannya.

“Aku mau buat dua kamar kontrakan kecil.”

“Pakai dana cadangan?”

“Kalau jadi.”

“Kenapa?”

“Biar pemasukan naik.”

“Untuk apa pemasukan naik?”

“Raka.”

“Jawab saja.”

Mbak Ratih terlihat kesal.

“Karena bangunan ini tidak akan selamanya bisa hidup dari dua ruko dan enam kamar kos. Atap perlu diganti dua atau tiga tahun lagi. Pipa utama sudah tua. Pajak naik. Kalau ada kamar tambahan, cadangan lebih aman.”

Aku mengangguk.

Masuk akal.

Masalahnya bukan keputusan itu.

“Kenapa lagi-lagi kamu putuskan sendiri?”

“Aku belum memutuskan. Aku baru minta orang ukur.”

“Tapi tak satu pun dari kami tahu.”

“Kalian mau ikut mengukur?”

“Mbak tahu bukan itu maksudku.”

“Terus apa?”

Aku kembali duduk.

“Masalahnya bukan apakah Mbak berniat baik.”

Aku menunjuk tiga buku di meja.

“Masalahnya, selama bertahun-tahun Mbak menganggap niat baik memberi Mbak hak untuk memutuskan apa yang boleh kami tahu.”

Wajah Mbak Ratih berubah.

Tidak banyak.

Tetapi aku tahu kalimatku masuk.

Maya yang sejak tadi diam akhirnya bicara.

“Raka benar.”

Aku menoleh kepadanya.

Kemarahan yang tadi kurasakan belum hilang.

“Aku juga salah,” katanya cepat. “Aku tahu sebagian soal pinjaman Bapak. Aku pikir kalau aku diam, aku sedang menjaga kamu.”

“Delapan tahun?”

“Aku tidak tahu sampai delapan tahun. Setelah Bapak meninggal, aku kira sudah selesai.”

“Kenapa tidak pernah tanya?”

Maya menahan napas.

“Karena setiap kali soal keluargamu muncul, kamu selalu bilang biar Mbak Ratih yang urus.”

Aku ingin membantah.

Tidak jadi.

Dia benar.

Aku memang sering mengucapkan itu.

Kalau Ibu perlu kontrol dokter, biar Mbak Ratih yang atur.

Kalau penyewa terlambat, biar Mbak Ratih yang urus.

Kalau pajak jatuh tempo, biar Mbak Ratih.

Kalau atap bocor, biar Mbak Ratih.

Kalau Bapak susah makan, telepon Mbak Ratih.

Kalau ada masalah keluarga, aku datang setelah masalah itu sudah berbentuk keputusan.

Lalu aku mengeluh karena tidak dilibatkan dalam keputusan.

Aku menarik buku hijau mendekat lagi.

“Berapa yang sebenarnya masih jadi tanggung jawabku?”

“Tidak ada,” jawab Mbak Ratih.

Aku menatapnya.

“Jangan mulai lagi.”

“Aku serius. Pinjaman bank sudah selesai.”

“Bukan pinjaman bank. Uang yang seharusnya aku kembalikan ke keluarga.”

“Itu tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Karena Bapak sudah memutuskan.”

“Bapak memutuskan apa?”

Mbak Ratih membuka buku besar milik Bapak, mencari halaman tertentu, lalu mendorongnya kepadaku.

Ada catatan singkat.

Kalau sampai saya tidak ada, jangan tagih anak-anak pakai cara yang bikin mereka saling hitung masa susah. Rumah dan ruko tetap dijaga.

Aku membaca pelan.

Fajar ikut melihat dari jauh.

Lela mengusap mata.

Aku menutup buku.

“Bapak juga tidak selalu benar.”

Mbak Ratih terdiam.

Fajar mendengus setuju.

Aku melanjutkan.

“Bapak ingin menjaga kita supaya tidak malu. Ibu juga begitu. Mbak juga begitu.”

Aku menatap Maya sebentar.

“Kamu juga.”

Maya mengangguk kecil.

“Tapi lihat akibatnya.”

Aku menunjuk meja.

“Kita duduk di sini sebagai empat saudara yang nyaris menuduh salah satu dari kita mengambil uang karena semua orang terlalu sibuk menjaga perasaan.”

Mbak Ratih menunduk.

Aku belum pernah melihatnya begitu.

Sejak kecil Mbak Ratih selalu menjadi orang yang tahu harus berbuat apa.

Waktu Ibu jatuh dari kamar mandi, dia yang membawa ke rumah sakit.

Waktu Bapak meninggal, dia yang mengurus ambulans, pemakaman, dokumen, tamu, sampai makanan.

Kami tinggal datang.

Bahkan saat menangis pun rasanya Mbak Ratih tidak punya jadwal untuk itu.

Aku tiba-tiba bertanya,

“Waktu Bapak sakit, Mbak keluar uang sendiri berapa?”

Dia langsung menggeleng.

“Tidak usah.”

Fajar tertawa pendek.

“Ini lagi.”

“Mbak,” kataku. “Berapa?”

“Sudah selesai.”

“Berapa?”

Dia menatapku.

“Raka.”

“Mbak minta kami siap hitung semuanya. Sekarang hitung.”

Mbak Ratih berdiri.

“Aku buat kopi dulu.”

Fajar hampir memukul meja lagi, tetapi Lela menahannya.

“Mbak.”

Ratih tetap berjalan ke dapur.

Aku menyusul.

Dia sedang memasukkan kopi ke empat gelas seolah percakapan di ruang depan tidak ada hubungannya dengannya.

“Mbak.”

“Kalau mau kopi, tunggu.”

Aku menutup wadah gula yang baru dibukanya.

“Berapa?”

Dia menatap tanganku.

“Lepas.”

“Enggak.”

Wajahnya mengeras.

“Jangan seperti anak kecil.”

“Kalau begitu jangan perlakukan aku seperti anak kecil.”

Dia berhenti.

Kami berdiri berhadapan di dapur yang dulu hampir setiap hari dipakai Ibu.

Rak piring masih sama.

Toples gula masih sama.

Bahkan noda kecil di dinding dekat kompor masih ada sejak Bapak pernah menjatuhkan kuah opor saat Lebaran.

Mbak Ratih tiba-tiba tampak lelah sekali.

“Sekitar Rp190 juta.”

Aku yakin salah dengar.

“Berapa?”

“Kurang lebih.”

“Untuk Bapak?”

“Bapak dan Ibu.”

“Dari mana?”

“Tabunganku.”

“Semua?”

“Tidak.”

“Berapa dari kas keluarga?”

Dia menatap ke ruang depan.

“Lebih kecil.”

“Mbak punya uang sebanyak itu?”

“Waktu pensiun aku dapat pesangon. Ada deposito.”

Aku memegang tepi meja.

“Kenapa tidak pernah minta diganti?”

Dia tertawa kecil.

Aneh sekali mendengar suara itu.

“Diganti pakai apa?”

“Punya kami.”

“Waktu itu Raka baru bangun lagi. Fajar istrinya operasi. Lela suaminya kehilangan pekerjaan.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawabannya.”

“Mbak bisa bilang.”

“Terus?”

“Aku bisa cari cara.”

“Kamu pasti jual mesin.”

Aku diam.

Dia mengenalku.

“Dan kalau mesinmu dijual,” lanjutnya, “kamu mau bayar sekolah Nisa pakai apa?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Fajar juga pasti pinjam lagi. Lela pasti jual motornya. Ibu tidak mau.”

“Jadi semua keputusan dibuat berdasarkan apa yang Ibu mau?”

“Waktu itu Ibu masih hidup.”

“Sekarang tidak.”

Kalimat itu membuat dapur terasa berbeda.

Mbak Ratih menoleh ke kompor.

Aku melihat rahangnya menegang.

Beberapa detik kemudian dia berkata,

“Makanya sekarang aku capek.”

Itu pertama kalinya aku mendengar Mbak Ratih mengatakan kata itu.

Bukan sakit.

Bukan repot.

Capek.

“Aku capek jadi orang yang selalu ditelepon kalau pompa rusak, tapi dibilang pelit kalau dana dibatasi.”

Aku tidak menyela.

“Capek jadi orang yang disuruh pegang uang, tapi kalau saldo tidak sesuai bayangan kalian, aku harus membuktikan aku bukan maling.”

Suaranya tetap rendah.

Justru itu yang membuatnya terasa berat.

“Aku capek harus tahu Fajar pinjam sana-sini, tahu Lela pernah hampir diusir dari kontrakan, tahu percetakanmu pernah tinggal hitungan minggu sebelum tutup, tapi besoknya ketemu kalian di rumah Ibu dan harus pura-pura semua baik.”

Dia menatapku.

“Karena Ibu bilang jangan bikin anak-anak malu.”

Aku tidak punya jawaban.

“Mbak bisa berhenti.”

Dia tersenyum miring.

“Siapa yang ambil alih?”

“Aku.”

Jawaban itu keluar sebelum sempat kupikirkan.

Mbak Ratih menatapku seolah aku baru mengatakan akan pindah ke bulan.

Aku sendiri sedikit kaget.

“Aku tidak bilang selamanya,” lanjutku. “Aku bilang kita ubah sistem.”

“Kamu punya toko.”

“Aku tahu.”

“Nanti dua bulan kamu bosan.”

“Mungkin.”

“Kamu tidak tahu penyewa yang mana selalu telat, tukang mana yang suka mark-up, pajak kapan jatuh tempo.”

“Makanya bukan aku sendirian.”

Mbak Ratih tidak berkata apa-apa.

Kami kembali ke ruang depan.

Fajar sedang membaca bukunya lagi.

Lela memegang tisu.

Aku duduk.

“Mulai bulan depan, rekening operasional ruko pakai dua persetujuan untuk pengeluaran di atas jumlah tertentu.”

Mbak Ratih langsung menggeleng.

“Ribet.”

“Biar.”

“Kalau pompa mati malam-malam?”

“Pengeluaran darurat ada batas sendiri.”

“Kamu pikir ini perusahaan besar?”

“Tidak. Tapi kita berempat sudah membuktikan sistem berdasarkan percaya saja tidak bekerja.”

Fajar mengangguk.

“Setuju.”

Aku menunjuknya.

“Jangan senang dulu.”

Dia mengernyit.

“Kita juga buka semua penarikan pribadi.”

“Apa maksudnya?”

“Kalau ada yang pernah ambil uang kas untuk kebutuhan sendiri setelah Bapak meninggal, dicatat.”

Fajar menatap Mbak Ratih.

Mbak Ratih tidak berkata apa-apa.

Itu cukup.

“Jar?”

Fajar menyandarkan badan.

“Cuma beberapa kali.”

“Berapa?”

“Lupa.”

Mbak Ratih berkata datar, “Rp46 juta.”

Lela langsung menoleh.

“Astaga.”

Fajar tersinggung.

“Bukan sekali ambil.”

“Aku tidak bilang sekali.”

“Sebagian sudah kepotong pembagian.”

“Baru Rp18 juta,” kata Mbak Ratih.

Aku mengangguk.

“Sisanya lanjut dipotong.”

Fajar menatapku.

“Kok jadi aku?”

“Karena tadi kamu mau transparansi.”

“Aku setuju transparansi, tapi jangan bikin seolah aku…”

“Seolah apa?”

Dia tidak melanjutkan.

Aku mulai memahami kenapa selama ini Mbak Ratih memilih diam.

Setiap angka memiliki wajah.

Setiap catatan punya cerita yang membuat orang ingin menjelaskan dirinya sendiri.

Namun memahami bukan berarti menyetujui.

“Mbak,” kataku, “mulai sekarang tidak ada lagi bantuan diam-diam dari kas keluarga.”

“Aku tidak bantu diam-diam.”

“Kalau salah satu dari kita minta, semua pemilik harus tahu kalau sumbernya kas bersama.”

Fajar terlihat tidak nyaman.

Lela justru mengangguk.

Aku melanjutkan.

“Kalau Mbak mau bantu dari uang pribadi, itu hak Mbak. Tapi jangan lagi menyembunyikan pengeluaran bersama demi menjaga gengsi siapa pun.”

Mbak Ratih menatap buku Bapak.

“Ibu tidak suka begitu.”

“Ibu sudah tidak ada.”

Kali ini aku mengucapkannya lebih pelan.

Bukan untuk menyakiti.

Justru karena kami semua masih bertindak seolah Ibu akan masuk dari kamar belakang dan meminta kami berhenti bertengkar.

“Dan mungkin,” lanjutku, “kita harus mulai jadi keluarga tanpa terus memakai keinginan orang yang sudah meninggal sebagai aturan hidup.”

Lela mulai menangis lagi.

Fajar memalingkan wajah.

Mbak Ratih tidak menangis.

Tetapi tangannya yang berada di atas meja mengepal sebentar, lalu lepas.

Kami menghabiskan hampir empat jam setelah itu.

Bukan empat jam yang indah.

Ada suara meninggi.

Ada kalimat lama yang seharusnya tidak keluar tetapi akhirnya keluar juga.

Fajar mengaku selama bertahun-tahun dia merasa Mbak Ratih menganggapnya paling tidak bisa dipercaya.

Mbak Ratih menjawab,

“Karena kamu memang paling sering janji tanggal tapi tidak pernah bilang tanggal bulan apa.”

Aku hampir tertawa.

Fajar tidak.

Lela mengaku dia sering tidak mau datang ke rumah Ibu kalau Mbak Ratih ada karena setiap pertanyaan sederhana seperti “anak-anak sekolah bagaimana?” terdengar seperti pemeriksaan.

Mbak Ratih menatapnya lama.

“Aku memang tanya karena khawatir.”

“Cara Mbak khawatir bikin orang mau bohong.”

Kalimat itu membuat Mbak Ratih diam.

Aku sendiri meminta maaf.

Tidak dengan kata-kata besar.

“Aku terlalu enak.”

Mbak Ratih mengernyit.

“Apa?”

“Aku terlalu enak jadi adikmu.”

Fajar tertawa kecil.

Aku melanjutkan.

“Kalau ada urusan, aku lempar ke Mbak. Kalau selesai, aku bilang syukurlah ada Mbak Ratih. Kalau aku tidak suka hasilnya, aku bilang Mbak suka mengatur.”

Untuk pertama kalinya ekspresi Ratih melunak.

“Aku juga yang membiarkan.”

“Kenapa?”

Dia mengangkat bahu.

“Mungkin karena kalau aku tidak dibutuhkan, aku tidak tahu harus jadi apa.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Kalimat itu terlalu jujur.

Mbak Ratih menikah terlambat.

Suaminya, Mas Darto, meninggal karena serangan jantung setelah mereka baru enam tahun menikah.

Mereka tidak punya anak.

Setelah itu Mbak Ratih semakin dekat dengan Bapak dan Ibu.

Kami menganggapnya wajar.

Mungkin karena terlalu wajar, kami tidak pernah bertanya apakah dia memang memilih semua tanggung jawab itu atau hanya menjadi orang yang selalu tersedia.

Maya yang pertama bicara.

“Mbak masih bisa jadi kakak.”

Ratih menatapnya.

“Walau tidak pegang semuanya.”

Mbak Ratih mengambil gelas tehnya yang sudah dingin.

“Belum tentu kalian tahan.”

Fajar berkata, “Kita coba.”

“Kalau gagal?”

Aku menjawab.

“Gagal sama-sama.”

Itu keputusan pertama yang benar-benar kami buat berempat hari itu.

Bukan keputusan Bapak.

Bukan pesan terakhir Ibu.

Bukan instruksi Mbak Ratih.

Kami.

Rencana menjual seluruh ruko dibatalkan.

Sebaliknya, kami sepakat memanggil orang untuk menilai bangunan dan menghitung kebutuhan perawatan lima tahun ke depan.

Ide dua kamar tambahan tidak langsung diterima.

Kami minta dibuat hitungan biaya dan proyeksi sewanya dulu.

Mbak Ratih memutar mata saat aku menggunakan kata proyeksi.

“Baru sekali rapat sudah sok direksi.”

Aku menjawab, “Setidaknya direksi makan gorengan.”

Dia hampir tersenyum.

Tentang utang lama, kami mengambil keputusan yang lebih sulit.

Secara hukum dan administrasi, pinjaman Bapak memang sudah selesai.

Tetapi bagiku masalahnya belum selesai.

Aku tidak mau lagi melihat percetakanku tanpa mengingat bahwa bangunan keluarga pernah dipertaruhkan untuk menyelamatkannya.

Mbak Ratih menolak ketika aku mengatakan ingin mengembalikan bagian uang yang dulu kuterima.

“Itu bukan utangmu lagi.”

“Buatku iya.”

“Bapak tidak mau.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa keras kepala?”

“Belajar dari Mbak.”

Fajar tertawa paling keras.

Akhirnya kami menemukan jalan tengah.

Aku tidak membayar Rp161 juta sekaligus.

Itu akan menghancurkan keuangan keluargaku.

Aku juga tidak mau berpura-pura uang itu tidak pernah ada.

Kami mencatat Rp80 juta sebagai kontribusiku bertahap untuk dana perbaikan bangunan selama empat tahun.

Bukan untuk menebus rasa bersalah.

Bukan untuk membeli kembali hakku.

Hanya bentuk tanggung jawab yang masih masuk akal.

Fajar harus melunasi sisa pengambilan pribadinya melalui pemotongan pembagian hasil.

Lela ternyata hanya memiliki satu pengambilan kas kecil setelah Ibu meninggal, Rp8 juta untuk biaya sekolah anaknya. Dia langsung meminta dicicil dari pembagian dua periode.

Mbak Ratih paling sulit.

Bukan karena dia punya utang.

Justru karena dia tidak mau mencatat uang pribadinya yang pernah dipakai untuk Bapak dan Ibu.

“Mbak bukan pahlawan,” kataku ketika dia menolak ketiga kalinya.

“Aku juga tidak bilang.”

“Bagus. Berarti tulis.”

“Untuk apa?”

“Supaya sejarah keluarga kita tidak cuma berisi bantuan yang kami terima. Harus ada juga yang kami biarkan satu orang tanggung.”

Dia memandangku tajam.

“Aku tidak mau ditagih.”

“Aku tidak sedang menagih.”

“Kalian nanti merasa bersalah.”

“Memang.”

Lela tertawa sambil menangis.

“Biar sesekali.”

Akhirnya Mbak Ratih menyerah.

Tidak semua uang pribadinya kami kembalikan.

Kami bahkan tidak mampu melakukannya sekaligus.

Tetapi kami sepakat sebagian dana dari penjualan satu aset kecil milik Bapak di Kabupaten Bandung yang selama ini belum diurus akan dipakai mengganti sebagian biaya perawatan orang tua yang pernah dia talangi.

Sisanya menjadi bagian warisan sesuai pembagian.

Mbak Ratih berkali-kali berkata tidak perlu.

Kami berhenti mendengarkan.

Malam sudah hampir pukul sembilan ketika aku dan Maya pulang.

Di mobil, kami tidak langsung bicara.

Aku masih marah kepadanya.

Bukan marah yang membuat ingin berteriak.

Lebih buruk.

Marah kepada orang yang kucintai karena tahu dia membuat keputusan yang menurutnya baik untukku tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk ikut menentukan.

Di lampu merah Pasteur, Maya berkata,

“Aku minta maaf.”

Aku tetap melihat ke depan.

“Aku tahu.”

“Aku salah.”

“Iya.”

Dia tertawa kecil.

“Kamu nggak perlu setuju secepat itu.”

Aku akhirnya menoleh.

“Kamu mau aku bohong?”

“Enggak.”

Aku menghela napas.

“Aku butuh waktu.”

Maya mengangguk.

“Ambil.”

“Kamu juga jangan simpan hal seperti itu lagi.”

“Enggak.”

“Walaupun menurutmu aku belum siap.”

“Iya.”

“Walaupun Bapak muncul dalam mimpi dan minta.”

Kali ini dia benar-benar tertawa.

Aku ikut tersenyum sedikit.

Kami tidak menyelesaikan delapan tahun kebohongan kecil dalam satu perjalanan pulang.

Tetapi setidaknya tidak ada lagi yang berpura-pura semuanya baik.

Dua minggu kemudian, Nisa mulai kuliah.

Kami tidak mengambil satu rupiah pun dari kas ruko.

Aku menjual satu mesin finishing lama yang hampir tidak pernah dipakai dan meminta dua klien melunasi sebagian tagihan dengan diskon kecil.

Kartu kredit masih menyisakan tagihan yang membuatku tidak nyaman.

Tetapi aku bisa melihat angka itu.

Aku tahu dari mana datangnya.

Aku tahu bagaimana membayarnya.

Aneh sekali betapa menenangkan masalah yang terlihat dibanding bantuan yang disembunyikan.

Nisa baru mengetahui sebagian persoalan keluarga setelah semuanya selesai.

Malam itu dia duduk di meja makan sambil membuka laptop.

“Jadi Tante Ratih sebenarnya baik?”

Aku mengunyah nasi sebentar.

“Pertanyaanmu salah.”

Dia mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Tante Ratih memang baik.”

“Terus?”

“Dia juga suka mengatur.”

Nisa tertawa.

“Bisa dua-duanya?”

“Justru manusia biasanya begitu.”

Maya tersenyum dari seberang meja.

Aku menambahkan,

“Orang baik bisa bikin keputusan yang salah. Orang yang bikin kita kesal juga bisa pernah menyelamatkan kita.”

Nisa mengangguk pelan.

“Papa sudah nggak marah?”

Aku berpikir.

“Masih sedikit.”

Dia tertawa.

Tiga bulan kemudian, sistem baru mulai berjalan.

Tidak mulus.

Mbak Ratih dua kali membayar tukang tanpa persetujuan karena menurutnya “cuma Rp1,8 juta”.

Fajar terlambat memeriksa laporan selama hampir dua minggu lalu protes karena tidak diberi kabar.

Aku sendiri pernah lupa transfer bagian biaya pajak yang menjadi tanggung jawabku.

Lela menjadi orang paling rajin memotret meteran air.

Tidak ada yang tahu kenapa.

Kami juga membuat grup WhatsApp baru.

Namanya awalnya Pengelolaan Ruko Bapak.

Fajar menggantinya menjadi Direksi Gorengan.

Mbak Ratih keluar dari grup selama dua jam.

Kemudian masuk lagi tanpa komentar.

Gudang belakang akhirnya tidak dibangun menjadi dua kamar kontrakan.

Setelah dihitung, biaya renovasinya terlalu tinggi.

Sebaliknya kami memperbaiki ventilasi dan menyewakannya sebagai ruang penyimpanan kepada toko alat listrik milik Pak Wawan.

Pendapatannya lebih kecil daripada perkiraan Mbak Ratih.

Tetapi biayanya juga jauh lebih rendah.

Untuk pertama kalinya dia mengakui,

“Ya, ternyata ide Raka nggak jelek.”

Aku langsung mengambil ponsel.

“Tolong ulangi. Aku rekam.”

Dia melempar pulpen kepadaku.

Fajar masih sering berselisih dengannya.

Namun ada satu perubahan kecil yang justru paling terasa.

Kalau Fajar meminta uang lebih dulu dari pembagian hasil, Mbak Ratih tidak lagi langsung mengatakan tidak.

Dia bertanya,

“Untuk apa?”

Fajar juga tidak lagi menjawab,

“Sudahlah, Mbak. Nanti juga diganti.”

Dia menjelaskan.

Kadang kami setuju.

Kadang tidak.

Lela mulai lebih sering menelepon Mbak Ratih bukan saat butuh sesuatu.

Maya masih belum sepenuhnya nyaman setiap kali topik pinjaman lama muncul.

Aku juga belum sepenuhnya melupakan bahwa dia pernah menyimpan rahasia dariku selama bertahun-tahun.

Tetapi hubungan kami tidak rusak.

Justru kami memiliki aturan baru.

Kalau salah satu dari kami ingin “melindungi” yang lain dengan menyembunyikan masalah, kami harus bertanya dulu apakah perlindungan itu diminta.

Mbak Ratih mungkin orang yang paling sulit berubah.

Enam bulan setelah pertemuan itu, aku datang ke rumahnya membawa beberapa hasil cetak kalender untuk penyewa ruko.

Dia sedang duduk di teras.

Tidak memegang buku.

Tidak memegang kalkulator.

Tidak menelepon tukang.

Hanya makan pisang goreng.

Aku duduk.

Dia mendorong piring ke arahku.

“Ambil.”

Aku mengambil satu.

Beberapa menit kami diam.

Lalu dia bertanya,

“Nisa bagaimana?”

“Besok praktikum.”

“Betah?”

“Katanya capek.”

“Bagus.”

Aku menoleh.

“Bagus?”

“Kalau kuliah farmasi santai, nanti kita semua takut beli obat.”

Aku tertawa.

Setelah itu diam lagi.

Di dekat pintu ada satu kotak plastik abu-abu.

Kotak yang dulu berisi buku-buku catatan kami.

Aku menunjuknya.

“Masih disimpan?”

“Buku Bapak iya.”

“Buku kami?”

“Sudah aku kasih masing-masing.”

“Kenapa kotaknya masih ada?”

“Buat simpan kabel.”

Aku tertawa cukup keras sampai dia melihatku kesal.

“Kenapa?”

“Enggak apa-apa.”

“Kalau mau ketawa, pulang.”

Aku mengambil pisang goreng kedua.

“Mbak.”

“Hm?”

“Dulu kenapa mau terus melakukan semua itu?”

Dia tidak langsung menjawab.

Aku kira dia akan mengatakan karena Bapak.

Atau Ibu.

Atau karena keluarga.

Ternyata bukan.

“Karena waktu Mas Darto meninggal, aku pulang ke sini dan tidak tahu mau ngapain.”

Aku menoleh.

Dia tetap melihat jalan.

“Bapak minta aku bantu urus toko. Ibu minta antar kontrol. Kamu minta tolong cek pembayaran. Fajar minta carikan rumah sakit. Lela minta jagain anak.”

Dia tersenyum kecil.

“Setiap hari ada orang butuh aku.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Awalnya enak.”

“Terus?”

“Lama-lama aku lupa orang bisa sayang sama kita tanpa butuh sesuatu.”

Kalimat itu tinggal di antara kami cukup lama.

Aku melihat tangan Mbak Ratih.

Tangan yang selama bertahun-tahun menandatangani kuitansi, membuka pagar ruko, menghitung biaya rumah sakit, mengingat tanggal pajak, dan mencatat semua pengeluaran orang lain.

Aku tidak memeluknya.

Kami bukan keluarga yang mudah berpelukan.

Aku hanya mengambil satu pisang goreng lagi.

“Besok makan siang di rumahku.”

“Acara apa?”

“Tidak ada.”

“Terus kenapa?”

Aku menatapnya.

“Tidak boleh datang kalau tidak dibutuhkan?”

Dia melihatku beberapa detik.

Lalu mengambil pisang goreng terakhir sebelum tanganku sempat mencapainya.

“Jam berapa?”

“Setengah satu.”

“Jangan telat.”

“Mbak yang diundang, kenapa aku yang dimarahin?”

“Rumahmu. Ya kamu jangan telat.”

Begitulah Mbak Ratih.

Dia tidak berubah menjadi perempuan hangat yang mendadak pandai mengatakan sayang.

Kami juga tidak berubah menjadi keluarga yang tidak pernah bertengkar soal uang.

Fajar masih berutang pada kas.

Aku masih punya cicilan kontribusi.

Lela masih kadang terlambat membaca laporan.

Mbak Ratih masih merasa banyak keputusan lebih cepat kalau dia ambil sendiri.

Bedanya, sekarang kami berani menghentikannya.

Dan dia, walaupun sering dengan wajah kesal, mulai belajar berhenti.

Beberapa bulan kemudian aku datang ke ruko pada Sabtu pagi.

Pak Wawan baru membuka tokonya.

Seorang penyewa kos sedang menyapu halaman.

Mbak Ratih sudah lebih dulu ada di sana, duduk di kantor kecil dengan secangkir kopi.

Di atas meja tidak ada tiga buku dengan nama kami.

Hanya satu buku laporan bersama yang bisa dibaca siapa saja.

Aku mengambil kunci gudang dari gantungan.

“Mau cek apa?” tanyanya.

“Enggak cek apa-apa.”

“Terus?”

“Mau bantu beresin barang lama.”

Dia memandangku curiga.

“Kamu sakit?”

Aku tertawa.

Lalu membuka pintu gudang.

Cahaya pagi masuk melalui ventilasi yang baru diperbaiki.

Dulu tempat itu penuh kardus milik Bapak, barang rusak, dan keputusan yang kami serahkan kepada satu orang.

Sekarang ruangnya hampir kosong.

Aku mengambil sapu.

Mbak Ratih berdiri beberapa menit kemudian dan mengambil sapu yang satu lagi.

Kami tidak membicarakan utang.

Tidak membicarakan warisan.

Tidak membicarakan siapa yang paling banyak berkorban.

Pagi itu kami hanya membersihkan gudang milik keluarga bersama-sama.

Dan mungkin, setelah bertahun-tahun, itulah pertama kalinya kata bersama benar-benar berarti ada lebih dari satu orang di dalamnya.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Menurut kalian, apakah Ratih salah karena menyembunyikan terlalu banyak hal meski niatnya melindungi keluarga? Kadang orang yang paling keras bukan orang yang paling tidak peduli, tetapi niat baik pun tetap membutuhkan batas dan kejujuran. Semoga keluarga kita diberi cukup keberanian untuk bicara sebelum rasa sayang berubah menjadi beban.