SUAMIKU MENINGGALKANKU DI BALI AGAR AKU MEMOHON MAAF—TAPI SAAT MEMERIKSA REKENING KAMI, AKU TAHU DENGAN SIAPA IA MENJALANI BULAN MADU
Bagian 1
“Kalau kamu tidak minta maaf sekarang juga, aku akan naik pesawat ini. Kamu urus sendiri bagaimana caranya pulang ke Jakarta.”
Arga mengatakannya di depan pintu keberangkatan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, sambil menjepit boarding pass-ku di antara dua jarinya.
Kami baru menikah tujuh hari.
Tujuh hari.

Paspor ada di tangan kananku, sementara tangan kiriku menggenggam koper kabin kecil. Di belakang kami, petugas bandara sedang mengumumkan panggilan terakhir untuk penerbangan menuju Jakarta.
“Berikan boarding pass-ku, Arga.”
“Minta maaf dulu.”
“Aku tidak melakukan kesalahan apa pun.”
Senyumnya tipis.
Hampir seperti sedang menikmati situasi itu.
“Kalau begitu, belajar.”
Namaku Nadira Prameswari. Usia tiga puluh dua tahun. Dan sampai detik itu, aku masih berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa bulan madu kami hanya sedang berjalan buruk.
Bahwa semua pasangan baru menikah mungkin mengalami pertengkaran.
Bahwa kami hanya lelah.
Bahwa aku terlalu sensitif.
Namun apa yang dilakukan Arga saat itu bukan lagi pertengkaran.
Itu hukuman.
Arga Mahendra dibesarkan dalam keluarga berada di Jakarta. Ayahnya memiliki bisnis properti yang menangani sejumlah proyek di kawasan Pondok Indah, Kuningan, dan Tangerang Selatan. Ibunya gemar mengadakan makan malam keluarga yang entah bagaimana selalu berubah menjadi ajang membandingkan jabatan, mobil, sekolah anak, dan jumlah aset.
Aku berasal dari dunia yang berbeda.
Ibuku dulu memiliki toko alat tulis kecil di kawasan Tebet. Setelah ayah meninggal, beliau menjalankan toko itu sendirian agar aku bisa menyelesaikan kuliah.
Selama bertahun-tahun, aku bekerja pada siang hari dan mengikuti kelas tambahan pada malam hari.
Saat berusia tiga puluh tahun, aku sudah menjadi kepala divisi analisis keuangan di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta.
Penghasilanku cukup besar.
Aku mandiri.
Dan mungkin justru karena itulah aku tidak pernah benar-benar menghitung berapa banyak uang yang sudah kukeluarkan untuk hubunganku dengan Arga.
Aku membayar hampir separuh biaya pernikahan kami.
Aku ikut membiayai renovasi apartemen milik Arga di Kuningan.
Bahkan ketika ibunya harus menjalani perawatan dan ada beberapa biaya yang tidak ditanggung asuransi, akulah yang diam-diam membantu melunasinya.
Aku tidak pernah menganggap itu sebagai kerugian.
Kupikir kami sedang membangun keluarga.
Sampai satu nama terus muncul di antara kami seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Selvi Anindita.
Sahabat Arga sejak SMA.
Selvi selalu membutuhkan sesuatu.
Ketika kami sedang melakukan food tasting untuk resepsi pernikahan, Selvi tiba-tiba mengalami serangan panik.
Pada hari ketika aku dan Arga mengurus dokumen pernikahan, mobil Selvi mendadak mogok di Kemang.
Tiga hari sebelum pernikahan kami, dia menelepon sambil menangis karena katanya merasa sendirian dan hidupnya sedang berantakan.
Dan setiap kali itu terjadi, Arga selalu berlari menemuinya.
“Dia cuma sahabatku, Nadira. Jangan mencari masalah yang tidak ada.”
Aku berusaha mempercayainya.
Berkali-kali.
Bahkan ketika perasaanku mengatakan ada sesuatu yang salah, aku memaksa diriku untuk diam karena tidak ingin menjadi perempuan yang dianggap terlalu cemburuan.
Pada malam terakhir bulan madu kami di Bali, aku memesan makan malam di sebuah restoran kecil dengan pemandangan laut di kawasan Seminyak.
Aku sengaja memilih tempat yang tenang.
Aku ingin perjalanan itu berakhir tanpa pertengkaran.
Aku ingin pulang ke Jakarta dengan satu kenangan indah dari minggu pertama pernikahan kami.
Kami baru saja selesai makan pencuci mulut ketika ponsel Arga berbunyi.
Aku sempat melihat nama yang muncul di layar.
Selvi.
Ekspresi wajah Arga langsung berubah begitu menjawab telepon.
“Selvi? Kamu di mana?”
Aku menatapnya.
Arga tiba-tiba berdiri dari kursinya.
“Ada apa?” tanyaku.
“Selvi sedang sendirian. Dia panik lagi.”
Aku sempat mengira salah dengar.
“Selvi ada di Bali?”
Arga menghela napas seolah pertanyaanku sangat melelahkan.
“Dia memang sedang liburan di Bali.”
“Di saat kita sedang bulan madu?”
“Nadira, jangan mulai.”
“Jangan mulai apa? Menurutmu ini kebetulan?”
Arga mengambil dompetnya lalu meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu mau pergi?”
“Dia sedang membutuhkan seseorang.”
“Dan orang itu harus kamu?”
Arga menatapku dingin.
“Kamu mulai lagi dengan drama seperti ini.”
Aku hampir tertawa karena tidak percaya.
“Drama?”
“Nadira, Selvi adalah sahabatku.”
“Aku istrimu.”
Beberapa orang di meja sebelah mulai melirik ke arah kami.
Aku menurunkan suara.
“Kita baru menikah beberapa hari, Arga. Ini bulan madu kita. Dan kamu mau meninggalkan istrimu di restoran untuk menemui perempuan lain?”
“Justru karena kita sudah menikah, seharusnya kamu percaya kepadaku.”
Lalu dia pergi.
Begitu saja.
Aku duduk sendirian hampir lima belas menit setelah kepergiannya, menatap kursi kosong di depanku.
Malam itu angin Bali terasa hangat.
Musik dari restoran terdengar pelan.
Pasangan di meja sebelah sedang tertawa sambil mengambil foto bersama.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, aku bertanya pada diriku sendiri sesuatu yang selama ini terlalu takut kuucapkan:
Apakah aku telah menikahi orang yang salah?
Arga baru kembali hampir tiga jam kemudian.
Saat itu aku sudah berada di kamar hotel dan sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.
Dia membuka pintu tanpa mengatakan apa pun.
“Dari mana saja kamu?” tanyaku.
“Dari tempat Selvi.”
“Itu sudah kutahu.”
Aku berhenti melipat pakaian dan menatapnya lurus.
“Kalau setiap kali Selvi memanggil kamu akan selalu berlari menemuinya, katakan satu hal kepadaku.”
Arga melepaskan jam tangannya.
Aku melanjutkan,
“Untuk apa kamu menikah denganku?”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menunggu penjelasan.
Mungkin aku masih berharap dia akan memelukku.
Meminta maaf.
Atau bahkan memberiku sebuah kebohongan yang cukup masuk akal agar aku bisa terus bertahan.
Namun Arga hanya menghela napas panjang.
“Masalah terbesar dalam pernikahan ini bukan Selvi.”
Aku menatapnya.
“Lalu apa?”
“Kamu.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
“Kamu selalu ingin mengatur siapa yang boleh kutemui. Kamu terlalu curiga. Terlalu sensitif. Dan sekarang kita baru menikah seminggu tapi kamu sudah bertingkah seperti ini.”
Aku tidak menjawab.
Arga mengambil bantal lalu tidur di sofa.
Keesokan paginya, sepanjang perjalanan menuju bandara, kami hampir tidak berbicara.
Sampai akhirnya pertengkaran kembali meledak di depan pintu keberangkatan.
Dan Arga memberikan ultimatum itu.
Minta maaf kepadanya.
Atau dia akan meninggalkanku di Bali.
Aku menatap boarding pass yang masih berada di tangannya.
Kemudian menatap wajah laki-laki yang baru tujuh hari lalu berjanji di depan keluarga kami untuk menjagaku seumur hidup.
Entah kenapa, sesuatu di dalam diriku mendadak menjadi sangat tenang.
“Baik.”
Arga mengangkat alis.
“Baik apa?”
“Naiklah pesawatmu.”
Senyumnya menghilang.
“Nadira, jangan sok keras.”
“Naiklah.”
“Nanti jangan telepon aku sambil menangis minta dibelikan tiket.”
Aku hanya menatapnya.
Beberapa menit kemudian, dia benar-benar melewati pemeriksaan dan meninggalkanku.
Aku berdiri sendirian di terminal keberangkatan.
Aneh sekali.
Kupikir aku akan menangis.
Tapi tidak.
Aku justru mengambil ponsel.
Aku membuka aplikasi mobile banking untuk membeli tiket penerbangan berikutnya menuju Jakarta.
Dan saat itulah aku melihat sesuatu yang membuat tanganku berhenti bergerak.
Rekening bersama kami memiliki beberapa transaksi yang sama sekali tidak kukenali.
Pembayaran hotel.
Restoran.
Spa.
Transportasi bandara.
Awalnya kupikir semuanya adalah pengeluaran bulan madu kami.
Sampai aku memperhatikan tanggalnya.
Beberapa pembayaran dilakukan ketika Arga seharusnya sedang bersamaku.
Lalu aku melihat nama hotel pada salah satu transaksi.
Bukan hotel tempat kami menginap.
Aku membuka detail transaksi berikutnya.
Ada pembayaran untuk dua orang.
Paket spa pasangan.
Makan malam untuk dua tamu.
Dan satu pemesanan kamar yang dilakukan menggunakan kartu tambahan milik Arga.
Jantungku mulai berdetak keras.
Aku menggulir layar lebih jauh.
Kemudian sebuah transaksi menarik perhatianku.
Deposit kamar hotel atas nama tamu tambahan.
Aku mengenali nama itu.
Selvi Anindita.
Aku membeku di tengah terminal.
Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih buruk daripada ditinggalkan sendirian di Bali.
Selvi bukan kebetulan sedang berada di pulau yang sama.
Dia tidak datang karena sedang mengalami krisis.
Dan mungkin…
bulan madu yang kupikir hanya milikku dan suamiku sejak awal memang tidak pernah benar-benar hanya untuk kami berdua.
Namun yang belum kuketahui saat itu adalah satu transaksi terakhir di rekening tersebut akan membuktikan bahwa kebohongan Arga sudah dimulai bahkan sebelum hari pernikahan kami.
Dan ketika aku mengetahui siapa yang sebenarnya membayar perjalanan Selvi ke Bali…
aku berhenti berpikir tentang cara menyelamatkan pernikahanku.
Aku mulai memikirkan cara menyelamatkan uang, rumah, dan hidupku sendiri sebelum Arga sempat pulang ke Jakarta.
BAGIAN 2
Tanganku gemetar ketika menatap nama itu.
Selvi Anindita.
Nama yang selama hampir tiga tahun selalu dijelaskan Arga dengan dua kata yang sama.
Cuma sahabat.
Aku duduk di kursi dekat jendela terminal, lalu membuka seluruh riwayat transaksi rekening bersama kami.
Semakin jauh aku menggulir, semakin sulit bernapas.
Tiket pesawat Jakarta–Bali atas nama Selvi dibeli tiga hari sebelum pernikahan kami.
Kelas bisnis.
Hotel butik di Seminyak.
Lima malam.
Sewa mobil.
Paket makan malam.
Spa pasangan.
Dan semuanya dibayar dari rekening bersama yang sebagian besar isinya berasal dari uangku.
Aku sampai harus menghitung ulang.
Selama enam bulan terakhir, hampir tujuh puluh persen pemasukan ke rekening itu berasal dari transfer gajiku.
Arga selalu bilang uang pribadinya sedang tertahan di proyek properti keluarganya.
Aku tidak pernah mempermasalahkannya.
Kami akan menikah.
Kupikir tidak ada lagi istilah uangmu dan uangku.
Ternyata aku benar.
Di mata Arga, uangku memang sudah dianggap miliknya.
Aku mengambil tangkapan layar satu per satu.
Kemudian aku mengunduh mutasi rekening lengkap.
Aku mengirim salinannya ke email kantor dan ke cloud pribadiku.
Setelah itu, aku membuka aplikasi kartu kredit tambahan yang pernah kuberikan kepada Arga enam bulan sebelumnya.
Ada lebih banyak transaksi.
Sebuah toko perhiasan di Plaza Indonesia.
Rp28 juta.
Dua bulan sebelum pernikahan.
Aku langsung teringat.
Saat itu Arga pulang membawa gelang emas kecil untukku.
Katanya hadiah karena aku terlalu sibuk mengurus pekerjaan dan persiapan pernikahan.
Harga gelangku bahkan tidak sampai Rp8 juta.
Aku membuka detail transaksi.
Ternyata ada dua barang yang dibeli.
Salah satunya gelangku.
Yang satunya lagi sebuah kalung.
Rp20 juta.
Aku menatap layar cukup lama.
Lalu tanpa berpikir panjang, aku membuka Instagram Selvi.
Aku jarang melihat akunnya karena setiap kali melihat wajahnya, ada sesuatu dalam diriku yang tidak nyaman.
Aku menggulir beberapa foto.
Tiga minggu sebelum pernikahanku, Selvi mengunggah foto sedang makan malam di sebuah restoran.
Lehernya terlihat jelas.
Di sana tergantung kalung tipis dengan liontin kecil berbentuk bulan.
Aku memperbesar foto.
Kemudian membuka situs toko perhiasan tersebut.
Modelnya sama.
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Kadang ketika seseorang sudah terlalu terluka, tubuhnya tidak tahu harus memilih menangis atau tertawa.
Ponselku bergetar.
Arga menelepon.
Aku membiarkannya.
Lima detik kemudian, dia menelepon lagi.
Lalu WhatsApp masuk.
Arga: Jangan bikin drama. Beli tiket sendiri dan pulang. Kita bicara di rumah.
Aku menatap pesan itu.
Kemudian mengetik:
Aku memang akan pulang.
Hanya itu.
Aku tidak bertanya tentang Selvi.
Tidak menuduh.
Tidak memberinya kesempatan untuk menyiapkan kebohongan.
Aku membeli tiket penerbangan sore menuju Jakarta.
Lalu aku melakukan satu panggilan.
Kepada orang yang selama ini selalu dikatakan Arga sebagai ancaman terhadap pernikahan kami karena katanya “terlalu mencampuri urusan orang”.
Kakakku.
Dimas.
Dia menjawab pada dering kedua.
“Nadira?”
Suaranya langsung berubah.
“Kamu kenapa?”
“Aku butuh bantuan.”
“Hilang uang?”
Aku terdiam.
Dimas mengenalku terlalu baik.
“Tidak hilang.”
“Lalu?”
“Sepertinya aku menikahi laki-laki yang sedang menggunakan uangku untuk membiayai perempuan lain.”
Sunyi.
Lalu suara Dimas menjadi sangat tenang.
“Kamu di mana?”
“Bandara Ngurah Rai.”
“Arga?”
“Sudah terbang ke Jakarta.”
“Kamu sendirian?”
“Iya.”
“Dengar aku. Jangan konfrontasi dia dulu. Kirim semua bukti ke aku.”
Aku menutup mata.
Untuk pertama kalinya sejak Arga pergi, air mataku jatuh.
Bukan karena Arga.
Karena aku baru sadar betapa lama aku mencoba melindungi pernikahanku dari orang-orang yang sebenarnya ingin melindungiku.
Dimas melanjutkan,
“Dan Nadira… jangan pulang ke apartemen sendirian.”
Saat pesawatku mendarat di Jakarta, Dimas sudah menunggu.
Di sampingnya ada perempuan yang kukenal.
Maya Santoso, teman kuliahku yang sekarang bekerja sebagai pengacara korporasi.
Aku menatap Dimas.
“Kamu memanggil Maya?”
“Mungkin kamu akan membutuhkannya.”
Aku hampir mengatakan bahwa ini terlalu berlebihan.
Lalu Maya menyerahkan tangannya.
“Selamat datang kembali dari bulan madu paling mahal dalam sejarah.”
Aku menatapnya.
Dia menambahkan,
“Dimas sudah mengirim mutasi rekeningnya.”
Kami pergi ke sebuah kafe dekat bandara.
Maya membuka laptop.
Dia sudah membuat daftar transaksi.
“Aku mau tanya satu hal,” katanya. “Apartemen Kuningan yang kalian tinggali itu milik siapa?”
“Arga.”
“Yakin?”
Aku mengangguk.
“Dia membelinya sebelum kami pacaran.”
“Renovasinya?”
“Aku bayar sebagian.”
“Berapa?”
“Sekitar Rp480 juta.”
Maya berhenti mengetik.
“Ada bukti transfer?”
“Ada.”
“Bagus.”
Aku tidak mengerti kenapa dia terlihat semakin serius.
“Kendaraan?”
“Mobilku atas namaku. Mobil Arga atas namanya.”
“Tabungan bersama?”
“Sekitar Rp1,6 miliar sebelum bulan madu.”
Maya melihat mutasi.
“Sekarang tinggal kurang dari Rp900 juta.”
Aku membeku.
“Apa?”
Maya memutar laptop ke arahku.
Ada tiga transfer besar selama dua minggu terakhir.
Rp210 juta.
Rp175 juta.
Rp300 juta.
Semuanya menuju rekening sebuah perusahaan bernama Mahendra Konsultan Properti.
Aku mengenali nama itu.
Perusahaan milik sepupu Arga.
“Dia bilang apa tentang transfer ini?”
“Aku tidak tahu ada transfer itu.”
“Persetujuan transaksi besar kalian bagaimana?”
Aku menggeleng.
“Akun joint. Keduanya bisa transaksi.”
Maya menyandarkan punggung.
“Nadira, aku tidak tahu apakah ini perselingkuhan saja atau ada sesuatu yang lebih besar. Tapi mulai sekarang jangan anggap rekening itu aman.”
Aku segera memindahkan sisa uang yang bisa kubuktikan berasal dari tabunganku sendiri ke rekening pribadiku.
Tidak semuanya.
Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa dianggap mengambil hak pihak lain.
Aku hanya memindahkan jumlah yang sesuai dengan transfer gaji dan bonusku selama setahun terakhir.
Maya menyuruhku menyimpan semua bukti.
Saat kami selesai, Dimas berkata,
“Kamu menginap di rumahku malam ini.”
Aku mengangguk.
Tetapi sebelum meninggalkan bandara, ponselku bergetar lagi.
Pesan dari Arga.
Kamu di mana?
Lalu satu lagi.
Aku sudah di rumah.
Dan satu lagi.
Kita harus bicara malam ini.
Aku membaca semuanya.
Maya memperhatikanku.
“Jawab kalau kamu mau. Tapi jangan kasih tahu apa yang sudah kamu tahu.”
Aku mengetik:
Besok.
Arga langsung menelepon.
Kali ini aku menjawab.
“Nadira, kamu di mana?”
“Di Jakarta.”
“Kenapa tidak pulang?”
“Aku capek.”
“Jangan kekanak-kanakan.”
Aku tersenyum getir.
Lucu.
Laki-laki yang meninggalkan istrinya di bandara karena tidak mau meminta maaf sedang memberiku pelajaran tentang kedewasaan.
“Besok kita bicara, Arga.”
Dia diam sebentar.
Kemudian suaranya berubah lembut.
“Nadira, soal tadi pagi… aku memang emosi.”
Aku tidak menjawab.
“Aku tidak seharusnya meninggalkan kamu.”
Masih diam.
“Tapi kamu juga harus mengakui kamu keterlaluan soal Selvi.”
Di situlah aku tahu.
Dia belum tahu aku sudah melihat semuanya.
“Besok,” ulangku.
Aku memutus panggilan.
Keesokan harinya aku datang ke apartemen Kuningan pukul sepuluh pagi.
Dimas menunggu di lobi.
Aku memintanya tetap di bawah.
Ketika pintu apartemen terbuka, Arga sudah duduk di ruang tamu.
Ibunya, Bu Ratih, ada di sana.
Dan aku langsung tahu Arga sudah menyiapkan panggung.
“Nadira,” kata Bu Ratih, “duduk.”
Aku tidak bergerak.
“Kenapa Ibu ada di sini?”
“Karena kalian baru menikah seminggu dan sudah bertengkar seperti orang tidak punya pendidikan.”
Arga memandangku dengan wajah kecewa seolah dialah korban.
Bu Ratih melanjutkan,
“Arga cerita semuanya.”
“Tentang apa?”
“Kamu cemburu berlebihan terhadap Selvi. Kamu mempermalukan suamimu di Bali, lalu menolak meminta maaf.”
Aku hampir kagum.
Tidak ada satu kata pun tentang dia meninggalkanku di bandara.
Aku duduk.
“Jadi menurut Ibu, aku harus meminta maaf?”
“Ya.”
Aku menatap Arga.
“Kamu juga berpikir begitu?”
“Nadira, kita bisa memperbaiki semuanya kalau kamu berhenti curiga.”
Aku membuka tas.
Aku meletakkan beberapa lembar hasil cetak di meja.
Arga melihatnya.
Wajahnya berubah.
Hanya sedikit.
Tapi aku melihatnya.
“Ini apa?” tanya Bu Ratih.
Aku mengambil lembar pertama.
“Tiket pesawat Jakarta–Bali untuk Selvi.”
Lembar kedua.
“Hotel Selvi.”
Lembar ketiga.
“Spa pasangan.”
Arga langsung menyela.
“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tertawa.
Untuk pertama kalinya.
“Kalimat itu benar-benar ada rupanya.”
“Nadira—”
Aku mengeluarkan foto kalung Selvi.
“Ini hadiah dua puluh juta yang kamu beli menggunakan kartu tambahanku?”
Bu Ratih menoleh kepada putranya.
“Arga?”
Arga berdiri.
“Aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
“Itu hadiah ulang tahun.”
“Ulang tahunnya enam bulan sebelumnya.”
Dia terdiam.
Aku mengeluarkan lembar terakhir.
“Lalu ini.”
Tiga transfer hampir Rp700 juta.
Arga benar-benar kehilangan warna wajahnya.
“Kenapa uang kita dikirim ke perusahaan sepupumu?”
Bu Ratih mengambil kertas tersebut.
“Arga?”
Aku menatap suamiku.
Untuk pertama kalinya, dia tidak punya jawaban cepat.
Lalu pintu apartemen berbunyi.
Arga terlihat bingung.
Aku tidak.
Aku berdiri dan membuka pintu.
Maya masuk.
Di belakangnya Dimas.
Dan satu orang lagi.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun memakai batik rapi dengan map cokelat di tangannya.
Arga langsung menegang.
“Kalian ngapain bawa orang ke rumahku?”
Pria itu memperkenalkan diri.
“Nama saya Haris Wibowo. Saya notaris yang menangani perjanjian investasi keluarga Mendoza—maaf, keluarga Prameswari.”
Arga menatapku.
“Apa-apaan ini?”
Aku sendiri juga bingung.
“Maya?”
Maya memandangku.
“Ada sesuatu yang baru kami temukan pagi ini.”
Notaris Haris membuka map.
“Nadira, apakah kamu ingat tiga tahun lalu ibumu menjual ruko lama di Tebet?”
“Tentu.”
“Sebagian hasil penjualannya tidak diberikan langsung kepada kamu.”
Aku mengerutkan kening.
“Ibu bilang dia menyimpan dana itu dalam deposito.”
“Bukan deposito.”
Dia mengeluarkan dokumen.
“Dana sebesar Rp2,4 miliar digunakan untuk membeli unit apartemen ini.”
Dunia seolah berhenti.
Aku menatap Arga.
Lalu notaris.
“Apa?”
“Unit ini tidak pernah sepenuhnya menjadi milik Arga.”
Arga berdiri.
“Jangan bicara sembarangan.”
Notaris Haris tetap tenang.
“Ibu Nadira memberikan dana kepada almarhum Pak Surya Mahendra, ayah Arga, sebagai investasi sementara ketika perusahaan properti beliau mengalami kesulitan likuiditas.”
Bu Ratih pucat.
Aku memandangnya.
Dia tahu.
Aku langsung tahu dia tahu.
Notaris melanjutkan,
“Sebagai jaminan, kepemilikan ekonomis apartemen ini dibagi. Enam puluh persen berasal dari dana ibu Nadira.”
Aku hampir tidak bisa berbicara.
“Kenapa aku tidak pernah diberi tahu?”
Notaris Haris menatapku dengan rasa bersalah.
“Ibumu ingin memberikannya sebagai hadiah pernikahan. Namun beliau meminta agar semuanya baru dijelaskan setelah pernikahan selesai.”
Aku teringat ibuku.
Beliau meninggal delapan bulan lalu.
Sebelum sempat melihatku menikah.
Dadaku terasa seperti diremas.
Notaris Haris menyerahkan satu surat.
Di bagian bawah ada tulisan tangan ibuku.
Untuk Nadira, supaya apa pun yang terjadi nanti, kamu selalu punya tempat untuk pulang.
Aku menutup mulut.
Air mataku langsung jatuh.
Arga mendadak berkata,
“Itu tidak mengubah apa pun.”
Semua orang menoleh.
Dia menunjuk dokumen itu.
“Apartemen ini atas namaku.”
Maya menjawab,
“Benar. Dan itulah sebabnya transfer dana renovasi Nadira dan perjanjian investasi ini penting.”
Arga menatapnya.
“Kamu mengancamku?”
“Tidak.”
Maya memasukkan dokumen kembali ke map.
“Kami hanya memastikan kamu tidak mencoba menjual atau menjaminkan aset ini sebelum sengketa kepemilikan selesai.”
Bu Ratih berdiri.
“Nadira, jangan menghancurkan keluarga hanya karena kesalahan kecil.”
Aku menatapnya.
“Kesalahan kecil?”
“Selvi dan Arga sudah berteman sejak anak-anak. Kadang batasnya memang—”
Aku mengangkat tangan.
“Ibu tahu?”
Dia berhenti.
Dan itulah jawaban yang kubutuhkan.
“Ibu tahu Selvi ada di Bali?”
Bu Ratih tidak menjawab.
Arga langsung berkata,
“Jangan libatkan Mama.”
Aku menatapnya.
“Jadi dia tahu.”
Wajahnya mengeras.
“Nadira, cukup.”
“Belum.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Aku sudah menghubungi hotel di Bali pagi tadi.”
Arga terdiam.
“Awalnya mereka tidak mau memberikan informasi. Tapi aku tidak meminta data tamu. Aku hanya menanyakan satu transaksi milikku sendiri.”
Aku membuka email.
“Paket spa pasangan itu bukan untuk kamu dan Selvi.”
Arga mengerutkan kening.
Aku melanjutkan,
“Karena namamu tidak tercantum sebagai tamu kedua.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Ratih bahkan terlihat bingung.
Aku menatap Arga.
“Jadi siapa?”
Dia tidak menjawab.
Aku meletakkan cetakan konfirmasi di meja.
Nama tamu kedua tertulis jelas.
FARHAN MAHENDRA.
Sepupu Arga.
Pemilik perusahaan yang baru menerima hampir Rp700 juta dari rekening kami.
Bu Ratih terduduk.
“Apa ini?”
Aku juga tidak mengerti.
Sampai Maya berkata pelan,
“Kami baru mengetahuinya satu jam lalu.”
Aku menatap Arga.
“Selvi pergi ke Bali bersama Farhan?”
Arga menutup mata.
Dan ketika dia membukanya kembali, wajahnya bukan lagi wajah seorang suami yang tertangkap berselingkuh.
Itu wajah orang yang tertangkap melakukan sesuatu yang jauh lebih besar.
“Aku tidak selingkuh dengan Selvi,” katanya.
Aku tertawa getir.
“Haruskah aku lega?”
“Tidak.”
Dia duduk.
“Karena yang kulakukan mungkin lebih buruk.”
BAGIAN 3
Arga akhirnya mengatakan semuanya.
Selvi memang sahabatnya.
Dan memang tidak ada hubungan romantis di antara mereka.
Setidaknya bukan seperti yang selama ini kukira.
Selvi berpacaran diam-diam dengan Farhan selama hampir dua tahun.
Keluarga Mahendra tidak menyetujui hubungan itu karena Farhan sudah dijodohkan dengan anak rekan bisnis keluarga.
Arga menjadi perantara mereka.
Awalnya hanya membantu menyampaikan pesan.
Lalu meminjamkan mobil.
Kemudian uang.
Dan beberapa bulan terakhir, semuanya berubah.
Farhan sedang menjalankan investasi properti ilegal menggunakan dana dari beberapa anggota keluarga.
Proyek itu gagal.
Dia berutang hampir Rp4 miliar.
Selvi tahu.
Dan Selvi mengancam akan meninggalkannya.
Arga, yang sejak kecil selalu merasa harus “menyelamatkan keluarga”, mulai memindahkan uang dari rekening kami.
“Jadi kamu mencuri uang istrinya sendiri untuk menyelamatkan sepupumu?” tanyaku.
Arga menunduk.
“Aku berniat mengembalikannya.”
“Kapan?”
“Begitu proyek baru Farhan cair.”
Maya tertawa pendek.
“Proyek apa?”
Arga tidak menjawab.
Maya membuka laptop.
“Karena perusahaan Farhan sudah menerima dua surat peringatan utang.”
Bu Ratih menatap putranya.
“Kamu bilang uang itu untuk investasi.”
“Aku tidak punya pilihan.”
Aku menatapnya.
“Selalu ada pilihan.”
Dia mengangkat kepala.
“Nadira, kalau keluarga Farhan tahu—”
“Ini yang tidak pernah kamu pahami.”
Suaraku bergetar.
“Kamu bersedia menghancurkan keluarga yang baru kamu bangun untuk menyelamatkan keluarga yang terus memanfaatkanmu.”
Arga berdiri.
“Karena mereka keluargaku.”
Aku ikut berdiri.
“Lalu aku apa?”
Dia diam.
Dan anehnya, itulah saat paling menyakitkan dari semuanya.
Bukan Selvi.
Bukan uang.
Bukan bandara.
Melainkan jeda itu.
Karena orang yang benar-benar menganggapmu keluarga tidak membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Aku menghapus air mata.
“Aku ingin cerai.”
Bu Ratih tersentak.
“Nadira!”
Arga memandangku seolah aku baru menamparnya.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Kita baru menikah seminggu.”
“Justru itu.”
Aku mengambil surat ibuku.
“Kalau dalam tujuh hari kamu sudah bisa meninggalkanku di bandara, memakai uangku tanpa izin, dan berbohong tentang ratusan juta rupiah, aku tidak perlu menunggu tujuh tahun untuk tahu bagaimana akhirnya.”
Arga mendekat.
“Nadira, aku salah. Tapi aku tidak selingkuh.”
Aku menatapnya.
“Kamu masih berpikir pengkhianatan hanya terjadi kalau kamu tidur dengan perempuan lain.”
Dia membeku.
“Pengkhianatan adalah ketika suamiku tahu aku percaya kepadanya, lalu menggunakan kepercayaan itu sebagai akses ke rekeningku.”
Aku menunjuk pintu.
“Pembicaraan kita selesai.”
Proses setelah itu tidak cepat.
Tidak dramatis seperti di film.
Tidak ada polisi datang menyeret siapa pun keluar dari ruangan.
Tidak ada teriakan besar di depan kamera.
Yang ada adalah dokumen.
Audit.
Pengacara.
Rekening.
Bukti transfer.
Dan percakapan-percakapan menyakitkan.
Dalam dua bulan, aku mengajukan pembatalan beberapa tanggung jawab finansial bersama dan proses perceraian.
Farhan akhirnya menjual dua aset untuk mengembalikan sebagian dana yang dipindahkan Arga.
Sisanya dikembalikan oleh keluarga Mahendra setelah Maya mengirimkan surat resmi.
Bu Ratih mencoba menghubungiku berkali-kali.
Awalnya dia marah.
Kemudian memohon.
Lalu menyalahkan Selvi.
Terakhir, dia menyalahkan Farhan.
Tidak sekali pun dia menyalahkan sistem keluarga yang mengajarkan Arga bahwa menjaga nama keluarga lebih penting daripada menjaga istrinya.
Aku tidak pernah menjawab.
Selvi mengirimiku pesan tiga minggu setelah semuanya terbongkar.
Pesannya panjang.
Dia meminta maaf.
Katanya dia tidak tahu uang perjalanan ke Bali berasal dari rekeningku.
Aku hampir tidak percaya.
Namun dia mengirim bukti percakapannya dengan Arga.
Di sana Arga mengatakan bahwa semua biaya berasal dari “dana proyek keluarga”.
Aku membaca semuanya.
Untuk pertama kalinya aku sadar sesuatu.
Selama ini Selvi memang menjadi simbol dari semua ketakutanku.
Tapi dia bukan pusat masalahnya.
Arga-lah yang terus membiarkan batas-batas itu kabur.
Arga yang selalu memintaku mempercayainya tanpa pernah melakukan sesuatu yang layak dipercaya.
Aku tidak membalas Selvi panjang-panjang.
Aku hanya menulis:
Semoga setelah ini kita sama-sama belajar berhenti melindungi laki-laki yang berbohong kepada kita.
Dia membalas:
Aku sudah meninggalkan Farhan.
Aku tersenyum kecil.
Ternyata kami berdua menjalani perjalanan yang hampir sama.
Hanya dengan laki-laki yang berbeda.
Empat bulan kemudian, sengketa apartemen selesai melalui kesepakatan keluarga.
Enam puluh persen kepemilikan ekonomis yang berasal dari dana ibuku dikonversi menjadi hak penuh atas unit setelah pihak keluarga Arga membayar bagian sisanya sebagai penyelesaian.
Singkatnya, apartemen itu menjadi milikku.
Ironis.
Tempat yang selama bertahun-tahun disebut Arga sebagai “rumahku” justru menjadi tempat yang akhirnya harus dia tinggalkan.
Hari ketika dia mengambil barang terakhirnya, aku berdiri di balkon.
Jakarta sedang hujan.
Arga membawa dua koper.
Dia berhenti sebelum pintu.
“Nadira.”
Aku menoleh.
Wajahnya berbeda.
Lebih kurus.
Lebih lelah.
“Aku ingin kamu tahu sesuatu.”
Aku menunggu.
“Aku benar-benar mencintaimu.”
Kalimat itu anehnya tidak membuatku marah.
Aku percaya.
Itulah bagian paling menyedihkan.
Aku percaya Arga mencintaiku.
Hanya saja cintanya tidak cukup dewasa untuk melindungi kepercayaanku.
“Kamu mungkin mencintaiku,” kataku.
“Tapi kamu selalu memilih orang lain ketika cinta itu harus dibuktikan.”
Dia menunduk.
“Aku berharap suatu hari kamu bisa memaafkan aku.”
“Aku sudah.”
Dia menatapku cepat.
Aku tersenyum tipis.
“Tapi memaafkan tidak berarti mengundangmu kembali.”
Matanya memerah.
Dia mengangguk.
Lalu pergi.
Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, apartemen itu benar-benar sunyi.
Namun bukan sunyi yang menakutkan.
Sunyi itu terasa seperti ruang kosong yang akhirnya bisa kuisi dengan hidupku sendiri.
Setahun kemudian, pada hari ulang tahunku yang ketiga puluh tiga, Dimas datang membawa sebuah kotak kecil.
“Ada satu barang ibu yang baru kutemukan.”
Aku langsung menatapnya.
“Apa?”
Dia menyerahkan kotak itu.
Di dalamnya ada kunci kecil dan sebuah amplop.
Aku mengenali tulisan tangan ibu.
Tanganku langsung gemetar.
Aku membuka surat tersebut.
Isinya pendek.
Nadira, kalau kamu membaca ini, mungkin aku sudah tidak ada. Ibu tidak tahu siapa yang akhirnya kamu pilih menjadi suamimu. Ibu hanya berharap dia baik. Tapi kalau suatu hari ternyata dia tidak baik, jangan pernah bertahan hanya karena takut pulang sendirian. Perempuan tidak membutuhkan rumah yang penuh orang. Perempuan membutuhkan tempat di mana hatinya tidak terus-menerus takut.
Aku berhenti membaca.
Air mataku jatuh ke kertas.
Di bagian paling bawah ada satu kalimat lagi.
Dan kalau semuanya gagal, ingat: pintu rumah selalu bisa diganti. Kuncinya juga. Hidupmu tidak.
Aku menangis sambil tertawa.
Dimas memelukku.
Beberapa hari kemudian aku memanggil tukang.
Aku mengganti pintu utama apartemen.
Mengganti kunci.
Mengganti warna dinding ruang tamu.
Menjual sofa yang dipilih Arga.
Dan di sudut dekat jendela, aku meletakkan meja kecil yang dulu digunakan ibu di toko alat tulisnya.
Di atas meja itu ada foto kami berdua.
Kadang orang mengira akhir bahagia berarti mendapatkan orang baru.
Aku tidak.
Setidaknya tidak segera.
Akhir bahagiaku bukan laki-laki baru.
Bukan pernikahan baru.
Bukan balas dendam.
Akhir bahagiaku adalah bangun setiap pagi tanpa harus bertanya apakah orang di sebelahku sedang berbohong.
Adalah membuka rekening tanpa takut ada uang yang menghilang.
Adalah pergi ke mana pun tanpa seseorang memegang tiketku sambil menuntutku meminta maaf.
Dan mungkin bagian paling ironis dari semuanya adalah ini:
Arga meninggalkanku di Bali karena ingin memberiku pelajaran.
Dia ingin aku belajar bahwa jika tidak menurutinya, aku akan sendirian.
Tapi dia benar-benar memberiku pelajaran.
Hanya saja bukan pelajaran yang dia maksud.
Aku belajar bahwa ditinggalkan sendirian di bandara masih jauh lebih baik daripada menjalani seluruh hidup bersama seseorang yang membuatmu merasa sendirian setiap hari.
Setahun setelah pernikahanku berakhir, aku kembali ke Bali.
Sendirian.
Aku memesan kamar hotel sendiri.
Makan malam sendiri.
Berjalan di pantai saat matahari terbenam sendiri.
Dan pagi sebelum kembali ke Jakarta, aku duduk di sebuah kafe dekat bandara sambil memegang boarding pass-ku.
Namaku tercetak jelas di sana.
Nadira Prameswari.
Tidak ada tangan lain yang memegangnya.
Tidak ada ultimatum.
Tidak ada seseorang yang menunggu permintaan maaf.
Ketika petugas mengumumkan boarding, aku berdiri, membawa koper, dan berjalan menuju pintu keberangkatan.
Aku sempat tersenyum.
Karena satu tahun sebelumnya, dari tempat yang hampir sama, seorang laki-laki meninggalkanku dengan keyakinan bahwa aku tidak akan tahu bagaimana caranya pulang tanpa dia.
Ternyata dia salah.
Aku bukan hanya menemukan jalan pulang.
Aku akhirnya menemukan kembali diriku sendiri.
