Saat Pintu Itu Akhirnya Terbuka, Aku Mengetahui Alasan Arga Menyembunyikan Kunci Selama Dua Tahun dan Siapa Sari Sebenarnya

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 54 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Saat Pintu Itu Akhirnya Terbuka, Aku Mengetahui Alasan Arga Menyembunyikan Kunci Selama Dua Tahun dan Siapa Sari Sebenarnya

Bunyi “krek” terdengar sekali lagi.

Aku mundur sambil menggenggam kartu memori.

Pintu tua itu bergetar hebat.

—Kirana! Menjauh dari pintu!

Suara Arga terdengar dari luar.

Detik berikutnya, daun pintu terbuka dengan keras.

Ayah Arga berdiri paling depan. Wajahnya pucat, napasnya memburu. Ibu Arga berada beberapa langkah di belakang, sementara Sari dan Arga masuk paling akhir.

Aku segera memasukkan kartu memori ke saku.

—Jangan mendekat!

Ayah Arga berhenti.

Matanya langsung tertuju pada komputer.

—Kamu sudah melihatnya?

Aku tidak menjawab.

Arga maju selangkah.

—Kirana, dengarkan aku.

—Jangan.

Aku menatap laki-laki yang telah menjadi suamiku selama empat tahun itu.

—Aku hanya ingin satu jawaban. Apakah kamu menikahiku karena kunci itu?

Arga terdiam.

Diamnya terasa lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Aku tertawa kecil.

—Ternyata benar.

Aku menarik koperku.

Namun Arga tiba-tiba berkata:

—Awalnya, iya.

Langkahku berhenti.

Ibu Arga memejamkan mata.

Ayahnya membentak:

—Diam, Arga!

Tetapi Arga tidak memedulikannya.

—Aku mengenalmu karena Ayah menyuruhku mendekatimu.

Dadaku sesak.

—Dia sudah lama mengetahui identitasmu. Setelah Nenek mulai mencarimu, Ayah takut bukti lama itu akan muncul lagi.

—Jadi kamu pura-pura mencintaiku?

—Pada awalnya aku memang mendekatimu karena perintahnya.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Arga melanjutkan:

—Tapi aku tidak pernah berencana menikahimu.

—Lalu kenapa kita menikah?

—Karena aku benar-benar jatuh cinta.

Aku hampir tertawa.

—Jangan gunakan cinta untuk membenarkan kebohongan empat tahun.

—Aku tidak meminta kamu membenarkannya.

Untuk pertama kalinya, Arga tidak mencoba mendekat.

—Aku hanya ingin kamu mengetahui seluruh kebenarannya.

Ayahnya maju.

—Tidak ada yang perlu dijelaskan. Berikan kartu memori itu, Kirana. Masalah orang tua tidak perlu diwariskan kepada anak-anak.

Aku menatapnya.

—Kalau begitu, mengapa Anda datang membawa tiga mobil hanya untuk mengambil “masalah orang tua”?

Wajahnya berubah.

Sari tiba-tiba melangkah ke sampingku.

—Karena isi kartu itu bisa menghancurkannya.

Aku menoleh.

Ayah Arga membentak:

—Sari!

Namun perempuan itu justru berdiri semakin dekat denganku.

—Kirana, aku yang mengirim video lengkap tadi.

Aku terpaku.

—Kamu?

—Ya.

—Lalu selama ini hubunganmu dengan Arga…

Sari menggeleng.

—Tidak seperti yang kamu pikirkan.

Dia mengeluarkan ponselnya.

—Aku auditor internal perusahaan keluarga Arga. Enam bulan lalu aku menemukan transaksi lama yang polanya sama dengan transaksi mencurigakan yang terjadi sekarang. Arga memintaku menyelidikinya diam-diam.

Aku memandang Arga.

—Kenapa tidak pernah mengatakan apa pun kepadaku?

Arga menjawab lirih:

—Karena semakin sedikit yang kamu tahu, semakin kecil kemungkinan Ayah menganggapmu ancaman.

—Dan foto kalian berdua? Pertemuan malam-malam? Pesan-pesan yang kamu sembunyikan?

—Pekerjaan penyelidikan.

Sari membuka sebuah folder di ponselnya.

Ada foto arsip lama, salinan transaksi, rekaman pertemuan, dan percakapan antara Arga dengannya.

Tak satu pun berisi hubungan romantis.

Aku merasa lega sesaat.

Tetapi rasa lega itu segera berubah menjadi marah.

—Jadi kalian membuatku terlihat bodoh demi “melindungiku”?

Arga menunduk.

—Itulah kesalahan terbesarku.

Ayahnya tiba-tiba melangkah menuju komputer.

Sari langsung menutup laptop.

—Jangan sentuh!

Pria itu menatapnya tajam.

—Kamu bekerja untukku.

—Saya bekerja untuk perusahaan, bukan untuk menutupi kesalahan Anda.

Ruangan mendadak sunyi.

Lalu terdengar suara dari luar.

Beberapa kendaraan berhenti.

Ayah Arga menoleh cepat.

—Siapa lagi?

Sari menjawab tenang:

—Orang-orang yang seharusnya datang sejak dulu.

Tak lama kemudian, dua petugas bersama seorang pengacara memasuki halaman.

Wajah ayah Arga seketika kehilangan warna.

Sari berbisik kepadaku:

—Semua file sudah disalin. Kartu memori di tanganmu bukan satu-satunya bukti.

Barulah aku mengerti.

Mereka tidak datang untuk menyelamatkan kartu memori.

Mereka datang karena permainan sudah berakhir.

Ayah Arga menatap putranya.

—Kamu menyerahkan ayahmu sendiri?

Arga menggeleng.

—Ayah menyerahkan diri Ayah sendiri ketika memilih mengulangi kesalahan yang sama selama puluhan tahun.

—Aku melakukan semuanya untuk keluarga ini!

—Tidak.

Arga menatapnya.

—Ayah melakukannya untuk diri sendiri.

Pria itu dibawa pergi untuk dimintai keterangan.

Ibu Arga duduk lemas di kursi.

Untuk pertama kalinya, perempuan yang selalu memandangku rendah itu terlihat begitu kecil.

—Kirana…

Aku menoleh.

Dia menundukkan kepala.

—Aku tahu sebagian cerita itu.

Aku membeku.

—Seberapa banyak?

—Aku tahu ayah Arga pernah terlibat dalam masalah dengan ibumu. Tapi aku tidak tahu semuanya.

—Namun Ibu tahu cukup banyak untuk membenciku selama empat tahun?

Air matanya mulai jatuh.

—Aku takut.

—Takut pada apa?

—Takut kamu menemukan kebenaran dan keluarga ini hancur.

Aku mengangguk perlahan.

—Jadi Ibu memilih menghancurkanku lebih dulu.

Dia tak mampu menjawab.

Aku mengambil koperku.

Arga mengikuti sampai ke halaman.

—Kirana.

Aku berhenti, tetapi tidak menoleh.

—Aku tidak meminta kamu pulang bersamaku.

Aku akhirnya menatapnya.

—Bagus. Karena aku tidak akan pulang.

Matanya memerah.

—Aku tahu.

Dia mengeluarkan sebuah amplop kecil.

—Ini milikmu.

Aku tidak mengambilnya.

—Apa itu?

—Surat dari Nenek.

Aku membuka amplop itu.

Tulisan tangannya langsung kukenali.

“Kirana, jika kamu membaca ini, mungkin rumah yang kamu sebut keluarga sudah tidak terasa seperti rumah lagi. Jangan bertahan hanya karena takut memulai kembali. Kebenaran mungkin mengembalikan nama baik ibumu, tetapi hanya keberanianmu sendiri yang bisa mengembalikan hidupmu.”

Pandangan mataku kabur.

Di bagian terakhir tertulis:

“Dan jika cucuku menyakitimu, jangan memaafkannya hanya karena dia cucuku. Biarkan dia membuktikan sendiri apakah dia masih pantas berdiri di sampingmu.”

Aku tertawa di antara air mata.

Bahkan setelah meninggal, Nenek masih memahami semuanya.

Aku melipat surat itu.

Arga berdiri beberapa meter dariku.

—Aku akan menunggu.

Aku menggeleng.

—Jangan menunggu.

Wajahnya berubah.

Aku berkata:

—Perbaiki hidupmu bukan karena berharap aku kembali. Lakukan karena memang itu yang seharusnya kamu lakukan.

Aku menarik koper menuju gerbang.

Untuk pertama kalinya selama empat tahun, Arga tidak mengejarku.

Dia hanya berdiri di sana.

Dan kali ini…

Akulah yang memilih ke mana aku akan pergi.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)