Tujuh Hari Sebelum Menikah, Tunanganku Menyuruhku Duduk di Belakang Karena Rekan Kerjanya Sudah Mengambil Kursi Depan
Bagian 1
Malam ketika aku memutuskan membatalkan pernikahanku, tunanganku sedang membiarkan perempuan lain duduk di kursi depan mobilnya.
Saat itu hampir pukul satu dini hari. Aku baru selesai jaga malam di IGD sebuah rumah sakit di Bandung ketika melihat mobil hitam Arga berhenti di tempat biasa ia menungguku.
Selama lima tahun kami berpacaran, Arga sering menjemputku kalau jadwal jagaku berakhir terlalu larut. Jadi ketika melihat mobilnya malam itu, aku sempat merasa lega.
Sampai aku mendekat dan melihat kursi penumpang depan sudah terisi.
Selma duduk di sana.
Ia bekerja satu divisi dengan Arga. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali saat acara kantor, cukup untuk mengenali wajahnya tetapi tidak cukup dekat untuk saling menghubungi.
Malam itu ia mengenakan syal kasmir abu-abu milik Arga.

Di pangkuannya ada termos stainless berwarna gelap yang sangat kukenal. Tahun lalu aku mencarinya sampai beberapa toko karena Arga pernah berkata model itu sulit didapat. Pada tutupnya terukir nama Arga. Di bagian bawahnya ada namaku, kecil sekali.
Saat melihatku mendekat, Selma menurunkan kaca jendela setengah.
“Mbak Ratri, maaf ya. Lambung saya kambuh. Kalau duduk di belakang biasanya saya malah mual.”
Aku masih memegang gagang pintu.
Bau antiseptik dari ruang tindakan seolah masih menempel di punggung tanganku. Kakiku berat setelah berdiri hampir sepuluh jam, dan yang kuinginkan sebenarnya cuma mandi lalu tidur.
Aku memandang Arga.
Ia tetap duduk di belakang kemudi. Tidak turun. Tidak membuka pintu untukku.
“Selma baru selesai diperiksa,” katanya. “Kondisinya lagi nggak enak. Sama-sama perempuan, kamu mengerti sedikit, ya.”
Aku menatap kursi belakang.
“Terus aku duduk di mana?”
Alis Arga langsung berkerut.
“Ya di belakang.”
Nada suaranya membuat pertanyaanku terdengar seolah sangat tidak masuk akal.
Selma segera menoleh.
“Kalau begitu saya pindah saja, Mbak. Saya tahan sedikit juga nggak apa-apa.”
Mulutnya berkata ingin pindah.
Tangannya justru menarik sabuk pengaman lebih rapat ke tubuhnya.
Arga mengembuskan napas.
“Ratri, jangan bikin orang sakit merasa nggak enak.”
Aku mengangguk.
“Oke.”
Aku menutup pintu mobil pelan.
Arga rupanya mengira aku akan berjalan memutari mobil dan masuk dari pintu belakang.
Aku tidak melakukannya.
Aku berbalik, berjalan kembali menuju pintu IGD, lalu masuk tanpa menoleh lagi.
Lima menit kemudian aku menyalakan ponsel dan mengetik satu pesan.
Kita selesai. Pernikahannya dibatalkan.
Kukirim pesan itu, lalu kumatikan ponsel.
Aku kembali ke ruang jaga untuk mengambil dompet, kartu bank, KTP, dan beberapa barang pribadi yang kusimpan di loker.
Maya keluar dari pantry sambil membawa mi cup. Melihatku sudah mengganti jas dokter dan menyampirkan tas ke bahu, dia hampir menumpahkan kuah mi ke sepatunya.
“Lho, bukannya kamu tadi sudah pulang? Arga nggak jemput?”
“Jemput.”
“Terus kenapa balik?”
Aku melipat jas putihku dan meletakkannya di sandaran kursi.
“Kursi depannya sudah ada yang duduk.”
Maya menatapku selama dua detik.
“Cuma gara-gara kursi depan?”
Aku memandang melalui pintu kaca IGD.
Mobil Arga masih ada di luar.
Dari tempatku berdiri hanya terlihat dua siluet di depan. Yang satu di balik kemudi, yang satu lagi di sisi penumpang.
“Iya.”
Aku menarik ritsleting tasku.
“Cuma gara-gara kursi depan.”
Maya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Dia mengenalku cukup lama untuk tahu aku memang punya beberapa batas yang bagi orang lain mungkin dianggap sepele.
Aku tidak pernah memakai sikat gigi orang lain, bahkan pasangan sendiri. Aku tidak suka gelas minumku dipakai bergantian. Dan dalam hubungan, ada satu hal yang lebih sederhana lagi.
Kalau sesuatu membuat pasanganmu tidak nyaman dan kamu sudah mengetahuinya, jangan sengaja mengujinya hanya untuk melihat seberapa banyak ia mau mengalah.
Arga mengetahui itu.
Kami bersama selama lima tahun.
Undangan pernikahan sudah tersebar lebih dari separuh. Gedung sudah dipesan, katering sudah dibayar uang mukanya, pakaian untuk keluarga hampir selesai.
Tujuh hari lagi kami seharusnya menikah.
Namun malam itu ia meminta calon istrinya duduk di belakang karena perempuan lain sudah lebih dulu mengambil kursi di sampingnya.
Bukan karena tidak ada pilihan.
Bukan karena keadaan darurat.
Selma masih bisa duduk di belakang. Arga bahkan bisa turun, menjelaskan baik-baik, atau sekadar bertanya kepadaku sebelum memutuskan.
Ia tidak melakukan satu pun dari itu.
Yang ia lakukan adalah membuat keputusan untukku, kemudian meminta aku menerimanya agar tidak terlihat “menyulitkan orang sakit”.
Jadi sejak awal, persoalannya bukan kursi.
Persoalannya adalah Arga tahu di mana batasku, lalu menaruh batas itu di bawah kenyamanan orang lain dan berharap aku sendiri yang memungutnya kembali.
Aku tidak akan melakukannya.
Pintu otomatis IGD tiba-tiba terbuka.
Arga masuk dengan langkah cepat.
Jaketnya tersampir di satu tangan, kerah kemejanya sedikit berantakan. Wajahnya tegang.
Selma berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Syal abu-abu itu masih melingkar di lehernya.
“Ratri, kamu sudah selesai bikin ribut?”
Suara Arga tidak sampai berteriak, tetapi cukup keras hingga perawat di meja triase dan beberapa keluarga pasien menoleh.
Maya meletakkan mi cup-nya di atas meja.
Selma meraih lengan Arga.
“Pak Arga, jangan begini. Ini salah saya. Saya tadi sebenarnya bisa duduk di belakang.”
Aku menatapnya.
“Sekarang kamu boleh duduk di belakang.”
Wajah Selma langsung berubah.
Arga maju setengah langkah dan berdiri di depannya.
“Dia lagi sakit. Kamu harus cemburu sekarang?”
Aku hampir tertawa.
“Cemburu sama apa?”
Kunyalakan ponsel.
Begitu layar menyala, belasan panggilan tak terjawab dari Arga memenuhi notifikasi.
Aku menunjukkan layar itu sebentar.
“Aku harus berebut apa? Kursi depan mobilmu?”
Aku menunjuk Selma.
“Atau syalmu?”
Lalu mataku turun ke benda yang masih dipeluknya.
“Atau termos yang kamu kasih ke dia?”
Pandangan Arga ikut turun.
Selma segera memeluk termos itu lebih dekat ke dadanya.
“Saya nggak tahu ini hadiah dari Mbak Ratri,” katanya cepat. “Tadi di mobil dingin, Pak Arga bilang saya pegang saja biar tangan saya hangat.”
Arga menghela napas.
“Cuma termos, Rat.”
Aku benar-benar tertawa kali ini.
“Oke.”
Aku mengangguk.
“Ingat kalimat itu.”
Wajahnya mengeras.
“Nanti juga cuma pesta pernikahan.”
Aku melepaskan cincin dari jari manisku.
“Cuma tunangan.”
Cincin itu terasa jauh lebih ringan setelah terlepas.
“Cuma lima tahun.”
Beberapa orang di ruang tunggu mendadak sibuk menundukkan kepala, pura-pura tidak mendengar.
Arga menatap cincin di tanganku.
“Ratri, pernikahan itu bukan urusan kamu seorang.”
“Benar.”
“Undangan sudah dikirim. Hotel sudah dipesan. Keluarga kita sudah memberi tahu saudara dan teman. Kamu pikir bisa bilang batal begitu saja?”
“Bisa.”
“Jangan pakai pernikahan buat mengancam aku.”
“Aku nggak mengancam.”
Aku meletakkan cincin di atas kotak saran yang berada di samping meja triase.
“Aku memberi tahu keputusan.”
Untuk pertama kalinya sejak masuk, Arga tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap cincin itu seperti aku baru saja melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.
Selma bergerak mendekat.
“Mbak Ratri, jangan begini.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Saya benar-benar nggak mau merusak hubungan kalian. Saya cuma sakit lambung. Pak Arga bantu saya sebentar. Kenapa harus sampai membatalkan pernikahan?”
Aku memandangnya.
“Kalau lambungmu sakit, tempat yang benar memang rumah sakit.”
Dia terdiam.
“Bukan berarti kamu harus mengambil posisi calon istrinya dan membiarkan dia menyuruhku menyesuaikan diri.”
Selma membuka mulut tetapi tidak berkata apa-apa.
Arga mengulurkan tangan hendak menarik lenganku.
“Kita pulang. Bicara di rumah.”
Aku mundur setengah langkah.
Tangannya hanya menangkap udara.
“Rumah yang sedang kita siapkan itu juga bukan milikmu seorang, jadi jangan bicara seolah kamu bisa menentukan semuanya sendiri.”
Rahang Arga mengeras.
Amarah yang sedari tadi ditahannya akhirnya pecah.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
“Jangan bawa-bawa rumah cuma karena kamu sedang emosi.”
Suara Arga naik satu tingkat.
Aku tidak menjawab dengan suara lebih keras. Kami masih berada di IGD. Di balik pintu lorong, ada orang sakit dan keluarga yang sudah cukup cemas tanpa perlu mendengar pertengkaran kami.
“Kalau mau bicara, kecilkan suara.”
Arga melihat sekeliling dan baru menyadari hampir semua orang memperhatikan.
Ia meraih cincin di atas kotak saran, memasukkannya ke saku jaket, lalu berkata lebih pelan, “Aku antar Selma karena dia tiba-tiba sakit di kantor. Itu saja. Nggak ada apa-apa.”
“Aku juga nggak bilang ada apa-apa.”
“Terus kamu maunya apa?”
“Sekarang? Aku mau pulang sendiri.”
Selma kembali menyela.
“Mbak Ratri, kalau memang gara-gara saya, saya bisa jelaskan.”
Aku menoleh kepadanya.
“Tidak perlu.”
Aku mengambil tas dari kursi.
“Masalahnya bukan apakah kamu punya hubungan dengan Arga atau tidak.”
Arga tertawa pendek tanpa humor.
“Lalu apa? Kamu marah karena aku menyuruhmu duduk di belakang lima belas menit?”
Aku menatapnya.
“Ya.”
Dia menggeleng seolah menyerah memahami jalan pikiranku.
Aku memesan mobil melalui aplikasi dan menunggu di dekat meja perawat. Arga tidak pergi. Selma akhirnya duduk di deretan kursi tunggu, wajahnya pucat dan kedua tangannya masih memegang termos.
Maya berdiri beberapa meter dariku, cukup dekat kalau aku membutuhkan bantuan tetapi tidak ikut campur.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Arga mendekat lagi.
“Aku bisa buktikan nggak ada hubungan apa-apa sama Selma.”
“Aku tidak sedang menuduhmu selingkuh.”
“Tapi caramu bereaksi seolah aku ketahuan selingkuh.”
Ia mengeluarkan ponselnya.
“Nih. Kalau kamu nggak percaya, baca saja chat kami.”
Aku tidak meminta melihat ponselnya.
Tapi Arga sudah membuka percakapannya dengan Selma dan menyerahkannya kepadaku.
Sebagian besar memang tentang pekerjaan.
Jadwal rapat, revisi laporan, perubahan jadwal perjalanan dinas. Tidak ada panggilan sayang. Tidak ada percakapan romantis. Tidak ada sesuatu yang membuatku bisa menuduh mereka berselingkuh.
Aku menggulir sedikit ke atas.
Percakapan malam itu muncul.
Selma mengirim pesan sekitar pukul sebelas lewat.
Pak, maaf merepotkan. Perut saya sakit sekali. Saya mau periksa dulu.
Arga menjawab bahwa ia masih di kantor dan akan mengantarnya ke rumah sakit.
Beberapa pesan berikutnya biasa saja.
Sampai aku menemukan satu kalimat dari Selma, dikirim tidak lama sebelum mereka menjemputku.
Pak, nanti kalau Mbak Ratri pulang bagaimana? Saya duduk depan begini dia nggak keberatan?
Balasan Arga muncul tepat di bawahnya.
Dia memang banyak aturan. Biar saja. Nanti kalau aku jelaskan juga reda sendiri.
Jempolku berhenti.
Aku membaca kalimat itu sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Arga menyadari apa yang kulihat dan langsung mengambil kembali ponselnya.
“Itu cuma cara ngomong.”
Aku mengangkat wajah.
“Jadi kamu tahu.”
“Apa?”
“Kamu tahu aku akan keberatan.”
Arga diam.
Selma yang duduk beberapa meter dari kami perlahan menundukkan kepala.
Aku menatap Arga.
“Dia bahkan sempat mengingatkanmu.”
“Rat, bukan begitu maksudnya.”
“Lalu apa maksud ‘biar saja’?”
Ia mengusap wajah.
“Aku cuma nggak mau ribet soal hal kecil.”
Aku mengangguk pelan.
Untuk beberapa detik, suara mesin pendingin ruangan terdengar lebih jelas daripada apa pun.
Ternyata aku memang tidak salah memahami malam itu.
Ini bukan keadaan mendadak yang membuat Arga lupa mempertimbangkan perasaanku.
Ia sudah memikirkannya.
Selma sudah menanyakannya.
Arga tahu aku tidak akan nyaman.
Dan setelah mengetahui semua itu, ia tetap mengambil keputusan yang sama karena ia yakin kemarahanku nanti bisa diurus setelah aku mengalah.
Mobil yang kupesan berhenti di depan lobi.
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.
Arga berdiri di depanku.
“Besok kita bicara setelah kamu tidur. Kamu capek.”
“Aku memang capek.”
Aku menatapnya.
“Tapi aku tidak salah baca.”
Ia mengerutkan kening.
“Aku belum bilang apa-apa soal besok.”
“Kamu nggak perlu.”
Aku berjalan melewatinya.
“Pesanmu sudah bilang cukup banyak.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku pulang ke rumah orang tuaku menjelang pukul dua pagi.
Aku memang sudah berencana tidur di sana setelah jaga karena rumah yang kami siapkan untuk setelah menikah masih penuh kardus, peralatan dapur baru, dan beberapa barang kiriman vendor. Aku dan Arga menyewa rumah kecil di Antapani untuk satu tahun dan membayar sewanya bersama. Kami belum tinggal di sana.
Mama membuka pintu dengan wajah mengantuk.
Melihat aku datang sendirian dengan tas kerja masih di bahu, beliau tidak langsung bertanya.
“Sudah makan?”
Aku menggeleng.
Mama memanaskan sup yang tersisa di kulkas.
Baru setelah aku duduk di meja makan dan menghabiskan beberapa sendok, beliau bertanya, “Arga mana?”
“Pernikahannya batal.”
Sendok di tangan Mama berhenti.
Aku menceritakan apa yang terjadi tanpa menambahkan apa pun.
Tidak ada tuduhan perselingkuhan.
Tidak ada cerita bahwa Selma merebut Arga.
Aku hanya menceritakan kursi depan, syal, termos, respons Arga, lalu pesan yang ia kirim kepada Selma sebelum menjemputku.
Mama mendengarkan sampai selesai.
Beliau tampak ingin mengatakan sesuatu beberapa kali, tetapi menahannya.
Akhirnya beliau bertanya, “Kamu yakin mau mengambil keputusan sebesar ini malam ini juga?”
“Aku yakin tidak mau menikah tujuh hari lagi.”
“Itu berbeda dengan yakin selamanya.”
“Aku tahu.”
Mama mengangguk.
“Kalau begitu tidur dulu. Besok kita urus yang memang harus diurus.”
Aku bersyukur beliau tidak menyuruhku memaafkan Arga hanya karena undangan sudah tercetak.
Keesokan paginya, ponselku penuh pesan.
Arga mengirim sembilan belas pesan.
Enam pesan pertama berisi penjelasan.
Empat berikutnya mengatakan aku bereaksi berlebihan.
Lalu nadanya berubah.
Ia meminta maaf karena membentakku di rumah sakit, tetapi masih menulis bahwa keputusanku membatalkan pernikahan “tidak sebanding dengan masalahnya”.
Pesan terakhir berbunyi:
Aku datang jam sepuluh. Kita selesaikan baik-baik.
Aku membalas satu kalimat.
Jangan datang sebelum aku bilang boleh.
Dua menit kemudian ia menelepon.
Aku tidak mengangkat.
Setelah itu ibu Arga menelepon.
Aku mengangkat karena beliau bukan orang yang berbuat salah kepadaku.
“Ratri, Tante dengar kalian bertengkar.”
“Kami bukan cuma bertengkar, Tante. Saya membatalkan pernikahannya.”
Di seberang sana hening.
“Kamu serius?”
“Iya.”
“Tujuh hari lagi, Ratri.”
“Saya tahu.”
“Saudara dari Semarang sudah beli tiket. Sepupunya Arga dari Surabaya bahkan sudah ambil cuti. Hotel juga sudah dibayar. Masa gara-gara masalah di mobil semuanya dibatalkan?”
Aku menutup mata sebentar.
Kalimatnya hampir sama dengan Arga.
Masalah di mobil.
Kursi.
Hal kecil.
Aku mulai memahami kenapa Arga begitu yakin semuanya akan reda sendiri.
Mungkin selama ini ia terbiasa menganggap sesuatu kecil selama bukan dia yang harus menelannya.
“Tante,” kataku, “saya tidak bilang Arga berselingkuh.”
“Ya memang Tante yakin dia nggak begitu.”
“Ini juga bukan soal Selma semata.”
Lalu kuceritakan isi pesan Arga.
Tentang Selma yang sudah bertanya apakah aku akan keberatan.
Tentang Arga yang menjawab bahwa aku “memang banyak aturan” dan nanti akan reda sendiri.
Ibu Arga terdiam lebih lama.
Akhirnya beliau berkata, “Tetap saja, mungkin dia cuma salah bicara.”
“Mungkin.”
“Kalian sudah lima tahun bersama.”
“Saya tahu.”
“Lima tahun dibuang karena satu kesalahan?”
Aku memandang meja makan.
Ada map cokelat berisi salinan kontrak rumah, daftar pembayaran vendor, dan rincian biaya pernikahan yang semalam kuambil dari lemari.
“Kalau saya tetap menikah minggu depan, kesalahannya tidak hilang, Tante. Saya hanya mengajari Arga bahwa kalau persiapannya sudah terlalu jauh, saya akan menerima keputusan apa pun karena malu membatalkan.”
Suara ibu Arga melunak.
“Jadi kamu benar-benar nggak mau bertemu dia?”
“Saya mau. Tapi bukan untuk dibujuk menikah minggu depan.”
Setelah telepon berakhir, aku membuka laptop.
Aku menghubungi wedding organizer, pihak hotel, penata rias, fotografer, dan vendor dekorasi. Aku tidak mengatakan acara langsung batal sepihak. Aku menjelaskan bahwa calon pengantin sedang membatalkan rencana pernikahan dan meminta rincian kewajiban yang sudah terikat kontrak.
Beberapa pembayaran memang tidak dapat dikembalikan.
Sebagian bisa dikembalikan dengan potongan.
Beberapa vendor meminta konfirmasi dari aku dan Arga karena kontrak mencantumkan kami berdua.
Aku mencatat semuanya.
Menjelang siang, total kerugian dari beberapa uang muka yang hampir pasti hangus sekitar Rp36 juta. Bagian yang berasal dari tabunganku sendiri sedikit di atas Rp17 juta.
Angka itu membuatku diam cukup lama.
Rp17 juta bukan uang kecil bagiku.
Aku membayangkan berapa kali jaga malam yang diperlukan untuk mengumpulkannya.
Namun uang itu sudah menjadi biaya dari keputusan yang kami buat sebelumnya. Menikah hanya karena tidak mau kehilangan uang muka justru akan membuat Rp17 juta menentukan seluruh hidupku.
Aku mengirim semua rincian kepada Arga.
Kita perlu selesaikan pembayaran vendor, kontrak rumah, dan barang yang sudah dibeli bersama. Untuk hal praktis aku akan bicara.
Ia langsung menjawab.
Aku nggak mau membatalkan apa pun.
Aku membalas:
Kamu tidak bisa memaksaku menikah. Kalau kamu ingin acara tetap berjalan, itu urusan lain, tapi namaku tidak boleh digunakan.
Kali ini ia tidak menjawab selama hampir satu jam.
Sore harinya, Arga mengirim pesan meminta bertemu di rumah Antapani.
Aku setuju dengan syarat pertemuan dilakukan sebelum malam dan Mama tahu aku berada di sana.
Ketika aku tiba, Arga sudah menunggu di ruang makan.
Rumah itu terlihat aneh.
Di sudut ruang tamu ada dua kotak berisi gelas yang belum pernah dibuka. Di dinding masih tertempel kertas ukuran furnitur. Di kamar utama ada seprai baru yang bahkan belum dilepas dari plastik.
Seminggu sebelumnya aku melihat semua itu sebagai awal kehidupan kami.
Sekarang tempat itu terasa seperti rancangan yang tidak pernah selesai dibangun.
Arga duduk dengan kedua siku di meja.
Cincin pertunanganku berada di depannya.
“Aku minta maaf soal chat itu.”
Aku duduk di seberangnya.
“Bagian mana?”
“Semua.”
“Kamu bilang aku banyak aturan.”
“Aku sedang capek.”
“Kamu bilang kalau aku marah nanti akan reda sendiri.”
Ia menunduk.
“Aku salah.”
Aku menunggu.
Arga biasanya cepat menjelaskan sesuatu sampai kesalahannya terdengar seperti keadaan yang tidak bisa ia hindari.
Kali ini aku tidak membantunya mencari alasan.
Beberapa detik kemudian ia berkata, “Aku memang tahu kamu akan keberatan.”
Itulah kalimat yang sejak semalam ingin kudengar.
Bukan karena aku ingin memenangkan pertengkaran.
Aku hanya ingin dia berhenti menyebut kejadian itu sebagai salah paham.
“Kenapa tetap kamu lakukan?”
Arga menyandarkan punggung.
“Karena menurutku waktu itu nggak masuk akal menyuruh orang yang baru sakit pindah ke belakang cuma karena kamu nggak suka kursimu dipakai.”
“Kenapa tidak meneleponku?”
Ia diam.
“Kenapa nggak bilang, ‘Rat, Selma sedang sakit, dia mual kalau duduk belakang, boleh nggak malam ini dia di depan?’”
“Aku kira nggak perlu.”
“Persis.”
Aku menatapnya.
“Kamu bukan lupa bertanya. Kamu memutuskan tidak perlu bertanya.”
Arga menekan bibirnya.
“Kalau setiap hal kecil harus minta izin, capek juga.”
“Aku tidak meminta kamu minta izin untuk bernapas.”
“Lihat? Kamu selalu bikin kalimatku terdengar lebih buruk.”
“Aku hanya mengulang apa yang terjadi.”
Ia mengusap tengkuknya.
“Aku sudah bilang maaf.”
“Dan aku dengar.”
“Terus apa lagi?”
Aku tidak langsung menjawab.
Lima tahun membuatku tahu arti pertanyaan itu.
Bagi Arga, permintaan maaf adalah pintu keluar dari pertengkaran. Begitu kata maaf diucapkan, masalah seharusnya selesai dan kami kembali ke keadaan sebelumnya.
Tapi kali ini aku tidak mau kembali ke keadaan sebelumnya.
“Aku ingin tahu apakah kamu benar-benar memahami kenapa aku membatalkan pernikahan.”
“Karena aku nggak menghargai batasmu.”
Jawabannya datang terlalu cepat.
Aku bertanya, “Batas apa?”
Ia terdiam.
Aku menunggu lagi.
Akhirnya Arga berkata, “Kamu nggak suka perempuan lain duduk di depan mobilku.”
Aku menggeleng.
“Bukan itu.”
Wajahnya berubah kesal.
“Terus apa lagi?”
“Kamu tahu aku akan merasa tidak dihargai. Kamu bahkan sudah diperingatkan. Tapi kamu memutuskan perasaanku bisa diurus belakangan karena kamu yakin aku pada akhirnya akan mengalah.”
Arga tidak menjawab.
“Kalau kita sudah menikah nanti, keputusan apa lagi yang akan kamu buat seperti itu?”
“Aku nggak akan.”
“Kamu nggak tahu.”
“Aku janji.”
“Kamu juga pernah janji kalau kita akan membicarakan keputusan yang menyangkut kita berdua.”
Ia menatapku.
Aku melanjutkan, “Aku nggak membatalkan pernikahan karena Selma duduk di kursi depan. Aku membatalkannya karena ternyata kamu melihat batas yang sudah kamu ketahui sebagai sesuatu yang boleh dilewati kalau menurutmu alasannya cukup baik.”
Ruangan hening.
Dari luar terdengar pedagang lewat dengan suara motor pelan.
Arga menunduk menatap cincin di meja.
“Jadi lima tahun nggak berarti apa-apa?”
“Berarti.”
Aku merapikan ujung map di hadapanku.
“Justru karena lima tahun itu berarti, aku tidak mau menutup mata pada sesuatu hanya karena seminggu lagi kita menikah.”
Ia mengangkat kepala.
“Kasih aku kesempatan memperbaikinya.”
“Aku memberimu kesempatan bicara sekarang.”
“Bukan itu maksudku.”
“Aku tahu.”
Ia mendorong cincin ke arahku.
“Kita tunda kalau perlu. Satu bulan. Dua bulan. Jangan langsung selesai.”
Tanganku tetap di atas map.
Untuk pertama kalinya sejak semalam, aku merasa ragu.
Bukan karena cincin.
Bukan pula karena uang muka.
Lima tahun tidak bisa hilang dalam satu malam. Ada ulang tahun, perjalanan, malam-malam ketika Arga menungguku selesai operasi, waktu ia membantu Mama pindahan, dan banyak hari biasa ketika hubungan kami terasa aman.
Aku masih mencintainya.
Itulah yang membuat keputusan itu berat.
Kalau tidak ada cinta, aku tidak perlu berpikir selama itu.
“Aku tidak mau menikah minggu depan,” kataku.
“Oke.”
“Dan aku tidak mau langsung menentukan sekarang apakah kita akan kembali atau tidak.”
Arga membuka mulut.
Aku mengangkat tangan.
“Kalau kamu benar-benar minta kesempatan, terima konsekuensi pertama dulu. Pernikahan batal. Bukan ditunda diam-diam supaya semua orang berpura-pura tidak terjadi apa-apa.”
Rahangnya kembali tegang.
“Kenapa harus sejauh itu?”
“Karena aku perlu tahu kamu bisa menghargai keputusan yang tidak kamu sukai.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Aku membuka map.
“Ini rincian vendor. Aku sudah hubungi mereka. Besok kamu harus ikut mengonfirmasi pembatalan untuk kontrak yang mencantumkan dua nama.”
Arga menatap kertas-kertas itu.
“Kamu sudah mengurus semuanya?”
“Yang bisa kuurus.”
“Cepat sekali.”
“Aku sudah mengatakan sejak tadi malam bahwa aku serius.”
Ia mengembuskan napas panjang.
Lalu mengambil lembar pertama.
Kami menghabiskan hampir satu jam membahas sesuatu yang seminggu lalu tidak pernah kubayangkan perlu kami bahas.
Hotel.
Dekorasi.
Fotografer.
Katering.
Jumlah uang muka yang hilang.
Barang mana yang dibeli olehku, mana yang dibeli Arga, dan mana yang dibayar bersama.
Tidak ada bentakan lagi.
Mungkin karena begitu angka dan kontrak diletakkan di atas meja, pembatalan itu akhirnya menjadi nyata baginya.
Sebelum pulang, aku mengambil barang pribadiku dari rumah.
Beberapa buku.
Satu kotak pakaian.
Dokumen kerja.
Peralatan medis yang biasa kubawa saat jaga.
Aku tidak mengambil televisi atau perabot yang dibeli bersama.
Itu akan kami selesaikan kemudian.
Ketika aku membawa kotak terakhir ke pintu, Arga berdiri di ruang tamu.
“Rat.”
Aku berhenti.
“Aku benar-benar nggak pernah ada apa-apa sama Selma.”
“Aku percaya.”
Jawaban itu membuatnya terlihat lebih bingung.
“Kalau begitu kenapa rasanya seperti aku dihukum karena selingkuh?”
“Kamu bukan dihukum.”
Aku menggeser kotak di tanganku.
“Aku cuma tidak jadi menikah denganmu.”
“Itu hukuman.”
“Tidak. Pernikahan bukan hak yang otomatis kamu dapat setelah lima tahun pacaran.”
Ia terdiam.
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.
Dua hari berikutnya sangat melelahkan.
Aku tetap bekerja karena jadwal pasien tidak berhenti hanya karena hidup pribadiku berantakan.
Di sela jam istirahat aku menjawab telepon vendor dan beberapa kerabat dekat.
Mama membantuku menghubungi keluarga kami sendiri.
Kepada orang lain kami hanya mengatakan pernikahan dibatalkan karena masalah pribadi yang tidak dapat diselesaikan sebelum hari pernikahan.
Aku tidak ingin Selma dijadikan bahan gosip keluarga.
Perbuatannya malam itu memang tidak pantas, tetapi keputusan utama dibuat Arga.
Aku tidak perlu memindahkan tanggung jawab hanya karena lebih mudah menyalahkan perempuan lain.
Pada hari ketiga, Selma mengirim pesan kepadaku.
Mbak Ratri, saya minta maaf. Saya tahu Mbak mungkin tidak ingin bicara dengan saya, tapi saya memang sempat tanya Pak Arga karena beliau pernah bilang Mbak tidak suka kalau ada perempuan lain terlalu bebas memakai barang pribadinya. Saya pikir karena beliau bilang tidak masalah, berarti beliau sudah bicara dengan Mbak. Saya salah.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu membalas singkat.
Terima kasih sudah menjelaskan. Jaga kesehatan.
Aku tidak bertanya lebih jauh.
Penjelasannya justru menguatkan hal yang sudah kuketahui.
Arga bukan tidak tahu.
Ia tahu.
Hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan kami akhirnya datang.
Aku mengambil jadwal pagi di rumah sakit.
Maya sempat menatapku lama ketika melihat namaku di daftar.
“Kamu yakin mau kerja?”
“Di rumah juga aku cuma akan lihat jam.”
Dia mengangguk.
Tidak ada pesta.
Tidak ada gaun.
Tidak ada ratusan orang bertanya kenapa aku tidak tersenyum cukup lebar.
Pukul sepuluh pagi, ketika seharusnya aku sedang dirias, aku malah berdiri di ruang perawatan menjelaskan jadwal obat kepada keluarga seorang pasien.
Aneh sekali karena hari itu ternyata tetap memiliki dua puluh empat jam.
Dunia tidak berhenti.
Menjelang sore, Arga mengirim satu pesan.
Hari ini berat. Tapi aku akhirnya paham kenapa kamu bilang aku harus menerima konsekuensinya dulu. Maaf karena selama ini aku pikir selama niatku tidak buruk, caraku otomatis bisa dibenarkan.
Aku membaca pesan itu saat duduk di ruang dokter.
Aku tidak langsung membalas.
Beberapa jam kemudian aku menulis:
Terima kasih sudah mengerti.
Tidak ada percakapan panjang setelahnya.
Kami menyelesaikan kontrak rumah dalam tiga minggu. Pemilik rumah setuju mengakhiri sewa lebih cepat setelah kami membayar kewajiban sesuai perjanjian.
Perabot yang dibeli bersama kami bagi berdasarkan siapa yang membutuhkan dan siapa yang bersedia mengganti bagian pembayaran pihak lain.
Tidak romantis.
Tidak dramatis.
Hanya dua orang yang pernah merencanakan hidup bersama, sekarang menghitung lemari, kulkas, dan uang muka dengan kalkulator di meja.
Anehnya, justru proses itu memberiku jawaban yang tidak kudapatkan selama pertengkaran.
Arga beberapa kali tidak setuju denganku.
Namun kali ini ia bertanya sebelum memutuskan.
Saat ingin mengambil mesin kopi yang kami beli bersama, ia tidak langsung membawanya.
“Kalau aku ambil ini, bagianmu aku transfer setengah harga sekarang. Gimana?”
Aku mengangguk.
“Boleh.”
Perubahan kecil.
Terlambat untuk menyelamatkan pesta pernikahan, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa setidaknya ia mulai memahami hal yang sebelumnya dianggapnya merepotkan.
Dua bulan kemudian kami bertemu lagi di sebuah kedai kopi.
Bukan untuk membicarakan vendor.
Bukan tentang rumah.
Arga meminta pertemuan itu karena ingin tahu apakah masih ada kemungkinan bagi kami.
Ia terlihat lebih kurus.
“Aku sudah banyak mikir,” katanya.
Aku menunggu.
“Dulu kalau kamu menolak sesuatu, aku sering lihatnya sebagai kamu keras kepala.”
Aku tidak menyela.
“Aku pikir kalau alasanku masuk akal, kamu seharusnya ikut. Dan kalau kamu marah, aku biasanya tunggu sampai reda.”
Ia tersenyum kecil, pahit.
“Aku baru sadar itu berarti aku nggak pernah benar-benar menganggap tidakmu sebagai jawaban.”
Itu mungkin permintaan maaf paling jujur yang pernah kudengar darinya.
“Kenapa sekarang baru sadar?”
“Karena kali ini kamu nggak reda lalu kembali.”
Aku melihat cangkir kopi di depanku.
“Aku memang pernah sering kembali.”
“Iya.”
Arga tidak menyangkal.
“Dan aku jadi terbiasa.”
Kami duduk cukup lama.
Tidak ada orang ketiga.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada cincin di meja.
Hanya kami berdua.
“Aku masih sayang kamu,” katanya akhirnya.
“Aku juga tidak membencimu.”
“Bukan itu jawabannya.”
“Aku tahu.”
Aku menarik napas pelan.
“Kalau kita kembali sekarang, aku akan terus menguji apakah kamu benar-benar berubah. Kamu juga akan terus merasa sedang diawasi. Aku tidak mau hubungan kita jadi begitu.”
“Jadi selesai?”
Aku memandangnya.
Kali ini aku tidak marah.
“Iya.”
Arga menunduk sebentar.
Kemudian ia mengangguk.
Tidak meminta sekali lagi.
Tidak mengatakan aku akan menyesal.
Tidak mengingatkanku tentang lima tahun yang sudah lewat.
Sebelum kami berpisah, ia mengeluarkan sebuah kantong kertas kecil.
Di dalamnya ada termos stainless yang malam itu dibawa Selma.
“Aku rasa ini sebaiknya kamu yang putuskan mau diapakan.”
Aku memegang termos itu.
Namanya masih terukir di tutup.
Namaku masih berada di bagian bawah.
Aku mengembalikannya.
“Itu hadiah untukmu.”
Arga menatapku.
“Aku nggak mau.”
“Itu bukan barang bersama.”
Aku berdiri.
“Aku memberikannya waktu kita masih bersama. Jadi tetap milikmu.”
Ia akhirnya menerima kantong itu.
Aku membayar kopiku sendiri lalu keluar.
Enam bulan setelah pernikahan yang tidak pernah terjadi, hidupku tidak berubah menjadi sempurna.
Aku masih mendapat jadwal malam.
Kadang Mama masih bertanya apakah aku kesepian.
Beberapa kerabat tetap penasaran kenapa pernikahan yang undangannya sudah mereka terima tiba-tiba batal.
Aku menjawab seperlunya.
Arga sesekali mengirim ucapan saat ulang tahun Mama atau hari raya. Tidak lebih.
Tentang Selma, aku hampir tidak pernah mendengar apa pun lagi.
Dan itu memang seharusnya begitu.
Cerita kami tidak berakhir karena Selma.
Ia hanya berada di kursi yang membuat masalah yang sudah ada menjadi terlihat jelas.
Masalah sebenarnya berada di tangan orang yang memegang kemudi dan merasa berhak menentukan siapa yang harus menyesuaikan diri.
Suatu malam aku kembali selesai jaga lewat tengah malam.
Maya menungguku di depan IGD karena kami kebetulan pulang searah.
Begitu aku membuka pintu mobilnya, dia menunjuk kursi depan yang kosong.
“Silakan. Kursi kehormatan.”
Aku tertawa.
“Masih ingat saja.”
“Bagaimana mau lupa?”
Aku meletakkan tas di lantai mobil lalu duduk di sampingnya.
Maya menyalakan mesin.
Sebelum mobil bergerak, ia melirikku.
“Kalau malam itu Arga langsung turun, minta maaf, terus menyuruh Selma pindah, kamu bakal tetap batal?”
Aku berpikir sebentar.
“Mungkin tidak.”
“Serius?”
“Iya.”
Aku memasang sabuk pengaman.
“Karena waktu itu aku belum tahu isi chat-nya.”
Maya mengangguk pelan.
Lampu rumah sakit menjauh di belakang kami.
Aku tidak merasa menang.
Aku juga tidak merasa kehilangan lima tahun.
Lima tahun itu tetap pernah menjadi bagian hidupku.
Aku hanya bersyukur mengetahui bagaimana Arga memperlakukan kata tidak sebelum kami berdiri di depan penghulu, bukan bertahun-tahun setelahnya.
Mobil keluar dari halaman rumah sakit.
Maya tidak perlu bertanya lagi aku ingin duduk di mana.
Kursi itu kosong, aku memilihnya sendiri, lalu menutup pintu.
Menurutmu, apakah Ratri tepat membatalkan pernikahan setelah tahu Arga sengaja mengabaikan batas yang sudah ia pahami?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
