DI HARI PERTUNANGANKU DIBATALKAN, SEORANG WANITA ASING MELETAKKAN KUNCI BRANKAS DI HADAPANKU
Pada hari tunangannya secara terbuka memilih wanita lain, Alya sedang berdiri di belakang meja kasir sebuah toko roti kecil dekat kawasan asrama mahasiswa.
Ponsel di saku celemeknya terus bergetar.
Baru setelah getaran kelima, Alya mengeringkan tangannya lalu membuka layar ponsel.
Pesan itu berasal dari Faris.

— Alya, sebaiknya pertunangan kita berakhir sampai di sini. Ibu sudah memilih seseorang yang lebih cocok untukku. Aku tidak ingin terus melawan keluargaku.
Alya selesai membacanya.
Dia tidak menangis.
Dia juga tidak bertanya mengapa.
Sebab tepat di bawah pesan itu, muncul sebuah foto yang baru saja diunggah Faris ke media sosial.
Faris mengenakan kemeja putih dan berdiri di samping seorang wanita cantik dalam sebuah pesta mewah.
Wanita itu menggandeng lengannya.
Di jari manisnya bahkan sudah terpasang sebuah cincin berlian.
Keterangan foto itu hanya satu kalimat.
“Akhirnya kembali ke tempat yang seharusnya.”
Alya menatap layar selama beberapa detik, lalu mematikan ponselnya.
— Nona Alya.
Suara seorang wanita terdengar dari depan meja kasir.
Alya mengangkat kepala.
Di hadapannya berdiri seorang wanita berusia sekitar lima puluhan, mengenakan kebaya berwarna gelap yang terlihat anggun.
Di sampingnya ada seorang pria muda yang membawa tas dokumen.
Alya mengira mereka pelanggan.
— Ibu ingin membeli roti apa?
Wanita itu tidak menjawab.
Dia hanya menatap Alya cukup lama.
Begitu lama hingga Alya mulai merasa tidak nyaman.
Kemudian wanita itu meletakkan sebuah kotak kayu kecil di atas meja.
— Saya tidak datang untuk membeli roti.
— Kalau begitu, Ibu mencari siapa?
— Kamu.
Alya mengernyit.
Wanita itu membuka kotak kayu tersebut.
Di dalamnya tidak ada uang.
Tidak ada pula perhiasan.
Hanya sebuah kunci kuningan tua dan selembar foto yang salah satu sudutnya hangus terbakar.
Dalam foto itu terlihat seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun sedang memeluk seekor kucing putih.
Begitu melihatnya, Alya membeku.
Di pergelangan tangan anak perempuan itu terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit.
Secara refleks Alya menarik lengan bajunya ke bawah.
Namun sudah terlambat.
Wanita itu telah melihatnya.
— Benar-benar kamu.
Alya mundur satu langkah.
— Siapa Ibu sebenarnya?
Bibir wanita itu sedikit bergetar.
— Nama saya Salma. Dahulu saya bekerja sebagai pengurus rumah tangga keluarga kamu.
Alya tertawa kecil.
— Keluarga saya berjualan sarapan di pasar. Ayah dan ibu saya meninggal dalam kecelakaan enam tahun lalu. Keluarga saya tidak pernah punya pengurus rumah tangga.
— Mereka adalah orang tua angkatmu.
Senyum di wajah Alya seketika menghilang.
Pria muda di samping Salma segera mengeluarkan setumpuk dokumen.
Namun Salma belum menyerahkannya kepada Alya.
Dia hanya berkata pelan,
— Dua puluh tahun lalu, sebuah rumah besar terbakar. Semua orang mengatakan seluruh keluarga pemilik rumah tewas dalam kebakaran itu. Tetapi sebenarnya ada seorang anak kecil yang menghilang sebelum api membesar.
Ujung jari Alya mulai terasa dingin.
— Ibu sedang menceritakan apa?
— Kisahmu.
Alya menatapnya.
— Saya tidak punya uang.
Salma tertegun.
— Kalau ini penipuan, Ibu salah memilih orang. Uang kuliah semester ini saja belum lunas. Saldo rekening saya hanya cukup untuk makan sekitar sepuluh hari lagi.
Mata Salma tiba-tiba memerah.
— Saya tahu.
Dia mendorong dokumen itu ke arah Alya.
— Saya juga tahu ayah angkatmu bernama Rahmat dan ibu angkatmu bernama Sari. Mereka menemukanmu di sebuah halte bus pada malam hujan. Saat itu demammu sangat tinggi. Kamu hanya mengenakan gaun kuning dan sebuah kalung perak.
Wajah Alya langsung pucat.
Tidak ada orang luar yang mengetahui hal itu.
Sebelum meninggal, ibu angkatnya memang pernah memberikan kalung tersebut kepadanya.
Sekarang kalung itu masih tersimpan di laci kamar asramanya.
— Bagaimana Ibu bisa tahu?
Salma menatapnya dalam-dalam.
— Karena saya sendiri yang memasangkan kalung itu di lehermu.
Suasana di toko roti mendadak terasa sunyi.
Suara kendaraan di luar seolah menjauh.
Alya perlahan membuka dokumen tersebut.
Itu bukan hasil tes DNA.
Melainkan dokumen mengenai sebuah dana perwalian yang didirikan dua puluh tahun lalu.
Penerima manfaat tunggalnya adalah seorang anak perempuan.
Namanya disamarkan.
Namun tanggal lahirnya…
sama persis dengan tanggal lahir Alya.
— Apa ini?
— Harta yang ditinggalkan orang tua kandungmu.
Alya tertawa kecil karena semuanya terasa terlalu tidak masuk akal.
— Berapa banyak?
Salma terdiam beberapa detik.
— Masalahnya bukan berapa nilainya.
— Lalu?
— Masalahnya adalah siapa yang selama ini menguasainya.
Salma mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan sebuah foto.
Begitu melihat pria dalam foto itu, Alya langsung membeku.
Dia mengenalnya.
Bukan sekadar mengenal.
Tiga bulan lalu, Alya pernah duduk berhadapan dengannya di sebuah restoran mewah.
Pria itu adalah ayah Faris.
Orang yang pernah meletakkan sebuah amplop berisi uang di hadapan Alya dan berkata dengan dingin,
“Ambil uang ini dan tinggalkan putraku. Gadis tanpa ayah dan ibu yang hidup dari beasiswa serta pekerjaan paruh waktu sepertimu tidak akan pernah pantas masuk ke keluarga kami.”
Saat itu Alya mengembalikan amplop tersebut.
Dia masih mengingat jelas tatapan merendahkan pria itu.
— Kenapa dia?
Salma mengepalkan tangannya.
— Setelah kebakaran itu, dialah yang menjadi pengelola sementara seluruh aset keluargamu.
Jantung Alya berdegup semakin keras.
Sebuah kemungkinan mengerikan perlahan muncul di benaknya.
— Maksud Ibu…
— Selama dua puluh tahun, semua orang mengira pewaris keluarga itu sudah meninggal.
Salma menunjuk kunci kuningan di atas meja.
— Tetapi ayah kandungmu telah mempersiapkan sesuatu jika suatu hari terjadi masalah. Sebuah brankas. Dan hanya pewaris sah yang berhak membukanya.
Alya menatap kunci itu.
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini pesan datang dari seorang teman.
“Alya! Cepat lihat siaran langsung pertunangan Faris!”
Alya membuka tautan tersebut.
Di layar muncul sebuah hotel mewah.
Faris sedang berdiri di samping wanita yang ada dalam foto sebelumnya.
Orang tua dari kedua belah pihak hadir di sana.
Pembawa acara dengan gembira mengumumkan bahwa pernikahan mereka akan menandai kerja sama antara dua kelompok bisnis besar.
Alya hendak mematikan siaran tersebut.
Namun Salma tiba-tiba berkata,
— Lihat kalung wanita itu.
Tangan Alya berhenti.
Dia memperbesar gambar.
Di leher wanita itu tergantung sebuah liontin batu hijau berbentuk bunga dengan delapan kelopak.
Wajah Salma seketika pucat.
— Tidak mungkin…
— Ada apa?
Salma dengan tangan gemetar membuka tas dokumennya dan mengeluarkan sebuah foto lama.
Wanita dalam foto itu mengenakan kalung yang sama.
Persis.
Tidak ada satu detail pun yang berbeda.
— Itu milik ibu kandungmu.
Alya langsung menoleh.
Pada saat yang sama, dalam siaran langsung, ayah Faris naik ke atas panggung.
Dia memegang mikrofon dan tersenyum lebar.
— Mulai hari ini, kedua keluarga kita akan resmi bersatu. Setelah pernikahan dilangsungkan, hak kepemilikan atas lahan pusat kota beserta seluruh saham lama akan dialihkan kepada pasangan muda ini.
Kunci di tangan Alya jatuh ke meja.
Salma menatap lurus ke arahnya.
— Mereka bukan hanya merebut tunanganmu.
Suara Salma menjadi serak.
— Mereka sedang bersiap menjual hal terakhir yang masih menjadi milik orang tua kandungmu.
Belum sempat Alya mengatakan apa pun, pintu toko roti tiba-tiba terbuka.
Seorang pria berjas masuk.
Dia melihat sekeliling, lalu segera mengunci pintu dari dalam.
Setelah itu dia membungkuk hormat kepada Alya.
— Nona, mobil sudah siap.
Alya tertegun.
— Mobil apa?
Pria itu meletakkan setumpuk dokumen lain di atas meja.
— Mobil yang akan membawa Anda ke acara pertunangan.
Salma tiba-tiba berdiri.
— Jangan! Sekarang belum waktunya pergi ke sana!
Namun pria itu hanya menatap Alya dengan tenang.
— Jika Nona tidak muncul sebelum penandatanganan dimulai, seluruh aset terakhir peninggalan orang tua Nona akan berpindah kepemilikan malam ini.
Alya menggenggam erat kunci kuningan di telapak tangannya.
Di layar ponsel, Faris sedang tersenyum sambil memasangkan cincin kepada wanita lain.
Sementara ayahnya berdiri di belakang mereka dengan wajah penuh kepuasan.
Tak seorang pun dari mereka tahu bahwa gadis miskin yang baru saja mereka buang…
sedang memegang sebuah kunci yang bisa mengubah pesta pertunangan itu menjadi mimpi buruk.
Alya melepaskan celemeknya.
— Antar saya ke sana.
Wajah Salma seketika pucat.
— Alya, kamu belum mengetahui kebenaran yang paling mengerikan.
Alya menghentikan langkahnya.
— Masih ada apa lagi?
Salma melirik pintu yang telah terkunci, kemudian menurunkan suaranya.
— Kebakaran dua puluh tahun lalu bukanlah kecelakaan.
Salma menelan ludah.
— Dan orang terakhir yang terlihat keluar dari rumah itu sebelum api membesar…
adalah ayah Faris.
BAGIAN 2
Alya menatap Salma tanpa berkedip.
— Ayah Faris?
Salma mengangguk perlahan.
— Namanya tercatat dalam kesaksian lama. Malam itu dia datang menemui ayahmu. Mereka bertengkar mengenai pengelolaan perusahaan dan sebidang tanah yang sekarang nilainya sangat besar. Beberapa jam kemudian, rumah itu terbakar.
— Kalau begitu kenapa dia tidak ditangkap?
— Karena tidak pernah ada bukti bahwa dialah yang menyebabkan kebakaran.
Salma menarik napas.
— Dan ada satu hal lagi. Rekaman kamera keamanan dari malam itu menghilang.
Pria berjas yang sejak tadi berdiri di dekat pintu akhirnya berbicara.
— Nona Alya, kita harus pergi. Acara penandatanganan akan dimulai kurang dari satu jam lagi.
Alya menatap layar ponselnya.
Faris masih tersenyum di samping tunangan barunya.
Beberapa menit lalu, melihat pemandangan itu terasa seperti pisau menusuk dadanya.
Sekarang perasaan itu berubah.
Bukan karena rasa sakitnya hilang.
Melainkan karena Alya sadar ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada pengkhianatan Faris.
— Kita pergi.
Empat puluh menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan hotel tempat pesta pertunangan berlangsung.
Alya turun dengan pakaian yang sama seperti ketika bekerja di toko roti.
Blus sederhana.
Celana panjang.
Sepatu yang bahkan sudah sedikit usang.
Dia tidak punya waktu mengganti pakaian.
Namun ketika memasuki lobi, langkahnya sama sekali tidak ragu.
Salma berjalan di sampingnya.
Pria berjas membawa seluruh dokumen.
Begitu mereka mendekati ballroom, dua petugas keamanan menghadang.
— Maaf, acara pribadi. Mohon tunjukkan undangan.
Alya belum sempat menjawab ketika terdengar suara dari belakang.
— Alya?
Faris berdiri beberapa meter dari mereka.
Dia tampaknya baru keluar untuk menerima telepon.
Wajahnya langsung berubah.
— Kenapa kamu datang?
Alya menatapnya.
— Aku datang untuk menghentikan sesuatu.
Faris menghela napas, lalu mendekat.
— Alya, jangan membuat keributan. Aku tahu kamu terluka, tetapi keputusan kita sudah selesai.
— Keputusan kita?
Alya hampir tertawa.
— Bukankah kamu hanya mengirim tiga kalimat lalu langsung bertunangan dengan orang lain?
Faris menurunkan suara.
— Aku akan menjelaskan nanti.
— Tidak perlu.
Alya hendak berjalan melewatinya.
Faris menangkap pergelangan tangannya.
— Alya!
Salma langsung berkata tegas,
— Lepaskan tangannya.
Faris menatap Salma.
— Anda siapa?
Sebelum Salma menjawab, suara dingin terdengar dari pintu ballroom.
— Apa yang terjadi?
Ayah Faris muncul.
Begitu melihat Alya, wajah pria itu berubah.
Namun perubahan itu hanya berlangsung sepersekian detik.
— Kamu?
Alya mengeluarkan kunci kuningan.
Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajah ayah Faris benar-benar runtuh.
Tatapannya terkunci pada benda kecil itu.
— Dari mana kamu mendapatkannya?
Alya langsung mengetahui jawabannya.
Dia mengenali kunci tersebut.
— Jadi Paman tahu benda ini?
— Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.
— Kalau tidak tahu, kenapa wajah Paman berubah?
Beberapa tamu mulai memperhatikan.
Ayah Faris segera berkata kepada petugas keamanan,
— Keluarkan mereka.
Namun pria berjas di belakang Alya mengangkat sebuah dokumen.
— Jangan sentuh klien saya. Saya mewakili lembaga yang mengelola dana perwalian keluarga almarhum orang tua Nona Alya.
Suasana mendadak sunyi.
Faris menatap Alya.
— Apa?
Alya sendiri tidak menjawab.
Pengacara itu melanjutkan,
— Penandatanganan pengalihan aset malam ini tidak dapat dilaksanakan.
Ayah Faris membentak,
— Omong kosong!
— Tidak.
Pengacara membuka dokumen.
— Tanah yang hendak dialihkan kepada pasangan yang baru bertunangan ini merupakan bagian dari aset yang hanya Anda kelola sementara. Anda bukan pemilik sahnya.
Bisik-bisik terdengar dari para tamu.
Wajah ayah Faris memerah.
— Pewaris keluarga itu sudah meninggal dua puluh tahun lalu!
Salma maju satu langkah.
— Tidak.
Semua mata beralih kepadanya.
Salma menunjuk Alya.
— Pewarisnya masih hidup.
Faris menatap Alya seakan baru pertama kali melihatnya.
— Alya… apa maksud mereka?
Alya tersenyum tipis.
— Aku juga baru mengetahuinya hari ini.
Ayah Faris mundur selangkah.
— Tidak mungkin.
— Kenapa tidak mungkin?
Alya mengangkat kunci kuningan.
— Karena Paman yakin anak perempuan itu ikut meninggal dalam kebakaran?
Pria itu membeku.
Pada saat itulah wanita yang menjadi tunangan baru Faris keluar dari ballroom.
— Faris, semua orang menunggumu…
Dia berhenti ketika melihat Alya.
Alya tidak memandang wajahnya.
Tatapannya jatuh pada kalung batu hijau di leher wanita itu.
— Kalung itu milik siapa?
Wanita tersebut refleks memegang liontinnya.
— Hadiah pertunangan.
— Dari siapa?
Dia menunjuk ayah Faris.
— Paman yang memberikannya.
Semua orang kembali menatap pria itu.
Alya perlahan berjalan mendekat.
— Itu milik ibu kandung saya.
Ayah Faris tiba-tiba berteriak,
— Cukup!
Teriakannya membuat ballroom senyap.
Alya justru semakin yakin.
— Paman takut pada apa?
Pengacara membuka tasnya.
— Sebenarnya, ada satu alasan mengapa kami membawa Nona Alya kemari.
Dia mengeluarkan sebuah kotak logam kecil.
— Brankas yang disebut dalam surat wasiat telah ditemukan dua minggu lalu saat sebuah bangunan lama milik keluarga direnovasi.
Dia meletakkannya di atas meja dekat pintu ballroom.
— Dan sesuai instruksi yang ditinggalkan ayah Nona Alya, brankas ini hanya boleh dibuka menggunakan kunci tersebut.
Tangan Alya mulai bergetar.
Ayah Faris tiba-tiba menerjang maju.
— Jangan buka!
Dua petugas keamanan langsung menahannya.
Alya menatap pria itu.
Kemudian memasukkan kunci ke lubang brankas.
Klik.
Kuncinya cocok.
Di dalam terdapat beberapa dokumen, sebuah buku catatan, dan sebuah perangkat penyimpanan data lama yang terbungkus plastik.
Salma menutup mulutnya.
— Ya Tuhan…
Pengacara mengambil sebuah amplop.
Di bagian depan tertulis:
“Untuk putriku, jika suatu hari kamu berhasil pulang.”
Mata Alya langsung berkaca-kaca.
Namun sebelum dia sempat membuka surat itu, Salma mengambil buku catatan dan membalik beberapa halaman.
Wajahnya mendadak pucat.
— Alya…
— Apa?
Salma menunjukkan satu halaman terakhir.
Di sana terdapat catatan tulisan tangan ayah kandung Alya.
“Jika sesuatu terjadi kepadaku, jangan langsung menyalahkan rekan bisnisku. Cari orang yang paling diuntungkan dari kematianku.”
Di bawah kalimat itu terdapat satu nama.
Alya membacanya.
Lalu tubuhnya membeku.
Bukan nama ayah Faris.
Melainkan nama seseorang yang selama ini dianggap sebagai korban kebakaran.
Nama ibu kandung Alya sendiri.
BAGIAN 3
— Ibu saya?
Suara Alya nyaris tidak terdengar.
Salma juga tampak kebingungan.
— Ini tidak masuk akal.
Ayah Faris yang tadi berusaha mencegah mereka membuka brankas tiba-tiba kehilangan tenaga.
Dia duduk di kursi terdekat.
— Akhirnya…
Alya menoleh tajam.
— Akhirnya apa?
Pria itu menutup wajahnya beberapa detik.
Ketika kembali mengangkat kepala, tatapannya tidak lagi penuh kesombongan.
Hanya kelelahan.
— Aku sudah menunggu hari ketika brankas itu ditemukan.
Faris mendekati ayahnya.
— Ayah, sebenarnya apa yang terjadi?
Pria itu terdiam lama sebelum berkata,
— Dua puluh tahun lalu, perusahaan keluarga Alya hampir runtuh. Ada orang-orang yang menggunakan perusahaan untuk memindahkan uang secara ilegal. Ayah Alya mengetahuinya dan berniat melapor.
Alya menggenggam surat di tangannya.
— Dan ibu saya?
— Ibumu menemukan dokumen-dokumen itu lebih dahulu. Dia takut keluarganya akan hancur. Malam itu, dia memintaku datang untuk membantu membawa dokumen keluar.
— Jadi Paman memang berada di rumah itu?
— Ya.
Seluruh ruangan menjadi sunyi.
— Kami bertengkar. Ayahmu mengira aku terlibat. Aku pergi dengan marah. Tidak lama kemudian, kebakaran terjadi.
Alya menahan napas.
— Ibu saya yang melakukannya?
— Tidak.
Suara lain tiba-tiba terdengar.
Semua orang menoleh.
Seorang pria tua berdiri di antara para tamu.
Dia berjalan perlahan ke depan.
Salma langsung mengenalinya.
— Pak Harun?
Pria itu mengangguk.
— Saya kepala keamanan keluarga mereka waktu itu.
Tangannya gemetar ketika mengeluarkan sebuah amplop dari jas.
— Saya seharusnya bicara sejak dua puluh tahun lalu.
Alya menatapnya.
Pria tua itu menunduk.
— Kebakaran berasal dari ruang arsip. Salah satu staf yang terlibat penggelapan mencoba membakar dokumen agar bukti hilang. Api menyebar terlalu cepat.
— Lalu ibu saya?
— Ibumu kembali masuk.
Mata Alya memerah.
— Untuk apa?
— Mencarimu.
Salma langsung menangis.
Pria tua itu melanjutkan,
— Tetapi kamu sudah dibawa keluar oleh salah seorang pekerja rumah tangga. Dalam kekacauan malam itu, orang tersebut membawamu ke tempat aman. Sayangnya dia mengalami kecelakaan dalam perjalanan. Kamu kemudian ditemukan orang tua angkatmu.
Alya merasa lututnya hampir kehilangan tenaga.
Jadi ibunya bukan orang yang menghancurkan keluarga mereka.
Ibunya kembali ke rumah yang terbakar untuk mencarinya.
— Kenapa ayah saya menulis nama ibu?
Pak Harun menjawab,
— Karena sebelum kebakaran, ayahmu sempat curiga pada semua orang. Catatan itu ditulis sebelum dia mengetahui kebenarannya.
Pengacara kemudian memeriksa perangkat penyimpanan dari brankas.
Setelah beberapa menit, sebuah rekaman suara berhasil diputar melalui laptop.
Suara seorang pria terdengar.
Suara ayah kandung Alya.
“Jika Alya suatu hari mendengar rekaman ini, Ayah ingin kamu tahu satu hal. Jangan hidup untuk membalas dendam. Harta bisa kembali, nama keluarga bisa dipulihkan, tetapi waktu tidak akan pernah kembali. Hiduplah dengan baik. Itu sudah cukup bagi Ayah dan Ibu.”
Alya akhirnya menangis.
Bukan tangisan keras.
Air matanya hanya jatuh satu demi satu.
Selama bertahun-tahun dia mengira dirinya adalah anak yang dibuang nasib.
Ternyata pernah ada dua orang yang begitu mencintainya sampai mempersiapkan jalan pulang bahkan ketika mereka mungkin tidak lagi ada.
Beberapa menit kemudian, pihak berwenang yang sebelumnya telah dihubungi pengacara tiba.
Seluruh dokumen pengalihan aset dihentikan.
Kasus lama mengenai penggelapan dan kebakaran juga dibuka kembali berdasarkan bukti yang ditemukan.
Ayah Faris menyerahkan seluruh catatan pengelolaan aset.
Dia memang menyembunyikan banyak hal.
Dia mempertahankan kendali atas aset terlalu lama dan menikmati keuntungan dari posisi tersebut.
Namun bukti awal menunjukkan dia bukan pelaku kebakaran.
Dia tetap harus mempertanggungjawabkan pelanggaran keuangan yang dilakukannya selama bertahun-tahun.
Faris berdiri beberapa langkah dari Alya.
Wajahnya pucat.
Pesta pertunangannya telah berubah menjadi kekacauan.
Akhirnya dia mendekat.
— Alya…
Alya menatapnya.
— Apa?
— Aku minta maaf.
— Untuk bagian yang mana?
Faris tidak mampu menjawab.
Alya tersenyum kecil.
— Karena meninggalkanku ketika mengira aku miskin? Atau karena sekarang kamu tahu aku adalah pewaris aset yang selama ini dikelola keluargamu?
— Bukan begitu.
— Kalau aku tetap Alya yang bekerja di toko roti, apakah kamu akan mengejarku malam ini?
Pertanyaan itu membuat Faris terdiam.
Dan diamnya adalah jawaban paling jujur.
Alya mengangguk.
— Terima kasih.
— Untuk apa?
— Karena kamu mengirim pesan itu hari ini.
Faris tertegun.
— Kalau kamu mengirimnya setahun setelah kami menikah, mungkin hidupku akan jauh lebih rumit.
Alya berbalik.
Faris memanggilnya.
— Kita benar-benar tidak bisa memulai lagi?
Alya berhenti sebentar.
Tanpa menoleh, dia menjawab,
— Aku tidak kehilanganmu hari ini, Faris. Aku hanya akhirnya mengetahui bahwa orang yang kucintai ternyata tidak pernah cukup berani untuk memilihku.
Lalu Alya pergi.
Enam bulan kemudian, penyelidikan atas aset keluarga selesai.
Sebagian besar kepemilikan yang seharusnya menjadi milik Alya berhasil dikembalikan.
Nilainya jauh lebih besar daripada yang pernah dia bayangkan.
Namun hal pertama yang Alya lakukan bukan membeli rumah mewah.
Dia kembali ke pasar tempat orang tua angkatnya dahulu berjualan.
Kios kecil mereka sudah lama kosong.
Alya berdiri di depannya bersama Salma.
— Saya ingin membelinya kembali.
Salma tersenyum.
— Untuk apa?
— Untuk mengingat dari mana saya dibesarkan.
Alya kemudian mendirikan sebuah yayasan menggunakan nama kedua ibunya—ibu kandung dan ibu angkat.
Yayasan itu memberikan beasiswa kepada anak-anak yang kehilangan orang tua dan membantu pedagang kecil membiayai pendidikan anak mereka.
Toko roti tempat Alya dulu bekerja juga tidak dilupakan.
Pemiliknya hampir menangis ketika Alya datang.
— Kamu mau membeli toko ini?
Alya tertawa.
— Tidak. Saya mau berinvestasi.
— Kenapa?
— Karena ketika saya tidak punya siapa-siapa, tempat ini memberi saya pekerjaan.
Beberapa tahun kemudian, toko kecil tersebut berkembang menjadi jaringan kedai roti dan kopi yang mempekerjakan ratusan orang.
Alya menyelesaikan kuliahnya.
Dia juga mulai mempelajari bisnis keluarga.
Bukan untuk menjadi seseorang yang ditakuti.
Tetapi untuk memastikan tidak ada lagi orang yang menggunakan nama keluarganya untuk mengambil hak orang lain.
Suatu sore, setelah menghadiri acara pemberian beasiswa, Alya mengunjungi makam orang tua angkatnya.
Dia membawa bunga.
Kemudian meletakkan dua foto di antara makam mereka.
Foto orang tua kandungnya.
— Ayah, Ibu…
Alya tersenyum sambil mengusap air mata.
— Ternyata saya punya empat orang tua.
Angin sore berembus lembut.
— Dua orang memberikan saya kehidupan.
Dia memandang makam di depannya.
— Dan dua orang lainnya mengajari saya bagaimana menjalani kehidupan itu.
Salma menunggu beberapa meter di belakang.
Di tangannya ada sebuah kotak kecil.
Ketika Alya kembali, Salma menyerahkannya.
— Ada satu benda yang seharusnya menjadi milikmu.
Alya membukanya.
Di dalamnya terdapat kalung batu hijau berbentuk bunga delapan kelopak.
Kalung milik ibu kandungnya.
Barang itu telah dikembalikan setelah penyelidikan selesai.
Alya menyentuh liontinnya perlahan.
— Cantik sekali.
Salma membantu memasangkannya di leher Alya.
— Ibumu selalu mengatakan dia akan memberikannya kepadamu ketika kamu dewasa.
Alya menunduk melihat liontin itu.
Kali ini dia tidak menangis.
Dia tersenyum.
Pada malam yang sama, Alya menerima sebuah pesan dari nomor yang sudah lama tidak menghubunginya.
Faris.
“Aku dengar acara beasiswamu berhasil. Selamat. Aku harap kamu bahagia.”
Alya membaca pesan itu.
Dulu, hanya melihat namanya saja bisa membuat jantungnya berdebar.
Sekarang tidak lagi.
Dia tidak membalas.
Bukan karena membenci.
Melainkan karena beberapa orang memang hanya ditakdirkan menjadi bagian dari masa lalu.
Alya menghapus pesan tersebut lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Di luar gedung, puluhan penerima beasiswa sedang berfoto bersama keluarga mereka.
Seorang anak perempuan berlari menghampirinya.
— Kak Alya!
— Ya?
— Kalau suatu hari aku sukses, aku juga boleh membantu orang lain seperti Kakak?
Alya berjongkok agar sejajar dengannya.
— Tentu saja.
— Kenapa Kakak membantu kami?
Alya terdiam sesaat.
Lalu tersenyum.
— Karena dulu ada orang-orang yang menolong Kakak ketika Kakak tidak punya apa-apa.
Anak itu tersenyum lebar lalu berlari kembali kepada ibunya.
Alya berdiri.
Tangannya menyentuh liontin milik ibu kandungnya.
Dulu dia pernah berpikir hari ketika Faris meninggalkannya adalah hari terburuk dalam hidupnya.
Ternyata bukan.
Hari itu justru menjadi pintu menuju kehidupan yang selama dua puluh tahun menunggunya pulang.
Dia kehilangan seorang pria yang tidak cukup berani mempertahankannya.
Tetapi pada hari yang sama, dia menemukan keluarganya.
Menemukan namanya.
Menemukan masa lalunya.
Dan yang paling penting…
menemukan dirinya sendiri.
Alya menatap langit senja dan tersenyum.
Untuk pertama kalinya, dia tidak lagi merasa sebagai gadis yang ditinggalkan.
Dia adalah seorang anak yang pernah dicintai dengan sepenuh hati.
Seorang perempuan yang pernah jatuh, tetapi memilih berdiri kembali.
Dan seorang manusia yang akhirnya memahami bahwa warisan terbesar dari orang tuanya bukanlah tanah, perusahaan, ataupun kekayaan.
Melainkan kesempatan untuk menjalani hidup dengan cara yang tidak akan membuat cinta mereka sia-sia.
Alya melangkah menuju kerumunan anak-anak yang menunggunya.
Tanpa menoleh lagi ke masa lalu.
Karena kali ini, jalan di depannya jauh lebih indah daripada semua yang pernah dia tinggalkan.
