Bagian 2
Aku langsung menatap Dimas.
Dia duduk di kursi sebelahku ketika aku memutar voice note itu dari awal.
Pak Arif melanjutkan.
“Sore tadi Bu Nisa datang sama dua temannya untuk cek dekorasi. Mereka sempat bahas katering. Ada yang tanya kenapa tidak pesan dari vendor saja. Bu Nisa bilang, ‘Ngapain bayar mahal? Rani senang kalau diminta bantu. Tinggal bikin dia merasa dibutuhkan.’”
Aku tidak bergerak.
Suara Pak Arif berhenti sebentar, lalu terdengar lagi.
“Saya sebenarnya tidak kenal urusan pertemanan Ibu. Tapi karena minggu lalu Ibu yang telepon saya soal meja makanan, saya pikir Ibu memang bagian dari acara. Tadi saya dengar mereka bicara soal mengurangi beberapa tamu. Nama Ibu disebut. Saya rasa tidak enak kalau Ibu tidak tahu.”
Voice note selesai.
Dimas mengambil napas panjang.

“Jadi dari awal dia memang menganggap kamu katering gratis.”
Aku belum siap menyebutnya seperti itu.
Namun aku juga tidak punya kalimat lain yang lebih tepat.
Aku menekan tombol balas.
“Terima kasih sudah memberi tahu, Pak. Saya enggak akan membawa nama Bapak ke masalah ini.”
Setelah itu aku tidak menghubungi Nisa.
Aku menelepon Bu Mira.
Sudah hampir pukul sebelas malam, jadi aku sebenarnya tidak berharap dia mengangkat. Tetapi setelah beberapa dering, terdengar suara perempuan yang pelan.
“Halo?”
Aku menjelaskan siapa aku dan dari mana mendapat nomornya.
Lalu aku bertanya apakah mereka bisa menerima makanan matang dalam jumlah cukup banyak pada Sabtu pagi.
Bu Mira diam beberapa detik.
“Berapa banyak, Bu?”
“Kurang lebih untuk lima puluh orang.”
Kali ini dia benar-benar terdiam.
“Lima puluh?”
“Iya. Kondisinya baru matang malam ini. Besok pagi langsung saya antar. Sebagian bisa dipanaskan lagi.”
Suara di ujung telepon berubah.
“Kalau memang Ibu yakin, kami sangat bisa pakai. Besok ada dua belas ibu di sini, lima bayi, beberapa anak yang ikut ibunya, relawan, dan ada keluarga pasien dari luar kota yang biasa makan bersama kami. Kami sedang menghemat belanja minggu ini.”
Aku menatap meja makan.
Untuk pertama kalinya malam itu, melihat loyang-loyang itu tidak membuatku merasa bodoh.
“Baik, Bu. Kami antar pagi.”
Setelah menutup telepon, aku kembali ke grup.
Puluhan pesan sudah masuk.
Nisa menulis, “Rani, ini keterlaluan. Aku sudah janji ke semua orang makanannya siap.”
Aku hampir mengetik jawaban panjang.
Dimas menahan tanganku.
“Enggak usah membela diri ke sepuluh orang sekaligus.”
Aku memandangnya.
“Kalau aku diam, mereka akan percaya dia.”
“Kalau mau jawab, kasih fakta. Jangan berantem.”
Aku tahu dia benar.
Jadi aku hanya mengambil tangkapan layar dua pesan Nisa.
Pesan yang mengatakan aku tidak lagi diundang.
Dan pesan yang tetap meminta makanan diantar.
Aku kirim ke grup.
Lalu kutulis:
“Supaya tidak ada salah paham. Aku diberi tahu malam ini setelah semua makanan selesai bahwa aku tidak boleh datang. Makanan ini hadiah, bukan pesanan katering. Aku mengeluarkan uang sendiri dan mengambil cuti untuk memasaknya. Besok makanan akan aku antar ke Rumah Singgah Pelita Ibu.”
Tidak ada kalimat marah.
Tidak ada voice note Pak Arif.
Aku tidak ingin menyeret orang yang sudah berbaik hati memberi tahu aku.
Beberapa menit kemudian Puja menjawab.
“Kamu bayar semua bahannya sendiri?”
“Iya.”
“Kamu enggak pernah dibayar Nisa?”
“Tidak.”
Kavita ikut bertanya.
“Dan dia baru bilang kamu enggak diundang setelah semua selesai?”
“Iya.”
Nisa langsung masuk.
“Kenapa sekarang kamu bikin aku kelihatan jahat di depan semua orang?”
Aku membaca kalimat itu, lalu meletakkan ponsel.
Aneh.
Sebelumnya aku masih ingin dia mengatakan maaf.
Setelah mendengar voice note Pak Arif, aku bahkan tidak menginginkan itu lagi malam itu.
Yang kuinginkan cuma tidur.
Sabtu pagi pukul tujuh, mertuaku datang lagi setelah mendengar dari Dimas apa yang terjadi.
Beliau tidak banyak berkomentar.
Dia hanya masuk ke dapur, melihat semua loyang, lalu berkata, “Kayla sama Ibu saja. Kalian antar makanannya.”
Itu cukup.
Aku dan Dimas memasukkan loyang satu per satu ke mobil.
Ketika tinggal dua loyang terakhir, ponselku berdering.
Nisa menelepon.
Aku membiarkannya.
Dia menelepon lagi.
Kemudian voice note masuk.
“Kamu serius mau memberikan makanan acara anakku ke orang yang bahkan enggak kamu kenal?”
Aku berhenti dengan tangan masih memegang pintu bagasi.
Dimas menatapku, tetapi tidak berkata apa-apa.
Voice note kedua masuk.
“Aku tahu kamu sakit hati. Tapi jangan hukum aku pakai acara ini. Semua orang sudah datang dari jauh. Aku lagi hamil, Ran. Masa kamu tega?”
Aku memutar dua pesan itu sekali.
Lalu kuketik:
“Aku enggak menghukum kamu. Aku hanya tidak lagi memberikan hadiahku kepada orang yang sudah bilang aku bukan bagian dari acaranya.”
Aku hendak menyimpan ponsel ketika pesan dari Puja muncul.
“Ran, tunggu.”
Beberapa detik kemudian:
“Rumah singgah yang kamu maksud yang dekat RSUD itu?”
“Iya.”
Lalu dia mengirim satu kalimat yang tidak kuduga.
“Sepupuku pernah tinggal di sana tiga minggu setelah melahirkan. Aku baru cerita ke Kavita dan Rita. Kami enggak tahu tempat itu yang akan menerima makanannya.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku membaca pesan Puja sambil berdiri di samping mobil.
Entah kenapa, kalimat itu membuat semuanya terasa lebih nyata.
Sebelumnya Rumah Singgah Pelita Ibu hanya sebuah nomor di ponselku dan kenangan dari kegiatan donasi klinik.
Bagi Puja, tempat itu punya wajah.
Dia langsung menelepon.
Aku sempat ragu mengangkat, tetapi akhirnya kujawab.
“Ran, aku minta maaf.”
Suaranya jauh lebih pelan daripada nada pesannya semalam.
“Aku memang langsung percaya Nisa.”
Aku tidak menjawab.
Puja melanjutkan.
“Yang dia bilang ke kami, kamu marah karena jumlah tamu dikurangi terus mendadak menahan makanan. Dia enggak bilang kamu baru dikasih tahu setelah selesai masak. Aku juga enggak tahu kamu bayar semuanya.”
Aku bersandar pada pintu mobil.
“Makanya aku kirim screenshot. Aku enggak ingin semua orang harus percaya aku. Aku cuma enggak mau ceritanya diubah.”
“Aku ngerti.”
Beberapa detik kami sama-sama diam.
Kemudian Puja berkata, “Kalau kamu belum berangkat, boleh aku ikut bantu antar?”
Aku langsung ingin mengatakan tidak.
Masih ada bagian dalam diriku yang kesal melihat namanya.
Dialah yang menulis, “Jangan bikin drama.”
Tetapi kemudian aku berpikir, meminta maaf tidak akan berarti banyak kalau seseorang tidak diberi kesempatan melakukan sesuatu yang berbeda.
“Kalau memang mau,” kataku. “Kami berangkat sekitar dua puluh menit lagi.”
“Aku ke rumahmu.”
Aku menutup telepon.
Dimas yang sejak tadi pura-pura mengatur posisi loyang di bagasi mengangkat alis.
“Siapa?”
“Puja.”
“Mau apa?”
“Bantu.”
Dia mengangguk sekali.
“Bagus.”
Tidak ada komentar kemenangan.
Tidak ada, “Tuh, kan.”
Itu juga salah satu hal yang kusyukuri dari Dimas.
Dia tahu aku sedang terluka. Dia tidak mengubah rasa sakitku menjadi pertandingan tentang siapa yang paling benar.
Dua puluh lima menit kemudian, mobil Puja masuk ke depan rumah.
Dia turun dengan kaus sederhana dan celana panjang, rambutnya diikat seadanya. Tidak seperti orang yang akan menghadiri baby shower.
Dia membawa beberapa dus air mineral.
“Ini dari minimarket,” katanya canggung. “Aku enggak tahu harus bawa apa.”
Aku membuka pagar.
“Taruh di mobilmu saja. Mobil kami sudah penuh.”
Saat kami mengangkat dua loyang yang tersisa, Puja berkata pelan, “Kavita juga minta maaf. Rita masih di tempat Nisa. Katanya suasananya sudah kacau karena mereka baru sadar makanannya enggak datang.”
Aku menutup bagasi.
“Aku enggak perlu laporan soal acaranya.”
Puja terdiam.
Aku menyesal nada suaraku terdengar tajam.
Tapi aku juga tidak menarik kalimat itu.
“Aku enggak sedang berharap acaranya gagal,” lanjutku. “Kalau mereka pesan makanan lain, ya bagus. Aku cuma sudah enggak mau ikut bagian di situ.”
Puja mengangguk.
“Benar.”
Kami berangkat dengan dua mobil.
Rumah Singgah Pelita Ibu berada di sebuah jalan kecil tidak jauh dari kompleks rumah sakit. Bangunannya bukan panti besar. Hanya rumah dua lantai yang tampaknya dulu rumah tinggal biasa, dengan teras sempit dan beberapa sandal bersusun di dekat pintu.
Bu Mira sudah menunggu.
Dia perempuan sekitar lima puluhan dengan rambut pendek dan kaus polo sederhana.
Begitu melihat bagasi mobil kami terbuka, matanya membesar.
“Ya ampun, sebanyak ini?”
Aku tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak semalam.
“Ternyata saya kalau masak enggak tahu rem.”
Dimas berdeham.
“Sudah saya bilang dari awal.”
Bu Mira ikut tertawa.
Ketegangan yang menempel di bahuku sejak semalam sedikit berkurang.
Kami membawa makanan masuk ke sebuah ruang makan sederhana yang disatukan dengan dapur.
Tidak ada adegan besar.
Tidak ada orang bertepuk tangan.
Tidak ada yang bertanya kenapa makanan sebanyak itu datang.
Beberapa ibu sedang menggendong bayi.
Seorang anak laki-laki sekitar enam tahun duduk di ujung meja mewarnai buku gambar.
Ada dua perempuan muda membantu menyusun piring.
Bu Mira menjelaskan bahwa sebagian makanan akan digunakan untuk makan siang, sisanya disimpan dengan benar untuk malam dan hari berikutnya.
“Ayamnya banyak sekali,” katanya sambil membuka satu loyang.
“Jangan bilang begitu,” kata Dimas. “Nanti istri saya merasa usahanya kurang.”
Aku menyikut lengannya.
Puja, yang berdiri di dekat wastafel, tertawa.
Lalu dia mendadak diam.
Aku melihat matanya tertuju pada seorang ibu muda yang sedang mengayun bayinya.
Mungkin dia sedang memikirkan sepupunya.
Mungkin baru saat itu dia benar-benar memahami ke mana makanan yang semalam dia suruh aku antar ke pesta akhirnya pergi.
Sekitar setengah jam kemudian, kami selesai menata semuanya.
Bu Mira mengambil beberapa foto makanan untuk dokumentasi internal dan bertanya apakah aku keberatan kalau mereka mengirim ucapan terima kasih melalui WhatsApp.
“Tidak perlu posting nama saya,” kataku.
“Baik.”
Aku benar-benar tidak ingin menjadikan rumah singgah itu alat untuk memenangkan pertengkaran.
Aku tidak menyumbangkan makanan supaya Nisa terlihat buruk.
Aku hanya tidak mau makanan itu terbuang.
Sebelum kami pulang, seorang anak kecil yang tadi mewarnai berdiri di dekat meja cupcake.
Dia menatap pita merah muda di kotaknya.
“Bu, ini boleh dimakan sekarang?”
Salah satu relawan tertawa.
“Nanti setelah makan.”
Anak itu mengangguk sangat serius, lalu duduk kembali.
Aku melihat pita-pita yang kupasang satu per satu tengah malam sebelumnya.
Kemarin malam, aku merasa pita itu bukti betapa mudahnya aku dimanfaatkan.
Sekarang benda yang sama cuma menjadi hiasan kecil yang membuat seorang anak menunggu makan siang dengan gembira.
Kadang makna sebuah kerja keras memang tergantung kepada siapa kita memberikannya.
Dalam perjalanan pulang, Puja menelepon dari mobilnya.
“Aku sama Kavita mau mengganti sebagian biaya bahan.”
“Enggak perlu.”
“Ran.”
“Sungguh.”
“Setidaknya bagian kami.”
Aku mengerti maksudnya.
Mungkin mereka merasa bersalah.
Tapi aku tidak mau pembayaran itu mengubah apa yang baru saja kulakukan.
“Makanannya sudah jadi pemberian,” jawabku. “Kalau kalian ingin melakukan sesuatu, langsung saja tanya Bu Mira apa yang mereka butuhkan bulan depan.”
Puja diam sesaat.
“Oke.”
Sebelum menutup telepon, dia berkata, “Nisa terus bilang kamu mempermalukan dia.”
Aku menatap jalan di depan.
“Padahal aku bahkan belum cerita ke siapa-siapa soal apa yang kudengar dari Pak Arif.”
Puja terdiam.
“Apa yang kamu dengar?”
Aku menyadari aku hampir mengatakan terlalu banyak.
Aku tidak ingin menyebarkan voice note itu.
“Itu urusanku sama Nisa,” jawabku. “Aku enggak mau bawa orang lain lagi.”
Puja tidak memaksa.
Aku menghargai itu.
Ketika kami sampai rumah, mertuaku sedang duduk di lantai ruang keluarga menyusun balok bersama Kayla.
Beliau menatapku.
“Sudah sampai?”
“Sudah.”
“Dimakan orang?”
Aku tersenyum.
“Insya…”
Aku menghentikan kata itu sebelum selesai karena kami memang tidak pernah menjadikan agama sebagai bahasa utama dalam keluarga sehari-hari.
“Sudah diterima. Mereka senang.”
Mertuaku mengangguk.
“Ya sudah. Berarti enggak mubazir.”
Bagi beliau, masalahnya sesederhana itu.
Aku mandi lalu tidur hampir tiga jam.
Saat bangun, ponselku memiliki puluhan notifikasi.
Aku tidak langsung membukanya.
Aku membuat susu Kayla.
Menemaninya makan buah.
Baru setelah sore aku duduk di meja makan dengan secangkir teh.
Grup kuliah sudah jauh lebih tenang.
Kavita menulis permintaan maaf secara terbuka.
“Ran, aku minta maaf karena tadi malam ikut menghakimi tanpa tahu cerita lengkap.”
Puja menambahkan bahwa makanan sudah sampai di rumah singgah dan diterima dengan baik.
Dia tidak mengirim foto orang-orang di sana.
Aku senang.
Rita, yang tetap hadir di baby shower Nisa, baru mengirim pesan sore.
“Acara tetap jalan. Mereka akhirnya pesan nasi kotak dan beberapa menu tambahan dari restoran dekat gedung. Jadi semua sudah aman.”
Aku menghembuskan napas.
Bagus.
Aku memang tidak ingin ada perempuan hamil kelaparan di acaranya hanya karena persahabatan kami rusak.
Lalu pesan pribadi dari Nisa masuk.
“Kamu puas sekarang?”
Aku tidak membalas.
Pesan kedua.
“Semua orang jadi lihat aku kayak orang jahat.”
Ketiga.
“Aku cuma mencoba bikin acara kecil supaya enggak terlalu ramai. Kamu yang membesar-besarkan.”
Aku menatap layar cukup lama.
Dulu aku mungkin akan menjelaskan diri.
Aku akan menulis paragraf panjang.
Aku akan mengingatkan berapa lama kami berteman.
Aku akan memohon supaya dia memahami mengapa tindakannya menyakitiku.
Kali ini aku mengetik empat kata.
“Kita bicara besok saja.”
Dia langsung menelepon.
Aku menolak.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua hari, aku makan malam tanpa melihat grup WhatsApp.
Besok paginya Nisa kembali menghubungi.
“Aku mau bicara.”
Aku menjawab, “Telepon jam sepuluh.”
Pukul sepuluh tepat, dia menelepon.
Aku duduk di meja makan yang kemarin penuh loyang.
Dimas membawa Kayla keluar membeli kebutuhan rumah supaya aku bisa bicara tanpa gangguan.
Begitu kuangkat, Nisa langsung berkata, “Aku enggak ngerti kenapa kamu sampai melakukan semua ini.”
Aku menatap bekas goresan kecil di meja.
“Bagian mana yang enggak kamu ngerti?”
“Kamu tahu aku lagi stres. Aku hamil tua. Jumlah tamu kebanyakan. Keluargaku protes. Jadi beberapa orang memang harus dicoret.”
“Itu bukan masalah utamanya.”
“Terus apa?”
“Kamu mencoret aku setelah aku selesai masak untukmu, tapi tetap berharap semua makanan datang.”
Dia menghela napas keras.
“Karena makanannya memang sudah kamu janji.”
“Aku menjanjikannya sebagai hadiah.”
“Bedanya apa?”
Aku hampir tertawa, bukan karena lucu.
“Nis, kalau seseorang membeli hadiah ulang tahun buat kamu lalu kamu bilang dia enggak boleh datang ke pestanya, kamu masih akan bilang dia wajib mengirim hadiahnya?”
“Ini bukan hadiah ulang tahun. Ini makanan untuk tamu.”
“Yang kubeli dengan uangku dan kumasak dengan waktuku.”
Dia diam.
Aku melanjutkan.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
Aku menarik napas.
“Pak Arif mendengar pembicaraanmu.”
Keheningan di ujung telepon berubah total.
Aku tidak menyebut detail dulu.
Nisa tidak bertanya Pak Arif yang mana.
Itu sudah cukup memberi tahu aku bahwa dia tahu.
“Apa yang dia bilang?” akhirnya dia bertanya.
“Dia bilang kamu mengatakan tidak perlu bayar katering karena aku senang diminta membantu. Tinggal bikin aku merasa dibutuhkan.”
Nisa tidak langsung menyangkal.
Itulah bagian yang paling menyakitkan.
Kalau dia langsung berkata, “Aku enggak pernah bilang begitu,” mungkin masih ada sedikit ruang dalam diriku untuk mempertanyakan apakah Pak Arif salah dengar.
Sebaliknya dia berkata, “Itu cuma bercanda.”
Aku menutup mata.
“Nah.”
“Rani, jangan lebay. Aku ngomong begitu ke teman-teman. Semua orang bercanda.”
“Yang lucu bagian mana?”
Dia tidak menjawab.
“Bagian aku cuti?”
“Nggak.”
“Bagian aku keluar uang lebih dari dua juta?”
“Aku enggak tahu kamu keluar sebanyak itu.”
“Karena kamu enggak pernah tanya.”
Dia terdengar mulai kesal.
“Kalau dari awal keberatan, kenapa menawarkan diri?”
Kalimat itu menyentuh sesuatu yang selama ini belum kupahami.
Aku memang menawarkan diri.
Tidak ada yang memaksaku.
Kesalahanku bukan memasak.
Kesalahanku adalah menganggap kemurahan hati berarti aku harus menerima apa pun setelahnya.
“Aku enggak keberatan membantu teman,” kataku. “Aku keberatan ketika ternyata teman itu sengaja memakai rasa sayangku karena tahu aku sulit bilang tidak.”
“Aku enggak memakai kamu.”
“Kamu sendiri bilang tinggal bikin aku merasa dibutuhkan.”
“Itu cuma cara ngomong.”
“Buat kamu mungkin.”
Dia mulai menangis.
Aku bisa mendengar suaranya pecah.
Biasanya itu akan membuatku langsung melunak.
“Nis…”
“Aku hamil delapan bulan lebih, Rani. Aku capek. Semua orang menuntut aku. Mamaku, mertuaku, keluarga suamiku. Aku cuma ingin satu hari yang enak. Terus sekarang teman-teman malah marah sama aku.”
Aku mendengarkan.
Untuk pertama kalinya aku mencoba memisahkan dua hal.
Aku percaya dia sedang stres.
Aku percaya kehamilan besar melelahkan.
Aku percaya keluarganya mungkin membuat perencanaan acara semakin rumit.
Tetapi semua itu tidak mengubah bagaimana dia memperlakukanku.
“Aku enggak ingin acaranya rusak,” kataku. “Makanya aku lega kalian akhirnya dapat makanan.”
“Kalau begitu kenapa enggak tinggal antar saja dari awal?”
“Karena aku juga manusia, Nis.”
Dia kembali diam.
“Aku bukan orang yang boleh kamu singkirkan dari ruangan tapi tetap kamu panggil saat butuh tangannya.”
Kali ini aku tidak merasa sedang mengucapkan slogan.
Aku hanya mengatakan fakta yang seharusnya kupahami sejak malam sebelumnya.
Nisa menangis beberapa menit.
Kemudian dia berkata sesuatu yang lebih jujur daripada semua pembelaannya.
“Aku pikir kamu akan tetap bawa.”
“Aku tahu.”
“Aku benar-benar pikir kamu enggak akan berani enggak bawa.”
Kalimat itu membuatku bersandar ke kursi.
Akhirnya.
Itulah pusat masalahnya.
Bukan kehamilan.
Bukan jumlah tamu.
Bukan katering.
Nisa melakukan semua itu karena dia yakin apa pun yang dia lakukan, aku tetap akan datang membawa dua belas loyang.
Dia sudah memperhitungkan kebiasaanku mengalah.
“Aku juga pikir begitu,” jawabku.
“Apa?”
“Semalam, selama beberapa menit, aku juga hampir mengantar.”
Nisa terisak.
“Terus sekarang bagaimana?”
Aku tahu yang dia tanyakan bukan soal makanan.
Persahabatan kami.
Aku melihat meja kosong di depanku.
“Aku enggak mau bertengkar sama kamu. Tapi setelah ini aku butuh jarak.”
“Jadi karena satu kesalahan, kamu buang pertemanan kita?”
“Bukan satu kesalahan.”
Aku menelan ludah.
“Yang membuatku berhenti bukan karena namaku dicoret. Yang membuatku berhenti adalah setelah mencoret namaku, kamu masih menganggap aku wajib bekerja untukmu. Lalu ketika aku menolak, kamu cerita ke grup sampai orang-orang menyerang aku.”
“Aku cuma cerita apa yang terjadi.”
“Kamu enggak cerita semuanya.”
Dia tidak membantah.
Aku melanjutkan.
“Kalau suatu hari kamu benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita, jangan mulai dari minta aku melupakan ini. Mulai dari mengakui apa yang kamu lakukan.”
Telepon kami berakhir tidak lama setelah itu.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada sumpah tidak akan bertemu lagi.
Hanya dua orang yang akhirnya tahu bahwa hubungan mereka tidak lagi berada di tempat yang sama.
Beberapa hari berikutnya, grup kuliah terasa canggung.
Aku tidak keluar dari grup.
Aku juga tidak menghapus Nisa.
Aku cuma berhenti menjadi orang pertama yang menawarkan bantuan setiap ada masalah.
Kavita mengirim transfer Rp500.000 kepadaku tanpa bertanya.
Aku langsung mengembalikannya.
Dia menelepon.
“Kenapa dikembalikan?”
“Karena aku serius. Kalau mau membantu, bantu rumah singgah.”
Dua minggu kemudian dia mengirim foto struk pembelian popok, pembalut nifas, dan kebutuhan bayi.
Tidak ada foto orang.
Tidak ada caption besar.
Hanya pesan:
“Sudah dititipkan ke Bu Mira.”
Aku membalas dengan emoji hati.
Puja melakukan hal berbeda.
Karena sepupunya pernah tinggal di sana, dia menghubungi rumah singgah dan bertanya kebutuhan rutin mereka. Akhirnya beberapa dari kami membuat jadwal kecil, bukan grup resmi atau kegiatan yang harus diumumkan, hanya siapa yang kebetulan bisa membantu bulan itu.
Aku tidak memimpin.
Aku juga tidak selalu ikut.
Itu penting bagiku.
Aku sedang belajar bahwa membantu tidak berarti harus menjadi orang yang selalu mengangkat semua beban.
Tentang Nisa, kabarnya kudengar sesekali.
Tiga minggu setelah baby shower, dia melahirkan seorang bayi perempuan.
Aku mengetahuinya dari grup.
Aku mengirim pesan sederhana.
“Selamat, Nis. Semoga kamu dan bayinya sehat.”
Dia membalas beberapa jam kemudian.
“Terima kasih.”
Tidak ada percakapan panjang.
Sebulan kemudian, sebuah paket kecil tiba di rumahku.
Isinya sebuah kotak kue dan amplop.
Surat di dalamnya ditulis tangan.
Rani,
Aku sudah beberapa kali mencoba menulis pesan, tapi selalu kuhapus.
Aku masih malu mengingat apa yang kulakukan. Setelah melahirkan, ketika beberapa orang datang membantu dan aku tidak sanggup melakukan banyak hal sendiri, aku baru sadar betapa mudahnya kita menganggap bantuan orang lain akan selalu tersedia.
Aku memang memanfaatkan kebaikanmu.
Aku juga salah menceritakan masalah kita ke grup karena aku ingin orang-orang berada di pihakku.
Aku tidak berharap kamu langsung memaafkan atau kembali dekat seperti dulu.
Aku cuma ingin bilang maaf tanpa alasan.
Nisa.
Aku membaca surat itu dua kali.
Lalu kusimpan di laci meja.
Aku tidak langsung meneleponnya.
Permintaan maaf yang baik tidak selalu harus dibayar dengan rekonsiliasi seketika.
Beberapa hari kemudian aku mengirim pesan.
“Aku sudah baca suratmu. Terima kasih karena akhirnya jujur. Untuk sekarang aku masih butuh jarak. Semoga kamu dan bayi sehat.”
Dia menjawab:
“Aku mengerti.”
Dan kali ini, dia benar-benar menghormati itu.
Tiga bulan setelah kejadian tersebut, hidupku tidak berubah secara dramatis.
Aku masih bekerja paruh waktu.
Dimas masih menggodaku setiap kali aku memasak terlalu banyak.
Kayla masih menumpahkan susu di meja.
Tagihan tetap datang.
Aku masih beberapa kali mengatakan “iya” terlalu cepat ketika orang meminta bantuan.
Bedanya, sekarang aku lebih sering berhenti sebentar sebelum menjawab.
Suatu Jumat, kantor klinikku mengadakan kegiatan kecil untuk Rumah Singgah Pelita Ibu.
Seorang rekan bertanya apakah aku bisa membuat makanan.
Aku hampir menjawab otomatis.
Bisa.
Kemudian aku melihat jadwal kerja, menghitung waktu, dan memikirkan Kayla.
“Aku bisa bikin satu loyang pasta,” kataku. “Yang lain kita bagi ke orang lain, ya.”
Tidak ada yang tersinggung.
Tidak ada yang menyebutku egois.
Dunia ternyata tidak runtuh hanya karena aku tidak mengambil semua pekerjaan.
Malam sebelum kegiatan itu, aku membuat satu loyang.
Hanya satu.
Dimas masuk ke dapur dan melihat meja.
“Cuma segitu?”
Aku tertawa.
“Iya.”
Dia menempelkan telapak tangan ke dahiku.
“Enggak demam?”
“Keluar.”
Dia tertawa sambil berjalan pergi.
Setelah pasta dingin, aku menutup loyang dengan foil dan menaruhnya di kulkas.
Dulu, dapur yang penuh dua belas loyang membuatku merasa dibutuhkan.
Sekarang satu loyang terasa jauh lebih ringan.
Bukan karena ukurannya.
Karena kali ini aku tahu persis untuk siapa kubuat, berapa banyak yang sanggup kuberi, dan kapan aku boleh berkata cukup.
Menurutmu, apakah Rani seharusnya memberi Nisa kesempatan memperbaiki persahabatan mereka setelah permintaan maaf yang jujur?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
