Bagian 2
Langkah-langkah itu berhenti di depan kamar Laras.
Aku menahan napas.
Pintu terbuka.
Sepasang sepatu hitam masuk lebih dulu, disusul sepatu lain yang solnya sudah aus, lalu sepatu seorang anak perempuan.
Tiga anak.
Laras masuk terakhir dan menutup pintu.
“Taruh tas kalian dulu,” bisiknya.
Aku menunggu suara tawa.

Tidak ada.
Tidak terdengar musik, permainan, atau obrolan anak yang merasa berhasil kabur dari sekolah.
Yang kudengar justru seorang anak laki-laki menarik napas gemetar.
“Dia tadi lihat aku di kantin.”
Seorang anak perempuan menjawab, “Aku juga.”
Laras berkata pelan, “Makanya kita jangan balik sebelum jam istirahat kedua.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Siapa “dia”?
Seorang anak bertanya, “Kalau nanti mereka lapor kita bolos?”
Laras menjawab, “Lebih baik dimarahin karena bolos daripada ketemu mereka lagi.”
Aku tidak tahan.
Aku menggeser badan dan keluar dari bawah ranjang.
Tiga anak menjerit kecil.
Laras berdiri membeku.
Wajahnya kehilangan warna.
“Ma?”
Aku bangkit perlahan sambil membersihkan debu di bajuku.
Tak seorang pun bergerak.
Anak laki-laki kurus di dekat meja memeluk tasnya ke dada. Resleting tas itu rusak dan salah satu talinya disambung dengan peniti besar.
Anak perempuan di sebelahnya menunduk. Ada coretan spidol hitam di bagian belakang lengan seragamnya.
Laras hanya menatapku.
Aku ingin marah.
Aku sudah bersembunyi hampir dua jam karena anakku membohongiku.
Namun sesuatu pada ketiga wajah itu menahan suaraku.
“Duduk,” kataku.
Laras tidak menurut.
“Ma, aku bisa jelasin.”
“Bagus. Jelaskan.”
Anak laki-laki itu langsung berkata, “Bu, jangan marahin Laras. Ini bukan salah dia.”
Aku menatapnya.
“Nama kamu siapa?”
“Bimo.”
Anak perempuan itu menjawab tanpa ditanya, “Aku Siska.”
Aku menarik kursi meja belajar.
“Kenapa kalian bertiga meninggalkan sekolah?”
Tak ada yang menjawab.
Aku menoleh kepada Laras.
“Kenapa?”
Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara.
Kemudian Bimo membuka tasnya.
Ia mengeluarkan sebuah kotak bekal yang penyok. Tutupnya retak.
“Karena anak kelas sembilan,” katanya.
Laras langsung menatapnya.
“Bim.”
“Aku capek, Ras.”
Bimo meletakkan kotak itu di meja.
“Mereka minta uang.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Aku menatap Laras.
“Uang apa?”
Laras mulai menangis tanpa suara.
Bukan tangisan keras.
Air matanya hanya turun begitu saja.
“Mereka awalnya minta sedikit.”
“Siapa?”
“Ada tiga anak. Yang paling sering Arga.”
“Berapa lama?”
Laras mengusap pipinya.
“Hampir sebulan.”
Aku duduk.
Siska akhirnya ikut bicara.
“Mereka biasanya nunggu dekat belakang kantin. Kadang di jalan samping sekolah.”
“Apa guru tahu?”
Ketiganya saling melihat.
Siska berkata, “Pernah ada yang bilang ke guru piket. Arga bilang cuma bercanda.”
“Dan selesai begitu saja?”
Bimo tertawa hambar.
“Dia anak pengurus komite sekolah, Bu.”
Aku merasakan sesuatu berubah di dalam dadaku.
“Jadi kalian pulang ke rumah ini?”
Laras mengangguk.
“Mereka tahu jadwal Mama. Aku pikir… di sini aman.”
“Bagaimana kalian keluar sekolah?”
“Pagar samping dekat bangunan yang lagi direnovasi kadang tidak terkunci setelah jam pertama.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Ini lebih buruk daripada bolos.
Bukan karena nilai.
Bukan karena malas.
Tiga anak berusia tiga belas tahun telah menciptakan sistem pelarian sendiri karena merasa lebih aman kabur dari sekolah daripada meminta bantuan orang dewasa.
Aku menatap Laras lagi.
“Kenapa kamu tidak bilang ke Mama?”
Dia menarik napas patah-patah.
“Karena Mama sudah capek.”
Aku terdiam.
“Setiap pulang Mama masih kerja di laptop. Cicilan rumah juga Mama urus sendiri. Aku pikir kalau aku cerita, Mama bakal datang ke sekolah, terus mereka makin marah.”
“Siapa yang bilang mereka akan makin marah?”
Laras meraih ponselnya.
Tangannya gemetar ketika membuka WhatsApp.
Dia menyerahkannya kepadaku.
Ada grup percakapan dengan nama yang tidak kukenal.
Beberapa pesan sudah dihapus.
Namun satu pesan dari malam sebelumnya masih ada.
Besok bawa Rp300.000. Bertiga. Jangan pura-pura sakit lagi.
Di bawahnya ada pesan lain.
Kalau ngomong sama guru, video kalian masuk grup kelas.
Aku membaca kedua pesan itu dua kali.
“Video apa?”
Laras tidak menjawab.
Siska menutup wajah.
Bimo memandangi lantai.
Akhirnya Laras berkata, “Video waktu mereka ngurung kami di gudang alat olahraga.”
Aku meletakkan ponsel.
“Besok kalian tidak akan menghadapi ini sendirian lagi.”
Laras langsung panik.
“Ma, jangan.”
“Mama belum bilang akan melakukan apa.”
“Kalau Arga tahu aku cerita…”
Aku menatap anakku.
“Ras, dia sudah membuatmu takut masuk sekolah. Kamu sudah memberikan uang. Kamu bersembunyi di rumah sendiri.”
Laras menelan ludah.
Kemudian dia mengatakan satu kalimat yang membuat semuanya terasa jauh lebih besar.
“Uangnya belum semua dari uang sakuku, Ma.”
Aku tidak bergerak.
“Lalu dari mana?”
Laras menatap lemari kecil di dekat pintu.
Tempat aku biasa menyimpan amplop uang tunai untuk belanja mingguan.
“Maaf.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku memandang lemari itu beberapa detik.
Tidak ada ledakan amarah.
Tidak ada teriakan.
Justru kepalaku terasa sangat jernih.
“Berapa?”
Laras mengusap hidungnya.
“Aku enggak tahu tepatnya.”
“Coba ingat.”
“Sekitar tujuh ratus ribu.”
Aku berdiri dan membuka lemari.
Amplop yang biasanya kusimpan di bagian belakang masih ada.
Aku menghitung uangnya.
Kurang delapan ratus ribu rupiah.
Selama beberapa minggu terakhir aku sempat merasa pengeluaran rumah tangga lebih besar dari biasanya. Aku bahkan pernah menyalahkan diriku sendiri karena mungkin terlalu sering membeli makan melalui aplikasi.
Aku kembali ke kamar.
“Delapan ratus ribu.”
Laras menunduk.
“Maaf.”
Aku duduk di tepi ranjang.
Siska dan Bimo masih berada di sana, seolah tidak yakin apakah mereka diperbolehkan bernapas.
Aku bertanya kepada keduanya, “Kalian juga kasih uang?”
Siska mengangguk.
“Dari uang tabungan.”
Bimo berkata, “Aku enggak punya banyak. Mereka ambil uang makan.”
Itu menjelaskan kotak bekal Laras yang sering pulang masih penuh.
Dia bukan tidak lapar.
Dia menyimpan uang jajannya untuk diberikan kepada anak lain.
“Kalian makan apa kalau uang makannya diambil?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengerti jawabannya.
Kadang tidak makan.
Aku menutup mata sesaat.
Kemudian aku melihat ketiganya.
“Sekarang dengarkan saya. Kalian memang salah karena keluar sekolah tanpa izin dan merahasiakan ini. Itu tetap harus dibicarakan.”
Mereka menunduk serempak.
“Tapi kalian bukan penyebab masalah ini.”
Laras mulai menangis lagi.
Aku melanjutkan, “Dan mulai hari ini, kalian tidak perlu mengurus semuanya sendiri.”
Siska mengangkat wajah.
“Bu Nadia mau bilang ke sekolah?”
“Iya.”
Dia langsung pucat.
“Kalau mereka enggak percaya?”
“Karena itu kita tidak datang hanya membawa cerita.”
Aku menunjuk ponsel Laras.
“Kita simpan bukti yang memang kalian punya.”
Bimo bertanya, “Kalau chat-nya dihapus?”
“Jangan hapus apa pun lagi.”
Aku tidak tahu apakah WhatsApp itu cukup untuk membuat sekolah bertindak.
Aku juga tidak berniat berpura-pura menjadi penyidik.
Tetapi aku tahu satu hal sederhana: sebelum melakukan apa pun, aku perlu memastikan anak-anak ini aman dan orang tua mereka tahu.
Aku meminta nomor orang tua Siska dan Bimo.
Siska terlihat ragu.
“Ibu aku bakal marah.”
“Mungkin.”
“Dia selalu bilang jangan cari masalah di sekolah.”
“Kalau kamu tidak cerita, masalahnya tetap ada.”
Aku menelepon ibunya terlebih dahulu.
Namanya Bu Dewi.
Saat kujelaskan bahwa Siska sedang berada di rumahku pada jam sekolah, suaranya langsung meninggi.
“Dia bolos?”
“Iya, Bu. Tapi saya minta Ibu jangan memarahinya lewat telepon dulu. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”
Aku menceritakan bagian yang kutahu.
Lama sekali Bu Dewi tidak menjawab.
Kemudian suaranya berubah.
“Siska pernah bilang ada anak yang suka minta uang.”
“Dia bilang?”
“Sekitar dua minggu lalu. Saya kira teman sekelas pinjam.”
Aku memandang Siska.
Anak perempuan itu menunduk semakin dalam.
Bu Dewi berkata pelan, “Saya bilang jangan pelit sama teman kalau cuma lima atau sepuluh ribu.”
Tak ada gunanya menyalahkan perempuan itu.
Kami semua melewatkan tanda yang berbeda.
Ayah Bimo bekerja sebagai teknisi pendingin ruangan dan sedang berada di luar kota. Aku akhirnya menghubungi bibinya yang tinggal bersamanya.
Dalam waktu kurang dari satu jam, Bu Dewi dan Tante Mira sudah berada di rumahku.
Tidak ada satu pun dari kami yang tenang.
Namun aku meminta agar anak-anak menjelaskan satu kali saja.
Aku tidak ingin mereka dipaksa mengulang cerita sampai detailnya berubah karena lelah atau takut.
Laras mulai dari awal.
Arga dan dua temannya lebih tua satu tingkat.
Awalnya mereka meminta uang kepada Bimo setelah mengambil botol minumnya dan melemparkannya ke tempat sampah.
Siska membela Bimo.
Laras kebetulan berada di sana dan ikut bicara.
Sejak itu mereka bertiga menjadi sasaran.
Permintaan pertama hanya Rp20.000.
Kemudian Rp50.000.
Lalu Rp100.000.
Kalau tidak membawa uang, barang mereka disembunyikan atau diambil.
Pernah buku tugas Laras dibuang ke tempat sampah toilet.
Pernah Siska dikunci beberapa menit di ruang penyimpanan alat olahraga bersama Laras dan Bimo.
Salah satu anak merekam dari luar ketika mereka panik dan mengetuk pintu.
Video itulah yang dipakai untuk menakut-nakuti mereka.
“Mereka bilang kalau dikirim ke grup, semua orang bakal bilang kami cengeng,” kata Siska.
Bu Dewi menutup mulut dengan tangannya.
Bukan karena video itu berbahaya dengan sendirinya.
Bagi orang dewasa mungkin hanya terlihat seperti tiga anak ketakutan.
Tetapi pada usia tiga belas tahun, ancaman dipermalukan di depan satu angkatan bisa terasa seperti akhir dunia.
Laras kemudian mengatakan bahwa mereka pernah mencoba menghindari para pelaku dengan tetap berada di perpustakaan saat istirahat.
Mereka menunggu di dekat ruang guru.
Mereka bahkan pulang lewat gerbang depan bersama banyak murid.
Tidak berhasil.
Arga tahu jadwal mereka.
Akhirnya Laras menemukan cara lain.
Setelah absensi pagi, mereka keluar melalui pagar samping dekat bangunan yang sedang direnovasi.
Rumah kami cukup dekat.
Mereka bersembunyi sampai merasa aman untuk kembali saat jam berikutnya, atau terkadang sampai hampir jam pulang.
Aku menatap Laras.
“Berapa kali?”
“Empat kali.”
Bu Ratna mungkin melihat tiga di antaranya.
Hari itu aku tidak membawa anak-anak kembali ke kelas sendirian.
Kami menghubungi sekolah lebih dulu.
Wali kelas Laras, Bu Lilis, terdengar kaget.
Dia mengatakan absensi Laras tidak menunjukkan masalah karena absensi utama dilakukan pada pagi hari.
Aku menjelaskan bahwa itulah justru masalahnya.
Anak-anak datang.
Dicatat hadir.
Kemudian keluar lagi.
Bu Lilis meminta kami datang.
Aku mengatakan kami akan datang bersama orang tua anak-anak.
Sebelum berangkat, aku meminta Laras meneruskan tangkapan layar percakapan ke ponselku dan ke ponsel Bu Dewi.
Tidak ada penyadapan.
Tidak ada membongkar akun orang lain.
Kami hanya menyimpan apa yang memang sudah ada di ponsel anak kami.
Laras melihatku melakukannya.
“Ma.”
“Apa?”
“Jangan kirim ke siapa-siapa sembarangan.”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Mama tidak akan mempermalukan kamu untuk membuktikan kamu dipermalukan.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, bahunya sedikit turun.
Kami tiba di sekolah menjelang tengah hari.
Bangunan SMP itu selama ini selalu terlihat biasa bagiku.
Gerbang depan.
Pos satpam.
Lapangan upacara.
Deretan sepeda motor guru.
Hari itu aku melihat semuanya berbeda.
Aku melihat pintu-pintu yang anakku anggap tidak cukup aman untuk meminta bantuan.
Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, wali kelas, dan guru BK menemui kami di sebuah ruang rapat kecil.
Aku sengaja meminta anak-anak tidak langsung ditanya bersama-sama.
Kami menjelaskan apa yang sudah kami ketahui terlebih dahulu.
Wakil kepala sekolah, Pak Heru, beberapa kali mencatat.
Ketika sampai pada bagian pagar samping, ekspresinya berubah.
“Tidak mungkin siswa bisa keluar dari sana.”
Bimo berkata pelan, “Bisa, Pak.”
Pak Heru menatapnya.
“Pagar itu seharusnya dikunci.”
“Kadang terbuka kalau pekerja bangunan keluar masuk.”
Ruangan hening.
Pak Heru tidak membantah lagi.
Bu Lilis meminta melihat pesan.
Aku menunjukkan tangkapan layarnya.
Guru BK bertanya kepada anak-anak apakah ada pesan lain.
Ada beberapa.
Tidak semuanya berupa ancaman terang-terangan.
Justru sebagian besar cukup samar.
“Jangan lupa titipannya.”
“Besok jangan bikin susah.”
“Kalian tahu akibatnya kalau pelit.”
Kalau dibaca tanpa konteks, mungkin mudah dianggap bercanda.
Kalau dibaca setelah tiga anak menjelaskan pola yang sama, artinya berbeda.
Aku bertanya, “Apakah sebelumnya pernah ada laporan soal Arga?”
Pak Heru dan guru BK saling melihat.
Itu cukup untuk menjawab sebelum mereka bicara.
Guru BK berkata hati-hati, “Ada beberapa konflik dengan siswa lain.”
“Konflik seperti apa?”
“Barang disembunyikan. Ejekan.”
“Permintaan uang?”
“Kami belum menerima laporan yang jelas soal itu.”
Bu Dewi langsung menyela.
“Kalau tiga anak sekarang bicara, apakah itu sudah cukup jelas?”
Pak Heru mengangkat tangan.
“Bu, kami tidak bilang tidak percaya. Kami harus memeriksa.”
Aku berkata, “Silakan periksa. Saya juga tidak meminta Bapak menghukum anak hanya berdasarkan ucapan kami. Tapi tiga anak ini jangan dipertemukan dengan mereka sebelum ada pengamanan.”
Kali ini jawabannya cepat.
“Baik.”
Kami juga meminta sekolah memeriksa akses pagar samping hari itu juga.
Sekolah setuju.
Sebelum kami pulang, Pak Heru mengatakan orang tua Arga akan dipanggil.
Aku mengira itu akan menjadi bagian paling sulit.
Ternyata bukan.
Sore harinya, saat aku baru menyiapkan teh untuk Laras, ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal.
“Halo?”
“Dengan Bu Nadia?”
“Iya.”
“Saya ibunya Arga.”
Aku menatap Laras yang sedang duduk di sofa.
Aku pergi ke dapur agar pembicaraan tidak langsung didengarnya.
“Ya, Bu.”
Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Bu Rini.
Nada suaranya sopan.
Sangat sopan.
“Saya baru dapat kabar dari sekolah. Sepertinya ada salah paham antara anak-anak.”
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan.
“Namanya anak remaja kadang bercandanya kelewatan.”
“Meminta uang beberapa kali itu bercanda?”
“Arga bilang mereka saling pinjam.”
“Anak saya tidak merasa meminjamkan.”
Hening sebentar.
“Kalau begitu mungkin lebih baik kita orang tua selesaikan baik-baik.”
“Saya juga mau diselesaikan baik-baik.”
“Nah. Jadi tidak usah dibesar-besarkan.”
Kalimat itu membuatku menarik kursi dan duduk.
“Apa maksud Ibu dengan dibesar-besarkan?”
“Arga tahun depan sudah kelas sembilan. Kalau masalah kecil sampai masuk catatan sekolah, nanti kasihan juga.”
Aku memandangi cangkir teh di meja.
Di rumahku, anakku sampai harus bersembunyi pada jam sekolah.
Tetapi orang di ujung telepon berbicara tentang catatan sekolah anaknya.
Bu Rini melanjutkan.
“Kalau memang ada uang yang diambil, kami ganti.”
Aku hampir menjawab cepat.
Lalu aku teringat Laras.
Empat kali kabur dari sekolah.
Makan siang yang tidak dimakan.
Wajahnya saat aku menyebut Bu Ratna.
“Bu Rini.”
“Iya?”
“Saya tidak sedang menagih uang.”
“Lalu apa?”
“Saya ingin sekolah tahu persis apa yang terjadi dan memastikan ini berhenti.”
Nada suaranya berubah sedikit.
“Bu Nadia, semua orang di sekolah saling kenal. Jangan sampai anak-anak nanti jadi tidak nyaman karena orang tua ikut terlalu jauh.”
Aku menahan napas.
“Saya justru baru tahu mereka sudah sangat tidak nyaman sampai kabur dari sekolah.”
Bu Rini tidak menjawab beberapa detik.
Kemudian dia berkata, “Saya harap Ibu bisa melihat dari dua sisi.”
“Saya akan melihat dua sisi kalau dua sisinya dibicarakan dengan jujur.”
Aku mengakhiri telepon tanpa berdebat lebih lama.
Saat kembali ke ruang tengah, Laras menatapku.
“Ibunya Arga?”
Aku mengangguk.
“Marah?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Dia bilang mungkin cuma salah paham.”
Laras tertawa kecil, getir.
“Itu yang selalu mereka bilang.”
Aku duduk di sebelahnya.
“Siapa?”
“Orang dewasa.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada semua pesan WhatsApp yang kubaca pagi tadi.
“Pernah ada orang dewasa lain bilang begitu?”
Laras ragu.
Kemudian mengangguk.
“Tiga minggu lalu aku pernah bilang ke guru piket kalau Arga ambil uang Bimo.”
Aku menatapnya.
“Terus?”
“Beliau manggil Arga.”
“Lalu?”
“Arga bilang Bimo memang punya utang jajan.”
“Bimo bilang apa?”
“Dia takut. Jadi dia bilang iya.”
Aku bisa membayangkan situasinya.
Satu anak yang sudah takut.
Satu anak yang lebih tua menyangkal.
Seorang guru yang harus menangani puluhan masalah lain.
Kasus selesai dalam lima menit.
Masalah tidak selesai.
Aku menatap putriku.
“Mama minta maaf.”
Laras langsung menggeleng.
“Bukan salah Mama.”
“Mama bukan minta maaf karena Arga.”
Aku menarik napas.
“Mama minta maaf karena kamu sampai berpikir cerita ke Mama cuma akan menambah beban Mama.”
Mata Laras memerah lagi.
Aku tidak memberinya ceramah.
Aku hanya duduk.
Setelah beberapa saat dia menyandarkan kepala ke bahuku.
Malam itu untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, dia menghabiskan makan malamnya.
Hari Senin kami kembali ke sekolah.
Selama akhir pekan, sekolah sudah mewawancarai beberapa siswa lain.
Aku tidak tahu isi semua pembicaraan mereka.
Aku juga tidak perlu tahu.
Yang penting, ternyata bukan hanya Laras, Bimo, dan Siska.
Ada dua anak lain yang mengakui pernah dimintai uang.
Satu di antaranya tidak pernah membayar tetapi beberapa kali kehilangan alat tulis.
Sekolah juga memeriksa pagar samping.
Benar bahwa akses itu beberapa kali tidak terkunci karena pekerjaan renovasi.
Mulai Senin, pekerja tidak lagi menggunakan akses itu tanpa petugas sekolah.
Satpam mencatat keluar masuk siswa pada jam pelajaran.
Arga dan dua temannya dipisahkan sementara dari beberapa kegiatan bersama sambil sekolah menyelesaikan pemeriksaan internal dan berbicara dengan orang tua mereka.
Aku tidak tahu apakah keputusan akhirnya sempurna.
Aku bahkan tidak yakin ada keputusan yang bisa menghapus satu bulan ketakutan anak-anak.
Tetapi kali ini masalahnya tidak lagi dibungkus sebagai “cuma bercanda”.
Pada pertemuan orang tua berikutnya, Bu Rini datang.
Kami duduk di ruangan yang sama.
Ia terlihat lebih lelah daripada saat berbicara lewat telepon.
Arga juga ada di sana bersama ayahnya.
Ia bukan monster.
Itu justru membuat semuanya terasa lebih nyata.
Dia seorang anak laki-laki lima belas tahun dengan rambut dipotong pendek dan wajah yang terus menunduk.
Ketika Pak Heru menjelaskan beberapa anak memberikan keterangan yang serupa, ayah Arga terlihat marah.
Bukan kepada kami.
Kepada putranya.
Namun Bu Rini masih mencoba mencari penjelasan.
“Arga bilang awalnya hanya minta uang jajan.”
Guru BK berkata, “Masalahnya bukan jumlah uang pertama. Masalahnya permintaan itu berulang dan anak-anak merasa tidak bisa menolak.”
Ayah Arga menoleh.
“Kamu ancam mereka pakai video?”
Arga tidak menjawab.
Ayahnya mengulang.
“Jawab.”
“Iya.”
Suara Arga hampir tidak terdengar.
Bu Rini memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya aku melihat ekspresinya berubah.
Bukan karena catatan sekolah.
Bukan karena masa depan kelas sembilan.
Ia memandang anaknya seolah baru menyadari bahwa pembelaan yang ia bangun beberapa hari terakhir tidak lagi bisa berdiri.
“Ada uang yang kamu ambil?”
Arga mengangguk.
“Berapa?”
“Enggak tahu.”
“Coba ingat.”
Ia tetap menunduk.
“Sekitar dua jutaan dari semua anak.”
Tidak ada seorang pun berteriak.
Pak Heru menjelaskan bahwa uang yang dapat diidentifikasi akan dikembalikan melalui orang tua dan sekolah akan menangani sanksi pendidikan sesuai aturan internal.
Aku tidak ikut menentukan hukuman Arga.
Itu bukan tugasku.
Aku hanya meminta satu hal.
“Saya tidak ingin Laras diminta berdamai langsung hari ini.”
Bu Rini menatapku.
Aku melanjutkan, “Kalau nanti anak-anak siap bicara, silakan melalui guru BK. Tapi jangan minta mereka berjabat tangan sekarang hanya supaya masalah kelihatan selesai.”
Guru BK mengangguk.
“Setuju.”
Bu Rini tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya diam.
Dua minggu berikutnya tidak langsung mudah.
Laras kembali sekolah setiap hari, tetapi pada tiga pagi pertama dia sakit perut sebelum berangkat.
Aku tidak menyebutnya malas.
Aku juga tidak mengizinkannya kembali bersembunyi di rumah.
Kami membuat cara yang sederhana.
Setiap pagi dia mengirim satu pesan setelah tiba di kelas.
Saat jam makan siang, kalau dia merasa tidak aman, dia boleh menghubungi wali kelas atau guru BK.
Aku tidak meminta laporan setiap sepuluh menit.
Aku tidak ingin mengganti ketakutannya terhadap Arga dengan ketakutan bahwa ibunya mengawasi setiap langkah.
Bimo membutuhkan waktu lebih lama.
Tantenya mengatakan dia sempat meminta pindah sekolah.
Siska beberapa kali ditemani ibunya sampai gerbang.
Tidak semuanya pulih bersamaan.
Begitu juga persahabatan mereka.
Setelah keadaan mulai tenang, justru muncul persoalan lain yang tidak kuduga.
Laras marah kepadaku.
Suatu malam dia berdiri di dapur saat aku mencuci piring.
“Ma.”
“Hm?”
“Mama masih percaya aku?”
Aku mematikan keran.
“Kenapa tanya begitu?”
“Karena aku bohong.”
Aku mengeringkan tangan.
“Iya. Kamu bohong.”
Wajahnya langsung berubah.
Aku melanjutkan sebelum dia salah menangkap maksudku.
“Dan itu masalah.”
Dia menunduk.
“Tapi Mama percaya kamu bisa memperbaikinya.”
“Caranya?”
“Kita mulai dari uang yang kamu ambil.”
Laras menatapku.
“Aku bakal ganti.”
“Dengan apa?”
“Uang tabunganku.”
Aku menggeleng.
“Bukan itu.”
Dia bingung.
Aku tidak ingin membuat anak tiga belas tahun membayar delapan ratus ribu kepadaku seolah kami sedang menyelesaikan transaksi.
Masalah sebenarnya bukan nominal itu.
Masalahnya dia merasa berhak mengambil diam-diam karena sedang terdesak dan tidak tahu cara meminta bantuan.
“Kamu akan ganti sebagian pelan-pelan dari uang saku tambahan yang biasanya Mama kasih kalau kamu membantu pekerjaan tertentu. Bukan uang makan sekolah.”
Laras mengangguk.
“Terus?”
“Kalau butuh uang karena ada masalah, bilang.”
“Kalau aku takut?”
“Bilang kamu takut.”
“Kalau Mama lagi capek?”
Aku menatapnya.
“Bilang juga.”
Dia diam sebentar.
Kemudian bertanya, “Mama enggak bakal marah?”
“Mungkin Mama bisa marah.”
Laras mengangkat alis.
Aku tersenyum tipis.
“Mama manusia.”
Dia akhirnya tertawa kecil.
“Tapi Mama lebih pilih marah karena kamu cerita daripada tenang karena kamu bohong.”
Itu menjadi aturan baru kami.
Bukan aturan yang tertulis.
Tidak ada kalimat besar yang ditempel di kulkas.
Hanya kebiasaan kecil.
Kalau ada masalah, kami menyebut masalahnya sebelum mencoba menyelesaikannya sendiri.
Sebulan setelah kejadian itu, Bu Rini menghubungiku lagi.
Kali ini melalui pesan.
Ia menulis bahwa Arga sedang mengikuti konseling sekolah dan sementara tidak diperbolehkan memegang uang saku tanpa pengawasan orang tuanya.
Ia juga mengatakan uang Laras akan dikembalikan.
Pada bagian akhir, ia menulis:
Saya minta maaf karena waktu itu lebih memikirkan bagaimana masalah ini memengaruhi Arga daripada bagaimana perbuatannya memengaruhi anak Ibu.
Aku membaca pesan itu lama.
Aku tidak langsung merasa semuanya selesai.
Permintaan maaf tidak mengembalikan hari-hari ketika Laras duduk lapar di kelas.
Tidak menghapus ketakutannya.
Tidak menghapus kebohongannya kepadaku.
Namun aku membalas.
Terima kasih sudah mengatakan itu. Saya harap semua anak belajar sesuatu dari kejadian ini.
Hanya itu.
Aku tidak perlu menjadi teman Bu Rini.
Aku juga tidak perlu membencinya selamanya.
Beberapa minggu kemudian, uang yang bisa diidentifikasi dari beberapa anak dikembalikan melalui sekolah.
Aku menerima bagian Laras dan langsung menyimpannya kembali di amplop belanja.
Ketika Laras melihatku melakukannya, dia berkata, “Berarti aku enggak perlu ganti lagi?”
Aku menatapnya.
“Uang yang hilang sudah kembali.”
Wajahnya langsung cerah.
“Tapi?”
Aku tertawa.
“Tapi kesepakatan kita soal jujur tetap berlaku.”
Dia mendengus.
“Kirain bebas.”
“Enak saja.”
Dua bulan setelah pagi ketika aku bersembunyi di bawah ranjang, Bu Ratna kembali memanggilku dari seberang jalan.
Aku sedang menyiram dua pot tanaman di dekat pagar.
“Nadia.”
“Iya, Bu?”
“Sekarang Laras enggak pernah pulang pagi lagi.”
Aku tersenyum.
“Syukurlah.”
Bu Ratna mendekat sedikit.
“Saya sempat takut waktu itu saya terlalu ikut campur.”
“Kalau Ibu diam, mungkin saya baru tahu jauh lebih lama.”
Ia mengangguk.
“Ada apa sebenarnya?”
Aku tidak menceritakan semuanya.
“Itu masalah di sekolah. Sudah ditangani.”
Bu Ratna tidak bertanya lagi.
Aku berterima kasih kepadanya.
Sore itu Laras pulang sekitar pukul tiga.
Dia membuka pagar, masuk sambil mengeluh karena tugas matematika terlalu banyak.
Aku berada di meja makan, menyelesaikan pekerjaan kantor dari laptop.
Tasnya dilempar ke kursi.
“Ma, lapar.”
“Ada pisang goreng.”
Dia mengambil dua.
Kemudian berhenti di depan lemari tempat amplop uang biasa kusimpan.
“Kok sekarang dikunci?”
Aku menunjuk kunci kecil yang tergantung di gantungan dekat meja.
“Bukan karena Mama takut sama kamu.”
“Terus?”
“Karena uang rumah seharusnya memang disimpan lebih rapi. Mama juga belajar.”
Laras mengangguk seolah itu masuk akal.
Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari saku rok.
Kunci rumah.
Dulu kunci itu selalu dia simpan sendiri di saku kecil dalam tasnya.
Kunci yang dipakainya ketika diam-diam membawa dua temannya pulang.
Dia meletakkannya di atas meja.
“Kenapa?”
“Besok aku mau ganti tas. Takut lupa pindahin.”
“Taruh saja di gantungan.”
Laras berdiri di sana sebentar.
Lalu menggantung kuncinya tepat di sebelah kunciku.
Dua kunci rumah berdampingan.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Besok pagi kami akan mengambilnya lagi.
Dia akan pergi sekolah.
Aku akan pergi kerja.
Pintu yang sama akan dikunci dari luar seperti biasanya.
Bedanya, sekarang tidak ada satu pun dari kami yang perlu berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi di baliknya.
Menurutmu, apakah Nadia benar karena tetap menuntut sekolah menangani masalah itu meski orang tua Arga ingin menyelesaikannya secara pribadi?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
