Ibu Tiriku Mengurungku dengan Rekan Bisnisnya untuk Menyelamatkan Perusahaan, Lalu Aku Kabur ke Mobil Pria yang Baru Diteleponnya

Avatar penulis
Cerita 01
28 menit baca 9 tayangan
Ibu Tiriku Mengurungku dengan Rekan Bisnisnya untuk Menyelamatkan Perusahaan, Lalu Aku Kabur ke Mobil Pria yang Baru Diteleponnya
Indeks

Ibu Tiriku Mengurungku dengan Rekan Bisnisnya untuk Menyelamatkan Perusahaan, Lalu Aku Kabur ke Mobil Pria yang Baru Diteleponnya

Bagian 1

“Belum ketemu?”

“Belum, Bu Maya. Sepertinya dia lari ke jalan belakang.”

Aku mendengar suara itu di antara hujan yang menghantam pepohonan di belakang vila. Kakiku sudah tidak memakai sandal. Ujung gaun perakku sobek dan penuh lumpur, telapak kakiku perih setiap kali menginjak kerikil, tetapi aku tidak berani melambat.

Namaku Nadira Wibisana. Umurku dua puluh empat tahun.

Malam itu aku tidak sedang mencari tempat aman. Aku hanya berusaha berada sejauh mungkin dari rumah tempat ibu tiriku baru saja mencoba menyerahkanku kepada seorang lelaki demi urusan bisnisnya.

Cahaya senter bergerak di antara batang pohon di belakangku.

“Nadira!”

Suara Maya Wibisana membuat langkahku tersandung.

“Jangan bikin semuanya tambah susah! Kembali!”

Ibu Tiriku Mengurungku dengan Rekan Bisnisnya untuk Menyelamatkan Perusahaan, Lalu Aku Kabur ke Mobil Pria yang Baru Diteleponnya

Ia tidak terdengar seperti seorang ibu yang kehilangan anak. Ia terdengar seperti seseorang yang mengejar barang miliknya.

Aku menekan tangan ke pipi kiri. Bagian itu masih panas akibat cincin besar yang mengenai kulitku ketika Maya menamparku satu jam sebelumnya.

Semua bermula dari makan malam yang disebutnya “pertemuan penting untuk menyelamatkan perusahaan”.

PT Wibisana Furnitur sudah kesulitan sejak awal tahun. Pesanan ekspor berkurang, beberapa klien terlambat membayar, dan perusahaan masih mempunyai kewajiban kepada pemasok serta bank. Aku bekerja di bagian administrasi keuangan sejak lulus kuliah, jadi aku tahu keadaannya buruk.

Tetapi aku tidak pernah membayangkan Maya akan menganggap tubuhku bagian dari rencana penyelamatan.

Sebelum tamu datang, ia masuk ke kamarku sambil membawa gaun warna perak.

“Pakai ini.”

“Aku bisa pakai bajuku sendiri.”

“Malam ini jangan membantah.”

Nada suaranya sudah membuatku tidak nyaman, tetapi selama bertahun-tahun aku terbiasa menghindari pertengkaran dengannya.

Maya menikah dengan ayahku ketika aku berusia dua belas tahun. Setelah Ayah meninggal enam tahun kemudian, ia menjadi satu-satunya orang tua yang tinggal bersamaku. Hubungan kami tidak pernah hangat, tetapi aku terus meyakinkan diri bahwa cara bicaranya yang keras hanyalah bentuk disiplin.

Aku baru mengerti malam itu betapa banyak hal yang selama ini sengaja kuberi nama yang lebih baik agar tidak terlalu menyakitkan.

Tamu utama kami bernama Hendra Kusuma. Usianya lebih dari enam puluh tahun dan sudah lama menjadi salah satu mitra bisnis perusahaan. Ia mempunyai jaringan pemasok kayu dan cukup banyak modal untuk memberi PT Wibisana ruang bernapas beberapa bulan lagi.

Sepanjang makan malam, matanya terlalu sering berhenti padaku.

Aku beberapa kali bangkit dengan alasan membantu staf rumah membawa minuman. Setiap kali aku kembali, Maya memanggilku agar duduk lebih dekat.

Setelah makan selesai, ia mengikutiku ke lorong.

“Kamu temani Pak Hendra sebentar.”

“Aku sudah menemaninya makan malam.”

“Bukan di sini.”

Aku menatapnya.

Ia membenarkan kalung di leherku dengan jari yang dingin.

“Nadira, perusahaan ini sedang terjepit. Pak Hendra bisa membantu kita. Jangan membuat persoalan sederhana menjadi rumit.”

Perutku langsung terasa kosong.

“Maksud Ibu apa?”

“Dia menyukaimu.”

“Aku tidak peduli.”

Wajah Maya berubah.

“Kamu pikir uang sekolahmu dulu datang dari mana? Rumah ini? Mobil yang kamu pakai? Semua ada biayanya.”

Aku mundur satu langkah.

“Itu tanggung jawab orang tua. Bukan utang yang harus kubayar seperti ini.”

Tangannya melayang begitu cepat hingga aku tidak sempat menghindar.

Tamparannya membuat telingaku berdenging.

Maya meraih pergelangan tanganku dan membawaku ke lantai atas.

Aku masih setengah linglung ketika pintu sebuah kamar dibuka.

Hendra sudah berada di dalam.

Di atas meja kecil ada dua gelas dan sebotol minuman.

Aku langsung berhenti.

“Aku tidak mau masuk.”

Maya mendorongku dari belakang.

“Jangan memalukan keluarga.”

Aku berbalik, tetapi pintu sudah ditutup.

Kemudian terdengar suara kunci dari luar.

Untuk beberapa detik aku hanya berdiri menatap gagang pintu.

Hendra mencoba berbicara seolah tidak terjadi sesuatu yang aneh.

“Jangan tegang, Nadira. Ibumu terlalu dramatis.”

“Buka pintunya.”

“Duduk dulu.”

“Buka.”

Ia tidak bergerak ke arah pintu.

Aku mengetuknya keras.

“Ibu! Buka!”

Dari luar terdengar suara Maya.

“Belajarlah bersikap dewasa.”

Aku masih mengingat kalimat itu lebih jelas daripada suara petir malam itu.

Ketika Hendra bergerak mendekat, aku mundur sampai punggungku menyentuh meja rias.

Aku mengatakan jangan.

Ia masih mendekat.

Mataku bergerak ke kamar mandi di samping lemari. Jendelanya tidak besar, tetapi cukup untuk tubuhku.

Aku tidak menyusun rencana.

Aku hanya berlari.

Aku mengunci pintu kamar mandi, membuka jendela, menurunkan kaki ke atap datar di bawahnya, lalu mencari jalan turun melalui pipa dan balkon belakang.

Gaunku tersangkut pada besi pagar. Telapak kakiku kehilangan sandal. Aku jatuh di tanah basah dan lututku menghantam rumput.

Aku berdiri lagi.

Sejak itu aku terus berlari.

Sekarang suara orang-orang yang mencariku semakin dekat.

Aku menembus semak dan akhirnya mencapai jalan kecil di belakang kompleks vila. Hujan begitu deras hingga lampu jalan tampak seperti noda kuning di kejauhan.

Aku tidak membawa ponsel.

Tas dan dompetku masih berada di kamar.

Aku bahkan tidak tahu persis berada di bagian mana kawasan Lembang malam itu karena Maya yang menyetir ketika kami datang.

Lalu dua cahaya putih muncul di tikungan.

Sebuah sedan hitam melaju mendekat.

Aku tidak berpikir apakah orang di dalamnya baik atau buruk.

Aku berdiri di tengah jalan.

“Tolong!”

Mobil itu masih bergerak.

Aku mengangkat kedua tangan.

“Tolong berhenti!”

Rem berbunyi keras.

Mobil membelok sedikit sebelum berhenti beberapa langkah dariku.

Aku berlari ke sisi penumpang dan memukul kaca.

“Tolong! Jangan tinggalin saya di sini!”

Di kursi belakang duduk seorang laki-laki yang mungkin berusia akhir tiga puluhan.

Jasnya rapi. Ponsel masih berada di tangannya. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun, tetapi matanya bergerak cepat dari pipiku ke kakiku yang kotor dan luka, lalu ke cahaya senter yang muncul jauh di belakang.

Ia menatap pengemudinya.

“Buka.”

Kunci pintu berbunyi.

Aku langsung masuk.

Tidak ada yang bertanya namaku.

Mobil bergerak sebelum pintunya benar-benar terasa hangat di tanganku.

Aku meringkuk di sudut kursi, berusaha menghentikan tubuhku yang gemetar.

Laki-laki itu melepas jas luarnya dan menyodorkannya.

“Pakai.”

Aku menatapnya beberapa detik sebelum menerima.

“Terima kasih.”

“Siapa yang mengejar Anda?”

Aku memegang jas itu di depan gaunku.

“Ibu tiri saya.”

Alisnya sedikit berubah.

“Mengapa?”

Aku ingin mengatakan bahwa itu bukan urusannya.

Tetapi aku baru saja masuk ke mobil orang asing tanpa alas kaki. Rasanya tidak masuk akal mempertahankan rahasia yang mungkin membuatku dikembalikan ke sana.

“Dia mengunci saya di kamar dengan rekan bisnisnya.”

Laki-laki itu diam.

Aku menatap lantai mobil.

“Perusahaan keluarga sedang kesulitan. Ibu bilang saya berutang kepadanya karena dia membesarkan saya. Dia ingin saya membuat orang itu senang supaya dia tetap mau membantu perusahaan.”

Tanganku gemetar lagi.

“Saya menolak. Dia menampar saya. Setelah itu dia mengunci pintunya dari luar.”

Pengemudi di depan melihat sekilas melalui kaca tengah.

Laki-laki di sebelahku tidak bergerak.

“Siapa nama rekan bisnis itu?”

“Hendra Kusuma.”

Tatapannya langsung berubah.

Bukan terkejut.

Lebih seperti seseorang baru saja mendapatkan jawaban untuk pertanyaan yang sudah lama mengganggunya.

Sebelum aku sempat bertanya, cahaya dari belakang memenuhi kabin.

Sebuah SUV hitam keluar dari jalan vila.

Aku mengenal mobil itu.

“Itu mereka.”

Suaraku hampir tidak terdengar.

SUV itu semakin dekat.

Laki-laki di sebelahku membungkuk sedikit ke depan.

“Jangan ambil jalan utama.”

Pengemudi mengangguk dan membelok ke jalan sempit di sisi perkebunan.

“Turunkan badan Anda,” katanya kepadaku.

Aku langsung menunduk.

Saat itulah layar ponselnya menyala karena ada notifikasi.

Aku tidak bermaksud membaca.

Tetapi nama di bagian atas layar cukup besar.

Maya Wibisana.

Aku berhenti bernapas.

Laki-laki itu melihat arah pandanganku.

Aku mundur sampai bahuku menempel pada pintu.

“Kenapa Ibu saya menelepon Anda?”

Tanganku langsung mencari gagang pintu meski mobil sedang bergerak.

“Siapa Anda?”

Ia menatapku tanpa berusaha mendekat.

“Arga Santosa.”

Nama itu tidak langsung berarti apa-apa bagiku.

Lalu aku mengingat percakapan Maya beberapa hari sebelumnya tentang seseorang dari perusahaan pembiayaan yang memegang keputusan besar dalam restrukturisasi utang PT Wibisana.

Arga Santosa.

Maya menyebut namanya tiga kali dalam satu sore.

Aku menatap ponselnya lagi.

“Dia baru bicara dengan Anda?”

“Ya.”

“Jadi Anda kenal dia.”

“Dalam urusan bisnis.”

SUV di belakang semakin mendekat.

Aku menarik gagang pintu sekali.

Arga langsung berkata, “Jangan buka. Kita sedang di jalan menurun.”

Aku menatapnya dengan panik.

“Kalau Anda bekerja dengan dia, turunkan saya sekarang.”

“Saya tidak bekerja untuk Maya.”

“Dia baru menelepon Anda.”

“Benar.”

“Untuk apa?”

Arga diam beberapa detik.

Kemudian ia mengunci layar ponselnya dan berkata dengan suara yang jauh lebih tenang daripada yang kuinginkan.

“Maya meminta saya menemukan Anda sebelum polisi atau orang lain melakukannya.”

Aku merasa dingin lagi meski jasnya masih menutupi bahuku.

Arga melanjutkan.

“Dan dia meminta saya menyerahkan Anda kembali kepadanya.”

Pada saat itulah aku memahami satu hal yang membuat mobil hangat itu terasa lebih sempit daripada kamar yang baru saja kutinggalkan.

Aku memang sudah keluar dari vila.

Tetapi aku belum tahu apakah aku benar-benar berhasil melarikan diri.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Aku tidak melepaskan tangan dari gagang pintu.

“Berhenti.”

“Nadira.”

Aku tersentak mendengar namaku.

Arga melihat reaksiku.

“Maya menyebut nama Anda dalam telepon.”

“Berhenti sekarang.”

“Baik.”

Ia meminta pengemudi menepi di halaman sebuah minimarket yang masih buka dua puluh empat jam. Ada beberapa motor di bawah kanopi dan seorang petugas keamanan berdiri tidak jauh dari pintu.

Mobil berhenti.

Arga membuka kunci pintu.

“Anda boleh turun.”

Aku tidak menyangka ia akan melakukannya semudah itu.

“Kenapa?”

“Karena kalau saya memaksa Anda tetap di mobil setelah apa yang baru terjadi, tidak ada alasan bagi Anda untuk percaya saya berbeda dari mereka.”

Aku masih curiga.

Arga menunjuk minimarket.

“Di dalam ada orang. Ada kamera toko. Kalau Anda mau, saya akan minta sopir memanggil polisi dari sini. Atau kita bisa ke IGD dulu karena kaki dan wajah Anda perlu diperiksa. Anda yang pilih.”

Untuk pertama kalinya malam itu, seseorang memberiku pilihan tanpa menyelipkan harga di belakangnya.

Aku menatap SUV yang tadi mengejar kami. Mobil itu tidak terlihat lagi.

“Kenapa Maya menelepon Anda?”

Arga menarik napas.

“Perusahaan Anda mengajukan restrukturisasi utang kepada tempat saya bekerja. Saya menangani penilaian akhirnya.”

“Jadi kalau Anda bilang tidak, perusahaan bisa gagal?”

“Tidak sesederhana itu. Masih ada bank, pemasok, dan beberapa kreditur. Tapi keputusan kami cukup penting.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa dia meminta Anda mengembalikan saya?”

“Dia bilang Anda mengalami masalah emosi, mengambil dokumen perusahaan, lalu kabur dari rumah setelah bertengkar.”

Aku hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya suara pendek yang pahit.

“Aku bahkan tidak membawa ponsel.”

“Saya tahu. Ceritanya tidak masuk akal.”

Arga mengambil ponselnya dan meletakkannya di antara kami dengan layar menghadap ke atas.

“Saya tidak akan membuka pesan pribadi Maya tanpa alasan. Tetapi telepon terakhirnya masuk saat Anda menghentikan mobil kami. Itu sebabnya nama dia masih ada di layar.”

Aku menatapnya.

“Pak Hendra?”

“Hendra salah satu kreditur dagang perusahaan. Dia juga orang yang sangat mendorong agar restrukturisasi disetujui cepat.”

Potongan-potongan malam itu mulai terlihat lebih buruk.

“Dia mau membantu karena…”

“Saya tidak tahu apa yang dijanjikan Maya kepadanya.”

Arga berhenti sebentar.

“Tapi setelah mendengar cerita Anda, saya tidak akan berpura-pura situasinya normal.”

Aku menatap minimarket.

“Aku mau ke rumah sakit.”

“Baik.”

“Setelah itu aku ingin membuat laporan.”

“Baik.”

Tidak ada nasihat panjang. Tidak ada kalimat bahwa aku harus tenang.

Arga hanya meminta pengemudi mencari rumah sakit terdekat yang mempunyai IGD dan tidak kembali ke jalur vila.

Di rumah sakit, aku meminta petugas mencatat kondisi pipi, pergelangan tangan, dan kaki. Arga menunggu di luar ruang pemeriksaan.

Aku meminjam telepon petugas administrasi untuk menghubungi satu-satunya orang yang terpikir olehku, Rani, teman sekantor yang sudah bekerja bersamaku hampir empat tahun.

Ketika ia mendengar suaraku, ia tidak banyak bertanya.

“Aku datang.”

Empat puluh menit kemudian, Rani muncul dengan jaket, sandal, dan pakaian ganti.

Begitu melihatku, matanya memerah.

“Ya Allah, Nad.”

Aku memeluknya dan baru saat itu tubuhku benar-benar berhenti menahan semuanya.

Aku menangis sebentar.

Lalu aku mencuci muka, mengganti pakaian, dan duduk kembali.

“Aku tidak mau pulang,” kataku.

Rani mengangguk.

“Tidur di apartemenku.”

Arga masih menunggu di lorong.

Sebelum pergi ke kantor polisi, ia mendekat dan menyerahkan kartu namanya.

“Besok saya harus membekukan proses penilaian restrukturisasi sampai situasinya jelas.”

Aku menatapnya.

“Karena aku?”

“Karena ada indikasi informasi material dari pihak perusahaan tidak disampaikan dengan jujur. Dan karena Hendra terlibat dalam situasi yang tidak bisa saya abaikan.”

Aku menyimpan kartu itu.

“Apakah Maya akan tahu?”

“Dia akan tahu prosesnya dihentikan sementara. Dia tidak akan mendapat catatan medis Anda atau isi laporan Anda dari saya.”

Itu jawaban yang kubutuhkan.

Malam itu aku membuat laporan tentang pemukulan dan dikurungnya aku di kamar. Prosesnya tidak selesai dalam satu malam, tetapi laporanku diterima dan aku diminta menyimpan semua bukti serta datang kembali jika diperlukan.

Menjelang subuh aku tiba di apartemen Rani.

Aku baru memegang ponsel pinjaman ketika pesan dari nomor Maya mulai masuk.

Jangan menghancurkan perusahaan ayahmu karena emosi.

Pulang. Kita selesaikan sebagai keluarga.

Pak Hendra cuma salah paham.

Pesan keempat membuat tanganku berhenti.

Kalau kamu tetap melanjutkan ini, semua pegawai bisa kehilangan pekerjaan karena kamu.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Rani yang duduk di sebelahku berkata, “Jangan jawab sekarang.”

“Aku memang tidak mau.”

Tetapi ada sesuatu yang menggangguku.

Bukan ancamannya.

Cara Maya menyebut perusahaan seolah seluruh masalah malam itu terjadi karena aku menolak membantu.

Aku sudah bekerja cukup lama di bagian keuangan untuk tahu keadaan perusahaan buruk.

Namun beberapa bulan terakhir Maya berkali-kali mengatakan situasinya hanya sementara.

Aku mengambil laptop kerja yang kebetulan kusimpan di apartemen Rani sejak dua hari sebelumnya karena kami lembur membuat rekonsiliasi pembayaran pemasok.

Aku membuka file terakhir yang kusalin untuk pekerjaan.

Rani menatapku.

“Kamu mau kerja sekarang?”

“Bukan kerja.”

Aku mencari rekap kewajiban perusahaan.

Salah satu angka langsung membuatku berhenti.

Ada pembayaran rutin selama tujuh bulan kepada perusahaan bernama PT Mandala Konsultama.

Totalnya hampir Rp780 juta.

Aku mengenal hampir semua vendor utama kami.

Nama itu tidak pernah kubahas dalam rapat keuangan.

Aku membuka daftar rekening penerima.

Lalu kulihat nama orang yang tercantum sebagai kontak persetujuan.

Maya Wibisana.

Rani mendekat.

“Nadira…”

Aku menunjuk layar.

“Kenapa perusahaan yang katanya hampir tidak punya uang membayar hampir delapan ratus juta ke pihak yang tidak pernah muncul di laporan operasional kita?”

Kami tidak mendapatkan jawabannya malam itu.

Tetapi untuk pertama kalinya aku mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa perusahaan tidak sekadar sedang kesulitan.

Mungkin seseorang telah membuatnya kesulitan, lalu mencoba membuatku membayar harga untuk menutupinya.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Pagi berikutnya aku bangun setelah tidur kurang dari dua jam. Pipi kiriku masih nyeri dan kakiku sudah dibalut, tetapi pikiranku terus kembali ke satu nama.

PT Mandala Konsultama.

Aku tidak ingin melakukan hal bodoh seperti masuk ke sistem perusahaan mencari dokumen yang bukan hakku. Akun kerjaku memang masih aktif, tetapi aku tahu batas antara memeriksa salinan pekerjaan yang sudah berada di laptopku dan mengambil data perusahaan tanpa izin.

Jadi aku mulai dari sesuatu yang sederhana.

Aku membuka salinan rekonsiliasi tiga bulan terakhir yang sebelumnya memang menjadi tugasku.

Ada sembilan transfer ke Mandala.

Nominalnya berbeda-beda, biasanya antara Rp70 juta sampai Rp125 juta.

Keterangan pembayarannya selalu terdengar wajar: konsultasi operasional, advisory fee, project review.

Masalahnya, aku tidak pernah melihat satu pun laporan hasil konsultasi.

“Bisa saja memang proyek Bu Maya,” kata Rani.

“Bisa.”

Aku tidak ingin menjadikan kecurigaan sebagai fakta.

“Makanya aku harus tanya.”

Rani menatapku seolah aku baru mengatakan akan masuk kembali ke rumah yang sama.

“Ke Maya?”

“Bukan sekarang.”

Aku menghubungi kepala bagian akuntansi, Pak Dimas, yang selama ini menjadi atasanku langsung. Aku hanya bertanya apakah pembayaran Mandala termasuk vendor yang harus kumasukkan ke daftar kewajiban bulanan.

Ia terdengar heran.

“Mandala? Bukannya itu sudah dihentikan?”

“Kapan?”

“Bulan lalu, kalau tidak salah.”

Aku melihat file di laptop.

Ada pembayaran sebelas hari sebelumnya.

“Pak, saya punya rekonsiliasi terakhir. Masih ada transfer bulan ini.”

Ia diam.

“Nadira, kamu dapat angka itu dari mana?”

“File pekerjaan saya sendiri.”

Nada suaranya turun.

“Saya kira transaksi itu sudah selesai. Bu Maya yang pegang persetujuannya langsung. Saya cuma dapat rekap dari beliau.”

“Perusahaan itu sebenarnya mengerjakan apa?”

“Saya tidak pernah pegang kontraknya.”

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Itu sudah cukup sebagai contradiction.

Setelah telepon ditutup, aku mengirim pesan kepada Arga.

Saya menemukan pembayaran yang belum saya mengerti di file pekerjaan saya. Apakah hal seperti ini relevan untuk proses restrukturisasi?

Ia menjawab sepuluh menit kemudian.

Jika pembayaran tersebut material dan tidak muncul dalam dokumen yang diberikan perusahaan kepada kami, relevan. Jangan ambil data yang bukan kewenangan Anda. Simpan hanya dokumen yang memang sudah Anda miliki secara sah.

Jawabannya membuatku lega karena ia tidak meminta apa pun.

Aku mengirim satu pertanyaan lagi.

Apakah Anda pernah menerima informasi tentang PT Mandala Konsultama?

Kali ini balasannya datang lebih lama.

Tidak ada dalam daftar vendor material yang disampaikan kepada kami.

Aku meletakkan ponsel.

Rani menghembuskan napas.

“Jadi sekarang bagaimana?”

“Aku pulang.”

Ia langsung menggeleng.

“Tidak sendirian.”

“Aku tidak akan masuk kalau Maya ada di sana.”

Aku masih mempunyai pakaian, dokumen pribadi, buku tabungan lama, paspor, ijazah, dan laptop pribadi di rumah. Aku tidak mau semuanya berada di bawah kendali Maya lebih lama.

Aku menghubungi petugas yang menerima laporanku malam sebelumnya untuk menanyakan langkah aman mengambil barang pribadi. Aku tidak meminta polisi menyelesaikan masalah keluarga kami. Aku hanya memberi tahu bahwa aku tidak merasa aman berada sendirian di rumah setelah kejadian semalam.

Akhirnya aku pergi bersama Rani pada siang hari ketika mendapat kabar dari staf rumah bahwa Maya sedang berada di kantor.

Aku tidak menyentuh barang miliknya.

Aku mengambil apa yang menjadi milikku.

Pakaian secukupnya. Dokumen pendidikan. Dokumen identitas. Buku tabungan. Beberapa foto Ayah.

Di meja kerjaku aku menemukan amplop dari bank yang belum kubuka.

Isinya pemberitahuan perubahan jadwal pembayaran pinjaman perusahaan yang dikirim ke alamat rumah karena aku tercatat sebagai kontak administratif.

Tidak ada kejutan besar di dalamnya, tetapi satu angka memperjelas keadaan.

Tunggakan sudah jauh lebih besar daripada yang dikatakan Maya kepadaku selama ini.

Aku memotret surat itu untuk pekerjaan administrasiku lalu memasukkannya ke map perusahaan di meja, bukan membawanya.

Aku hampir selesai ketika mendengar suara mobil masuk ke halaman.

Rani menegang.

“Maya.”

Aku tidak sempat keluar sebelum pintu depan terbuka.

“Nadira!”

Aku berdiri di tangga sambil membawa koper kecil.

Maya memandang pipiku, kemudian koperku.

“Kamu mau ke mana?”

“Keluar.”

“Berhenti bertingkah seperti anak kecil.”

Aku turun satu anak tangga.

“Malam tadi Ibu mengunci aku di kamar dengan Pak Hendra.”

Wajahnya langsung mengeras.

“Jangan dibesar-besarkan.”

“Pintunya dikunci dari luar.”

“Karena kamu langsung panik.”

“Dia mendekat setelah aku bilang jangan.”

Maya mengatupkan rahang.

“Pak Hendra tidak akan melakukan apa-apa kalau kamu bersikap wajar.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku berhenti bergerak.

Selama bertahun-tahun, setiap kali Maya melukai perasaanku, aku selalu mencari terjemahan yang lebih ringan.

Dia capek.

Dia stres.

Dia cuma keras.

Dia membesarkanku dengan caranya sendiri.

Kali ini tidak ada terjemahan yang bisa menyelamatkannya.

“Aku sudah membuat laporan.”

Wajah Maya berubah.

“Kamu apa?”

“Aku sudah melapor.”

Ia berjalan mendekat.

Rani langsung berdiri di sampingku.

Maya berhenti dua langkah di depan kami.

“Kamu tahu akibatnya kalau Hendra menarik dananya?”

“Aku tidak mengatur keputusan Pak Hendra.”

“Jangan pura-pura bodoh. Kamu tahu perusahaan sedang di ujung tanduk.”

“Aku juga tahu ada hampir Rp780 juta dibayar ke PT Mandala Konsultama.”

Maya membeku.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

“Dari mana kamu dapat nama itu?”

“File rekonsiliasi yang memang menjadi pekerjaanku.”

“Itu urusan manajemen.”

“Kalau begitu jelaskan sebagai manajemen.”

“Kamu tidak punya hak menginterogasiku.”

“Aku tidak menginterogasi.”

Aku mengangkat koper.

“Aku cuma ingin memastikan bahwa aku tidak akan lagi disuruh menanggung akibat dari keputusan yang bahkan tidak boleh kutanyakan.”

Maya menatap Rani.

“Ini karena kamu?”

Rani tidak menjawab.

“Jangan bawa orang lain ke masalah keluarga kita.”

Aku berkata, “Masalah kita berhenti menjadi urusan keluarga ketika Ibu mengunci pintu kamar itu.”

Maya terlihat ingin menjawab, tetapi tidak menemukan kalimat yang cukup cepat.

Aku berjalan melewatinya.

Ia memegang pegangan koperku.

“Nadira.”

Aku berhenti.

“Kalau kamu pergi sekarang, jangan berharap bisa kembali ke perusahaan seolah tidak terjadi apa-apa.”

Aku melepaskan tangannya dari koper.

“Kalau pekerjaanku memang tergantung pada kesediaanku melakukan apa yang Ibu minta tadi malam, berarti aku sudah tidak punya pekerjaan sejak pintu itu dikunci.”

Aku keluar bersama Rani.

Tanganku gemetar ketika memasukkan koper ke mobil.

Aku belum merasa berani.

Aku justru ketakutan.

Tetapi kali ini rasa takutku tidak menentukan arah langkahku.

Dua hari berikutnya terasa seperti hidup orang lain.

Aku tidak masuk kantor. Pak Dimas mengirim pesan singkat bahwa Maya meminta akses email kerjaku dinonaktifkan sementara. Aku membalas bahwa aku memahami keputusan itu dan meminta agar semua komunikasi mengenai status kerjaku dilakukan tertulis.

Aku juga mengganti kata sandi email pribadi, mobile banking, dan akun yang sebelumnya pernah kubuka melalui komputer rumah.

Maya menelepon berkali-kali.

Aku tidak mengangkat.

Kemudian pesan datang dari beberapa kerabat.

Ibumu sedang tertekan.

Jangan mempermalukan keluarga.

Kasihan pegawai.

Kalau perusahaan tutup, kamu juga akan menyesal.

Aku tidak membalas sebagian besar.

Kepada satu tante yang terus mendesak, aku hanya menulis:

Saya tidak sedang bertengkar soal uang. Saya melaporkan tindakan yang terjadi terhadap saya. Saya tidak akan membahas detailnya lewat grup keluarga.

Setelah itu aku mematikan notifikasi.

Pada hari ketiga Arga menghubungiku.

“Saya perlu menyampaikan sesuatu, tapi hanya yang berkaitan dengan Anda.”

“Apa?”

“Proses restrukturisasi dihentikan sementara karena ada perbedaan material antara dokumen yang diserahkan perusahaan dengan informasi yang kami verifikasi.”

“Mandala?”

“Salah satunya.”

Aku duduk lebih tegak.

“Yang lain apa?”

“Saya tidak bisa membuka data internal perusahaan kepada Anda kalau Anda sudah tidak bertugas di sana.”

Aku menghargai jawabannya meski penasaran.

“Lalu kenapa menghubungi aku?”

“Karena Maya menyebut nama Anda dalam penjelasan tertulis kepada kami.”

Aku langsung diam.

“Untuk apa?”

“Dia mengatakan beberapa transaksi yang kami pertanyakan dilakukan atas kebutuhan operasional yang Anda ketahui sebagai staf administrasi.”

Aku menutup mata.

Bahkan dari jarak jauh, Maya masih mencoba meletakkan sebagian beban di tanganku.

“Apakah ada dokumen dengan tanda tanganku?”

“Tidak ada yang dikirim kepada kami.”

“Kalau begitu aku ingin membuat pernyataan bahwa aku tidak pernah menyetujui pembayaran Mandala dan tidak tahu kontraknya.”

“Itu hak Anda. Tulis hanya yang benar-benar Anda ketahui.”

Aku melakukannya malam itu.

Bukan pidato.

Hanya satu halaman.

Aku menjelaskan jabatan dan lingkup pekerjaanku, file yang pernah kutangani, serta fakta bahwa pembayaran PT Mandala Konsultama muncul dalam rekonsiliasi tanpa kontrak yang pernah diberikan kepadaku.

Aku tidak menuduh Maya mencuri.

Aku tidak menuduh Mandala palsu.

Aku hanya menulis apa yang bisa kubuktikan.

Seminggu kemudian jawabannya mulai muncul tanpa perlu detektif, rekaman rahasia, atau orang asing yang tiba-tiba mengetahui semuanya.

Pak Dimas menghubungiku setelah diminta manajemen menyusun ulang dokumen vendor.

Ia tidak membocorkan informasi yang tidak boleh kubaca.

Ia hanya mengatakan sesuatu yang berkaitan langsung dengan pekerjaanku dahulu.

“Nad, saya mau minta maaf.”

“Kenapa?”

“Saya terlalu sering menerima instruksi Bu Maya tanpa bertanya.”

Aku menunggu.

“Pembayaran Mandala ternyata bukan untuk konsultasi operasional seperti yang masuk di rekap keuangan.”

Aku memegang ponsel lebih erat.

“Lalu?”

“Sebagian untuk jasa perantara pendanaan pribadi. Ada juga biaya yang seharusnya tidak dibebankan ke perusahaan.”

“Berapa?”

“Saya tidak bisa kasih angka lengkap.”

“Tidak apa-apa.”

Ia menarik napas.

“Saya cuma ingin kamu tahu, kondisi perusahaan memang buruk. Tapi ternyata tidak semuanya karena pasar.”

Setelah telepon berakhir, aku duduk lama tanpa bergerak.

Aku tidak merasa puas.

Aku justru memikirkan puluhan pegawai yang selama berbulan-bulan menerima kabar bahwa mereka harus berhemat, menunda lembur, dan memahami keadaan perusahaan.

Sementara itu ada uang keluar ke pihak yang bahkan tidak dipahami bagian akuntansi.

Dua hari kemudian Maya akhirnya datang ke apartemen Rani.

Ia tidak naik.

Satpam menelepon dari lobi.

“Ada Ibu Maya mencari Mbak Nadira.”

Aku hampir berkata tidak.

Kemudian aku memutuskan turun, tetapi meminta Rani ikut dan kami bertemu di area duduk terbuka dekat meja keamanan.

Maya terlihat berbeda.

Tidak hancur.

Tidak juga tiba-tiba menyesal.

Ia terlihat lelah dan marah karena kehilangan kendali.

“Kamu puas?”

Itu kalimat pertamanya.

“Dengan apa?”

“Arga menunda pembiayaan. Hendra juga menarik komitmennya.”

“Aku tidak meminta Pak Arga melakukan itu.”

“Tapi semua terjadi setelah kamu masuk ke mobilnya.”

“Aku masuk ke mobilnya karena Ibu mengejarku.”

Maya menatap Rani.

“Aku ingin bicara berdua.”

“Aku tidak.”

Rani tidak berkata apa pun. Ia hanya duduk sedikit menjauh.

Maya menurunkan suara.

“Kamu tidak mengerti bisnis.”

“Mungkin.”

“Kalau pembayaran berhenti, perusahaan bisa gagal bayar.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu malah menambah masalah?”

Aku menatap wajahnya.

“Karena Ibu masih bicara seolah masalah dimulai ketika aku keluar dari kamar itu.”

Maya terdiam.

Aku melanjutkan.

“Masalahnya dimulai ketika Ibu memutuskan aku bisa dipakai untuk mempertahankan kesepakatan dengan Hendra.”

“Tidak ada yang memaksa kamu tidur dengan siapa pun.”

Aku merasa mual mendengar cara ia mengatakannya.

“Ibu mengunci pintu.”

“Aku cuma ingin kalian bicara.”

“Kalau cuma bicara, kenapa pintunya dikunci?”

Ia tidak menjawab.

Aku bertanya lagi.

“Kenapa?”

Maya menatap lantai.

“Hendra sudah menyampaikan bahwa dia menyukaimu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Dia bilang dia bisa memperpanjang pembayaran bahan baku dan membantu menutup kebutuhan kas beberapa bulan. Aku pikir kalau kamu bersikap ramah…”

“Aku bilang tidak sebelum Ibu mendorongku masuk.”

“Karena kamu langsung membuat kesimpulan buruk.”

“Dan setelah aku menolak, Ibu menamparku.”

Ia mengeraskan rahang.

“Aku kehilangan kesabaran.”

Untuk pertama kalinya, Maya mengakuinya tanpa menyebutku penyebab langsung.

Tetapi itu belum cukup.

Aku bertanya, “PT Mandala Konsultama untuk apa?”

Ia menatapku tajam.

“Kamu tidak akan mengerti.”

“Coba.”

“Perusahaan butuh dana cepat. Bank tidak mau menambah fasilitas. Aku cari jalur lain.”

“Kenapa dibayar dari rekening perusahaan kalau itu biaya pendanaan pribadi?”

“Itu masih untuk perusahaan.”

“Pak Dimas bilang tidak semuanya.”

Wajah Maya berubah.

“Dimas bicara dengan kamu?”

“Dia tidak memberi dokumen apa pun.”

“Kalian semua sekarang merasa bisa menghakimiku.”

Aku hampir membantah, lalu mengurungkan niat.

Ini bukan tentang membuat Maya mengakui bahwa aku benar.

Aku hanya perlu menentukan apa yang akan kulakukan.

“Aku tidak akan kembali bekerja di bawah Ibu.”

Ia menatapku.

“Kamu serius?”

“Iya.”

“Setelah semua yang kuberikan?”

Kalimat lama itu muncul lagi.

Sekolah.

Rumah.

Makanan.

Seolah setiap hal yang seharusnya diberikan orang tua sejak awal telah berubah menjadi faktur yang jatuh tempo.

“Aku tidak meminta Ibu membayar kembali apa pun yang pernah kubantu di perusahaan,” kataku. “Aku cuma akan mengambil hak gajiku sampai hari terakhir dan dokumen kerja yang memang menjadi milikku.”

“Lalu laporan polisi?”

“Aku lanjutkan.”

“Nadira.”

“Ibu boleh menjelaskan versi Ibu dalam proses itu.”

Wajahnya menegang.

“Kamu mau melihat aku dipenjara?”

“Aku tidak menentukan hasilnya.”

“Jangan bicara seperti pengacara.”

“Aku juga bukan polisi. Itu sebabnya aku tidak akan memutuskan sendiri apa akibat hukumnya.”

Aku berdiri.

Maya ikut berdiri.

“Nadira, kalau perusahaan jatuh…”

“Aku tidak ingin perusahaan jatuh.”

“Lalu bantu aku.”

“Aku sudah membantu bertahun-tahun.”

“Tidak cukup.”

Kali ini aku tidak terluka oleh kalimat itu.

Aku justru melihat polanya dengan jelas.

Bagi Maya, “cukup” selalu berada satu langkah setelah batas yang sudah kuberikan.

Aku menggeleng.

“Aku tidak bisa menyelamatkan perusahaan dengan membiarkan Ibu melakukan apa pun kepadaku.”

Aku pergi.

Maya tidak mengejar.

Proses setelah itu tidak bergerak cepat.

Tidak ada satu sore ketika Maya kehilangan rumah, perusahaan, uang, dan kebebasannya sekaligus.

Kenyataan jauh lebih lambat.

Pihak pembiayaan yang diwakili Arga meminta perusahaan memperbaiki laporan, menjelaskan transaksi pihak terkait, dan menyusun ulang rencana kas. Bank juga meminta dokumen tambahan setelah beberapa angka berubah.

Hendra berhenti muncul di kantor setelah mengetahui aku membuat laporan.

Aku dipanggil kembali untuk memberikan keterangan lanjutan mengenai kejadian di vila. Aku hanya menjelaskan apa yang kualami.

Aku tidak tahu bagaimana hasil akhir proses terhadap Hendra dan Maya saat itu.

Aku berhenti mencoba mengendalikan sesuatu yang memang bukan keputusanku.

Sebulan kemudian PT Wibisana masih beroperasi, tetapi dalam skala lebih kecil.

Dua unit produksi digabung.

Beberapa proyek ditunda.

Maya tidak lagi memegang sendiri seluruh persetujuan pengeluaran karena pihak kreditur meminta pengawasan tambahan sebagai syarat pembicaraan lanjutan.

Pak Dimas tetap bekerja di sana.

Sesekali ia mengabariku, tetapi aku tidak meminta detail.

Aku sendiri belum mendapatkan pekerjaan baru.

Tabunganku cukup untuk beberapa bulan, tetapi tetap saja aku cemas setiap kali membayar sewa kamar yang akhirnya kuambil setelah keluar dari apartemen Rani.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tinggal di tempat yang benar-benar kupilih sendiri.

Bukan rumah Ayah.

Bukan rumah Maya.

Bukan tempat yang diberikan sebagai imbalan karena aku menurut.

Hanya unit kecil dengan satu kamar tidur, dapur sempit, dan balkon yang menghadap deretan atap kota Bandung.

Arga menghubungiku dua kali selama dua bulan itu.

Pertama untuk memastikan apakah aku bersedia jika pernyataanku tentang pekerjaan disertakan sebagai bagian dari verifikasi perusahaan.

Kedua setelah proses tersebut selesai.

Tidak pernah ada pesan larut malam yang aneh.

Tidak ada tawaran menyelamatkanku.

Tidak ada mobil mewah yang tiba-tiba menunggu di depan kos.

Aku justru menghargai jarak itu.

Suatu sore ia mengirim pesan.

Proses evaluasi yang melibatkan keterangan Anda sudah selesai. Terima kasih sudah kooperatif.

Aku membalas:

Terima kasih karena malam itu tidak mengembalikan saya.

Jawabannya datang beberapa menit kemudian.

Itu seharusnya bukan sesuatu yang perlu Anda ucapkan terima kasih.

Aku membaca kalimat itu lama.

Kemudian kukunci ponsel.

Tiga bulan setelah malam di vila, Maya datang ke tempat tinggalku.

Kali ini ia mengirim pesan lebih dulu.

Aku hampir menolak.

Pada akhirnya aku setuju bertemu di kafe dekat kompleks, bukan di apartemenku.

Ia duduk di depanku tanpa riasan tebal yang biasanya dipakainya untuk rapat.

“Aku tidak datang untuk memintamu mencabut laporan.”

Aku menunggu.

“Pengacaraku sudah bilang aku tidak boleh menghubungimu soal itu.”

“Baik.”

Maya mengusap ujung cangkirnya.

“Perusahaan masih hidup.”

“Aku dengar.”

“Sulit.”

Aku tidak menjawab.

“Mandala sudah dihentikan.”

Aku menatapnya.

“Ada uang yang harus dikembalikan ke perusahaan dari beberapa transaksi.”

“Dari Ibu?”

“Sebagian.”

Itulah pertama kalinya aku mendengarnya mengakui secara langsung bahwa uang perusahaan dan kepentingannya sendiri pernah bercampur.

“Aku akan mencicil.”

Aku tidak mengatakan bagus.

Itu kewajibannya, bukan hadiah untukku.

Maya menatapku lama.

“Aku marah padamu berbulan-bulan.”

“Kenapa?”

“Karena rasanya kamu meninggalkanku saat semuanya hancur.”

Aku hampir tertawa, tetapi tidak jadi.

“Kita mengingat malam itu sangat berbeda.”

“Aku tahu.”

Ia menelan ludah.

“Aku masih tidak setuju dengan semua keputusanmu.”

Aku mengangguk.

“Aku juga tidak butuh Ibu setuju.”

Wajahnya menegang sebentar, tetapi kemudian melembut lagi.

“Hendra bilang dia hanya mau bicara denganmu. Aku percaya dia.”

“Kalau Ibu percaya itu, kenapa pintunya dikunci?”

Maya diam cukup lama.

Akhirnya ia berkata, “Karena aku takut kamu keluar.”

Jawaban itu sederhana.

Dan justru karena sederhana, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.

Ia memang ingin mengendalikan pilihanku.

“Dan waktu aku kabur, Ibu meminta Arga mencari aku.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Aku panik.”

“Untuk membawaku pulang?”

“Iya.”

Aku menarik napas.

Maya tidak sedang berubah menjadi orang baik dalam satu percakapan.

Ia juga tidak sedang menyampaikan pidato penyesalan yang indah.

Tetapi setidaknya untuk pertama kalinya ia berhenti mengganti nama tindakannya.

Bukan salah paham.

Bukan karena aku terlalu sensitif.

Bukan karena perusahaan.

Ia mengunci pintu karena takut aku pergi.

Ia meminta aku dibawa kembali karena takut kehilangan kontrol.

Maya menunduk.

“Aku seharusnya tidak menamparmu.”

Aku menunggu.

“Dan aku seharusnya tidak mengunci pintu itu.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Ya.”

“Aku minta maaf.”

“Terima kasih sudah mengatakannya.”

Ia menatapku, mungkin menunggu sesuatu.

Aku tahu apa yang diinginkannya.

Pengampunan yang segera.

Izin untuk kembali.

Sebuah kalimat yang membuat semua ini terasa selesai.

Aku tidak memberikannya.

“Aku belum bisa punya hubungan seperti dulu dengan Ibu.”

Wajahnya jatuh sedikit.

“Berapa lama?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu anakku.”

“Aku dibesarkan Ibu. Itu benar.”

Aku memilih kata-kataku.

“Tapi itu tidak memberi Ibu hak menentukan tubuhku, pekerjaanku, uangku, atau tempat aku harus tinggal.”

Maya menatap meja.

“Aku kira semua yang kulakukan untuk keluarga…”

“Aku juga dulu berpikir begitu.”

Aku menyandarkan punggung.

“Tapi kalau membantu keluarga selalu berarti satu orang tidak boleh berkata tidak, itu bukan bantuan lagi.”

Maya tidak membantah.

Pertemuan kami berakhir tanpa pelukan.

Tanpa air mata besar.

Tanpa janji bahwa minggu depan semuanya akan kembali normal.

Dan anehnya, itu terasa lebih jujur daripada hampir semua percakapan kami selama bertahun-tahun.

Enam bulan setelah malam hujan itu, aku bekerja di sebuah perusahaan distribusi interior di Bandung.

Gajinya tidak jauh lebih besar dari pekerjaanku sebelumnya.

Jabatanku juga biasa saja.

Namun setiap persetujuan pembayaran mempunyai alur yang jelas. Atasanku tidak pernah meminta seorang staf mengubah angka hanya karena “ini urusan keluarga”.

Aku masih mengikuti perkembangan laporan yang kubuat ketika diminta hadir.

Proses hukumnya belum sepenuhnya selesai.

Aku sudah menerima bahwa beberapa hal dalam hidup tidak berakhir pada hari kita akhirnya berkata tidak.

Kadang keputusan itu justru menjadi awal dari pekerjaan panjang untuk membangun hidup yang berbeda.

Hubunganku dengan Maya masih terbatas.

Kami berbicara sesekali.

Jika ia mulai menyalahkanku atas keadaan perusahaan, aku mengakhiri percakapan.

Jika ia berbicara dengan tenang, aku mendengarkan.

Aku belum memanggilnya “Ibu” sesering dulu.

Aku juga tidak memaksakan diri.

Tentang Arga, kami bertemu lagi secara kebetulan di sebuah acara pemasok hampir delapan bulan kemudian.

Tidak ada musik dramatis.

Ia hanya melihatku di dekat meja registrasi dan tersenyum kecil.

“Sekarang pakai sepatu.”

Aku menatap sepatuku lalu tertawa untuk pertama kalinya setiap kali mengingat malam itu.

“Sekarang saya juga bawa ponsel.”

“Perkembangan bagus.”

Kami minum kopi setelah acara selesai.

Hanya kopi.

Aku tidak membutuhkan lelaki yang menyelamatkanku.

Arga juga tidak memperlakukanku seperti seseorang yang berutang kepadanya karena pernah membuka pintu mobil.

Mungkin itulah alasan aku tidak keberatan bertemu lagi.

Malam ketika aku kabur dari vila, aku mengira hidupku berubah karena masuk ke mobil seorang lelaki asing.

Belakangan aku tahu bukan itu.

Hidupku berubah beberapa detik sebelumnya, ketika aku memutuskan memanjat keluar dari jendela kamar mandi meski tidak tahu apa yang menungguku di bawah.

Mobil itu hanya kebetulan berada di jalan yang kulewati.

Suatu malam setelah pulang kerja, aku berdiri di depan pintu apartemenku sambil mencari kunci.

Dulu aku selalu menyimpan kunci rumah di tempat yang Maya tentukan.

Sekarang hanya ada satu set di tasku dan satu cadangan tersimpan di tempat yang kupilih sendiri.

Aku masuk, menyalakan lampu, lalu mengunci pintu dari dalam.

Kali ini bunyi kunci itu tidak membuatku takut.

Aku yang memegangnya.

Menurutmu, apakah Nadira sebaiknya tetap memberi ruang bagi Maya untuk memperbaiki hubungan mereka setelah semua yang terjadi?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.