SUAMIKU MEMBERIKU SYAL SUTRA YANG HARUS KUPAKAI SETIAP HARI — SETELAH SEORANG PENJAHIT MEMBUKA JAHITANNYA, DIA BERBISIK, “JANGAN PERNAH PAKAI INI LAGI”

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 324 tayangan
SUAMIKU MEMBERIKU SYAL SUTRA YANG HARUS KUPAKAI SETIAP HARI — SETELAH SEORANG PENJAHIT MEMBUKA JAHITANNYA, DIA BERBISIK, “JANGAN PERNAH PAKAI INI LAGI”
Indeks

SUAMIKU MEMBERIKU SYAL SUTRA YANG HARUS KUPAKAI SETIAP HARI — SETELAH SEORANG PENJAHIT MEMBUKA JAHITANNYA, DIA BERBISIK, “JANGAN PERNAH PAKAI INI LAGI”

Suamiku memberiku sebuah syal sutra yang hampir setiap hari kupakai.

Katanya, syal itu adalah “pengingat betapa besar cintaku padamu.”

Namun suatu hari, aku tidak sengaja meninggalkannya di dalam bus.

Aku kembali mencarinya dan bertemu seorang penjahit tua yang menemukannya.

SUAMIKU MEMBERIKU SYAL SUTRA YANG HARUS KUPAKAI SETIAP HARI — SETELAH SEORANG PENJAHIT MEMBUKA JAHITANNYA, DIA BERBISIK, “JANGAN PERNAH PAKAI INI LAGI”

Begitu dia memeriksa jahitan di bagian tepi syal, wajahnya langsung berubah.

Dia membuka sedikit jahitannya, lalu menatapku dan berbisik,

“Bu, jangan pernah pakai syal ini lagi.”

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang jauh lebih aneh.

“Malam ini, selipkan syal ini di bawah bantal suami Anda. Jangan bilang apa pun kepadanya.”

Aku mengikuti sarannya.

Keesokan paginya, suamiku terbangun sambil berteriak.

Dan ketika aku melihat sesuatu yang muncul di bawah syal itu, akhirnya aku mengerti mengapa selama berbulan-bulan dia selalu memaksaku memakainya.

Semua bermula pada ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh.

Namaku Nadira Prameswari.

Aku tinggal bersama suamiku, Raka Adinata, di sebuah rumah dua lantai di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Malam itu, Raka pulang membawa sebuah kotak panjang berwarna hitam.

“Untuk kamu,” katanya.

Ketika kubuka, di dalamnya terdapat syal sutra berwarna biru muda.

Bahannya sangat lembut.

Aku bahkan sempat bercanda bahwa syal sebagus itu terlalu mewah untuk dipakai pergi ke kantor setiap hari.

Namun Raka mengambilnya dari tanganku.

Dia berdiri di belakangku, melingkarkannya perlahan di leherku, lalu mencium simpul kecil di bagian depan.

“Anggap saja ini pengingat,” bisiknya.

“Pengingat apa?”

Raka tersenyum.

“Betapa besar cintaku padamu.”

Saat itu aku tersentuh.

Aku tidak tahu bahwa tiga bulan kemudian, seorang pria asing akan memegang syal yang sama di bawah lampu putih tokonya dan berkata,

“Kalau Ibu masih sayang pada diri sendiri, jangan pernah biarkan benda ini menyentuh kulit Ibu lagi.”

Pada awalnya, aku memang memakai syal itu karena menyukainya.

Tetapi lama-kelamaan, aku mulai merasa seolah-olah Raka mengharuskanku memakainya.

Saat sarapan, dia akan mengambil syal itu dari kursi dan menyerahkannya kepadaku.

“Jangan lupa.”

Ketika kami pergi makan bersama teman-temannya, dia sendiri yang memastikan syal itu melingkar di leherku.

Bahkan suatu pagi ketika aku sudah berada di garasi tanpa mengenakannya, Raka menyusul sambil membawa syal tersebut.

“Lupa sesuatu?”

Aku tertawa kecil.

“Cuma syal, Raka.”

Senyumnya berubah sedikit kaku.

“Sudah lupa sama suami sendiri?”

Aku mengira dia hanya sedang posesif.

Sedikit menyebalkan, memang.

Namun setelah tujuh tahun menikah, aku mengenal Raka sebagai laki-laki yang terkadang mudah cemburu dan membutuhkan perhatian.

Jadi aku tidak terlalu memikirkannya.

Sampai tubuhku mulai terasa berbeda.

Awalnya hanya sakit kepala.

Aku bekerja sebagai pendiri sekaligus direktur sebuah perusahaan analitik bisnis di Jakarta Selatan, jadi sakit kepala bukan sesuatu yang aneh.

Hari-hariku dipenuhi laporan keuangan, rapat dengan investor, kontrak, dan presentasi.

Aku menyalahkan stres.

Kemudian rasa pusing mulai muncul.

Tanganku sesekali gemetar ketika memegang gelas.

Aku mulai sulit berkonsentrasi.

Suatu siang, saat mempresentasikan laporan kuartal di kantor kami di kawasan Kuningan, aku tiba-tiba lupa angka yang sebenarnya sudah kuhafal selama berhari-hari.

Aku berdiri di depan layar.

Semua orang menungguku.

Namun pikiranku kosong.

Raka, yang beberapa tahun terakhir ikut bekerja di perusahaanku sebagai direktur pengembangan bisnis, langsung mengambil alih.

“Tidak apa-apa,” katanya sambil tersenyum kepada para eksekutif.

“Nadira sedang kelelahan.”

Setelah rapat, dia memeluk bahuku.

Tetapi bukannya merasa ditenangkan, entah mengapa aku justru merasa dipermalukan.

Situasinya semakin buruk.

Saat makan malam bersama beberapa mitra bisnis, aku kehilangan alur pembicaraan di tengah kalimat.

Raka tertawa.

“Nadira itu jenius sebelum makan siang,” katanya.

“Kalau sudah malam, urusan rumit serahkan saja sama saya.”

Semua orang tertawa.

Aku ikut tersenyum.

Namun di bawah meja, tanganku gemetar.

Yang tidak diketahui sebagian besar orang adalah perusahaan itu bukan milik Raka.

Akulah yang membangunnya.

Aku mendirikannya sebelas tahun sebelumnya bersama ayahku, jauh sebelum menikah dengan Raka.

Setelah ayah meninggal, sebagian besar saham keluarga ditempatkan dalam struktur kepemilikan yang dikelola melalui perjanjian hukum.

Aku masih mengendalikan 52 persen hak suara perusahaan.

Raka tahu aku memiliki uang.

Dia tahu keluargaku meninggalkan aset.

Tetapi dia tidak pernah tahu seberapa ketat ayahku melindungi kepemilikanku.

Dan selama bertahun-tahun, aku tidak pernah merasa perlu menjelaskannya.

Sampai suatu Selasa sore ketika hujan deras mengguyur Jakarta.

Mobilku sedang berada di bengkel, jadi setelah rapat dengan klien aku menggunakan bus menuju kawasan tempat sopir kantor akan menjemputku.

Aku duduk dekat jendela.

Karena merasa gerah, kulepas syal biru itu dan meletakkannya di samping tas.

Ketika turun, aku lupa mengambilnya.

Aku baru menyadarinya hampir satu jam kemudian.

Anehnya, ketika kuberi tahu Raka, reaksinya jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

“Kamu kehilangan syalnya?”

Wajahnya mendadak pucat.

“Sepertinya tertinggal di bus.”

“Cari.”

Aku menatapnya.

“Besok saja. Kalau tidak ketemu, kita beli yang baru.”

“Tidak.”

Nada suaranya membuatku terdiam.

Raka mendekat.

“Balik sekarang, Nadira.”

Aku mengerutkan kening.

“Raka, itu cuma syal.”

“Cari syal itu.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di matanya yang membuat perutku terasa dingin.

Bukan kesal karena hadiah darinya hilang.

Bukan kecewa.

Ketakutan.

Seolah-olah benda yang hilang itu menyimpan sesuatu yang tidak boleh ditemukan orang lain.

Malam itu juga aku kembali ke terminal.

Aku berbicara dengan petugas dan pengemudi bus.

Tidak ada yang menemukan syalku.

Aku hampir menyerah ketika seorang pria tua keluar dari sebuah kios kecil di dekat deretan pertokoan.

“Bu!”

Aku menoleh.

Pria itu mungkin berusia sekitar enam puluh lima tahun. Namanya Pak Hendra, pemilik kios jahit dan reparasi pakaian yang sudah berdiri puluhan tahun di dekat terminal.

Di tangannya ada sesuatu berwarna biru muda.

Syalku.

“Ini punya Ibu?”

Aku langsung lega.

“Iya! Terima kasih banyak, Pak.”

Aku hendak mengambilnya.

Namun Pak Hendra tidak langsung menyerahkannya.

Dia menatap bagian tepi syal.

Kemudian jarinya meraba jahitan di salah satu sisinya.

“Ini syal mahal?”

“Hadiah dari suami.”

Pak Hendra tidak menjawab.

Dia membawa syal itu ke meja kerja dan menyalakan lampu putih kecil.

Aku melihat ekspresinya berubah.

“Ada apa?”

“Jahitannya pernah dibuka.”

Aku mendekat.

“Dibuka?”

“Lalu dijahit kembali dengan tangan.”

Dia mengambil alat kecil.

“Boleh saya lihat bagian dalamnya?”

Aku ragu.

Tetapi sesuatu tentang reaksi Raka tadi membuatku mengangguk.

Pak Hendra membuka beberapa sentimeter jahitan.

Kemudian dia berhenti.

Dari dalam lapisan syal, dia menarik sebuah benda tipis.

Seperti strip transparan.

Hampir tidak terlihat.

Benda itu memanjang mengikuti bagian syal yang biasanya menempel tepat di belakang leherku.

Pak Hendra langsung meletakkannya di atas plastik.

“Jangan disentuh.”

Jantungku mulai berdetak keras.

“Itu apa?”

“Saya tidak tahu pasti.”

Dia menatapku serius.

“Tapi ini bukan bagian normal dari syal.”

Pak Hendra bercerita bahwa kakaknya dahulu bekerja di perusahaan yang memproduksi tekstil untuk kebutuhan medis. Karena itu dia pernah melihat berbagai lapisan khusus yang dimasukkan ke dalam kain.

Namun benda di syalku berbeda.

“Benda ini sengaja dimasukkan setelah syal dibuat,” katanya.

Aku merasa ruangan itu mendadak terlalu sempit.

“Untuk apa?”

“Saya tidak mau menebak.”

Kemudian dia memasukkan strip tersebut kembali tanpa menyentuhnya langsung dan menutup syal sementara.

“Suami Ibu yang memberikan ini?”

Aku mengangguk.

Pak Hendra diam cukup lama.

Lalu dia berkata pelan,

“Jangan pakai lagi.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa?”

“Karena apa pun benda itu, sepertinya memang dibuat supaya terus menempel dekat kulit.”

Kakiku terasa lemas.

Aku teringat sakit kepala.

Rasa pusing.

Tanganku yang gemetar.

Pikiranku yang semakin sulit fokus.

Dan desakan Raka setiap kali aku lupa mengenakan syal itu.

Pak Hendra kemudian mengatakan sesuatu yang terdengar gila.

“Kalau Ibu ingin tahu apakah suami Ibu memahami apa yang ada di dalamnya, jangan tanya dia.”

“Lalu?”

“Malam ini, letakkan syal itu di bawah bantalnya.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Kalau dia tahu apa yang ada di dalam benda ini, reaksinya akan menjawab lebih banyak daripada pertanyaan Ibu.”

Malam itu aku pulang seperti biasa.

Raka langsung menghampiriku.

“Ketemu?”

Aku mengangkat syal dari tas.

“Ketemu.”

Aku melihat bahunya seperti langsung rileks.

“Syukurlah.”

Dia bahkan tertawa.

“Kamu tahu kan, itu hadiah spesial.”

Aku memaksakan senyum.

“Iya.”

Untuk pertama kalinya sejak menerima syal itu, aku tidak memakainya.

Aku mengatakan kepalaku sakit dan langsung tidur.

Raka tidak curiga.

Sekitar tengah malam, ketika napasnya sudah teratur, aku bangun perlahan.

Tanganku gemetar saat mengambil syal dari laci.

Aku menyelipkannya di bawah bantal Raka.

Lalu aku berbaring kembali.

Aku tidak tidur sedikit pun.

Sekitar pukul 04.17 pagi, Raka tiba-tiba bangun sambil berteriak.

“ASTAGA!”

Aku langsung duduk.

Raka melompat dari tempat tidur dan menarik bantalnya.

Syal biru itu terjatuh ke atas seprai.

Namun ada sesuatu di sarung bantal putih.

Sebuah noda berbentuk persegi panjang.

Warnanya kuning kecokelatan.

Berminyak.

Persis mengikuti bentuk strip tersembunyi yang kulihat di toko Pak Hendra.

Raka membeku.

Dia menatap noda itu.

Lalu menatap syal.

Kemudian matanya beralih kepadaku.

Wajahnya kehilangan seluruh warna.

Dan pada detik itulah aku tahu.

Suamiku mengenali benda tersebut.

Dia tahu persis apa yang tersembunyi di dalam syal yang selama tiga bulan dia paksa menempel di leherku setiap hari.

Bibir Raka gemetar.

“Oh, Tuhan…”

Aku tidak mengatakan apa pun.

Kemudian sesuatu jatuh dari bawah bantalnya.

Sebuah benda kecil berwarna hitam.

Aku mengambilnya sebelum Raka sempat bergerak.

Itu sebuah flashdisk.

Dan ketika aku menatap wajah suamiku, kepanikan yang muncul di matanya bahkan lebih besar daripada saat dia melihat noda pada bantal.

Saat itulah aku menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Syal itu mungkin bukan rahasia terbesar yang disembunyikan Raka dariku.

Dan penyakit yang kualami selama tiga bulan terakhir mungkin bukan tujuan akhirnya.

BAGIAN 2 — RAHASIA DI BALIK SYAL BIRU

Aku memegang flashdisk hitam itu erat-erat.

Raka masih berdiri di sisi tempat tidur.

Wajahnya pucat.

Untuk beberapa detik, kami hanya saling menatap.

Lalu dia bergerak.

“Nadira, kasih itu ke aku.”

Aku langsung mundur.

“Kenapa?”

“Itu urusan kantor.”

“Urusan kantor disimpan di bawah bantal?”

“Nadira.”

Nada suaranya berubah.

Bukan lagi suara suami yang selama tujuh tahun tidur di sampingku.

Itu suara seseorang yang sedang menghitung risiko.

Aku menatap noda berminyak di sarung bantal.

“Dan syal ini juga urusan kantor?”

Raka membeku.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi cukup.

Aku tahu Pak Hendra benar.

Raka tahu.

Aku mengambil ponsel dari meja.

“Aku mau ke rumah sakit.”

Raka langsung memegang pergelangan tanganku.

“Tidak perlu.”

Aku menatap tangannya.

“Lepaskan.”

“Kamu cuma panik.”

“Lepaskan aku, Raka.”

Cengkeramannya mengendur.

Aku memasukkan flashdisk ke saku piyama, mengambil syal menggunakan plastik yang diberikan Pak Hendra, lalu berjalan menuju pintu.

Raka tidak mengejarku.

Justru itu yang membuatku semakin takut.

Dia hanya berdiri di kamar sambil berkata,

“Kalau kamu keluar sekarang, jangan salahkan aku kalau semuanya berubah.”

Aku berhenti.

Menoleh.

“Sepertinya semuanya sudah berubah sejak tiga bulan lalu.”

Lalu aku pergi.


Aku tidak langsung ke rumah sakit.

Aku menelepon satu-satunya orang yang masih kupercaya sepenuhnya di perusahaan.

Maya Santoso, kepala divisi legal.

Maya sudah bekerja bersamaku sejak perusahaan kami hanya memiliki sebelas karyawan dan satu mesin kopi yang lebih sering rusak daripada berfungsi.

Dia mengenal ayahku.

Dia juga mengenal Raka.

Dan yang paling penting, dia tidak pernah menyukai cara Raka perlahan-lahan mengambil ruang di perusahaan.

Kami bertemu di sebuah klinik swasta di Jakarta Selatan.

Aku menjalani pemeriksaan.

Sampel darah diambil.

Syal diserahkan untuk dianalisis melalui laboratorium.

Dokter tidak langsung memberi kesimpulan.

Namun ketika kuceritakan sakit kepala, tremor, pusing, dan kesulitan konsentrasi yang muncul setelah aku mulai mengenakan syal, wajahnya menjadi serius.

“Untuk sementara, jangan gunakan syal itu lagi dan jangan menyentuh lapisan di dalamnya,” katanya.

Setelah itu, Maya dan aku masuk ke ruang konsultasi kosong.

Aku mengeluarkan flashdisk.

“Kita buka?”

Aku mengangguk.

Maya menggunakan laptop cadangan yang tidak terhubung dengan sistem perusahaan.

Flashdisk itu dilindungi kata sandi.

Namun terdapat satu file teks tanpa enkripsi.

Hanya satu kalimat:

NADIRA — MEDICAL CAPACITY TIMELINE

Darahku terasa dingin.

Maya menatapku.

“Medical capacity?”

Aku tidak menjawab.

Kami mencoba beberapa kata sandi.

Gagal.

Kemudian aku teringat sesuatu.

Tanggal ulang tahun pernikahan kami.

Maya memasukkannya.

Flashdisk terbuka.

Ada tujuh folder.

MEDICAL.

BOARD.

TRUST.

SIGNATURES.

TRANSFER.

RATIH.

Dan folder terakhir:

AFTER N.

Tanganku mulai gemetar.

Maya membuka folder MEDICAL.

Di dalamnya terdapat salinan catatan tentang gejala yang kualami.

Tanggal sakit kepala pertamaku.

Hari ketika tanganku mulai gemetar.

Hari ketika aku lupa angka saat rapat.

Bahkan ada foto-foto diriku mengenakan syal.

Di samping setiap tanggal terdapat catatan.

Week 3 — headaches increasing.

Week 6 — concentration decline noticeable.

Week 9 — public cognitive incident achieved.

Aku menutup mulut.

Raka bukan hanya mengetahui aku sakit.

Dia mencatat perkembangannya.

Seperti eksperimen.

Maya membuka folder BOARD.

Di sana kami menemukan rancangan surat yang menyatakan bahwa karena kondisi kesehatanku, aku dianggap tidak lagi mampu menjalankan kewajiban sebagai direktur utama.

Ada rencana rapat luar biasa.

Ada daftar nama anggota dewan.

Beberapa diberi tanda hijau.

Beberapa kuning.

Dua merah.

Di bawah namaku tertulis:

Remove voting authority pending medical incapacity.

Aku merasa mual.

“Itu tidak semudah ini,” kataku. “Hak suara trust tidak bisa dipindahkan hanya karena aku sakit.”

Maya menatap folder berikutnya.

“Makanya dia punya folder TRUST.”

Kami membukanya.

Dan di situlah aku memahami rencana sebenarnya.

Raka telah menemukan celah dalam dokumen lama.

Jika aku dinyatakan tidak mampu mengambil keputusan secara permanen, pengelolaan hak suara tertentu akan berpindah sementara kepada wali pengganti.

Menurut salinan dokumen yang dimiliki Raka, wali itu adalah—

Raka Adinata.

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser.

“Tidak.”

Maya membaca ulang.

“Nadira…”

“Tidak mungkin.”

Aku tahu dokumen trust milik ayah.

Aku pernah membacanya.

Raka bukan wali pengganti.

Ayahku tidak pernah sepenuhnya mempercayainya.

“Dokumen ini palsu.”

Maya memperbesar tanda tangan.

Tanda tanganku ada di sana.

Sangat mirip.

Hampir sempurna.

Folder SIGNATURES menjelaskan semuanya.

Ratusan gambar tanda tanganku.

Potongan dari kontrak.

Surat.

Kartu ucapan.

Dokumen perusahaan.

Raka telah mengumpulkannya selama bertahun-tahun.

Lalu Maya membuka folder TRANSFER.

Ada rencana pemindahan aset perusahaan ke tiga perusahaan cangkang.

Total nilainya hampir Rp480 miliar.

Salah satu perusahaan dimiliki seseorang bernama Ratih Kusuma.

Aku mengenal nama itu.

Ratih adalah konsultan strategi yang mulai sering bekerja dengan Raka sekitar delapan bulan sebelumnya.

Cantik.

Cerdas.

Selalu terlalu ramah kepadaku.

Aku menatap folder RATIH.

Maya ragu sebelum membukanya.

“Nadira…”

“Buka.”

Ada foto Raka dan Ratih.

Di Bali.

Singapura.

Sebuah apartemen.

Pesan-pesan mereka.

Tetapi perselingkuhan itu hampir tidak terasa penting dibanding satu pesan yang kubaca.

Ratih menulis:

Berapa lama sampai dia tidak bisa memimpin rapat lagi?

Raka menjawab:

Tidak lama. Setelah dokter mulai mempertanyakan kapasitasnya, kita bergerak.

Aku tidak menangis.

Aneh sekali.

Tujuh tahun pernikahan.

Ribuan sarapan.

Liburan.

Pertengkaran kecil.

Tawa.

Dan semua itu runtuh di layar laptop tanpa suara.

Maya memegang tanganku.

“Nadira.”

Aku menarik napas.

“Buka folder terakhir.”

AFTER N.

Di dalamnya hanya ada satu dokumen.

Sebuah rencana pembelian rumah di Melbourne.

Atas nama Raka dan Ratih.

Tanggal transaksi dijadwalkan enam minggu lagi.

Di bagian catatan tertulis:

After Nadira is institutionalized.

Aku akhirnya menangis.

Bukan karena Raka berselingkuh.

Bukan karena uang.

Tetapi karena dia tidak berencana membunuhku.

Dalam pikirannya, ada sesuatu yang lebih berguna daripada kematianku.

Dia ingin aku tetap hidup—

tetapi cukup sakit sehingga semua orang menganggap pikiranku sudah rusak.

Dia ingin mengambil perusahaan sambil membuatku hidup cukup lama untuk menyaksikannya.


Hasil awal laboratorium keluar sore itu.

Dokter menjelaskan dengan hati-hati bahwa material dalam syal mengandung senyawa yang tidak semestinya berada pada pakaian biasa dan berpotensi menyebabkan paparan melalui kontak kulit berkepanjangan.

Dia tidak membuat klaim dramatis.

Dia hanya berkata,

“Gejala Anda harus ditangani serius. Dan benda ini harus disimpan sebagai bukti.”

Aku meminta semua hasil didokumentasikan.

Kemudian aku menelepon polisi melalui pengacaraku.

Namun aku belum pulang.

Aku masih memiliki satu pertanyaan.

Mengapa noda itu muncul ketika syal diletakkan di bawah bantal?

Pak Hendra memberikan jawabannya.

“Panas dan tekanan,” katanya setelah melihat foto noda. “Lapisan di dalamnya mungkin bocor atau melepaskan residu ketika tertekan lama.”

Lalu dia menatapku.

“Suami Ibu panik karena dia tahu apa yang akan terlihat.”

Aku mengangguk.

Tetapi Pak Hendra kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Bu Nadira, ada hal lain.”

“Apa?”

“Syal itu pernah saya lihat sebelumnya.”

Aku menatapnya.

“Bagaimana mungkin?”

Pak Hendra masuk ke belakang tokonya.

Dia kembali membawa buku pesanan lama.

Kemudian menunjuk sebuah nama.

Raka Adinata.

Tanggalnya empat bulan lalu.

Satu bulan sebelum ulang tahun pernikahan kami.

“Dia datang ke sini?”

Pak Hendra menggeleng.

“Bukan dia.”

Di samping nama Raka terdapat nomor telepon.

Maya memotretnya.

Kami mencari nomor tersebut.

Nomor itu milik Ratih.

Jadi Ratih yang membawa syal tersebut untuk dimodifikasi.

Aku hampir merasa lega.

Setidaknya sekarang semuanya jelas.

Tetapi Pak Hendra belum selesai.

“Saya menolak pekerjaannya.”

Aku mengernyit.

“Apa?”

“Perempuan itu meminta saya membuka jahitan dan memasukkan sesuatu ke dalam lapisan. Saya bilang saya tidak mau mengerjakan benda yang tidak saya kenal.”

“Lalu siapa yang menjahitnya?”

“Saya tidak tahu.”

Dia menutup buku.

“Tapi sebelum pergi, perempuan itu menerima telepon.”

Pak Hendra menatapku.

“Dia bilang, ‘Tenang saja, Bu. Nadira tidak akan pernah tahu.’”

Bu?

Aku dan Maya saling menatap.

Ratih berbicara kepada seorang perempuan.

Bukan Raka.


Malam itu kami menelusuri catatan panggilan yang tersimpan dalam file Raka.

Dan akhirnya kami menemukan nomor yang berulang kali menghubungi Ratih.

Maya membacanya dua kali.

Kemudian wajahnya berubah.

“Nadira…”

“Apa?”

“Kamu kenal nomor ini?”

Dia memutar layar.

Aku mengenalnya.

Aku sudah mengenal nomor itu sejak remaja.

Nomor milik ibuku.

Lestari Prameswari.

Aku tidak bisa bernapas.

Ibuku tinggal di Bandung.

Dia dan Raka tidak pernah terlihat dekat.

Bahkan selama bertahun-tahun Ibu sering mengatakan bahwa Raka terlalu ambisius.

Aku langsung meneleponnya.

Tidak aktif.

Aku menelepon sopirnya.

Tidak dijawab.

Lalu sebuah pesan masuk dari nomor Ibu.

Pulanglah ke rumahmu. Ibu ada di sana. Kita harus bicara.


Ketika aku kembali ke Bintaro bersama Maya dan pengacaraku, dua petugas sudah menunggu tidak jauh dari rumah.

Aku masuk sendiri terlebih dahulu.

Raka duduk di ruang keluarga.

Ratih berdiri dekat jendela.

Dan ibuku duduk di sofa.

Aku merasa seperti masuk ke rumah orang asing.

“Ibu?”

Ibu berdiri.

Wajahnya penuh air mata.

“Nadira, dengarkan Ibu dulu.”

Aku tertawa kecil karena tidak percaya.

“Apa yang harus kudengar? Bahwa Ibu membantu suamiku membuatku sakit?”

“Tidak!”

Raka tiba-tiba berkata, “Jangan percaya dia, Nadira. Ibumu yang merencanakan semuanya.”

Ratih langsung menoleh.

“Bohong!”

Ruangan itu meledak.

Semua berbicara.

Aku mengangkat tangan.

“Diam.”

Untuk pertama kalinya, mereka semua menurut.

Aku menatap ibuku.

“Jelaskan.”

Ibu mengeluarkan sebuah amplop.

Tangannya gemetar.

“Empat bulan lalu, Ibu tahu Raka mencari cara mengambil kendali perusahaan.”

“Bagaimana?”

“Ratih memberi tahu Ibu.”

Aku menatap Ratih.

Dia menangis.

“Aku bukan kekasih Raka.”

Aku hampir tertawa.

“Aku melihat fotonya.”

“Foto itu nyata,” katanya. “Tapi hubungan itu dibuat agar dia percaya padaku.”

Raka berdiri.

“Jangan dengarkan—”

Pintu terbuka.

Dua petugas masuk bersama pengacaraku.

Raka langsung diam.

Ratih melanjutkan.

“Aku bekerja untuk ibumu.”

Dunia terasa berhenti.

Ibuku menjelaskan.

Setahun sebelumnya, dia menemukan transaksi mencurigakan yang melibatkan Raka. Karena takut menuduh menantunya tanpa bukti, dia meminta Ratih—anak sahabat lamanya yang bekerja sebagai investigator keuangan—mendekati Raka.

Ratih berhasil.

Terlalu berhasil.

Raka mempercayainya.

Dia menunjukkan rencananya.

Termasuk rencana memalsukan dokumen trust.

Tetapi kemudian semuanya berubah ketika Raka membawa strip misterius itu.

Ratih panik.

Dia berpura-pura membantu.

Dialah yang membawa syal ke Pak Hendra, berharap seseorang akan menyadari ada yang salah.

Ketika Pak Hendra menolak, Raka membawanya ke tempat lain.

“Kenapa kalian tidak memberitahuku?” aku berteriak.

Ibu menangis.

“Karena kami belum punya bukti. Dan ketika kami sadar dia benar-benar memasukkan sesuatu ke syal, semuanya sudah terlambat.”

“TERLAMBAT?”

Suaraku pecah.

“Tiga bulan aku memakai benda itu!”

Ibu menutup wajahnya.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat ibuku seperti perempuan tua yang ketakutan.

“Aku membuat kesalahan terbesar dalam hidupku.”

Ratih menyerahkan ponselnya kepada petugas.

Di dalamnya ada rekaman.

Suara Raka.

Jelas.

“Aku tidak perlu Nadira mati. Aku cuma perlu semua orang percaya dia tidak mampu mengambil keputusan.”

Raka langsung mencoba lari.

Dia tidak sampai ke pintu.


Kasus itu membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Aku tidak akan mengatakan semuanya pulih dengan mudah.

Tubuhku membutuhkan perawatan.

Konsentrasiku kembali perlahan.

Tremor berkurang.

Sakit kepala akhirnya menghilang.

Raka menghadapi proses hukum atas serangkaian tuduhan terkait pemalsuan, percobaan pengambilalihan aset, dan tindakan yang membahayakan kesehatanku.

Dokumen trust palsu dibatalkan.

Transfer Rp480 miliar tidak pernah terjadi.

Perusahaan tetap menjadi milikku.

Tetapi ada satu hal yang tidak kembali seperti semula.

Hubunganku dengan Ibu.

Aku tidak bisa memaafkannya hanya karena niatnya melindungiku.

Dia telah mengetahui bahaya itu dan memilih permainan rahasia daripada memperingatkanku.

Selama hampir setahun kami hanya berbicara seperlunya.

Sampai suatu sore dia datang ke rumahku.

Dia terlihat lebih tua.

Di tangannya ada sebuah kotak kayu milik ayah.

“Ayahmu meninggalkan ini,” katanya.

“Aku seharusnya memberikannya kepadamu bertahun-tahun lalu.”

Di dalamnya terdapat dokumen trust asli.

Aku membukanya.

Lalu aku menemukan sesuatu yang membuatku terdiam.

Nama wali pengganti memang bukan Raka.

Bukan Ibu.

Bukan Maya.

Nama itu adalah—

Nadira Prameswari.

Aku bingung.

“Itu namaku.”

Ibu tersenyum sedih.

“Baca halaman berikutnya.”

Aku membalik halaman.

Ayah telah membentuk struktur hukum yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun karena bahkan aku sendiri tidak mengetahui seluruh detailnya.

Jika seseorang mencoba menyatakan aku tidak mampu secara medis untuk mengambil alih hak suaraku, saham tersebut tidak akan berpindah kepada wali mana pun.

Hak suara otomatis dibekukan.

Tidak bisa dijual.

Tidak bisa dipindahkan.

Tidak bisa digunakan oleh pasangan.

Kemudian setelah aku pulih dan dinyatakan mampu oleh dua dokter independen, kendali kembali sepenuhnya kepadaku.

Rencana Raka sejak awal tidak mungkin berhasil.

Aku menatap Ibu.

“Jadi semua ini…”

“Dia menghancurkan hidupnya sendiri demi sesuatu yang tidak pernah bisa dia miliki.”

Aku tertawa.

Lalu menangis.

Ayahku telah meninggal delapan tahun sebelumnya.

Namun dia masih melindungiku dari keserakahan seseorang yang bahkan belum menunjukkan wajah aslinya ketika dokumen itu dibuat.

Di bagian paling belakang ada tulisan tangan Ayah.

Hanya satu kalimat:

Untuk Nadira: Orang yang mencintaimu tidak akan meminta kendali atas hidupmu sebagai bukti bahwa kamu mencintainya.

Aku menempelkan kertas itu ke dada.

Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku menangis bukan karena takut.

Aku menangis karena akhirnya mengerti.


Enam bulan kemudian, aku kembali memimpin rapat tahunan perusahaan.

Tanganku tidak gemetar.

Di depan hampir seratus karyawan, aku berdiri tanpa syal di leherku.

Maya duduk di barisan depan.

Ratih juga hadir sebagai konsultan independen.

Di kursi paling belakang, Ibu duduk diam.

Hubungan kami belum sepenuhnya pulih.

Mungkin beberapa luka memang tidak perlu pura-pura hilang agar kita bisa melanjutkan hidup.

Setelah rapat, aku menghampirinya.

Ibu berdiri gugup.

Aku tidak mengatakan bahwa aku sudah melupakan semuanya.

Karena belum.

Aku hanya memeluknya.

Dan Ibu menangis di bahuku.

“Maafkan Ibu.”

“Aku sedang belajar, Bu.”

Itulah jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.

Sebelum pulang, aku mampir ke tempat Pak Hendra.

Tokonya masih sama.

Mesin jahit tua.

Lampu putih.

Tumpukan kain.

Aku membawa sebuah kotak.

Di dalamnya ada syal biru itu, sekarang sudah dibersihkan dan dinyatakan aman setelah bagian berbahayanya diambil sebagai barang bukti.

“Apa Ibu mau saya perbaiki?” tanyanya.

Aku memandang syal itu lama.

Lalu menggeleng.

“Bukan.”

Aku menyerahkan sebuah gunting kepadanya.

“Tolong potong.”

Pak Hendra terdiam.

“Yakin?”

Aku mengangguk.

Dia memotong syal itu menjadi beberapa bagian.

Dari satu potongan kecil yang bersih, dia membuat pita sederhana.

Aku membawanya ke makam ayah.

Kutaruh pita biru itu di samping bunga.

Dulu Raka mengatakan syal tersebut adalah pengingat betapa besar cintanya kepadaku.

Ternyata dia benar tentang satu hal.

Syal itu memang menjadi pengingat.

Hanya saja bukan tentang cintanya.

Syal itu mengingatkanku bahwa cinta yang memaksamu kehilangan kendali atas tubuhmu, pikiranmu, uangmu, pekerjaanmu, atau hidupmu bukanlah cinta.

Aku berdiri di depan makam Ayah ketika angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.

“Ayah benar,” bisikku.

Kemudian aku tersenyum.

“Aku cuma terlambat mengerti.”

Aku berjalan kembali menuju mobil.

Tanpa syal.

Tanpa Raka.

Tanpa rasa takut.

Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, tidak ada seorang pun yang berdiri di depan pintu untuk bertanya,

“Lupa sesuatu?”

Dan saat aku menyalakan mobil, aku melihat bayanganku sendiri di kaca spion.

Aku menyentuh leherku yang kosong.

Lalu menjawab pertanyaan yang tidak lagi bisa dia tanyakan.

“Tidak, Raka.”

Aku tersenyum.

“Justru akhirnya aku ingat siapa diriku.”

TAMAT.