Bagian 2
Rudi mengangkat dagunya.
“Saya tanya sekali lagi. Kamu siapa?”
Maya membuka tasnya.
Gerakannya membuat salah satu petugas lain langsung memperhatikan. Rudi justru tersenyum tipis, seolah yakin perempuan itu akhirnya akan mengeluarkan dompet dan memilih jalan cepat.
Yang keluar bukan uang.
Maya mengambil kartu identitas dinas.
Ia tidak mengacungkannya tinggi-tinggi. Ia hanya membukanya dan mengulurkannya cukup dekat agar Rudi bisa membaca sendiri.
Ekspresi lelaki itu berubah dalam hitungan detik.
Matanya berhenti pada nama.
Lalu pangkat.
Lalu kembali pada wajah Maya.

Petugas yang berdiri beberapa meter di belakangnya ikut melihat. Bahunya langsung menegang.
“Bu…”
Suara Rudi tidak lagi keras.
Maya memasukkan kembali kartu itu.
“Saya tidak menunjukkan identitas supaya Bapak takut pada jabatan saya.”
Rudi menelan ludah.
“Saya bisa jelaskan.”
“Bagus.”
Maya menunjuk Joko.
“Mulai dari alasan Bapak menghentikan kendaraan ini.”
Rudi mengusap kening.
“Tadi saya melihat sopir ini pindah jalur secara berbahaya.”
“Di titik mana?”
Rudi menoleh ke jalan.
“Di sana.”
“Berapa meter dari sini?”
“Ya… sekitar…”
Ia berhenti.
Maya tidak membantu.
“Pelanggaran apa yang akan Bapak tulis?”
Rudi memegang buku kecil di tangannya.
“Saya tadi belum sempat.”
“Padahal sudah menyebut tiga juta?”
Rudi diam.
“Lalu satu juta delapan ratus?”
“Saya cuma…”
“Denda resmi bisa ditawar?”
Pertanyaan itu membuat petugas yang lain menunduk.
Rudi terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak menemukan kalimat yang aman.
Maya lalu menoleh pada Joko.
“Pak Joko, surat kendaraan Bapak masih dipegang?”
Joko mengangguk.
Rudi cepat-cepat menyerahkannya.
Maya tidak menyentuh surat itu.
“Bapak periksa sendiri. Pastikan lengkap.”
Joko mengecek satu per satu dengan tangan yang masih gemetar.
“Lengkap, Bu.”
“Baik.”
Maya baru menatap Rudi lagi.
“Sekarang siapa penanggung jawab resmi pemeriksaan sore ini?”
Rudi menjawab terlalu cepat.
“Saya.”
“Surat tugasnya?”
Kali ini Rudi benar-benar terdiam.
Maya mengeluarkan ponsel.
Ia tidak menelepon banyak orang. Hanya satu panggilan singkat kepada pejabat pengawasan internal yang bertugas di wilayah tersebut.
“Saya berada di ruas jalan menuju akses tol timur,” katanya setelah menyebut lokasinya. “Ada pemeriksaan kendaraan. Tolong cek apakah operasi di titik ini terdaftar dan siapa petugas yang dijadwalkan.”
Rudi mencoba menyela.
“Bu, sebenarnya ini bisa kita bicarakan…”
Maya mengangkat satu telapak tangan.
Rudi berhenti.
Joko berdiri dekat pintu taksinya, wajahnya masih pucat.
Maya mendekatinya.
“Bapak tidak perlu memberi uang apa pun.”
Joko mengangguk pelan.
“Tapi kalau nanti diminta memberikan keterangan, sampaikan persis yang Bapak lihat dan dengar. Jangan ditambah, jangan dikurangi.”
“Iya, Bu.”
“Termasuk saya.”
Joko tampak tidak mengerti.
“Kalau ada hal yang menurut Bapak saya lakukan keliru, katakan juga.”
Joko menggeleng cepat.
“Saya cuma… saya enggak menyangka.”
Maya tidak menanggapi itu.
Ponselnya berdering.
Ia menerima panggilan.
Mendengarkan sekitar dua puluh detik.
Wajahnya tidak berubah, tetapi pandangannya beralih kepada tiga petugas di depan mereka.
“Baik. Kirimkan datanya.”
Ia menutup telepon.
Rudi langsung bertanya, “Bagaimana, Bu?”
Maya membuka pesan yang baru masuk.
Ia membacanya sekali.
Lalu sekali lagi.
“Tidak ada operasi pemeriksaan kendaraan yang terdaftar di titik ini sore ini.”
Wajah Rudi memucat.
Petugas yang tadi mengalihkan pandangan kini menatapnya.
Maya melanjutkan.
“Dan nama Bapak tidak tercatat sebagai penanggung jawab operasi apa pun di lokasi ini.”
“Bu, saya bisa menjelaskan.”
“Saya berharap begitu.”
“Ini cuma pemeriksaan situasional.”
“Atas perintah siapa?”
Rudi terdiam.
Maya melihat kerucut jalan, dua sepeda motor, buku kecil di tangan Rudi, lalu tiga petugas yang kini berdiri semakin berjauhan satu sama lain.
Yang awalnya terlihat seperti satu tindakan kasar terhadap seorang sopir mendadak memiliki pertanyaan yang jauh lebih besar.
Jika pemeriksaan ini tidak terdaftar, lalu sudah berapa banyak kendaraan yang dihentikan di tempat yang sama?
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Maya tidak langsung menuduh siapa pun.
Itu hal pertama yang membuat situasi sore itu berbeda dari tontonan yang mulai terbentuk di pinggir jalan.
Beberapa pengendara memperlambat kendaraan. Seorang pedagang minuman dari seberang jalan berdiri memperhatikan. Joko sendiri masih berada dekat taksinya, bingung antara ingin pergi dan takut bergerak.
Maya meminta semua petugas tetap di tempat.
“Tidak perlu ada yang menyerahkan ponsel kepada saya,” katanya. “Tidak perlu ada yang menghapus apa pun. Tim pengawasan akan datang dan menjalankan prosedur.”
Rudi mengangguk cepat.
“Bu, saya sungguh bisa jelaskan.”
“Nanti jelaskan secara resmi.”
“Tapi saya takut Ibu salah paham.”
Maya menatapnya.
“Saya melihat Bapak meminta uang kepada sopir dengan angka yang berubah-ubah. Itu bukan salah paham.”
Rudi mengusap wajah.
“Saya tidak benar-benar berniat mengambil uang.”
Joko yang sejak tadi diam akhirnya menoleh.
“Kalau saya punya satu juta delapan ratus tadi, Bapak akan ambil atau enggak?”
Rudi tidak menjawab.
Joko tertawa pendek, getir.
“Saya tahu karena teman-teman saya sudah pernah lewat sini.”
Maya mengangkat tangan sedikit kepada Joko.
“Pak, nanti ceritakan semuanya kepada pemeriksa.”
Joko mengangguk, walau matanya tetap pada Rudi.
Sekitar dua puluh lima menit kemudian, kendaraan pengawasan internal tiba bersama seorang perwira wilayah yang memang mempunyai kewenangan di lokasi itu.
Maya menyerahkan situasi kepada mereka.
Ia menjelaskan apa yang ia saksikan, dimulai dari permintaan uang, pemeriksaan dokumen, tawar-menawar nominal, sampai tindakan Rudi menarik kerah Joko.
Tidak ada kalimat, “Saya ingin dia dipecat.”
Tidak ada perintah, “Bawa dia sekarang juga.”
Maya justru berkata, “Pastikan semua yang ada di sini diperiksa dengan prosedur yang sama seandainya saya bukan pejabat.”
Perwira yang datang mengangguk.
Rudi diminta menyerahkan buku catatan yang digunakannya. Petugas lain diminta memberikan identitas dan keterangan awal secara terpisah.
Salah seorang dari mereka, polisi muda bernama Dimas, tampak paling gelisah.
Ketika pemeriksa meminta keterangan singkat, ia beberapa kali melirik Rudi.
“Jawab yang Anda tahu,” kata pemeriksa. “Jangan menebak.”
Dimas menarik napas.
“Pak Rudi yang minta kami ikut ke sini.”
“Untuk operasi?”
“Katanya ada pemeriksaan kendaraan.”
“Surat tugas?”
Dimas menunduk.
“Saya tidak lihat.”
Rudi langsung menoleh.
“Dimas.”
Pemeriksa mengangkat tangan.
“Jangan saling bicara.”
Dimas melanjutkan dengan suara lebih kecil.
“Saya kira suratnya dipegang beliau.”
Maya tidak menyela.
Ia tahu perbedaan antara seorang bawahan yang lalai bertanya dan orang yang sengaja ikut mengambil keuntungan belum bisa diputuskan dari satu kalimat.
Pemeriksaan harus membedakan peran.
Itulah sebabnya ia tidak mau menyelesaikan semuanya di pinggir jalan dengan kemarahan.
Ponselnya bergetar.
Nama Arif muncul.
Maya melihat jam.
Ia seharusnya sudah mengambil barang lalu berangkat ke stasiun.
Ia berjalan beberapa langkah menjauh sebelum menjawab.
“Kak, kamu di mana?” tanya Arif.
“Masih di Jakarta.”
“Lho? Keretamu malam ini, kan?”
“Iya.”
“Jangan bilang ada urusan kantor.”
Maya diam sebentar.
Arif menghela napas dari seberang.
“Kak.”
“Cuma sesuatu yang perlu aku serahkan dulu.”
“Kamu selalu bilang cuma sebentar.”
Maya menatap ke arah Joko yang sedang menjelaskan kejadian kepada petugas pemeriksa.
“Aku tahu.”
“Nanti Ibu marah.”
“Yang itu aku juga tahu.”
Arif tertawa kecil.
Lalu nadanya berubah lebih lembut.
“Yang penting besok kamu sampai.”
“Aku akan sampai.”
“Jangan jadi pahlawan sendirian.”
Maya hampir tersenyum.
“Aku tidak sedang jadi pahlawan.”
“Bagus. Aku butuh kakakku, bukan pejabat polisi.”
Setelah telepon berakhir, Maya berdiri beberapa detik dengan ponsel masih di tangan.
Kalimat itu menempel di kepalanya.
Ia memang datang ke perjalanan ini untuk meninggalkan pekerjaan sejenak.
Namun saat melihat kewenangan dipakai untuk menekan orang yang tidak punya kuasa, pura-pura tidak melihat juga merupakan sebuah pilihan.
Dan Maya tahu ia tidak akan bisa duduk di pesta pernikahan Arif sambil membawa pilihan itu.
Ia kembali ke tempat pemeriksaan.
Tim pengawasan sudah mencatat identitas Joko.
Maya bertanya, “Apakah keterangan awal saya sudah cukup?”
“Untuk malam ini cukup, Bu. Besok atau setelah Ibu kembali mungkin kami perlu berita acara lebih lengkap.”
“Hubungi saya sesuai prosedur.”
Perwira itu mengangguk.
Rudi masih berdiri beberapa meter dari mereka.
Kepalanya menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak taksi berhenti, ia tidak terlihat seperti orang yang menguasai jalan.
Maya tidak mendatanginya.
Ia kembali kepada Joko.
“Pak, bisa lanjut mengantar saya?”
Joko menatapnya tidak percaya.
“Bisa, Bu. Tentu.”
“Kalau kondisi Bapak belum tenang, kita berhenti dulu.”
Joko mengusap wajah.
“Saya bisa nyetir.”
Saat masuk ke mobil, ia memegang setir beberapa detik sebelum menyalakan mesin.
Kemudian ia menatap Maya melalui kaca spion.
“Saya pikir tadi Ibu akan langsung menyuruh mereka tangkap dia.”
Maya menyandarkan punggung.
“Saya bukan hakim.”
“Tapi Ibu kan punya jabatan.”
“Justru karena itu.”
Joko diam.
Maya melanjutkan, “Kalau saya marah lalu menghukum orang sesuka hati, bedanya saya dengan orang yang menyalahgunakan kewenangan apa?”
Joko tidak menjawab.
Taksi bergerak meninggalkan lokasi.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam.
Maya berhasil mengambil barangnya dan hampir terlambat mencapai stasiun. Ia harus berjalan cepat sambil menenteng tas karena antrean kendaraan di pintu masuk.
Di atas kereta malam, ia tidak memeriksa laporan apa pun.
Setidaknya selama beberapa jam.
Ia mematikan suara ponsel, menyandarkan kepala, dan mencoba tidur.
Pagi berikutnya, ibunya sudah menunggu dengan wajah kesal ketika Maya tiba.
“Kamu bilang cuti.”
“Aku memang cuti.”
“Kalau cuti kenapa datang dengan muka seperti habis rapat semalaman?”
Arif yang berdiri di belakang ibu tertawa.
“Sudah kubilang, Bu. Sulit memisahkan Kak Maya dari pekerjaannya.”
Maya menyerahkan tas kepada adiknya.
“Kalau kamu banyak komentar, aku pulang.”
Arif mengambil tas itu.
“Enggak boleh. Bajuku belum ada yang berani bilang jelek selain kamu.”
Hari itu keluarga mereka sibuk dengan persiapan pernikahan.
Maya membantu hal-hal sederhana yang hampir tidak pernah ia lakukan saat bekerja. Menghitung kursi. Memastikan kerabat lansia mendapat tempat yang mudah dijangkau. Membawa kotak makanan. Menjawab pertanyaan ibunya tentang barang yang sebenarnya sudah ada di meja.
Untuk beberapa jam, ia berhasil menjadi kakak biasa.
Namun pada malam sebelum akad, sebuah pesan resmi masuk.
Bukan dari orang yang ingin mencari muka.
Bukan pula pesan berisi keputusan instan.
Hanya perkembangan awal pemeriksaan.
Tim pengawasan menemukan bahwa titik pemeriksaan tempat Joko dihentikan memang tidak termasuk kegiatan resmi hari itu.
Lebih dari itu, catatan pengaduan masyarakat menunjukkan ada beberapa laporan dalam tiga bulan terakhir yang menyebut ruas jalan yang sama.
Keluhannya serupa.
Pengemudi kendaraan niaga dihentikan.
Kesalahan tidak dijelaskan dengan jelas.
Ada permintaan pembayaran di tempat.
Sebagian pelapor tidak mencatat nama petugas.
Dua laporan mencantumkan ciri fisik yang mengarah pada orang yang sama.
Maya membaca pesan itu dua kali.
Kemudian ia mengunci ponsel.
Ia tidak menghubungi tim pemeriksa malam itu.
Laporan tersebut bukan lagi soal apa yang ia lihat sendiri. Kini ada pola yang perlu dibuktikan lebih jauh.
Dan pola tidak boleh disimpulkan hanya karena cerita-ceritanya terdengar mirip.
Esok paginya, Maya duduk di antara ibunya dan seorang bibi ketika Arif mengucapkan akad.
Tidak ada telepon dinas di tangannya.
Ketika adiknya menoleh setelah acara selesai, Maya mengangguk kepadanya.
Arif tersenyum lega.
Baru malam hari, setelah sebagian besar tamu pulang, Maya membuka kembali ponselnya.
Pemeriksaan berkembang.
Dimas, petugas muda yang berada di lokasi, memberikan keterangan tambahan.
Ia mengatakan bahwa ia pernah dua kali ikut Rudi menghentikan kendaraan di ruas tersebut tanpa melihat dokumen operasi. Pada kesempatan pertama, ia menganggapnya pemeriksaan rutin. Pada kesempatan kedua, ia mulai curiga karena beberapa pengemudi diminta berbicara langsung dengan Rudi di samping kendaraan.
“Apakah Anda melihat uang berpindah tangan?” tanya pemeriksa berdasarkan ringkasan keterangan yang dikirim kepada Maya.
Dimas menjawab bahwa pada satu kejadian ia melihat seorang sopir menyerahkan uang yang dilipat bersama surat kendaraan.
Ia tidak tahu jumlahnya.
Ia juga tidak tahu apa yang terjadi dengan uang itu setelahnya.
Itu bukan bukti sempurna.
Tetapi itu cukup untuk memperluas pemeriksaan.
Buku catatan milik Rudi kemudian dibandingkan dengan data kegiatan resmi. Beberapa nomor kendaraan yang ditulis di sana tidak memiliki catatan penindakan resmi.
Pemeriksa mulai memanggil beberapa pemilik kendaraan.
Sebagian mengatakan mereka dilepas tanpa membayar apa pun.
Dua orang mengaku memberikan uang karena takut kendaraan ditahan.
Salah satunya adalah sopir mobil bak yang biasa mengantar bahan bangunan.
“Saya enggak dapat surat,” katanya dalam pemeriksaan. “Saya kasih karena waktu itu saya bawa barang dan harus sampai gudang sebelum malam.”
Jumlah yang ia berikan Rp700.000.
Pengemudi lain mengaku membayar Rp1,2 juta.
Keduanya tidak memiliki rekaman.
Tidak ada foto.
Tidak ada percakapan rahasia yang kebetulan tersimpan.
Yang ada hanya keterangan mereka, catatan lokasi, daftar nomor kendaraan, tugas resmi yang tidak cocok, dan kesaksian petugas lain.
Sedikit demi sedikit, gambarnya menjadi lebih jelas.
Saat Maya kembali ke Jakarta tiga hari kemudian, ia datang ke kantor pengawasan sebagai saksi.
Tidak sebagai atasan yang meminta hasil.
Ia duduk di ruangan sederhana dengan segelas air mineral di depan dan menceritakan lagi seluruh kejadian dari awal.
Jam berapa taksi memasuki jalan.
Apa yang dikatakan Joko.
Berapa angka pertama yang disebut Rudi.
Berapa angka kedua.
Bagaimana surat kendaraan diperiksa.
Bagaimana Rudi memegang baju Joko.
Bagaimana ia mendorongnya.
Pemeriksa bertanya, “Apakah Ibu mendengar Pak Rudi secara langsung meminta uang diberikan kepadanya?”
Maya berpikir sebelum menjawab.
“Ia menyebut nominal yang harus dibayar, kemudian menurunkannya ketika sopir mengatakan tidak punya uang. Tidak ada surat penindakan yang dibuat saat itu.”
“Apakah kata-kata seperti ‘beri saya uang’ disampaikan?”
“Tidak dengan kalimat itu.”
Pemeriksa mencatat.
Maya sengaja tidak membuat keterangannya lebih kuat daripada kenyataan.
Karena bila kasus itu harus berdiri, ia harus berdiri di atas fakta, bukan pangkatnya.
Setelah hampir satu jam, pemeriksaan selesai.
Di lorong, Maya bertemu Rudi.
Lelaki itu tidak memakai perlengkapan tugas lapangan. Selama proses berjalan, ia dipindahkan sementara dari fungsi yang berhubungan langsung dengan pemeriksaan masyarakat.
Keputusan akhir belum dibuat.
Rudi berdiri ketika melihat Maya.
“Bu Maya.”
Maya berhenti.
“Boleh bicara?”
“Kalau tentang pemeriksaan, sebaiknya melalui tim.”
“Bukan.”
Maya menunggu.
Rudi tampak jauh lebih tua dibanding sore di jalan itu.
“Saya salah.”
Maya tidak menjawab.
“Saya benar-benar salah.”
“Iya.”
Rudi tampak terganggu karena tidak mendapat respons lain.
“Saya sudah lama bertugas. Tekanannya banyak. Kadang orang di lapangan…”
Maya memotong pelan.
“Pak Rudi.”
Lelaki itu diam.
“Jangan gunakan tekanan kerja untuk menjelaskan kenapa Bapak menekan sopir yang penghasilannya bahkan tidak cukup untuk membayar angka yang Bapak sebut.”
Rudi menunduk.
“Saya khilaf.”
“Sekali?”
Rudi tidak menjawab.
Itulah satu-satunya pertanyaan Maya.
Ia tidak membutuhkan pengakuan dramatis.
Laporan sudah menunjukkan alasan untuk memeriksa lebih banyak kejadian.
Rudi mengusap kedua tangannya.
“Kalau nanti saya kehilangan pekerjaan, keluarga saya bagaimana?”
Maya memandangnya beberapa detik.
Ia tahu pertanyaan itu bukan sepenuhnya manipulasi.
Rudi punya keluarga.
Ada orang-orang yang mungkin ikut menerima akibat dari tindakannya tanpa pernah terlibat.
Tetapi Joko juga punya keluarga.
Begitu pula sopir-sopir yang menyerahkan uang karena takut kendaraan mereka ditahan.
“Prosesnya belum selesai,” kata Maya.
“Bu bisa membantu.”
“Tidak.”
Jawaban itu keluar tanpa nada marah.
Rudi menatapnya.
Maya melanjutkan, “Saya tidak akan meminta orang menghukum Bapak lebih berat. Tapi saya juga tidak akan meminta mereka meringankan karena Bapak memohon kepada saya.”
Rudi mengembuskan napas.
“Kalau begitu habis saya.”
“Itu ditentukan oleh hasil pemeriksaan, bukan oleh saya.”
Maya berjalan pergi.
Beberapa minggu berikutnya, pemeriksaan berkembang tetapi tidak berubah menjadi pertunjukan.
Tidak ada konferensi pers yang menyebut Maya sebagai penyelamat sopir taksi.
Ia menolaknya.
Nama Joko juga tidak diumbar.
Bagi Maya, persoalan utamanya bukan membuat satu petugas dipermalukan di depan umum.
Yang mengganggunya justru pertanyaan lain.
Bagaimana pemeriksaan liar bisa berlangsung berulang kali tanpa ada atasan yang menghentikannya?
Mengapa laporan masyarakat yang menyebut lokasi sama tidak segera dihubungkan satu dengan yang lain?
Kenapa petugas junior merasa lebih aman diam ketika melihat sesuatu yang tidak benar?
Dalam rapat internal, Maya meminta tiga hal sederhana.
Pengaduan yang menyebut lokasi dan pola serupa harus lebih cepat ditandai untuk ditinjau bersama.
Kegiatan pemeriksaan lapangan harus bisa diverifikasi oleh petugas lain tanpa proses berbelit.
Dan anggota yang melihat penyimpangan harus mempunyai saluran aman untuk melapor tanpa harus menunggu masalah meledak.
Salah seorang pejabat di ruangan bertanya, “Apakah ini karena kasus Rudi?”
Maya menjawab, “Kasus itu menunjukkan celah. Kalau celahnya tetap ada, nama pelakunya nanti cuma berganti.”
Tidak semua orang langsung setuju.
Ada yang khawatir aturan tambahan akan mempersulit anggota di lapangan.
Ada yang merasa pengawasan berlebihan bisa membuat petugas takut mengambil keputusan.
Maya mendengarkan.
Beberapa keberatan memang masuk akal.
Karena itu tidak semua usulan diterapkan mentah-mentah. Tim operasional ikut dilibatkan agar prosedur tetap bisa dipakai dalam keadaan darurat.
Perubahannya kecil.
Tidak terdengar heroik.
Namun Maya lebih percaya pada perubahan kecil yang benar-benar berjalan daripada slogan besar yang hilang setelah dua minggu.
Sekitar dua bulan setelah kejadian, hasil pemeriksaan terhadap Rudi selesai di tingkat internal.
Ditemukan pelanggaran serius terkait penyalahgunaan kewenangan dan penerimaan uang dalam beberapa pemeriksaan yang tidak tercatat resmi.
Proses etik menghasilkan sanksi berat.
Sementara dugaan perbuatan pidana diteruskan melalui jalur hukum yang sesuai.
Tidak semua laporan lama bisa dibuktikan.
Beberapa pelapor tidak bisa dihubungi lagi.
Ada kejadian yang hanya memiliki cerita tanpa bukti pendukung.
Maya menerima kenyataan itu.
Keadilan tidak berarti setiap dugaan otomatis berubah menjadi hukuman.
Dimas mendapat pemeriksaan terpisah karena ikut dalam kegiatan tanpa memastikan dasar tugasnya. Namun keterangannya dan tingkat keterlibatannya dipertimbangkan berbeda dari Rudi.
Ia tidak keluar tanpa konsekuensi.
Ia juga tidak diperlakukan seolah melakukan hal yang sama.
Joko beberapa kali dipanggil memberikan keterangan.
Pada kunjungan terakhir, ia bertemu Maya secara kebetulan di lobi kantor.
“Bu.”
Maya berhenti.
Joko terlihat lebih tenang sekarang.
“Masih narik taksi?”
“Masih.”
“Lewat jalan itu lagi?”
Joko tersenyum canggung.
“Awalnya enggak berani.”
“Sekarang?”
“Sudah.”
Ia lalu tertawa kecil.
“Bukan karena sekarang saya merasa kebal, ya, Bu.”
Maya ikut tersenyum.
“Syukurlah.”
“Saya cuma merasa kalau surat saya lengkap, ya mestinya saya enggak perlu takut.”
Kalimat itu sederhana.
Namun Maya membawanya sampai ke ruang kerja.
Beberapa hari kemudian, ia kebetulan harus melewati ruas yang sama dalam perjalanan dinas.
Kali ini ia berada di mobil biasa bersama seorang staf.
Di kejauhan terlihat pemeriksaan kendaraan.
Maya otomatis memperhatikan.
Ada papan informasi kegiatan.
Petugas menghentikan beberapa kendaraan secara bergantian.
Seorang pengemudi sepeda motor menyerahkan surat.
Petugas memeriksa.
Mengembalikan.
Pengemudi itu melanjutkan perjalanan.
Tidak ada kejadian menarik.
Tidak ada suara keras.
Tidak ada orang yang ditarik bajunya.
Mobil Maya ikut bergerak pelan melewati titik itu.
Di bahu jalan, sebuah taksi tua sedang berhenti sebentar menurunkan penumpang.
Maya mengenali nomor kendaraannya.
Joko.
Lelaki itu tidak melihat mobil Maya.
Ia menerima ongkos dari penumpangnya, memberikan uang kembalian, lalu kembali ke belakang kemudi.
Beberapa detik kemudian taksinya masuk lagi ke arus kendaraan.
Tidak memutar balik.
Tidak mencari jalan lain.
Ia melewati pemeriksaan itu, menyerahkan surat ketika diminta, menerima kembali dokumennya, lalu melaju.
Maya melihat taksi tersebut semakin kecil di depan.
Kali ini, tak ada uang yang diselipkan di antara surat kendaraan.
Menurutmu, apakah Maya benar karena memilih proses resmi daripada langsung menggunakan jabatannya untuk menghukum Rudi di tempat?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
