Suamiku Sudah Dimakamkan Dua Tahun Lalu, tetapi Seorang Perempuan Masuk ke Rumahku dan Meneleponnya dari Kamar Tidur

Avatar penulis
Cerita 01
20 menit baca 745 tayangan
Suamiku Sudah Dimakamkan Dua Tahun Lalu, tetapi Seorang Perempuan Masuk ke Rumahku dan Meneleponnya dari Kamar Tidur
Indeks

Bagian 2

Aku bahkan tidak berani menarik napas panjang.

Perempuan itu tahu aku tidak pergi kerja.

Berarti ia bukan sekadar masuk diam-diam.

Ia juga memperhatikanku.

“Mobilnya tadi keluar,” suara Raka terdengar.

“Keluar, lalu diparkir dekat minimarket.”

“Jadi dia balik?”

“Aku tidak tahu. Satpam bilang dia keluar seperti biasa.”

Suamiku Sudah Dimakamkan Dua Tahun Lalu, tetapi Seorang Perempuan Masuk ke Rumahku dan Meneleponnya dari Kamar Tidur

Perempuan itu membuka laci meja samping ranjang.

Aku mendengar benda-benda kecil bergeser.

Raka berkata sesuatu lebih pelan yang tidak tertangkap jelas.

“Aku sudah cari tiga kali,” jawab perempuan itu dengan nada mulai tinggi. “Tidak ada.”

Tiga kali.

Bu Siska tidak berlebihan.

Ia memang sudah beberapa hari datang.

“Turunkan suaramu,” kata Raka.

“Aku capek disuruh masuk ke rumah istrimu setiap siang.”

Istrimu.

Kata itu membuat seluruh ketakutanku berubah bentuk.

Mereka mengenalku.

Mereka membicarakanku.

Dan perempuan yang sedang berdiri beberapa sentimeter dari tempat persembunyianku jelas memiliki hubungan yang jauh lebih lama dengan suamiku daripada hari itu.

“Aku sudah bilang tempatnya di kamar,” kata Raka.

“Di mana?”

“Coba tas kamera hitam.”

“Yang mana?”

“Dulu ada di lemari atas.”

Perempuan itu membuka lemari pakaian.

Aku menggeser jempolku ke layar ponsel dan mulai merekam suara tanpa mengeluarkannya dari genggaman.

“Kamu yakin masih di sini?”

“Kalau Laras belum membuang barang-barangku, harusnya masih ada.”

“Auditnya hari Senin, Rak.”

Raka diam.

Lalu suaranya berubah keras.

“Makanya cari.”

Perempuan itu membanting pintu lemari.

“Jangan bentak aku. Dua tahun aku yang ngurus semua karena kamu bahkan tidak bisa muncul pakai nama sendiri.”

“Tidak sekarang, Nadia.”

Jadi namanya Nadia.

Aku pernah mendengar nama itu.

Hanya saja saat itu aku belum ingat dari mana.

Ia menarik sebuah kotak dari lemari.

Buku jatuh.

Aku menutup mata.

Debu membuat hidungku gatal dan aku hampir bersin.

“Tidak ada tas kamera.”

“Cari di bawah.”

Nadia diam.

Lalu langkahnya mendekat.

Satu lututnya turun ke lantai.

Aku melihat ujung rambutnya.

Jantungku seperti menghantam tulang rusuk.

Tangannya menyentuh seprai yang menggantung.

Aku sudah menekan nomor darurat di layar.

Sedetik lagi, kalau kain itu terangkat, aku akan menelepon.

Namun ponselnya berbunyi.

Nadia berdiri lagi.

“Ada telepon dari kantor.”

“Jangan angkat di situ.”

“Terus aku harus bagaimana?”

“Keluar sekarang. Kalau Laras memang balik, jangan ambil risiko.”

Nadia mengambil tas merahnya.

“Aku sudah bilang, kalau barang itu tidak ketemu hari ini, kamu sendiri yang masuk.”

“Aku tidak bisa.”

“Tentu saja. Semua harus aku.”

Ia mematikan telepon.

Sepatunya menjauh.

Aku mendengar pintu kamar.

Lorong.

Pintu depan.

Kunci diputar.

Lalu sunyi.

Aku tetap berada di bawah ranjang hampir sepuluh menit.

Baru setelah itu aku merangkak keluar.

Kedua lututku gemetar.

Hal pertama yang kulakukan bukan menelepon siapa pun.

Aku mengambil foto terlipat yang sejak pagi tergeletak di bawah ranjang.

Foto itu memperlihatkan Raka sedang duduk di sebuah kafe dengan seorang perempuan.

Nadia.

Mereka tidak berpelukan.

Tidak ada hal romantis yang terang-terangan.

Tetapi tangan Nadia berada di lengan Raka.

Dan di belakang foto tertulis dengan tinta hitam:

12 Agustus.

Aku menghitung cepat.

Lima minggu sebelum kecelakaan.

Aku mengenal tulisan tangan Raka.

Ada dua kata lain di bawah tanggal.

Jangan lupa.

Aku duduk di lantai.

Lalu ingatanku akhirnya menemukan nama Nadia.

Raka pernah menyebutnya sebagai orang dari bagian vendor di kantornya.

Hanya sekali atau dua kali.

Katanya perempuan itu merepotkan karena terlalu teliti soal dokumen.

Aku langsung menelepon petugas keamanan kompleks.

Setelah itu aku menghubungi polisi dan menjelaskan bahwa seseorang memiliki kunci rumahku dan masuk tanpa izin.

Aku tidak mengatakan melalui telepon bahwa suamiku yang mati baru saja berbicara melalui pengeras suara.

Kalimat itu bahkan terdengar tidak masuk akal di kepalaku sendiri.

Aku hanya mengatakan aku memiliki rekaman.

Petugas yang datang menyarankan agar aku tidak menyentuh barang yang mungkin dicari orang tersebut dan segera mengganti kunci. Laporanku dicatat, termasuk waktu masuk, deskripsi Nadia, dan rekaman suara yang kumiliki.

“Suara laki-lakinya Anda kenal?” tanya salah satu petugas.

Aku menatap layar ponsel.

“Suami saya.”

“Dia tinggal di mana?”

Aku hampir tertawa.

“Di surat kematiannya, dia sudah meninggal dua tahun.”

Petugas itu berhenti menulis.

Sore itu juga aku mengganti seluruh silinder kunci rumah.

Aku juga memindahkan dokumen pribadiku ke tas yang kubawa ke rumah adikku untuk sementara. Aku tidak ingin tidur sendirian di sana malam itu.

Sebelum berangkat, aku memeriksa lemari atas.

Tidak ada tas kamera hitam.

Aku hampir menyerah ketika melihat sebuah kotak sepatu tua di balik koper.

Di dalamnya ada kabel kamera, baterai lama, dan sebuah kantong kain.

Di kantong itu terdapat flash drive hitam kecil.

Huruf R.K. ditulis dengan spidol putih di sisinya.

Aku tidak membukanya.

Aku memasukkannya ke amplop, memotretnya di tempat semula, lalu menyerahkannya kepada petugas sebagai barang yang mungkin berkaitan dengan orang yang masuk ke rumahku.

Malamnya, sekitar pukul sebelas, sebuah nomor tak dikenal mengirim pesan.

Hanya satu kalimat.

Laras, jangan kasih benda dari kamar itu kepada siapa pun sebelum kamu dengar penjelasanku.

Aku menatap layar lama sekali.

Kemudian pesan kedua masuk.

Aku tahu kamu dengar suaraku siang tadi.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku tidak membalas malam itu.

Nomor tersebut menelepon tiga kali.

Aku mematikan suara ponsel, meletakkannya di meja makan rumah adikku, lalu duduk di kursi sampai hampir pukul dua pagi.

Aku tidak menangis.

Aneh sekali, karena selama dua tahun aku sudah menangisi Raka dalam berbagai bentuk.

Aku menangis ketika melihat kemeja terakhir yang ia kenakan sebelum berangkat.

Aku menangis ketika tagihan listrik pertama datang hanya dengan namaku.

Aku menangis ketika ulang tahun pernikahan kami lewat dan tidak ada seorang pun selain aku yang mengingatnya.

Tetapi saat mengetahui ia hidup, yang kurasakan justru sesuatu yang lebih dingin.

Bukan lega.

Bukan bahagia.

Bahkan bukan marah.

Aku hanya terus memikirkan satu hal.

Dua tahun.

Ia membiarkanku menguburkan orang lain.

Pagi berikutnya nomor itu menelepon lagi.

Kali ini aku mengangkatnya.

Aku tidak menyapa.

Beberapa detik hanya ada napas.

Kemudian suara Raka berkata, “Lar.”

Aku berdiri dan berjalan ke balkon supaya adikku tidak mendengar.

“Jangan panggil aku begitu.”

Ia diam.

“Aku bisa jelaskan.”

“Siapa yang kumakamkan?”

Pertanyaan itu membuatnya tidak langsung menjawab.

“Laras, dengar dulu.”

“Siapa?”

“Aku tidak tahu namanya waktu itu.”

Tanganku mengencang di pagar balkon.

“Kamu tidak tahu?”

“Kecelakaannya sungguhan.”

“Aku tanya siapa yang ada di peti itu.”

“Aku bilang aku tidak tahu.”

Aku menutup mata.

Jalan di bawah mulai ramai oleh orang berangkat kerja.

Seseorang menyalakan motor.

Seorang anak sekolah berlari mengejar mobil ayahnya.

Dunia berjalan normal sementara aku berbicara dengan laki-laki yang dua tahun lalu dianggap mati.

Raka berkata, “Aku berada di lokasi kecelakaan itu.”

“Lalu?”

“Aku selamat.”

“Dan membiarkan semua orang mengira kamu mati.”

“Aku panik.”

“Selama dua tahun?”

Ia mengembuskan napas.

“Situasinya lebih rumit.”

“Tidak. Yang rumit itu satu jam. Mungkin satu hari. Dua tahun itu keputusan.”

Ia terdiam.

Aku akhirnya mengerti bahwa tidak ada penjelasan yang akan mengubah fakta dasar itu.

Ia memilih untuk tetap hilang.

“Flash drive itu masih ada?” tanyanya.

Bahkan sebelum menanyakan bagaimana keadaanku.

Bahkan sebelum meminta maaf.

Aku memandang ponsel.

“Jadi itu alasan Nadia masuk?”

“Jangan sebut namanya dulu.”

“Kenapa? Takut aku salah menyebut nama perempuan yang masuk ke rumahku memakai kunci?”

“Laras, jangan bikin keadaan makin sulit.”

Kalimat itu hampir terdengar seperti Raka yang dulu.

Orang yang akan mengatakan aku memperbesar masalah setiap kali ia tidak ingin menjawab.

Aku berkata, “Barang itu sudah tidak ada padaku.”

Suaranya langsung berubah.

“Kamu kasih ke siapa?”

Aku tidak menjawab.

“Laras.”

“Kalau benda itu milikmu dan bersih, kamu tidak perlu takut.”

“Jangan sok tahu soal urusan yang tidak kamu mengerti.”

Aku tersenyum tanpa sadar.

Bukan karena lucu.

Karena akhirnya pola itu begitu jelas.

Dua tahun lalu aku mungkin akan mengecilkan suara dan berkata baik-baik.

Pagi itu aku hanya berkata, “Jangan hubungi aku lagi kecuali lewat pihak yang menangani laporan.”

Aku memutus telepon.

Lima menit kemudian ada tujuh pesan masuk.

Aku tidak membukanya.

Siang harinya aku mendapat telepon dari penyidik yang menangani laporan masuk tanpa izin. Karena isi rekamanku berkaitan dengan seseorang yang secara administrasi tercatat meninggal, kasus itu tidak lagi dipandang sebagai persoalan orang masuk rumah biasa.

Aku diminta membawa seluruh dokumen yang kumiliki mengenai kecelakaan Raka.

Untuk pertama kalinya sejak pemakamannya, aku membuka kembali map cokelat yang selama dua tahun kusimpan di lemari.

Surat rumah sakit.

Salinan laporan kecelakaan.

Dokumen kematian.

Daftar barang yang dikembalikan kepada keluarga.

Jam tangan Raka.

Dompetnya.

Ponsel yang rusak.

Sebuah cincin.

Dulu benda-benda itu cukup bagiku.

Aku sedang syok.

Semua orang mengatakan kondisi jenazah membuat proses identifikasi sulit.

Nama Raka ada di mana-mana.

Aku tidak pernah membayangkan kemungkinan bahwa nama pada kertas bisa salah.

Sekarang, membaca ulang dokumennya dengan kepala berbeda, aku menyadari sesuatu.

Identifikasi awal banyak didasarkan pada barang yang ditemukan bersama korban dan informasi dari kendaraan.

Aku menelepon rumah sakit.

Mereka tidak memberikan informasi sembarangan, tetapi setelah menjelaskan bahwa ada penyelidikan resmi, aku diarahkan untuk meminta dokumen melalui prosedur yang benar.

Aku tidak mencoba menjadi penyidik sendiri.

Aku sudah cukup bodoh dengan bersembunyi di bawah ranjang.

Kali ini aku menyerahkan pekerjaannya kepada orang yang memang berwenang.

Sementara proses itu berjalan, aku melakukan satu hal yang bisa kulakukan sendiri.

Aku mencari nomor kantor lama Raka.

Ia dulu bekerja di perusahaan pemasok material konstruksi di kawasan Bintaro.

Nomor pusat masih sama.

Aku menyebut nama lengkap Raka kepada bagian administrasi dan mengatakan aku istrinya.

Perempuan di telepon terdiam agak lama.

“Bapak Raka yang meninggal dua tahun lalu?”

“Iya.”

Aku hampir mengatakan tidak.

Sebagai gantinya aku meminta bicara dengan seseorang yang dulu menangani divisinya.

Akhirnya aku tersambung dengan Pak Reza, mantan atasannya.

Aku tidak menceritakan seluruh kejadian.

Aku hanya menanyakan Nadia.

“Nadia Permata?”

“Iya.”

“Ada apa dengan dia?”

“Dia dulu kerja dengan suami saya?”

“Banyak. Dia pegang koordinasi vendor untuk beberapa proyek yang ditangani Raka.”

“Dia masih bekerja di sana?”

“Sudah keluar.”

“Kapan?”

Pak Reza berhenti sejenak.

“Tidak lama setelah Raka meninggal.”

Dadaku terasa berat.

“Sebelum keluar, ada masalah?”

Kali ini ia lebih berhati-hati.

“Bu Laras, saya tidak bisa membuka dokumen perusahaan kepada Ibu.”

“Saya mengerti.”

“Tapi kalau pertanyaan Ibu hanya apakah sekarang ada pemeriksaan internal terkait pekerjaan lama mereka, jawabannya iya.”

Aku menatap meja.

“Audit?”

“Iya.”

Kata itu persis seperti yang kudengar dari Nadia.

“Mulai kapan?”

“Beberapa minggu.”

“Dan hari Senin ada sesuatu?”

Pak Reza diam cukup lama sehingga aku tahu dugaanku benar.

“Kalau Ibu punya informasi yang berkaitan dengan Raka atau Nadia,” katanya akhirnya, “lebih baik serahkan melalui jalur resmi.”

Aku berterima kasih dan menutup telepon.

Aku tidak membutuhkan lebih banyak.

Raka tidak sekadar bersembunyi dari perkawinan kami.

Ada sesuatu dari masa kerjanya yang ia takut ditemukan.

Dan Nadia tahu.

Tiga hari kemudian Nadia menghubungiku.

Bukan Raka.

Nadia.

Nomor yang berbeda.

Aku hampir tidak mengangkatnya, tetapi petugas yang menangani laporan sudah mengatakan agar aku tidak menghapus komunikasi apa pun.

“Aku mau bicara,” katanya.

“Sampaikan ke polisi.”

“Aku tidak mau bicara sama polisi.”

“Berarti kita tidak punya urusan.”

“Tunggu.”

Aku diam.

“Aku tidak tahu dia akan melakukan semua sejauh itu.”

Aku tertawa kecil.

“Kamu masuk ke rumahku tiga kali.”

“Aku tahu.”

“Dengan kunci.”

“Iya.”

“Dan kamu telepon suamiku yang mati dari kamarku.”

Nadia tidak menjawab.

Aku bisa mendengar suara kendaraan di belakangnya.

“Aku memang salah masuk rumahmu,” katanya. “Tapi soal kecelakaannya, itu bukan rencanaku.”

“Kamu sudah mengenalnya sebelum kecelakaan.”

“Iya.”

“Seberapa dekat?”

Ia diam lagi.

Aku tidak perlu mendesaknya.

Nadia akhirnya berkata, “Kami punya hubungan.”

Tidak ada petir.

Tidak ada dunia runtuh.

Aku cuma melihat meja makan dan sebuah noda kopi yang belum dilap.

Mungkin karena setelah mengetahui suamiku memalsukan kematiannya, perselingkuhan terasa hampir sederhana.

“Sejak kapan?”

“Sekitar delapan bulan sebelum kecelakaan.”

Aku mengusap kening.

“Jadi selama aku berpikir dia lembur, beberapa kali dia bersamamu.”

“Tidak selalu.”

“Nadia, aku tidak sedang menghitung.”

Ia terdiam.

Aku bertanya, “Kenapa kamu membantu dia setelah kecelakaan?”

“Awalnya cuma beberapa hari.”

Aku mendengarkan.

Menurut Nadia, malam kecelakaan itu Raka memang berada di salah satu kendaraan yang terlibat.

Ia mengalami luka ringan dan berhasil keluar sebelum petugas menutup lokasi.

Dalam kekacauan itu, barang-barangnya tertinggal.

Ada seorang korban laki-laki lain yang mengalami luka sangat parah.

Kesalahan identifikasi terjadi pada jam-jam awal.

Begitu Raka mengetahui dirinya dianggap sebagai korban meninggal, ia menghubungi Nadia.

“Dia bilang cuma perlu waktu,” kata Nadia. “Ada masalah di kantor. Ada transaksi vendor yang sedang diperiksa. Dia takut kalau kembali, semuanya terbuka.”

“Dan kamu membantu dia tetap mati.”

“Aku bodoh.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku mencintainya.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Nadia meneruskan dengan suara pelan.

“Dia janji setelah keadaan aman, dia akan memperbaiki identitasnya. Dia bilang pernikahan kalian sudah lama buruk.”

Aku menutup mata.

Itu bahkan terdengar sangat biasa.

Seorang laki-laki berselingkuh dan menjelaskan kepada perempuan lain bahwa rumah tangganya sebenarnya sudah selesai.

“Dia bilang aku tahu?”

“Dia bilang kamu sudah lama ingin berpisah.”

Aku tertawa sekali.

Bukan karena lucu.

Dua minggu sebelum kecelakaan, Raka dan aku baru membahas mengganti atap dapur.

Kami sedang merencanakan perjalanan singkat akhir tahun.

Kami memang pernah bertengkar.

Siapa yang tidak?

Tapi aku tidak pernah menginginkan perceraian.

“Kenapa kalian baru sekarang masuk rumahku?”

Nadia tidak segera menjawab.

“Karena audit baru dibuka lagi.”

“Flash drive?”

“Iya.”

“Apa isinya?”

“Aku tidak tahu semuanya.”

“Jangan mulai bohong sekarang.”

“Aku tahu ada data vendor. Rekap transfer. Beberapa file yang seharusnya tidak dibawa pulang Raka.”

“Apakah ada uang yang dia ambil?”

“Aku tidak mau jawab lewat telepon.”

“Bagus. Jawab ke penyidik.”

Nadia langsung berkata, “Jangan.”

“Kamu sendiri bilang mau bicara.”

“Aku mau jelaskan supaya kamu tidak pikir aku yang merencanakan semuanya.”

Aku menatap jendela.

Jadi itu sebabnya ia menelepon.

Bukan karena menyesal.

Ia ingin memisahkan kesalahannya dari kesalahan Raka.

Mungkin manusia memang seperti itu ketika keadaan mulai runtuh.

Bukan langsung mencari kebenaran.

Mereka mencari bagian mana yang masih bisa mereka selamatkan.

Aku berkata, “Kamu masuk rumahku tanpa izin. Kamu tahu suamiku masih hidup. Selama dua tahun kamu membiarkanku percaya dia mati. Apa pun yang ingin kamu jelaskan, lakukan melalui penyidik.”

“Laras.”

Aku memutus telepon.

Setelah itu Nadia benar-benar memberikan keterangan.

Bukan kepadaku.

Aku hanya mengetahui garis besarnya beberapa minggu kemudian.

Flash drive yang ditemukan di rumahku ternyata bukan kunci rahasia berisi miliaran rupiah seperti dalam film.

Isinya jauh lebih membosankan.

Dan justru karena itu, lebih meyakinkan.

Tabel vendor.

Salinan invoice.

Catatan transfer.

Daftar pembayaran.

Beberapa dokumen yang menghubungkan perusahaan pemasok tertentu dengan proyek yang pernah berada di bawah pengawasan Raka.

Penyidik dan pihak perusahaan yang berwenang menanganinya.

Aku tidak membaca isinya.

Aku tidak ingin.

Sudah cukup banyak bagian hidup Raka yang selama ini kubaca terlambat.

Penyelidikan atas kematiannya juga mulai mendapatkan bentuk yang lebih jelas.

Kesalahan identifikasi memang pernah terjadi pada malam kecelakaan.

Tetapi yang membuat semuanya menjadi jauh lebih serius adalah keputusan Raka setelah mengetahui kesalahan itu.

Ia tidak datang untuk memperbaikinya.

Ia justru memanfaatkannya.

Selama beberapa hari pertama ia bersembunyi bersama Nadia.

Setelah itu ia berpindah tempat.

Sebagian hidupnya dijalani dengan data yang bukan miliknya sendiri dan sebagian lagi dengan mengandalkan orang lain.

Aku tidak diberi semua detail karena penyelidikan masih berlangsung.

Dan terus terang, aku tidak membutuhkannya.

Hal terpenting bagiku sudah jelas.

Raka punya puluhan kesempatan untuk mengatakan kepadaku bahwa ia hidup.

Hari kedua.

Hari kelima.

Sebulan kemudian.

Hari ulang tahunku.

Ulang tahun pernikahan kami.

Hari ketika aku menjual mobilnya karena sudah tidak sanggup melihatnya di garasi.

Hari ketika aku akhirnya berani memindahkan jas-jasnya ke lemari belakang.

Ia bisa menghubungiku kapan saja.

Ia tidak melakukannya.

Sebaliknya, ketika audit di kantornya dibuka kembali, ia menyuruh kekasihnya masuk ke rumahku mencari barang.

Itulah bagian yang akhirnya menghentikan semua pertanyaan di kepalaku.

Bukan karena aku sudah memahami semuanya.

Justru karena aku akhirnya paham bahwa beberapa jawaban tidak diperlukan untuk membuat keputusan.

Dua minggu setelah telepon Nadia, Raka ditemukan.

Aku tidak tahu proses lengkap bagaimana penyidik melacaknya dan tidak menanyakan detailnya.

Yang kutahu, ia tinggal di sebuah rumah sewa di pinggir Bandung menggunakan kehidupan yang dibangun dari kebohongan kecil demi kebohongan kecil.

Aku diminta datang beberapa hari kemudian untuk melengkapi keterangan.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku melihatnya.

Bukan lewat foto.

Bukan dari video lama.

Bukan sebagai suara dari pengeras ponsel.

Ia berjalan masuk ke ruangan dengan kemeja polos dan rambut yang lebih pendek.

Lebih kurus.

Ada garis di sekitar matanya yang dulu tidak ada.

Aku menatapnya lama.

Hal yang paling menggangguku adalah betapa biasa wajahnya.

Tidak ada yang berubah menjadi monster.

Ia tetap Raka.

Laki-laki yang dulu menaruh sambal terlalu banyak di makananku lalu tertawa ketika aku protes.

Laki-laki yang pernah menunggu tiga jam di rumah sakit saat ibuku dioperasi.

Laki-laki yang menyembunyikan perselingkuhan.

Laki-laki yang melihat kesempatan untuk dinyatakan mati dan memilih mengambilnya.

Dua hal yang bertentangan bisa berada di tubuh orang yang sama.

Mungkin itu bagian paling sulit untuk diterima.

Ia meminta berbicara denganku.

Awalnya aku menolak.

Kemudian aku setuju dengan syarat percakapan dilakukan di tempat resmi dan tidak berdua.

Aku tidak ingin jawaban rahasia lagi.

Raka duduk di seberangku.

Tangannya tidak berhenti bergerak.

“Laras.”

Aku menunggu.

“Aku minta maaf.”

Aku tetap diam.

“Aku tahu itu kedengarannya tidak cukup.”

“Memang.”

Ia menelan ludah.

“Aku tidak merencanakan kecelakaannya.”

“Aku sudah dengar.”

“Aku juga tidak tahu orang lain akan salah diidentifikasi.”

“Oke.”

“Aku panik.”

Aku menatapnya.

“Kamu sudah bilang itu.”

“Aku waktu itu sedang tertekan.”

“Raka, aku tidak datang untuk membantu kamu mencari kalimat yang membuat semuanya terdengar lebih baik.”

Ia menunduk.

Beberapa detik kemudian ia berkata, “Ada masalah kantor. Aku takut dipenjara. Aku takut kehilangan semuanya.”

Aku hampir bertanya, semuanya yang mana?

Istri?

Rumah?

Pekerjaan?

Reputasi?

Ternyata ia sudah memilih kehilangan semuanya.

“Aku pikir aku akan pergi sebentar,” katanya. “Setelah keadaan reda, aku balik.”

“Berapa lama definisi sebentar?”

Ia tidak menjawab.

Aku melanjutkan, “Seminggu?”

Diam.

“Sebulan?”

Ia memandang meja.

“Dua tahun?”

“Setelah beberapa bulan, semakin sulit untuk kembali.”

Itu mungkin kalimat paling jujur yang keluar dari mulutnya.

Bukan karena ia tidak bisa pulang.

Tetapi setiap hari ia tidak pulang membuat biaya untuk pulang semakin besar.

Akhirnya kebohongan itu menjadi tempat tinggalnya.

“Aku sering ingin meneleponmu,” katanya.

“Tapi tidak pernah.”

“Aku takut.”

“Dan aku?”

Ia menatapku.

“Aku apa, Raka?”

“Aku tahu kamu menderita.”

“Kamu tahu?”

“Dari jauh.”

Kalimat itu membuatku tertawa kecil.

“Kamu melihatku dari jauh?”

“Nadia kadang lewat.”

Jadi bukan hanya beberapa hari terakhir.

Aku menarik napas.

“Apa lagi yang kalian tahu?”

“Tidak banyak.”

“Apakah kamu tahu aku pergi ke makam setiap bulan selama hampir setahun?”

Ia menunduk.

“Apakah kamu tahu aku meminta maaf kepada ibumu karena waktu itu aku merasa mungkin aku kurang memaksa rumah sakit untuk menunjukkan wajahmu lebih lama?”

Wajah Raka berubah.

Aku melanjutkan sebelum ia memotong.

“Apakah kamu tahu aku selama berbulan-bulan merasa bersalah karena malam sebelum kamu berangkat kita sempat bertengkar soal hal kecil?”

“Lar…”

“Aku pikir kata-kata terakhir yang kamu bawa dari rumah adalah kata-kata marahku.”

Mataku panas untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar.

Aku mengusapnya cepat.

“Dan kamu hidup.”

Raka menutup wajah sebentar.

“Aku salah.”

Aku menunggu.

“Bukan cuma salah,” kataku. “Kamu membuat keputusan setiap hari.”

Ia menurunkan tangan.

“Aku masih sayang kamu.”

Aku tidak marah mendengarnya.

Aku juga tidak tersentuh.

Aku hanya lelah.

“Kalau itu benar,” kataku, “kamu punya cara yang aneh untuk menunjukkannya.”

“Aku bisa memperbaiki sebagian.”

“Bagian mana?”

Ia membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban.

“Dua tahun yang hilang?”

Diam.

“Pemakaman?”

Diam.

“Hubunganmu dengan Nadia?”

Ia menatapku.

“Sudah selesai.”

“Itu bukan urusanku lagi.”

Raka terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niatnya.

“Aku tidak minta kamu langsung maafkan.”

“Bagus.”

“Aku cuma minta kesempatan bicara setelah semua ini selesai.”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Kali ini ia benar-benar terkejut.

“Laras…”

“Aku datang hari ini karena aku perlu melihatmu sekali dalam keadaan hidup.”

Ia menelan ludah.

“Kenapa?”

“Supaya otakku berhenti menunggu orang mati pulang ke rumah.”

Ruangan itu sunyi.

Aku melanjutkan, “Sekarang aku sudah lihat.”

“Terus?”

“Setelah status hukummu dibereskan, aku akan mengurus perpisahan kita melalui jalur yang seharusnya.”

Wajahnya pucat.

“Kamu mau cerai?”

Aku hampir tidak percaya ia masih bisa menanyakan itu.

“Iya.”

“Kamu tidak mau tunggu?”

“Aku sudah menunggu dua tahun.”

“Itu bukan…”

“Apa?”

Ia terdiam.

“Aku tidak ingin balas dendam,” kataku. “Aku juga tidak mau menghancurkan hidupmu. Kamu sudah membuat keputusanmu sendiri. Sekarang aku cuma tidak mau hidupku ikut tergantung di keputusanmu lagi.”

Raka menatap meja.

Untuk beberapa saat aku kembali melihat laki-laki yang pernah kunikahi.

Bukan orang asing.

Dan justru itu yang membuat keputusan tersebut berat.

Kalau ia sepenuhnya jahat, mungkin semuanya lebih mudah.

Tapi kenangan baik tidak membatalkan apa yang ia lakukan.

Ia akhirnya bertanya, “Kalau aku dari awal langsung kembali setelah kecelakaan, menurutmu kita masih bisa bersama?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Mungkin.”

Itu jawaban yang paling menyakitkan karena jujur.

“Mungkin aku marah. Mungkin aku takut. Mungkin kita tetap berpisah karena ternyata kamu berselingkuh. Aku tidak tahu.”

Raka menatapku.

“Tapi kamu tidak kembali.”

Ia menunduk.

Aku berdiri.

Percakapan selesai.

Proses setelah itu tidak cepat.

Kehidupan nyata rupanya tidak pandai membuat ending dalam satu sore.

Status kematian Raka harus ditangani melalui prosedur resmi.

Penyelidikan dokumen dan masalah di bekas kantornya berjalan sendiri.

Aku beberapa kali diminta memberikan keterangan tambahan.

Nadia juga menghadapi konsekuensi atas perannya.

Aku tidak tahu semua hasil akhirnya dan memilih tidak menjadikan setiap perkembangan mereka sebagai pusat hidupku.

Ada hari ketika aku masih marah.

Ada malam ketika aku terbangun karena mendengar suara gerbang rumah dan selama satu detik berpikir Raka sudah kembali.

Aku kemudian memasang pengaman tambahan di pintu belakang.

Bukan karena takut ia akan datang.

Aku hanya tidak mau lagi ada orang yang memiliki akses ke rumahku tanpa sepengetahuanku.

Bu Siska merasa bersalah karena dulu sempat membentakku soal suara dari rumah.

Aku justru membawakannya buah.

“Kalau Ibu waktu itu diam, mungkin saya tidak tahu sampai sekarang.”

Ia menggeleng.

“Saya masih merinding kalau ingat.”

Aku juga.

Ternyata teriakan yang didengarnya sebagian besar berasal dari Nadia yang berkali-kali bertengkar dengan Raka lewat telepon ketika pencarian mereka tidak berhasil.

Tidak ada perempuan disiksa di rumahku.

Tidak ada hantu.

Hanya dua orang hidup yang membuat rumah kosong terdengar seperti tempat yang tidak pernah benar-benar kosong.

Sekitar dua bulan kemudian aku mulai membereskan barang-barang Raka.

Kali ini bukan karena ia mati.

Justru karena ia hidup.

Perbedaannya besar.

Sebelumnya setiap benda terasa seperti peninggalan terakhir.

Sekarang benda-benda itu kembali menjadi benda.

Kemeja.

Buku.

Kabel.

Sepatu.

Tas kamera.

Kuitansi lama.

Aku memasukkannya ke kotak dan menyerahkannya melalui pihak yang mengurus kepentingannya.

Tidak ada pembakaran foto.

Tidak ada barang yang kulempar ke jalan.

Aku tidak ingin membuat pertunjukan dari sesuatu yang sudah cukup melelahkan.

Cangkir biru dengan retakan dekat pegangan menjadi barang terakhir yang kupegang.

Aku berdiri di dapur cukup lama sambil melihatnya.

Dulu aku membiarkannya di lemari karena takut kehilangan satu lagi bagian kecil dari Raka.

Sekarang aku tahu Raka sendiri yang memilih pergi.

Aku tidak perlu menjaga cangkir itu untuk menggantikan seseorang yang ternyata tidak pernah benar-benar hilang.

Tetapi aku juga tidak membuangnya dengan marah.

Aku memasukkannya ke dalam kotak bersama barang-barangnya.

Tiga bulan setelah hari aku bersembunyi di bawah ranjang, rumahku mulai terasa berbeda.

Tidak lebih mewah.

Tidak lebih besar.

Aku masih berangkat pagi.

Masih pulang melewati macet.

Kadang masih makan malam seadanya.

Tetapi sekarang ketika membuka pintu, aku tidak lagi memeriksa apakah ada cangkir yang berpindah atau lemari yang dibuka orang.

Suatu sore Bu Siska memanggil dari pagar.

“Laras.”

Aku menoleh.

“Sekarang rumahmu benar-benar sepi.”

Aku tersenyum.

“Iya, Bu.”

Malam itu setelah masuk, aku menutup pintu.

Memutar kunci baru.

Lalu untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku meletakkan kuncinya di tempat yang hanya aku sendiri tahu.

Menurutmu, setelah kebohongan selama dua tahun seperti itu, masih adakah bentuk pertanggungjawaban yang bisa membuat Laras mempertimbangkan kembali pernikahannya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.