SUAMIKU MEMBAWA AKUNTAN WANITA KE RUMAH TEPAT DI PESTA PERAYAAN KENAIKAN JABATANNYA—TAPI SAAT WANITA ITU MENGUMUMKAN AKAN MENGELOLA SELURUH HARTA KELUARGA KAMI, AKU HANYA MELETAKKAN SEBUAH AMPLOP DI ATAS MEJA

Avatar penulis
Cerita 05
21 menit baca 254 tayangan
SUAMIKU MEMBAWA AKUNTAN WANITA KE RUMAH TEPAT DI PESTA PERAYAAN KENAIKAN JABATANNYA—TAPI SAAT WANITA ITU MENGUMUMKAN AKAN MENGELOLA SELURUH HARTA KELUARGA KAMI, AKU HANYA MELETAKKAN SEBUAH AMPLOP DI ATAS MEJA
Indeks

SUAMIKU MEMBAWA AKUNTAN WANITA KE RUMAH TEPAT DI PESTA PERAYAAN KENAIKAN JABATANNYA—TAPI SAAT WANITA ITU MENGUMUMKAN AKAN MENGELOLA SELURUH HARTA KELUARGA KAMI, AKU HANYA MELETAKKAN SEBUAH AMPLOP DI ATAS MEJA

—Mulai bulan depan, semua urusan keuangan keluarga ini akan dikelola oleh Maya.

Suamiku, Arman, mengatakan kalimat itu tepat di tengah acara makan malam ketika lebih dari tiga puluh anggota keluarga memenuhi ruang tamu rumah kami.

Saat itu aku sedang membawa nampan berisi teh dari dapur.

Langkahku langsung terhenti.

Bukan karena nampan itu terlalu berat.

Melainkan karena wanita yang duduk di sebelah kanan suamiku adalah Maya—akuntan baru di perusahaan tempat Arman bekerja.

SUAMIKU MEMBAWA AKUNTAN WANITA KE RUMAH TEPAT DI PESTA PERAYAAN KENAIKAN JABATANNYA—TAPI SAAT WANITA ITU MENGUMUMKAN AKAN MENGELOLA SELURUH HARTA KELUARGA KAMI, AKU HANYA MELETAKKAN SEBUAH AMPLOP DI ATAS MEJA

Dia mengenakan gaun hijau zamrud dan sebuah gelang emas yang pernah kulihat dalam tagihan kartu kredit Arman dua minggu lalu.

Saat itu, Arman mengatakan gelang tersebut adalah hadiah terima kasih untuk seorang rekan bisnis penting.

Sekarang aku akhirnya tahu siapa “rekan bisnis” yang dimaksudnya.

Ibu mertuaku, Ratih, segera meletakkan cangkirnya.

—Maksudmu apa?

Arman bersandar santai di kursinya.

Malam itu adalah pesta untuk merayakan pengangkatannya sebagai direktur utama sebuah perusahaan distribusi makanan tempat dia bekerja selama enam tahun terakhir.

Semua kerabat datang memberikan ucapan selamat.

Semua orang mengira akulah wanita paling bahagia malam itu.

Hanya aku yang tahu bahwa selama tiga bulan terakhir, Arman hampir selalu pulang setelah tengah malam.

—Maya adalah kepala bagian akuntansi. Dia lebih memahami urusan keuangan daripada Lestari.

Arman menatapku.

—Lestari sudah terlalu lama berada di rumah. Uang dalam jumlah besar tidak bisa terus dibiarkan dia kelola sesuka hati.

Aku meletakkan nampan teh di atas meja.

—Uang yang mana?

Seluruh ruangan langsung hening.

Arman mengernyit.

—Jangan membuat semuanya menjadi memalukan.

Maya segera tersenyum.

—Kak, jangan salah paham. Aku hanya membantu Mas Arman mengelola keuangan dengan lebih efektif.

“Mas Arman.”

Cara Maya memanggil suamiku membuat beberapa kerabat saling bertukar pandang.

Namun orang yang justru membela Maya adalah ibu mertuaku sendiri.

—Ibu rasa Arman benar. Kalau seorang suami sudah memiliki kedudukan tinggi, istrinya harus tahu bagaimana mendukungnya. Kamu cukup mengurus rumah dan keluarga. Jangan terlalu ikut campur dalam pekerjaan suamimu.

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Tujuh tahun lalu, ketika menikah dengan Arman, dia hanyalah seorang staf penjualan yang memiliki utang hampir 600 juta rupiah akibat kegagalan investasi.

Akulah yang menjual toko kecil peninggalan ayahku untuk membantunya melunasi sebagian utang tersebut.

Tiga tahun kemudian, ketika Arman ingin menanamkan modal di perusahaan tempatnya bekerja sekarang, dia kembali kekurangan uang.

Sekali lagi, aku menggunakan uang warisanku.

Namun keluarga Arman tidak pernah mengetahui hal itu.

Arman selalu berkata kepadaku,

—Jangan bilang kepada Ibu. Aku tidak mau beliau mengira aku hidup dari uang istriku.

Aku menyetujuinya.

Selama tujuh tahun, aku menjaga harga dirinya.

Sampai akhirnya dia sendiri lupa siapa yang membantunya mencapai posisi seperti sekarang.

Arman mengambil setumpuk dokumen dari tas di samping kursinya.

—Kebetulan semua orang sedang berkumpul. Aku ingin menyelesaikan masalah ini sekalian.

Dia mendorong dokumen itu ke arahku.

—Tanda tangani.

Aku menunduk dan membacanya.

Itu adalah surat kuasa pengelolaan aset.

Jika menandatanganinya, aku akan memberikan Arman wewenang untuk mengurus beberapa rekening dan aset investasiku atas namaku.

Aku mengangkat kepala.

—Kenapa aku harus menandatanganinya?

Arman mulai kehilangan kesabaran.

—Karena kita suami istri. Sekarang aku direktur utama. Aku tahu cara mengelola uang lebih baik daripada kamu.

Maya tiba-tiba ikut bicara.

—Kak sebaiknya percaya kepada Mas Arman. Kami sudah menyusun rencana. Kalau semua sumber daya keuangan digabungkan, keuntungannya mungkin bisa meningkat dua kali lipat.

Kami?

Aku menatapnya.

—Kamu juga ikut membuat keputusan tentang hartaku?

Wajah Maya langsung menegang.

Arman menghantam meja dengan telapak tangannya.

—Cukup!

Beberapa anak kecil yang sedang bermain di dekat sana sampai terkejut.

—Maya sedang membantuku! Jangan bersikap cemburu dan tidak masuk akal hanya karena melihat seorang wanita yang lebih muda darimu!

Kalimat itu membuat seluruh ruangan benar-benar sunyi.

Aku memandangi pria yang sudah hidup bersamaku selama tujuh tahun.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa marah.

Aku justru merasa semuanya begitu menggelikan.

Aku bertanya,

—Kalau aku tidak mau tanda tangan?

Arman menjawab dengan dingin,

—Kalau begitu, mungkin kita perlu mempertimbangkan kembali pernikahan ini.

Ibu mertuaku langsung ikut menimpali.

—Lestari, jangan keras kepala. Istri yang baik harus tahu bagaimana mendahulukan masa depan suaminya.

Maya menundukkan kepala.

Namun aku melihat sudut bibirnya sedikit terangkat.

Mungkin dia merasa sudah menang.

Aku tidak berdebat.

Aku berbalik dan masuk ke kamar tidur.

Sekitar dua menit kemudian, aku kembali membawa sebuah amplop cokelat.

Aku meletakkannya tepat di depan Arman.

—Baiklah.

Arman melihat amplop itu lalu tersenyum.

—Akhirnya kamu mengerti.

—Tapi sebelum aku menandatangani apa pun, sebaiknya kamu melihat ini.

Dia membuka amplop tersebut.

Senyum di wajahnya langsung menghilang.

Di dalamnya bukan surat cerai.

Bukan pula bukti perselingkuhan.

Melainkan salinan sebuah perjanjian investasi yang ditandatangani enam tahun lalu.

Arman membaca baris pertama.

Kemudian membacanya sekali lagi.

—Apa ini?

—Perjanjian penyertaan modal.

Aku menarik kursi dan duduk.

—Enam tahun lalu, perusahaan tempatmu bekerja membutuhkan dana besar agar tidak bangkrut. Kamu mengatakan kepadaku bahwa ada kesempatan investasi, tetapi kamu tidak punya cukup modal.

Wajah Arman perlahan berubah.

—Aku ingat kamu memberikan uang itu kepadaku.

—Tidak.

Aku menggeleng.

—Aku tidak memberikan uang itu kepadamu.

Aku menunjuk tanda tangan di bagian bawah dokumen.

—Aku berinvestasi secara langsung.

Maya langsung mengambil dokumen itu.

Sebagai kepala bagian akuntansi, dia memahami angka-angka di dalamnya lebih cepat daripada siapa pun di ruangan itu.

Hanya beberapa detik kemudian, wajahnya berubah pucat.

—Tidak mungkin…

Ibu mertuaku mulai tidak sabar.

—Sebenarnya apa yang terjadi?

Maya tidak menjawab.

Jadi aku menjawab untuknya.

—Dana itu ditukar dengan delapan belas persen saham perusahaan.

Arman langsung berdiri.

—Tapi saham itu sudah dialihkan sejak lama!

—Benar.

Aku dengan tenang mengambil ponselku.

—Tiga tahun lalu, perusahaan melakukan restrukturisasi. Namaku memang tidak lagi tercatat secara langsung sebagai pemegang saham.

Arman terlihat sedikit lega.

Namun aku melanjutkan,

—Aku memindahkan seluruh saham itu ke sebuah perusahaan investasi milikku sendiri.

Aku menatap lurus ke arahnya.

—Dan selama empat tahun berikutnya, perusahaan investasi itu diam-diam terus membeli saham dari para pemegang saham yang ingin keluar.

Tangan Maya gemetar saat membuka ponselnya dan masuk ke sistem data perusahaan.

Arman segera menoleh kepadanya.

—Periksa!

Tak seorang pun berbicara.

Hanya terdengar suara jari Maya mengetuk layar ponselnya.

Sepuluh detik.

Dua puluh detik.

Lalu tubuh Maya mendadak kaku.

—Maya?

Arman mulai membentak.

—Bicara!

Maya menelan ludah.

—Perusahaan investasi ini… sekarang memiliki empat puluh satu persen saham.

Seluruh ruang tamu membeku.

Arman menatapku seolah baru pertama kali melihat siapa diriku sebenarnya.

—Kamu… memiliki 41% perusahaan?

Aku belum sempat menjawab ketika ponselnya tiba-tiba berdering.

Sebuah panggilan masuk.

Arman melihat layar.

Nama ketua dewan direksi muncul di sana.

Dia segera mengangkat telepon.

—Ya, Pak.

Entah apa yang dikatakan orang di seberang sana.

Namun hanya beberapa detik kemudian, wajah Arman berubah pucat pasi.

—Tunggu… besok?

Dia menatapku.

—Rapat pemegang saham darurat?

Pada saat bersamaan, Maya menerima sebuah email.

Dia membukanya.

Ponselnya nyaris terlepas dari tangannya.

Aku berdiri dan mengambil tas.

Arman langsung menghalangi jalanku menuju pintu.

—Lestari!

Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak lagi terdengar seperti sebuah perintah.

—Apa yang sudah kamu lakukan?

Aku menatapnya.

—Aku tidak melakukan apa-apa.

—Lalu kenapa mereka mengadakan rapat darurat?

Aku tersenyum tipis.

—Mungkin karena pemegang saham terbesar baru saja mengajukan sebuah usulan sore tadi.

Bibir Arman mulai bergetar.

—Usulan apa?

Aku melirik Maya.

Kemudian aku melihat surat kuasa yang masih tergeletak di atas meja.

—Usulan untuk meninjau kembali jabatan direktur utama yang baru saja diangkat.

Arman membeku.

Namun tepat saat itu, Maya tiba-tiba berseru,

—Tidak benar!

Dia menatap layar ponselnya dengan mata membesar.

—Lestari bukan pemegang saham terbesar!

Arman langsung menoleh.

—Apa maksudmu?

Maya memperbesar sebuah dokumen yang baru saja diterimanya.

—Empat puluh satu persen masih bukan yang terbesar. Ada pemegang saham lain yang baru menyelesaikan transaksi sore ini.

Aku ikut terdiam.

Bahkan aku tidak mengetahui hal itu.

Maya terus membaca.

Wajahnya semakin pucat.

—Orang ini baru saja membeli seluruh saham milik tiga pemegang saham lama. Sekarang dia menguasai 46%.

Arman merebut ponsel itu.

—Siapa?

Maya menatapku.

Tatapannya begitu aneh hingga membuat tengkukku terasa dingin.

—Bukan Kak Lestari.

Tiba-tiba terdengar suara sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Seorang pria berjas turun sambil membawa tas dokumen.

Bersamanya adalah pengacara utama perusahaan.

Ibu mertuaku panik dan langsung berdiri.

Arman berjalan menuju pintu.

—Untuk apa kalian datang ke sini?

Pengacara itu tidak langsung menjawab.

Dia memandang sekeliling ruangan sebelum akhirnya tatapannya berhenti padaku.

Kemudian dia mengeluarkan setumpuk dokumen tersegel dari dalam tasnya.

—Kami datang atas permintaan orang yang saat ini menguasai 46% saham perusahaan.

Aku mengernyit.

—Siapa?

Pengacara itu menatapku cukup lama.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat cangkir di tangan ibu mertuaku jatuh dan pecah di lantai.

—Orang tersebut meminta saya menyerahkan dokumen ini langsung kepada Anda, karena sebelum meninggal dunia, beliau meninggalkan sebuah ketentuan khusus yang berkaitan dengan Anda.

Aku terpaku.

—Sebelum meninggal?

Dia meletakkan berkas itu tepat di hadapanku.

Di bagian sampul hanya terdapat satu kalimat.

“Hanya boleh dibuka ketika Lestari dikhianati oleh suaminya sendiri.”

Aku bahkan belum sempat menyentuh berkas tersebut ketika Arman tiba-tiba mundur selangkah.

Wajahnya berubah pucat seperti kertas.

Sepertinya dia mengenali tulisan tangan di sampul itu.

Aku menoleh kepadanya.

—Kamu tahu siapa orang ini?

Arman tidak menjawab.

Namun tiba-tiba ibu mertuaku bergegas maju dan mencoba merebut dokumen itu dari meja.

—Jangan dibuka!

Semua orang terkejut.

Aku segera memegang erat amplop tersebut.

—Ibu tahu apa yang ada di dalamnya?

Dia menatapku.

Matanya dipenuhi kepanikan.

Kemudian kalimat berikutnya yang keluar dari mulutnya membuat bahkan Arman ikut membeku.

—Kalau kamu membuka dokumen itu… kamu akan tahu alasan sebenarnya kenapa tujuh tahun lalu Arman bersikeras menikahimu.

BAGIAN 2

Tanganku berhenti di atas segel amplop itu.

Ruangan yang beberapa menit sebelumnya dipenuhi suara tawa kini begitu sunyi hingga suara pecahan cangkir yang bergeser di lantai terdengar jelas.

Aku menatap Ratih.

—Ibu bilang apa?

Ratih tidak menjawab.

Wajahnya pucat, sementara Arman berdiri beberapa langkah dariku dengan rahang mengeras.

Pengacara perusahaan akhirnya membuka suara.

—Bu Lestari, dokumen itu secara hukum ditujukan kepada Anda. Tidak ada seorang pun di ruangan ini yang berhak melarang Anda membukanya.

Ratih langsung membentak.

—Ini urusan keluarga!

—Tidak lagi jika menyangkut kepemilikan perusahaan.

Aku merobek segelnya.

—Jangan!

Teriakan Ratih terlambat.

Di dalam amplop terdapat beberapa dokumen, sebuah surat tulisan tangan, dan salinan akta kepemilikan saham.

Aku mengambil surat itu lebih dulu.

Nama pengirim di bagian bawah membuat jantungku seakan berhenti sesaat.

Hadi Santoso.

Aku mengenal nama itu.

Dia adalah sahabat lama ayahku.

Sejak kecil, aku memanggilnya Paman Hadi.

Setelah ayah meninggal, Hadi beberapa kali datang menemuiku. Namun sekitar delapan tahun lalu dia tiba-tiba menghilang dari kehidupanku.

Setahun kemudian, aku mendengar kabar bahwa dia meninggal dunia.

Tanganku bergetar ketika membuka surat tersebut.

“Lestari, jika kamu membaca surat ini, berarti kekhawatiranku akhirnya menjadi kenyataan.”

Aku menarik napas.

Semua mata tertuju kepadaku.

Aku melanjutkan membaca.

“Hari ketika Arman datang meminta restuku untuk menikahimu, aku sudah mengetahui bahwa keluarganya sedang terlilit masalah keuangan. Aku juga mengetahui bahwa Ratih mengetahui tentang warisan yang ditinggalkan ayahmu.”

Aku langsung menatap ibu mertuaku.

Ratih menunduk.

Arman berkata cepat,

—Jangan percaya begitu saja! Orang yang sudah meninggal bisa menulis apa saja!

Pengacara itu menatapnya dingin.

—Surat ini dibuat di hadapan notaris dan dua orang saksi.

Arman langsung diam.

Aku kembali membaca.

“Harta terbesar yang ditinggalkan ayahmu bukan toko kecil ataupun uang tunai. Bertahun-tahun sebelum meninggal, ayahmu dan aku membangun perusahaan investasi bersama. Setelah beliau meninggal, sebagian hak ekonominya kutahan dalam sebuah perwalian sampai aku yakin orang-orang di sekelilingmu tidak mendekat hanya karena uang.”

Dadaku mulai sesak.

Ternyata selama ini masih ada bagian kehidupan ayah yang tidak pernah kuketahui.

“Beberapa bulan sebelum pernikahanmu, Ratih pernah datang menemuiku. Dia bertanya berapa banyak warisan yang sebenarnya kamu miliki. Sejak hari itu, aku mulai curiga.”

Aku menurunkan surat.

—Jadi Ibu sudah tahu?

Ratih mulai menangis.

—Ibu hanya ingin memastikan masa depan Arman!

—Dengan menyuruhnya menikahiku?

—Bukan begitu!

Tiba-tiba Arman membentak.

—Sudah cukup, Bu!

Aku menoleh kepadanya.

Itulah jawaban yang kubutuhkan.

—Jadi kamu memang tahu.

Arman mengusap wajahnya.

—Awalnya… iya.

Ruangan langsung gaduh.

Maya menatap Arman dengan ekspresi tidak percaya.

Aku justru merasa sangat tenang.

—Lanjutkan.

Arman menatapku.

—Ibuku bilang kamu mungkin memiliki warisan besar. Saat itu aku sedang punya utang. Aku pikir kalau menikah denganmu, hidupku akan lebih mudah.

Aku tersenyum pahit.

—Lalu tujuh tahun ini apa?

Arman diam beberapa detik.

—Aku memang pernah mencintaimu.

Pernah.

Satu kata itu menghancurkan sisa keraguan dalam diriku.

Aku kembali membaca bagian terakhir surat Hadi.

“Jika pernikahanmu bertahan karena kasih dan kesetiaan, saham ini akan tetap berada dalam perwalian sampai usia pensiunmu. Tetapi jika suatu hari terbukti suamimu mencoba mengambil alih hartamu, mengkhianatimu, atau menggunakan pernikahan sebagai alat memperoleh kekayaan, maka seluruh 46% saham yang kupegang akan dialihkan kepadamu.”

Tanganku berhenti.

Aku membaca sekali lagi.

46%.

Pengacara mengangguk.

—Transaksi pengalihan selesai sore ini setelah kami menerima bukti mengenai surat kuasa yang Pak Arman minta Anda tanda tangani.

Arman seperti kehilangan keseimbangan.

—Jadi…

Pengacara melanjutkan,

—Mulai sore ini, Bu Lestari memiliki 41% saham melalui perusahaan investasinya sendiri dan tambahan 46% berdasarkan perwalian almarhum Pak Hadi.

Maya menutup mulutnya.

Salah seorang kerabat berbisik,

—Delapan puluh tujuh persen…

Aku kini menguasai 87% perusahaan.

Perusahaan yang selama bertahun-tahun dibanggakan Arman seolah dibangun oleh tangannya sendiri.

Arman langsung mendekat.

—Lestari, dengarkan aku. Kita bisa membicarakan semuanya.

Aku mundur.

—Besok saja.

—Kenapa besok?

—Bukankah besok ada rapat pemegang saham?

Wajahnya kembali pucat.

Maya tiba-tiba berdiri.

—Aku tidak mau terlibat lagi.

Dia mengambil tasnya.

Namun sebelum pergi, pengacara menghentikannya.

—Bu Maya, Anda juga diminta hadir besok.

Maya membeku.

—Kenapa saya?

Pengacara membuka dokumen lain.

—Karena audit internal menemukan sejumlah transaksi yang memerlukan penjelasan dari kepala bagian akuntansi.

Maya perlahan menoleh kepada Arman.

Kali ini tidak ada lagi senyum kemenangan di wajahnya.

Aku mengambil tas dan berjalan menuju pintu.

Arman mengejarku.

—Lestari! Kamu mau ke mana?

Aku berhenti tanpa menoleh.

—Pulang.

—Ini rumahmu!

Aku akhirnya menatapnya.

—Bukan. Ini rumah yang kamu beli atas nama ibumu tiga tahun lalu menggunakan uang perusahaan dan mengatakan kepadaku bahwa itu bonusmu.

Wajah Arman berubah.

Aku tersenyum tipis.

—Besok kita akan tahu berapa banyak kebohongan lain yang masih kamu sembunyikan.

Keesokan paginya, pukul sembilan tepat, aku memasuki ruang rapat utama perusahaan.

Semua anggota dewan sudah menunggu.

Arman duduk di kursi direktur utama.

Maya berada di ujung meja dengan wajah pucat.

Ketua dewan berdiri ketika melihatku.

Namun sebelum rapat dimulai, auditor internal masuk membawa sebuah kotak besar berisi dokumen.

Dia meletakkannya di atas meja.

—Kami menemukan sesuatu tadi malam.

Arman langsung menegang.

Auditor menatapku.

—Bu Lestari, masalahnya jauh lebih serius daripada perselingkuhan atau penyalahgunaan jabatan.

Dia mengeluarkan satu laporan transaksi.

—Selama tiga tahun terakhir, ada dana perusahaan senilai puluhan miliar rupiah yang dialihkan melalui beberapa rekening.

Aku menatap Arman.

Tetapi auditor menggeleng.

—Dan rekening terakhir yang menerima uang itu… terdaftar atas nama seseorang yang ada di ruangan ini.

Dia mengangkat dokumen tersebut.

—Namun orang itu bukan Pak Arman.

Semua mata perlahan beralih ke satu orang.

Maya.

Dan untuk pertama kalinya, Arman tampak lebih terkejut daripada aku.

BAGIAN 3

Maya langsung berdiri.

—Itu tidak mungkin!

Kursinya terdorong keras ke belakang.

Auditor tetap tenang.

—Semua dokumen sudah diverifikasi.

—Saya tidak pernah menerima uang sebanyak itu!

—Rekening tersebut terdaftar menggunakan identitas Anda.

Arman menatap Maya dengan wajah penuh kemarahan.

—Kamu bilang semua rekening itu aman!

Maya langsung membeku.

Ruangan menjadi sunyi.

Aku menatap Arman.

—Apa maksudmu “semua rekening itu aman”?

Barulah Arman sadar bahwa dia baru saja mengatakan terlalu banyak.

Maya tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Melainkan tawa seseorang yang akhirnya sadar bahwa orang di sampingnya siap mengorbankannya.

—Sekarang kamu mau menyalahkanku?

—Diam!

—Kenapa aku harus diam?

Maya mengambil ponselnya.

—Kamu yang menyuruhku membuat laporan palsu!

Arman berdiri.

—Kamu gila!

—Aku masih menyimpan pesannya!

Ketua dewan langsung meminta petugas keamanan berdiri di dekat pintu.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Sedikit demi sedikit, semuanya terbuka.

Selama hampir tiga tahun, Arman menggunakan posisinya untuk mengalihkan sebagian dana perusahaan ke sejumlah perusahaan pemasok fiktif.

Maya membantu memanipulasi laporan keuangan.

Sebagai gantinya, Arman menjanjikan uang, jabatan, dan kehidupan baru kepadanya.

Hubungan mereka ternyata bukan baru dimulai tiga bulan lalu.

Sudah hampir dua tahun.

Gelang emas itu hanya salah satu dari banyak hadiah.

Apartemen.

Perjalanan.

Tas mahal.

Semuanya dibayar menggunakan uang yang seharusnya milik perusahaan.

Namun ada satu hal yang tidak diduga Arman.

Maya menyimpan hampir seluruh percakapan mereka.

Dia tidak sepenuhnya mempercayai lelaki yang berselingkuh dari istrinya.

Dan keputusan itu akhirnya menjadi bukti terpenting.

Rapat berlangsung hampir empat jam.

Pada akhirnya, keputusan pemegang saham hanya membutuhkan beberapa menit.

Dengan kepemilikan 87%, suaraku menentukan hasil.

Arman diberhentikan dari jabatan direktur utama dengan segera.

Maya dinonaktifkan dari posisinya sampai seluruh pemeriksaan selesai.

Seluruh transaksi mencurigakan diserahkan kepada auditor independen dan pihak berwenang sesuai prosedur hukum.

Ketika semua orang mulai meninggalkan ruangan, Arman masih duduk di kursinya.

Kursi yang kemarin membuatnya begitu bangga.

Aku berdiri dan memasukkan dokumen ke dalam tas.

—Lestari.

Aku berhenti.

Arman mengangkat kepala.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat seorang pria yang benar-benar kehilangan arah.

—Apa tujuh tahun kita tidak berarti apa-apa bagimu?

Aku hampir tidak percaya mendengar pertanyaan itu.

—Seharusnya aku yang bertanya begitu.

—Aku melakukan kesalahan.

—Tidak, Arman.

Aku menggeleng.

—Kesalahan adalah ketika seseorang lupa ulang tahun pernikahan. Kesalahan adalah salah mengambil keputusan sekali lalu menyesalinya. Yang kamu lakukan berlangsung bertahun-tahun.

Dia berdiri.

—Aku bisa berubah.

—Mungkin.

Aku tersenyum kecil.

—Tapi bukan untukku.

Aku berjalan keluar.

Tiga minggu kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.

Arman mencoba menghubungiku berkali-kali.

Aku tidak memblokirnya.

Aku hanya tidak menjawab hal-hal yang tidak lagi perlu dijawab.

Ratih juga datang ke kondominiumku.

Dia terlihat jauh lebih tua daripada malam pesta itu.

—Lestari, Ibu ingin meminta maaf.

Aku mempersilahkannya duduk.

Dia menangis.

Katanya, tujuh tahun lalu dialah yang mendorong Arman mendekatiku setelah mengetahui ayahku mungkin meninggalkan warisan besar.

Menurutnya, saat itu dia hanya ingin menyelamatkan anaknya dari utang.

Namun setelah kami menikah, dia melihat aku benar-benar bekerja keras membantu Arman.

Dia tahu aku memperlakukan keluarganya dengan baik.

Tetapi dia terlalu malu mengakui bagaimana semuanya bermula.

—Ibu membiarkan kebohongan itu tumbuh terlalu lama.

Aku menatap wanita di depanku.

Aku tidak membencinya.

Namun memaafkan seseorang tidak berarti memberinya kembali tempat yang sama dalam hidup kita.

—Saya memaafkan Ibu.

Ratih menatapku dengan harapan.

Aku melanjutkan,

—Tapi saya tidak akan kembali kepada Arman.

Dia menangis lebih keras.

Aku hanya menuangkan teh untuknya.

Itulah pertemuan terakhir kami sebagai mertua dan menantu.

Proses hukum terhadap penyalahgunaan dana perusahaan berjalan berbulan-bulan.

Audit menemukan banyak transaksi yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Sebagian aset berhasil diamankan.

Arman dan Maya harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka sesuai hasil pemeriksaan dan keputusan hukum.

Aku tidak pernah ikut campur.

Aku juga tidak menggunakan kekuasaanku untuk membalas dendam.

Aku hanya meminta satu hal kepada tim hukum perusahaan:

—Kembalikan semua yang menjadi hak perusahaan. Sisanya biarkan hukum bekerja.

Setelah perceraian selesai, aku melakukan sesuatu yang mengejutkan banyak orang.

Aku tidak mengambil kursi direktur utama.

Padahal aku bisa.

Aku justru menunjuk seorang profesional yang sudah bekerja hampir lima belas tahun di perusahaan dan memiliki reputasi bersih.

Dalam rapat pertama sebagai pemegang saham pengendali, aku berkata,

—Perusahaan ini hampir hancur karena terlalu lama bergantung pada satu orang. Mulai sekarang, tidak boleh ada lagi orang yang lebih besar daripada sistem.

Kami membentuk komite audit independen.

Sistem persetujuan transaksi diperketat.

Laporan keuangan diperiksa secara berkala oleh pihak eksternal.

Dan untuk pertama kalinya, karyawan diberi saluran khusus untuk melaporkan pelanggaran tanpa takut kehilangan pekerjaan.

Enam bulan kemudian, perusahaan bukan hanya pulih.

Keuntungannya justru meningkat.

Tetapi hal yang paling berarti bagiku bukan angka di laporan keuangan.

Suatu sore, aku membuka kembali surat dari Paman Hadi.

Ada satu halaman yang sebelumnya terlewat karena menempel di belakang dokumen lain.

Tulisan tangannya berbunyi:

“Lestari, kalau suatu hari semua ini menjadi milikmu, jangan habiskan hidupmu untuk menjaga kekayaan. Gunakan kekayaan itu untuk membangun kehidupan yang membuatmu tidak perlu takut kehilangan siapa pun.”

Aku menangis saat membacanya.

Bukan karena Arman.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, aku menangis karena merindukan ayah.

Aku kemudian memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun, aku mengira kesetiaan berarti bertahan.

Aku mengira menjadi istri yang baik berarti mengalah.

Aku mengira menjaga harga diri suami adalah bagian dari menjaga rumah tangga.

Padahal cinta yang sehat tidak membutuhkan satu orang mengecilkan dirinya agar orang lain terlihat besar.

Setahun setelah perceraian, aku mendirikan sebuah yayasan menggunakan sebagian dividen perusahaan.

Program pertamanya memberikan modal dan pelatihan kepada perempuan yang ingin membangun usaha kecil setelah mengalami kesulitan ekonomi dalam keluarga.

Aku menamainya dengan nama ayahku.

Toko kecil yang dulu kujual untuk membantu Arman ternyata mengajariku sesuatu yang jauh lebih berharga daripada bisnis.

Kesempatan kecil dapat mengubah hidup seseorang.

Dua tahun kemudian, yayasan itu sudah membantu ratusan keluarga.

Pada salah satu acara pelatihan, seorang perempuan mendatangiku sambil membawa sekotak kue.

—Bu Lestari masih ingat saya?

Aku tidak mengenalnya.

Dia tersenyum.

—Saya peserta angkatan pertama. Dulu saya hanya membuat kue di dapur kontrakan. Sekarang saya punya tiga toko.

Dia menyerahkan kotak itu kepadaku.

—Ini untuk Ibu.

Aku membuka kotaknya.

Di atas kue kecil itu tertulis:

“Terima kasih sudah memberi kesempatan kedua.”

Aku harus menahan air mata.

Malam itu, ketika pulang ke kondominium, aku berdiri di balkon sambil memandangi lampu-lampu kota.

Ponselku berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak menghubungiku.

Arman.

“Selamat atas penghargaan yayasanmu. Aku melihat beritanya. Aku hanya ingin bilang aku menyesal. Sekarang aku mengerti apa yang sudah kuhancurkan.”

Aku membaca pesan itu sekali.

Lalu menghapusnya.

Bukan karena marah.

Aku hanya tidak membutuhkan permintaan maafnya lagi untuk merasa tenang.

Beberapa bulan kemudian, aku bertemu seseorang.

Namanya Damar.

Dia seorang konsultan hukum yang beberapa kali membantu program yayasan kami secara sukarela.

Pertemuan kami tidak seperti kisah cinta dalam film.

Tidak ada bunga seratus tangkai.

Tidak ada makan malam mewah.

Tidak ada janji besar.

Pertama kali dia mengajakku makan, kami justru makan nasi goreng di sebuah kedai kecil setelah rapat selesai terlalu malam.

Ketika mengetahui aku adalah pemegang saham pengendali sebuah perusahaan besar, reaksinya hanya,

—Oh, pantas kamu sangat cerewet kalau membaca kontrak.

Aku tertawa begitu keras sampai hampir tersedak.

Dia tidak pernah meminta tahu jumlah hartaku.

Tidak pernah menawarkan diri mengelola uangku.

Tidak pernah merasa terganggu ketika aku lebih memahami investasi daripada dirinya.

Suatu hari aku bertanya,

—Kamu tidak keberatan kalau pasanganmu lebih kaya?

Damar mengernyit.

—Kenapa harus keberatan?

—Sebagian laki-laki merasa harga dirinya terganggu.

Dia tertawa.

—Harga diri saya tidak disimpan di rekening bank kamu.

Jawaban sederhana itu tinggal lama di kepalaku.

Kami tidak terburu-buru.

Aku sudah belajar bahwa cinta bukan perlombaan.

Dua tahun kami saling mengenal sebelum akhirnya Damar melamarku.

Tidak di restoran mahal.

Tidak di depan banyak orang.

Dia melamarku di halaman pusat pelatihan yayasan setelah kami selesai menanam pohon bersama para peserta.

Dia hanya memegang tanganku.

—Aku tidak bisa menjanjikan hidup tanpa masalah.

Aku tersenyum.

—Bagus. Aku sudah tidak percaya janji seperti itu.

Dia ikut tersenyum.

—Tapi kalau suatu hari kita punya masalah, aku berjanji kita akan duduk di sisi meja yang sama untuk menyelesaikannya. Bukan saling berhadapan seperti musuh.

Untuk pertama kalinya, aku memahami seperti apa rasanya memilih seseorang tanpa rasa takut.

Aku menerima lamarannya.

Pernikahan kami sederhana.

Tidak lebih dari lima puluh tamu.

Tidak ada pesta besar.

Tidak ada media.

Di barisan depan, ada beberapa perempuan peserta pertama yayasanku.

Dan di kursi kosong di sebelah mereka, aku meletakkan foto ayah.

Sesaat sebelum akad dimulai, aku menyentuh pearl earrings peninggalan ibuku yang kupakai hari itu.

Aku tersenyum.

Dulu aku pernah mengira kehilangan Arman berarti kehilangan tujuh tahun hidupku.

Ternyata tidak.

Tujuh tahun itu tidak hilang.

Tujuh tahun itu mengajariku batas antara cinta dan pengorbanan yang menghancurkan diri sendiri.

Mengajariku bahwa kekayaan terbesar bukan saham, perusahaan, rumah, ataupun angka di rekening.

Kekayaan terbesar adalah kebebasan memilih kehidupan yang tidak memaksamu mengorbankan harga dirimu demi mempertahankan seseorang.

Beberapa tahun kemudian, suatu sore aku berdiri di halaman pusat pelatihan yayasan.

Anak-anak berlarian di antara pepohonan.

Para perempuan membawa produk usaha mereka untuk sebuah pameran kecil.

Damar datang membawa dua cangkir kopi dan memberikan satu kepadaku.

—Capek?

—Sedikit.

—Menyesal?

Aku memandang gedung pelatihan di depan kami.

Di dindingnya terdapat foto ayahku.

Aku teringat malam ketika Arman meletakkan surat kuasa di depanku dan menyuruhku menyerahkan kendali atas hartaku.

Saat itu aku mengira hidupku sedang runtuh.

Sekarang aku tahu hidupku justru sedang membuka pintu.

Aku menyandarkan kepala ke bahu Damar.

—Tidak.

Aku tersenyum.

—Untuk pertama kalinya, hidupku terasa benar-benar milikku.

Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.

Aku tidak lagi memikirkan perempuan yang pernah duduk di samping suamiku.

Tidak lagi memikirkan ibu mertua yang pernah menganggap diam sebagai kewajiban seorang istri.

Bahkan aku tidak lagi memikirkan Arman.

Karena kemenangan terbesarku ternyata bukan melihat orang yang mengkhianatiku kehilangan jabatan, uang, atau kekuasaan.

Kemenangan terbesarku adalah ketika namanya tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengubah suasana hatiku.

Aku pernah menjadi perempuan yang menjaga harga diri suaminya sampai hampir kehilangan harga dirinya sendiri.

Sekarang aku adalah perempuan yang tahu persis siapa dirinya.

Dan ketika Damar menggenggam tanganku, aku menggenggamnya kembali bukan karena aku membutuhkannya untuk menyelamatkanku.

Melainkan karena aku memilih berjalan bersamanya.

Kali ini, bukan sebagai perempuan yang berdiri di belakang seorang laki-laki.

Bukan pula sebagai perempuan yang harus membuktikan bahwa dirinya lebih kuat.

Kami hanya dua orang yang berjalan berdampingan.

Dan bagiku, itulah akhir bahagia yang sesungguhnya.