BAGIAN 2
Aku belum sempat keluar dari parkiran ketika Dimas menelepon.
“Mbak, kamu ngomong apa ke Arman?”
Langsung.
Tidak ada ucapan terima kasih sudah datang.
Tidak ada permintaan maaf atas perkataan calon istrinya.
Aku menyalakan AC sebelum menjawab.
“Aku bilang jangan ada perubahan struktur tanpa persetujuanku.”
Dimas terdiam sesaat.
“Cuma soal meja Siska?”
“Kenapa Siska perlu meja di workshop-ku?”
“Dia kan akuntansi.”
“Lalu?”

“Ya bisa bantu.”
“Siapa yang minta bantuan?”
Nada napasnya berubah.
“Mbak, jangan bikin hal kecil jadi besar.”
Aku tertawa pendek.
“Dimas, orang yang baru kukenal hari ini sudah punya meja di kantorku. Menurutmu itu kecil?”
Dia mulai bicara cepat.
“Nadin sebentar lagi istriku. Siska keluarganya. Aku cuma mau sistem bagian printing lebih rapi.”
“Bagian printing itu milik siapa?”
Pertanyaan itu membuatnya diam.
Lama.
Akhirnya dia berkata, “Aku yang menjalankan.”
“Itu bukan jawabannya.”
“Mbak selalu begini.”
Aku memejamkan mata sebentar.
“Begini bagaimana?”
“Kalau sudah soal uang dan usaha, semuanya harus disebut milik Mbak.”
Aku tidak langsung menjawab.
Dua puluh tahun lalu, mungkin kalimat itu bisa membuatku merasa bersalah.
Hari itu, justru terdengar seperti pintu yang akhirnya terbuka.
“Karena memang ada yang milikku, Dimas.”
Dia memutus telepon.
Senin pagi aku datang ke workshop lebih awal.
Tempat itu berada di kawasan Rungkut, menempati dua bangunan yang kusatukan bertahun-tahun lalu. Bagian depan digunakan untuk kantor dan produksi cetak. Bagian belakang untuk jahit, bordir, penyimpanan kain, dan pengepakan.
Dimas belum datang.
Arman sudah menunggu.
“Mbak, saya minta maaf kalau kemarin bikin Mbak kepikiran.”
“Bukan kamu yang bikin.”
Aku meminta daftar pembelian bahan tiga bulan terakhir.
Bukan laporan bank.
Bukan tumpukan dokumen rahasia.
Hanya catatan operasional yang setiap hari seharusnya kulihat, tapi selama ini jarang kuperiksa karena percaya Dimas bisa mengurus bagiannya.
Di situlah kesalahanku.
Aku terlalu sering menyebut kepercayaan sebagai cara menjaga keluarga.
Padahal kadang kepercayaan tanpa batas hanya membuat orang lupa di mana batas itu berada.
Ada pesanan kertas, tinta, akrilik, kain spunbond, dan bahan kemasan.
Beberapa pembelian lebih besar dari biasanya.
“Ada order besar?”
Arman menunjuk tiga baris.
“Katanya proyek Mas Dimas.”
“Klien siapa?”
Arman tampak ragu.
“Dari kenalan keluarga Mbak Nadin.”
Aku meminta buku pesanan.
Nama klien ada.
Nomor telepon ada.
Nilai pekerjaan juga ada.
Total hampir Rp160 juta.
“Uang muka masuk mana?”
Arman menelan ludah.
“Katanya langsung ke Mas Dimas.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Mas Dimas bilang itu proyek pribadinya. Tapi produksinya pakai sini karena nanti bagian printing memang jadi punya Mas Dimas.”
Kalimat yang sama lagi.
Aku tidak marah kepada Arman.
Kalau sebuah kebohongan diulang oleh anggota keluarga pemilik usaha selama berbulan-bulan, pegawai bisa saja menganggap perubahan itu benar.
Aku hanya berkata, “Mulai hari ini, pembelian untuk tiga proyek itu dihentikan sampai aku tahu uang mukanya ada di mana.”
Siang harinya, Dimas datang.
Ia menutup pintu ruanganku cukup keras.
“Kamu sengaja mau mempermalukan aku?”
“Aku sedang mencari tahu kenapa perusahaan membeli bahan untuk pesanan yang uang mukanya tidak masuk ke perusahaan.”
“Itu order-ku.”
“Produksinya pakai mesin siapa?”
Dia membuang muka.
“Aku juga kerja di sini bertahun-tahun.”
“Dan selama itu kamu menerima pembagian keuntungan.”
“Tidak seberapa dibanding yang Mbak dapat.”
Aku menatapnya.
Ada kalimat-kalimat yang tidak benar-benar lahir pada hari diucapkan.
Kalimat itu jelas sudah tinggal lama di kepalanya.
Aku bertanya, “Berapa uang muka yang kamu terima?”
“Sudah dipakai sebagian.”
“Untuk?”
Dia mengusap wajah.
“Persiapan nikah.”
Aku meletakkan pulpen.
“Berapa?”
“Empat puluh delapan juta.”
Aku tidak berteriak.
Justru dia yang terlihat semakin gelisah melihatku diam.
“Pesanannya nanti selesai. Aku tetap kerjakan.”
“Dengan bahan yang dibeli perusahaan?”
“Mbak, nanti aku ganti.”
“Kapan?”
“Setelah nikah.”
“Pakai uang dari mana?”
Dia tidak menjawab.
Sore itu aku pergi ke rumah Ibu.
Aku belum berniat menceritakan semuanya.
Namun begitu masuk, aku mendengar Tante Mira sedang berkata dari ruang tengah, “Untung Dimas sekarang sudah mapan. Tahun lalu operasi mata Mbak Sumi juga dia yang tanggung, kan?”
Langkahku berhenti.
Operasi katarak Ibu tahun lalu kubayar langsung ke rumah sakit.
Dimas hanya mengantar pada hari kontrol kedua.
Ibu melihatku dari sofa.
Wajahnya berubah sedikit.
Tante Mira tersenyum.
“Nah, Ratih datang. Kamu sekarang enak, ya. Adikmu sudah bisa ganti jagain Ibu.”
Aku duduk perlahan.
“Siapa bilang operasi Ibu dibayar Dimas?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menatap Ibu.
“Ibu?”
Tante Mira tampak bingung.
“Lho, waktu itu di grup keluarga Ibumu bilang Dimas yang banyak keluar uang.”
Aku membuka ponsel.
Aku sudah keluar dari grup besar keluarga beberapa bulan sebelumnya karena lelah dengan foto ucapan selamat pagi dan perdebatan yang tidak pernah selesai.
Tante Mira menunjukkan pesannya.
Benar.
Pesan dari Ibu.
Dimas sekarang banyak tanggungannya, bulan lalu biaya mata saya juga dia yang urus. Jangan sering minta bantuan dia, sebentar lagi menikah.
Aku membaca kalimat itu sampai selesai.
Kemudian aku mengembalikan ponsel.
“Tante, boleh aku bicara sama Ibu sebentar?”
Setelah Tante Mira pulang, aku tetap duduk di tempat yang sama.
Ibu membereskan cangkir yang sebenarnya sudah rapi.
“Ibu mau jelaskan.”
“Jelaskan.”
“Itu cuma omongan keluarga.”
“Kenapa Ibu bilang Dimas membayar sesuatu yang aku bayar?”
Ibu tidak menjawab.
“Kenapa?”
Ia akhirnya duduk.
“Karena keluarga Nadin sering tanya keadaan Dimas.”
Aku menatapnya.
“Apa hubungannya?”
“Mereka ingin tahu apakah dia mampu mengurus keluarga.”
“Jadi?”
“Ibu tidak mungkin bilang semua masih dibantu kakaknya.”
Aku merasa sesuatu dalam diriku turun pelan, bukan pecah.
Lebih buruk.
Seperti sebuah benda yang selama ini kugenggam ternyata sudah kosong.
“Ibu malu karena aku yang membantu?”
“Bukan malu sama kamu!”
“Lalu malu pada siapa?”
“Ratih, kamu tidak mengerti. Laki-laki kalau mau menikah harus terlihat punya pegangan.”
Aku tersenyum hambar.
“Jadi agar Dimas terlihat punya pegangan, Ibu mengambil semua yang kulakukan lalu menaruh namanya di atasnya?”
Ibu mulai menangis.
Aku tidak bergerak.
Ia berkata pelan, “Kalau keluarga Nadin tahu usaha itu masih milikmu, biaya Ibu banyak kamu yang tanggung, bahkan tempat Dimas kerja juga dari kamu… mereka bisa berpikir Dimas tidak mampu.”
Aku memandang perempuan yang membesarkanku itu.
Akhirnya aku mengerti kenapa beberapa bulan terakhir Dimas berkali-kali memintaku tidak membicarakan detail pekerjaan di depan keluarga Nadin.
Mengapa Ibu selalu bilang aku sebaiknya “merendah saja”.
Mengapa Nadin yakin Dimas akan “memegang semuanya” setelah menikah.
Mereka tidak sekadar membiarkanku dihina.
Mereka sudah membangun versi kehidupan keluarga kami di mana kontribusiku harus disembunyikan agar Dimas terlihat lebih besar.
Aku bertanya, “Apa lagi yang mereka pikir milik Dimas?”
Ibu tidak langsung menjawab.
Itu sudah cukup membuatku tahu jawabannya tidak akan kecil.
Menurut kalian, setelah tahu kebohongannya bukan cuma soal uang tetapi juga harga diri keluarga, apa yang seharusnya Ratih lakukan pada Dimas dan ibunya?
BAGIAN 3
“Apa lagi, Bu?”
Ibu menunduk.
Tangannya meremas ujung daster.
“Ratih, jangan bicara dengan nada begitu.”
“Aku tidak berteriak.”
Justru suaraku sangat pelan.
“Aku cuma bertanya. Apa lagi yang keluarga Nadin kira milik Dimas?”
Ibu berdiri.
“Aduh, nanti saja. Ibu pusing.”
Biasanya kalimat itu cukup untuk membuatku berhenti.
Aku akan mengambilkan obat.
Memijat bahunya.
Meminta maaf meskipun bukan aku yang salah.
Malam itu aku tetap duduk.
“Ibu boleh istirahat setelah menjawab.”
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kali mungkin dia sadar cara lama tidak bekerja.
Akhirnya ia berkata, “Ruko.”
Aku tidak langsung mengerti.
“Ruko mana?”
“Yang depan workshop.”
Aku menatapnya.
Ruang depan workshop memang bentuk awalnya sebuah ruko dua lantai yang kubeli lima belas tahun lalu, sebelum kemudian menyewa dan membeli tambahan ruang di belakang.
“Apa yang Ibu bilang tentang ruko itu?”
“Ibu tidak bilang apa-apa.”
“Dimas?”
Ibu diam.
Aku berdiri.
“Bu.”
“Katanya… nanti setelah menikah dia mau tinggal dekat sana. Mungkin lantai atas direnovasi sedikit.”
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena tubuhku perlu mengeluarkan sesuatu sebelum aku mengatakan hal yang akan kusesali.
“Dia mau tinggal di lantai atas?”
“Cuma sementara.”
“Siapa yang mengizinkan?”
“Ya dibicarakan dulu.”
“Dengan siapa?”
Ibu mulai kesal.
“Kenapa semuanya harus pakai izin seperti orang lain? Dia adikmu.”
Aku memandang wajahnya.
Kalimat itu.
Selama bertahun-tahun kalimat itu seperti kunci yang bisa membuka apa saja milikku.
Uang sekolah.
Uang kursus.
Motor.
Biaya kontrakan.
Modal.
Ruangan kerja.
Waktu.
Tenaga.
Bahkan diamku.
Karena dia adikmu.
Aku akhirnya berkata, “Karena dia adikku, selama ini aku membantu. Bukan menyerahkan hidupku.”
Ibu menangis lagi.
Aku mengambil tas.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Ratih, jangan ambil keputusan waktu marah.”
Aku berhenti di dekat pintu.
“Aku justru baru sadar selama ini terlalu banyak mengambil keputusan waktu merasa bersalah.”
Malam itu Dimas menelepon sembilan kali.
Aku tidak mengangkat.
Bukan untuk menghukumnya.
Aku tahu kalau kami bicara saat itu, dia akan berteriak, aku akan membalas, Ibu akan menelepon sambil menangis, lalu masalah sebenarnya tertutup oleh pertanyaan siapa yang suaranya paling keras.
Pagi berikutnya aku datang ke workshop sebelum jam delapan.
Aku memanggil Arman, Lilis dari administrasi, dan Pak Widodo yang sudah bekerja denganku sejak tempat itu masih memiliki empat mesin jahit.
Aku menjelaskan singkat.
“Mulai hari ini, pembelian bahan bagian printing harus disetujui Lilis dan aku. Dimas tidak boleh memesan atas nama perusahaan tanpa persetujuan tertulis.”
Tidak ada yang bertanya macam-macam.
Aku melanjutkan.
“Semua proyek yang sudah masuk kita data. Kalau memakai nama Binar Kreasi, kita selesaikan supaya klien tidak dirugikan. Kalau pembayaran masuk ke rekening pribadi, catat sebagai kewajiban Dimas kepada perusahaan.”
Lilis bertanya, “Yang tiga order kemarin juga?”
“Iya.”
“Kalau Mas Dimas marah?”
Aku memandangnya.
“Suruh bicara denganku.”
Jam sembilan lewat sedikit, sebuah mobil putih berhenti di depan.
Dimas turun bersama Nadin.
Aku sudah menduga.
Yang tidak kuduga, mereka membawa Ibu.
Ketiganya masuk ke ruang kantor.
Nadin tidak mengenakan pakaian kerja. Ia memakai blus putih, celana hitam, dan wajah yang jelas sedang berusaha menjaga ketenangan.
Dimas menutup pintu.
“Mbak mau apa sebenarnya?”
Aku menunjuk kursi.
“Duduk dulu.”
“Aku tidak mau duduk.”
“Silakan.”
Nadin duduk lebih dulu.
Ibu memilih kursi paling dekat pintu.
Aku menatap Dimas.
“Aku sudah tahu soal tiga order.”
Wajahnya mengeras.
“Kita bisa bahas itu.”
“Memang akan kita bahas.”
“Aku sudah bilang uangnya nanti diganti.”
“Kamu menerima Rp48 juta uang muka menggunakan pekerjaan yang akan diproduksi oleh tempat ini, tanpa memberitahuku.”
“Aku bukan orang luar.”
“Benar. Itu sebabnya kamu kuberi akses.”
Nadin menyela.
“Tunggu. Maksudnya apa menggunakan tempat ini?”
Aku berbalik kepadanya.
“Kamu tidak tahu?”
Nadin menatap Dimas.
“Aku pikir Karsa Printing punya kamu.”
Dimas berkata cepat, “Memang aku yang membangun bagian itu.”
Aku tidak menyangkal.
“Aku yang memberinya satu ruangan dan satu printer digital delapan tahun lalu. Dimas yang mencari klien dan mengembangkan bagian printing. Karena hasilnya bagus, kami tambah mesin.”
Nadin bertanya, “Kami?”
“Perusahaanku membeli mesinnya.”
Wajahnya mulai berubah.
Aku melanjutkan bukan untuk mempermalukannya, tetapi karena sudah terlalu banyak kebohongan tumbuh dari kalimat setengah jadi.
“Pegawainya menerima gaji dari perusahaan. Listriknya, sewa gudang tambahan, kendaraan operasional, bahan dasar, pajak usaha, dan asuransi kerja juga lewat perusahaan.”
Dimas memukul sandaran kursi.
“Mbak mau bilang aku selama ini cuma pegawai?”
“Aku bilang statusmu manajer divisi dengan pembagian keuntungan. Itu yang kita sepakati.”
“Karena waktu itu aku baru mulai!”
“Dan kapan kamu meminta kesepakatan itu diubah?”
Dia tidak menjawab.
Nadin menatapnya.
“Dimas?”
Dimas membuang muka.
Nadin kemudian menatapku.
“Kenapa selama ini tidak pernah dijelaskan?”
Aku hampir tertawa.
“Kepada siapa?”
“Kepada keluarga kami.”
“Karena tidak ada yang bertanya kepadaku.”
Ruangan diam beberapa detik.
Nadin menyilangkan tangan.
“Tapi Dimas pernah bilang setelah menikah bagian itu akan sepenuhnya dia pegang.”
“Memegang operasional dan memiliki adalah dua hal berbeda.”
“Dia bilang rukonya juga…”
Nadin berhenti.
Aku menatap Ibu.
Ibu langsung melihat lantai.
“Nanti kami bisa tinggal di atas.”
Dimas membentak, “Nadin!”
“Apa?”
“Tidak usah bahas semua sekarang.”
“Kenapa tidak?”
Suara Nadin naik untuk pertama kalinya.
“Kamu bilang kakakmu punya usaha sendiri di tempat lain. Kamu bilang ruko itu bagian kamu. Kamu bilang setelah menikah Siska bisa bantu keuangan karena aku bilang kamu terlalu berantakan mengurus pembukuan.”
Aku bersandar ke kursi.
Jadi itulah asal meja Siska.
Nadin memang lancang.
Tetapi untuk pertama kalinya aku melihat bahwa sebagian besar kelancangannya berdiri di atas cerita yang dibuat Dimas.
Aku bertanya, “Kamu tahu Siska sudah disiapkan meja?”
Nadin menjawab, “Dimas yang minta.”
Dimas memotong, “Karena aku butuh orang yang bisa dipercaya.”
Aku menatapnya.
“Lilis sudah tujuh tahun mengurus administrasi.”
“Dia orang Mbak.”
Tiga kata.
Pendek.
Tapi tiba-tiba semuanya menjadi sangat jelas.
Bukan hanya tentang pernikahan.
Bukan hanya tentang Nadin.
Di kepala Dimas, selama ini ada dua kubu.
Orang Mbak.
Orangku.
Padahal aku bertahun-tahun berpikir kami sedang membangun sesuatu bersama.
Aku bertanya, “Sejak kapan tempat ini bukan tempat kita bekerja bersama, tapi sesuatu yang harus kamu rebut dari orang-orangku?”
Dia tertawa sinis.
“Mbak enak ngomong begitu.”
“Jelaskan.”
“Semua orang tahunya aku berhasil karena Mbak.”
“Siapa yang bilang?”
“Semua!”
“Nadin tidak.”
Dimas terdiam.
Aku melanjutkan, “Keluarganya juga tidak. Karena kalian memastikan mereka tidak tahu.”
Ibu berkata, “Ratih, jangan menyerang adikmu.”
Aku menoleh.
“Bu, aku belum selesai.”
“Dia tertekan!”
“Karena?”
Ibu berdiri.
“Karena dari kecil dia selalu hidup di bawah bayanganmu!”
Ruangan menjadi sunyi.
Bukan sunyi dramatis seperti di sinetron.
Mesin potong dari belakang tetap terdengar.
Ada suara motor lewat di jalan.
Seseorang menjatuhkan benda logam di ruang produksi.
Kehidupan berjalan biasa saja sementara sebuah kalimat yang mungkin disimpan puluhan tahun akhirnya keluar.
Aku menatap Ibu.
“Bayanganku?”
Ibu tampak menyesal sudah mengatakannya, tapi tidak bisa menarik kembali.
“Kamu selalu bisa.”
Aku hampir tidak percaya dengan kalimat itu.
“Kapan?”
“Sejak Ayah meninggal. Kamu langsung kerja. Kamu cepat belajar. Kamu bisa cari uang. Kalau ada masalah, orang datang ke kamu.”
“Itu bukan karena aku ingin jadi lebih hebat.”
“Ibu tahu.”
“Lalu kenapa itu salahku?”
“Bukan salahmu.”
“Tapi Dimas harus dibuat terlihat seperti membiayai operasi Ibu?”
Ibu diam.
Nadin menoleh cepat.
“Operasi apa?”
Aku tidak menjawab.
Dimas memejamkan mata.
Nadin menatap Ibu.
“Katanya tahun lalu Dimas yang menanggung operasi mata Ibu.”
Ibu terdengar kecil ketika menjawab.
“Ratih yang bayar.”
Nadin menatap Dimas.
“Kamu bilang transfer dari proyekmu terlambat karena bayar rumah sakit.”
Dimas membalas, “Aku juga keluar uang untuk kebutuhan Ibu.”
“Berapa?”
“Itu bukan urusanmu.”
“Kita mau menikah!”
Nadin berdiri.
“Kamu membuatku memandang kakakmu seperti perempuan yang menumpang pada kesuksesanmu.”
Dimas langsung berkata, “Aku tidak pernah menyuruh kamu menghina Mbak!”
Aku menatapnya.
Akhirnya.
Satu kalimat yang benar.
“Nadin memang bertanggung jawab atas mulutnya sendiri,” kataku.
Nadin menoleh kepadaku.
Matanya mengeras.
Mungkin dia mengira aku akan membebaskannya karena ternyata Dimas berbohong.
Tidak.
Aku berkata, “Kamu tidak mengenalku, tapi cukup melihat bajuku, pekerjaanku, dan pendidikanku untuk menyimpulkan uangku berasal dari laki-laki.”
Ia menarik napas.
“Aku mengakui mungkin aku terlalu cepat menilai.”
“Mungkin?”
Wajahnya memerah.
“Aku salah.”
“Bukan hanya salah menilai.”
Ia diam.
Aku tidak memaksanya meminta maaf.
Permintaan maaf yang diperas tidak lebih berguna daripada air dari lap basah.
Aku kembali kepada Dimas.
“Ada lagi yang kamu janjikan?”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
Dia menghindari pandanganku.
“Kamu yakin?”
“Apa lagi yang Mbak mau dengar?”
“Kebenaran.”
Dia mengusap wajah.
“Aku cuma bilang nanti bisa ambil lebih banyak keputusan.”
“Termasuk memberi Siska akses ke keuangan?”
“Kalau dia kerja di sini, ya.”
“Siapa yang merekrut?”
“Aku.”
“Siapa yang membayar?”
Dia diam.
Aku mengangguk perlahan.
“Begitu.”
Dimas mulai kehilangan kesabaran.
“Mbak mau apa sekarang? Semua dicabut? Aku disuruh keluar? Setelah delapan tahun aku kerja di sini?”
“Delapan tahun itu tidak hilang.”
“Tapi semuanya tetap atas nama Mbak.”
“Karena perusahaan ini memang kubangun.”
“Jadi aku tidak punya apa-apa?”
Pertanyaan itu keluar dengan suara berbeda.
Tidak marah.
Lebih mirip takut.
Untuk pertama kalinya sejak dia masuk ruangan, aku bisa melihat adikku.
Bukan laki-laki yang berbohong.
Bukan calon suami yang ingin terlihat mapan.
Adikku.
Anak laki-laki yang dulu meneleponku dari kos karena tidak punya uang makan.
Yang pernah menangis ketika gagal masuk perusahaan besar.
Yang kubawa ke workshop dan kusuruh mencoba mendesain kartu undangan untuk salah satu klien.
Aku bisa memahami kenapa dia takut tidak punya sesuatu yang benar-benar miliknya.
Tapi memahami bukan berarti membiarkan.
Aku berkata, “Kamu punya kemampuan.”
Dia tertawa pahit.
“Jangan hibur aku.”
“Aku tidak menghibur.”
Aku membuka laci meja dan mengambil satu map tipis berisi laporan pembagian keuntungan yang memang sudah kusiapkan sejak pagi.
Bukan surat rahasia.
Bukan senjata kejutan.
Hanya catatan yang selama ini selalu kami miliki.
“Lima tahun terakhir, total pembagian keuntungan yang kamu terima dari divisi printing sekitar Rp610 juta. Di luar gaji bulanan.”
Nadin menatap Dimas.
Aku melanjutkan.
“Kamu memilih memakai sebagian untuk mobil, cicilan apartemen yang kemudian kamu batalkan, liburan, dan sekarang pernikahan. Itu pilihanmu. Jangan bilang kamu tidak pernah diberi kesempatan berdiri.”
Dimas menelan ludah.
Aku menutup map.
“Tapi mulai sekarang kita berhenti berpura-pura.”
“Apa maksudnya?”
“Ada dua pilihan.”
Ibu langsung menyela.
“Ratih.”
Aku mengangkat tangan.
“Biarkan aku selesai.”
Aku menatap Dimas.
“Pilihan pertama, kamu tetap bekerja sebagai manajer divisi printing. Status dan pembagian keuntungan kita tulis ulang dengan jelas. Kamu tidak boleh menerima proyek pribadi menggunakan fasilitas perusahaan tanpa kontrak. Tidak ada keluarga pasangan, teman, atau siapa pun masuk ke sistem tanpa proses resmi. Uang muka Rp48 juta kamu kembalikan bertahap karena perusahaan tetap harus menyelesaikan tiga pesanan itu.”
Rahangnya mengeras.
“Pilihan kedua?”
“Kamu keluar dan membangun usahamu sendiri.”
Ibu langsung berkata, “Kamu mau buang adikmu?”
“Aku memberinya pilihan.”
“Mana bisa mulai dari nol!”
Aku menatap Dimas.
“Dia tidak mulai dari nol. Dia punya pengalaman delapan tahun, klien yang mengenal namanya, keterampilan desain, dan jaringan pemasok.”
Aku berhenti sebentar.
“Yang tidak boleh dia bawa adalah mesin, merek, staf, dan uang perusahaan.”
Dimas duduk akhirnya.
Wajahnya pucat.
“Mbak sudah merencanakan ini sejak lamaran?”
“Tidak.”
“Karena Nadin menghina Mbak?”
“Kalau cuma soal hinaan, aku cukup berhenti datang ke acara kalian.”
Aku menunjuk buku pesanan.
“Ini karena kamu mengambil uang proyek, menggunakan bahan perusahaan, menjanjikan perubahan kepemilikan yang tidak pernah dibicarakan, dan memasukkan orang ke sistem seolah kamu satu-satunya yang punya wewenang.”
Aku memandang Ibu.
“Dan karena aku baru tahu keluargaku sendiri sudah lama memakai apa yang kubayar untuk membuat Dimas terlihat seperti seseorang yang bukan dirinya.”
Ibu menangis.
“Aku cuma mau adikmu bahagia.”
Aku mengangguk.
“Aku juga.”
“Lalu kenapa kamu tega?”
Pertanyaan itu hampir membuatku marah lagi.
Tapi kali ini aku tidak ingin menang dengan suara paling keras.
Aku berkata, “Karena bahagia yang harus dibangun di atas kebohongan akan terus meminta kebohongan baru.”
Dimas menatap meja.
Nadin mengambil tasnya.
“Aku pulang dulu.”
Dimas langsung berdiri.
“Nad.”
“Aku perlu bicara sama orang tuaku.”
“Kita bisa selesaikan.”
“Aku tidak tahu mana yang harus diselesaikan dulu.”
Ia menunjuk ruangan.
“Usaha yang ternyata bukan milikmu?”
Lalu menunjuk Dimas.
“Atau cerita-cerita yang kamu buat supaya keluargaku menganggap kamu lebih mapan?”
Dimas menatapnya dengan wajah terluka.
“Kamu sendiri yang selalu bilang laki-laki harus punya aset.”
“Aku tidak menyuruh kamu bohong.”
“Kamu tahu keluargamu seperti apa.”
“Makanya kamu bohong?”
“Kalau aku bilang semuanya dari awal, papamu belum tentu setuju!”
Nadin diam.
Itulah salah satu kebenaran yang tidak nyaman.
Mungkin Dimas benar.
Mungkin keluarga Nadin memang menilai calon menantu dari pekerjaan, kepemilikan, pendidikan, dan status.
Mungkin tekanan itu nyata.
Tapi tetap saja, dia memilih jawaban yang paling mudah.
Mengubah pertolongan menjadi kepemilikan.
Mengubah kakaknya menjadi bayangan.
Nadin menatapku sebelum keluar.
“Mbak Ratih.”
Aku menunggu.
“Aku minta maaf soal ucapan waktu lamaran.”
Aku tidak tersenyum.
“Baik.”
Hanya itu.
Dia tampak seperti berharap sesuatu lagi.
Aku tidak memberikannya.
Menerima permintaan maaf tidak berarti harus langsung membuat orang merasa nyaman.
Dimas mengejar Nadin keluar.
Ibu masih duduk.
Beberapa menit kami tidak bicara.
Kemudian ia berkata, “Kalau mereka batal menikah, kamu puas?”
Aku menatapnya.
Aku benar-benar lelah.
“Kenapa Ibu selalu mengira batas yang kubuat adalah hukuman untuk orang lain?”
Ibu tidak menjawab.
“Aku tidak ingin pernikahan mereka batal.”
“Lalu?”
“Aku ingin kalau mereka menikah, mereka tahu dengan siapa mereka menikah.”
Ibu menunduk.
Aku berkata, “Dan aku ingin setelah ini Ibu tidak lagi memakai namaku untuk membesarkan Dimas.”
Wajahnya mengeras lagi.
“Ibu tidak membesarkan dia dengan namamu.”
“Biaya operasi Ibu siapa?”
Ia diam.
“Listrik rumah siapa?”
“Kadang Dimas juga memberi.”
“BPJS tambahan dan obat yang tidak tertanggung?”
Diam.
“Renovasi kamar mandi tahun lalu?”
“Ratih, jangan hitung-hitungan sama orang tua.”
“Aku tidak menagih.”
Aku menggeser kursi lebih dekat.
“Aku cuma ingin kenyataannya tidak diubah.”
Matanya mulai basah.
“Apa bedanya?”
“Besar.”
Aku berkata pelan, “Selama ini Ibu membuatku merasa bantuan adalah kewajiban. Lalu bantuan itu diberikan kepada orang lain sebagai prestasi Dimas. Akhirnya dia sendiri percaya semua itu memang haknya.”
Ibu memandang keluar jendela.
“Ibu cuma takut.”
“Apa?”
“Dia tidak akan jadi apa-apa.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Aku menunggu.
Ibu melanjutkan, “Kamu dari muda keras kepala. Kalau jatuh, kamu bangun sendiri. Dimas tidak begitu.”
“Aku tahu.”
“Makanya Ibu selalu lebih khawatir sama dia.”
Aku mengangguk.
“Dan karena Ibu selalu lebih khawatir, aku selalu diminta lebih mengerti.”
Ibu menangis tanpa suara.
Kali ini aku mengambil tisu dan meletakkannya di depan.
Aku tidak memeluknya.
Belum.
“Bu, orang yang terus diselamatkan akhirnya tidak belajar berenang.”
Ibu menyeka mata.
“Dia adikmu.”
“Dan aku kakaknya. Bukan lantai tempat dia boleh berdiri seumur hidup.”
Hari itu tidak ada perdamaian.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada musik lembut.
Ibu pulang naik taksi online karena Dimas tidak kembali.
Aku tetap di workshop sampai hampir pukul sembilan malam menyelesaikan daftar tiga proyek.
Dua klien mengonfirmasi mereka memang berhubungan langsung dengan Dimas.
Satu bahkan mengirim percakapan WhatsApp ketika kami meminta detail desain.
Dalam percakapan itu, Dimas menulis:
Produksi punya saya sendiri, Bu. Jadi lebih fleksibel.
Aku membaca kalimat itu.
Aneh.
Tidak lagi membuatku marah.
Aku hanya sedih.
Esoknya Dimas tidak masuk.
Hari berikutnya juga tidak.
Pada hari ketiga dia datang menjelang siang.
Sendirian.
Ia duduk di depan mejaku.
“Aku pilih keluar.”
Aku sudah menduga.
“Kapan?”
“Akhir bulan.”
Aku mengangguk.
“Kita selesaikan serah terima.”
Dia terlihat tersinggung karena aku tidak mencoba menahannya.
“Mbak tidak mau bilang apa-apa?”
“Apa?”
“Delapan tahun.”
“Aku tidak menghapus delapan tahun itu.”
“Rasanya gampang sekali buat Mbak.”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Kalau gampang, mungkin aku sudah melakukan ini lima tahun lalu.”
Dia diam.
Aku melanjutkan, “Aku juga salah.”
Dia mengangkat alis.
“Aku terlalu sering menyelesaikan masalahmu sebelum kamu benar-benar merasakan akibatnya.”
Dia tertawa hambar.
“Sekarang senang lihat aku susah?”
“Tidak.”
“Kelihatannya begitu.”
Aku tidak membalas.
Beberapa detik kemudian dia berkata, “Nadin menunda nikah.”
Aku mengangguk pelan.
“Berapa lama?”
“Belum tahu.”
Dia memandang tangannya.
“Papanya marah. Bukan soal aku tidak punya ruko. Soal aku bohong.”
Aku tidak merasa menang.
Aku hanya berkata, “Wajar.”
Dimas menatapku.
“Mbak benci Nadin?”
Aku berpikir sebentar.
“Aku tidak suka cara dia menilai orang.”
“Dia bilang Mbak dingin.”
“Mungkin.”
“Dia minta maaf.”
“Aku dengar.”
“Kenapa Mbak tidak bilang sudah memaafkan?”
Aku menatap adikku.
“Karena aku belum tahu apakah aku sudah.”
Dia mengangguk pelan.
Itu mungkin pertama kalinya dalam percakapan kami dia menerima jawaban tanpa memaksaku membuatnya terasa lebih baik.
Sebelum pergi, dia bertanya, “Kalau aku bikin usaha sendiri, boleh beli dua mesin lama?”
Aku melihat ke ruang produksi.
Ada dua printer generasi lama yang memang akan kami ganti tahun berikutnya.
“Boleh.”
Wajahnya berubah sedikit.
“Tapi harga pasar.”
Ekspresinya langsung kembali datar.
Aku hampir tersenyum.
“Kamu boleh cicil enam bulan.”
“Mbak tetap saja.”
“Justru karena aku kakakmu, aku kasih cicilan.”
Ia tertawa pendek.
Untuk sesaat, aku melihat Dimas yang dulu.
“Rp48 juta?”
“Kita potong sebagian dari pembagian keuntungan terakhir. Sisanya cicil.”
Dia mengangguk.
Tidak protes.
Tiga minggu berikutnya tidak nyaman.
Dimas tetap datang untuk menyelesaikan proyek.
Tapi tidak lagi masuk ruanganku tanpa mengetuk.
Dia menyerahkan data klien.
Lilis mengganti semua otorisasi pembelian.
Siska tidak pernah bekerja di workshop.
Meja yang sudah disiapkan untuknya dipindahkan ke bagian desain.
Aku tidak membuang kertas bertuliskan MEJA FINANCE – SISKA.
Kertas itu kutaruh di laci selama beberapa minggu.
Bukan untuk menyimpan dendam.
Sebagai pengingat bahwa pelanggaran besar sering masuk lewat sesuatu yang terlihat sangat kecil.
Sebuah meja.
Sebuah password.
Sebuah kalimat, “Cuma bantu sebentar.”
Sebuah kebiasaan tidak enak menolak.
Dua bulan kemudian Dimas menyewa kios kecil di Waru.
Tidak bagus.
Lebarnya mungkin hanya separuh bagian printing yang dulu dia kelola.
Dia membeli dua mesin lama dariku dan satu komputer bekas dari temannya.
Arman sempat bertanya apakah aku ingin melarang pegawai menerima pesanan sampingan dari Dimas.
“Tidak.”
“Takutnya dia ambil klien.”
“Kalau klien memilih dia karena hasil kerjanya, itu hak mereka.”
Aku hanya membuat satu aturan.
Tidak boleh memakai desain milik perusahaan tanpa izin.
Beberapa klien memang pindah kepadanya.
Sebagian tetap.
Ternyata dunia tidak runtuh.
Usahaku juga tidak bangkrut karena aku berhenti mempertahankan satu orang di tempat yang sudah tidak sehat.
Hubunganku dengan Ibu lebih sulit.
Selama hampir sebulan ia menjawab teleponku seperlunya.
Kalau kutanya obat, jawabannya pendek.
Kalau kukirim makanan, ia bilang terima kasih.
Tidak ada pembicaraan tentang Dimas.
Suatu Minggu aku datang membawa buah.
Di meja ada tagihan listrik.
Aku mengambil ponsel.
Ibu langsung berkata, “Tidak usah.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Dimas sudah transfer setengah. Ibu bayar setengah dari uang pensiun.”
Aku terdiam.
Biasanya aku akan langsung membayar semuanya.
Tanganku bahkan sudah membuka aplikasi mobile banking.
Tapi aku berhenti.
“Cukup?”
“Cukup.”
Aku menaruh ponsel.
“Kalau kurang bilang.”
Ibu menatapku agak lama.
Mungkin dia sedang menungguku mengambil alih seperti biasa.
Aku tidak melakukannya.
Kami makan mangga bersama.
Tidak ada permintaan maaf besar.
Namun sebelum aku pulang, ia berkata, “Operasi mata kemarin itu memang kamu yang bayar.”
Aku menatapnya.
“Iya.”
“Ibu sudah bilang ke Tante Mira.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya aku hanya berkata, “Terima kasih.”
Perubahan kadang memang sekecil itu.
Bukan orang tiba-tiba menjadi sempurna.
Hanya sebuah kebohongan lama yang akhirnya berhenti diulang.
Tentang Nadin, pernikahannya dengan Dimas benar-benar ditunda.
Tiga bulan setelah lamaran, aku menerima pesan darinya.
Mbak, aku tidak tahu apakah Mbak mau membaca ini. Aku sekarang paham kenapa ucapan waktu itu keterlaluan. Waktu itu aku terlalu bangga dengan pekerjaan dan pendidikan sendiri. Aku pikir status membuatku lebih bisa menilai orang. Ternyata tidak. Aku tidak berharap kita dekat, tapi aku tetap ingin meminta maaf sekali lagi.
Aku membaca pesan itu saat sedang makan siang.
Tidak ada bunga.
Tidak ada rasa lega luar biasa.
Aku membalas:
Aku baca. Terima kasih sudah mengatakannya. Semoga ke depan kita sama-sama lebih hati-hati menilai orang.
Dia membalas satu kata.
Iya.
Selesai.
Aku tidak mengundangnya minum kopi.
Dia juga tidak berusaha menjadi adik perempuan baruku.
Aku lebih suka begitu.
Beberapa hubungan tidak perlu dipaksa hangat supaya dianggap selesai.
Dimas sendiri berubah lebih lambat.
Kadang masih menyindir.
Kalau bahan naik, dia pernah berkata, “Enak dulu tinggal bilang ke Lilis beli.”
Aku menjawab, “Makanya sekarang belajar menghitung.”
Dia mendengus.
Tapi membayar sendiri.
Bulan kedua dia mengirim cicilan Rp8 juta.
Bulan ketiga Rp7 juta.
Tidak selalu tepat tanggal.
Namun dia mengirim.
Suatu malam dia datang ke workshop membawa satu kotak martabak.
Aku masih di kantor.
Dia meletakkannya di meja.
“Sepi?”
“Lumayan.”
“Usaha?”
“Naik turun.”
Aku menuangkan teh untuk kami.
Setelah lama diam, dia berkata, “Mbak tahu kenapa aku dulu bilang tempat ini punyaku?”
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan.
“Awalnya cuma biar gampang kalau ngomong sama orang.”
Aku menunggu.
“Kalau bilang aku manajer bagian printing punya kakakku, rasanya…”
Dia berhenti.
“Rasanya apa?”
“Kecil.”
Aku menatap wajahnya.
Dia sudah tiga puluh tiga tahun, tapi dalam cahaya kantor malam itu aku masih bisa melihat anak laki-laki yang dulu paling takut dibandingkan dengan orang lain.
“Lalu lama-lama,” katanya, “aku sendiri percaya bagian itu memang seharusnya jadi punyaku.”
Aku mengangguk.
“Karena aku sudah lama pegang.”
“Iya.”
Dia menatap teh.
“Mungkin aku marah bukan karena Mbak tidak memberi. Aku marah karena aku malu masih banyak dibantu.”
Aku berkata, “Malu itu tidak hilang dengan berpura-pura bantuan itu tidak ada.”
Dia tersenyum pahit.
“Sekarang tahu.”
Aku tidak berkata, “I told you so.”
Ada kalimat yang terasa nikmat diucapkan tapi tidak membawa siapa-siapa ke mana pun.
Dimas bertanya, “Kalau dulu aku minta beli bagian printing dari Mbak, Mbak bakal kasih?”
Aku berpikir jujur.
“Mungkin.”
Dia menatapku.
“Serius?”
“Mungkin kita bisa hitung nilai mesin, pelanggan, dan aset. Bisa dicicil dari keuntungan.”
“Kenapa dulu tidak bilang?”
“Karena kamu tidak pernah minta.”
Dia tertawa kecil.
“Bodoh juga.”
“Lumayan.”
Kami tertawa.
Tidak lama.
Tapi cukup.
Enam bulan setelah lamaran itu, Dimas dan Nadin akhirnya menikah.
Lebih sederhana dari rencana awal.
Tidak ada resepsi besar di hotel.
Mereka mengadakan akad dan makan siang keluarga di sebuah gedung kecil di Sidoarjo.
Aku datang.
Bukan sebagai penyandang dana.
Bukan sebagai orang yang harus memastikan semua masalah selesai.
Aku datang sebagai kakak.
Aku memberi hadiah seperangkat alat makan dan amplop dengan jumlah yang wajar.
Tidak ada gelang mahal.
Tidak ada janji aset.
Saat menerima amplop, Nadin tidak membukanya.
Ia menatapku dan berkata, “Terima kasih sudah datang, Mbak.”
Aku mengangguk.
“Semoga kalian rukun.”
Ibu duduk tidak jauh dari kami.
Ia tidak berkata kepada siapa pun bahwa Dimas membayar pesta sendiri.
Tidak berkata aku yang membayar.
Karena kenyataannya biaya dibagi antara tabungan Dimas, Nadin, dan bantuan kedua keluarga sesuai kemampuan.
Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan.
Aku baru sadar betapa tenangnya keluarga ketika semua orang berhenti sibuk menciptakan pahlawan.
Setelah menikah, Dimas tetap menjalankan kiosnya.
Tidak menjadi pengusaha besar.
Belum.
Tapi penghasilannya cukup.
Kadang dia menerima pesanan dari workshop-ku kalau kami terlalu penuh.
Sekarang ada nota.
Ada harga.
Ada tenggat.
Ada batas.
Lucunya, hubungan kami justru lebih ringan ketika urusan uang tidak lagi dibungkus rasa sungkan.
Kalau dia butuh sesuatu, dia bertanya.
Kalau aku tidak bisa, aku bilang tidak.
Ibu juga perlahan belajar.
Biaya bulanannya sekarang kami bicarakan terbuka.
Aku membayar beberapa kebutuhan rutin karena penghasilanku memang lebih besar.
Dimas mengambil bagian lain.
Bukan sama rata.
Tapi jelas.
Dan tidak ada lagi cerita bahwa satu orang melakukan semuanya demi menjaga muka di depan keluarga.
Suatu pagi, hampir delapan bulan setelah lamaran itu, aku sampai di workshop sebelum pegawai lain datang.
Ruangan masih sepi.
Aku membuka jendela depan.
Di sudut kantor berdiri meja yang dulu disiapkan untuk Siska.
Sekarang meja itu dipakai pegawai desain baru bernama Maya, seorang ibu dua anak yang kembali bekerja setelah beberapa tahun berhenti.
Di atas mejanya ada termos kecil, foto anak-anak, dan daftar pesanan.
Aku membuka laci mejaku.
Kertas lama bertuliskan MEJA FINANCE – SISKA masih ada.
Aku menatapnya sebentar.
Kemudian kuremas.
Bukan dengan marah.
Aku membuangnya ke tempat sampah.
Dari belakang terdengar suara mesin mulai dinyalakan.
Satu per satu pegawai datang.
Arman menyapaku.
“Pagi, Mbak.”
“Pagi.”
Aku membuka pintu depan lebih lebar.
Dulu aku mengira menjadi kakak yang baik berarti selalu menyediakan jalan supaya adikku tidak jatuh.
Sekarang aku tahu, kadang kita justru harus berhenti menjadi jalan itu.
Biar dia belajar berdiri di tanahnya sendiri.
Dan biar kita akhirnya bisa berdiri di tanah kita tanpa merasa bersalah.
Terima kasih sudah mengikuti cerita Ratih sampai selesai. Menurut kalian, siapa yang paling besar tanggung jawabnya dalam konflik ini: Dimas yang membangun kebohongan, Ibu yang terus melindunginya, atau Nadin yang terlalu cepat merendahkan orang? Semoga kita semua diberi keluarga yang bisa saling membantu tanpa menghapus batas, harga diri, dan kebenaran.
