Bagian 2
Aku tidak bisa mendengar semua percakapan dari kamera, jadi untuk pertama kalinya malam itu aku menelepon Pak Johan.
Ia menjawab sambil menjauh dari gerbang.
“Audrey?”
“Dokumen apa?”
“Ada map di lemari kerja kamar tamu. Staf rumah menemukannya ketika mengosongkan barang. Nama kamu tertulis di beberapa halaman, jadi saya minta dokumen itu tidak dibuang.”
“Apa isinya?”
Ia diam sebentar.
“Lebih baik Bimo yang menjelaskannya.”

Aku langsung menelepon Bimo.
Tiga puluh menit kemudian ia datang ke hotel membawa salinan.
Tanganku dingin ketika membuka halaman pertama.
Bukan surat pengalihan kepemilikan.
Bukan pemalsuan sertifikat.
Sesuatu yang lebih sederhana.
Dan justru karena itu terasa lebih nyata.
Ada rancangan perjanjian pinjaman atas nama perusahaan Arman senilai Rp18 miliar.
Ada proposal menjadikan vilaku sebagai jaminan tambahan.
Ada draf surat persetujuan pemilik yang belum ditandatangani.
Dan ada cetakan percakapan WhatsApp antara Arman, Bu Ratna, dan seorang konsultan keuangan yang pernah membantu usahanya.
Aku membaca kalimat Arman berulang kali.
Setelah bayi lahir, Audrey pasti tidak akan berani bikin ribut. Mama tinggal bilang rumah ini harus jadi rumah cucu pertama.
Pesan Bu Ratna menyusul.
Jangan minta sekarang. Tunggu anak lahir. Dia akan merasa bersalah.
Pesan berikutnya membuatku berhenti.
Kalau dia tetap menolak, bilang saja utang perusahaan harus diselamatkan supaya nama keluarga tidak malu. Dia selalu menyerah kalau urusannya keluarga.
Aku menatap Bimo.
“Mereka mau mengambil vila?”
“Belum,” katanya. “Dokumen ini belum sah karena kamu belum pernah menandatangani apa pun. Mereka tidak bisa menjaminkan asetmu begitu saja.”
“Lalu kenapa semua ini dibuat?”
Bimo menunjuk proposal.
“Arman sedang mencari pendanaan baru. Perusahaannya punya kewajiban jauh lebih besar daripada yang pernah ia katakan kepadamu.”
“Berapa?”
“Setidaknya dari dokumen ini, hampir Rp14 miliar kewajiban jangka pendek. Pinjaman Rp18 miliar itu akan menutup sebagian utang dan memberi modal baru.”
Aku menutup mata.
Aku pernah menyelamatkan perusahaannya sekali.
Ternyata ia sudah menyiapkan penyelamatan kedua.
Dengan rumahku.
Dan dengan rasa bersalahku.
Ponselku bergetar.
Arman.
Kali ini aku menjawab.
“Audrey, kamu di mana?”
“Hotel.”
“Kamu menjual rumah?”
“Vila itu milikku.”
“Tanpa bicara denganku?”
Aku sampai tertawa kecil.
“Kalimat itu ingin kamu ulang setelah pulang membawa istri baru?”
Ia diam.
Lalu suaranya berubah lebih pelan.
“Pernikahan itu tidak sesederhana yang kamu pikir.”
“Aku melihat fotonya.”
“Tasya hamil.”
“Aku juga bisa melihat itu.”
“Mama menekan aku.”
Aku melihat lagi percakapan yang ada di meja.
“Menarik. Karena dari pesanmu, justru kamu yang bilang menunggu sampai bayinya lahir sebelum meminta aku menjaminkan vila.”
Sunyi.
Lama.
“Audrey… dari mana kamu dapat itu?”
Pertanyaan itu menjadi jawaban.
Ia tidak bilang dokumennya palsu.
Ia tidak bilang percakapan itu bukan miliknya.
Ia hanya ingin tahu bagaimana aku menemukannya.
“Aku akan bicara besok,” kataku.
“Jangan tutup telepon. Kami tidak punya tempat tinggal.”
“Kamu baru pulang dari pernikahan. Cari hotel.”
“Kartuku tidak bisa dipakai.”
“Itu kartu tambahanku.”
“Audrey, jangan keterlaluan.”
Aku menatap cincin pernikahan di jariku, lalu melepaskannya.
“Besok jam sepuluh. Kantor Bimo. Datang sendiri.”
Bu Ratna mengambil telepon dari tangan Arman.
“Kamu mau membiarkan perempuan hamil tidur di hotel murah?”
Aku menjawab, “Tasya punya suami sekarang, Bu.”
“Kamu masih istrinya!”
“Kalau begitu Ibu baru saja menjelaskan masalahnya sendiri.”
Aku menutup telepon.
Keesokan paginya, sebelum bertemu Arman, aku meminta bagian keuangan perusahaanku memeriksa apakah pernah ada pembayaran kepada Tasya di luar gaji normal.
Ada satu transaksi yang langsung menonjol.
Rp320 juta.
Dicatat sebagai “biaya konsultasi pemasaran eksternal”.
Tasya tidak pernah menjadi konsultan eksternal.
Ia pegawai tetap.
Persetujuan pembayaran itu menggunakan akun direktur operasional.
Direktur operasional mengaku permintaan tersebut datang dari email Arman yang diteruskan oleh Tasya, dengan alasan proyek kolaborasi pribadi milikku.
Tidak ada proyek seperti itu.
Uang tersebut ternyata masuk ke rekening Tasya dua minggu sebelum pernikahan.
Aku membawa bukti transfer itu ke pertemuan.
Pukul sepuluh lewat tujuh, Arman masuk sendirian.
Ia bahkan belum duduk ketika aku mendorong salinan transaksi ke arahnya.
“Selain menikahi pegawaiku, kamu juga memakai nama perusahaanku untuk mengirim Rp320 juta kepadanya.”
Wajah Arman berubah.
“Itu bukan seperti yang kamu pikir.”
Aku menunjuk kursi.
“Duduk.”
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Arman menurut tanpa membantah.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Arman duduk di depan meja Bimo dengan bahu tegang.
Setelan yang dipakainya masih mahal, tapi ia terlihat seperti orang yang baru menyadari bahwa sebagian besar benda yang membuatnya tampak berhasil ternyata tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Aku meletakkan bukti transfer Rp320 juta di antara kami.
“Jelaskan.”
Ia menatap Bimo.
“Aku mau bicara berdua dengan istriku.”
Bimo menjawab tenang, “Audrey meminta saya hadir.”
Arman menoleh kepadaku.
“Kamu bahkan tidak percaya aku bisa menjelaskan tanpa pengacara?”
“Aku percaya selama sebelas tahun.”
Ia tidak punya jawaban untuk itu.
Aku menunjuk dokumen transaksi.
“Rp320 juta.”
Arman mengusap wajah.
“Itu untuk Tasya.”
“Aku tahu penerimanya.”
“Untuk biaya kehamilan dan persiapan.”
“Kenapa memakai nama perusahaan?”
“Aku sedang kesulitan likuiditas.”
“Jadi kamu meminta orang di kantorku membayar perempuan yang kamu hamili?”
“Jangan ngomong begitu.”
“Bagaimana seharusnya aku mengatakannya?”
Ia menunduk sebentar.
“Aku bilang itu proyek karena kalau aku bilang sebenarnya, pasti tidak akan disetujui.”
Itulah pertama kalinya pagi itu ia memberikan jawaban jujur.
Tidak lengkap.
Tapi jujur.
Aku bertanya, “Dan siapa yang akan mengganti uangnya?”
“Aku.”
“Kapan?”
“Setelah pendanaan perusahaan masuk.”
Aku membuka proposal pinjaman Rp18 miliar.
“Pendanaan ini?”
Arman melihat dokumen itu dan rahangnya mengeras.
“Aku belum melakukan apa pun.”
“Kamu sudah menyiapkannya.”
“Aku hanya membuat rencana.”
“Dengan asetku.”
“Rumah itu kita pakai bersama.”
“Dipakai bersama bukan berarti dimiliki bersama.”
“Audrey, selama menikah aku tinggal di sana.”
“Dan selama menikah kamu juga memakai laptopku. Itu tidak membuat laptopku menjadi milikmu.”
Bimo menundukkan pandangan, seolah sengaja memberi kami ruang.
Arman mulai kehilangan kesabaran.
“Kenapa semua harus dihitung sekarang?”
Aku hampir tidak percaya.
“Karena selama ini aku tidak menghitung.”
Ia terdiam.
Itulah masalah sebenarnya.
Bertahun-tahun aku menghindari perhitungan karena kupikir menghitung berarti pelit terhadap keluarga.
Ketika Bu Ratna membutuhkan sopir, aku membayar.
Ketika adik Arman membutuhkan modal restoran, aku membantu.
Ketika usaha Arman gagal memenuhi kewajiban kepada pemasok, aku memasukkan uang.
Ketika keluarganya mengadakan acara besar di vila, aku tidak pernah menanyakan tagihan.
Aku mengira kemurahan hati menciptakan rasa terima kasih.
Yang tercipta justru kebiasaan.
Kemudian kebiasaan berubah menjadi hak.
Aku membuka beberapa cetakan percakapan.
“Kenapa menunggu sampai anak Tasya lahir?”
Arman tidak menjawab.
“Karena kalian pikir aku akan merasa bersalah?”
“Audrey…”
“Jawab.”
Ia menarik napas panjang.
“Mama yang bilang begitu.”
“Tapi kamu menyetujuinya.”
“Situasinya rumit.”
“Tidak. Yang rumit itu bagaimana aku bisa menikah sebelas tahun dengan orang yang membuat rencana hidup baru sambil tetap memakai rekeningku.”
Arman menatapku beberapa detik.
“Aku takut kehilangan semuanya.”
Kalimat itu terdengar berbeda dari semua pembelaannya sebelumnya.
Aku menunggu.
Ia melanjutkan.
“Usahaku sedang buruk sejak tahun lalu. Aku tidak cerita semua karena aku tahu kamu akan bilang tutup beberapa cabang.”
“Aku memang pernah bilang begitu.”
“Aku tidak mau terlihat gagal.”
“Jadi kamu menambah utang?”
“Aku pikir keadaan akan membaik.”
“Lalu?”
“Tidak membaik.”
“Dan Tasya?”
Ia menunduk.
“Kami mulai dekat sekitar delapan bulan lalu.”
Delapan bulan.
Aku menghitung mundur dalam kepala.
Pada bulan yang sama, Arman membawaku makan malam untuk ulang tahun pernikahan kami.
Ia memberiku gelang.
Gelang yang kubayar sendiri lewat kartu tambahan yang ia gunakan.
“Apa Tasya tahu kamu masih menikah denganku?”
“Ya.”
Tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan ilusi.
Aku bertanya, “Dia tahu kamu tidak memiliki vila itu?”
Arman diam terlalu lama.
Aku mengulang.
“Dia tahu?”
“Aku pernah bilang rumah itu milik keluarga.”
Aku merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan sakit baru.
Lebih mirip sebuah kepingan yang akhirnya masuk ke tempatnya.
“Jadi dia mengira kamu ikut memilikinya.”
“Aku tidak pernah bilang sertifikat atas namaku.”
“Tapi kamu juga tidak bilang itu milikku.”
Arman mengusap leher.
“Apa bedanya sekarang?”
“Besar.”
Aku melihat Bimo.
“Pak, saya mau bicara dengan Tasya juga. Tapi bukan hari ini.”
Arman langsung mengangkat kepala.
“Jangan bawa dia ke urusan ini. Dia sedang hamil.”
“Aku tidak akan meneriakinya.”
“Kamu sudah melaporkannya ke HR.”
“Aku meminta audit akses dan transaksi. Karena ada Rp320 juta dari perusahaan yang masuk ke rekeningnya.”
“Itu kesalahanku.”
“Kalau begitu kamu bisa mengatakannya secara resmi.”
Aku menggeser formulir yang sudah disiapkan Bimo.
“Ini pernyataan bahwa pembayaran tersebut kamu instruksikan tanpa persetujuanku dan bukan bagian dari proyek perusahaan. Kalau itu benar, tandatangani.”
Arman membaca.
“Untuk apa?”
“Supaya audit tidak menjadikan Tasya satu-satunya orang yang menanggung keputusanmu.”
Ia menatapku, seolah tidak menyangka aku tidak langsung menghancurkan pekerjaan Tasya.
“Aku tidak sedang melindungi dia,” kataku. “Aku hanya tidak mau kamu bersembunyi di balik perempuan yang kamu pilih sendiri.”
Arman tidak langsung menandatangani.
“Kalau aku tanda tangan, ini bisa merusak reputasiku.”
Aku menatapnya.
“Kamu mengadakan pernikahan kedua diam-diam bersama hampir seluruh keluargamu. Reputasi mana yang sedang kamu lindungi?”
Ia akhirnya mengambil pena.
Tangannya berhenti beberapa detik.
Kemudian tanda tangannya muncul di bawah pernyataan.
Itu tindakan kecil.
Tapi bagiku penting.
Untuk pertama kalinya, Arman menaruh namanya di bawah akibat dari keputusan yang ia buat sendiri.
Setelah ia pergi, aku tidak merasa menang.
Aku malah duduk lama.
Bimo menuangkan air untukku.
“Masih mau lanjut proses perceraian?”
“Iya.”
“Tidak ada keraguan?”
“Ada.”
Ia menunggu.
“Aku masih sayang sama orang yang kupikir dia dulu.”
Itulah bagian yang paling sulit kuakui.
Aku bukan perempuan yang bisa mematikan sebelas tahun pernikahan hanya karena menemukan bukti.
Aku masih ingat Arman yang menemaniku ketika ayahku meninggal.
Arman yang pernah tidur di kursi rumah sakit selama tiga malam ketika aku menjalani operasi.
Arman yang membuat kopi setiap pagi ketika kami baru menikah.
Orang itu pernah nyata.
Masalahnya, orang yang duduk di depanku tadi juga nyata.
Dan aku tidak bisa memilih hanya kenangan yang kusukai lalu berpura-pura sisanya tidak ada.
“Aku tidak perlu membencinya untuk pergi,” kataku.
Bimo mengangguk.
“Baik.”
Siang itu HR memanggil Tasya.
Aku tidak ikut.
Aku meminta kepala HR dan bagian kepatuhan menangani semuanya seperti kasus pegawai lain.
Akses Tasya ke dokumen sensitif dinonaktifkan selama pemeriksaan.
Transaksi Rp320 juta ditelusuri.
Dua hari kemudian, Tasya meminta bertemu denganku.
Aku hampir menolak.
Kemudian kupikir ada beberapa pertanyaan yang hanya bisa dijawab olehnya.
Kami bertemu di ruang rapat kecil kantor pusat.
Tidak ada Arman.
Tidak ada Bu Ratna.
Kepala HR menunggu di ruangan sebelah jika dibutuhkan.
Tasya datang memakai kemeja longgar dan celana hitam.
Tanpa riasan tebal.
Tanpa gelang pengantin.
Ia duduk di seberangku.
“Bu Audrey.”
Biasanya ia memanggilku begitu di kantor.
Sekarang suara itu terdengar aneh.
“Aku tidak mau bicara tentang kehidupan pribadimu lebih dari yang diperlukan,” kataku. “Aku mau tahu tentang transaksi perusahaan dan apa yang Arman katakan mengenai asetku.”
Tasya mengangguk.
Matanya tampak merah, tapi aku tidak tahu apakah ia menangis sebelum datang.
Aku tidak bertanya.
“Uang Rp320 juta itu kamu minta?”
“Arman yang bilang akan mengurusnya.”
“Kamu tahu sumbernya dari perusahaan?”
“Dia bilang itu perusahaan Ibu dan Ibu sudah tahu.”
Aku tidak langsung percaya.
Tasya mengeluarkan ponsel.
“Aku masih punya chat-nya.”
Ia membukanya di depanku, bukan menyerahkan ponselnya.
Pesan Arman memang ada.
Aku sudah bicara dengan Audrey. Timnya bisa bantu dulu. Anggap bonus proyek.
Aku menyalin bagian yang relevan melalui prosedur HR.
Tidak ada kebutuhan untuk membaca percakapan pribadi mereka yang lain.
Aku tidak ingin detail hubungan mereka.
Aku sudah tahu cukup.
“Kenapa kamu percaya?”
Tasya menatap meja.
“Karena dia selalu bilang Ibu tahu tentang kami.”
Aku memandangnya.
“Apa?”
“Dia bilang pernikahan kalian sudah selesai secara pribadi sejak lama. Katanya kalian cuma belum mengurus perceraian karena urusan bisnis dan aset.”
Aku menahan ekspresi.
“Dan keluarganya?”
“Mereka bilang hal yang sama.”
Tentu saja.
Kalau kebohongan disampaikan oleh satu orang, mungkin terdengar mencurigakan.
Kalau seluruh keluarga mengulanginya, kebohongan bisa terdengar seperti fakta.
Aku bertanya, “Kapan kamu tahu itu tidak benar?”
Tasya menggigit bibir.
“Sejujurnya?”
“Iya.”
“Sekitar dua bulan sebelum pernikahan.”
Jadi ia tidak sepenuhnya ditipu.
Ia melanjutkan sebelum aku bertanya.
“Aku menemukan pesan Ibu di ponsel Arman. Waktu itu aku sadar Ibu masih menganggap pernikahan kalian baik-baik saja.”
“Lalu kamu tetap menikah dengannya.”
Tasya mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada gunanya membuatnya menangis atau memaksanya menjelaskan moralitasnya.
Aku hanya bertanya, “Kenapa?”
“Karena aku sudah hamil. Bu Ratna bilang kalau aku mundur, anakku nanti tidak punya tempat yang jelas di keluarga.”
Aku menatapnya.
Ia masih salah.
Ia tahu aku belum mengetahui hubungan itu dan tetap berdiri dalam gaun putih di depan keluargaku.
Tetapi aku juga mulai melihat pola yang lebih besar.
Bu Ratna menggunakan hal yang berbeda pada kami.
Padaku, rasa bersalah karena tidak punya anak.
Pada Tasya, rasa takut anaknya tidak diterima.
Pada Arman, rasa takut terlihat gagal.
Tiga kelemahan berbeda.
Satu keluarga yang sudah terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan menekan titik yang tepat.
“Apa Arman bilang kalian akan tinggal di vila?”
Tasya mengangguk pelan.
“Setelah bayi lahir.”
“Dan aku?”
Ia terdiam.
“Tasya.”
“Katanya Ibu lebih sering di Jakarta karena kerja. Bu Ratna bilang kamar utama bisa dipakai kami karena Ibu jarang di Bali.”
Ada rasa dingin yang menjalar di tanganku.
Bukan karena kamar.
Karena betapa normal rencana itu terdengar di mulut mereka.
Aku masih akan menjadi istri yang bekerja.
Masih menghasilkan uang.
Masih membayar rumah.
Sementara keluarga baru Arman menempati rumah yang kubeli sebelum menikah.
“Ada lagi?”
Tasya mengusap jarinya.
“Arman pernah bilang setelah bayi lahir, Ibu pasti akan luluh. Dia bilang kalau pinjaman usahanya berhasil, semuanya akan kembali normal.”
“Normal seperti apa?”
“Dia bilang Ibu akan tetap mengurus bisnis dan dia akan mengurus keluarga.”
Aku hampir tersenyum karena absurditasnya.
Mereka bahkan telah membagi peranku tanpa bertanya.
Aku menjadi mesin penghasil uang.
Tasya menjadi ibu dari anaknya.
Arman mendapat keduanya.
Dan Bu Ratna mendapat cucu serta rumah mewah yang tetap dibiayai orang lain.
“Apa kamu pernah melihat dokumen pinjaman?”
“Tidak. Aku cuma dengar Arman bicara dengan ibunya tentang ‘jaminan rumah’.”
“Kenapa kamu tidak bertanya?”
“Karena dia bilang itu rumahnya.”
Kali ini aku tidak menahan jawaban.
“Bukan.”
Tasya menunduk.
“Aku tahu sekarang.”
Pertemuan itu selesai tanpa teriakan.
Aku tidak memaafkannya.
Aku juga tidak memecatnya di tempat.
Audit akhirnya menyimpulkan bahwa Tasya memang menerima uang perusahaan yang seharusnya tidak dibayarkan kepadanya, tetapi instruksi dan keterangan palsu berasal dari Arman.
Karena Tasya seharusnya mengetahui prosedur pembayaran internal dan tidak melaporkan konflik kepentingan, ia tetap mendapat sanksi.
Ia memilih mengundurkan diri sebelum proses disiplin selesai.
Uang Rp320 juta tidak bisa dianggap sebagai haknya.
Melalui kesepakatan tertulis, Arman bertanggung jawab mengembalikannya kepada perusahaan secara bertahap.
Itu bukan akhir yang dramatis.
Tidak ada polisi datang memborgol siapa pun.
Tidak ada Tasya jatuh miskin dalam sehari.
Tidak ada Arman kehilangan seluruh hidupnya dalam satu malam.
Ada utang.
Ada proses.
Ada tanda tangan.
Dan untuk pertama kalinya, bukan aku yang menanggung semuanya.
Masalah berikutnya datang dari Bu Ratna.
Ia mendatangi hotelku tiga hari setelah pertemuan dengan Tasya.
Aku sedang sarapan ketika resepsionis menelepon kamar.
“Ada Ibu Ratna ingin bertemu.”
Aku hampir berkata tidak.
Kemudian aku turun ke lounge.
Bu Ratna duduk dengan tas mahal yang kubelikan untuk ulang tahunnya dua tahun lalu.
Ketika melihatku, ia langsung berdiri.
“Kamu keterlaluan.”
Aku menarik kursi.
“Kalau Ibu datang untuk bicara, silakan duduk.”
“Arman sekarang harus tinggal di apartemen sewaan.”
“Dia berusia empat puluh tahun.”
“Usahanya sedang kesulitan.”
“Itu juga bukan hal baru.”
“Dan Tasya sedang hamil!”
Aku mengambil cangkir teh.
“Ibu sudah mengingatkan saya berkali-kali.”
Bu Ratna mencondongkan tubuh.
“Kalau kamu tidak menjual rumah itu, semuanya bisa diselesaikan.”
“Dengan keluarga baru Arman tinggal di rumah saya?”
“Kamu punya banyak rumah.”
“Apa hubungannya?”
“Kamu tidak pernah kekurangan apa pun.”
Itulah kalimat yang selama bertahun-tahun membenarkan hampir semuanya.
Karena aku punya lebih banyak, mereka merasa mengambil lebih banyak tidak pernah benar-benar merugikanku.
Aku menatapnya.
“Bu, kalau seseorang punya sepuluh kursi, bukan berarti Ibu boleh mengambil satu tanpa bertanya.”
“Jangan samakan keluarga dengan orang lain.”
“Saya tidak menyamakan. Orang lain biasanya justru bertanya dulu.”
Wajahnya menegang.
“Aku sudah menganggapmu anak.”
Aku diam beberapa detik.
“Kapan?”
“Apa?”
“Kapan Ibu menganggap saya anak? Saat Ibu memakai rumah saya? Saat saya membayar sopir Ibu? Saat saya melunasi utang anak Ibu? Atau saat Ibu pergi ke pernikahan suami saya dengan perempuan lain dan mengunggah bahwa saya bukan perempuan sungguhan?”
Ia kehilangan kata-kata.
Bukan karena menyesal.
Karena untuk pertama kalinya aku menyebut semuanya sekaligus.
“Aku marah,” katanya akhirnya.
“Karena saya tidak punya anak?”
“Karena Arman tidak bahagia.”
“Kalau dia tidak bahagia, dia bisa meminta cerai.”
“Dia takut kehilanganmu.”
Aku tertawa pendek.
“Tidak. Dia takut kehilangan apa yang saya bayar.”
Bu Ratna memukul meja pelan dengan telapak tangannya.
“Kamu selalu memandang semuanya dari uang!”
Aku menatap tas yang kubelikan itu.
Lalu aku menatap gelang emas di tangannya yang dibayar dari bonus perusahaan tahun sebelumnya.
“Ibu datang ke sini karena vila dijual, kartu dibatalkan, dan uang tidak lagi tersedia. Jadi siapa yang sedang bicara soal uang?”
Ia berdiri.
“Suatu hari kamu akan menyesal. Tidak ada uang yang bisa menggantikan keluarga.”
Aku tidak ikut berdiri.
“Mungkin. Tapi keluarga juga tidak bisa menjadi alasan untuk mengambil semua yang bukan miliknya.”
Bu Ratna pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.
Aku duduk di sana beberapa menit setelahnya.
Tanganku masih gemetar sedikit.
Bukan karena takut padanya.
Karena aku baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan bertahun-tahun lalu.
Aku membiarkan seseorang kecewa kepadaku.
Ternyata dunia tidak runtuh.
Dua minggu kemudian, proses perceraian mulai berjalan.
Tidak cepat.
Tidak sederhana.
Arman beberapa kali mencoba menghubungiku tanpa Bimo.
Aku tidak memblokir nomornya, tetapi aku hanya menjawab kalau pembicaraan berkaitan dengan dokumen atau kewajiban yang harus diselesaikan.
Pada minggu ketiga ia meminta bertemu sekali lagi.
Kali ini aku setuju.
Kami bertemu di sebuah kafe yang dulu sering kami datangi ketika baru menikah.
Tempat itu membuatku hampir membatalkan pertemuan.
Arman datang lebih dulu.
Tidak memakai mobil sport.
Mobil itu sudah dikembalikan karena kepemilikannya memang atas namaku dan pembiayaannya berasal dari rekeningku.
Ia memesan kopi hitam.
Aku duduk.
“Apa yang mau kamu bicarakan?”
Arman terlihat lebih tua dibanding sebulan sebelumnya.
“Aku sudah menutup satu cabang.”
Aku tidak menjawab.
“Dua puluh pegawai dipindahkan, sebagian diberi pesangon. Aku juga menjual satu mobil perusahaan.”
“Bagus kalau memang itu yang harus dilakukan.”
“Aku seharusnya melakukannya tahun lalu.”
“Iya.”
Ia tersenyum pahit.
“Dulu kamu bilang begitu.”
“Aku ingat.”
Arman mengaduk kopi meski tidak memakai gula.
“Aku marah sama kamu waktu itu.”
“Aku juga ingat.”
“Aku merasa kamu tidak percaya aku bisa membesarkan usaha.”
Aku tidak menyela.
“Aku ingin membuktikan aku bisa. Setiap kali rugi, aku pinjam lagi karena kupikir bulan depan pasti membaik. Waktu makin buruk, aku malu cerita.”
“Lalu aku menutup utangnya.”
“Iya.”
“Dan kamu belajar bahwa kalau keadaan cukup buruk, aku akan menyelamatkanmu.”
Ia menatapku.
“Kurang lebih.”
Aku tidak menyangka ia akan mengakuinya.
Ia melanjutkan.
“Dengan Tasya, semuanya terasa… lebih mudah.”
Aku menatapnya tajam.
“Jangan ceritakan detail hubungan kalian.”
“Bukan itu maksudku. Dia tidak tahu seperti apa kondisi usahaku. Dia percaya apa pun yang kukatakan. Di dekat dia, aku masih terlihat berhasil.”
Kalimat itu menjelaskan banyak hal.
Di dekatku, Arman harus berhadapan dengan angka sebenarnya.
Utang.
Arus kas.
Kontrak.
Kegagalan.
Di dekat Tasya, ia bisa tetap menjadi laki-laki sukses yang tinggal di vila pantai dan memiliki perusahaan besar.
Mungkin itu sebabnya ia memilih kebohongan yang membuat dirinya terlihat lebih besar.
“Dan waktu dia hamil?” tanyaku.
“Aku panik.”
“Kamu lalu menikahinya.”
“Mama bilang itu yang benar.”
“Untuk Tasya mungkin. Tapi apa yang benar untukku?”
Ia tidak menjawab.
Aku bertanya lagi.
“Kenapa tidak datang dan bilang kamu berselingkuh, dia hamil, dan kamu mau pergi?”
“Aku takut.”
“Kehilangan aku?”
Ia menatap cangkir.
“Kehilangan hidup yang selama ini aku punya.”
Setidaknya sekarang ia jujur.
“Aku minta maaf,” katanya.
Aku diam.
“Aku tahu itu tidak cukup.”
“Benar.”
“Aku tidak minta kamu langsung memaafkan.”
“Bagus.”
“Aku cuma mau kamu tahu, aku mulai mengerti apa yang kulakukan.”
Aku melihat pria yang pernah menjadi suamiku.
Ada bagian dari diriku yang ingin mempercayainya.
Bukan karena aku ingin kembali.
Karena lebih mudah menjalani sebelas tahun pernikahan kalau aku bisa mengatakan semua itu hanyalah satu kesalahan besar.
Tapi bukan.
Itu rangkaian keputusan.
Berbohong.
Berselingkuh.
Menyembunyikan kehamilan.
Mengadakan pernikahan tanpa memberitahuku.
Membiarkan keluarganya merendahkanku.
Mengambil uang perusahaan.
Membuat rencana memakai asetku untuk utang bisnisnya.
Menunggu kelahiran seorang bayi agar rasa bersalahku bisa digunakan untuk menekan aku.
Tidak ada satu tombol yang secara tidak sengaja ia tekan.
“Arman,” kataku, “aku percaya kamu menyesal.”
Ia mengangkat kepala.
“Tapi?”
“Tapi aku tidak mau hidup bersamamu lagi.”
Wajahnya tidak langsung berubah.
Mungkin ia sudah menduga.
“Audrey…”
“Aku tidak akan menghalangi kamu menjadi ayah. Aku juga tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Tasya. Tapi pernikahan kita selesai.”
Ia menelan ludah.
“Apa benar-benar tidak ada jalan kembali?”
“Ada hal yang mungkin bisa diperbaiki setelah rusak.”
Aku meletakkan kedua tangan di meja.
“Tapi aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku memeriksa apakah suamiku sedang jujur setiap kali dia bilang pergi kerja.”
Arman mengangguk perlahan.
Matanya basah, tapi ia tidak menangis.
Aku juga tidak.
Itu bukan adegan yang indah.
Tidak ada musik.
Tidak ada pelukan terakhir.
Kami hanya duduk di antara dua cangkir kopi yang semakin dingin sambil menerima bahwa sesuatu yang pernah kami bangun sudah tidak bisa dihuni lagi.
Sebelum pergi, Arman berkata, “Mama masih menyalahkan kamu.”
“Aku tahu.”
“Aku sedang tinggal terpisah dari dia dan Tasya untuk sementara.”
Aku terkejut.
“Kenapa?”
“Karena aku baru sadar selama ini setiap masalah yang kubuat selalu ada orang yang kubiarkan menyelesaikannya. Kamu, Mama, pegawai, siapa saja.”
Aku tidak memberi pujian.
Ia harus memperbaiki hidupnya untuk dirinya sendiri, bukan untuk mendapat pengampunanku.
“Aku harap kamu serius.”
“Aku juga.”
Kami berpisah di depan kafe.
Tidak ada janji bertemu lagi.
Tiga bulan kemudian, proses perceraian masih berjalan.
Pengembalian Rp320 juta mulai dilakukan dengan cicilan sesuai kesepakatan.
Perusahaan Arman bertahan dalam ukuran lebih kecil.
Dua cabang tutup.
Ia menjual beberapa aset usahanya.
Aku tidak tahu apakah pada akhirnya bisnis itu akan berhasil.
Itu bukan lagi tanggung jawabku.
Tasya melahirkan seorang bayi laki-laki.
Aku mengetahui dari pesan singkat Arman.
“Anaknya lahir sehat. Aku cuma ingin memberi tahu.”
Aku menatap pesan itu cukup lama.
Kemudian menjawab.
“Semoga sehat dan tumbuh baik.”
Tidak lebih.
Anak itu tidak melakukan apa-apa kepadaku.
Aku tidak membutuhkan kebencian terhadap seorang bayi untuk membuktikan bahwa aku terluka.
Bu Ratna tidak pernah meminta maaf secara langsung.
Ia sempat mengirim pesan panjang yang mengatakan bahwa ia “hanya menginginkan cucu dan kebahagiaan anaknya”.
Aku tidak membalas.
Beberapa minggu kemudian ia mengirim pesan lain.
“Aku seharusnya tidak mengunggah tulisan itu tentangmu.”
Bukan permintaan maaf lengkap.
Tapi setidaknya tidak lagi menyalahkanku.
Aku menjawab singkat.
“Terima kasih sudah mengakui itu.”
Hubungan kami berhenti di sana.
Tidak berdamai.
Tidak bermusuhan.
Hanya selesai.
Vila yang kujual mulai direnovasi menjadi properti kecil milik kelompok hotel.
Awalnya aku tidak sanggup melewati jalan menuju tempat itu.
Terlalu banyak kenangan.
Suatu sore, hampir enam bulan setelah malam aku membuka Instagram di kantor, aku mengemudi sendiri ke sana.
Gerbang lama sudah diganti.
Pohon kamboja di depan masih ada.
Bangunan utama belum banyak berubah dari luar.
Aku berhenti di seberang jalan beberapa menit.
Aku pernah menganggap menjual vila itu tindakan paling besar yang kulakukan.
Ternyata bukan.
Yang paling besar adalah berhenti menganggap semua orang harus tetap nyaman agar aku bisa disebut istri yang baik.
Aku pulang ke apartemenku di Jakarta malam itu.
Apartemen yang jauh lebih kecil.
Tidak ada staf rumah.
Tidak ada sepuluh kamar.
Tidak ada keluarga besar yang keluar masuk.
Di dekat pintu ada sebuah mangkuk kayu tempat aku biasa meletakkan kunci.
Dulu mangkuk seperti itu selalu berisi banyak kunci cadangan.
Untuk Arman.
Untuk Bu Ratna.
Untuk sopir.
Untuk saudara yang ingin menginap.
Malam itu hanya ada dua.
Kunci apartemenku.
Dan kunci kantorku.
Aku meletakkan keduanya di sana, mengunci pintu dari dalam, lalu mematikan lampu ruang tamu.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada seorang pun yang memiliki kunci rumahku kecuali aku.
Menurutmu, apakah Audrey benar menjual vila dan mengakhiri pernikahannya, atau seharusnya ia memberi Arman kesempatan memperbaiki semuanya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
