SUAMIKU MENYEMBUNYIKANKU DI PESTA PERUSAHAANNYA KARENA DIA MALU DENGAN GAUN MURAH YANG KUPAKAI… TAPI KETIKA BOS MILIARDERNYA MELIHAT KALUNG DI LEHERKU, DIA TIBA-TIBA BERLUTUT DAN MEMBONGKAR RAHASIA 30 TAHUN YANG MENGHANCURKAN KARIER SUAMIKU.
Suamiku mendorongku ke balik tirai beludru begitu CEO perusahaannya memasuki ballroom.
“Tunggu di sini,” bisiknya tajam. “Kalau ada yang bertanya, jangan bilang kamu istriku.”
Selama tiga detik, aku benar-benar mengira Arga sedang bercanda.
Lalu aku melihat wajahnya.
Itu bukan sekadar rasa malu.
Itu ketakutan.

Gala tahunan Mahardika Sentosa Group malam itu digelar di sebuah hotel mewah di kawasan Sudirman, Jakarta.
Lampu kristal bergantung dari langit-langit ballroom. Gelas-gelas sampanye tersusun rapi di atas meja panjang. Para eksekutif datang bersama pasangan mereka dalam pakaian yang tampaknya berharga lebih mahal daripada seluruh isi lemari pakaianku.
Sementara aku hanya mengenakan gaun biru tua sederhana yang kubeli seharga Rp1,3 juta.
Aku menyukainya.
Potongannya sederhana, sopan, dan nyaman.
Namun sejak melihatku keluar dari kamar sebelum kami berangkat, Arga sudah menatap gaun itu seolah aku baru saja mempermalukannya.
“Kamu serius mau pakai itu?”
Aku menatap diriku di cermin.
“Kenapa? Aku suka.”
“Nadira, malam ini promosi jabatanku akan diumumkan. Orang-orang di sana memperhatikan semuanya.”
Ternyata yang dimaksud dengan semuanya termasuk istrinya sendiri.
Begitu kami tiba di hotel, Arga tidak memperkenalkanku kepada siapa pun.
Dia selalu berjalan beberapa langkah di depanku.
Ketika bertemu direktur atau komisaris, dia tertawa keras, menjabat tangan mereka, lalu sengaja berdiri sedemikian rupa sehingga aku tersembunyi di belakang tamu lain.
Awalnya aku mencoba mengabaikannya.
Sampai seorang rekan kerjanya bernama Selvi menghampiri kami.
Perempuan itu mengenakan gaun hitam elegan dan membawa tas bermerek yang sering kulihat di majalah.
Tatapannya turun dari wajahku sampai ke sepatuku.
“Oh,” katanya sambil tersenyum tipis. “Arga, bukannya kamu bilang istrimu tidak datang malam ini?”
Arga langsung memasang senyum kaku.
“Rencananya berubah.”
Selvi menyentuh lengan suamiku dengan akrab.
“Semoga saja Pak Mahardika tidak melihat… perubahan rencana ini.”
Mereka berdua tertawa.
Aku tidak.
Beberapa menit kemudian, Arga menarikku menjauh dari kerumunan.
“Nadira, tolong dengarkan aku. Tunggu di dekat lorong pelayanan sampai acara makan malam dimulai.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Kamu ingin istrimu bersembunyi di dekat dapur?”
“Jangan bicara keras-keras.”
“Kenapa?”
“Karena malam ini penting!”
Aku menahan napas.
“Dan aku tidak penting?”
Rahangnya mengeras.
“Jangan membuat semuanya tentang dirimu.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa, sesuatu di dalam diriku seperti patah.
Selama delapan tahun pernikahan kami, aku membantu Arga memperbaiki presentasi sebelum rapat.
Aku memeriksa laporan keuangannya ketika dia lembur.
Aku menemani klien-kliennya makan malam di rumah kami.
Ketika dia gagal mendapat promosi dua tahun sebelumnya, akulah yang duduk bersamanya sampai pukul tiga pagi, meyakinkannya bahwa kesempatan lain akan datang.
Setiap kali aku mengeluh bahwa aku merasa tak terlihat, Arga selalu mengatakan hal yang sama.
“Aku melakukan semua ini demi masa depan kita.”
Malam itu akhirnya aku mengerti.
Mungkin sejak awal tidak pernah ada kata kita.
Hanya ada dia.
Dan citra sempurna yang ingin dia tunjukkan kepada dunia.
Namun ada satu hal tentang diriku yang bahkan Arga tidak pernah benar-benar ketahui.
Tanganku menyentuh kalung perak yang menggantung di leherku.
Kalung itu tidak terlihat mahal.
Rantainya tipis dan sudah cukup tua.
Liontinnya berbentuk oval, dengan ukiran kecil menyerupai burung garuda dengan tiga bintang di atasnya.
Ibuku memberikannya kepadaku beberapa hari sebelum meninggal.
Saat itu aku berusia dua puluh tahun.
Aku pernah bertanya apa arti simbol tersebut.
Namun Ibu hanya menggenggam tanganku.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang selama bertahun-tahun kuanggap sebagai ucapan aneh seorang perempuan yang tahu hidupnya tidak akan lama lagi.
“Nadira, simpan kalung ini baik-baik.”
Aku mengangguk.
Kemudian Ibu berkata,
“Kalau suatu hari ada seseorang dari keluarga Mahardika yang mengenali kalung ini… jangan lari.”
Aku tertawa kecil waktu itu.
Aku bahkan tidak mengenal keluarga Mahardika.
Bagiku mereka hanyalah nama konglomerat yang sesekali muncul di berita bisnis.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian suamiku justru bekerja untuk perusahaan mereka.
Dan malam itu—
aku berdiri hanya beberapa meter dari pendirinya.
Tiba-tiba tepuk tangan memenuhi ballroom.
Arga menoleh.
Wajahnya langsung berubah tegang.
Seorang pria berambut perak memasuki ruangan ditemani beberapa jajaran direksi.
Surya Mahardika.
Pendiri Mahardika Sentosa Group.
Salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia.
Pria yang fotonya tergantung di lobi kantor pusat perusahaan Arga.
Dan orang yang selama bertahun-tahun disebut suamiku sebagai sosok yang ingin ia jadikan panutan.
Arga mencengkeram lenganku.
“Masuk ke belakang tirai.”
“Apa?”
“Sekarang.”
“Arga—”
Dia mendorongku ke balik tirai beludru di sisi ballroom.
“Tolong jangan merusak malam ini,” bisiknya.
Kemudian dia menambahkan kalimat yang tidak akan pernah kulupakan.
“Tidak sampai dua puluh menit. Tetap di sini dan jangan terlihat.”
Lalu dia pergi.
Aku berdiri sendirian di balik tirai.
Suara tepuk tangan terdengar dari luar.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku bertanya pada diriku sendiri:
Kalau aku terus menerima perlakuan seperti ini, kapan aku akan berhenti menjadi diriku sendiri?
Aku memejamkan mata.
Lalu membuka tirai.
Dan keluar.
Bukan untuk mempermalukan Arga.
Bukan untuk menghancurkan promosinya.
Aku hanya sudah tidak mau bersembunyi lagi.
Di seberang ruangan, Surya Mahardika sedang menjabat tangan beberapa direktur.
Arga berdiri tidak jauh darinya.
Selvi berada di samping Arga.
Aku hendak berjalan menuju pintu keluar ketika Surya tiba-tiba menoleh.
Tatapannya menyapu ballroom.
Lalu berhenti tepat padaku.
Tidak.
Bukan pada wajahku.
Pada leherku.
Pada kalung itu.
Wajah Surya berubah.
Gelas yang dipegangnya terlepas.
PRANG!
Suara kaca pecah membuat seluruh ballroom mendadak sunyi.
Puluhan kepala menoleh.
Surya tidak memedulikan mereka.
Matanya tetap terpaku pada liontin di leherku.
Kemudian dia berjalan cepat ke arahku.
Arga langsung menyusul.
“Pak Surya, saya minta maaf. Ini sebenarnya—”
Surya melewatinya begitu saja.
Seolah suamiku tidak ada.
Dia berhenti tepat di depanku.
Tangannya gemetar.
“Kalung itu…”
Aku refleks memegang liontinnya.
Surya menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Dari ibu saya.”
Bibirnya bergetar.
“Siapa nama ibumu?”
Entah mengapa, jantungku mulai berdetak sangat cepat.
Aku teringat pesan Ibu.
Kalau seseorang dari keluarga Mahardika mengenali kalung ini, jangan lari.
Aku menarik napas.
“Ratih Prameswari.”
Wajah Surya kehilangan seluruh warnanya.
Dia mundur satu langkah.
Kemudian menatap mataku lama sekali, seakan sedang mencari wajah seseorang dari masa lalu di dalam wajahku.
“Ayahmu?”
Aku menggeleng.
“Saya tidak pernah mengenalnya. Ibu membesarkan saya sendiri.”
Ruangan itu begitu sunyi hingga aku bisa mendengar napas Arga di belakangku.
Surya mengangkat tangannya perlahan.
“Boleh… boleh saya melihat liontinnya lebih dekat?”
Aku mengangguk.
Dia membalik liontin itu.
Di bagian belakang terdapat ukiran sangat kecil yang bahkan tidak pernah kupahami.
S.M. — R.P. — 1996
Surya menutup mulutnya.
Air mata jatuh dari matanya.
Dan kemudian—
di depan seluruh direksi Mahardika Sentosa Group…
di depan ratusan tamu…
di depan suamiku yang baru saja menyuruhku bersembunyi karena malu mengakuiku sebagai istrinya…
Surya Mahardika berlutut di hadapanku.
Suara orang-orang mulai berbisik.
Arga membeku.
Selvi menatapku dengan mulut sedikit terbuka.
Aku sendiri tidak tahu harus melakukan apa.
“Pak Surya…” kataku pelan.
Dia mendongak.
Wajahnya dipenuhi penyesalan yang begitu dalam hingga membuat dadaku terasa sesak.
“Tiga puluh tahun,” bisiknya.
“Apa?”
“Saya mencari Ratih selama hampir tiga puluh tahun.”
Aku tidak bisa bergerak.
Surya menggenggam liontin itu dengan hati-hati.
“Kalung ini bukan perhiasan biasa, Nadira.”
Dia menyebut namaku meskipun aku belum pernah memperkenalkan diri.
Lalu Surya menatap wajahku sekali lagi.
Dan mengucapkan kalimat yang membuat Arga menjatuhkan ponselnya ke lantai.
“Kalung itu dibuat hanya dua buah.”
Tanganku mulai dingin.
Surya merogoh bagian dalam jasnya.
Dia mengeluarkan sebuah rantai tua.
Di ujungnya tergantung liontin yang hampir sama persis dengan milikku.
Separuh ballroom menarik napas bersamaan.
Surya menempelkan kedua liontin itu.
Ukiran burung garuda tersebut menyatu sempurna.
Lalu dia menatapku.
“Ibumu membawa separuhnya.”
Suaranya pecah.
“Dan saya membawa separuh lainnya selama tiga puluh tahun.”
Aku menatap dua liontin itu tanpa mampu berkata apa-apa.
Arga akhirnya maju.
“Pak Surya, saya rasa ada kesalahpahaman. Nadira itu istri saya.”
Surya perlahan berdiri.
Untuk pertama kalinya malam itu, dia benar-benar memandang Arga.
“Istrimu?”
Arga menelan ludah.
“Iya, Pak.”
Surya melihat ke arah tirai tempat Arga menyembunyikanku beberapa menit sebelumnya.
Kemudian dia menatap Selvi.
Lalu kembali menatap Arga.
Ekspresinya berubah.
Kesedihan di wajahnya menghilang.
Digantikan sesuatu yang jauh lebih dingin.
“Kalau dia istrimu…”
Surya berhenti sejenak.
“…kenapa tadi kamu mengatakan kepada Direktur Utama bahwa kamu datang sendiri karena istrimu tidak cukup pantas untuk diperkenalkan kepada jajaran direksi?”
Wajah Arga langsung pucat.
Aku menoleh kepadanya.
“Apa?”
Arga membuka mulut.
Tidak ada suara yang keluar.
Namun Surya belum selesai.
Dia menatap salah satu asistennya.
“Bawa dokumen dari mobil saya.”
Asistennya langsung pergi.
Aku merasa kakiku hampir kehilangan tenaga.
“Dokumen apa?”
Surya kembali menatapku.
Kali ini matanya penuh air mata.
“Dokumen yang seharusnya kuberikan kepada ibumu tiga puluh tahun lalu.”
Dia menarik napas panjang.
“Dan dokumen yang mungkin akan menjelaskan kenapa ibumu menyuruhmu menunggu sampai seseorang bernama Mahardika mengenali kalung itu.”
Arga mencengkeram lenganku.
“Nadira, kita pulang sekarang.”
Aku menarik tanganku.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun—
aku tidak menurut.
Surya menatap Arga tajam.
“Tidak.”
Kemudian dia memandang seluruh jajaran direksi.
“Tidak ada seorang pun yang meninggalkan ruangan ini.”
Pintu ballroom tertutup.
Asisten Surya kembali membawa sebuah map kulit tua.
Di atasnya tertulis satu nama.
RATIH PRAMESWARI.
Surya menyerahkan map itu kepadaku.
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Di halaman pertama terdapat foto ibuku saat masih muda.
Di sampingnya berdiri Surya Mahardika.
Mereka sedang tersenyum.
Dan di halaman berikutnya—
terdapat sebuah dokumen bertanda tangan yang membuat napasku berhenti.
Aku baru membaca tiga baris ketika Arga mencoba merebut map itu dari tanganku.
Surya menahannya.
“Jangan sentuh dokumen itu.”
Arga mundur.
Aku mengangkat kepala.
“Pak Surya…”
Suaraku nyaris tidak terdengar.
“Apa sebenarnya hubungan Anda dengan ibu saya?”
Surya memejamkan mata.
Ketika membukanya kembali, dia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh ballroom membeku.
“Ratih bukan sekadar perempuan yang pernah saya cintai.”
Dia menatapku.
“Dia adalah alasan sebenarnya perusahaan ini bisa berdiri.”
Lalu tatapannya beralih kepada Arga.
“Dan kalau dokumen yang kamu pegang masih sah…”
Surya menarik napas.
“…maka promosi suamimu adalah masalah terkecil yang akan terjadi malam ini.”
Aku menatap halaman di dalam map itu sampai huruf-hurufnya terasa kabur.
Di bagian atas tertulis:
PERJANJIAN PENDIRIAN DAN PENGALIHAN HAK KEPEMILIKAN
Di bawahnya ada nama yang membuat dadaku seperti dihantam sesuatu.
Ratih Prameswari.
Nama ibuku.
Tanganku gemetar ketika membalik halaman berikutnya.
Ada tabel kepemilikan perusahaan.
Ada tanda tangan.
Ada cap notaris lama.
Dan sebuah angka yang membuatku berhenti bernapas.
35%.
Aku mengangkat kepala.
“Ini apa?”
Surya Mahardika tidak langsung menjawab.
Arga berdiri beberapa meter dariku dengan wajah pucat.
Selvi sudah mundur menjauh darinya.
Surya menarik napas panjang.
“Tiga puluh tahun lalu, Mahardika Sentosa bukan perusahaan besar.”
Dia menatap foto lama di dalam map.
“Waktu itu kami bahkan belum punya kantor sendiri.”
Surya menunjuk ibuku.
“Ratih yang membuat model bisnis pertama perusahaan ini. Dia yang menemukan investor pertama. Dia menjual tanah peninggalan ayahnya untuk memberi modal ketika bank menolak pinjaman saya.”
Aku memandang foto Ibu.
Perempuan sederhana yang selama hidupnya menggunakan motor tua dan menghitung harga beras sebelum membeli ternyata pernah menjadi bagian dari perusahaan bernilai triliunan rupiah.
“Kenapa Ibu tidak pernah mengatakan apa pun?”
Surya menundukkan kepala.
“Karena saya mengecewakannya.”
Ruangan tetap sunyi.
“Saat perusahaan mulai berkembang, ayah saya menolak hubungan kami. Keluarga saya menganggap Ratih tidak pantas masuk keluarga Mahardika.”
Aku hampir tertawa karena ironinya.
Tiga puluh tahun kemudian, suamiku melakukan hal yang sama kepadaku.
Surya melanjutkan.
“Ayah saya menawarkan Ratih uang untuk pergi.”
“Ibu mengambilnya?”
“Tidak.”
Surya tersenyum pahit.
“Dia melempar cek itu ke meja.”
Untuk sesaat, aku bisa membayangkan Ibu melakukannya.
“Lalu apa yang terjadi?”
“Saya tidak cukup berani.”
Empat kata.
Namun aku mendengar penyesalan tiga puluh tahun di dalamnya.
“Saya memilih perusahaan. Ratih pergi.”
Surya mengeluarkan sebuah amplop tua dari map.
“Beberapa bulan kemudian, saya mencoba mencarinya. Tapi keluarga saya sudah memastikan saya tidak bisa menemukannya.”
Aku menatapnya.
“Dan saham ini?”
“Ratih tetap memilikinya.”
Surya menunjuk dokumen.
“Dia tidak pernah menjual haknya.”
Arga tiba-tiba menyela.
“Maaf, Pak. Tapi dokumen tiga puluh tahun lalu tidak mungkin begitu saja—”
Surya menoleh.
“Arga.”
Suara itu tidak keras.
Justru karena itulah Arga langsung diam.
“Saya sedang berbicara dengan Nadira.”
Arga menelan ludah.
Surya kembali menatapku.
“Beberapa tahun kemudian, perusahaan direstrukturisasi. Hak Ratih ditempatkan dalam sebuah badan pengelola khusus sambil menunggu keberadaannya ditemukan.”
Aku mencoba memahami semuanya.
“Jadi saya sekarang memiliki tiga puluh lima persen perusahaan?”
“Tidak sesederhana itu.”
Surya menunjuk halaman terakhir.
“Ada syarat.”
Aku membacanya.
Hak tersebut dapat diwariskan kepada keturunan sah Ratih Prameswari setelah identitas ahli waris diverifikasi.
Aku membeku.
Keturunan.
Surya menatapku dengan ekspresi aneh.
Aku tiba-tiba teringat pertanyaannya.
Ayahmu?
Dan jawaban yang kuberikan.
Aku tidak pernah mengenalnya.
Jantungku berdetak semakin cepat.
“Pak Surya…”
Dia seolah tahu pertanyaan yang akan keluar dari mulutku.
Namun sebelum aku mengucapkannya, pintu ballroom terbuka.
Seorang pria tua masuk bersama dua orang lainnya.
Salah satunya membawa tas dokumen.
Surya memperkenalkannya.
“Pak Hendra. Notaris keluarga kami.”
Pria itu mengangguk kepadaku.
“Nyonya Nadira.”
Arga mulai terlihat gelisah.
“Pak Surya, acara promosi malam ini bagaimana?”
Aku menoleh kepadanya.
Aku tidak percaya.
Di tengah semua yang baru saja terungkap, yang masih dipikirkannya adalah promosi.
Surya juga menyadarinya.
Dia menatap Arga beberapa detik.
Kemudian bertanya,
“Seberapa penting jabatan itu bagimu?”
Arga tampak bingung.
“Pak?”
“Direktur Regional.”
Arga menegakkan tubuh.
“Sangat penting.”
“Lebih penting daripada istrimu?”
“Nadira dan saya punya masalah pribadi. Saya tidak ingin mencampurkan—”
Surya tertawa kecil.
Tidak ada humor dalam tawanya.
“Lucu.”
Dia memandang seluruh ruangan.
“Tiga puluh tahun lalu saya mengatakan kalimat yang hampir sama.”
Aku melihat bahunya turun.
“Dan saya kehilangan seseorang yang tidak pernah bisa saya gantikan.”
Arga terdiam.
Surya berkata,
“Saya tidak akan memecatmu karena gaun istrimu.”
Arga terlihat sedikit lega.
“Tapi…”
Surya memberi isyarat kepada asistennya.
Layar besar di belakang panggung menyala.
Sebuah laporan internal muncul.
Nama Arga tercantum di sana.
AUDIT INTERNAL — DIVISI STRATEGI REGIONAL
Arga benar-benar kehilangan warna wajahnya.
“Apa itu?”
Surya menatapnya.
“Alasan sebenarnya saya datang lebih awal malam ini.”
Aku menoleh cepat.
Jadi semua ini bukan dimulai karena kalungku.
Surya memang sudah mencari Arga.
Salah satu direktur berdiri.
“Tim audit menemukan manipulasi dalam tiga proposal investasi selama delapan bulan terakhir.”
Arga menggeleng.
“Tidak. Itu salah.”
Layar berganti.
Beberapa tabel muncul.
Aku mengenal angka-angka itu.
Terlalu mengenalnya.
Aku pernah melihatnya di laptop Arga.
Bahkan pernah memperbaiki rumusnya.
Namun angka pada layar berbeda.
Proyeksi pendapatan dinaikkan.
Risiko diturunkan.
Data pasar diubah.
Aku menatap Arga.
“Kamu mengubah file setelah aku memeriksanya?”
Dia tidak menjawab.
Direktur tadi melanjutkan.
“Lebih buruk lagi, beberapa analisis asli dibuat dari akun rumah yang terdaftar atas nama istrinya.”
Semua mata beralih kepadaku.
Darahku terasa dingin.
“Apa?”
Arga berkata cepat,
“Nadira kadang membantu pekerjaan saya. Dia tahu.”
“Aku membantu memeriksa typo dan rumus!”
“Kamu juga memberi masukan!”
“Karena kamu bilang itu latihan presentasi!”
Suara Arga meninggi.
“Jangan berpura-pura tidak tahu apa-apa!”
Aku mundur satu langkah.
Akhirnya aku mengerti.
Bukan hanya gaunku yang membuatnya takut aku terlihat malam ini.
Aku adalah orang yang bisa menghubungkan dirinya dengan file asli.
Surya menatap Arga.
“Jadi itulah rencanamu?”
Arga diam.
“Kalau audit menemukan masalah, jejak digital mengarah ke komputer rumah dan istrimu bisa dijadikan alasan?”
“Tidak seperti itu.”
Pak Hendra membuka dokumen lain.
“Kami memiliki catatan akses, waktu perubahan file, dan email internal.”
Arga mulai berkeringat.
Selvi tiba-tiba berbalik hendak pergi.
Surya berkata,
“Bu Selvi.”
Dia berhenti.
“Silakan tetap di sini.”
Selvi menegang.
Layar kembali berubah.
Muncul percakapan.
Aku tidak bisa membaca semuanya dari jauh.
Tapi satu kalimat terlihat jelas.
Pesan Arga kepada Selvi:
Kalau audit sampai ke file awal, kita bilang Nadira yang mengubah proyeksinya. Dia bahkan tidak akan tahu cara membela diri.
Aku merasa seolah seseorang baru saja menamparku.
Delapan tahun.
Delapan tahun aku memperbaiki pekerjaannya.
Mendukungnya.
Menunda rencana membuka studio desainku sendiri karena dia bilang kami harus fokus pada kariernya dulu.
Dan pria itu sudah menyiapkan namaku sebagai tameng.
Arga mendekat.
“Nadira, dengarkan aku.”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan.”
“Nadira—”
“Jangan sentuh aku.”
Untuk pertama kalinya, dia berhenti ketika aku memintanya.
Surya berkata kepada kepala audit,
“Lanjutkan pemeriksaan sesuai prosedur. Tidak ada promosi malam ini. Mulai sekarang akses sistem Arga dan Selvi ditangguhkan sampai investigasi selesai.”
Arga panik.
“Pak Surya!”
“Ini bukan keputusan emosional.”
Surya menatapnya lurus.
“Justru karena Nadira mungkin memiliki hubungan dengan keluarga saya, saya tidak akan membuat keputusan disipliner sendiri. Tim independen yang akan menentukan.”
Kalimat itu membuatku menghormatinya sedikit.
Dia tidak menggunakan kekuasaan untuk membalaskanku.
Dia menyerahkannya pada bukti.
Arga menatapku.
Dan sesuatu berubah di wajahnya.
Kemarahan menghilang.
Digantikan kepanikan.
“Nadira.”
Aku sudah tahu apa yang akan terjadi.
Dia mendekat perlahan.
“Kita bisa memperbaiki ini.”
Aku hampir tidak percaya.
“Memperbaiki apa?”
“Pernikahan kita.”
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena rasanya absurd.
Dua puluh menit lalu aku terlalu memalukan untuk disebut istrinya.
Sekarang, setelah kemungkinan aku mewarisi bagian perusahaan tempatnya bekerja muncul, tiba-tiba pernikahan kami layak diselamatkan.
“Aku salah,” katanya.
“Bagian mana?”
Dia terdiam.
“Bagian ketika kamu menyembunyikanku?”
“Nadira…”
“Bagian ketika kamu bilang aku tidak pantas bertemu direksi?”
“Aku sedang stres.”
“Atau bagian ketika kamu berencana menyalahkanku kalau penipuanmu terbongkar?”
Wajahnya mengeras.
“Aku tidak pernah bilang penipuan.”
“Pesanmu ada di layar.”
Dia kehilangan kata-kata.
Aku melepaskan cincin pernikahanku.
Arga menatap tanganku.
“Nadira, jangan lakukan sesuatu karena emosi.”
Kalimat itu membuatku tersenyum.
Aneh sekali.
Selama bertahun-tahun, setiap keputusan Arga disebut ambisi.
Setiap keputusan dariku disebut emosi.
Aku meletakkan cincin itu di atas meja.
“Aku tidak sedang emosional.”
Aku menatapnya.
“Aku akhirnya sedang berpikir jernih.”
Lalu aku berbalik kepada Surya.
“Ada satu pertanyaan yang belum Anda jawab.”
Surya tahu.
Semua orang tahu.
Aku memegang liontin di leherku.
“Apakah Anda ayah saya?”
Ruangan itu kembali sunyi.
Surya menutup mata sebentar.
Ketika membukanya, air mata sudah menggenang.
“Saya tidak tahu.”
Jawaban itu mengejutkanku.
Bukan ya.
Bukan tidak.
“Saya dan Ratih berpisah sebelum saya tahu dia mengandung.”
Dia mengeluarkan sebuah surat.
“Saya baru menerima ini enam tahun setelah dia pergi.”
Tulisan tangan Ibu.
Aku mengenalinya.
Surya menyerahkannya kepadaku.
Aku membaca.
Surya,
Aku punya seorang anak perempuan.
Tanganku langsung gemetar.
Baris berikutnya membuat air mataku jatuh.
Aku tidak akan memberitahumu apakah dia anakmu atau bukan. Bukan karena aku ingin menghukummu. Aku ingin melihat apakah suatu hari nanti kamu mencarinya karena cinta, atau hanya karena nama keluarga.
Aku berhenti membaca.
Surya menangis tanpa suara.
“Setelah surat itu, saya mencari kalian.”
“Kenapa tidak menemukan kami?”
“Ayah saya masih hidup. Orang-orangnya memblokir setiap pencarian. Ketika saya akhirnya mengambil kendali penuh perusahaan, Ratih sudah menghilang dari semua alamat lama.”
Aku membaca bagian terakhir.
Kalau takdir mempertemukan kalian, jangan berikan dia kekayaan hanya karena darah. Berikan dia kesempatan yang dulu tidak pernah diberikan siapa pun kepadaku. Biarkan dia memilih hidupnya sendiri.
Aku menutup surat.
Itulah ibuku.
Bahkan setelah meninggal, dia masih menolak membiarkan laki-laki kaya menentukan harga hidup putrinya.
Pak Hendra berkata,
“Kita bisa melakukan tes DNA.”
Surya mengangguk.
“Tapi hanya kalau Nadira menginginkannya.”
Semua mata tertuju kepadaku.
Aku memandang pria di depanku.
Selama bertahun-tahun aku membayangkan ayahku.
Aku pernah membencinya.
Pernah merindukannya.
Pernah berhenti peduli.
Sekarang jawabannya berdiri hanya beberapa meter dariku.
“Aku mau tesnya.”
Dua minggu kemudian, aku duduk di sebuah ruangan kecil di Jakarta bersama Surya.
Tidak ada ballroom.
Tidak ada direksi.
Tidak ada kamera.
Hanya kami berdua dan sebuah amplop.
Aku membukanya.
Probabilitas hubungan biologis: 99,99%.
Aku tidak menangis.
Surya yang menangis.
Dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Saya kehilangan tiga puluh tahun.”
Aku memandangnya lama.
Lalu berkata,
“Jangan kehilangan yang berikutnya.”
Dia menatapku.
Aku tidak memanggilnya Ayah.
Belum.
Hubungan tidak bisa diciptakan hanya oleh selembar hasil laboratorium.
Tapi untuk pertama kalinya, kami punya kesempatan.
Dan ternyata itulah warisan terbesar yang diberikan Ibu kepadaku.
Bukan saham.
Kesempatan memilih.
Investigasi terhadap Arga berlangsung hampir tiga bulan.
Aku memberikan laptop lama, email, dan dokumen yang kumiliki.
Hasilnya jauh lebih buruk daripada yang kukira.
Arga dan Selvi terbukti memanipulasi sejumlah proyeksi internal untuk meningkatkan performa divisi mereka dan memperoleh bonus serta promosi. Namaku memang disiapkan sebagai kambing hitam apabila audit menemukan file sumber.
Keduanya diberhentikan.
Beberapa temuan kemudian diserahkan kepada pihak berwenang dan proses hukumnya berjalan sendiri.
Aku tidak meminta Surya menghancurkan Arga.
Aku bahkan melarangnya ikut campur.
Aku ingin Arga jatuh karena perbuatannya sendiri.
Bukan karena siapa ayahku.
Perceraian kami jauh lebih sederhana.
Ketika keluar dari ruang mediasi terakhir, Arga memanggilku.
“Nadira.”
Aku berhenti.
Dia terlihat berbeda.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada senyum eksekutif.
Hanya seorang laki-laki yang tampak sangat lelah.
“Kalau malam itu aku tidak menyembunyikanmu…”
Dia berhenti.
“Apakah kita masih akan bersama?”
Aku memikirkan pertanyaannya.
Kemudian menggeleng.
“Kalung itu tidak menghancurkan pernikahan kita, Arga.”
Dia menatapku.
“Kamu juga tidak kehilangan aku malam itu.”
“Lalu kapan?”
“Sedikit demi sedikit.”
Aku tersenyum sedih.
“Setiap kali kamu membuatku merasa harus menjadi lebih kecil supaya kamu terlihat lebih besar.”
Dia menunduk.
Aku pergi.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menoleh.
Enam bulan kemudian, Surya memanggilku ke kantor.
Di atas meja ada dokumen mengenai saham peninggalan Ibu.
Hak kepemilikan Ratih memang sah, tetapi setelah berbagai restrukturisasi dan perjanjian selama puluhan tahun, bentuk kepemilikannya jauh lebih rumit daripada angka 35 persen di dokumen lama.
Nilainya tetap sangat besar.
Surya mendorong pena ke arahku.
“Kamu bisa mengambil semuanya yang menjadi hakmu.”
Aku menatap pena.
Lalu teringat rumah kontrakan kecil tempat Ibu membesarkanku.
Mesin jahitnya.
Kotak makan yang selalu disiapkannya.
Dan kalimat terakhir dalam suratnya.
Biarkan dia memilih hidupnya sendiri.
Aku mengambil pena.
Tapi bukan untuk menandatangani dokumen itu.
“Aku punya usul.”
Setahun kemudian, sebuah bangunan baru dibuka di Jakarta.
Namanya:
Yayasan Ratih Prameswari.
Sebagian hasil dari hak ekonomi warisan Ibu kugunakan untuk mendanai beasiswa bagi perempuan dari keluarga sederhana yang ingin belajar bisnis, teknologi, desain, dan keuangan.
Perempuan-perempuan seperti Ibu.
Perempuan yang punya kemampuan tetapi terlalu sering diberi tahu bahwa mereka tidak berasal dari keluarga yang tepat.
Aku tetap mempertahankan sebagian hak kepemilikanku.
Bukan karena ingin menjadi konglomerat.
Aku menggunakannya untuk memastikan yayasan itu tidak pernah bergantung pada belas kasihan siapa pun.
Dan aku akhirnya membuka studio desain yang kutunda selama bertahun-tahun.
Pada hari peresmian yayasan, Surya datang lebih awal.
Dia berdiri di depan foto besar Ibu.
“Ratih pasti bangga padamu.”
Aku berdiri di sampingnya.
“Mungkin dia akan marah karena fotonya sebesar ini.”
Surya tertawa.
Aku ikut tertawa.
Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Separuh kalung miliknya.
Dia menyerahkannya kepadaku.
“Aku rasa ini seharusnya menjadi milikmu.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Surya terlihat bingung.
Aku memegang liontinku.
“Yang satu Ibu berikan kepadaku.”
Lalu menunjuk liontin di tangannya.
“Yang itu bagian dari cerita Anda dengannya.”
Aku sengaja mengatakan Anda.
Surya tersenyum sedikit.
Aku menatap foto Ibu.
Lalu tanpa benar-benar merencanakannya, satu kata keluar dari mulutku.
“Ayah.”
Surya membeku.
Aku juga.
Matanya langsung memerah.
Dia tidak menjawab selama beberapa detik.
Kemudian hanya berkata,
“Iya?”
Satu kata.
Dan entah kenapa, itu lebih menyentuhku daripada semua miliaran rupiah yang bisa diwariskan kepadaku.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, aku berdiri sendirian di depan cermin.
Aku masih mengenakan gaun biru tua.
Gaun yang sama.
Yang seharga Rp1,3 juta.
Beberapa orang menyarankan aku membeli gaun desainer untuk peresmian yayasan.
Aku menolak.
Bukan karena ingin membuktikan sesuatu.
Aku hanya masih menyukai gaun itu.
Aku menyentuh liontin di leherku.
Dulu aku mengira Ibu meninggalkan sebuah misteri.
Ternyata bukan.
Dia meninggalkan ujian.
Bukan untuk Surya.
Bukan untuk Arga.
Untukku.
Apakah ketika aku akhirnya mengetahui bahwa darah seorang miliarder mengalir di tubuhku, aku akan mulai mengukur nilai manusia seperti orang-orang yang pernah merendahkan Ibu?
Aku melihat bayanganku sendiri.
Gaun sederhana.
Kalung tua.
Tidak ada suami di sampingku.
Tidak ada nama Mahardika tertulis di gaunku.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak merasa ada sesuatu yang kurang.
Aku teringat malam gala itu.
Arga mendorongku ke balik tirai dan berkata:
“Tetap di sini. Jangan terlihat.”
Lucunya, dia mengira malam itu adalah malam ketika aku mempermalukannya.
Padahal sebenarnya—
itu adalah malam ketika aku berhenti merasa malu menjadi diriku sendiri.
Kalung itu memang membuka rahasia tiga puluh tahun.
Audit memang menghancurkan karier Arga.
Tes DNA memang memberiku seorang ayah.
Warisan memang mengubah masa depanku.
Tapi tidak satu pun dari semua itu menjadi hal terpenting yang kudapatkan.
Hal terpenting terjadi ketika aku membuka tirai beludru itu dan melangkah keluar.
Karena terkadang orang yang paling berbahaya dalam hidup kita bukanlah orang yang membenci kita.
Melainkan orang yang mengaku mencintai kita, tetapi hanya selama kita bersedia mengecilkan diri agar sesuai dengan hidup yang mereka inginkan.
Malam itu Arga menyuruhku bersembunyi karena gaunku terlalu murah.
Setahun kemudian, aku berdiri memakai gaun yang sama di bawah nama ibuku sendiri.
Bukan sebagai istri seorang eksekutif.
Bukan sebagai putri seorang miliarder.
Tapi sebagai Nadira Prameswari.
Dan akhirnya—
nama itu saja sudah cukup.
TAMAT.
