PESAN DARI NOMOR LAMA MEMBUKA JEJAK ANAK KEDUA, SEMENTARA NADIRA MENEMUKAN ALASAN BRAM MENYEMBUNYIKAN MASA LALU KELUARGANYA

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 311 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — PESAN DARI NOMOR LAMA MEMBUKA JEJAK ANAK KEDUA, SEMENTARA NADIRA MENEMUKAN ALASAN BRAM MENYEMBUNYIKAN MASA LALU KELUARGANYA

Tanganku terasa dingin ketika membaca pesan di layar ponsel tua itu untuk kedua kalinya.

“Jika Nadira sudah pulang, jangan biarkan dia mengetahui bahwa Nisa bukan satu-satunya anak yang namanya diganti.”

Alya berdiri di sampingku dengan wajah pucat. Ibu masih memegang ujung meja seolah hanya benda itu yang membuatnya mampu berdiri.

Aku menoleh kepadanya.

—Ibu tahu siapa yang mengirim pesan ini?

Ibu tidak menjawab.

—Ibu.

Akhirnya dia mengangguk pelan.

—Mungkin.

—Siapa?

Ibu menatap Alya, lalu kembali menatapku.

—Seseorang yang seharusnya sudah lama meninggalkan semua ini.

Aku mengambil ponsel itu.

—Kenapa Ibu menyimpannya?

—Karena itu milik ayahmu.

Aku terdiam.

Alya menutup mulutnya.

—Ayah kandung Kak Nadira?

Ibu mengangguk.

Ternyata setelah ayah meninggal, ibu tidak pernah membuang ponselnya. Beberapa tahun lalu, Bram menemukannya dan memindahkannya ke sebuah kotak bersama dokumen-dokumen lama.

Anehnya, malam ini ponsel itu berada di atas meja.

Seseorang telah mengambilnya dari tempat penyimpanan.

Lebih aneh lagi, kartu SIM di dalamnya masih aktif.

Aku segera membuka pesan-pesan lama.

Sebagian besar kosong.

Namun ada satu percakapan yang tidak dihapus.

Pesan terakhir dikirim dua belas tahun lalu.

“Aku sudah menemukan dokumen kelahiran kedua. Kalau benar, bukan hanya Nisa yang identitasnya diubah.”

Pesan itu dikirim ayahku kepada nomor yang sama dengan pengirim pesan malam ini.

Dadaku terasa sesak.

—Apa yang sebenarnya Ayah selidiki?

Ibu mulai menangis lagi.

—Awalnya tentang Nisa.

Lalu perlahan dia menceritakan semuanya.

Dua belas tahun lalu, beberapa minggu sebelum Nisa dinyatakan hilang, ayah menemukan ketidaksesuaian dalam dokumen sekolah Nisa. Tanggal lahir di satu dokumen berbeda dengan salinan yang tersimpan di rumah.

Ayah mengira itu hanya kesalahan administrasi.

Namun ketika dia mencoba memperbaikinya, seseorang dari kantor administrasi lama memperingatkannya agar berhenti bertanya.

Ayah justru semakin curiga.

Kemudian dia menemukan sesuatu yang jauh lebih aneh.

Ada beberapa dokumen anak dari tahun yang sama yang pernah diperbarui dengan alasan “kesalahan pencatatan”.

Nama berubah.

Nama orang tua berubah.

Bahkan alamat keluarga berubah.

—Apa hubungannya dengan Bram?

tanyaku.

Ibu menunduk.

—Bram dulu bekerja sebagai pengurus administrasi di sebuah yayasan sosial. Dia membantu keluarga mengurus dokumen anak.

Aku memandang ke arah pintu belakang yang masih terbuka.

Jadi Bram mengenal keluarga kami jauh sebelum menikahi ibu.

—Kenapa dia membawa Nisa?

Ibu menggeleng.

—Ibu tidak tahu seluruhnya. Malam sebelum Nisa hilang, Nisa mengatakan dia melihat Bram bertengkar dengan ayahmu di dekat sebuah gudang arsip. Setelah itu, ayahmu menyuruh Ibu membawa kalian pergi beberapa hari. Tapi Ibu tidak menurut. Ibu pikir ayahmu terlalu takut.

Suaranya pecah.

—Keesokan harinya Nisa menghilang.

Aku mengepalkan tangan.

—Dan beberapa tahun kemudian Ibu menikahi Bram?

Air mata mengalir di pipinya.

—Ibu tidak tahu Bram adalah orang yang sama. Waktu itu Ibu hanya pernah mendengar nama belakangnya dari ayahmu. Ketika Bram datang ke kehidupan Ibu bertahun-tahun kemudian, dia memakai nama berbeda dalam urusan pekerjaannya. Saat Ibu akhirnya tahu, semuanya sudah terlambat.

—Tidak pernah terlambat untuk mengatakan yang sebenarnya.

—Ibu takut kehilangan kalian lagi.

Alya yang sejak tadi diam akhirnya bertanya:

—Kalau aku benar-benar Nisa, kenapa aku tidak mengingat Kak Nadira?

Ibu menatapnya.

—Karena setelah ditemukan kembali, kamu hampir tidak berbicara selama berbulan-bulan.

Aku membeku.

—Ditemukan kembali?

Ibu mengangguk.

Ternyata hampir setahun setelah Nisa menghilang, ibu menerima kabar anonim tentang seorang anak di sebuah rumah penampungan di kota lain.

Dia pergi diam-diam.

Anak itu adalah Nisa.

Tetapi ada masalah.

Semua dokumennya menyebut namanya sebagai Alya.

Dan orang yang membantu ibu membawanya pulang adalah Bram.

—Dia bilang seseorang telah memalsukan identitas Nisa untuk menyembunyikannya. Dia menawarkan bantuan. Ibu mempercayainya.

Aku hampir tidak percaya.

Bram bukan sekadar masuk ke keluarga kami.

Dia membuat dirinya menjadi orang yang kami butuhkan.

—Kenapa Ibu tidak mengembalikan namanya menjadi Nisa?

—Bram bilang kalau orang yang mengambilnya tahu dia sudah ditemukan, mereka mungkin datang lagi. Dia meminta Ibu mempertahankan nama Alya untuk sementara.

—Dan “sementara” menjadi dua belas tahun.

Ibu menangis.

—Ibu salah.

Alya mundur perlahan.

—Jadi seluruh hidupku dibangun dari kebohongan?

Aku mendekatinya.

—Tidak.

Dia menatapku.

—Namamu mungkin pernah diubah. Tapi hidup yang kamu jalani, orang yang kamu cintai, semua pilihanmu, itu nyata.

Air matanya jatuh.

Untuk pertama kalinya sejak aku pulang, aku memeluk adikku.

Entah dia Alya atau Nisa, aku mengenali cara bahunya bergetar ketika menangis.

Sama seperti ketika dia kecil.

Tiba-tiba ponsel tua itu berdering.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengangkatnya.

—Halo?

Suara seorang perempuan tua terdengar.

—Apakah ini Nadira?

—Siapa Anda?

—Namaku tidak penting. Ayahmu pernah memintaku menyimpan sesuatu.

Aku menyalakan pengeras suara.

Ibu langsung menegang.

Perempuan itu melanjutkan:

—Bram akan mencoba mengambil sebuah buku catatan malam ini. Jangan biarkan dia mendapatkannya.

—Buku apa?

—Daftar asli anak-anak yang identitasnya pernah diubah.

Aku menahan napas.

—Di mana?

—Di bangunan lama bekas yayasan. Ayahmu menyembunyikannya sebelum meninggal.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat ibu menjatuhkan diri ke kursi.

—Dan Nadira, sebelum kamu pergi ke sana, periksa halaman terakhir laporan ayahmu. Ada satu nama yang selama ini tidak pernah kamu curigai.

Telepon terputus.

Aku berlari ke lantai atas, mengambil laporan lama dan membalik halaman demi halaman.

Tidak ada apa-apa.

Sampai aku menyadari dua halaman terakhir menempel.

Aku memisahkannya perlahan.

Di sana ada daftar beberapa nama lama dan nama pengganti.

Aku menemukan Nisa.

Nisa Anjani → Alya.

Di bawahnya ada satu baris lagi.

Aku membacanya sekali.

Lalu sekali lagi.

Tanganku mulai gemetar.

Nama pertama pada baris itu adalah namaku.

Nadira.

Tetapi di sebelahnya tertulis nama lain.

Artinya, dua belas tahun lalu ayah bukan hanya menyelidiki perubahan identitas Nisa.

Dia juga menemukan bukti bahwa identitasku sendiri pernah diubah.

Dan tepat di bawah namaku terdapat catatan tulisan tangan:

“Bram mengetahui siapa orang tua kandung Nadira.”

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)