Hamil Sembilan Bulan dan Sudah Kontraksi, Suamiku Melempar Rp100.000 Sambil Berkata, “Buat Taksi”—Aku Pergi Tanpa Menangis, Tapi Rumah Sakit Bukan Tujuanku

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 1,111 tayangan
Hamil Sembilan Bulan dan Sudah Kontraksi, Suamiku Melempar Rp100.000 Sambil Berkata, “Buat Taksi”—Aku Pergi Tanpa Menangis, Tapi Rumah Sakit Bukan Tujuanku
Indeks

Hamil Sembilan Bulan dan Sudah Kontraksi, Suamiku Melempar Rp100.000 Sambil Berkata, “Buat Taksi”—Aku Pergi Tanpa Menangis, Tapi Rumah Sakit Bukan Tujuanku

Sembilan bulan hamil dan sudah mengalami kontraksi, aku melihat suamiku melemparkan uang Rp100.000 ke atas meja dan menyebutnya, “ongkos taksi.”

Dia sama sekali tidak berniat mengantarku ke rumah sakit.

Aku tidak membantah.

Tidak menangis.

Tidak memohon.

Aku hanya mengambil barang-barangku dan berjalan keluar dari rumah.

Tapi yang tidak diketahui suamiku adalah satu hal.

Sejak awal, rumah sakit di kota itu bukanlah tempat yang ingin kutuju.

Hamil Sembilan Bulan dan Sudah Kontraksi, Suamiku Melempar Rp100.000 Sambil Berkata, “Buat Taksi”—Aku Pergi Tanpa Menangis, Tapi Rumah Sakit Bukan Tujuanku

Namaku Alya Prameswari.

Malam itu, aku berdiri di dapur rumah kami di Bekasi, dengan usia kehamilan sembilan bulan. Satu tanganku menahan pinggang yang terasa nyeri, sementara tangan lainnya menggenggam ujung meja setiap kali kontraksi datang.

Suamiku, Raka, justru sibuk mencari kunci mobilnya.

“Kontraksinya sudah lima menit sekali,” kataku pelan. “Sepertinya kita harus berangkat sekarang.”

Raka bahkan tidak menoleh dengan benar.

“Aku sudah bilang, malam ini aku ada makan malam dengan klien.”

Aku menatapnya, berharap dia sedang bercanda.

Ternyata tidak.

Selama enam bulan terakhir kehamilanku, Raka memperlakukannya seolah-olah bayi ini hanyalah urusanku.

Dia melewatkan beberapa jadwal pemeriksaan kandungan.

Dia mengeluh setiap kali aku membangunkannya karena kram atau sesak di tengah malam.

Bahkan ketika kantorku memberikan cuti melahirkan, dia berkata sambil tertawa,

“Enak ya. Dibayar cuma buat rebahan di rumah.”

Aku selalu mencoba memakluminya.

Mungkin dia stres dengan pekerjaan.

Mungkin dia takut menjadi ayah.

Mungkin setelah bayi kami lahir, semuanya akan berubah.

Aku benar-benar masih percaya itu.

Sampai malam itu.

Raka membuka dompetnya, mengeluarkan selembar uang Rp100.000, lalu melemparkannya ke atas meja dapur.

“Buat taksi.”

Uang itu meluncur beberapa sentimeter dan berhenti tepat di samping tas persalinanku.

Aku menatap uang itu.

Lalu menatap suamiku.

“Kamu serius?”

Raka menghela napas seperti akulah orang yang membuat keadaan menjadi sulit.

“Kamu tahu rumah sakitnya di mana, kan? Tinggal pesan taksi online. Aku sudah terlambat.”

Saat itulah sesuatu di dalam diriku berubah.

Bukan meledak.

Justru menjadi sangat tenang.

Aku tidak berteriak.

Tidak menangis.

Tidak mencoba membuatnya merasa bersalah.

Aku mengambil uang itu.

Kemudian aku melepaskan cincin pernikahanku.

Aku meletakkannya tepat di tempat uang tadi berada.

Raka melihat gerakanku.

“Alya, jangan mulai drama.”

Aku tidak menjawab.

Aku mengambil tas persalinan, mengenakan sandal, lalu berjalan menuju pintu depan.

Kontraksi kembali datang.

Aku berhenti beberapa detik sambil menarik napas.

Raka masih berdiri di dapur.

Tidak mendekat.

Tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.

Hal terakhir yang kudengar sebelum menutup pintu adalah suaranya.

“Jangan lupa kabari kalau sudah sampai rumah sakit.”

Aku hampir tertawa.

Karena rumah sakit itu tidak pernah menjadi tujuanku.

Tiga minggu sebelumnya, setelah Raka melupakan ulang tahun pernikahan kami dan kemudian menyalahkanku karena dianggap “terlalu sensitif”, aku diam-diam menelepon kakakku, Dina, yang tinggal di Bandung.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku menceritakan semuanya.

Tentang bagaimana Raka mengendalikan hampir seluruh rekening rumah tangga kami.

Tentang bagaimana setiap kali aku membeli sesuatu tanpa persetujuannya, dia meminta penjelasan seperti sedang mengaudit karyawan.

Tentang bagaimana dia selalu mengejek pekerjaanku sebagai staf administrasi karena gajinya jauh lebih besar.

Dan tentang kalimat yang selalu digunakannya setiap kali kami bertengkar.

“Rumah ini aku yang bayar.”

“Mobil itu atas namaku.”

“Asuransi kamu juga dari kantorku.”

“Kalau bukan karena aku, kamu punya apa?”

Aku tidak pernah menceritakan semua itu kepada keluargaku.

Aku malu.

Bukan karena aku melakukan kesalahan.

Tapi karena selama bertahun-tahun aku berusaha meyakinkan semua orang bahwa pernikahanku baik-baik saja.

Dina mendengarkan tanpa memotong.

Setelah aku selesai, dia hanya berkata,

“Kalau suatu hari kamu memutuskan pergi, jangan kasih tahu dia sebelumnya.”

Aku terdiam.

Dina melanjutkan,

“Langsung keluar. Datang ke rumahku. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu.”

Malam itu, aku menangis.

Tapi tiga minggu kemudian, ketika waktunya benar-benar tiba…

Aku tidak menangis sama sekali.

Aku berjalan sampai ke ujung kompleks.

Di bawah lampu jalan, sebuah Honda Brio abu-abu sudah menunggu.

Pintu pengemudi langsung terbuka.

Dina turun.

Begitu melihat wajahku dan caraku memegangi perut, ekspresinya berubah.

“Alya?”

Aku mencoba tersenyum.

Dia berlari menghampiriku.

“Kamu kontraksi?”

“Sudah dari tadi.”

“Berapa menit sekali?”

“Sekitar lima menit.”

Mata Dina membesar.

“Kita ke rumah sakit sekarang.”

Aku menggeleng.

“Bukan rumah sakit yang sudah dipilih Raka.”

“Alya, sekarang bukan waktunya—”

“Aku tidak mau melahirkan di rumah sakit dekat rumahnya. Aku tidak mau dia datang lalu berpura-pura menjadi suami perhatian di depan dokter dan keluarga.”

Dina menatapku beberapa detik.

Kemudian dia mengambil tas dari tanganku.

“Baik.”

Hanya itu.

Tidak ada ceramah.

Tidak ada pertanyaan.

Dia membantuku masuk ke mobil.

Dan kami pergi meninggalkan Bekasi.

Tujuan kami adalah Bandung.

Namun perjalanan tidak berjalan sesuai rencana.

Ketika mobil mulai memasuki kawasan Purwakarta, rasa sakitku semakin kuat.

Aku mencengkeram pegangan pintu.

“Dina…”

Dia langsung menoleh.

“Apa?”

Aku merasakan sesuatu yang hangat.

Lalu banyak.

Aku menatap kursi.

“Kayaknya ketubanku pecah.”

Wajah Dina langsung pucat.

“Astaga.”

Dia menyalakan lampu sein dan mempercepat mobil menuju rumah sakit terdekat yang bisa menerima persalinan.

Sementara itu, ponselku terus bergetar.

Raka.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Sepuluh kali.

Ketika kami sampai di rumah sakit, sudah ada tujuh belas panggilan tak terjawab.

Lalu pesan masuk bertubi-tubi.

Kamu di mana?

Rumah sakit bilang kamu belum datang.

Alya, jawab telepon.

Kemudian satu pesan yang membuatku tersenyum pahit.

Jangan bikin aku malu. Mama sudah tanya kamu di mana.

Bukan…

“Apakah kamu baik-baik saja?”

Bukan…

“Apakah bayinya aman?”

Yang dia pikirkan adalah rasa malunya.

Aku mematikan ponsel.

Beberapa jam berikutnya terasa seperti seluruh dunia menyempit menjadi napas, rasa sakit, suara perawat, dan tangan Dina yang tidak pernah melepaskan tanganku.

Ketika aku merasa tidak sanggup lagi, Dina membungkuk di sampingku.

“Sedikit lagi, Alya.”

Aku menangis.

“Aku takut.”

“Aku di sini.”

Kalimat sederhana itu menghantamku lebih keras daripada apa pun.

Aku di sini.

Tiga kata yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar kurasakan dari suamiku.

Menjelang subuh, tangisan keras memenuhi ruang bersalin.

Putriku lahir.

Sehat.

Kuat.

Dengan rambut hitam tipis dan suara yang begitu lantang sampai salah satu perawat tertawa.

“Wah, suaranya kuat sekali.”

Mereka meletakkan bayi kecil itu di dadaku.

Aku menatap wajahnya.

Tanganku gemetar ketika menyentuh pipinya.

“Halo, Nara,” bisikku.

Dina berdiri di samping tempat tidur dengan mata merah.

Aku menangis saat itu.

Tapi bukan karena Raka tidak berada di sampingku.

Bukan karena aku merasa ditinggalkan.

Aku menangis karena akhirnya aku memahami sesuatu yang selama ini terlalu takut kuakui.

Pergi dari Raka tidak membuatku kehilangan rumah.

Tidak membuatku kehilangan keluarga.

Dan tidak membuatku sendirian.

Justru malam ketika aku meninggalkan rumah itulah pertama kalinya dalam bertahun-tahun aku merasa bebas.

Dina mencium dahiku.

“Kamu sudah memilih nama?”

Aku mengangguk sambil menatap bayi di dadaku.

“Nara.”

“Bagus.”

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya, aku tidak peduli apakah Raka menyukai nama itu atau tidak.

Sementara itu, lebih dari seratus kilometer jauhnya, di dapur rumah kami di Bekasi…

Raka akhirnya pulang dari makan malamnya.

Rumah gelap.

Tas persalinanku sudah tidak ada.

Aku sudah tidak ada.

Dan di atas meja granit, tepat di samping uang Rp100.000 yang dia lemparkan kepadaku beberapa jam sebelumnya, masih tergeletak cincin pernikahanku.

Dia menelepon rumah sakit.

Aku tidak ada di sana.

Dia menelepon teman-temanku.

Tidak ada yang tahu.

Dia menelepon ibuku.

Ibuku bahkan belum tahu bahwa aku sudah melahirkan.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, Raka tidak tahu di mana aku berada.

Dan dia juga belum tahu bahwa kepergianku malam itu bukan sekadar karena aku marah.

Aku sudah membawa dokumen-dokumen pentingku.

Buku tabunganku.

Surat kerja.

Dokumen kehamilan.

Dan satu map berisi sesuatu yang telah kusiapkan diam-diam selama tiga minggu terakhir.

Sesuatu yang akan membuat Raka sadar bahwa cincin di atas meja itu bukan ancaman.

Itu adalah perpisahan.

Dan ketika matahari terbit, suamiku masih berdiri di dapur menatap uang Rp100.000 dan cincin pernikahan kami…

tanpa tahu di mana istri dan anaknya berada.

Raka baru sadar aku benar-benar pergi ketika matahari mulai naik.

Bukan pergi untuk menenangkan diri.

Bukan pergi ke rumah sakit lalu pulang setelah melahirkan.

Aku pergi meninggalkannya.

Ponselku masih mati ketika ia mulai menelepon Dina.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Dina tidak mengangkat.

Lalu ia menelepon ayahku.

Ayahku hanya berkata singkat,

“Alya aman.”

“Dia di mana?”

“Aman.”

“Pak, saya suaminya.”

Ayahku terdiam beberapa detik.

Lalu menjawab,

“Kalau kamu merasa benar-benar suaminya, seharusnya tadi malam kamu yang berada di sampingnya.”

Telepon ditutup.

Menurut cerita Dina kemudian, kalimat itu membuat Raka mengamuk.

Ia menendang kursi dapur.

Membanting ponselnya ke meja.

Lalu untuk pertama kalinya, ia membuka lemari tempat aku biasa menyimpan dokumen.

Kosong.

Map-map penting sudah tidak ada.

Buku tabunganku tidak ada.

Akta nikah salinan tidak ada.

Dokumen pajak tidak ada.

Dan satu map biru tua yang selama ini selalu ia pikir berisi dokumen kantor lamaku…

juga menghilang.

Itulah saat pertama Raka mulai takut.

Karena ia tahu isi map itu.

Atau setidaknya, ia pikir ia tahu.

Di rumah sakit, aku sedang menyusui Nara ketika Dina masuk membawa dua gelas teh hangat.

“Kamu sudah siap menyalakan ponsel?”

Aku melihat Nara yang tertidur di lenganku.

“Belum.”

Dina duduk di samping tempat tidur.

“Raka telepon Ayah.”

Aku menghela napas.

“Dia marah?”

“Panik.”

Aku hampir tersenyum.

Panik.

Kata itu terasa aneh jika dipakai untuk Raka.

Selama bertahun-tahun, dia selalu merasa punya kendali.

Atas rumah.

Atas uang.

Atas jadwalku.

Atas keputusan-keputusan kecil sampai besar.

Bahkan ketika kami makan di luar, dia yang menentukan restoran.

Ketika aku ingin mengganti ponsel, dia bertanya apakah aku benar-benar “membutuhkannya.”

Ketika aku ingin mengirim uang untuk ulang tahun ibuku, dia berkata,

“Jangan terlalu memanjakan keluarga kamu.”

Tapi sekarang dia panik karena satu hal yang tidak pernah ia bayangkan.

Aku membuat keputusan tanpa meminta izinnya.

Dina menyodorkan teh.

“Pengacara sudah kirim pesan.”

Aku mengangguk.

Tiga minggu sebelumnya, setelah menelepon Dina, aku juga menemui seorang pengacara keluarga di Jakarta bernama Bu Ratih.

Aku tidak datang untuk langsung bercerai.

Saat itu aku bahkan belum yakin punya keberanian.

Aku hanya ingin tahu satu hal.

Kalau aku pergi, apakah Raka bisa mengambil semuanya dariku?

Bu Ratih mendengarkan selama hampir dua jam.

Lalu ia bertanya,

“Rumah tempat kalian tinggal dibeli kapan?”

“Setahun setelah menikah.”

“Uang muka dari mana?”

Aku diam.

Itulah bagian yang selama ini bahkan Raka jarang bicarakan.

Dua tahun sebelum menikah, ayahku menjual sebidang tanah kecil warisan kakek di Karawang.

Sebagian hasil penjualan diberikan kepadaku.

Bukan jumlah yang fantastis, tapi cukup besar untuk menjadi uang muka rumah.

Aku menyerahkan uang itu kepada Raka karena waktu itu aku percaya penuh.

Rumah kemudian dibeli.

Tapi sertifikat atas nama siapa?

Raka.

Alasannya sederhana.

“Biar lebih gampang urus KPR.”

Aku tidak pernah mempertanyakannya.

Bu Ratih menyuruhku mencari bukti transfer lama.

Aku menemukan semuanya.

Uang muka rumah berasal dari rekeningku.

Biaya renovasi awal sebagian dari rekeningku.

Bahkan tiga tahun pertama cicilan, sebelum Raka mendapat promosi besar, hampir separuh pembayaran berasal dari gajiku.

Kemudian Bu Ratih menemukan sesuatu yang lebih menarik.

“Mobil?”

“Dibeli setelah menikah.”

“Tabungan investasi?”

“Setelah menikah.”

“Usaha sampingan suami?”

Aku mengangguk.

Raka punya perusahaan kecil konsultan pemasaran bernama RKS Digital.

Dia selalu menyebutnya “bisnisku.”

Padahal modal awalnya berasal dari pinjaman yang diambil menggunakan deposito bersama kami sebagai jaminan.

Aku tidak pernah tahu bahwa secara hukum, banyak hal yang ia sebut “miliknya” ternyata tidak sesederhana itu.

Tapi itu belum bagian terbesar.

Bagian terbesar muncul secara tidak sengaja.

Bu Ratih meminta aku memeriksa mutasi rekening bersama.

Ada transfer rutin setiap bulan ke rekening pribadi yang tidak kukenal.

Jumlahnya tidak terlalu besar.

Rp4 juta.

Rp6 juta.

Kadang Rp8 juta.

Tetapi berlangsung hampir dua tahun.

Aku pikir mungkin rekening vendor.

Sampai aku menemukan satu transfer dengan catatan:

Sewa Apartemen Cikarang.

Aku tidak mengenal apartemen itu.

Raka tidak pernah mengatakan punya urusan di sana.

Aku bertanya kepada Bu Ratih,

“Kalau saya ingin tahu ini untuk apa?”

Dia menjawab,

“Jangan konfrontasi dulu. Cari bukti yang legal.”

Dua hari kemudian, aku mendapat jawabannya tanpa perlu mencari terlalu jauh.

Ponsel Raka tertinggal di meja makan.

Sebuah notifikasi masuk.

Nama pengirimnya hanya satu huruf.

M.

Pesannya muncul di layar.

Besok jangan lupa kontrol. Dokter bilang usia kandunganku sudah masuk 18 minggu.

Dunia terasa berhenti.

Aku sedang delapan bulan lebih mengandung anaknya.

Dan perempuan lain juga sedang mengandung anaknya.

Aku tidak membuka ponselnya.

Tidak perlu.

Pesan itu sudah cukup.

Aku memotretnya dari ponselku.

Lalu malam itu, ketika Raka tertidur, aku menangis di kamar mandi tanpa suara.

Bukan karena aku ingin menyelamatkan pernikahan.

Aku menangis karena akhirnya semua potongan sikapnya masuk akal.

Makan malam klien.

Perjalanan kerja.

Pulang terlambat.

Telepon di balkon.

Dan kemarahan setiap kali aku bertanya.

Bukan pekerjaan.

Ada perempuan lain.

Namanya Mira.

Aku mengetahuinya seminggu kemudian.

Bukan dari Raka.

Dari tanda terima transfer yang terselip di laci mobil.

Mira tinggal di apartemen yang dibayar dari rekening bersama kami.

Ketika aku menyadari itu, sesuatu dalam diriku benar-benar selesai.

Bukan hanya cintaku.

Rasa takutku juga.

Aku menoleh pada Dina.

“Bu Ratih bilang apa?”

“Besok dia bisa datang ke Bandung.”

Aku mengangguk.

“Nanti saja setelah aku keluar rumah sakit.”

Dina menatapku.

“Alya, ada satu hal lagi.”

Nada suaranya membuatku waspada.

“Apa?”

“Raka datang.”

Tanganku otomatis memeluk Nara lebih erat.

“Ke sini?”

Dina mengangguk.

“Dia tahu rumah sakitnya?”

“Ayah bilang tidak. Mungkin dia lacak mobilku dari tol atau tanya orang.”

Jantungku berdebar.

“Dia di mana sekarang?”

“Di lobi. Satpam tidak izinkan naik karena namanya tidak kamu masukkan sebagai pendamping.”

Aku terdiam.

Beberapa bulan sebelumnya, kalimat itu mungkin akan membuatku merasa bersalah.

Sekarang tidak.

“Aku mau ketemu dia.”

Dina menatapku.

“Yakin?”

“Di ruang keluarga. Jangan sendirian.”

Dua puluh menit kemudian, Raka berdiri di depanku.

Kemejanya kusut.

Matanya merah.

Untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat seperti pria yang selalu punya jawaban.

Ia melihatku.

Lalu melihat Nara di gendonganku.

Wajahnya berubah.

“Itu… anak kita?”

Aku menahan napas.

“Namanya Nara.”

Raka berjalan satu langkah mendekat.

Aku mundur.

Gerakanku kecil.

Tapi dia melihatnya.

“Alya…”

“Jangan dekat dulu.”

Dia berhenti.

Dina berdiri di sudut ruangan.

Ayahku ada di samping pintu.

Raka menelan ludah.

“Kenapa kamu melakukan ini?”

Aku hampir tidak percaya pertanyaan itu.

“Aku?”

“Kamu pergi tanpa bilang. Kamu matikan telepon. Aku bahkan nggak tahu anakku lahir.”

Aku menatapnya lama.

“Kamu memberiku seratus ribu untuk naik taksi saat kontraksiku lima menit sekali.”

“Itu karena aku ada urusan kerja.”

Aku tersenyum tipis.

“Urusan kerja?”

Raka diam.

Aku melanjutkan.

“Atau Mira?”

Wajahnya langsung pucat.

Itu jawaban paling jujur yang pernah ia berikan kepadaku.

Tidak perlu kata-kata.

Aku melihat semuanya.

Dina menatap Raka dengan jijik.

Ayahku mengepalkan tangan, tapi tetap diam.

Raka mencoba bicara.

“Alya, dengar—”

“Berapa lama?”

Dia menggeleng cepat.

“Itu tidak seperti yang kamu pikir.”

“Dia hamil delapan belas minggu.”

Raka membeku.

Aku memandangnya tepat di mata.

“Aku tahu apartemennya. Aku tahu transfernya. Aku tahu uang sewanya keluar dari rekening kita.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Ia membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Aku mengangguk pelan.

“Ya. Aku juga pikir begitu.”

Raka mendekat sedikit.

“Aku salah. Tapi jangan pisahkan aku dari anakku.”

Kalimat itu membuatku hampir tertawa.

“Semalam kamu yang memisahkan dirimu sendiri.”

“Aku panik.”

“Tidak. Semalam kamu tidak panik. Kamu pergi makan malam.”

“Aku pikir masih ada waktu.”

“Dan kalau tidak ada?”

Raka diam.

Aku memeluk Nara.

“Kalau Dina terlambat tiga puluh menit?”

Dia tidak menjawab.

“Kalau aku melahirkan di taksi?”

Tetap diam.

“Kalau terjadi sesuatu pada aku atau Nara?”

Matanya mulai basah.

Tapi aku tidak tahu apakah itu penyesalan atau rasa takut kehilangan kendali.

Aku mengambil map biru dari tas Dina.

Raka melihatnya.

Ekspresinya langsung berubah.

“Kamu ambil itu?”

“Ini dokumenku.”

“Itu dokumen rumah.”

“Sebagian.”

Aku membuka map.

“Aku sudah menemui pengacara.”

Raka menatapku tak percaya.

“Kapan?”

“Tiga minggu lalu.”

“Tiga minggu?”

“Ya.”

Aku mengeluarkan beberapa salinan.

“Semua transfer uang muka rumah ada di sini.”

Wajahnya mengeras.

“Rumah atas namaku.”

“Betul.”

Ia seperti mendapat sedikit keberanian.

“Jadi jangan berpikir kamu bisa ambil rumah itu.”

Aku justru tenang.

“Aku tidak mau mengambil rumah itu.”

Raka tampak bingung.

Aku mengeluarkan dokumen berikutnya.

“Aku mau menjual bagianku melalui proses pembagian harta bersama.”

Dia menatap kertas itu.

“Dan sebelum itu, pengacara akan meminta pengadilan mencatat aset supaya tidak dialihkan.”

Raka langsung marah.

“Kamu mau menghancurkan hidupku?”

Aku menatapnya.

“Aku hanya berhenti membiarkan kamu menghancurkan hidupku.”

Ia menggeleng.

“Kamu berubah.”

Aku mengusap kepala Nara.

“Tidak. Aku baru berhenti takut.”

Raka mendekat lagi.

“Alya, kita bisa selesaikan ini di rumah.”

“Aku tidak akan kembali ke rumah itu.”

“Aku akan putus dengan Mira.”

Aku menatapnya.

“Dia mengandung anakmu.”

“Aku akan bertanggung jawab.”

“Bagus.”

Raka tampak terkejut.

Aku melanjutkan,

“Karena itu bukan urusanku lagi.”

Ia benar-benar kehilangan kata-kata.

Lalu ayahku membuka pintu.

“Waktunya selesai.”

Raka menatapku sekali lagi.

“Aku ayah Nara.”

Aku mengangguk.

“Dan aku tidak akan melarangmu menjadi ayah yang bertanggung jawab, selama semuanya dilakukan dengan aman dan sesuai kesepakatan hukum.”

“Jadi kamu tetap mau cerai?”

Aku melihat cincin di jarinya.

Lalu melihat tangan kiriku yang kosong.

“Aku sudah meninggalkan jawaban itu di meja dapur.”

Raka pergi tanpa berkata apa-apa.

Aku pikir bagian tersulit sudah selesai.

Ternyata belum.

Dua minggu kemudian, ketika aku tinggal sementara di rumah Dina di Bandung, Mira menghubungiku.

Awalnya aku ingin mengabaikan pesannya.

Tapi isinya membuatku berhenti.

Mbak Alya, saya tahu saya tidak pantas menghubungi Mbak. Tapi ada sesuatu tentang Raka yang Mbak harus tahu sebelum tanda tangan apa pun.

Aku menunjukkan pesan itu kepada Bu Ratih.

Dia berkata,

“Jangan bertemu sendirian.”

Kami akhirnya bertemu di sebuah kafe.

Mira datang dengan wajah pucat dan perut yang mulai terlihat.

Usianya mungkin akhir dua puluhan.

Dia duduk di depanku sambil memegang tas dengan kedua tangan.

“Aku minta maaf,” katanya.

Aku tidak menjawab.

Air matanya muncul.

“Aku tahu dia menikah.”

Kejujuran itu menyakitkan, tapi anehnya aku menghargainya lebih daripada kebohongan Raka.

“Lalu kenapa?”

Mira menunduk.

“Karena dia bilang kalian sudah lama akan cerai.”

Aku tersenyum pahit.

“Klasik.”

Dia mengangguk sambil menangis.

“Dia bilang kalian tinggal serumah cuma karena kamu hamil.”

“Dan kamu percaya?”

“Awalnya.”

Aku menunggu.

“Tapi dua bulan lalu aku mulai curiga. Dia pakai uang dari perusahaan untuk bayar apartemenku.”

Aku menatapnya.

Mira mengeluarkan sebuah flash drive.

“Ini salinan dokumen yang pernah dia simpan di laptopku.”

Bu Ratih mengambilnya.

“Apa isinya?”

Mira menarik napas.

“Laporan keuangan RKS Digital.”

Aku masih belum mengerti.

Lalu dia berkata,

“Raka memalsukan sebagian biaya perusahaan.”

Bu Ratih langsung serius.

“Seberapa besar?”

“Ratusan juta.”

Mira menatapku.

“Dan ada beberapa dokumen yang memakai tanda tangan Mbak.”

Tubuhku terasa dingin.

“Tanda tanganku?”

Dia mengangguk.

“Untuk pengajuan pinjaman dan jaminan usaha.”

Aku menatap Bu Ratih.

Wajahnya berubah.

“Bu Alya, apakah Ibu pernah menandatangani dokumen pinjaman perusahaan?”

“Tidak pernah.”

Mira menutup mata.

“Itulah kenapa saya datang.”

Ternyata pengkhianatan Raka jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

Ia pernah menggunakan salinan tanda tanganku untuk memproses dokumen pembiayaan usaha.

Bukan sekadar mengambil uang bersama.

Ia menyeret namaku ke risiko utang yang bahkan tidak kuketahui.

Bu Ratih langsung mengurus pemeriksaan.

Dalam beberapa minggu berikutnya, hidup Raka runtuh bukan karena aku “membalas dendam.”

Tapi karena dokumen-dokumennya sendiri.

Bank meminta klarifikasi.

Rekan bisnisnya mulai menarik diri.

Audit internal dilakukan.

Dan sebagian aset perusahaan dibekukan sementara selama pemeriksaan.

Raka meneleponku puluhan kali.

Aku tidak menjawab.

Lalu suatu sore, ia datang ke rumah ayahku.

Kali ini tidak marah.

Tidak sombong.

Ia berdiri di teras seperti orang yang sudah kehilangan semua lapisan perlindungannya.

“Aku cuma mau bicara lima menit.”

Ayahku berdiri di dekatku.

Aku mengizinkan.

Raka menatapku.

“Aku mungkin kehilangan perusahaan.”

Aku diam.

“Kalau kasus ini jalan, aku bisa punya masalah besar.”

Aku tetap diam.

Lalu dia menangis.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Raka benar-benar menangis.

“Alya, tolong.”

Aku menatap laki-laki yang dulu membuatku merasa aku tidak punya apa-apa tanpa dirinya.

Sekarang ia berdiri di depan rumah ayahku meminta pertolongan.

“Apa yang kamu mau?”

“Tarik laporan soal tanda tangan itu.”

Aku menahan napas.

“Apakah tanda tangan itu kamu buat tanpa izinku?”

Raka memandang tanah.

“Ya.”

“Apakah kamu memakai namaku untuk pinjaman?”

“Ya.”

“Apakah uang dari rekening kami dipakai untuk Mira?”

Dia menutup mata.

“Ya.”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu tidak ada yang perlu kutarik.”

“Alya—”

“Aku tidak sedang menghukum kamu.”

Aku menatapnya tenang.

“Aku hanya tidak akan berbohong untuk menyelamatkanmu dari akibat pilihanmu sendiri.”

Dia menangis semakin keras.

Dulu mungkin aku akan hancur melihatnya seperti itu.

Sekarang aku justru merasa sedih.

Bukan untuk pernikahan kami.

Untuk manusia yang pernah kucintai dan memilih menghancurkan dirinya sendiri sedikit demi sedikit.

Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Aku mendapatkan bagian yang sah dari aset bersama.

Rumah di Bekasi akhirnya dijual.

Setelah kewajiban bank dan pembagian selesai, aku membeli sebuah rumah kecil di Bandung Timur.

Tidak mewah.

Hanya dua kamar.

Ada halaman kecil di belakang.

Cat dindingnya putih.

Dapur tidak sebesar dapur rumah lamaku.

Tapi hari pertama aku masuk sambil menggendong Nara, aku menangis.

Dina tertawa.

“Kenapa?”

Aku menyentuh dinding.

“Karena ini rumahku.”

Bukan rumah yang diberikan suami.

Bukan rumah yang setiap kali bertengkar bisa dipakai untuk mengancamku.

Rumahku.

Raka tetap mendapat hak bertemu Nara melalui pengaturan yang disepakati.

Anehnya, setelah kehilangan hampir semuanya, ia justru mulai belajar menjadi ayah.

Tidak sempurna.

Tidak cepat.

Tapi ia datang sesuai jadwal.

Membawa popok.

Belajar mengganti baju bayi.

Dan tidak pernah lagi berbicara kepadaku seperti dulu.

Mira melahirkan seorang anak laki-laki beberapa bulan setelah itu.

Ia dan Raka tidak menikah.

Hubungan mereka berakhir bahkan sebelum bayinya lahir.

Aku tidak senang mendengarnya.

Aku juga tidak merasa menang.

Karena pada akhirnya, dua anak tidak seharusnya memikul kesalahan orang dewasa.

Suatu hari, hampir setahun setelah malam aku meninggalkan Bekasi, Raka datang menjemput Nara untuk kunjungan beberapa jam.

Sebelum pergi, ia berdiri di depan pintu rumahku.

“Nara mirip kamu.”

Aku tersenyum.

“Syukurlah.”

Ia hampir tertawa.

Lalu matanya jatuh pada sebuah benda kecil di rak dekat pintu.

Cincin pernikahan lama kami.

Aku memang menyimpannya.

Bukan karena masih berharap.

Raka menatapnya.

“Kamu masih simpan?”

Aku mengangguk.

“Kenapa?”

Aku mengambil cincin itu.

Untuk beberapa detik, benda kecil itu mengembalikan seluruh hidup lamaku.

Dapur Bekasi.

Rp100.000 di meja.

Kontraksi lima menit sekali.

Rasa takut.

Kesepian.

Lalu aku membuka telapak tangan Raka dan meletakkan cincin itu di sana.

“Aku menunggu waktu yang tepat untuk mengembalikannya.”

Dia menatapku.

“Aku pikir kamu meninggalkannya malam itu.”

“Aku ambil lagi sebelum keluar.”

Raka tampak bingung.

Aku tersenyum.

“Karena malam itu aku belum siap membuang masa laluku.”

Aku melihat Nara yang tertidur di car seat.

“Tapi sekarang aku siap.”

Raka menggenggam cincin itu.

Matanya merah.

“Aku benar-benar kehilangan kamu, ya?”

Aku tidak menjawab segera.

Lalu aku berkata,

“Kamu kehilangan aku jauh sebelum malam itu.”

Wajahnya runtuh.

Aku melanjutkan,

“Malam itu cuma pertama kalinya aku juga menyadarinya.”

Dia mengangguk pelan.

Kemudian pergi.

Aku berdiri di depan rumah sampai mobilnya menghilang di tikungan.

Dina yang sejak tadi berada di ruang tamu mendekat.

“Sedih?”

Aku berpikir sebentar.

“Sedikit.”

“Menyesal?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Saat itu Nara terbangun dan mulai menangis.

Aku mengangkatnya.

Tubuh kecilnya langsung tenang ketika menempel di dadaku.

Aku mencium dahinya.

Dan tiba-tiba aku teringat seratus ribu rupiah yang Raka lemparkan kepadaku malam itu.

Uang yang dulu terasa seperti penghinaan terbesar dalam hidupku.

Yang tidak pernah ia tahu adalah…

aku tidak pernah menggunakannya untuk taksi.

Aku menyimpan lembar uang itu.

Setelah pindah ke rumah baru, aku memasukkannya ke dalam bingkai kecil.

Bukan untuk mengingat Raka.

Tapi untuk mengingat diriku sendiri.

Di bawahnya, aku menulis satu kalimat kecil dengan tanganku:

“Harga perjalanan menuju kebebasanku ternyata hanya Rp100.000—dan keberanian untuk tidak kembali.”

Setiap kali hidup terasa berat, aku melihat bingkai itu.

Lalu melihat Nara.

Dan aku ingat malam ketika seorang pria melempar uang ke atas meja karena terlalu sibuk untuk mengantar istrinya melahirkan.

Dia pikir dia sedang memberiku ongkos pergi.

Dia tidak pernah sadar bahwa sebenarnya…

dia sedang membayar tiket satu arah keluar dari hidupnya sendiri.

Dan bagian paling mengejutkan bukanlah bahwa aku berhasil hidup tanpa Raka.

Melainkan bahwa setelah bertahun-tahun ia membuatku percaya aku tidak punya apa-apa tanpa dirinya…

aku akhirnya menemukan bahwa semua yang benar-benar kubutuhkan sudah kubawa bersamaku malam itu.

Keberanian.

Harga diri.

Dan seorang bayi kecil yang mengajariku bahwa rumah bukanlah bangunan atas nama siapa pun.

Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu memohon untuk dicintai.

Aku memeluk Nara lebih erat.

Di luar, hujan tipis mulai turun di Bandung.

Aku menutup pintu rumahku sendiri.

Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku tidak takut siapa pun akan menyuruhku pergi.