ORANG TUAKU BILANG MAU MENGAJAK NENEK MAKAN SIANG—TIGA JAM KEMUDIAN, PANTI LANSIA MENELEPONKU KARENA MEREKA MENINGGALKANNYA
Orang tuaku mengatakan kepada Nenek Sri Wahyuni bahwa mereka hanya ingin mengajaknya makan siang.
Tiga jam kemudian, sebuah panti lansia di Bogor meneleponku.
“Apakah ini Mas Raka Pratama?” tanya seorang perempuan di seberang telepon. “Nenek Sri mencantumkan nomor Anda sebagai kontak darurat. Koper beliau masih ada di lobi kami, tetapi anggota keluarga yang mengantarnya pergi sebelum proses administrasi selesai.”

Saat itu aku sedang berdiri di dapur apartemenku di Bandung, memegang secangkir kopi yang mendadak tak ingin kusentuh lagi.
“Maksud Ibu… mereka pergi?”
Perempuan itu terdiam sejenak.
“Mereka bilang ingin mengambil beberapa dokumen dari mobil. Tapi setelah itu mereka tidak kembali.”
Dadaku langsung terasa sesak.
Aku menelepon ayahku.
Tidak diangkat.
Aku mencoba lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Lalu aku menelepon ibuku.
Sama saja.
Pesanku di WhatsApp hanya centang dua tanpa balasan.
Aku mengambil kunci mobil dan langsung berangkat menuju Bogor.
Sepanjang perjalanan, kedua tanganku mencengkeram setir begitu kuat sampai buku-buku jariku memutih.
Aku mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Mungkin Ayah mengalami masalah.
Mungkin Ibu sakit.
Mungkin ada keadaan darurat.
Tetapi semakin lama aku mengemudi, semakin sulit bagiku mempercayai semua kemungkinan itu.
Karena ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.
Kalau memang terjadi keadaan darurat…
Kenapa mereka tidak meneleponku?
Dan kenapa mereka meninggalkan seorang perempuan berusia tujuh puluh delapan tahun sendirian bersama sebuah koper?
Ketika akhirnya tiba di panti lansia itu, aku melihat Nenek duduk di sebuah kursi dekat meja resepsionis.
Di samping kakinya ada satu koper cokelat tua.
Sebuah tas belanja berisi obat-obatan diletakkan di atas koper.
Nenek masih mengenakan cardigan abu-abu yang biasa dipakainya kalau pergi ke pengajian atau menghadiri acara keluarga.
Rambut putihnya tersisir rapi.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Aku mengenal ekspresi itu.
Sejak kecil, aku tahu satu hal tentang Nenek Sri.
Kalau dia marah biasa, dia akan bicara.
Kalau dia sangat marah…
dia justru diam.
Aku berjongkok di depannya.
“Nek.”
Dia menatapku cukup lama.
Tidak menangis.
Tidak mengeluh.
Tidak bertanya kenapa anaknya sendiri tega meninggalkannya.
Dia hanya berdiri perlahan, mengambil tas obatnya, lalu berkata,
“Ayo pulang.”
Aku mengambil kopernya.
Kami berjalan keluar tanpa banyak bicara.
Begitu masuk ke mobil, Nenek duduk di kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman.
Aku baru hendak mengambil ponsel.
“Aku telepon Ayah dulu.”
Tangannya langsung menyentuh lenganku.
“Jangan.”
Aku menoleh.
Tatapannya tajam.
“Jangan telepon mereka, Raka.”
“Tapi kita harus tahu apa yang terjadi.”
“Aku sudah tahu.”
Aku terdiam.
Nenek kemudian menatap lurus ke depan.
“Nenek akan memberitahumu harus pergi ke mana.”
“Ke mana?”
“Pertama, kantor notaris.”
Aku mengerutkan kening.
“Notaris?”
“Iya.”
Nada suaranya membuatku tidak bertanya lagi.
Kami meninggalkan area panti.
Sekitar dua puluh menit kemudian, ketika mobil sudah kembali berada di jalan utama, Nenek membuka tas tangannya.
Dia mengeluarkan selembar rekening koran yang dilipat menjadi empat bagian.
“Lihat.”
Aku menerimanya dengan satu tangan.
Ada tiga transaksi yang sudah dilingkari menggunakan pulpen merah.
Rp180 juta.
Rp275 juta.
Rp390 juta.
Semuanya keluar dalam waktu kurang dari enam minggu.
Aku menatap Nenek.
“Ini apa?”
“Uang Nenek.”
“Siapa yang mengambil?”
Dia tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap mengarah ke jalan.
“Ayahmu.”
Aku hampir menginjak rem.
“Ayah?”
“Beberapa bulan lalu, setelah Nenek operasi pinggul, Nenek memberi ayahmu kuasa untuk membantu mengurus rekening dan beberapa pembayaran.”
Aku merasakan sesuatu mulai mengeras di dalam perutku.
“Ayah bilang Nenek mulai sering lupa,” lanjutnya. “Katanya lebih aman kalau dia membantu mengurus semuanya.”
Aku menatap rekening koran itu lagi.
Hampir Rp850 juta.
“Nenek percaya kepadanya?”
“Dia anak Nenek.”
Tiga kata itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada penjelasan panjang apa pun.
“Lalu kemarin,” katanya, “Nenek menemukan rekening koran itu.”
“Nenek tanya Ayah?”
“Tentu.”
“Apa katanya?”
Nenek tersenyum kecil.
Tapi tidak ada sedikit pun kehangatan dalam senyum itu.
“Katanya uang itu dipakai untuk biaya perawatan Nenek.”
Mataku refleks melihat ke kaca spion.
Di kursi belakang hanya ada satu koper tua.
Satu tas obat.
Tidak ada perawat pribadi.
Tidak ada fasilitas khusus.
Tidak ada apa pun yang masuk akal untuk menjelaskan hampir satu miliar rupiah yang hilang dalam enam minggu.
Nenek terkekeh pelan.
“Lucu, kan?”
Aku tidak menjawab.
“Tadi pagi,” lanjutnya, “ibumu bilang kami mau makan siang di restoran yang punya taman bagus.”
Aku semakin memperlambat mobil.
“Mereka malah membawa Nenek ke panti?”
Nenek mengangguk.
“Ibumu bilang kami hanya mau melihat-lihat.”
Dia menarik napas panjang.
“Begitu masuk, mereka memberikan KTP Nenek kepada petugas dan mulai membicarakan kamar.”
“Tanpa persetujuan Nenek?”
“Mereka bilang Nenek sudah tidak cukup sehat untuk tinggal sendiri.”
Aku menggertakkan rahang.
“Lalu?”
“Petugas meminta beberapa dokumen tambahan. Ayahmu bilang dokumennya tertinggal di mobil.”
Aku sudah tahu kelanjutannya.
“Mereka pergi.”
Nenek mengangguk.
“Dan tidak kembali.”
Ponselku tiba-tiba bergetar di konsol tengah.
AYAH.
Aku langsung meraihnya.
Tetapi sebelum sempat mengangkat, tangan Nenek lebih cepat.
Dia membalik ponselku hingga layarnya menghadap ke bawah.
“Jangan.”
“Nek, mungkin kita harus dengar penjelasannya.”
“Tidak.”
Kali ini suaranya berubah.
Bukan suara seorang perempuan tua yang baru saja ditinggalkan keluarganya.
Itu suara perempuan yang selama puluhan tahun mengelola rumah tangga, membantu almarhum suaminya membangun usaha dari nol, membesarkan tiga anak, dan tahu persis kapan seseorang sedang mencoba mempermainkannya.
“Notaris dulu,” katanya.
“Setelah itu?”
“Bank.”
Aku mengangguk perlahan.
“Lalu?”
Nenek menatapku.
“Ada satu tempat lagi.”
“Di mana?”
“Rumah Nenek.”
Aku terdiam.
Rumah itu berada di kawasan lama di Bogor.
Rumah dua lantai yang dibangun almarhum Kakek hampir empat puluh tahun lalu.
Tempat kami selalu berkumpul saat Lebaran.
Tempat aku belajar naik sepeda.
Tempat Nenek masih tinggal sendirian sejak Kakek meninggal.
“Kenapa kita harus ke rumah?”
Untuk pertama kalinya sejak aku menjemputnya, ekspresi Nenek berubah.
Ada ketakutan di matanya.
Bukan ketakutan karena ditinggalkan di panti.
Sesuatu yang jauh lebih besar.
“Karena kalau mereka sudah melakukan apa yang Nenek pikir mereka lakukan…”
Dia berhenti.
Aku menunggu.
“…berarti mereka tidak meninggalkan Nenek di panti hanya karena tidak mau merawat Nenek.”
Nenek memasukkan tangannya ke bagian dalam cardigan.
Dia mengeluarkan sebuah amplop kecil yang sudah menguning.
Tulisan tangan di bagian depan terlihat tua.
Aku mengenali tulisan itu.
Tulisan Kakek.
Hanya ada dua kata:
SERTIFIKAT RUMAH
Aku menatap amplop itu.
“Nenek menyembunyikan ini sebelum mereka menjemput tadi pagi,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena tadi malam Nenek mendengar ayahmu berbicara dengan ibumu di dapur.”
Dadaku mulai berdebar.
“Mereka pikir Nenek sudah tidur.”
“Apa yang mereka bicarakan?”
Nenek tidak langsung menjawab.
Dia membuka amplop itu sedikit, memastikan sesuatu masih berada di dalamnya, lalu menutupnya kembali.
“Mereka membicarakan harga rumah Nenek.”
Aku menoleh cepat.
“Apa?”
“Dan seorang pembeli.”
“Nenek mau menjual rumah?”
“Tidak pernah.”
Aku merasakan tengkukku mulai dingin.
“Jadi kenapa ada pembeli?”
“Itulah yang ingin Nenek ketahui.”
Dia menggenggam amplop itu erat-erat.
“Tadi pagi sebelum mereka datang, Nenek menyembunyikan dokumen asli ini.”
“Untuk apa?”
Nenek menatap lurus ke mataku.
“Untuk melihat apakah setelah meninggalkan Nenek di panti, mereka akan kembali ke rumah dan mencarinya.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Kemudian dia mengeluarkan ponsel lamanya.
Ada notifikasi dari kamera keamanan rumah.
Gerakan terdeteksi — 14.17 WIB.
Nenek menyentuh layar.
Sebuah gambar muncul.
Mobil ayahku terparkir di depan rumahnya.
Waktu pengambilan gambar…
hanya dua puluh tiga menit setelah mereka meninggalkan panti.
Jantungku seperti berhenti sesaat.
Mereka tidak mengalami keadaan darurat.
Mereka tidak tersesat.
Mereka tidak pergi mengambil dokumen dari mobil.
Mereka meninggalkan Nenek di panti…
lalu langsung kembali ke rumahnya.
Nenek mematikan layar ponselnya.
Wajahnya kembali tenang.
“Mereka ingin Nenek keluar dari rumah itu, Raka.”
Aku menatap amplop bertuliskan SERTIFIKAT RUMAH di tangannya.
Tetapi kemudian Nenek mengatakan sesuatu yang membuat semuanya berubah.
“Masalahnya… mereka tidak tahu satu hal.”
“Apa?”
Dia memasukkan amplop itu kembali ke dalam cardigan.
“Rumah itu bukan warisan terbesar yang ditinggalkan kakekmu.”
Aku menoleh kepadanya.
Nenek menatap jalan di depan kami.
“Dan kalau ayahmu sudah mencoba menjual rumah tanpa sepengetahuan Nenek…”
Dia menarik napas perlahan.
“…maka sore ini dia akan mengetahui bahwa selama dua puluh tahun terakhir, ada sesuatu tentang keluarga kita yang tidak pernah dia ketahui.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Apa yang Kakek tinggalkan?”
Nenek hanya berkata,
“Belok kanan di depan.”
“Nek—”
“Kita ke notaris dulu.”
Dia menggenggam tasnya erat-erat.
“Setelah itu, Nenek akan menunjukkan semuanya.”
Dan saat itulah aku sadar…
Perjalanan hari itu bukan tentang membawa seorang nenek yang ditelantarkan kembali ke rumah.
Nenek Sri sudah memiliki rencana.
Dan orang tuaku sama sekali tidak tahu apa yang sedang menunggu mereka.
Kalau kamu ingin tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Kakek, kenapa orang tua Raka begitu ingin menyingkirkan Nenek Sri, dan apa yang terjadi ketika mereka akhirnya bertemu di rumah itu, lanjutkan membaca ceritanya di kolom komentar di bawah.
Aku membelokkan mobil ke kanan sesuai petunjuk Nenek.
Sepanjang perjalanan menuju kantor notaris, pikiranku dipenuhi satu pertanyaan yang sama.
Apa sebenarnya yang disembunyikan Kakek selama dua puluh tahun?
Nenek Sri duduk diam di sebelahku. Kedua tangannya terlipat di atas tas. Wajahnya tampak tenang, tetapi aku tahu ketenangan itu bukan berarti dia tidak takut.
Itu ketenangan seseorang yang sudah terlalu lama memikirkan satu keputusan.
Ketika kami tiba di kantor notaris kecil di pusat Bogor, seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan langsung berdiri dari balik mejanya.
“Bu Sri?”
Nenek mengangguk.
Perempuan itu menghampiri dan memegang kedua tangannya.
“Ya Tuhan, saya sudah mencoba menelepon sejak tadi.”
Aku menatap mereka bergantian.
“Kenapa?”
Nenek menarik napas.
“Raka, kenalkan. Ini Ibu Ratih. Dia notaris keluarga kita sejak zaman kakekmu.”
Ibu Ratih mempersilakan kami masuk ke ruangannya.
Begitu pintu tertutup, Nenek mengeluarkan amplop bertuliskan SERTIFIKAT RUMAH.
“Bu Ratih,” katanya pelan, “saya ingin mencabut semua kuasa yang pernah saya berikan kepada Bima.”
Nama ayahku.
Ibu Ratih tidak tampak terkejut.
Seolah-olah dia sudah menunggu kalimat itu.
“Semua?”
“Semuanya.”
Aku menatap Nenek.
“Termasuk rekening?”
“Termasuk pengurusan tanah, rumah, rekening, perusahaan, semuanya.”
Aku spontan menoleh.
“Perusahaan?”
Nenek menatapku.
“Sebentar lagi kamu akan mengerti.”
Ibu Ratih membuka lemari besi kecil di belakang mejanya.
Dia mengeluarkan map tebal berwarna hitam.
Lalu meletakkannya di depan kami.
“Pak Hendra menitipkan ini kepada saya dua puluh satu tahun lalu,” katanya.
Pak Hendra adalah kakekku.
Aku bahkan belum pernah mendengar tentang map itu.
Ibu Ratih membukanya perlahan.
Di dalamnya ada salinan akta perusahaan, surat kepemilikan tanah, dokumen deposito, dan beberapa berkas lama yang ujungnya mulai menguning.
Aku membaca nama perusahaan yang tertera di halaman paling depan.
PT Arunika Sentosa Abadi.
Nama itu terasa familiar.
Lalu aku teringat.
Arunika Sentosa adalah perusahaan distribusi bahan bangunan yang cukup besar di Jawa Barat.
Aku pernah melihat truk mereka di jalan tol.
Aku menatap Ibu Ratih.
“Ini punya siapa?”
Dia tidak menjawabku.
Dia menatap Nenek.
Nenek akhirnya berkata,
“Punya kakekmu.”
Aku hampir tertawa karena kupikir dia bercanda.
“Kakek punya perusahaan sebesar itu?”
“Dulu belum sebesar sekarang.”
Aku menggeleng.
“Ayah selalu bilang Kakek hanya punya toko bahan bangunan.”
“Itu memang awalnya.”
Ibu Ratih mendorong satu dokumen ke arahku.
“Pak Hendra mendirikan toko pertamanya tahun 1983. Setelah itu bisnisnya berkembang menjadi distributor. Ketika beliau meninggal, saham pengendali tidak pernah diwariskan kepada anak-anaknya.”
Aku menatap angka di dokumen.
Enam puluh dua persen.
Tanganku membeku.
“Siapa yang punya?”
Nenek mengangkat tangan kecilnya.
“Saya.”
Aku menatapnya tanpa bicara.
Selama ini Nenek tinggal sederhana.
Masih memasak sendiri.
Masih membeli sayur di pasar.
Masih menggunakan ponsel tua dengan layar retak.
Rumahnya bagus, tetapi bukan rumah orang yang hidup seperti pemilik perusahaan bernilai ratusan miliar.
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Karena Kakekmu meminta begitu.”
Ibu Ratih menjelaskan bahwa setelah Kakek meninggal, manajemen perusahaan diserahkan kepada profesional. Dividen masuk ke beberapa rekening investasi, dan Nenek hanya mengambil sebagian kecil untuk kebutuhan sehari-hari.
“Ayah tahu?”
“Tidak tahu semuanya,” jawab Nenek.
“Dia tahu perusahaan itu masih ada. Tapi dia pikir saham kakekmu sudah dijual bertahun-tahun lalu.”
“Kenapa disembunyikan?”
Nenek menatapku lama.
“Karena ayahmu selalu melihat harta sebagai sesuatu yang harus dimiliki, bukan sesuatu yang harus dijaga.”
Kalimat itu membuatku diam.
Aku ingin membela Ayah.
Tetapi setelah apa yang terjadi hari itu, aku tidak menemukan kalimat yang bisa kuucapkan.
Ibu Ratih kemudian mengeluarkan sebuah map merah.
“Sekarang kita punya masalah lain.”
Dia membuka dokumen di dalamnya.
Ada salinan permohonan pengalihan hak atas rumah Nenek.
Namaku tidak ada di sana.
Nama Nenek ada.
Tetapi tanda tangannya…
Nenek langsung menggeleng.
“Itu bukan tanda tangan saya.”
Aku merasa darahku naik ke kepala.
“Siapa yang mengajukan ini?”
Ibu Ratih menunjuk bagian bawah.
Pemohon pendamping: Bima Pratama.
Ayahku.
“Pengajuan ini belum selesai karena saya menahan prosesnya,” kata Ibu Ratih. “Saya curiga karena Bu Sri tidak pernah datang langsung.”
Nenek memejamkan mata.
Jadi semuanya benar.
Meninggalkannya di panti bukan keputusan mendadak.
Bukan karena mereka kewalahan merawatnya.
Mereka sudah merencanakannya.
Kalau Nenek dianggap tidak mampu mengurus diri sendiri, akan jauh lebih mudah bagi Ayah untuk mengendalikan asetnya.
Aku menekan telapak tangan ke meja.
“Aku akan telepon polisi.”
Nenek membuka mata.
“Belum.”
“Nek, dia memalsukan tanda tangan!”
“Aku tahu.”
“Dia juga mengambil uang!”
“Aku tahu.”
“Lalu kita mau tunggu apa?”
Nenek menatapku dengan mata yang tiba-tiba terlihat sangat tua.
“Aku ingin memberinya satu kesempatan.”
Aku hampir tidak percaya.
“Setelah semua ini?”
“Dia tetap anakku.”
Suara Nenek bergetar untuk pertama kalinya.
Dan saat itulah kemarahanku sedikit runtuh.
Aku baru sadar bahwa di balik semua perhitungan yang tampak dingin itu, ada seorang ibu yang sedang menyaksikan anaknya berubah menjadi seseorang yang tidak dia kenali.
Kami pergi ke bank setelah semua kuasa dicabut secara resmi.
Manajer bank mengonfirmasi bahwa tiga penarikan besar dilakukan melalui surat kuasa ayahku.
Lebih buruk lagi, ada permintaan pencairan deposito lain sebesar Rp1,8 miliar yang baru diajukan pagi itu.
Untungnya belum diproses.
Nenek meminta semua transaksi dibekukan.
Setelah itu, kami menuju rumahnya.
Hari sudah mulai sore ketika gerbang rumah terlihat dari kejauhan.
Mobil Ayah masih terparkir di depan.
Ada satu mobil lain.
Toyota hitam yang tidak kukenal.
Aku memarkir mobil di seberang jalan.
Nenek menatap rumah itu.
Rumah tempat dia tinggal hampir empat puluh tahun.
Lalu dia berkata,
“Kita masuk.”
Aku memegang lengannya.
“Nenek yakin?”
Dia mengangguk.
Kami membuka pintu pagar.
Dari dalam rumah terdengar suara beberapa orang.
Begitu pintu utama dibuka, semuanya mendadak hening.
Ayah berdiri di ruang tengah.
Ibu berada di sampingnya.
Di sofa duduk seorang pria berjas yang langsung berdiri saat melihat kami.
Di atas meja ada beberapa map.
Wajah Ayah berubah pucat.
“Raka?”
Aku tidak menjawab.
Tatapannya kemudian beralih ke Nenek.
“Bu?”
Nenek masuk perlahan.
Dia melepas sepatunya seperti biasa.
Seolah-olah hari itu adalah sore biasa.
Lalu dia menatap pria berjas.
“Bapak siapa?”
Pria itu terlihat gugup.
“Saya Anton, Bu. Dari pihak calon pembeli.”
Nenek tersenyum tipis.
“Pembeli apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Ayah akhirnya maju.
“Bu, dengarkan dulu.”
“Nenek bertanya kepada dia.”
Pria bernama Anton menelan ludah.
“Rumah ini, Bu.”
Nenek mengangguk pelan.
“Menarik.”
Ayah menarik napas.
“Bu, kami cuma sedang mencoba mencari solusi terbaik.”
“Dengan menjual rumah saya?”
“Rumah ini terlalu besar untuk Ibu.”
“Jadi kamu meninggalkan saya di panti?”
Ibu langsung menyela.
“Bukan begitu maksudnya, Bu.”
Nenek menoleh kepadanya.
“Lalu maksudnya apa, Mira?”
Ibuku terdiam.
Ayah mengambil satu langkah ke depan.
“Ibu sudah sering lupa. Ibu jatuh dua kali tahun lalu. Kami cuma takut sesuatu terjadi.”
Nenek mengangguk.
“Karena itu kalian mengambil hampir sembilan ratus juta dari rekening saya?”
Ayah membeku.
Aku melihat wajah Ibu berubah.
Rupanya dia tidak tahu jumlah pastinya.
“Itu untuk kebutuhan Ibu.”
“Dan deposito satu koma delapan miliar yang kamu coba cairkan pagi ini?”
Kali ini wajah Ayah benar-benar kehilangan warna.
“Kamu dari bank?”
Aku menjawab datar.
“Tidak perlu.”
Ayah menatapku dengan marah.
“Kamu tidak tahu urusan keluarga ini.”
“Aku tahu cukup banyak.”
Aku meletakkan salinan dokumen dari notaris di atas meja.
“Termasuk tanda tangan palsu.”
Pria calon pembeli langsung mundur.
“Saya rasa saya sebaiknya pergi.”
Ayah menahan tangannya.
“Pak Anton, tunggu.”
Tetapi pria itu sudah mengambil tasnya.
“Maaf, Pak Bima. Saya tidak mau terlibat.”
Dia pergi.
Pintu tertutup.
Sekarang tinggal kami berempat.
Ayah menatap Nenek dengan napas berat.
“Apa yang Ibu mau?”
Pertanyaan itu terdengar seperti tantangan.
Bukan permintaan maaf.
Aku melihat sesuatu di wajah Nenek berubah.
Mungkin itu harapan terakhir yang runtuh.
Dia berjalan menuju lemari kayu tua di sudut ruang tamu.
Membuka laci paling bawah.
Dari sana dia mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto Kakek, Nenek, Ayah, dan dua saudaranya saat masih muda.
Nenek membawa foto itu kembali.
“Kamu ingat ini?”
Ayah tidak menjawab.
“Waktu foto ini diambil, ayahmu baru saja menjual sepeda motor satu-satunya karena bisnis sedang hampir bangkrut.”
Ayah menatap foto tersebut.
“Kamu umur sembilan belas.”
“Aku ingat.”
“Kamu bilang ingin berhenti kuliah supaya bisa bantu keluarga.”
Ayah mulai menundukkan kepala.
Nenek melanjutkan.
“Tapi ayahmu melarang.”
Dia menunjuk foto Kakek.
“Dia bilang, ‘Biar Bapak yang kehilangan semuanya, jangan anak-anak.’”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Nenek menarik napas.
“Ketika usaha mulai berhasil, ayahmu menyisihkan sahamnya untuk masa depan keluarga.”
Ayah menatapnya.
“Saham?”
Aku melihat wajahnya berubah.
Dia mengerti.
Akhirnya dia mengerti.
Nenek mengeluarkan salinan dokumen dari tasnya.
“Enam puluh dua persen PT Arunika Sentosa Abadi masih milik saya.”
Ayah terduduk.
Ibuku menutup mulut.
“Tidak mungkin.”
“Kenapa tidak mungkin?”
“Ayah bilang perusahaan itu sudah dijual.”
“Tidak.”
Nenek menatapnya.
“Dia bilang begitu kepadamu.”
“Kenapa?”
“Karena dia tahu kamu akan menunggu kematiannya.”
Kalimat itu menghantam ruangan seperti petir.
Ayah memandang Nenek dengan mata berkaca-kaca.
“Ibu pikir saya seburuk itu?”
Nenek menjawab lirih,
“Hari ini kamu meninggalkan ibu kandungmu di sebuah panti dan kembali ke rumahnya untuk mencari sertifikat.”
Ayah tidak mampu menjawab.
Lalu Nenek mengatakan sesuatu yang bahkan aku tidak tahu.
“Dan ada satu hal lain.”
Dia menatapku.
“Raka.”
Aku menegang.
“Ya?”
“Kakekmu tidak menitipkan saham itu untukku selamanya.”
Ibu Ratih sebelumnya tidak menjelaskan bagian ini.
Nenek mengeluarkan satu amplop putih.
“Dalam wasiatnya, kepemilikan itu harus dialihkan ketika saya merasa salah satu cucu sudah cukup dewasa untuk memahami arti tanggung jawab.”
Aku menatapnya.
Ayah berdiri mendadak.
“Jangan bilang—”
Nenek mengabaikannya.
“Bukan untuk anak-anaknya.”
Dia menatapku.
“Untuk cucunya.”
Aku mundur setengah langkah.
“Nek, jangan.”
“Kenapa?”
“Aku tidak mau perusahaan.”
“Bagus.”
Jawabannya membuatku bingung.
“Justru karena itu.”
Nenek tersenyum kecil.
“Kakekmu menulis satu kalimat.”
Dia membuka surat itu.
“Berikan kepada orang yang tidak pernah memintanya.”
Dadaku terasa sesak.
Ayah menggeleng cepat.
“Bu, ini gila. Raka tidak tahu apa-apa soal bisnis itu.”
“Aku juga tidak akan mengelolanya sendiri.”
Nenek menoleh kepadaku.
“Kamu hanya akan menjadi pemegang amanah. Manajemen tetap profesional. Sebagian besar keuntungan akan tetap diinvestasikan.”
Aku masih tidak bisa bicara.
“Dan ada satu syarat,” katanya.
“Apa?”
“Sepuluh persen dividen tahunan harus masuk ke yayasan lansia.”
Aku menatap Nenek.
Dia tersenyum pahit.
“Setelah hari ini, rasanya itu penggunaan uang yang cukup tepat.”
Aku hampir tertawa, tetapi yang keluar justru napas gemetar.
Ayah tiba-tiba berkata,
“Jadi selesai? Ibu membuang saya begitu saja?”
Nenek menatap anaknya.
Dan untuk pertama kalinya, air mata jatuh dari matanya.
“Tidak.”
Ayah terdiam.
“Saya kehilangan anak saya jauh sebelum hari ini.”
Suara Nenek pecah.
“Entah kapan kamu mulai percaya bahwa rumah, uang, dan saham lebih penting daripada orang yang membesarkanmu.”
Ayah memalingkan wajah.
“Tapi saya masih ibu kamu.”
Nenek mengambil satu langkah mendekat.
“Dan karena saya masih ibu kamu, saya tidak akan menghancurkan hidupmu.”
Aku menatapnya kaget.
Nenek melanjutkan.
“Saya tidak akan melaporkan penarikan rekening kalau uangnya dikembalikan.”
Ayah menatapnya cepat.
“Tapi dokumen palsu?”
“Itu harus dibatalkan dan dicatat secara resmi.”
“Bu…”
“Kamu akan menjual apartemen investasi yang kamu beli menggunakan uang saya.”
Wajah Ibu berubah.
Ternyata ada satu rahasia lagi.
Ayah menatap istrinya.
“Kamu bilang Ibu tidak tahu.”
Nenek menghela napas.
“Tentu saya tahu.”
Aku hampir tidak percaya berapa banyak hal yang selama ini disembunyikan.
Nenek kemudian memberikan satu syarat terakhir.
“Kamu juga akan membayar semua biaya panti lansia yang tadi kamu tinggalkan begitu saja.”
Ayah menunduk.
“Dan setelah itu?”
“Setelah itu, kita tidak bicara soal uang selama satu tahun.”
Ayah mengangkat kepala.
“Apa maksudnya?”
“Kamu datang ke sini kalau ingin bertemu saya.”
Nenek menunjuk kursi makan.
“Kita minum teh. Kita makan. Kita bicara.”
Dia menelan ludah.
“Kalau kamu masih tahu caranya menjadi anak.”
Aku melihat wajah ayahku berubah.
Kemarahannya lenyap.
Kesombongannya runtuh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Ayah menangis di depan ibunya.
Dia berlutut.
Bukan dramatis.
Bukan seperti di film.
Kakinya seolah kehilangan kekuatan.
“Aku takut, Bu.”
Nenek menatapnya.
“Aku terlilit utang.”
Akhirnya kebenaran keluar.
Bisnis properti Ayah sedang hampir bangkrut.
Dia memiliki utang kepada beberapa investor.
Dia takut kehilangan rumah, reputasi, dan semuanya.
Dia mulai mengambil sedikit uang dari rekening Nenek.
Lalu lebih banyak.
Kemudian muncul ide menjual rumah.
Ibuku tahu sebagian.
Tidak semuanya.
Mereka meyakinkan diri bahwa Nenek akan “lebih aman” di panti.
Mereka bahkan mulai percaya bahwa tindakan mereka bisa dibenarkan.
“Aku pikir nanti akan kukembalikan,” katanya sambil menangis.
Nenek duduk di kursi di depannya.
“Semua pencurian selalu dimulai dengan kalimat itu.”
Ayah menunduk.
Aku pikir Nenek akan memeluknya.
Dia tidak melakukannya.
Belum.
Dia hanya berkata,
“Besok pagi kita ke Ibu Ratih.”
Ayah mengangguk.
“Kamu akan menandatangani semuanya.”
Ayah mengangguk lagi.
“Setelah itu kita lihat apakah kamu benar-benar menyesal atau cuma takut kehilangan warisan.”
Kalimat itu keras.
Tetapi adil.
Enam bulan kemudian, rumah Nenek masih berdiri.
Tidak pernah dijual.
Ayah menjual dua aset investasinya dan mengembalikan hampir seluruh uang Nenek.
Sisanya dia cicil setiap bulan.
Dia juga melepaskan diri dari bisnis properti yang membuatnya terlilit utang dan mulai bekerja sebagai konsultan proyek dengan penghasilan jauh lebih sederhana.
Ibuku ikut terapi keuangan bersamanya.
Tidak semua luka sembuh.
Tetapi mereka berhenti berpura-pura bahwa luka itu tidak ada.
Dan Nenek?
Dia tidak pernah masuk panti.
Sebaliknya, dengan sebagian dividen perusahaan, dia membantu membangun sebuah program pendampingan untuk lansia yang tinggal sendirian.
Namanya Rumah Hendra.
Diambil dari nama Kakek.
Setiap kali aku bertanya apakah itu terlalu sentimental, dia selalu menjawab,
“Orang tua boleh sentimental.”
Setahun setelah kejadian itu, kami makan malam bersama di meja lama di rumah Bogor.
Aku.
Nenek.
Ayah.
Ibu.
Tidak ada pembicaraan tentang saham.
Tidak ada dokumen.
Tidak ada uang.
Hanya sayur asem, ikan goreng, sambal, dan teh hangat.
Ayah membantu Nenek mengambil nasi.
Gerakannya canggung.
Nenek membiarkannya.
Setelah makan, Ayah berdiri untuk mencuci piring.
Aku hampir tertawa melihatnya.
Nenek menyenggol lenganku.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Dia sedang belajar.”
Aku menatap Ayah dari kejauhan.
Lalu menatap Nenek.
“Apa Nenek benar-benar akan memindahkan saham itu ke namaku?”
Dia menggeleng.
Aku terkejut.
“Tapi surat Kakek?”
“Itu asli.”
“Lalu?”
Nenek tersenyum.
“Saya belum bilang kapan.”
Aku menatapnya.
Dia menyeruput teh.
“Raka, kalau satu surat warisan cukup untuk membuatmu berubah menjadi seperti ayahmu, berarti saya salah memilih.”
Aku tertawa kecil.
“Jadi ini tes?”
“Sebagian.”
“Nenek tega juga.”
“Umur tujuh puluh delapan harus punya hiburan.”
Aku tertawa lebih keras.
Kemudian dia menjadi serius.
“Tapi ada sesuatu yang memang sudah saya putuskan.”
“Apa?”
“Ketika saya meninggal nanti, perusahaan itu tidak akan menjadi milik satu orang.”
Aku diam.
“Lima puluh persen masuk yayasan.”
“Lalu sisanya?”
“Dibagi kepada cucu-cucu.”
Aku mengangguk.
Rasanya benar.
Kemudian Nenek menatap Ayah yang sedang mencuci piring.
“Warisan terbesar bukan sahamnya.”
Aku mengikuti pandangannya.
“Lalu apa?”
Dia tersenyum.
“Kesempatan kedua.”
Aku tidak menjawab.
Karena akhirnya aku mengerti.
Hari ketika orang tuaku meninggalkan Nenek di sebuah panti, aku pikir aku sedang menyelamatkan seorang perempuan tua yang dibuang keluarganya.
Ternyata aku salah.
Nenek tidak membutuhkan seseorang untuk menyelamatkannya.
Dia masih tahu persis apa yang dia miliki.
Dia masih tahu siapa yang bisa dipercaya.
Dan dia bahkan masih cukup kuat untuk memberi kesempatan kepada anak yang sudah mengkhianatinya.
Beberapa minggu kemudian, aku menemukan koper cokelat yang dulu ditinggalkan di lobi panti itu masih berada di kamar tamu rumah Nenek.
“Kenapa belum dibongkar?” tanyaku.
Nenek tersenyum.
“Biar saja.”
“Untuk apa?”
Dia menepuk koper itu perlahan.
“Supaya setiap kali ayahmu melihatnya, dia ingat.”
“Ingat apa?”
Nenek menatapku.
“Bahwa hari itu dia hampir membuang ibunya demi sebuah rumah.”
Dia berhenti sejenak.
“Dan hampir kehilangan seluruh keluarganya karena itu.”
Aku menatap koper tua tersebut.
Barang itu tidak pernah lagi dipindahkan.
Tidak pernah dibuang.
Tidak pernah disimpan di gudang.
Sampai hari ini, koper itu tetap berada di sudut kamar tamu rumah Nenek.
Bukan sebagai simbol hari ketika dia ditinggalkan.
Tetapi sebagai pengingat hari ketika keluarga kami hampir hancur…
dan seorang perempuan berusia tujuh puluh delapan tahun memilih untuk tidak membalas pengkhianatan dengan kehancuran.
Dia memilih batas.
Dia memilih keadilan.
Dan pada akhirnya…
dia juga memilih memberi anaknya satu kesempatan terakhir untuk pulang.
