Bagian 2
Raka tidak tidur.
Matanya terbuka.
Yang lebih membuatku mual, tangannya sedang memegang pergelangan tangan ayahnya.
Ia bukan sedang menarik tangan Pak Harun menjauh dariku.
Ia sedang mengarahkannya.
Aku langsung duduk.
“Apa yang kalian lakukan?”
Raka melepaskan tangan ayahnya.

Pak Harun membuka mata dan terlihat kesal, bukan terkejut.
“Jangan teriak.”
Aku menyalakan lampu.
“Raka?”
Wajahnya pucat.
“Nad, dengarkan dulu.”
Aku turun dari tempat tidur.
“Kamu pegang tangan ayahmu dan membawanya ke tubuhku.”
“Bukan begitu.”
“Aku melihatnya.”
Pak Harun duduk sambil merapikan selimut.
“Ini bagian dari kebiasaannya. Harus ada sentuhan sebelum lewat jam tiga.”
Aku memandang Raka.
“Kamu bilang cuma tidur.”
Raka ikut bangun.
“Aku takut kamu akan menolak kalau tahu semuanya dari awal.”
Kalimat itu menghentikanku lebih efektif daripada bentakan.
Ia tahu.
Ia tahu aku akan menolak.
Jadi ia sengaja tidak memberitahuku.
Pak Harun berkata, “Tidak ada yang aneh. Hanya punggung dan sisi badan. Jangan berpikir kotor.”
Aku mengambil ponsel dan jilbab dari kursi tanpa menjawab.
Raka mencoba memegang lenganku.
Aku menarik diri.
“Jangan sentuh aku.”
“Nadia, sudah jam tiga pagi.”
“Justru itu.”
Aku masuk kamar mandi dan mengunci pintu.
Raka mengetuk beberapa kali.
“Nad, ayo bicara.”
Aku duduk di lantai dengan punggung menempel pada pintu.
“Pergi.”
“Papa cuma menjalankan tradisi.”
“Pergi.”
“Kalau kamu keluar sekarang, semua orang bangun.”
Aku menatap pintu.
Di saat itu aku akhirnya memahami apa yang paling ditakuti Raka.
Bukan aku.
Bukan apa yang baru terjadi.
Ia takut keluarganya melihat keributan.
Aku menelepon ibuku.
Saat Ibu mengangkat telepon dengan suara mengantuk, aku hampir tidak bisa bicara.
“Nadia?”
“Bu, bisa jemput aku?”
Ia langsung terjaga.
“Sekarang?”
“Iya.”
“Ada apa?”
Aku menutup mata.
“Nanti aku jelaskan. Aku cuma mau pulang.”
Rumah Ibu sekitar empat puluh menit dari sana.
Aku tetap di kamar mandi sampai ponselku bergetar dengan pesan bahwa Ibu sudah berada di ujung jalan.
Saat aku keluar, Raka berdiri di depan pintu.
Pak Harun sudah tidak ada.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Nadia, jangan begini.”
“Aku tidak mau satu kamar denganmu.”
“Kita baru menikah.”
“Makanya aku tidak mengerti kenapa malam pertama kita harus dimulai dengan kebohongan.”
Ia memegang pintu agar aku tidak lewat.
Aku menatap tangannya.
“Buka.”
Beberapa detik kemudian ia melepaskan.
Di ruang tengah, ibu Raka sudah terbangun.
Ia melihat tasku.
“Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?”
Aku tidak ingin menjelaskan di depan semua orang.
Tapi Pak Harun muncul dari arah dapur.
“Biarkan. Kalau sedikit begitu saja dia sudah mau pulang, berarti memang belum siap masuk keluarga kita.”
Aku berhenti.
Raka berbisik, “Papa, sudah.”
Ibunya mendekatiku.
“Nadia, jangan membuat masalah ini besar. Tidak ada yang bermaksud buruk.”
Aku menatapnya.
“Ibu tahu?”
Ia tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Aku keluar rumah.
Ibu tidak bertanya apa-apa sampai mobil melaju beberapa jalan dari sana.
Lalu ia berkata, “Sekarang cerita.”
Aku menceritakan semuanya.
Ibu tidak memotong.
Tidak bilang aku terlalu sensitif.
Tidak menyuruhku memikirkan omongan orang.
Setelah aku selesai, ia hanya bertanya satu hal.
“Raka tahu dari awal?”
Aku mengangguk.
“Dia bilang sengaja tidak memberi tahu karena tahu aku akan menolak.”
Ibu menatap jalan.
“Kalau begitu masalahmu bukan cuma ayahnya.”
Pukul delapan pagi, ketika aku sedang duduk di meja makan rumah Ibu dengan secangkir teh yang tidak kusentuh, pesan dari Raka masuk.
Aku membukanya.
Aku minta maaf karena tidak menjelaskan semuanya. Aku tahu Papa memang harus menyentuh pengantin perempuan sebelum jam tiga lewat. Mama bilang kalau kamu tahu dari awal, kemungkinan besar kamu akan menolak. Aku pikir kalau sudah ada di situ kamu akan mengerti dan membiarkannya selesai. Aku tidak bermaksud membuat kamu takut.
Kubaca pesan itu tiga kali.
Tidak ada lagi ruang untuk salah paham.
Raka bukan gagal melindungiku karena panik.
Ia sudah membuat keputusan sebelum pernikahan.
Ia tahu aku tidak akan setuju.
Dan justru karena itulah ia memastikan aku tidak punya kesempatan untuk mengatakan tidak.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku menyimpan tangkapan layar pesan Raka.
Bukan karena aku langsung berpikir soal pengadilan atau perceraian.
Pagi itu aku bahkan belum sanggup memikirkan apa yang akan terjadi minggu depan.
Aku menyimpannya karena selama beberapa jam terakhir semua orang di rumah Raka terus membuat kejadian itu terdengar lebih kecil daripada yang kurasakan.
Tradisi.
Kebiasaan.
Cuma sentuhan.
Cuma satu malam.
Jangan dibesar-besarkan.
Aku butuh sesuatu yang mengingatkanku bahwa aku tidak salah mengingat.
Raka tahu.
Ia sengaja menyembunyikannya.
Dan ia mengakuinya sendiri.
Sekitar pukul sepuluh, ia menelepon.
Aku membiarkannya berdering.
Lima menit kemudian, ia menelepon lagi.
Lalu pesan masuk.
Kita harus bicara sebagai suami istri.
Aku akhirnya membalas.
Kita bisa bicara sore ini. Tempat umum.
Ia langsung menjawab.
Kenapa harus tempat umum?
Karena aku tidak mau ke rumah orang tuamu dan aku belum mau sendirian denganmu.
Titik-titik di layar muncul cukup lama.
Lalu menghilang.
Baik.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil dekat pusat kota.
Aku datang lebih dulu.
Aku memilih meja dekat jendela dan sengaja duduk berhadapan dengannya, bukan di samping.
Ketika Raka masuk, ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti dini hari.
Wajahnya lelah.
Ia duduk.
“Nad.”
Aku tidak menjawab.
Ia mengusap wajah.
“Aku benar-benar minta maaf.”
“Aku mau tanya beberapa hal.”
Ia mengangguk.
“Kamu jawab saja. Jangan jelaskan yang lain dulu.”
Raka terlihat tidak nyaman, tapi ia mengangguk lagi.
“Kapan kamu tahu ayahmu akan tidur di kamar kita?”
“Dari dulu aku tahu ada kebiasaan itu.”
“Kapan kamu tahu dia akan menyentuhku?”
Ia terdiam.
“Raka.”
“Beberapa minggu lalu.”
Aku memegang gelas dengan kedua tangan.
“Berarti sebelum kita menikah.”
“Iya.”
“Kapan kamu memutuskan untuk tidak memberitahuku?”
Ia menunduk.
“Setelah Mama bilang kamu mungkin tidak mau.”
Aku menarik napas pelan.
“Jadi bukan lupa.”
“Bukan.”
“Bukan karena situasi mendadak.”
“Bukan.”
“Kamu sengaja.”
“Nadia, kalau kamu bilangnya begitu, kedengarannya seperti aku merencanakan sesuatu yang jahat.”
Aku meletakkan gelas.
“Aku cuma mengulang apa yang kamu lakukan.”
Ia menatapku.
“Di keluarga kami itu tidak dianggap seperti yang kamu pikirkan.”
“Bagaimana kamu tahu apa yang kupikirkan kalau kamu tidak pernah bertanya?”
“Nad, Papa tidak berniat macam-macam.”
“Aku tidak sedang bertanya niat Papa.”
Raka menghela napas.
“Kamu terus memisahkan semuanya.”
“Karena aku sedang bicara tentang keputusanmu.”
Ia diam.
Aku melanjutkan.
“Jam tiga tadi, kenapa kamu memegang pergelangan tangan ayahmu?”
Raka menoleh ke luar jendela.
Aku menunggu.
“Dia tidak sampai.”
Aku sempat berpikir aku salah mendengar.
“Apa?”
“Posisimu terlalu jauh di pinggir.”
Aku tidak bisa langsung bicara.
Raka menambahkan cepat, “Aku cuma membantu supaya selesai. Supaya setelah itu semua bisa tidur.”
Aku menatap laki-laki yang baru kemarin kupanggil suamiku dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Bukan karena jawabannya rumit.
Justru karena jawabannya begitu sederhana.
Aku tidak nyaman.
Aku menjauh.
Ayahnya tidak bisa menjangkauku.
Dan bagi Raka, solusi paling masuk akal adalah membantu ayahnya mendekat.
Bukan menghentikannya.
Bukan berkata cukup.
Bukan bertanya kepadaku.
Membantu.
“Kenapa?” tanyaku.
Raka terlihat frustrasi.
“Karena kalau ritualnya berhenti di tengah jalan, Papa bakal marah. Mama juga sudah bilang jangan bikin masalah saat malam pertama. Aku pikir kita tinggal lewatkan saja.”
“Siapa ‘kita’?”
“Apa?”
“Yang harus melewati itu siapa? Kamu atau aku?”
Ia membuka mulut, lalu menutupnya.
Aku mengangguk kecil.
“Itu yang dari tadi tidak kamu pahami.”
“Nad, aku juga tertekan.”
“Aku percaya.”
Ia terlihat kaget.
Aku melanjutkan.
“Aku percaya ayahmu menekanmu. Aku percaya ibumu menekanmu. Tapi akhirnya kamu memindahkan tekanan itu kepadaku karena aku yang paling mudah disuruh diam.”
Raka tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu sore itu, ia tidak mencoba membela diri.
Aku berdiri.
Ia ikut berdiri.
“Nadia, terus bagaimana sekarang?”
“Aku tinggal sama Ibu dulu.”
“Berapa lama?”
“Aku belum tahu.”
“Kita sudah menikah.”
“Aku tahu tanggal pernikahanku sendiri.”
“Maksudku kita tidak bisa langsung pisah hanya karena satu kejadian.”
Aku memandangnya.
“Jangan pakai kata ‘hanya’.”
Aku meninggalkannya di sana.
Sore itu grup WhatsApp keluarga Raka mulai ramai.
Awalnya hanya satu pesan dari ibunya.
Nadia, pulanglah dulu. Masalah rumah tangga jangan dibawa ke luar.
Aku tidak membalas.
Lalu salah satu tantenya menulis bahwa orang tua tidak mungkin berniat buruk kepada menantu.
Ada yang mengingatkan bahwa pernikahan membutuhkan kesabaran.
Ada yang menyuruh Raka menjemputku.
Tidak ada yang bertanya apakah aku baik-baik saja.
Aku keluar dari grup.
Beberapa menit kemudian, ibu Raka menelepon.
Aku mengangkat karena kupikir setidaknya kami perlu bicara sekali.
“Nadia, kenapa keluar grup?”
“Karena saya tidak ingin membahas ini dengan keluarga besar.”
“Kamu membuat semua orang salah paham.”
“Yang terjadi tadi malam bukan salah paham.”
Ia terdiam sebentar.
“Papa memang keras. Tapi kamu juga harus tahu cara menghormati orang yang lebih tua.”
Aku berdiri dari sofa.
“Ibu, saya masuk kamar itu karena Raka bilang Bapak cuma tidur.”
“Kalau Raka menjelaskan dari awal, kamu pasti tidak mau.”
Aku menutup mata.
“Berarti Ibu juga tahu.”
“Semua perempuan yang masuk keluarga harus belajar menyesuaikan.”
“Apakah Ibu dulu juga mengalami hal yang sama?”
Pertanyaanku membuatnya lama diam.
Akhirnya ia berkata, “Zaman Ibu berbeda.”
“Berarti pernah?”
“Nadia, jangan memutar pembicaraan.”
Aku tidak memutar apa pun.
Justru untuk pertama kali semua kalimat mereka membentuk garis yang lurus.
Ini bukan tentang keberuntungan.
Bukan tentang anak laki-laki.
Bukan juga tentang apakah Pak Harun memiliki niat tertentu yang bisa dibuktikan atau tidak.
Intinya sederhana.
Di keluarga itu, ketidaknyamanan seseorang dianggap lebih kecil daripada kemarahan Pak Harun.
Dan Raka dibesarkan untuk menjaga keseimbangan itu.
Sekarang, setelah menikah denganku, ia berharap aku mengambil tempat yang sama.
Aku mengakhiri telepon tanpa berdebat lebih panjang.
Dua hari berikutnya, Raka mengirim pesan hampir setiap beberapa jam.
Sebagian meminta maaf.
Sebagian menjelaskan.
Sebagian mulai menyalahkanku karena tidak mau pulang.
Aku tidak menjawab semuanya.
Pada hari ketiga, aku mengirim satu pesan.
Aku mau mengambil barang dan dokumenku dari rumah. Besok jam dua siang. Aku tidak mau Papa ada di sana.
Raka menjawab cepat.
Nad, ini berlebihan.
Aku membalas.
Kalau Papa ada di sana, aku tidak masuk.
Keesokan harinya, Raka menunggu di depan rumah orang tuanya.
Pak Harun tidak terlihat.
Aku datang bersama Ibu.
Bukan supaya Ibu berdebat.
Aku hanya tidak mau masuk sendirian.
Raka membuka pintu kamar yang dua malam sebelumnya seharusnya menjadi kamar pengantin kami.
Bantal Pak Harun sudah tidak ada.
Selimut sudah dilipat.
Tempat tidur tampak biasa.
Aku berdiri di ambang pintu beberapa detik.
Raka memperhatikanku.
“Aku sudah bilang ke Papa kamu tidak mau ketemu.”
Aku masuk.
Aku mengambil koper, laptop, dokumen kerja, dompet berisi kartu-kartu bank, dan kotak kecil tempat aku menyimpan beberapa surat penting.
Raka membantu tanpa bicara.
Saat aku membuka laci meja, ia berkata, “Kamu ambil semuanya?”
“Yang punyaku.”
“Nanti kalau kamu pulang bagaimana?”
Aku berhenti.
“Aku belum bilang akan pulang.”
Raka meletakkan kaus yang sedang ia lipat.
“Nadia.”
Aku menutup koper.
“Apa?”
“Aku sudah minta maaf.”
“Aku tahu.”
“Terus aku harus apa lagi?”
Pertanyaan itu terdengar tulus.
Dan justru karena itu aku menjawab dengan jujur.
“Kamu harus memahami kenapa ini terjadi.”
“Aku paham. Kamu merasa dilanggar.”
“Kamu masih bilang ‘merasa’.”
Raka mengusap kening.
“Oke. Kamu dilanggar.”
“Bukan cuma Papa.”
Ia menghela napas.
“Nad, aku suamimu.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak melakukan apa-apa ke kamu.”
Aku menatapnya.
“Kamu memegang tangan ayahmu.”
“Itu bukan untuk menyakiti kamu.”
“Kamu membantu seseorang melakukan sesuatu kepada tubuhku setelah kamu sengaja menyembunyikannya karena tahu aku akan menolak.”
Wajah Raka mengeras.
“Kamu membuatku terdengar seperti orang jahat.”
“Kenapa kamu terus lebih sibuk dengan bagaimana dirimu terdengar daripada apa yang kamu lakukan?”
Ia tidak menjawab.
Dari lorong terdengar suara langkah.
Pak Harun muncul.
Aku menegang.
Raka langsung berkata, “Pa, aku sudah bilang jangan masuk.”
Pak Harun tetap berdiri di pintu.
“Ini rumah saya.”
Aku menutup koper.
“Kalau begitu saya selesai.”
Pak Harun menatapku.
“Kamu mau membawa anak saya pergi dari keluarganya?”
Aku hampir tertawa.
“Aku bahkan tidak meminta dia memilih.”
“Seorang istri seharusnya membuat suami dekat dengan orang tua, bukan memisahkan.”
“Aku tidak melarang Raka bertemu siapa pun.”
“Lalu kenapa kamu lari?”
Raka mencoba menyela.
“Papa, cukup.”
Pak Harun mengabaikannya.
“Dalam pernikahan, perempuan juga harus belajar mengikuti.”
Aku memandangnya.
“Kalau saya sudah bilang tidak, Bapak berhenti?”
Wajahnya berubah.
“Jangan bicara seolah saya penjahat.”
“Saya cuma bertanya.”
Ia tidak menjawab.
Aku mengangkat koper.
Ibu membukakan pintu.
Raka mengikutiku sampai teras.
“Nad, tunggu.”
Aku berhenti.
“Aku akan bicara sama Papa.”
“Bicara soal apa?”
“Supaya dia minta maaf.”
“Aku tidak sedang menunggu permintaan maaf Papa.”
Raka terlihat bingung.
Aku melanjutkan.
“Aku sedang menunggu kamu mengerti bahwa seharusnya sejak sebelum pernikahan kamu bilang kepadaku apa yang akan terjadi dan menerima kalau jawabanku tidak.”
Ia menatapku lama.
“Kamu mau aku melawan keluargaku?”
“Aku mau kamu tidak menyerahkan tubuh istrinya kepada keputusan keluargamu.”
Aku tidak menunggu jawabannya.
Aku masuk mobil.
Selama dua minggu berikutnya, aku tetap tinggal bersama Ibu dan pergi bekerja seperti biasa.
Aku tidak menceritakan semuanya kepada teman kantor.
Aku hanya bilang sedang ada masalah keluarga dan mungkin harus mengambil beberapa hari cuti jika diperlukan.
Hal yang paling menggangguku ternyata bukan pesan-pesan Pak Harun.
Ia hanya mengirim satu pesan.
Rumah tangga tidak akan kuat kalau istri membesar-besarkan masalah.
Aku tidak menjawab.
Yang menggangguku adalah Raka.
Kadang-kadang ia mengerti.
Lalu beberapa jam kemudian ia kembali mengatakan aku terlalu lama marah.
Suatu malam ia menulis:
Aku sudah minta Papa tidak melakukan itu lagi. Kalau kita punya anak nanti juga aku tidak akan meneruskan tradisinya. Bukankah itu cukup?
Aku membaca pesan itu lama.
Kemudian aku membalas.
Masalahnya bukan apakah itu akan dilakukan lagi. Masalahnya kamu merasa boleh memutuskan sekali saja tanpa persetujuanku.
Ia tidak membalas sampai pagi.
Hari berikutnya ia meminta bertemu.
Kami bertemu di taman kecil dekat kantor lamaku.
Raka membawa dua botol air.
Ia memberikan satu kepadaku.
Aku menerimanya.
“Aku sudah bicara dengan Mama,” katanya.
“Terus?”
“Dia bilang aku salah karena tidak memberi tahu kamu.”
Aku menunggu.
“Tapi dia juga bilang kamu seharusnya tidak pergi begitu saja.”
Aku tertawa kecil.
Raka terlihat lelah.
“Nad, aku cuma bilang apa yang dia bilang.”
“Dan kamu setuju?”
Ia tidak langsung menjawab.
Aku sudah tahu.
“Raka, kita sudah dua minggu membahas ini. Kamu masih mencari versi di mana semua orang sedikit salah supaya kamu tidak harus mengatakan ayahmu salah.”
“Dia ayahku.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak bisa tiba-tiba memperlakukannya seperti orang asing.”
“Aku tidak pernah minta itu.”
“Kalau aku bilang dia salah, dia akan merasa aku memilih kamu daripada keluarga.”
Aku memandangnya.
Akhirnya keluar juga.
Bukan soal tradisi.
Bukan soal keberuntungan.
Bukan bahkan soal pernikahan kami.
Raka masih menjalani hidup dengan satu aturan.
Jangan membuat Papa merasa kehilangan kendali.
Aku berkata, “Kamu boleh memilih apa pun. Tapi aku juga boleh menentukan aku sanggup hidup di dalam pilihan itu atau tidak.”
Ia melihatku.
“Kamu bicara soal cerai?”
Aku tidak menjawab cepat.
Kata itu membuat dadaku berat.
Aku menikah bukan untuk bercerai dua minggu kemudian.
Aku sudah membayangkan rumah kami.
Rutinitas pagi.
Belanja bulanan.
Mungkin anak beberapa tahun lagi.
Aku masih menyimpan foto pernikahan di ponsel.
Beberapa bahkan belum sempat kukirim ke keluarga.
Aku mencintai Raka.
Itulah bagian yang membuat semuanya jauh lebih sulit.
“Aku sedang memikirkannya,” kataku.
Wajahnya berubah.
“Karena satu malam?”
“Karena pilihanmu malam itu dan semua pilihanmu setelahnya.”
Ia berdiri.
“Ini gila.”
Aku tetap duduk.
“Kalau kamu masih berpikir begitu, berarti memang kita belum bicara tentang hal yang sama.”
Ia pergi lebih dulu.
Malamnya aku menangis untuk pertama kali sejak malam pernikahan.
Bukan karena Pak Harun.
Bukan karena grup keluarga.
Aku menangis karena akhirnya mengakui bahwa cinta tidak otomatis membuat seseorang aman untuk dinikahi.
Tiga hari kemudian, Raka datang ke rumah Ibu.
Ia tidak masuk.
Ia mengirim pesan bahwa ia menunggu di depan.
Aku keluar.
Ia berdiri di samping motornya dengan sebuah amplop.
“Apa itu?”
“Tidak penting.”
Ia menyerahkannya.
Di dalamnya ada salinan beberapa dokumen pernikahan dan barang kecil milikku yang tertinggal.
Aku memandangnya.
“Terima kasih.”
Raka mengangguk.
Lalu berkata, “Aku bicara lagi sama Papa.”
Aku menunggu.
“Kali ini aku bilang dia salah.”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Raka menatap jalan.
“Dia marah.”
Aku hampir bertanya apakah ia baik-baik saja, lalu sadar itu bukan tugasku saat itu.
“Terus?”
“Dia bilang aku jadi anak durhaka karena istri.”
Aku diam.
Raka tersenyum pahit.
“Dulu setiap dia bilang begitu, aku langsung mundur.”
Aku menatapnya.
“Sekarang?”
“Sekarang aku pulang.”
Aku tidak mengerti.
“Maksudku aku tetap pergi dari rumahnya. Aku tidur di tempat teman.”
Untuk pertama kali sejak malam itu, aku melihat sesuatu berubah.
Bukan permintaan maaf.
Tindakan.
Raka berkata, “Aku tahu ini tidak langsung memperbaiki apa pun.”
“Tidak.”
“Aku juga tahu kamu mungkin tetap mau berpisah.”
Aku mengangguk.
Ia menelan ludah.
“Tapi aku ingin setidaknya berhenti bohong ke diriku sendiri soal apa yang terjadi.”
Aku memegang amplop lebih erat.
“Raka, kenapa kamu waktu itu membantu tangan Papa?”
Ia menatapku langsung.
“Karena aku takut sama dia.”
Jawabannya begitu sederhana hingga membuatku diam.
Ia melanjutkan.
“Bukan takut dia pukul aku. Papa tidak pernah begitu. Aku takut dia marah, diam berhari-hari, bilang aku anak yang tidak tahu balas budi, membuat Mama menangis, menghubungi kakak-kakakku. Sejak kecil, kalau Papa bilang sesuatu harus dilakukan, lebih mudah dilakukan daripada menghadapi akibatnya.”
Aku mengangguk.
“Aku bisa mengerti itu.”
Raka menatapku, mungkin berharap lebih.
“Tapi aku tidak bisa menerima kamu menjadikan aku tameng supaya kamu tidak perlu menghadapi akibatnya.”
Ia menunduk.
“Aku tahu.”
Itu adalah percakapan pertama kami yang tidak berakhir dengan ia mengatakan aku berlebihan.
Tapi perubahan itu datang setelah sesuatu dalam diriku sudah pecah.
Selama minggu berikutnya, kami bicara beberapa kali.
Raka tidak lagi meminta aku kembali.
Ia tidak lagi mengirim pesan atas nama ibunya.
Ia juga keluar dari rumah orang tuanya dan menyewa kamar dekat tempat kerjanya.
Namun Pak Harun tidak pernah meminta maaf.
Ibu Raka hanya mengirim satu pesan kepadaku.
Semoga nanti kalau sudah tenang kamu bisa melihat bahwa keluarga juga punya cara masing-masing.
Aku tidak membalas.
Sebulan setelah pernikahan, aku menemui seorang advokat untuk memahami pilihan yang tersedia jika aku memutuskan mengakhiri pernikahan.
Aku tidak datang untuk mencari cara menghukum siapa pun.
Aku ingin tahu apa yang harus kulakukan dengan benar.
Aku membawa dokumen pernikahan, alamat Raka, dan catatan singkat tentang kapan kami mulai tinggal terpisah.
Advokat itu menjelaskan proses secara umum, dokumen apa yang perlu disiapkan, dan bahwa keputusan akhirnya tetap milikku.
Aku pulang tanpa langsung mendaftarkan apa pun.
Aku memberi diriku waktu satu minggu.
Bukan untuk menunggu Raka berubah.
Untuk memastikan bahwa keputusanku tidak dibuat hanya karena marah pada satu malam.
Selama seminggu itu aku menanyakan satu pertanyaan kepada diriku sendiri.
Kalau tidak ada yang berubah dari dinamika keluarga ini, apakah aku sanggup menjalani lima tahun di dalamnya?
Sepuluh tahun?
Kalau kami punya anak dan Pak Harun mengatakan ada kebiasaan keluarga lain yang harus diikuti, apakah aku percaya Raka akan bertanya kepadaku lebih dulu?
Jawabannya membuatku tahu apa yang harus dilakukan.
Aku mengajukan proses perceraian.
Ketika kuberi tahu Raka, kami duduk di bangku luar sebuah minimarket setelah pulang kerja.
Ia diam lama.
“Aku kira setelah aku pindah dari rumah Papa, kamu akan kasih kita kesempatan.”
“Aku lihat usaha kamu.”
“Tidak cukup?”
“Bukan soal cukup atau tidak.”
“Terus soal apa?”
“Aku tidak mau menikah sambil menunggu kamu belajar melindungi batas yang seharusnya dari awal tidak perlu dijelaskan.”
Matanya merah.
Aku juga hampir menangis.
“Aku masih sayang kamu,” katanya.
Aku menatap tanganku.
“Aku juga masih sayang.”
Ia tertawa kecil, getir.
“Kalimat paling menyebalkan yang pernah kudengar.”
Aku tersenyum tipis.
Untuk beberapa menit kami duduk tanpa bicara.
Lalu Raka berkata, “Kalau aku berubah lebih cepat?”
Aku tidak menjawab dengan kalimat besar.
Aku hanya berkata, “Aku sudah memberi tahu kamu malam itu aku tidak mau. Kamu tetap melakukannya.”
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku membiarkannya.
Pada akhirnya ia mengangguk.
“Oke.”
Prosesnya tidak selesai dalam sehari.
Keluarga Raka juga tidak tiba-tiba menerima keputusanku.
Pak Harun menganggap aku mempermalukan keluarga.
Ibunya beberapa kali mencoba menghubungi Ibu.
Ibu hanya menjawab, “Bicarakan langsung dengan anak-anak. Saya tidak mau memperkeruh.”
Raka sendiri tidak melawan prosesnya.
Beberapa kali ia meminta kami bicara, tapi setelah jelas keputusanku tidak berubah, ia berhenti membujuk.
Dua bulan kemudian, aku bertemu dengannya sekali lagi untuk menyelesaikan beberapa urusan barang bersama.
Kami tidak punya rumah bersama.
Tidak ada usaha bersama.
Tabungan kami juga belum sempat benar-benar digabung karena pernikahan baru berjalan begitu singkat.
Aneh rasanya bersyukur pada hal-hal yang sebelumnya terasa seperti rencana yang belum sempat dimulai.
Raka menyerahkan satu kotak berisi hadiah pernikahan yang berasal dari teman-temanku.
“Aku pikir ini punya kamu.”
“Terima kasih.”
Ia terlihat lebih kurus.
Tapi lebih tenang.
“Papa masih marah?” tanyaku.
“Iya.”
“Mama?”
“Masih bilang aku seharusnya bisa membuat kamu pulang.”
“Dan kamu?”
Ia mengangkat bahu.
“Aku mulai belajar bahwa kalau semua keputusan dibuat supaya Papa tidak marah, mungkin itu bukan hidupku.”
Aku mengangguk.
Aku berharap ia benar-benar belajar.
Bukan untukku.
Untuk dirinya sendiri.
Sebelum pergi ia berkata, “Aku minta maaf, Nad. Bukan cuma karena tidak bilang soal malam itu. Aku minta maaf karena aku tahu kamu tidak mau dan aku tetap memilih supaya kamu tidak punya kesempatan menolak.”
Untuk pertama kalinya, permintaan maafnya menyebut kesalahan yang sebenarnya.
Aku menerimanya.
Tapi menerima permintaan maaf tidak berarti aku membatalkan keputusan.
Empat bulan setelah pernikahan kami, aku kembali tinggal sendiri di sebuah rumah kontrakan kecil dekat tempat kerja.
Proses hukum masih berjalan.
Hubunganku dengan keluarga Raka praktis sudah berhenti.
Kadang-kadang aku masih terbangun sekitar pukul tiga pagi.
Beberapa detik pertama tubuhku kaku sebelum aku ingat aku tidak lagi berada di kamar itu.
Lalu aku melihat sekeliling.
Pintu kamar terkunci.
Ponselku ada di meja.
Tidak ada orang lain di ruangan.
Malam pertama di rumah kontrakan itu, sebelum tidur aku berjalan ke pintu depan untuk memeriksa kunci.
Dulu aku sering merasa tidak enak kalau harus mengunci pintu ketika keluarga berkunjung. Seolah membuat batas berarti menuduh orang lain.
Sekarang aku memutar kunci sampai terdengar bunyi klik.
Aku tidak merasa bersalah.
Aku mematikan lampu teras, meletakkan kunci di laci kecil dekat tempat tidur, lalu tidur.
Menurutmu, apakah Nadia seharusnya tetap mencoba mempertahankan pernikahannya setelah Raka akhirnya mengakui kesalahannya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
