IBUKU DATANG UNTUK MEMBANTU MERAWAT BAYIKU — ENAM BULAN KEMUDIAN, PERUTNYA SEMAKIN MEMBESAR SETIAP MINGGU

Avatar penulis
Cerita 04
22 menit baca 86 tayangan
IBUKU DATANG UNTUK MEMBANTU MERAWAT BAYIKU — ENAM BULAN KEMUDIAN, PERUTNYA SEMAKIN MEMBESAR SETIAP MINGGU
Indeks

IBUKU DATANG UNTUK MEMBANTU MERAWAT BAYIKU — ENAM BULAN KEMUDIAN, PERUTNYA SEMAKIN MEMBESAR SETIAP MINGGU

BAGIAN 1

“Siapa ayahnya, Bu?”

Kalimat itu keluar dari mulutku ketika Ibu masih berlutut di depan toilet kamar mandi.

Enam bulan setelah pindah ke rumah kami untuk membantu merawat bayi perempuanku, ibuku yang berusia lima puluh tiga tahun terlihat seperti perempuan yang sedang hamil besar.

Sampai sekarang, kalau aku bisa kembali ke malam itu, aku ingin menarik kembali kata-kata tersebut sebelum sempat terucap.

Namaku Nadira Prameswari.

IBUKU DATANG UNTUK MEMBANTU MERAWAT BAYIKU — ENAM BULAN KEMUDIAN, PERUTNYA SEMAKIN MEMBESAR SETIAP MINGGU

Ibuku, Ratna Wulandari, sudah menjadi janda selama sembilan tahun. Sejak Ayah meninggal karena serangan jantung, Ibu tinggal sendirian di sebuah rumah sederhana di Salatiga, Jawa Tengah.

Semuanya berubah ketika putriku, Alya, lahir.

Aku sendiri yang memohon agar Ibu pindah sementara ke rumah kami di Bintaro, Tangerang Selatan.

Suamiku, Arga, dan aku benar-benar kewalahan.

Alya bangun hampir setiap dua jam.

Arga bekerja sebagai supervisor proyek di perusahaan konstruksi dan sering pulang larut malam.

Sementara cuti melahirkanku berakhir tepat ketika perusahaan teknologi tempatku bekerja sedang menghadapi peluncuran sistem terbesar tahun itu.

Aku harus kembali bekerja.

Namun aku juga belum siap mempercayakan bayi yang baru berusia beberapa bulan kepada pengasuh yang tidak kami kenal.

Ketika aku menelepon Ibu, dia sama sekali tidak ragu.

“Kamu kembali kerja saja,” katanya.

“Biar Ibu yang jaga Alya.”

Dan Ibu benar-benar melakukannya.

Bahkan lebih dari yang kami minta.

Setiap pagi ketika aku bangun, Alya biasanya sudah dimandikan dan diberi susu.

Saat aku pulang kerja, pakaian bayi sudah dicuci dan dilipat.

Makan malam sudah tersedia di meja.

Rumah rapi.

Dan Alya selalu harum oleh minyak telon serta lotion bayi.

Aku mencoba membalas semua kebaikan Ibu dengan uang.

Aku membelikannya pakaian baru.

Vitamin mahal.

Sandal yang nyaman.

Bahkan pernah membelikan voucher pijat di sebuah spa dekat rumah.

Ibu tidak pernah menggunakannya.

Aku juga beberapa kali mentransfer uang ke rekeningnya.

Setiap kali tahu, dia langsung menelepon.

“Nadira, jangan kirim uang terus.”

“Bu, anggap saja untuk kebutuhan Ibu.”

“Tabung untuk Alya.”

Aku mengira Ibu hanya keras kepala.

Yang tidak kusadari saat itu adalah bahwa membelikan sesuatu untuknya jauh lebih mudah daripada meluangkan waktu beberapa menit untuk benar-benar memperhatikannya.

Perubahan mulai terlihat sekitar bulan kelima.

Ibu mulai sering mengenakan baju longgar.

Cardigan besar.

Tunik panjang.

Bahkan hoodie milik Arga pernah dipakainya meskipun udara Bintaro sedang panas.

Dia juga mulai jarang makan malam bersama kami.

Katanya bau makanan membuat perutnya mual.

Pada saat yang sama, perutnya semakin membesar.

Namun bagian tubuhnya yang lain justru semakin kurus.

Wajahnya terlihat tirus.

Pergelangan tangannya kecil.

Tulang pipinya semakin jelas.

Tetapi perutnya bulat, kencang, dan menonjol di balik pakaian.

Suatu sore, aku mencoba bercanda.

“Bu, kalau begini terus, nanti pulang ke Salatiga perut Ibu malah lebih besar daripada perutku waktu hamil Alya.”

Ibu langsung menarik cardigan-nya hingga menutupi bagian depan tubuh.

“Cuma kembung.”

“Kembung kok berminggu-minggu?”

Ibu tersenyum kecil.

“Namanya juga sudah tua. Pencernaan sudah tidak seperti dulu.”

Dia mengatakannya sambil tertawa tipis.

Tapi tatapan matanya sama sekali tidak terlihat sedang bercanda.

Beberapa minggu berikutnya, Ibu mulai sering mengeluh sakit pinggang.

Alih-alih membawanya ke dokter, aku malah memesankan koyo panas, krim pereda nyeri, dan penyangga pinggang lewat aplikasi belanja.

Barang-barang itu tiba keesokan harinya.

Aku merasa sudah melakukan sesuatu.

Kemudian aku kembali tenggelam dalam pekerjaan.

Seminggu setelah itu, aku menemukan bercak darah di salah satu handuk kamar mandi.

Aku panik.

Namun Ibu langsung mengatakan itu hanya karena wasir.

Arga meminta agar kami membawa Ibu ke IGD.

Ibu menolak.

“Tidak usah.”

“Bu, darah itu bukan hal sepele,” kata Arga.

Ibu menggeleng.

“Ibu tidak mau kalian keluar uang banyak cuma karena penyakit orang tua.”

“Kita pakai BPJS atau asuransi, Bu,” kataku.

Tetapi Ibu tetap menolak.

“Ibu tahu tubuh Ibu sendiri.”

Seharusnya aku memaksa.

Seharusnya aku tidak menerima jawaban itu.

Namun saat itu, sebagian pikiranku sudah menciptakan kesimpulan sendiri.

Aku mulai berpikir bahwa Ibu sedang menyembunyikan seorang laki-laki.

Mungkin dia sudah mengenalnya sebelum datang ke Bintaro.

Mungkin mereka bertemu diam-diam.

Ibu memang mulai pergi berjalan kaki dua kali seminggu.

Biasanya siang hari ketika Alya tidur.

Setiap kali aku menawarkan mengantarnya, dia menolak.

“Ada urusan sebentar.”

“Urusan apa?”

“Ya urusan Ibu.”

Awalnya aku tidak terlalu memikirkan.

Aku justru akan senang kalau Ibu menemukan seseorang setelah bertahun-tahun hidup sendiri.

Aku tidak keberatan jika dia berpacaran.

Yang membuatku kesal adalah rahasianya.

Dan ketika perutnya terus membesar, rasa khawatir perlahan berubah menjadi kecurigaan.

Sampai akhirnya datang hari Kamis itu.

Pertemuan dengan klien dibatalkan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, aku pulang hampir tiga jam lebih awal.

Begitu membuka pintu rumah, aku langsung mendengar suara muntah dari lantai atas.

Aku berlari ke kamar mandi.

Ibu sedang berlutut di depan toilet.

Tubuhnya bergetar hebat.

Satu tangan berpegangan pada dudukan toilet.

Tangan lainnya menekan bagian perutnya yang membesar.

Arga berdiri di belakangnya sambil memegang handuk basah.

“Kita bawa Ibu ke IGD sekarang,” katanya.

Ibu langsung menggeleng.

“Tidak.”

“Bu, sudah cukup,” kata Arga.

“Tidak usah rumah sakit.”

Lalu pandanganku jatuh pada perutnya.

Benar-benar melihatnya.

Bukan sekadar melirik seperti beberapa bulan terakhir.

Perut itu terlalu besar.

Terlalu kencang.

Sementara wajah Ibu begitu pucat.

Ketakutan muncul di dadaku.

Tetapi entah kenapa, yang keluar justru kemarahan.

“Ibu sebenarnya menyembunyikan apa dari kami?”

Ibu mengusap mulut.

“Apa?”

“Itu.”

Aku menunjuk ke arah perutnya.

“Sudah berbulan-bulan Ibu mual. Hampir tidak makan. Tapi perut Ibu malah semakin besar.”

“Nadira,” Arga memperingatkan.

Aku tidak mendengarnya.

“Atau sebenarnya siapa dia?”

Ibu mengangkat wajah.

“Siapa siapa?”

“Laki-laki itu.”

Ekspresinya langsung membeku.

Aku mendengar suaraku sendiri semakin keras.

Namun aku sudah tidak bisa berhenti.

“Kalau Ibu hamil, bilang saja.”

“Nadira!”

Arga menarik lenganku.

Aku melepaskan diri.

“Ibu perempuan dewasa. Aku tidak akan melarang apa pun. Tapi jangan tinggal di rumahku, menjaga anakku setiap hari, lalu berbohong di depan mukaku!”

Ibu menatapku.

Dia tidak menjawab.

“Itu anak siapa?”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Arga menatapku seolah tidak percaya.

Ibu perlahan mencoba berdiri.

Tangannya berpegangan pada wastafel.

Baru saat itulah aku sadar betapa kecil tubuhnya sekarang.

Dia terlihat rapuh.

Lebih rapuh daripada yang pernah kulihat.

“Ibu benar-benar berpikir aku datang ke rumahmu untuk menyembunyikan kehamilan?”

“Kalau bukan itu, jelaskan.”

Dia diam cukup lama.

Aku mengira dia akan marah.

Aku bahkan mengira dia mungkin akan menamparku.

Sebaliknya, matanya justru dipenuhi air.

Bukan air mata marah.

Melainkan air mata seseorang yang benar-benar terluka.

“Aku cuma berharap,” katanya pelan, “suatu hari nanti Alya tidak pernah bicara kepadamu seperti kamu bicara kepada ibumu malam ini.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tamparan.

Ibu berjalan keluar dari kamar mandi.

Satu tangannya menyusuri dinding untuk menjaga keseimbangan.

Pintu kamarnya menutup perlahan.

Tidak dibanting.

Entah kenapa, itu terasa jauh lebih buruk.

Ibu tidak turun saat makan malam.

Jam sembilan, aku meletakkan sepiring nasi dan sup di depan pintunya.

Jam sepuluh, makanan itu masih utuh.

Aku masih marah.

Masih bingung.

Namun di bawah semua kemarahan itu, ada satu perasaan yang tidak ingin kuakui.

Takut.

Ketika Alya lahir, Arga memasang beberapa kamera keamanan di rumah.

Satu menghadap pintu depan.

Satu di dapur.

Satu di ruang keluarga.

Dan satu lagi di dekat boks bayi.

Sistemnya menyimpan rekaman selama tiga puluh hari.

Malam itu aku membuka aplikasi kamera melalui ponsel.

Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku sedang mencari bukti.

Mobil asing.

Seorang laki-laki yang datang diam-diam.

Apa pun yang bisa menjelaskan perjalanan-perjalanan rahasia Ibu.

Muntah.

Pakaian longgar.

Dan perutnya yang terus membesar.

Namun yang kutemukan bukan itu.

Aku justru melihat kehidupan ibuku ketika dia mengira tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.

Pukul 03.14 dini hari.

Ibu berdiri di dapur membuat susu untuk Alya.

Sambil menunggu air hangat, kedua tangannya menekan perut.

Wajahnya menahan sakit.

Pukul 05.47.

Ibu menggendong Alya berjalan mondar-mandir di ruang keluarga.

Bayi itu akhirnya tertidur.

Kemudian Ibu membenamkan wajahnya ke selimut kecil Alya.

Bahu Ibu bergerak.

Dia menangis.

Diam-diam.

Di rekaman lain, sekitar pukul dua siang, aku melihat Ibu sedang mengambil sesuatu dari kulkas.

Tiba-tiba tubuhnya seperti kehilangan tenaga.

Dia duduk di lantai.

Lalu tetap di sana selama sebelas menit.

Bukan karena sedang beristirahat.

Tetapi karena dia tidak sanggup berdiri.

Tanganku mulai dingin.

Aku terus menonton.

Dua hari sebelumnya, Alya sedang duduk di kursi makan bayi.

Ibu memberinya potongan pisang kecil.

Tiba-tiba Alya tersedak.

Ibu langsung bereaksi.

Dia mengangkat Alya.

Memiringkan tubuhnya ke depan.

Memberikan beberapa tepukan kuat di antara tulang belikatnya.

Potongan pisang akhirnya keluar.

Alya langsung menangis keras.

Ibu memeluknya sambil gemetar.

Setelah memastikan cucunya baik-baik saja, dia menaruh Alya ke playpen.

Lalu dia berjalan mundur ke arah meja dapur.

Tubuhnya bersandar ke dinding.

Perlahan-lahan dia turun ke lantai.

Saat itu, bagian bawah sweatshirt-nya tersangkut di ujung meja dapur.

Bajunya terangkat.

Aku menghentikan video.

Ada sesuatu menempel di perut Ibu.

Awalnya otakku sama sekali tidak mampu memahami apa yang kulihat.

Aku memperbesar gambar.

Lalu napasku berhenti.

Itu sebuah kantong medis.

Sebuah kantong stoma.

Di sebelahnya terdapat bekas luka operasi panjang dari bawah tulang rusuk hingga hampir mencapai bagian bawah perut.

Kulit di sekitarnya tampak merah dan lebam.

Ponselku terlepas dari tangan.

Jatuh ke lantai.

Ibu tidak sedang hamil.

Perut yang selama berbulan-bulan kukira sebagai kehamilan ternyata sebagian besar tertutup pakaian longgar untuk menyembunyikan kantong stoma, pembengkakan, dan bekas operasi besar.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil ponsel lagi.

Video masih berjalan.

Di layar, Ibu perlahan merapikan kantong medis itu.

Dia menarik bajunya kembali.

Lalu berkata sesuatu.

Aku menaikkan volume.

Suara Ibu terdengar pelan.

Seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

“Sedikit lagi, Ratna.”

Dia menarik napas menahan sakit.

“Proyek Nadira selesai Jumat.”

“Jangan sampai dia harus memilih antara ibunya dan masa depannya.”

Dadaku seperti ditindih batu.

Aku berlari ke kamar Ibu.

“Ibu!”

Tidak ada jawaban.

Aku membuka pintu.

Tempat tidurnya kosong.

Lemari bagian bawah terbuka.

Kopernya tidak ada.

Di atas bantal hanya terdapat sebuah amplop putih dengan namaku ditulis menggunakan tulisan tangan Ibu.

Untuk Nadira.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen rumah sakit.

Tanggalnya membuatku terpaku.

Tiga minggu sebelum Ibu pindah ke rumah kami.

Aku membaca istilah-istilah medis yang tidak benar-benar kupahami.

Penyumbatan usus.

Operasi darurat.

Pembuatan stoma.

Penyebaran penyakit.

Lalu aku sampai pada lembar terakhir.

Di sana diagnosisnya tercetak jelas.

Huruf-huruf itu terasa seperti menampar wajahku.

KANKER OVARIUM STADIUM IV.

Aku tidak bisa bernapas.

Aku membacanya lagi.

Dan lagi.

Seolah kalau kubaca cukup lama, kata-katanya akan berubah.

Tetapi tidak.

Di bawah bagian informasi pasien terdapat nama kontak darurat.

Aku mengira namaku akan tertulis di sana.

Ternyata bukan.

Nama yang tertera adalah:

Arga Pratama.

Suamiku.

Aku masih menatap kertas itu ketika ponselku berdering.

Nama Arga muncul di layar.

Aku langsung mengangkatnya.

Di belakang suaranya terdengar pengumuman rumah sakit.

“Nadira…”

Suaranya pecah.

“Ibumu pingsan di depan rumah. Aku sudah membawanya ke IGD.”

Aku berdiri membeku.

“Arga…”

Air mataku mulai jatuh.

“Sejak kapan kamu tahu?”

Di ujung telepon, suamiku terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga.

Lalu dia mengatakan empat kata yang menghancurkan seluruh dunia yang kukenal.

“Sejak sebelum Alya lahir.”

BAGIAN 2 — RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN IBUKU

“Sejak sebelum Alya lahir.”

Empat kata itu membuat kakiku kehilangan tenaga.

Aku duduk begitu saja di lantai kamar Ibu, masih menggenggam lembar diagnosis yang sudah basah oleh air mataku.

“Apa maksudmu?”

Suara Arga terdengar berat dari telepon.

“Nadira, datang saja ke rumah sakit. Kita bicara di sini.”

“Tidak.”

Aku menatap nama suamiku yang tercetak sebagai kontak darurat Ibu.

“Jawab aku sekarang.”

Arga diam.

“Kenapa namamu ada di sini?”

“Nadira…”

“KENAPA KAMU TAHU?”

Untuk pertama kalinya selama sembilan tahun kami bersama, aku berteriak kepada suamiku sampai tenggorokanku sakit.

Di ujung sana terdengar napas panjang.

Lalu Arga berkata pelan.

“Karena Ibumu yang memintaku merahasiakannya.”

Dunia terasa berhenti.

Aku tidak menjawab.

Arga melanjutkan.

“Tiga minggu sebelum Alya lahir, Ibumu meneleponku.”

Saat itu, katanya, Ratna masih berada di Salatiga.

Dia mengalami sakit perut hebat selama berbulan-bulan tetapi terus menganggapnya sebagai masalah pencernaan biasa.

Sampai suatu malam dia pingsan di kamar mandi.

Tetangganya membawanya ke rumah sakit.

Dokter menemukan penyumbatan pada usus.

Operasi harus dilakukan segera.

Saat operasi itulah dokter menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk.

Kanker ovarium yang sudah menyebar.

Sebagian ususnya harus ditangani dan dibuatkan stoma.

Dokter mengatakan penyakitnya sudah stadium lanjut.

“Kenapa dia menelepon kamu?”

Pertanyaanku hampir tidak terdengar.

“Karena kamu sedang hamil delapan bulan.”

Aku menutup mata.

Arga mengatakan bahwa Ibu sebenarnya ingin memberitahuku.

Dia sudah memegang ponselnya.

Sudah mengetik namaku.

Tetapi sebelum menekan tombol panggil, dia melihat foto yang kukirim hari itu.

Foto diriku sedang tersenyum sambil memegang perut besar.

Di bawahnya aku menulis:

Bu, Alya nendang terus hari ini. Kayaknya dia sudah tidak sabar ketemu Nenek.

Ibu menghapus nomorku.

Lalu menelepon Arga.

“Apa yang dia bilang?”

Suara Arga bergetar.

“Dia bilang, ‘Jangan biarkan anakku menghabiskan minggu-minggu terakhir kehamilannya dengan memikirkan kematian ibunya.’”

Aku menutup mulut.

Tangisku pecah.

Semua kemarahan yang tadi memenuhi dadaku runtuh dalam hitungan detik.

“Kenapa setelah Alya lahir kalian tetap tidak memberitahuku?”

“Aku mau.”

Arga menjawab cepat.

“Aku bersumpah, Nadira. Berkali-kali aku mau.”

“Tapi?”

“Ibumu selalu melarang.”

Setelah operasi, dokter sebenarnya menyarankan Ibu menjalani perawatan lanjutan sesegera mungkin.

Tetapi kondisi tubuhnya lemah.

Dia membutuhkan waktu untuk pulih.

Saat itulah Alya lahir.

Aku mengalami persalinan yang sulit.

Kemudian kurang tidur.

Lalu tekanan pekerjaan.

Dan setiap kali Arga mengatakan sudah waktunya memberitahuku, Ibu selalu punya alasan baru.

Tunggu Nadira pulih dari persalinan.

Tunggu Alya tidur lebih teratur.

Tunggu Nadira kembali bekerja.

Tunggu proyeknya selesai.

Tunggu hari Jumat.

Selalu ada satu hari lagi yang ingin dia berikan kepadaku sebelum hidupku berubah.

Aku menatap amplop di atas tempat tidur.

“Dan selama enam bulan ini?”

“Dia tetap kontrol.”

Aku terdiam.

Tiba-tiba aku teringat semua “jalan kaki” yang dilakukan Ibu dua kali seminggu.

Bukan menemui seorang laki-laki.

Bukan menyembunyikan hubungan.

Dia pergi ke rumah sakit.

Sendirian.

Aku merasa mual.

“Kenapa kamu membiarkan dia pergi sendiri?”

“Tidak selalu.”

Nada suara Arga berubah.

“Aku mengantarnya kalau bisa. Kalau aku tidak bisa, dia naik taksi online. Dia melarangku mengambil cuti terlalu sering karena takut kamu curiga.”

Aku menggigit bibir sampai terasa sakit.

“Kenapa perutnya membesar?”

“Kankernya menyebabkan penumpukan cairan.”

Aku menatap lantai.

Ascites.

Istilah itu ternyata tertulis di salah satu dokumen yang tadi tidak kupahami.

Perut yang kutuduh menyimpan bayi sebenarnya dipenuhi cairan akibat penyakit yang perlahan membunuh ibuku.

Dan beberapa jam sebelumnya, aku menatap wajah perempuan itu dan bertanya siapa ayah dari anak yang tidak pernah ada.

Aku tidak ingat bagaimana aku sampai ke rumah sakit.

Aku hanya ingat berlari melewati pintu IGD.

Arga berdiri di lorong sambil menggendong Alya.

Wajahnya pucat.

Begitu melihatku, dia menyerahkan Alya kepada seorang perawat lalu memelukku.

Aku memukul dadanya.

Sekali.

Dua kali.

“Kenapa?”

Tangisku tidak terkendali.

“Kenapa kamu membiarkan aku sebodoh ini?”

Arga tidak melawan.

Dia hanya memelukku lebih erat.

“Maaf.”

“Aku menuduh ibuku hamil.”

“Aku tahu.”

“Aku mempermalukannya.”

“Nadira…”

“Aku bahkan tidak tahu dia sakit!”

Aku merosot di dadanya.

“Aku anak macam apa?”

Arga memegang wajahku.

“Anak yang ibunya sangat cintai sampai dia melakukan semua ini.”

Kalimat itu justru membuatku menangis semakin keras.

Seorang dokter akhirnya menemui kami.

Namanya dr. Maya Santoso.

Dia menjelaskan bahwa Ibu mengalami dehidrasi berat, anemia, dan infeksi di sekitar area stoma.

Namun bukan itu bagian terburuknya.

Kankernya telah berkembang.

Lebih cepat daripada yang mereka harapkan.

“Berapa lama?”

Aku bertanya.

Dokter Maya tidak langsung menjawab.

Dan dari caranya menatapku, aku tahu jawabannya sebelum dia mengucapkannya.

“Kita tidak bisa menentukan secara pasti.”

“Berapa lama?”

“Kalau kondisinya tidak merespons perawatan…”

Dia berhenti sebentar.

“Mungkin beberapa bulan.”

Dunia kembali sunyi.

“Boleh saya melihat Ibu?”

Beberapa menit kemudian aku masuk ke ruang perawatan.

Ibu terlihat sangat kecil di atas tempat tidur.

Ada selang infus di tangannya.

Wajahnya pucat.

Matanya tertutup.

Aku duduk di sampingnya.

Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, aku tidak membuka laptop.

Tidak memeriksa email.

Tidak melihat notifikasi kantor.

Aku hanya memegang tangannya.

Sekitar satu jam kemudian, matanya terbuka.

“Nadira?”

Aku langsung menangis.

“Iya, Bu.”

Dia memandangku lama.

Kemudian mengalihkan pandangan.

“Aku mau pulang.”

“Tidak.”

“Aku baik-baik saja.”

“Bu.”

Aku menggenggam tangannya lebih kuat.

“Aku tahu semuanya.”

Wajah Ibu berubah.

Matanya bergerak ke arah Arga yang berdiri di dekat pintu.

“Arga.”

Suaminya—menantunya—langsung terlihat seperti anak sekolah yang tertangkap melakukan kesalahan.

“Maaf, Bu.”

Ibu menghela napas.

Lalu menatapku lagi.

“Aku tidak mau kamu tahu seperti ini.”

“Lalu Ibu mau aku tahu kapan?”

Dia diam.

“Ketika aku menguburkan Ibu?”

“Nadira…”

“Ketika semuanya sudah terlambat?”

Air mataku jatuh.

“Aku anak Ibu.”

“Iya.”

“Jadi kenapa Ibu tidak membiarkan aku menjadi anak Ibu?”

Pertanyaan itu membuatnya terdiam.

Untuk pertama kalinya, pertahanan yang selama ini dibangunnya runtuh.

Air mata mengalir dari sudut matanya.

“Karena sepanjang hidupmu aku selalu menjadi orang yang menjaga kamu.”

Tangannya yang lemah menyentuh pipiku.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang yang harus kamu jaga.”

Aku menundukkan kepala ke tangannya.

“Belajar, Bu.”

Dia tertawa kecil di tengah tangis.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Aku mencium telapak tangannya.

“Mulai sekarang.”


Aku mengambil cuti panjang dari pekerjaan.

Tidak ada negosiasi.

Tidak ada rapat.

Tidak ada proyek yang lebih penting.

Ketika atasanku mengatakan peluncuran sistem membutuhkan kehadiranku, aku hanya menjawab:

“Kalau perusahaan ini runtuh karena satu orang mengambil cuti untuk merawat ibunya, berarti masalah perusahaan ini jauh lebih besar daripada ketidakhadiran saya.”

Arga tertawa ketika mendengarnya.

Ibu justru memarahiku.

“Kamu sudah bekerja bertahun-tahun untuk posisi itu.”

“Aku bisa mencari pekerjaan lain.”

“Karier tidak semudah itu.”

Aku menatapnya.

“Ibu juga tidak bisa diganti.”

Dia tidak pernah membahas pekerjaan lagi.

Hari-hari berikutnya menjadi kehidupan yang sama sekali berbeda.

Aku belajar membersihkan dan mengganti kantong stoma.

Belajar mengenali tanda infeksi.

Belajar makanan apa yang bisa Ibu makan.

Belajar bahwa rasa sakit kadang membuat seseorang diam, bukan mengeluh.

Dan yang paling menyakitkan, aku belajar berapa banyak hal tentang ibuku yang selama ini tidak pernah kutanyakan.

Aku tahu dia suka mendengarkan lagu-lagu lama saat mencuci piring.

Aku tahu dia sebenarnya tidak suka kopi manis yang selalu kubuatkan.

Aku tahu setelah Ayah meninggal, dia sering tidur dengan televisi menyala karena takut rumah terlalu sunyi.

Aku tahu dia menyimpan setiap foto Alya yang kukirim.

Bahkan foto buram.

Bahkan foto tangan.

Bahkan foto popok pertama yang menurutku lucu.

Tetapi ada satu hal yang masih tidak kumengerti.

Suatu sore, aku sedang membereskan tas lama Ibu ketika menemukan buku tabungan.

Aku tidak bermaksud membukanya.

Namun selembar bukti transfer jatuh.

Nominalnya membuatku membeku.

Rp185.000.000.

Transfer dilakukan hampir tujuh bulan sebelumnya.

Penerima:

Klinik Fertilitas Harapan Bunda, Jakarta.

Namaku tercetak di bagian keterangan.

Aku membawa kertas itu kepada Arga.

“Apa ini?”

Wajahnya langsung berubah.

Dan saat itulah aku tahu masih ada satu rahasia lagi.

Rahasia terbesar.

Arga duduk.

“Nadira…”

“Jangan bohong lagi.”

Dia menatap Ibu yang sedang tidur di kamar.

Kemudian menatapku.

“Dua tahun lalu, ketika kita mencoba program bayi tabung…”

Aku ingat.

Tentu saja aku ingat.

Setelah tiga tahun mencoba memiliki anak, dokter mengatakan peluang kami untuk hamil secara alami sangat kecil.

Kami mencoba IVF.

Biayanya luar biasa besar.

Saat itu, tiba-tiba klinik memberi tahu bahwa sebagian besar biaya program kami telah ditanggung oleh “program bantuan pasien”.

Aku percaya.

Ternyata program itu tidak pernah ada.

“Ibumu yang membayar.”

Aku menatap angka itu lagi.

“Dari mana Ibu punya uang sebanyak ini?”

Arga menelan ludah.

“Dia menjual rumah.”

Aku merasa seperti baru ditampar.

“Rumah di Salatiga?”

Arga mengangguk.

Rumah yang kubayangkan masih menunggu kepulangannya.

Rumah tempat aku dibesarkan.

Rumah terakhir yang dibeli Ayah sebelum meninggal.

Sudah tidak ada.

Ibu menjualnya agar aku bisa mencoba menjadi seorang ibu.

“Kenapa dia tidak bilang?”

“Dia takut kamu menolak.”

Aku memejamkan mata.

“Lalu selama ini dia bilang masih tinggal di sana…”

“Dia menyewa kamar kecil di rumah Bu Sari, tetangganya.”

Aku tidak mampu berbicara.

Perempuan yang kubelikan vitamin.

Yang kuberi voucher spa.

Yang dengan bangga kutransfer beberapa juta rupiah setiap bulan seolah aku sedang menjadi anak yang baik…

telah menjual hampir seluruh harta yang dimilikinya agar aku bisa memiliki Alya.

Malam itu aku masuk ke kamar Ibu.

Dia sedang terjaga.

Aku meletakkan bukti transfer di sampingnya.

Dia melihatnya.

Lalu menghela napas.

“Arga memang tidak bisa menyimpan rahasia.”

“Jangan salahkan Arga.”

Aku duduk.

“Kenapa, Bu?”

“Kenapa apa?”

“Rumah itu.”

Dia tersenyum.

“Nadira, rumah cuma tembok.”

“Itu rumah Ayah.”

“Ayahmu sudah tidak tinggal di sana.”

“Tapi itu satu-satunya yang Ibu punya.”

Ibu menggeleng.

“Bukan.”

Dia menunjuk ke ruang keluarga.

Di sana terdengar suara Alya tertawa bersama Arga.

“Itu yang Ibu punya.”

Aku menangis.

“Ibu menjual rumah untuk seorang bayi yang waktu itu bahkan belum tentu lahir.”

Ibu menatapku.

“Dan kalau harus mengulangnya, Ibu akan menjualnya lagi.”


Tiga bulan berlalu.

Perawatan memperlambat penyakitnya.

Tetapi tidak menghentikannya.

Ibu semakin lemah.

Namun anehnya, rumah kami justru terasa semakin hidup.

Setiap pagi aku membawa Alya ke kamar Ibu.

Alya belajar merangkak di lantai dekat tempat tidurnya.

Kata pertamanya bukan “Mama”.

Bukan “Papa”.

Melainkan:

“Nana.”

Entah bagaimana dia mencoba mengatakan “Nenek”.

Ibu menangis selama hampir satu jam.

Aku merekamnya.

Bukan untuk media sosial.

Bukan untuk siapa-siapa.

Hanya untuk kami.

Pada ulang tahun pertama Alya, dokter mengizinkan Ibu pulang selama sehari.

Kami tidak mengadakan pesta besar.

Hanya kue kecil.

Beberapa balon.

Arga.

Aku.

Alya.

Dan Ibu.

Ketika lilin dinyalakan, aku bertanya kepada Ibu.

“Buat permohonan.”

Dia tersenyum.

“Bukan ulang tahun Ibu.”

“Tidak apa-apa.”

Ibu menatap Alya.

Lalu menutup mata.

Aku tidak pernah tahu apa yang dia minta.

Sampai tiga minggu kemudian.

Ibu meninggal saat fajar.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada kata-kata terakhir yang sempurna.

Aku tertidur di kursi sambil memegang tangannya.

Ketika terbangun, tangannya masih berada di dalam genggamanku.

Hanya saja tidak lagi menggenggam balik.

Aku tidak berteriak.

Aku meletakkan kepala di dadanya.

Dan untuk beberapa menit, aku menjadi anak kecil lagi.

Anak yang jatuh dari sepeda.

Anak yang demam.

Anak yang selalu percaya bahwa selama Ibu ada, semuanya akan baik-baik saja.

Namun kali ini Ibu tidak bisa mengatakan,

“Tidak apa-apa.”

Karena itu, aku mengatakannya untuknya.

“Tidak apa-apa, Bu.”

Aku mencium keningnya.

“Sekarang Ibu boleh istirahat.”


Empat puluh hari setelah pemakaman, sebuah paket tiba dari Salatiga.

Pengirimnya Bu Sari.

Di dalamnya terdapat kotak kayu kecil.

Ada surat.

Untuk Nadira. Berikan setelah aku pergi.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Di dalam kotak itu ada puluhan amplop.

Masing-masing diberi tulisan.

Untuk ulang tahun Alya yang ke-2.

Untuk hari pertama Alya masuk sekolah.

Untuk saat Alya patah hati pertama kali.

Untuk saat Alya lulus kuliah.

Untuk hari pernikahan Alya.

Ibu telah menulis surat untuk cucunya selama berbulan-bulan.

Dia tahu tidak akan berada di sana.

Jadi dia menemukan cara lain untuk tetap hadir.

Namun di bagian paling bawah terdapat satu amplop berbeda.

Untuk Nadira — buka paling akhir.

Aku membukanya.

Tulisan tangan Ibu memenuhi dua halaman.

Dia menulis tentang hari aku lahir.

Tentang Ayah.

Tentang rasa takutnya ketika mengetahui dirinya sakit.

Tentang Alya.

Dan di paragraf terakhir, aku menemukan jawaban dari permohonan yang dibuatnya pada ulang tahun pertama Alya.

Nadira,

waktu kamu menyuruh Ibu membuat permohonan di depan lilin ulang tahun Alya, Ibu tidak meminta untuk sembuh.

Aku berhenti membaca karena air mata menutupi pandanganku.

Aku mengusapnya.

Lalu melanjutkan.

Ibu tahu beberapa permohonan terlalu terlambat untuk tubuh kita.

Jadi Ibu meminta sesuatu yang lain.

Ibu meminta agar suatu hari nanti, ketika Alya sudah besar dan kamu sedang sibuk, lelah, atau marah, kamu tidak melakukan kesalahan yang sama seperti Ibu.

Jangan sembunyikan rasa sakitmu dari anakmu hanya karena kamu ingin terlihat kuat.

Dan jangan hanya membeli sesuatu untuk orang yang kamu cintai.

Duduklah bersama mereka.

Tatap wajah mereka.

Tanyakan apakah mereka baik-baik saja.

Lalu dengarkan jawabannya.

Di bawahnya hanya ada satu kalimat lagi.

Karena sering kali, orang yang paling pandai merawat semua orang adalah orang yang tidak pernah ditanya siapa yang sedang merawat dirinya.

Aku memeluk surat itu ke dada.

Lalu terdengar langkah kecil.

Alya muncul di pintu.

Dia sudah bisa berjalan beberapa langkah.

Di tangannya ada foto lama Ibu.

Dia menunjuk wajah neneknya.

“Nana?”

Aku hampir hancur.

Namun kemudian aku tersenyum.

Aku mengangkatnya ke pangkuanku.

“Iya.”

Alya menyentuh foto itu.

“Nana mana?”

Aku menatap wajah ibuku.

Dulu aku mengira kehilangan seseorang berarti mereka berhenti menjadi bagian dari kehidupan kita.

Ternyata aku salah.

Aku mengambil salah satu amplop yang ditulis Ibu untuk ulang tahun kedua Alya.

Belum waktunya membukanya.

Jadi aku menyimpannya kembali.

Kemudian aku memeluk putriku.

“Nana sudah tidak tinggal di rumah kita.”

Alya menatapku dengan mata polos.

Aku menyentuh dadanya.

“Tapi Nana tinggal di sini.”

Dia tidak memahami kata-kataku.

Belum.

Suatu hari nanti dia akan mengerti.


Dua tahun kemudian, aku kembali ke Salatiga bersama Arga dan Alya.

Bukan untuk membeli kembali rumah lama.

Rumah itu sudah menjadi milik keluarga lain.

Aku akhirnya mengerti apa yang dikatakan Ibu.

Rumah memang hanya tembok.

Sebagai gantinya, kami menyewa sebuah bangunan kecil tidak jauh dari rumah sakit tempat Ibu pernah menjalani operasi.

Di depannya kami memasang papan sederhana:

RUMAH RATNA

Di bawahnya tertulis:

Tempat Singgah Gratis untuk Pendamping Pasien Kanker dari Luar Kota.

Aku menggunakan sebagian tabunganku untuk membangunnya.

Arga membantu mengurus renovasi.

Beberapa teman ikut menyumbang.

Tidak besar.

Hanya enam kamar.

Satu dapur.

Ruang bermain kecil untuk anak-anak.

Dan taman sederhana di belakang.

Di dinding ruang tamu ada satu foto.

Foto Ibu sedang menggendong Alya.

Di bawahnya tidak ada cerita tentang kanker.

Tidak ada cerita tentang pengorbanannya.

Hanya satu kalimat:

“Jangan menunggu seseorang meminta pertolongan sebelum kita benar-benar melihatnya.”

Pada hari pembukaan, seorang perempuan sekitar lima puluh tahun datang bersama putrinya.

Dia baru memulai kemoterapi.

Putrinya terlihat lelah dan ketakutan.

Aku menunjukkan kamar mereka.

Sebelum masuk, perempuan itu berhenti di depan foto Ibu.

“Ini siapa?”

Aku tersenyum.

“Ibu saya.”

“Beliau yang mendirikan tempat ini?”

Aku memandang foto itu cukup lama.

Lalu mengangguk.

“Kurang lebih begitu.”

Malamnya, ketika kami hendak pulang, Alya yang kini berusia tiga tahun berlari kembali ke ruang tamu.

Dia berdiri di depan foto Ibu.

Lalu melambaikan tangan.

“Dadah, Nana.”

Aku menahan napas.

Alya berlari kembali dan menggenggam tanganku.

Kami berjalan menuju mobil.

Di luar, hujan tipis mulai turun.

Arga memasangkan Alya ke kursi belakang.

Aku berdiri sebentar di bawah teras.

Dulu aku berpikir kisah ibuku adalah kisah tentang penyakit.

Kemudian kupikir itu kisah tentang pengorbanan.

Aku salah tentang keduanya.

Kisah ibuku sebenarnya tentang waktu.

Tentang betapa mudahnya kita percaya bahwa masih ada hari esok untuk menelepon seseorang.

Masih ada minggu depan untuk mengunjunginya.

Masih ada nanti malam untuk bertanya apakah dia baik-baik saja.

Sampai suatu hari, tidak ada lagi nanti.

Aku mengeluarkan ponsel.

Bukan untuk membuka email.

Bukan untuk pekerjaan.

Aku menelepon Bu Sari.

Ketika dia menjawab, aku berkata,

“Bu, sehat?”

Dia tertawa.

“Sehat. Kok tiba-tiba menelepon?”

Aku tersenyum sambil menatap foto Ibu melalui jendela Rumah Ratna.

“Tidak apa-apa.”

Aku teringat kata-kata terakhir dari surat Ibu.

Duduklah bersama mereka. Tatap wajah mereka. Tanyakan apakah mereka baik-baik saja. Lalu dengarkan jawabannya.

Jadi kali ini aku tidak buru-buru menutup telepon.

Aku mendengarkan.

Dan sejak hari itu, setiap kali seseorang yang kusayangi berkata,

“Aku baik-baik saja,”

aku tidak lagi langsung mempercayainya.

Aku berhenti.

Aku menatap mereka.

Dan aku bertanya sekali lagi.

“Benar-benar baik-baik saja?”

Karena itulah warisan terbesar yang ditinggalkan ibuku.

Bukan rumah.

Bukan uang.

Bukan bahkan kehidupan yang dia bantu berikan kepada Alya.

Melainkan sebuah pelajaran yang baru kupahami setelah kehilangan dirinya:

Kadang-kadang orang yang paling kita cintai tidak membutuhkan kita untuk menyelamatkan mereka.

Mereka hanya membutuhkan kita untuk melihat mereka… sebelum terlambat.