TEPAT PUKUL 02.00 DINI HARI, AKU BERBARING TANPA BERGERAK SEMENTARA SUAMIKU MENGEMASI KOPER, YAKIN OBAT YANG DIHANCURKANNYA KE DALAM TEHKU SUDAH MEMBUATKU TERTIDUR PULAS. SEBELUM PERGI, DIA MENCIUM KENINGKU DAN BERBISIK, “KASIHAN, NADIRA. KAMU BENAR-BENAR TIDAK MENYADARI APA-APA.”

Avatar penulis
Cerita 04
19 menit baca 1,839 tayangan
TEPAT PUKUL 02.00 DINI HARI, AKU BERBARING TANPA BERGERAK SEMENTARA SUAMIKU MENGEMASI KOPER, YAKIN OBAT YANG DIHANCURKANNYA KE DALAM TEHKU SUDAH MEMBUATKU TERTIDUR PULAS. SEBELUM PERGI, DIA MENCIUM KENINGKU DAN BERBISIK, “KASIHAN, NADIRA. KAMU BENAR-BENAR TIDAK MENYADARI APA-APA.”
Indeks

TEPAT PUKUL 02.00 DINI HARI, AKU BERBARING TANPA BERGERAK SEMENTARA SUAMIKU MENGEMASI KOPER, YAKIN OBAT YANG DIHANCURKANNYA KE DALAM TEHKU SUDAH MEMBUATKU TERTIDUR PULAS. SEBELUM PERGI, DIA MENCIUM KENINGKU DAN BERBISIK, “KASIHAN, NADIRA. KAMU BENAR-BENAR TIDAK MENYADARI APA-APA.”

Beberapa jam kemudian, dia mengirimiku foto dari Bandara Soekarno-Hatta bersama selingkuhannya yang mengenakan gelang berlian peninggalan ibuku.

Di bawah foto itu, dia menulis:

“Selamat tinggal, perempuan tak berguna. Besok pagi, tidak akan ada apa pun yang tersisa untukmu.”

Dia mengira aku akan bangun dalam keadaan hancur dan kehilangan segalanya.

Sebaliknya, aku membalas dengan empat kata yang membuatnya langsung menelepon.

“Semua rekening sudah dibekukan.”

TEPAT PUKUL 02.00 DINI HARI, AKU BERBARING TANPA BERGERAK SEMENTARA SUAMIKU MENGEMASI KOPER, YAKIN OBAT YANG DIHANCURKANNYA KE DALAM TEHKU SUDAH MEMBUATKU TERTIDUR PULAS. SEBELUM PERGI, DIA MENCIUM KENINGKU DAN BERBISIK, “KASIHAN, NADIRA. KAMU BENAR-BENAR TIDAK MENYADARI APA-APA.”

Tepat pukul dua dini hari, suamiku, Raka Mahendra, membungkuk di atas tubuhku yang tidak bergerak.

Dia mencium keningku dengan lembut.

Lalu berbisik,

“Kasihan, Nadira. Kamu benar-benar tidak menyadari apa-apa.”

Dia hanya salah tentang satu hal.

Aku sudah mengetahui semuanya.

Dua puluh menit sebelumnya, aku mencicipi rasa pahit yang aneh di dalam tehku.

Raka membuatkan teh hangat di dapur rumah kami di Pondok Indah, Jakarta Selatan, sambil berpura-pura bersikap seperti suami perhatian.

Namun dari pantulan kaca jendela dapur yang gelap, aku melihat tangannya.

Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Menghancurkannya.

Lalu memasukkan bubuk itu ke dalam cangkirku.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku membawa cangkir itu ke kamar seperti biasa.

Begitu Raka tidak melihat, aku masuk ke kamar mandi dan menuangkan seluruh isinya ke wastafel.

Setelah itu aku kembali ke tempat tidur.

Aku memejamkan mata.

Mengatur napas menjadi lambat.

Dan membiarkan salah satu tanganku terkulai di sisi kasur.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka perlahan.

Raka masuk.

Dia berdiri di samping tempat tidur cukup lama.

Aku bisa merasakan tatapannya.

Lalu dia menyentuh lenganku.

Tidak ada reaksi.

Dia memanggil namaku pelan.

“Nadira?”

Aku tetap diam.

Raka akhirnya percaya aku benar-benar tertidur.

Dari balik kelopak mata yang sedikit terbuka, aku melihat dia berjalan menuju lemari.

Dia membuka brankas keluarga.

Satu per satu, dia mengeluarkan paspor, uang tunai, kotak-kotak perhiasan, serta sebuah map hitam bertuliskan:

MAHARDIKA GROUP — DOKUMEN KEPEMILIKAN

Gerakannya begitu tenang.

Begitu teratur.

Seperti seseorang yang sudah merencanakan pengkhianatan ini selama berbulan-bulan.

Kemudian dia mengambil gelang berlian milik ibuku.

Saat itulah dadaku terasa sesak.

Bukan karena nilai gelang itu.

Gelang tersebut adalah benda terakhir yang diberikan ibuku kepadaku sebelum beliau meninggal.

Ibuku mengenakannya pada malam ketika beliau secara resmi menyerahkan sebagian besar kendali perusahaan keluarga kepadaku.

Raka sering mengejek gelang itu.

“Barang lama begitu masih disimpan?”

Dia bahkan pernah menyebutnya perhiasan sentimental yang tidak berguna.

Namun malam itu, dia memasukkannya ke saku jas seperti sebuah piala kemenangan.

Pukul 02.37, aku mendengar pintu depan rumah tertutup.

Aku tetap berbaring.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Baru kemudian aku membuka mata.

Tanganku gemetar.

Tapi bukan karena takut.

Selama enam bulan terakhir, Raka memperlakukanku seolah aku hanyalah pajangan cantik di rumahnya.

Di depan teman-temannya, dia sering memperkenalkanku sambil tertawa,

“Nadira itu tidak suka urusan bisnis. Dia terlalu lembut.”

Kadang dia mengatakan aku terlalu emosional untuk memahami angka.

Terlalu percaya kepada orang.

Terlalu polos.

Raka lupa satu hal.

Sebelum menikah dengannya, aku menghabiskan dua belas tahun bekerja di bagian audit dan investigasi internal perusahaan keluargaku.

Aku pernah membongkar manipulasi laporan keuangan.

Menemukan perusahaan fiktif.

Melacak aliran dana yang disembunyikan lewat berbagai rekening.

Dan tiga minggu sebelum malam itu…

aku menemukan tanda tangan palsu pertama.

Tanda tanganku.

Ada pada dokumen pemindahan dana yang tidak pernah kusetujui.

Awalnya aku mengira itu kesalahan administrasi.

Kemudian aku menemukan dokumen kedua.

Lalu dokumen ketiga.

Setelah itu muncul rekening bank yang tidak pernah kukenal.

Uang perusahaan dialihkan sedikit demi sedikit ke sana.

Tidak cukup besar untuk langsung menarik perhatian.

Tapi terlalu teratur untuk disebut kebetulan.

Aku mengikuti jejaknya.

Dan jejak itu akhirnya membawaku kepada satu nama.

Citra Adeline.

Raka memperkenalkannya kepadaku sebagai konsultan pemasaran perusahaan.

Nama Citra juga muncul di beberapa tagihan hotel.

Restoran.

Tiket perjalanan.

Sebuah apartemen sewaan di Jakarta.

Dan yang paling menarik…

beberapa transaksi itu dibayar menggunakan kartu perusahaan yang berada di bawah tanggung jawab Raka.

Saat itulah aku berhenti menjadi istri yang ingin mendengar penjelasan.

Aku kembali menjadi auditor.

Aku tidak menuduhnya.

Tidak bertengkar.

Tidak memperlihatkan bahwa aku tahu.

Sebaliknya, aku diam-diam menemui pengacara perusahaan.

Kemudian kepala divisi kepatuhan bank.

Lalu dua komisaris independen yang sejak awal dipercaya oleh ibuku.

Kami sepakat melakukan satu hal.

Menunggu.

Karena aku tidak membutuhkan alasan dari Raka.

Aku membutuhkan bukti.

Malam ketika dia memasukkan sesuatu ke dalam tehku, akhirnya dia memberikannya sendiri.

Setelah memastikan rumah kosong, aku mengambil ponsel.

Aku memotret brankas yang sudah terbuka.

Kotak perhiasan yang kosong.

Map perusahaan yang hilang.

Aku juga mengambil foto sisa cairan di wastafel dan kemasan kecil yang kutemukan di tempat sampah dapur.

Semua foto langsung kukirim ke alamat email khusus yang dibuat oleh pengacara kami.

Aku juga menyimpan rekaman CCTV rumah dari dua jam terakhir.

Tidak ada air mata.

Belum.

Kesedihan bisa menunggu.

Bukti tidak.

Menjelang pagi aku duduk sendirian di ruang makan dengan secangkir kopi baru di depanku.

Di kursi seberang, biasanya Raka duduk membaca berita sambil mengeluhkan betapa sulitnya pekerjaannya.

Sekarang kursi itu kosong.

Aneh.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, rumah itu terasa tenang.

Pukul 05.46, ponselku berbunyi.

Pesan dari Raka.

Sebuah foto muncul.

Aku mengenali latarnya.

Bandara Soekarno-Hatta.

Raka berdiri di dekat area keberangkatan internasional sambil tersenyum lebar.

Di sebelahnya ada Citra.

Tangannya melingkar di lengan suamiku.

Namun bukan itu yang membuat pandanganku berhenti.

Di pergelangan tangan Citra…

ada gelang berlian milik ibuku.

Perempuan itu mengenakannya sambil tersenyum ke kamera.

Seolah benda itu sudah menjadi miliknya.

Kemudian aku membaca pesan di bawah foto.

“Selamat tinggal, perempuan tak berguna. Besok pagi, tidak akan ada apa pun yang tersisa untukmu.”

Aku menatap layar cukup lama.

Anehnya, aku tidak marah.

Tidak menangis.

Detak jantungku justru perlahan menjadi stabil.

Raka pasti sedang membayangkan aku masih terbaring tidak sadar.

Beberapa jam lagi, menurut rencananya, aku akan bangun.

Menemukan brankas kosong.

Menemukan suamiku pergi.

Kemudian mengetahui rekening-rekening perusahaan sudah dikuras.

Setidaknya…

itulah yang dia pikir akan terjadi.

Aku membuka kolom balasan.

Mengetik empat kata.

Lalu menekan kirim.

“Semua rekening sudah dibekukan.”

Pesanku terkirim.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Ponselku langsung berdering.

Nama RAKA memenuhi layar.

Aku membiarkannya berdering.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Kemudian masuk pesan baru.

“Apa maksudmu?”

Aku tersenyum tipis.

Beberapa detik kemudian telepon masuk lagi.

Kali ini aku mengangkatnya.

“Nadira!”

Suara Raka tidak lagi terdengar seperti pria yang beberapa jam sebelumnya mencium keningku dengan penuh kemenangan.

Dia terdengar panik.

“Kamu sudah bangun?”

Aku melihat cahaya pagi mulai masuk melalui jendela ruang makan.

“Tidak pernah tidur.”

Di ujung telepon…

hening.

Kemudian terdengar suara Citra.

“Ada apa?”

Raka tidak menjawabnya.

Dia hanya berkata kepadaku dengan suara lebih pelan,

“Kamu bilang rekening dibekukan. Rekening yang mana?”

Aku menatap salinan dokumen yang tergeletak di meja.

“Yang kamu tahu.”

Aku berhenti sebentar.

“Dan beberapa yang kamu kira tidak kuketahui.”

Napasnya berubah berat.

“Nadira, dengarkan aku. Kita bisa membicarakan ini.”

Aku hampir tertawa.

Beberapa menit sebelumnya aku masih perempuan tak berguna.

Sekarang tiba-tiba kami harus berbicara.

“Aku setuju,” kataku tenang.

“Banyak yang memang perlu dibicarakan.”

Raka mengembuskan napas lega.

Terlalu cepat.

Karena aku belum selesai.

“Tapi bukan denganku.”

“Apa?”

Aku menatap layar laptop.

Sebuah email baru masuk dari pengacara perusahaan.

Subjeknya hanya tiga kata:

TINDAKAN HUKUM DIMULAI.

Aku kembali menempelkan ponsel ke telinga.

“Pengacara perusahaan sedang menunggumu.”

Aku berhenti.

“Dan, Raka?”

“Apa?”

“Jangan sampai Citra melepas gelang itu.”

Suaranya langsung berubah.

“Kenapa?”

Aku memandang foto yang baru saja dia kirim sendiri kepadaku.

“Karena foto yang kalian kirim barusan adalah bukti terbaik yang kuterima pagi ini.”

Untuk pertama kalinya sejak menikah dengannya…

Raka tidak punya jawaban.

Dan pagi itu baru saja dimulai.

Telepon itu terputus.

Aku masih memegang ponsel di telinga selama beberapa detik, mendengarkan keheningan yang tersisa setelah suara Raka menghilang.

Di luar jendela, langit Jakarta mulai berubah warna.

Aku seharusnya merasa menang.

Lelaki yang selama berbulan-bulan membohongiku akhirnya terpojok. Rekening yang hendak dia kuras sudah dibekukan. Dokumen-dokumen telah diamankan. Foto dirinya bersama Citra bahkan menjadi bukti yang dia kirimkan sendiri.

Namun anehnya, yang kurasakan bukan kemenangan.

Aku hanya merasa lelah.

Lalu ponselku berbunyi lagi.

Bukan Raka.

Pak Surya — Pengacara Keluarga.

“Nadira,” katanya begitu aku mengangkat telepon, “ada sesuatu yang harus kamu lihat sebelum kita mengambil langkah berikutnya.”

“Apa?”

“Map Mahardika Group yang dibawa Raka.”

Aku langsung berdiri.

“Dia mencurinya dari brankas.”

“Tidak.”

Jawaban Pak Surya membuatku terdiam.

“Maksud Bapak?”

“Map yang dibawa Raka bukan dokumen asli.”

Aku menatap brankas yang terbuka di lantai atas.

“Apa?”

“Dokumen asli sudah dipindahkan tiga minggu lalu, setelah kamu memberi tahu saya tentang tanda tangan palsu itu.”

Aku mengingat pertemuan kami.

Benar.

Pak Surya pernah meminta akses ke dokumen perusahaan, tetapi aku tidak tahu dia memindahkan semuanya.

“Lalu apa isi map yang dibawa Raka?”

Di ujung telepon terdengar helaan napas panjang.

“Itulah alasan saya menelepon.”


Satu jam kemudian, aku tiba di kantor pusat Mahardika Group di kawasan Kuningan.

Gedung masih sepi.

Hanya beberapa petugas keamanan dan staf pagi yang sudah datang.

Pak Surya menungguku di ruang rapat lantai dua puluh satu.

Bersamanya ada Pak Bima, komisaris independen yang sudah bekerja bersama ibuku hampir dua puluh tahun.

Begitu aku masuk, keduanya tidak tersenyum.

Pak Surya mendorong sebuah tablet ke arahku.

“Lihat ini.”

Di layar terdapat salinan isi map yang dibawa Raka.

Halaman pertama tampak seperti surat kuasa.

Namaku tercetak di sana.

Di bawahnya ada tanda tangan yang sangat mirip dengan tanda tanganku.

Isinya menyatakan bahwa aku memberikan kewenangan penuh kepada Raka untuk mengendalikan sebagian aset Mahardika Group jika aku dianggap tidak mampu menjalankan tugas.

Aku mengangkat kepala.

“Ini palsu.”

“Kami tahu.”

Pak Surya menggeser halaman berikutnya.

Ada surat keterangan medis.

Nama dokter.

Stempel klinik.

Pernyataan bahwa aku mengalami gangguan kecemasan berat dan dianggap tidak stabil untuk membuat keputusan keuangan besar.

Aku hampir tertawa karena begitu tidak masuk akalnya.

Lalu aku melihat tanggalnya.

Enam bulan lalu.

Saat Raka mulai mengatakan kepada semua orang bahwa aku “terlalu emosional”.

Aku merasakan dingin menjalar di punggung.

“Dia bukan sekadar mencuri uang.”

Pak Bima mengangguk.

“Dia sedang membangun cerita bahwa kamu tidak kompeten.”

Semua potongan itu tiba-tiba menyatu.

Raka mengatakan aku pelupa.

Raka mengambil alih jadwal rapat.

Raka menjawab email atas namaku.

Raka berkali-kali mengatakan di depan keluarga bahwa aku terlalu stres setelah kematian ibu.

Aku mengira itu hanya cara seorang suami merendahkan istrinya.

Ternyata bukan.

Dia sedang menciptakan saksi.

Sedikit demi sedikit.

Jika rencananya berhasil, dia tidak hanya akan mengambil uang.

Dia akan mengambil kendali perusahaan.

Dan membuat semua orang percaya aku tidak cukup sehat untuk mempertahankannya.

“Tapi kenapa dia membawa dokumen palsu itu?” tanyaku.

Pak Surya menjawab pelan.

“Karena dia mengira dokumen itu asli.”

Aku menatapnya.

“Apa maksud Bapak?”

Pak Surya membuka laci meja.

Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tua.

Di sudutnya tertulis dengan tulisan tangan yang langsung kukenal.

Tulisan ibuku.

UNTUK NADIRA — JIKA SUATU HARI KAMU MERAGUKAN ORANG YANG TIDUR DI SAMPINGMU.

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

Aku menatap Pak Surya.

“Ini tulisan Ibu.”

“Iya.”

“Kapan beliau menulisnya?”

“Empat tahun lalu.”

Sebelum aku menikah dengan Raka.

Tanganku mulai gemetar.

Pak Surya mendorong amplop itu kepadaku.

“Ibumu sudah mencurigainya.”


Aku tidak langsung membukanya.

Selama beberapa menit aku hanya menatap tulisan itu.

Ibuku, Ratih Mahardika, bukan perempuan yang mudah mempercayai orang.

Namun terhadap Raka, beliau selalu bersikap sopan.

Bahkan ketika aku mengumumkan akan menikah dengannya, Ibu tidak pernah melarang.

Aku mengira beliau menyukainya.

Ternyata aku salah.

Aku membuka amplop.

Di dalamnya ada surat empat halaman.

Tulisan tangan.

Aku mulai membaca.

Nadira,

kalau kamu membaca surat ini, berarti ketakutan Ibu mungkin benar.

Air mataku langsung memenuhi mata.

Aku melanjutkan.

Ibu tidak pernah ingin memilihkan suami untukmu. Hidupmu milikmu. Cintamu juga milikmu. Tapi ada satu hal yang Ibu pelajari setelah membangun perusahaan selama tiga puluh tahun: orang yang menginginkan uangmu akan memuji kekuatanmu. Orang yang menginginkan kendali atas dirimu akan perlahan membuatmu meragukan kekuatan itu.

Aku berhenti membaca.

Kalimat itu terasa seperti pisau.

Itulah tepatnya yang dilakukan Raka.

Surat itu menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelum pernikahan kami, Raka pernah diam-diam bertanya kepada staf legal tentang struktur saham Mahardika Group.

Dia juga pernah mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada sahamku jika aku meninggal atau dianggap tidak mampu mengelola perusahaan.

Ibuku mengetahui semuanya.

Namun beliau tidak memberitahuku.

Sebaliknya, beliau membuat perlindungan hukum.

Semua saham utama milikku ditempatkan dalam struktur yang tidak dapat dialihkan kepada pasangan melalui surat kuasa biasa.

Setiap perubahan kendali membutuhkan persetujuan tiga pihak independen.

Pak Surya.

Pak Bima.

Dan satu orang lagi yang namanya tidak tertulis di surat itu.

Aku menatap Pak Surya.

“Siapa orang ketiga?”

Dia tidak langsung menjawab.

Pak Bima menunduk.

Ada sesuatu di wajah mereka yang membuatku semakin gelisah.

“Siapa?”

Pak Surya akhirnya berkata,

“Adikmu.”

Aku tertawa kecil karena mengira salah dengar.

“Aku tidak punya adik.”

Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.

Pak Surya menatapku.

“Nadira… kamu punya.”


Namanya Alya Mahardika.

Usianya dua puluh sembilan tahun.

Dan selama hampir tiga puluh tahun, aku tidak pernah tahu dia ada.

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser ke belakang.

“Tidak mungkin.”

Pak Surya tidak mencoba menghentikanku.

Dia hanya mengeluarkan satu foto lama.

Ibuku masih muda di foto itu.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan yang sangat mirip dengannya.

Perempuan itu menggendong bayi.

“Siapa dia?”

“Adik ibumu. Tante Laras.”

Aku pernah mendengar namanya.

Sangat sedikit.

Laras meninggal ketika aku masih kecil.

Setidaknya itu yang selama ini kuketahui.

Pak Surya kemudian menjelaskan sesuatu yang mengubah semua kenanganku tentang keluarga.

Alya bukan anak kandung ibuku.

Dia adalah anak Laras.

Setelah Laras meninggal karena komplikasi kesehatan ketika Alya masih bayi, keluarga besar mengalami konflik mengenai warisan.

Kakekku ingin membawa Alya dan membesarkannya.

Namun ada perebutan aset yang sangat buruk.

Ibuku takut Alya akan tumbuh menjadi alat dalam perang keluarga.

Maka Alya diasuh oleh keluarga dekat Laras di Yogyakarta, jauh dari bisnis Mahardika.

Secara hukum, bagian warisan Alya tetap dilindungi.

Ibuku membiayai pendidikan dan kehidupannya secara diam-diam.

“Kenapa aku tidak pernah diberi tahu?”

Pak Surya menjawab dengan suara berat.

“Karena ibumu ingin memberitahumu sendiri.”

“Tapi beliau meninggal.”

“Iya.”

Aku memejamkan mata.

Tiba-tiba aku merasa marah.

Kepada Ibu.

Kepada rahasia.

Kepada semua orang yang memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh kuketahui.

“Dan sekarang kalian memberi tahu aku karena Raka?”

“Bukan.”

Pak Bima akhirnya bicara.

“Alya yang meminta.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Pintu ruang rapat terbuka.

Seorang perempuan berdiri di sana.

Rambut hitam sebahu.

Kemeja putih sederhana.

Matanya…

Aku mengenali mata itu.

Mata ibuku.

Perempuan itu tidak mendekat.

Dia hanya berkata,

“Halo, Mbak Nadira.”

Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, pertahananku runtuh.


Aku tidak tahu bagaimana seharusnya menyambut seseorang yang baru kuketahui sebagai keluarga.

Memeluknya?

Marah?

Menangis?

Alya menyelamatkanku dari keputusan itu.

Dia duduk di kursi seberang.

“Aku tahu tentang Mbak sejak kecil,” katanya.

“Jadi cuma aku yang dibohongi?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Alya menunduk.

“Tante Ratih ingin memberi tahu setelah aku selesai kuliah. Tapi waktu itu aku yang menolak.”

Aku terdiam.

“Kenapa?”

“Karena aku melihat kehidupan Mbak dari jauh.”

Dia tersenyum sedih.

“Foto di majalah bisnis. Berita perusahaan. Pernikahan besar. Semua orang melihat Mbak sebagai penerus keluarga. Aku tidak mau tiba-tiba datang dan membuat Mbak berpikir aku mengincar bagian perusahaan.”

Kalimat itu menyakitkan karena begitu berbeda dari Raka.

Orang yang menikah denganku diam-diam menginginkan semuanya.

Sementara seseorang yang benar-benar keluargaku menjauh karena takut dianggap menginginkan sesuatu.

Alya kemudian mengeluarkan ponselnya.

“Aku juga punya sesuatu tentang Raka.”

Dia membuka sebuah rekaman suara.

Suara Raka terdengar jelas.

“Begitu Nadira dianggap tidak mampu, struktur perusahaan akan berubah. Yang penting orang ketiga itu tanda tangan.”

Kemudian suara Citra.

“Kalau dia menolak?”

Raka tertawa.

“Semua orang punya harga.”

Rekaman berhenti.

Aku menatap Alya.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Raka menghubungiku dua bulan lalu.”

Darahku terasa dingin.

“Dia tahu siapa kamu?”

“Dia menemukanku lebih dulu daripada Mbak.”

Ternyata itulah alasan Raka pergi begitu percaya diri.

Dia yakin telah menguasai pihak ketiga.

Dia menawarkan Alya uang dalam jumlah besar agar menandatangani dokumen perubahan kendali.

Alya berpura-pura setuju.

Kemudian menghubungi Pak Surya.

Sejak saat itu, jebakan dibuat.

Map yang ditempatkan di brankas rumahku sengaja berisi salinan dokumen yang sudah ditandai.

Rekening yang hendak digunakan Raka sudah dipantau.

Dan Alya merekam setiap percakapan dengannya.

Aku menatap ketiga orang di ruangan itu.

“Jadi kalian semua tahu dia akan mencoba sesuatu?”

Pak Surya mengangguk.

“Kami menduga.”

“Kenapa tidak memberitahuku?”

“Karena kamu sendiri meminta kami tidak menghentikannya sampai ada bukti kuat.”

Aku terdiam.

Benar.

Itu keputusanku.

Aku hanya tidak tahu seberapa besar jebakan yang sedang dipasang.


Sekitar pukul sembilan pagi, Raka kembali menelepon.

Kali ini aku mengangkatnya di depan Pak Surya.

“Nadira, aku akan pulang.”

“Kupikir kamu mau pergi.”

“Aku melakukan kesalahan.”

Aku hampir tersenyum.

Kesalahan.

Begitulah orang menyebut pengkhianatan ketika konsekuensinya akhirnya datang.

“Citra yang merencanakan semuanya,” katanya cepat. “Dia memanipulasiku.”

Dari seberang meja, Alya memutar mata.

Aku berkata, “Termasuk memasukkan sesuatu ke tehku?”

Sunyi.

“Aku cuma ingin kamu tidur supaya kita tidak bertengkar.”

“Dan gelang ibuku?”

“Citra mengambilnya.”

“Foto itu?”

“Nadira—”

“Dan dokumen palsu?”

Dia diam.

Aku membiarkan keheningan menghukumnya.

Akhirnya Raka berbisik,

“Aku bisa mengembalikan semuanya.”

“Tidak.”

“Aku suamimu.”

“Tidak untuk waktu lama.”

Nada suaranya berubah.

“Nadira, jangan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali.”

Untuk pertama kalinya aku mendengar Raka yang sebenarnya.

Bukan suami lembut.

Bukan pria panik.

Pria yang marah karena kehilangan kendali.

Aku menjawab,

“Aku sudah melakukan sesuatu yang kusesali.”

“Apa?”

“Menikah denganmu.”

Lalu kututup telepon.


Raka dan Citra tidak pernah naik pesawat pagi itu.

Karena transaksi mencurigakan yang sebelumnya sudah dilaporkan membuat rekening terkait diperiksa, perjalanan mereka berubah menjadi rangkaian pemeriksaan dan proses hukum yang panjang.

Aku tidak menyaksikan ketika Raka dimintai keterangan.

Aku juga tidak ingin.

Selama berbulan-bulan setelahnya, kasus itu bergerak melalui jalurnya sendiri.

Audit menemukan aliran dana jauh lebih besar daripada yang kuketahui.

Ada perusahaan cangkang.

Tagihan fiktif.

Kontrak palsu.

Dan beberapa transfer yang dilakukan melalui orang-orang yang bahkan tidak pernah kukenal.

Citra ternyata bukan sekadar selingkuhan.

Dia membantu mengatur sebagian transaksi.

Namun kejutan terbesar muncul ketika penyelidikan terhadap Citra selesai.

Dia menyerahkan bukti bahwa Raka sudah merencanakan semuanya bahkan sebelum menikah denganku.

Aku membaca pesan pertama mereka.

Tanggalnya…

tiga minggu sebelum pernikahanku.

Raka: Setelah menikah, beri aku dua tahun.

Citra: Lalu?

Raka: Lalu kita tidak perlu bekerja lagi seumur hidup.

Aku tidak menangis ketika membacanya.

Aku sudah kehabisan air mata untuk Raka.

Yang membuatku menangis justru sesuatu yang terjadi beberapa hari kemudian.


Alya datang ke rumahku membawa sebuah kotak kayu kecil.

“Kemarin aku pulang ke Yogyakarta,” katanya.

“Ada barang Tante Ratih yang dititipkan kepadaku.”

Dia membuka kotak itu.

Di dalamnya ada puluhan surat.

Semua ditulis ibuku.

Tidak pernah dikirim.

Satu surat untuk setiap ulang tahunku selama beberapa tahun terakhir.

Tanganku gemetar saat mengambil yang paling atas.

Untuk Nadira, ulang tahun ke-32.

Aku membuka surat itu.

Di bagian akhir, Ibu menulis:

Kalau suatu hari Ibu tidak ada, jangan ukur keluarga dari siapa yang tinggal paling dekat denganmu. Kadang orang yang paling dekat justru bisa menyakitimu. Dan kadang keluarga yang belum pernah kamu peluk sedang mencintaimu dari kejauhan.

Aku berhenti membaca.

Alya juga menangis.

Aku menatap perempuan yang beberapa minggu sebelumnya bahkan tidak kuketahui keberadaannya.

“Kenapa Ibu menitipkan surat-suratku kepadamu?”

Alya mengusap pipinya.

“Karena Tante Ratih bilang kalau sesuatu terjadi sebelum beliau sempat mempertemukan kita… aku harus menjadi orang yang mengantarkannya.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku berdiri.

Lalu untuk pertama kalinya…

aku memeluk Alya.

Dia membeku sebentar.

Kemudian memelukku kembali.

Dan entah kenapa, di situlah aku akhirnya menangis untuk semuanya.

Bukan untuk uang.

Bukan untuk perusahaan.

Bahkan bukan untuk pernikahanku.

Aku menangisi ibuku.

Waktu yang hilang.

Keluarga yang nyaris tidak pernah kutemukan.

Dan diriku sendiri—perempuan yang selama bertahun-tahun mengira menjadi kuat berarti tidak membutuhkan siapa pun.


Enam bulan kemudian, perceraianku dengan Raka selesai.

Aku tidak mengambil kembali gelang ibuku untuk menyimpannya di brankas.

Aku membawanya ke Yogyakarta.

Aku dan Alya pergi ke makam ibu bersama.

Pagi itu udara sejuk.

Kami duduk cukup lama tanpa bicara.

Kemudian aku mengeluarkan gelang berlian itu.

Alya menatapku.

“Mbak mau melakukan apa?”

Aku membuka pengaitnya.

Lalu memasangkan gelang itu ke pergelangan tangannya.

Alya langsung menarik tangannya.

“Tidak. Ini punya Mbak.”

“Bukan.”

Aku tersenyum.

“Ini milik keluarga.”

Matanya berkaca-kaca.

“Tapi Tante Ratih memberikannya kepada Mbak.”

“Dan sekarang aku memberikannya kepadamu.”

Dia menggeleng keras.

Aku memegang tangannya.

“Raka memakai gelang ini sebagai simbol bahwa dia sudah mengambil semuanya dariku.”

Aku melihat berlian itu berkilau terkena cahaya pagi.

“Dia salah.”

Aku menatap Alya.

“Karena malam ketika dia mencoba mengambil semuanya… justru menjadi malam ketika aku menemukan sesuatu yang bahkan tidak kuketahui telah hilang.”

“Keluarga.”

Alya akhirnya menangis.

Kami tertawa di antara air mata.

Sebelum pulang, aku meletakkan surat terakhir Ibu di dekat makamnya.

Bukan karena aku ingin meninggalkannya.

Aku sudah menghafal kalimat terakhirnya.

Nadira, jangan takut kehilangan orang yang hanya mencintaimu ketika mereka bisa mendapatkan sesuatu darimu. Kehilangan seperti itu bukan kehancuran. Kadang itu adalah cara hidup mengembalikanmu kepada orang-orang yang mencintaimu tanpa meminta apa pun.

Malam ketika Raka meninggalkan rumah, dia berbisik,

“Kasihan, Nadira. Kamu tidak pernah melihatnya datang.”

Dia benar tentang satu hal.

Aku memang tidak melihat semuanya datang.

Aku melihat pengkhianatannya.

Aku melihat uang yang dicuri.

Aku melihat kebohongannya.

Tapi aku tidak melihat Alya datang.

Aku tidak melihat surat-surat Ibu.

Aku tidak melihat bahwa di balik malam paling buruk dalam hidupku, ada sebuah pintu menuju sesuatu yang selama ini tidak pernah kumiliki.

Kesempatan kedua untuk memiliki keluarga.

Setahun kemudian, Alya bergabung dengan Mahardika Group.

Bukan sebagai pemegang saham bayangan.

Bukan sebagai pewaris rahasia.

Dia masuk melalui proses yang sama seperti karyawan lain dan memilih bekerja di divisi sosial perusahaan.

Ketika kutanya kenapa tidak memilih posisi yang lebih tinggi, dia tertawa.

“Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu mengejar kehidupan yang bukan milikku. Aku cuma mau melakukan sesuatu yang membuatku bisa tidur nyenyak.”

Aku tertawa.

“Mirip Ibu.”

“Katanya Mbak yang paling mirip Tante Ratih.”

“Mungkin kita berdua.”

Hari itu kami memasang foto lama Ibu di ruang kerjaku.

Di bawah foto itu tidak ada nama jabatan.

Tidak ada nilai perusahaan.

Tidak ada jumlah saham.

Hanya satu kalimat yang kutulis sendiri:

Yang paling berharga bukan apa yang bisa diwariskan kepada kita, tetapi siapa yang masih berdiri di samping kita ketika warisan itu tidak lagi berarti apa-apa.

Kadang aku masih memikirkan malam pukul dua dini hari itu.

Raka meninggalkan rumah sambil membawa koper, uang, dokumen palsu, dan gelang ibuku.

Dia yakin sedang mencuri masa depanku.

Padahal tanpa sadar…

dia sedang membuka pintu menuju masa depan yang jauh lebih baik.

Karena pada akhirnya, Raka memang berhasil mengambil sesuatu dariku.

Dia mengambil satu kebohongan besar yang selama bertahun-tahun kusebut pernikahan.

Dan sebagai gantinya…

aku mendapatkan kembali diriku sendiri.

Aku mendapatkan kebenaran tentang ibuku.

Aku mendapatkan seorang adik.

Dan akhirnya aku mengerti sesuatu yang dulu tidak pernah kupahami:

Tidak semua kehilangan membuat hidup kita lebih kosong.

Ada kehilangan yang justru menyediakan ruang agar sesuatu yang lebih tulus akhirnya bisa pulang.