Dokumen Lama Itu Membuktikan Siapa Pemilik Sebenarnya, Namun Pengakuan Ibu Tentang Tanda Tanganku Membuat Seluruh Keluarga Terdiam

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 144 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Dokumen Lama Itu Membuktikan Siapa Pemilik Sebenarnya, Namun Pengakuan Ibu Tentang Tanda Tanganku Membuat Seluruh Keluarga Terdiam

Aku menatap pengacaraku, berharap dia mengatakan bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman.

Namun wajahnya tetap serius.

Pria paruh baya yang datang bersamanya mengeluarkan satu demi satu dokumen dari tas tua itu.

Ayah akhirnya bersuara.

—Dari mana kamu mendapatkan semua itu?

Pria itu tidak langsung menjawab. Dia membuka buku catatan yang sampulnya hampir terlepas, lalu meletakkannya di atas meja.

—Kau masih mengenali tulisan ini?

Wajah Ayah berubah.

Aku mendekat.

Di halaman pertama tertulis catatan pembelian bangunan toko lebih dari dua puluh tahun lalu. Di bawahnya terdapat beberapa pembayaran bertahap dan nama seseorang yang hanya samar-samar kuingat dari cerita masa kecil: adik kandung mendiang nenekku.

Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai mantan pegawai administrasi yang dahulu membantu mengurus pembelian bangunan tersebut.

Dia menjelaskan bahwa bertahun-tahun lalu, ketika usaha orang tuaku hampir bangkrut, kerabat nenekku membeli bangunan itu agar keluarga kami tidak kehilangan tempat mencari nafkah.

Orang tuaku diperbolehkan menggunakan toko tersebut.

Namun kepemilikannya tidak pernah diberikan kepada mereka.

—Lalu milik siapa? tanyaku.

Pria itu membuka dokumen berikutnya.

Tanganku bergetar ketika melihat nama yang tertulis di sana.

Namaku.

Aku menggeleng.

—Tidak mungkin. Saat itu aku masih anak-anak.

—Benar, katanya. —Karena itulah pengelolaannya sementara dipercayakan kepada orang tuamu.

Ruangan langsung dipenuhi bisikan.

Pengacaraku menjelaskan bahwa kerabat nenekku tidak memiliki anak. Dia sangat dekat denganku ketika aku kecil dan kemudian menetapkan bangunan tersebut untukku melalui dokumen yang sah. Orang tuaku diberi hak mengelola sampai aku dewasa.

Aku menatap Ayah dan Ibu.

—Kalian tahu?

Tidak ada jawaban.

—Kalian tahu selama ini?

Suara Ibu bergetar.

—Kami berniat memberitahumu.

Aku hampir tertawa.

—Kapan? Setelah kalian memindahkannya ke nama Kakak dan Adik?

Ayah bangkit.

—Jangan bicara kepada ibumu seperti itu!

Pengacaraku segera berdiri di antara kami.

—Sebaiknya Bapak tidak menyentuh atau mengambil dokumen apa pun. Kami sudah memiliki salinan resminya.

Ayah berhenti.

Aku akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Selama bertahun-tahun aku mengirim uang untuk memperbaiki dan mengembangkan bangunan yang ternyata secara hukum memang disiapkan untukku.

Namun keluargaku menerima uangku sambil diam-diam mencoba mengambil bangunan itu dariku.

Aku menatap kakakku.

—Kamu tahu?

Dia menunduk.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

—Sejak kapan?

—Sekitar dua tahun lalu.

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

Dua tahun.

Selama dua tahun dia masih menerima bantuanku.

Ketika usahanya rugi, aku bahkan mengirim uang agar dia bisa membayar utang.

—Kenapa kamu diam?

Kakakku mengepalkan tangan.

—Karena Ayah bilang semuanya akan dibagi dengan adil.

—Adil?

Aku menunjuk dokumen pelepasan hak.

—Dengan memalsukan tanda tanganku?

Tiba-tiba terdengar suara tangis.

Bukan kakakku.

Bukan Ayah.

Ibu.

Dia duduk sambil menutupi wajah.

—Cukup.

Ayah menoleh tajam.

—Jangan bicara.

Namun Ibu mengangkat kepala.

—Aku yang menandatanganinya.

Ruangan menjadi begitu sunyi hingga suara pendingin udara terdengar jelas.

Aku sudah mengenali tulisan tangan itu ketika pertama melihat dokumennya.

Tetapi mendengar pengakuannya tetap terasa seperti pukulan.

—Kenapa, Bu?

Air mata mengalir di wajahnya.

—Karena kami takut.

—Takut apa?

—Takut suatu hari kamu tahu toko itu milikmu dan mengambil semuanya.

Aku menatapnya tak percaya.

—Selama dua belas tahun aku mengirim hampir semua tabunganku kepada keluarga. Apa pernah sekali saja aku mencoba mengambil sesuatu?

Ibu tidak mampu menjawab.

Aku melanjutkan,

—Aku membayar biaya sekolah Adik. Aku membantu utang Kakak. Aku membayar renovasi toko ini. Bahkan komputer kasir yang dipakai hari ini kubeli sebagai hadiah.

Suaraku mulai bergetar.

—Apa lagi yang harus kulakukan supaya kalian percaya aku bukan musuh kalian?

Ibu menangis semakin keras.

Ayah justru berkata,

—Semua yang kamu lakukan adalah kewajiban sebagai anak!

Kalimat itu membuatku benar-benar tenang.

Aku menatapnya.

—Kalau begitu mulai hari ini, kewajiban itu selesai.

Wajah Ayah berubah.

Aku mengambil ponsel dan membuka aplikasi perbankan.

Di depan mereka, aku membatalkan transfer bulanan otomatis yang selama ini masuk ke rekening orang tuaku.

Kemudian aku membatalkan pembayaran premi asuransi keluarga yang selama ini kutanggung.

Bukan karena ingin membalas dendam.

Aku hanya akhirnya memahami bahwa bantuan tanpa batas telah membuat mereka menganggap pengorbananku sebagai sesuatu yang wajib.

Adik perempuanku tiba-tiba berdiri.

—Kak, tunggu.

Aku menoleh.

Matanya merah.

—Aku benar-benar tidak tahu toko ini milik Kakak.

Calon suaminya meletakkan kunci yang diberikan Ayah pagi tadi di atas meja.

—Kalau begitu kami tidak berhak menerima ini.

Aku terdiam.

Adikku berjalan mendekat.

—Ayah hanya bilang Kakak sudah sukses dan tidak membutuhkan bagian apa pun. Aku percaya.

Kakakku akhirnya ikut bicara.

—Aku tahu sebagian kebenarannya.

Dia mengambil kunci dari sakunya dan meletakkannya di samping kunci adikku.

—Dan aku salah karena diam.

Ayah memukul meja.

—Kalian sedang melakukan apa? Ini semua milik keluarga!

Untuk pertama kalinya kakakku menatapnya tanpa menunduk.

—Kalau memang milik keluarga, kenapa Ayah harus memalsukan dokumen untuk mendapatkannya?

Ayah tidak bisa menjawab.

Pengacaraku kemudian mengatakan proses pengalihan kepemilikan bisa segera dihentikan.

Dokumen dengan tanda tangan palsu juga dapat diperiksa secara resmi.

Ibu memegang tanganku.

—Jangan laporkan Ibu.

Aku perlahan menarik tanganku.

—Aku belum memutuskan apa pun malam ini.

Lalu aku menatap semua orang.

—Tapi mulai sekarang tidak ada lagi keputusan tentang hidup atau hartaku yang dibuat tanpa persetujuanku.

Aku meninggalkan pesta.

Namun ketika hampir mencapai mobil, seseorang mengejarku.

Kakakku.

Dia menyerahkan buku catatan tua tadi.

—Ada sesuatu yang belum kamu lihat.

Dia membuka halaman terakhir.

Di sana terdapat tulisan tangan yang berbeda.

Sebuah pesan yang dibuat pemilik lama bangunan sebelum meninggal.

Aku membaca baris demi baris.

Dan ketika sampai pada kalimat terakhir, air mataku akhirnya jatuh.

Karena ternyata alasan toko itu diwariskan kepadaku sama sekali bukan karena uang.

Itu adalah sebuah permintaan terakhir.

Permintaan yang akan mengubah keputusan yang hendak kuambil terhadap seluruh keluargaku.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)