BAGIAN 2
Kunci berputar dari luar.
Aku mundur dari ruang makan dan masuk ke dapur.
Bukan karena takut.
Aku hanya belum mau membuang satu-satunya keuntungan yang kupunya.
Mereka belum tahu aku sudah melihat semuanya.
Pintu terbuka.
Suara Ningsih terdengar lebih dulu.

“Yang akad Sabtu itu jangan sampai kurang bunga putih. Pengantinnya cerewet.”
Perempuan yang kukenal sebagai Wulan menjawab, “Masalahnya vendor belum mau kirim sebelum pembayaran kemarin masuk.”
Dimas menutup pintu.
“Besok beres.”
“Pakai apa?” tanya Wulan.
Ada jeda.
Dimas menjawab lebih pelan.
“Dana masuk Jumat.”
Aku merasakan kuku jempolku menekan telapak tangan.
Wulan berkata, “Pak, saya tanya sekali lagi. Bu Ratri memang sudah setuju?”
Ningsih mendecakkan lidah.
“Wulan, kamu pegawai atau auditor?”
“Saya yang nanti ngomong ke vendor, Mbak.”
“Ya sudah, bilang saja uang aman.”
Dimas tidak segera menjawab.
Kemudian ia berkata, “Ratri itu orangnya ribut dulu. Kalau sudah lihat masalahnya, dia pasti bantu.”
Aku menutup mata.
Bukan uang Rp360 juta itu yang membuatku paling sakit.
Kalimat itu.
Ribut dulu.
Lalu pasti bantu.
Begitulah suamiku melihat semua keberatanku selama ini.
Bukan batas.
Hanya tahap awal sebelum menyerah.
Aku mendengar mereka berjalan ke ruang depan.
Aku keluar melalui pintu belakang yang terhubung ke area servis.
Untung pagar samping belum dikunci.
Sepuluh menit kemudian aku sudah duduk di warung kopi di luar kompleks dengan tangan gemetar.
Aku menelepon kantor dan meminta satu hari cuti tambahan.
Lalu aku mengetik pesan kepada Dimas.
Baru mau ke bandara.
Balasan datang cepat.
Hati-hati.
Aku menatap kata itu cukup lama.
Hati-hati.
Ia masih sempat menyuruhku berhati-hati setelah menjadikan tabunganku fondasi rencana yang tidak kuketahui.
Siang itu Wulan menghubungiku.
Nomornya tidak tersimpan.
“Bu Ratri?”
“Iya.”
“Saya Wulan. Admin Langit Senja.”
Aku menunggu.
Ia terdengar gugup.
“Saya minta maaf menghubungi Ibu langsung.”
“Dapat nomor saya dari mana?”
“Di data darurat kantor.”
“Kenapa telepon?”
Hening.
Kemudian ia berkata, “Ibu benar-benar belum tahu kondisi usaha?”
Aku melihat lalu lintas dari balik kaca kedai.
“Jelaskan.”
Wulan menarik napas.
Workshop mereka bukan sekadar tidak diperpanjang.
Dimas dan Ningsih menunggak sewa empat bulan.
Dua vendor berhenti memberikan tempo.
Sebagian uang muka dari acara baru dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan lama.
Bukan karena mereka hidup mewah.
Bukan pula karena ada satu pencurian besar.
Mereka hanya terus menutup lubang dengan uang dari lubang berikutnya sampai akhirnya tidak ada tempat lagi untuk berpindah.
Sekarang sebelas acara telah menerima uang muka total sekitar Rp243 juta.
Acara terdekat tinggal empat hari.
“Kenapa masih terima pesanan kalau kondisi seperti ini?” tanyaku.
“Bu Ningsih bilang kalau berhenti ambil order, usaha langsung mati.”
“Dimas?”
“Pak Dimas setuju.”
Aku menggigit bagian dalam pipiku.
“Dan dana saya?”
Wulan lama tidak menjawab.
“Siapa yang pertama kali memasukkan uang saya ke rencana?”
“Aku tidak akan marah pada kamu.”
“Saya takut salah bicara.”
“Kamu sudah menelepon saya. Berarti ada alasan.”
Suara Wulan turun.
“Awalnya saya kira Ibu sudah tahu. Di rapat minggu lalu Pak Dimas bilang rumah ini bisa dipakai sampai usaha stabil dan modal tambahan akan masuk dari keluarga.”
“Dari keluarga?”
“Iya.”
“Namaku disebut?”
“Dua hari kemudian.”
Aku menunggu.
“Pak Dimas yang menulis angka Rp360 juta di papan.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
Bukan Ningsih.
Dimas.
Suamiku sendiri.
Wulan melanjutkan, “Saya sempat bilang jangan tulis kalau belum pasti. Pak Dimas bilang, ‘Ratri itu enggak mungkin tega. Kalau dia lihat ada sebelas pasangan pengantin yang acaranya bisa berantakan, dia pasti cairkan.’”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Wulan tampaknya mengira sambungan terputus.
“Bu?”
“Aku dengar.”
“Saya minta maaf.”
“Bukan kamu yang perlu minta maaf.”
Setelah menutup telepon, aku duduk sendiri hampir dua puluh menit.
Selama ini aku mengira Ningsih yang paling sering memanfaatkan kelemahanku.
Ningsih memang keras.
Ia mudah berkata, “Keluarga masa hitung-hitungan.”
Ia pernah meminjam uang dan mengembalikannya terlambat hampir setahun.
Ia juga selalu berhasil membuat ibunya percaya bahwa setiap masalah usahanya adalah musibah yang menimpa keluarga.
Dimas biasanya berdiri di tengah.
Ia yang datang kepadaku setelah semua orang pulang.
Ia yang berkata, “Sudahlah, jangan dipikirkan.”
Ia yang memegang tanganku sebelum akhirnya meminta bantuan.
Bertahun-tahun aku menganggapnya orang yang terjebak di antara istri dan keluarga.
Ternyata kali ini ia bukan orang di tengah.
Ia orang yang membuat perangkap.
Sore itu, grup keluarga semakin ramai.
Ningsih mengirim foto meja makan rumahku yang sudah dipenuhi makanan.
Besok kita omong baik-baik. Jangan ada yang emosi.
Aku melihat foto itu.
Di sebelah nasi kotak ada papan putih.
Namaku tidak terlihat karena sudut fotonya terpotong.
Mungkin disengaja.
Aku menelepon ibuku sendiri di Salatiga.
Bukan untuk menceritakan semuanya.
Hanya untuk mendengar suara seseorang yang tidak sedang meminta sesuatu dariku.
Ibu bertanya, “Kamu kok suaranya aneh?”
“Capek.”
“Kerjaan?”
Aku memandang jendela hotel.
“Bukan.”
Ibu diam sebentar.
Kemudian berkata, “Kalau capek karena orang, jangan langsung keluarkan uang. Kamu kalau bingung selalu begitu.”
Aku tersenyum pahit.
Bahkan ibuku tahu kebiasaan burukku.
“Aku separah itu?”
“Waktu adikmu gagal buka bengkel dulu, kamu marah tiga hari lalu bayar utangnya.”
“Itu beda.”
“Semua selalu kamu bilang beda.”
Aku tidak menjawab.
Malam itu aku membuat keputusan kecil.
Aku membuka aplikasi perbankan dan memperpanjang depositoku otomatis untuk tiga bulan.
Bukan karena takut Dimas mengambilnya.
Ia tidak bisa.
Aku melakukannya agar diriku sendiri tidak punya jalan mudah untuk menyerah besok.
Uang itu tidak akan cair Jumat.
Kalaupun aku berubah pikiran karena rasa kasihan, keluarga, tangisan, atau sebelas nama pasangan pengantin di papan putih, prosesnya tidak bisa selesai hanya karena aku duduk di bank dan berkata iya.
Untuk pertama kalinya, aku memasang penghalang terhadap kelemahanku sendiri.
Keesokan harinya pukul sebelas, aku menelepon Dimas.
“Aku sudah sampai Semarang.”
Ia langsung berkata, “Di mana? Aku jemput.”
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Aku sudah di depan rumah.”
Hening.
Aku berdiri di luar pagar.
Di baliknya ada tiga mobil, satu motor, dan sebuah kendaraan bak.
Aku mendengar suamiku menarik napas dari telepon.
“Rat…”
Aku mematikan sambungan.
Lalu aku membuka pagar.
Ningsih berdiri dari kursi ketika melihatku.
Ibu mertua kami yang duduk di sofa ikut menoleh.
Dimas muncul dari ruang makan.
Wajahnya kehilangan warna.
Wulan berdiri di dekat pintu dapur dengan sebuah map tipis di tangannya.
Tidak ada yang menyambutku.
Aku meletakkan tas di kursi.
Kemudian berjalan ke whiteboard.
Tulisan tentang depositoku masih ada.
Aku mengambil penghapus.
Dimas berkata, “Ratri, tunggu dulu.”
Aku menghapus namaku.
Hanya namaku.
Angka kebutuhan Rp318 juta tetap ada.
Semua orang menatap papan itu.
Aku meletakkan penghapus di meja.
“Sekarang,” kataku, “kita bisa mulai rapat memakai uang yang benar-benar kalian punya.”
Dimas mengusap sisi hidungnya.
Dan saat itulah aku tahu percakapan berikutnya mungkin menentukan apakah aku masih punya pernikahan ketika semua ini selesai.
Kalau orang yang paling kalian percaya sengaja membuat keadaan darurat karena yakin kalian akhirnya akan menyerah, apa yang masih bisa disebut “menolong keluarga”?
BAGIAN 3
Ningsih yang pertama bicara.
“Kamu datang dari mana?”
Bukan selamat datang.
Bukan bagaimana perjalananmu.
Ia bertanya seperti aku penyusup di rumah sendiri.
Aku menarik kursi yang paling dekat dengan whiteboard dan duduk.
“Dari hotel.”
Dimas mengerutkan dahi.
“Hotel?”
“Aku pulang kemarin.”
Ibu mertua kami menatap Dimas.
“Kemarin?”
Aku mengangguk.
“Pak Harun yang memberi tahu ada kru tinggal di sini.”
Wajah Ningsih langsung berubah.
“Satpam itu kebanyakan omong.”
“Jangan alihkan ke Pak Harun.”
“Aku enggak mengalihkan. Tapi kalau urusan rumah tangga…”
“Ini bukan urusan rumah tangga kalian.”
Aku menunjuk sekeliling.
“Ini rumahku.”
Dimas menatapku.
“Rumah kita.”
“Rumah kita untuk tinggal. Bukan gudang usaha yang dipindahkan tanpa bicara denganku.”
Ia membuka mulut, tetapi aku mengangkat tangan.
“Aku belum selesai.”
Dulu aku tidak pernah melakukan itu.
Biasanya ketika Dimas mulai bicara, aku akan membiarkannya menyela. Lalu arah percakapan berubah. Lalu aku mulai menjelaskan diriku. Pada akhirnya aku yang merasa kejam karena marah.
Hari itu aku tidak mau mengikuti pola yang sama.
“Workshop ditutup kapan?”
Dimas menarik kursi, tetapi tidak duduk.
“Tanggal dua puluh dua.”
Aku menghitung dalam kepala.
Tiga hari sebelum keberangkatanku ke Makassar.
“Kamu tahu sebelum aku pergi?”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Kamu sudah stres mau audit.”
Aku tertawa pendek.
“Jangan jadikan pekerjaanku alasan.”
“Aku memang mau bilang.”
“Kapan?”
“Setelah kamu pulang.”
“Setelah semua barang masuk rumah?”
Dimas tidak menjawab.
Aku menoleh kepada Ningsih.
“Siapa yang memutuskan pindah ke sini?”
Ningsih menyandarkan tubuh.
“Kita enggak punya pilihan, Rat. Kalau barang ditaruh sembarangan, bisa rusak. Sewa gudang harian juga mahal.”
“Itu bukan jawaban.”
“Kami bicara sama Dimas.”
“Dan tidak bicara denganku.”
“Dimas suamimu.”
“Justru itu.”
Ningsih mengembuskan napas keras.
“Ya ampun. Kita bukan orang asing.”
Aku melihat dua kasur lipat di sudut ruang tamu.
“Orang yang tidur di rumahku tanpa aku tahu tetap tamu yang tidak kuundang, walaupun kalian mengenal mereka.”
Wulan menunduk.
Aku tidak marah kepadanya.
Ia pegawai yang masuk ke sistem yang sudah rusak sebelum ia datang.
Ibu mertua akhirnya bicara.
“Ratri, Ningsih memang salah enggak bilang. Dimas juga. Tapi sekarang yang penting usaha ini diselamatkan dulu.”
Aku menatap beliau.
“Dengan uang saya?”
“Mama enggak bilang begitu.”
“Tapi uang saya tertulis di papan.”
Beliau melihat Dimas.
Dimas akhirnya duduk.
“Aku memang berencana bicara soal pinjaman.”
“Pinjaman?”
“Iya.”
“Kenapa namaku ditulis sebelum aku bilang iya?”
“Itu proyeksi.”
“Proyeksi dari persetujuan yang belum ada?”
Ia mengusap wajah.
“Rat, kita lagi kepepet.”
“Berapa?”
Ningsih menjawab, “Sekitar tiga ratus.”
“Aku mau angka lengkap.”
“Ya sekitar segitu.”
Aku menoleh kepada Wulan.
“Laptop ada?”
Wulan melihat Dimas dulu.
Aku menangkap gerakan kecil itu.
“Jangan lihat dia,” kataku. “Aku tanya kamu.”
“Ada, Bu.”
“Tolong buka pencatatan usaha.”
Ningsih langsung berkata, “Buat apa? Ini bukan audit kantormu.”
“Karena kalian meminta aku mempertimbangkan uang Rp360 juta.”
“Kita belum minta!”
Aku menunjuk whiteboard.
“Kalau begitu hapus juga angka tiga ratus delapan belas juta itu dan bubar.”
Tidak ada yang bergerak.
Wulan membuka laptop.
Dimas berkata, “Tunggu. Jangan bikin situasi seperti interogasi.”
“Aku sudah memberi uang ke usaha kalian lima kali dalam enam tahun terakhir tanpa pernah melihat catatan.”
Aku mulai menghitung dengan jari.
“Rp20 juta waktu mobil pengangkut rusak. Rp35 juta waktu vendor tenda menahan barang. Rp18 juta untuk THR kru. Rp42 juta untuk sewa workshop dua tahun lalu. Rp25 juta setelah acara di Ungaran rugi karena hujan.”
Ningsih menyela.
“Sebagian sudah dikembalikan.”
“Betul.”
Aku menatapnya.
“Dan sebagian belum.”
Ia diam.
Aku menatap Dimas lagi.
“Kalau selama ini aku yang salah karena terlalu gampang percaya, sekarang aku mau lihat.”
Wulan memutar laptop ke arahku.
Angkanya buruk.
Bukan satu transaksi aneh.
Justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.
Masalah mereka tumbuh perlahan.
Satu pekerjaan terlambat dibayar klien korporat.
Satu vendor meminta pembayaran lebih cepat.
Mereka menutup kekurangan dengan uang muka pesanan berikutnya.
Kemudian sewa workshop naik.
Mereka terlambat empat bulan.
Lalu dua acara mengalami pembengkakan biaya karena perubahan permintaan klien.
Tidak ada satu titik tempat seseorang bisa berkata, “Di sinilah uang dicuri.”
Yang ada hanyalah puluhan keputusan buruk yang semuanya tampak kecil ketika dibuat.
Aku membaca angka-angka itu sekitar dua puluh menit.
Dimas mulai gelisah.
“Aku bisa jelaskan.”
“Aku sedang mencoba memahami dulu.”
“Kamu enggak tahu bisnis event itu bagaimana.”
“Benar.”
Aku menatapnya.
“Tapi aku tahu kalau uang muka klien baru dipakai untuk menutup acara lama, suatu hari kalian akan kehabisan jalan.”
Ningsih menepuk meja.
“Kalau kami enggak ambil pesanan baru, kru makan apa?”
“Jadi kalian terus ambil pesanan yang belum tentu bisa kalian kerjakan?”
“Kami selalu kerjakan!”
“Dengan uang siapa?”
Ia terdiam.
Wulan menunjukkan daftar sebelas acara.
Empat sudah membeli material utama.
Tiga masih bisa diturunkan paketnya jika klien setuju.
Dua baru membayar uang muka kecil.
Dua lainnya paling berbahaya.
Salah satunya pernikahan empat hari lagi di sebuah gedung di Banyumanik.
Vendor bunga menahan pengiriman sampai tagihan Rp31 juta dibayar.
Vendor pencahayaan juga meminta pelunasan sebagian.
“Kalau enggak ada pembayaran malam ini,” kata Wulan, “besok mereka lepas stok ke klien lain.”
Ningsih langsung menatapku.
Itulah momen yang sudah mereka rancang.
Bukan dengan dokumen palsu.
Bukan ancaman.
Lebih rapi dari itu.
Mereka meletakkan orang-orang tak bersalah di antara aku dan kata “tidak”.
Sebelas pasangan pengantin.
Kru yang butuh gaji.
Vendor.
Keluarga.
Lalu mereka menunggu rasa bersalahku bekerja.
Dimas membungkuk ke depan.
“Rat, aku tahu caranya salah.”
Aku tidak menjawab.
“Tapi kalau kita masukkan Rp120 juta dulu, dua acara terdekat bisa jalan. Setelah pembayaran pelunasan masuk, uang muter lagi.”
Aku hampir tersenyum.
Kalimat itu terdengar terlalu akrab.
Uang muter lagi.
Setiap krisis selalu memiliki versi kalimat yang sama.
Hanya angkanya yang berubah.
“Aku tidak punya Rp120 juta yang tersedia.”
Ningsih mengerutkan dahi.
“Deposito?”
“Aku perpanjang tadi malam.”
Dimas langsung tegak.
“Kamu apa?”
“Tiga bulan.”
“Kenapa?”
Aku menatapnya lurus.
“Supaya aku tidak bisa mengkhianati keputusan sendiri ketika kalian mulai membuatku merasa bersalah.”
Ningsih tertawa tidak percaya.
“Kamu sengaja mengunci uang ketika tahu usaha keluarga sedang jatuh?”
“Aku baru tahu usaha keluarga sedang jatuh kemarin.”
“Sekarang sudah tahu!”
“Dan aku tetap tidak akan membayar.”
Ibu mertua mengangkat tangan.
“Jangan ngomong tinggi-tinggi.”
Aku menurunkan suara.
“Maaf, Ma.”
Beliau melihatku beberapa detik.
“Ratri, Mama tahu uang itu uangmu.”
Aku menunggu kata berikutnya.
“Tapi Ningsih punya dua anak. Dimas ini suamimu. Usaha itu sudah hampir dua belas tahun. Kalau hancur sekarang, kalian semua juga malu.”
Di situlah tekanan keluarga sering bekerja.
Bukan lewat teriakan.
Lewat kata sederhana seperti malu.
Malu kepada siapa, tidak pernah jelas.
Tetangga.
Saudara.
Klien.
Orang di pengajian.
Orang yang mungkin bahkan tidak memikirkan hidup kami.
Dulu kata itu bisa membuatku menandatangani transfer dalam lima menit.
Hari itu tidak.
“Aku lebih malu kalau terus membantu kebohongan lalu berpura-pura keluarga kami baik-baik saja.”
Dimas menghela napas.
“Aku tidak bohong soal semuanya.”
“Kamu bilang rumah sepi.”
Ia menunduk.
Aku melanjutkan.
“Setiap malam kamu duduk di atas, pasang rak buku di belakangmu, dan bicara seolah tidak ada orang lain di rumah.”
“Aku tahu kamu bakal marah kalau tahu sebelum audit selesai.”
“Jadi kamu menunggu sampai barang sudah dipindah.”
“Aku mau mengurangi beban pikiranmu.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Kamu mau mengurangi kemungkinan aku berkata tidak.”
Ruangan hening.
Bukan hening dramatis.
AC masih menyala.
Di dapur ada suara es jatuh dari dispenser.
Ponsel Ningsih beberapa kali bergetar.
Tapi tidak ada yang langsung membantahku.
Aku menatap Dimas.
“Wulan bilang kamu yang memasukkan uangku ke proyeksi.”
Wajah Dimas berubah.
Ia melihat Wulan.
Wulan menegakkan punggung.
“Pak, saya hanya bilang yang saya tahu.”
Ningsih mendesis.
“Kamu ini dibayar siapa?”
Aku memukul meja dengan ujung jari sekali.
“Jangan serang dia.”
Ningsih berbalik kepadaku.
“Kamu percaya pegawai baru daripada suamimu?”
“Aku sedang bertanya kepada suamiku.”
Aku memandang Dimas lagi.
“Benar?”
Ia tidak menjawab.
“Dimas.”
“Iya.”
Satu kata.
Tidak ada alasan besar.
Tidak ada teori.
Iya.
Aku merasa bagian dalam tubuhku menjadi sangat tenang.
Mungkin manusia memang begitu ketika kecewa mencapai titik tertentu.
Kita berhenti mencari penjelasan yang akan membuat sakitnya lebih kecil.
“Kamu juga bilang aku enggak akan tega kalau lihat sebelas pasangan pengantin ini?”
Ia memejamkan mata sebentar.
“Iya.”
Ningsih menatapnya.
Bahkan ia tampak baru mengetahui kalimat itu.
Dimas mengusap tengkuk.
“Rat, aku mengenal kamu.”
“Tidak.”
Aku berkata pelan.
“Kamu mengenal kelemahanku.”
Ia menatapku.
Aku bisa melihat kemarahan kecil muncul di wajahnya.
Bukan karena aku salah.
Karena aku tidak lagi memainkan peran yang ia kenal.
“Aku cuma tahu kamu bukan orang yang tega membiarkan orang lain kena akibat kesalahan kita.”
“Kesalahan kita?”
Aku hampir tertawa.
“Aku baru tahu semuanya kemarin.”
“Kita suami istri!”
Akhirnya suaranya naik.
Itulah kalimat yang selama ini selalu datang pada akhirnya.
Kita suami istri.
Seolah pernikahan berarti satu orang boleh mengambil keputusan dan orang lain wajib membayar akibatnya.
Aku berdiri.
Dimas ikut berdiri.
Aku berkata, “Kalau kita suami istri, kenapa kamu perlu bohong sepuluh malam?”
Ia tidak menjawab.
“Kalau kita suami istri, kenapa kamu menunggu rumah penuh barang sebelum bicara?”
“Karena aku sudah tahu jawabanmu!”
“Nah.”
Aku menunjuknya.
“Itu masalahnya. Kamu sudah tahu aku mungkin berkata tidak, jadi kamu membuat situasi di mana kata tidak akan terasa kejam.”
Dimas berjalan dua langkah menjauh.
“Kamu mau aku bagaimana? Biarkan usaha kakakku tutup?”
Aku menatapnya.
“Usaha kakakmu?”
Ningsih berkata, “Jangan bawa-bawa aku seolah semua ini salahku.”
Aku mengabaikannya.
“Dimas, namamu ada di akta usaha itu. Kamu mengelola operasional. Kamu yang menyetujui pesanan. Kenapa sekarang menjadi usaha kakakmu?”
Ia tidak menjawab.
Aku melihat sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kusadari.
Setiap kali usaha Langit Senja berhasil, Dimas menyebutnya “usaha kami”.
Setiap kali rugi, ia menyebutnya “masalah Ningsih”.
Kebiasaan kecil itu memberinya tempat yang nyaman.
Ia bisa bangga ketika untung dan menjadi korban keadaan ketika rugi.
Aku duduk kembali.
“Wulan, berapa uang yang sebenarnya dibutuhkan agar sebelas pesanan tidak merugikan klien?”
Wulan menghitung sebentar.
“Kalau semua paket dikerjakan sesuai awal, sekitar Rp318 juta.”
“Kalau direstruktur?”
Ningsih langsung berkata, “Maksudnya apa?”
Aku menatap daftar.
“Tiga klien bisa ditawari penurunan paket dengan pengembalian selisih.”
“Mana mau!”
“Kita belum tanya.”
“Nama usaha bisa rusak.”
“Nama usaha sudah rusak kalau kalian gagal total.”
Ningsih terdiam.
Aku melanjutkan.
“Dua pesanan yang baru memberi uang muka kecil mungkin harus dibatalkan dan dikembalikan penuh.”
“Pakai uang apa untuk refund?”
Aku menatap Dimas.
“Mobil Xpander usaha itu lunas?”
Dimas mengernyit.
“Kenapa?”
“Lunas atau belum?”
“Lunas.”
“Nilai jualnya mungkin Rp150 jutaan, tergantung kondisi.”
Ningsih langsung berkata, “Terus angkut barang pakai apa?”
“Mobil bak kalian masih ada.”
“Enggak cukup.”
“Kalau usaha harus mengecil supaya bisa hidup, ya mengecil.”
Dimas tertawa pahit.
“Enak buat kamu ngomong.”
Aku menatapnya.
“Betul.”
Ia berhenti.
“Enak buatku ngomong karena selama ini aku selalu memilih pilihan paling tidak enak untuk diriku sendiri.”
Aku menunjuk laptop.
“Kalian tidak boleh mempertahankan ukuran usaha yang sudah tidak mampu kalian biayai dengan tabungan orang lain.”
Ibu mertua berkata, “Jadi kamu benar-benar tidak mau bantu?”
Aku memandang beliau.
“Aku mau membantu menyelesaikan. Aku tidak mau membayar.”
Beliau tampak tidak mengerti perbedaannya.
Dulu aku juga tidak mengerti.
Aku selalu menyamakan menolong dengan mengeluarkan uang.
Padahal kadang uang hanya membuat masalah bisa bersembunyi lebih lama.
Aku meminta Wulan mencatat empat hal.
Pertama, dua pesanan terbaru dihentikan dan uang muka dikembalikan maksimal tiga hari.
Kedua, tiga klien dengan paket besar dihubungi hari itu juga, bukan dengan kebohongan, tetapi dengan pilihan paket alternatif yang tetap layak.
Ketiga, mobil usaha dijual.
Keempat, setiap rupiah yang masuk dari pelunasan acara terdekat hanya boleh dipakai menyelesaikan kewajiban acara, bukan menutup utang lama.
Ningsih berdiri.
“Aku enggak setuju.”
Aku mengangguk.
“Silakan.”
Ia tampak bingung.
Aku melanjutkan, “Tapi mulai malam ini rumah ini tidak lagi menjadi workshop.”
Dimas memandangku tajam.
“Rat.”
“Aku kasih waktu tiga hari untuk memindahkan perlengkapan.”
“Tiga hari? Acara Sabtu bagaimana?”
“Garasi boleh dipakai sampai acara Sabtu selesai. Tidak ada kru tidur di kamar. Ruang tamu dan kamar tamu dikembalikan seperti semula.”
“Kamu kasih aturan kayak aku anak kecil.”
Aku menatapnya.
“Aku memberi aturan tentang rumah yang kamu ubah tanpa persetujuanku.”
Ia menekan bibir.
“Kamu mau mempermalukan aku depan semua orang?”
Aku tidak menjawab cepat.
Di situlah kelemahanku biasanya muncul.
Kalau Dimas bilang aku mempermalukannya, aku akan mulai mengecilkan diriku agar ia tetap merasa dihormati.
Hari itu aku hanya berkata, “Aku tidak memanggil mereka ke rumah ini. Kalian yang membuat keputusan keluarga sebelum aku tahu.”
Ningsih mengambil tasnya.
“Aku enggak bisa kerja kalau setiap keputusan harus minta izin kamu.”
Aku menatapnya.
“Keputusan usahamu tidak perlu izin dariku.”
Aku menunjuk lantai.
“Keputusan tentang rumahku dan uangku perlu.”
Ia memandangku cukup lama.
Lalu pergi tanpa pamit.
Ibu mertua berdiri beberapa menit kemudian.
Sebelum keluar, beliau berhenti di dekatku.
“Mama kecewa kamu keras sekali.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
Beliau tampak menunggu aku menjelaskan.
Aku tidak melakukannya.
Kadang batas baru terasa paling kasar pada orang yang paling nyaman dengan batas lama.
Setelah pintu tertutup, tinggal aku, Dimas, dan Wulan.
Wulan memasukkan laptop ke tas.
“Saya keluar dulu, Bu.”
Aku berkata, “Terima kasih sudah jujur.”
Dimas tidak melihatnya.
Wulan pergi.
Sekarang rumah benar-benar sepi.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh hari, kalimat itu benar.
Aku berjalan ke kamar tamu.
Lemari kecil milikku tergeletak miring di sudut lorong.
Di salah satu sisi ada goresan panjang.
Itu lemari jati peninggalan ayahku.
Tidak mahal.
Tapi ayah pernah memperbaiki engselnya sendiri ketika aku baru pindah ke rumah itu, bertahun-tahun sebelum menikah dengan Dimas.
Aku berjongkok menyentuh goresannya.
Dimas berdiri di pintu.
“Nanti aku betulin.”
Aku tidak menoleh.
“Kamu tahu kenapa aku paling marah?”
“Karena rumah dipakai?”
“Bukan.”
“Uang?”
“Bukan cuma itu.”
Aku berdiri.
“Karena kamu tahu persis bagian mana dari diriku yang bisa dipakai untuk memaksa aku.”
Dimas menatap lantai.
“Aku putus asa.”
“Aku percaya.”
Ia mengangkat wajah.
Mungkin ia tidak menyangka aku mengatakan itu.
“Aku percaya kamu takut usahamu tutup. Aku percaya kamu takut Ningsih menyalahkanmu. Aku percaya kamu takut Mama kecewa.”
Aku menarik napas.
“Tapi kamu memilih menjadikan ketakutanmu tanggung jawabku tanpa memberi aku hak memilih.”
Ia bersandar pada kusen pintu.
“Aku sudah kerja dua belas tahun bangun Langit Senja.”
“Aku tahu.”
“Kalau tutup begitu saja…”
Suaranya mengecil.
Aku melihat laki-laki yang menikah denganku tujuh belas tahun lalu.
Bukan monster.
Bukan penipu licik yang sejak awal merencanakan hidupku hancur.
Hanya seorang pria yang terlalu takut gagal, terlalu terbiasa diselamatkan, dan akhirnya membenarkan kebohongan karena yakin aku selalu akan menangkapnya sebelum jatuh.
Itu membuat semuanya lebih rumit.
Tapi tidak membuatnya bisa diterima.
“Aku tidak meminta usahamu tutup,” kataku.
“Kamu minta mobil dijual. Order dibatalkan. Itu sama saja mengecilkan kami sampai enggak punya apa-apa.”
“Kalau ukuran usaha kalian hanya bisa dipertahankan dengan uangku, ukuran itu memang sudah tidak nyata.”
Ia menatapku marah.
“Aku suamimu.”
“Aku tahu.”
“Kadang aku merasa kamu memperlakukan uang seperti ada tembok.”
“Ada tembok.”
Ia tertawa pahit.
“Nah.”
“Ada tembok karena enam tahun terakhir setiap kali kalian kekurangan, yang dicari tabunganku.”
“Aku juga kasih uang rumah.”
“Dan aku tidak pernah menyangkal itu.”
“Kita bangun rumah ini sama-sama.”
“Kita tinggal di sini sama-sama. Kamu ikut renovasi. Kamu bayar kebutuhan rumah. Aku tidak bilang kontribusimu tidak ada.”
Aku mendekat satu langkah.
“Tapi kontribusi bukan izin untuk mengambil keputusan diam-diam.”
Dimas meremas kedua tangannya.
Lalu mengatakan sesuatu yang akhirnya membuatku memahami bagian lain dari masalah kami.
“Kamu selalu punya cadangan.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Tabungan. Deposito. Dana pensiun tambahan. Kamu selalu punya rencana kalau sesuatu buruk terjadi.”
“Karena aku menabung.”
“Dan aku selalu merasa hidupku satu kesalahan dari jatuh.”
Aku menatapnya.
Ia tertawa kecil, tanpa humor.
“Kadang aku iri.”
Kalimat itu hampir tidak terdengar.
Bukan iri kepada jumlah uangku.
Iri kepada rasa aman.
Tujuh belas tahun menikah, dan mungkin untuk pertama kalinya Dimas mengatakan sesuatu yang selama ini bersembunyi di bawah semua permintaan uang.
“Aku lihat kamu punya Rp360 juta diam di bank sementara usaha yang aku bangun hampir mati.”
“Uang itu tidak diam.”
“Apa maksudmu?”
“Itu biaya kalau aku kehilangan pekerjaan. Biaya kalau salah satu dari kita sakit. Dana kalau ibuku perlu perawatan. Dana pensiunku.”
“Semua selalu untuk kemungkinan buruk.”
“Karena kemungkinan buruk datang.”
Aku menunjuk rumah di sekitar kami.
“Ini salah satunya.”
Dimas terdiam.
Aku masuk kamar utama dan mengambil bantal serta beberapa pakaian miliknya.
Aku taruh di atas tempat tidur.
Ia berdiri di pintu.
“Kamu mau ngusir aku?”
Pertanyaan itu terdengar seperti anak kecil yang baru sadar hukuman benar-benar ada.
“Aku mau kamu tinggal di tempat lain dulu.”
“Berapa lama?”
“Aku belum tahu.”
“Rumah Mama?”
“Terserah.”
Ia menatapku lama.
“Karena usaha?”
“Karena kebohongan.”
Ia mengangguk perlahan.
Tidak membantah.
Malam itu Dimas pergi membawa satu tas.
Aku tidur sendiri di rumah yang masih penuh rangka bunga.
Anehnya, aku tidur lebih nyenyak daripada sepuluh malam selama perjalanan dinas.
Bukan karena aku bahagia.
Tapi karena untuk pertama kalinya tidak ada orang yang tersenyum dari balik layar sambil menyembunyikan seluruh ruangan di luar kamera.
Dua hari berikutnya tidak mudah.
Ningsih menolak menjual mobil.
Lalu vendor bunga benar-benar membatalkan pengiriman.
Salah satu klien yang ditawari penyesuaian paket marah besar dan mengancam menulis di media sosial.
Dimas meneleponku.
“Lihat? Ini yang aku bilang.”
Aku sedang makan siang di kantin rumah sakit.
“Apa?”
“Kalau klien tahu kondisi kita, reputasi habis.”
“Jadi kamu ingin kembali berbohong?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Ia diam.
Akhirnya, tanpa uang dariku, Dimas dan Ningsih menjual mobil.
Harganya Rp143 juta.
Lebih rendah dari yang mereka harapkan.
Rp31 juta langsung dibayar ke vendor bunga.
Sebagian digunakan mengembalikan uang muka dua klien yang dibatalkan.
Tiga acara lain menerima perubahan paket setelah Dimas dan Wulan menemui mereka secara langsung.
Satu klien tetap marah dan memutus kontrak.
Mereka harus mencicil pengembalian dana selama dua bulan.
Untuk pertama kalinya, Langit Senja berhenti menerima pesanan baru selama hampir empat minggu.
Ningsih mengatakan itu sama dengan bunuh diri.
Ternyata tidak.
Usaha mereka tidak mati.
Usaha mereka hanya menjadi lebih kecil.
Dan selama bertahun-tahun, mungkin itulah hal yang paling mereka takuti.
Bukan bangkrut.
Mengecil.
Tidak lagi terlihat sukses.
Dimas pindah sementara ke rumah ibunya.
Selama minggu pertama, kami hampir tidak bicara.
Ia beberapa kali mengirim pesan yang membuatku ingin marah.
Mama enggak enak lihat aku tidur di kamar belakang.
Aku tidak menjawab.
Lalu:
Ningsih bilang kamu sengaja mau hancurkan usaha.
Aku membalas:
Kalau kamu mau bicara soal kita, telepon. Kalau cuma mau mengirim pendapat Ningsih, tidak perlu.
Tidak ada balasan malam itu.
Tiga hari kemudian ia mengirim pesan lain.
Aku jual jam tanganku. Uangnya Rp8,5 juta. Aku pakai bayar perbaikan lemari dan kerusakan rumah. Sisanya aku transfer ke rekening rumah.
Aku membaca pesan itu beberapa kali.
Tidak ada kata maaf.
Tapi setidaknya ada tindakan.
Aku membalas:
Terima kasih.
Dua minggu kemudian Dimas datang mengambil beberapa kemeja.
Ia berhenti di ruang tamu.
Semua barang usaha sudah dipindahkan.
Sofa kembali ke tempatnya.
Karpet sudah dibersihkan.
Kamar tamu kembali menjadi kamar.
Lemari jati peninggalan ayahku selesai diperbaiki, meski garis bekas goresan masih sedikit terlihat jika diperhatikan.
Dimas menyentuh permukaannya.
“Enggak bisa hilang seratus persen.”
“Aku tahu.”
Kami berdiri canggung seperti dua orang yang pernah sangat dekat lalu tiba-tiba harus belajar jarak.
“Aku sama Ningsih berantem,” katanya.
“Kenapa?”
“Dia mau ambil tiga order bulan depan.”
“Kalian mampu?”
“Dua.”
“Terus?”
“Aku bilang ambil dua.”
Aku menatapnya.
Ia tersenyum kecil.
“Dia ngamuk.”
“Aku bisa bayangkan.”
“Biasanya aku akan bilang iya dulu, pusing belakangan.”
Ia melihat tangannya.
“Sekarang aku baru sadar aku selalu begitu.”
Aku tidak memuji.
Perubahan dua minggu belum berarti karakter seseorang berubah.
Kami pernah terlalu sering percaya pada janji setelah krisis.
“Aku mau minta maaf,” katanya.
Aku menunggu.
“Bukan cuma soal uang.”
Ia menarik napas.
“Waktu kamu bilang aku pakai rasa kasihanmu… aku marah karena benar.”
Aku merasakan tenggorokanku mengencang.
Ia melanjutkan.
“Aku tahu kalau cuma bilang usaha butuh uang, kamu bisa menolak. Aku pikir kalau barang sudah di rumah, kalau Mama sudah tahu, kalau klien sudah dekat tanggalnya… kamu akhirnya akan bilang iya.”
Aku tidak menjawab.
“Aku menjadikan kebaikanmu alat.”
Kali ini aku menoleh ke jendela.
Aku tidak mau menangis di depannya.
Bukan karena menangis berarti lemah.
Aku hanya tidak ingin air mata mengubah percakapan menjadi keadaan di mana ia perlu menghiburku.
“Aku belum tahu apakah aku bisa percaya lagi,” kataku.
Dimas mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku juga belum tahu apakah kamu boleh pulang.”
Ia kembali mengangguk.
Tidak meminta keputusan hari itu.
Itulah salah satu perubahan kecil pertama yang kupercaya.
Bukan karena ia meminta maaf.
Karena ia tidak meminta hadiah setelah meminta maaf.
Dua bulan kemudian, Langit Senja pindah ke sebuah gudang kecil di daerah Pedurungan yang mereka bagi sewanya dengan usaha rental kursi.
Tidak bergengsi.
Tidak ada ruang tunggu ber-AC.
Tidak ada papan nama besar.
Ningsih membencinya pada awalnya.
Tapi biaya bulanannya kurang dari separuh workshop lama.
Wulan tetap bekerja dengan satu syarat: ia punya akses penuh ke catatan pemasukan dan tidak boleh ada uang muka baru dipakai menutup pekerjaan lama tanpa pencatatan serta keputusan bersama.
Dimas menyetujuinya.
Ningsih membutuhkan waktu lebih lama.
Hubunganku dengan Ningsih belum pulih.
Pada sebuah makan keluarga, ia masih sempat berkata kepadaku, “Kalau waktu itu kamu bantu sedikit saja, kita enggak perlu jual mobil.”
Aku sedang mengambil sambal.
Aku menaruh sendok kembali.
“Kalau waktu itu aku bantu, kalian mungkin tidak perlu memperbaiki apa pun.”
Ia tidak menjawab.
Kami tetap bisa duduk di meja yang sama.
Kami tetap saling mengucapkan selamat ulang tahun.
Tapi aku tidak lagi menjadi nomor telepon yang ia hubungi ketika usahanya kekurangan uang.
Anehnya, setelah aku berhenti menjadi penyelamat, ia juga berhenti menceritakan semua krisis kepadaku.
Mungkin beberapa masalah selama ini terasa seperti urusanku hanya karena aku selalu bersedia mengambilnya.
Ibu mertua masih menganggap aku terlalu keras.
Aku tetap datang mengantarnya kontrol ketika lututnya sakit.
Aku tetap membelikan obat yang tidak ditanggung.
Tetapi ketika beliau sekali berkata, “Kalau ada sisa bonus, mungkin bisa bantu Ningsih beli mobil lagi,” aku menjawab:
“Tidak, Ma.”
Hanya itu.
Tidak ada penjelasan enam paragraf.
Tidak ada alasan.
Tidak ada permintaan maaf.
Aku baru belajar bahwa kata “tidak” menjadi jauh lebih ringan ketika kita berhenti membawakan kursi untuk semua orang yang ingin memperdebatkannya.
Dimas dan aku mulai bertemu konselor pernikahan dua kali sebulan.
Ia belum kembali tinggal penuh di rumah.
Kadang kami makan bersama.
Kadang ia menginap satu malam.
Kemudian kembali ke rumah ibunya.
Aku tidak menjadikan kepulangannya hadiah yang otomatis diberikan karena ia sudah memperbaiki usaha.
Kepercayaan kami bukan sakelar.
Lebih seperti kain yang sobek.
Bisa dijahit.
Tapi bekas jahitannya akan tetap ada, dan mungkin itu justru berguna supaya kami ingat bagian mana yang pernah terlalu kuat ditarik.
Tiga bulan setelah hari ketika aku pulang lebih awal, depositoku akhirnya jatuh tempo lagi.
Aku duduk di ruang kerja lantai dua.
Rak buku yang dulu selalu berada di belakang Dimas saat video call masih di sana.
Aku menatapnya cukup lama.
Lalu aku memindahkan kursiku.
Bukan karena benci pada rak itu.
Aku hanya tidak ingin lagi melihat hidup melalui satu sudut yang dipilih orang lain.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Dimas.
Hari ini gudang baru bayar sewa bulan kedua. Dari uang usaha sendiri.
Di bawahnya ada foto sederhana.
Dimas, Ningsih, Wulan, dan tiga kru berdiri di depan gudang kecil.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada dekorasi besar.
Hanya papan nama Langit Senja yang ukurannya jauh lebih kecil daripada dulu.
Aku tersenyum.
Kemudian Dimas mengirim pesan kedua.
Aku tahu ini bukan berarti semua sudah selesai. Cuma mau kasih tahu.
Aku membalas:
Bagus. Pertahankan.
Tidak ada hati merah.
Tidak ada janji besar.
Itu cukup.
Aku turun ke bawah.
Di kamar tamu, lemari jati peninggalan ayahku berdiri lagi di tempat semula.
Bekas goresannya masih terlihat tipis ketika terkena cahaya sore.
Dulu aku mungkin akan memanggil tukang lagi sampai bekas itu hilang sama sekali.
Sekarang aku membiarkannya.
Aku membuka lemari, menaruh tas perjalanan yang kubawa ke Makassar di rak paling bawah, lalu menutup pintunya perlahan.
Rumahku kembali tenang.
Bukan karena tidak ada masalah.
Bukan karena semua orang sudah berubah.
Bukan pula karena aku menang dan mereka kalah.
Rumah itu tenang karena untuk pertama kalinya, aku tidak lagi harus mengorbankan rasa aman agar semua orang lain merasa nyaman.
Dan kalau suatu hari Dimas benar-benar kembali tinggal di sana, aku ingin ia pulang bukan karena aku sudah lupa apa yang terjadi.
Aku ingin ia pulang karena kami akhirnya belajar satu hal yang selama tujuh belas tahun tidak pernah kami pahami dengan benar:
menjadi keluarga tidak berarti semua pintu boleh dibuka tanpa mengetuk.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Menurut kalian, apakah Ratri terlalu keras karena tidak memberikan uang ketika usaha keluarga sedang terancam, atau justru batas itu memang seharusnya dibuat sejak lama? Semoga kita semua diberi keberanian untuk tetap peduli pada keluarga tanpa kehilangan hak atas hidup, rumah, dan keputusan kita sendiri.
