SAAT HAMIL DELAPAN BULAN, AKU MEMOHON SUAMIKU MENEPi KARENA PERUTKU SAKIT HEBAT—DIA MALAH MENARIKKU KELUAR, MENUDUHKU BERBOHONG, DAN MENINGGALKANKU DI PINGGIR JALAN. MALAM ITU, SAAT DIA PULANG, DIA BARU TAHU AKU DIRAWAT DARURAT… DAN AYAHKU SUDAH MENGGANTI SEMUA KUNCI RUMAH.

Avatar penulis
Cerita 04
18 menit baca 250 tayangan
SAAT HAMIL DELAPAN BULAN, AKU MEMOHON SUAMIKU MENEPi KARENA PERUTKU SAKIT HEBAT—DIA MALAH MENARIKKU KELUAR, MENUDUHKU BERBOHONG, DAN MENINGGALKANKU DI PINGGIR JALAN. MALAM ITU, SAAT DIA PULANG, DIA BARU TAHU AKU DIRAWAT DARURAT… DAN AYAHKU SUDAH MENGGANTI SEMUA KUNCI RUMAH.
Indeks

SAAT HAMIL DELAPAN BULAN, AKU MEMOHON SUAMIKU MENEPi KARENA PERUTKU SAKIT HEBAT—DIA MALAH MENARIKKU KELUAR, MENUDUHKU BERBOHONG, DAN MENINGGALKANKU DI PINGGIR JALAN. MALAM ITU, SAAT DIA PULANG, DIA BARU TAHU AKU DIRAWAT DARURAT… DAN AYAHKU SUDAH MENGGANTI SEMUA KUNCI RUMAH.

Rasa sakit itu datang begitu hebat sampai aku berteriak memanggil namanya tanpa sadar.

Aku sedang hamil delapan bulan, gemetar di kursi penumpang, ketika aku memohon kepada suamiku untuk menepi.

Lima menit kemudian, dia meninggalkanku sendirian di pinggir jalan.

“Raka, tolong…”

SAAT HAMIL DELAPAN BULAN, AKU MEMOHON SUAMIKU MENEPi KARENA PERUTKU SAKIT HEBAT—DIA MALAH MENARIKKU KELUAR, MENUDUHKU BERBOHONG, DAN MENINGGALKANKU DI PINGGIR JALAN. MALAM ITU, SAAT DIA PULANG, DIA BARU TAHU AKU DIRAWAT DARURAT… DAN AYAHKU SUDAH MENGGANTI SEMUA KUNCI RUMAH.

Aku menekan kedua tangan ke bagian bawah perutku saat rasa sakit lain mencengkeram tubuhku.

“Ada yang tidak beres. Aku sulit bernapas.”

Raka tetap mengemudi.

Rahangnya mengeras seolah rasa sakitku hanyalah gangguan kecil yang membuatnya terlambat.

“Kita sudah telat.”

“Aku tidak peduli soal makan malam.”

Malam itu kami seharusnya menghadiri makan malam keluarga di sebuah restoran mahal di kawasan Senopati, Jakarta Selatan.

Ibunya, Bu Ratih, sudah mengundang banyak anggota keluarga untuk merayakan promosi Raka menjadi kepala divisi di perusahaan tempatnya bekerja.

Sejak beberapa hari sebelumnya, Bu Ratih terus mengingatkan bahwa acara itu harus sempurna.

Semua orang harus hadir.

Termasuk aku.

Meski aku sedang hamil delapan bulan.

Rasa sakit kembali menusuk perutku.

Kali ini jauh lebih kuat.

Aku membungkuk sambil mencengkeram sabuk pengaman.

“Raka!”

Dia hanya melirik.

“Menepi! Tolong menepi sekarang!”

Raka menginjak rem dengan keras.

Mobil berhenti di bahu jalan.

Untuk satu detik, aku merasa lega.

Kupikir akhirnya dia sadar aku benar-benar membutuhkan pertolongan.

Ternyata aku salah.

Raka membuka pintunya, turun, berjalan mengitari SUV kami, lalu membuka pintu di sisiku.

Tangannya langsung mencengkeram lenganku.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Kamu mau bikin drama?” bentaknya. “Silakan. Tapi jangan di mobilku.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Raka…”

Dia menarikku turun.

Kakiku hampir kehilangan keseimbangan saat sandal yang kupakai menginjak kerikil di bahu jalan.

Aku langsung memegang perutku.

“Raka, aku hamil.”

Dia menatapku dengan wajah penuh kesal.

“Kamu sudah memakai alasan itu berbulan-bulan.”

Aku membeku.

“Alasan?”

“Sejak hamil, semuanya selalu soal kamu.”

“Perutku sakit sekali.”

“Kamu cuma tidak mau datang ke acara Mama.”

Aku menatap wajah pria yang sudah menjadi suamiku selama hampir empat tahun.

“Apa?”

“Kamu tidak suka Mama. Sekarang kamu pura-pura sakit supaya kita batal datang.”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Raka, dengarkan aku.”

Aku berusaha berdiri tegak meskipun rasa sakit kembali datang.

“Aku takut sesuatu terjadi pada bayi kita.”

Dia mengembuskan napas panjang.

Seolah aku yang sedang membuat masalah.

Kemudian dia kembali masuk ke mobil.

Aku membeku.

“Raka?”

Pintu mobil tertutup.

Mesin masih menyala.

Aku berjalan tertatih menuju jendela pengemudi dan mengetukkan telapak tanganku ke kaca.

“Raka!”

Dia menurunkan kaca sedikit.

“Aku sudah muak dengan dramamu, Maya.”

“Jangan tinggalkan aku di sini.”

Suaraku pecah.

“Tolong.”

Dia menatap langsung ke mataku.

Tidak ada rasa khawatir.

Tidak ada rasa bersalah.

Lalu dia menaikkan kaca.

Mobil mulai bergerak.

Aku mengetuk jendela lagi.

“Raka!”

SUV itu masuk kembali ke jalan.

Aku hanya bisa berdiri dan melihat lampu belakangnya semakin jauh.

Kemudian menghilang.

Mobil dan truk melaju cepat beberapa meter dariku.

Angin dari kendaraan yang lewat menerpa tubuhku.

Aku memegang perut dengan kedua tangan.

Ketakutan paling buruk mulai memenuhi pikiranku.

Bagaimana kalau bayiku lahir sekarang?

Bagaimana kalau ada sesuatu yang salah?

Bagaimana kalau rasa hangat berikutnya yang kurasakan adalah darah?

Dengan tangan gemetar, aku mengambil ponsel dan menghubungi layanan darurat.

Aku bahkan hampir tidak mampu menjelaskan apa yang terjadi.

Aku hanya terus mengulang satu kalimat.

“Aku hamil delapan bulan… perutku sakit… dan aku sendirian.”


Ketika akhirnya aku tiba di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, semuanya bergerak begitu cepat.

Kursi roda.

Perawat.

Monitor.

Infus.

Dokter datang dan pergi.

Seorang perawat memasang alat pemantau di perutku.

Aku hanya bisa menatap layar sambil mendengarkan detak jantung bayi.

Seorang dokter kandungan bernama dr. Arif Pranoto berdiri di samping tempat tidur sambil membaca hasil pemeriksaan.

Wajahnya serius.

“Bu Maya, Anda mengalami kontraksi prematur.”

Darahku terasa dingin.

“Apa?”

“Kami juga melihat beberapa tanda yang membuat kami perlu mengawasi kemungkinan komplikasi pada plasenta.”

Aku menatapnya.

“Bayi saya bagaimana, Dok?”

“Kami sedang berusaha menstabilkan kondisi Anda dan bayi.”

“Dia baik-baik saja?”

“Detak jantungnya masih kami pantau. Untuk sekarang, Anda harus mencoba tetap tenang.”

Tetap tenang.

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Suamiku baru saja meninggalkanku sendirian di pinggir jalan saat aku mengalami kontraksi.

Sekarang dokter mengatakan bahwa bayiku mungkin dalam bahaya.

Air mataku mulai mengalir.

Bukan hanya karena sakit.

Bukan hanya karena takut.

Tapi karena satu kenyataan akhirnya menghantamku.

Aku sudah memohon kepada suamiku.

Dia melihatku kesakitan.

Dia mendengar ketakutanku.

Dia tahu aku sedang membawa anaknya.

Dan tetap memilih meninggalkanku.

Seolah aku tidak berarti apa-apa.

Seolah bayi kami juga tidak berarti apa-apa.


Sekitar empat puluh menit kemudian, pintu kamar terbuka.

Ayahku masuk.

Namanya Bambang Santoso.

Usianya enam puluh dua tahun.

Rambutnya sudah banyak beruban.

Ayah bukan tipe orang yang gampang marah.

Seumur hidupku, mungkin hanya beberapa kali aku mendengar suaranya meninggi.

Dia selalu percaya bahwa masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin.

Tapi malam itu…

Begitu melihatku terbaring dengan infus di tangan dan alat monitor menempel di perut…

Wajahnya berubah.

Dia berjalan cepat mendekat.

“Maya.”

“Ayah…”

Dia menggenggam tanganku.

“Kondisimu bagaimana?”

“Dokter masih memantau.”

“Bayinya?”

“Masih dipantau juga.”

Ayah mengangguk.

Kemudian matanya melihat sekeliling ruangan.

“Raka mana?”

Aku tidak langsung menjawab.

Ayah menatapku.

“Maya.”

Aku menelan ludah.

“Dia tidak di sini.”

“Kenapa?”

Air mataku kembali jatuh.

“Dia meninggalkanku di pinggir jalan.”

Ayah menjadi diam.

Benar-benar diam.

Tidak membentak.

Tidak memaki.

Tidak menunjukkan kemarahan.

Dan justru itulah yang membuatku lebih takut.

Ayah menarik kursi.

Dia duduk di samping tempat tidurku dan menggenggam tanganku lebih erat.

Beberapa detik berlalu.

Lalu dia bertanya dengan sangat tenang,

“Maya, dengarkan Ayah baik-baik.”

Aku menatapnya.

“Rumah di Bintaro itu atas namamu, benar?”

Aku mengerutkan kening.

“Rumah?”

“Rumah tempat kamu dan Raka tinggal.”

“Iya.”

“Itu warisan dari Nenek sebelum kamu menikah?”

Aku mengangguk.

Nenekku meninggalkan rumah dua lantai di kawasan Bintaro kepadaku beberapa tahun sebelum aku menikah dengan Raka.

Setelah menikah, kami merenovasinya bersama.

Tapi kepemilikannya tidak pernah berubah.

Ayah melanjutkan.

“Nama Raka pernah dimasukkan ke sertifikat?”

“Tidak.”

“Pernah dibuat atas nama kalian berdua?”

“Tidak.”

“Yakin?”

“Iya, Yah. Sertifikatnya masih atas namaku.”

Ayah mengangguk pelan.

Tatapannya berubah.

Tidak ada kemarahan meledak-ledak.

Tidak ada ancaman.

Hanya ketenangan yang terasa sangat dingin.

“Bagus.”

Aku menatapnya bingung.

“Ayah…”

Dia berdiri.

Merapikan lengan kemejanya.

Lalu mengambil ponsel dari saku.

“Ayah mau ke mana?”

Dia menatapku.

“Memastikan kamu punya rumah yang aman untuk pulang bersama cucu Ayah.”

Dadaku berdebar.

“Ayah, jangan lakukan sesuatu yang—”

“Tenang.”

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke kamar, senyum kecil muncul di wajahnya.

Tapi itu bukan senyum ramah.

“Raka sendiri yang membuat pilihannya.”

Ayah berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, dia berhenti dan menoleh kepadaku.

“Dia meninggalkan istrinya yang sedang hamil delapan bulan di pinggir jalan.”

Tangannya menyentuh gagang pintu.

“Sekarang dia akan belajar rasanya pulang ke rumah yang bukan miliknya.”

Pintu tertutup.

Aku berbaring diam sambil mendengarkan suara monitor bayi di sampingku.

Untuk pertama kalinya malam itu, di balik ketakutan dan rasa sakit…

Ada sesuatu yang berubah dalam diriku.

Selama berbulan-bulan, Raka membuatku percaya bahwa karena aku sedang hamil, aku membutuhkan dirinya.

Bahwa aku terlalu lemah untuk melawan.

Bahwa aku tidak punya pilihan selain menerima semua perkataannya.

Malam itu dia bahkan cukup yakin untuk meninggalkanku seorang diri di jalan.

Karena dia pikir aku terjebak.

Tapi Raka melupakan satu hal penting.

Rumah yang setiap malam dia pulangi…

Bukan miliknya.

Dan ketika dia akhirnya kembali dari makan malam bersama ibunya malam itu…

Ayahku sudah mengganti semua kuncinya.

BAGIAN 2 — RAKA PULANG MENJELANG TENGAH MALAM DAN MENEMUKAN KUNCI RUMAHNYA TIDAK LAGI BERFUNGSI. DIA MENGIRA AKU SEDANG MENGANCAMNYA—SAMPAI AYAHKU MEMBUKA PINTU DAN MENUNJUKKAN SATU HAL YANG MEMBUAT WAJAHNYA LANGSUNG PUCAT.

Raka pulang hampir pukul sebelas malam.

Aku tahu karena Ayah menceritakannya kepadaku keesokan paginya.

Katanya, sebuah SUV hitam berhenti di depan rumah di Bintaro.

Raka keluar masih mengenakan kemeja putih yang dipakainya untuk makan malam.

Jasnya sudah tidak ada.

Dasi dilepas.

Wajahnya terlihat lelah, tapi tidak seperti seseorang yang baru saja meninggalkan istrinya yang sedang hamil delapan bulan di pinggir jalan.

Dia berjalan ke pintu utama seperti biasa.

Memasukkan kunci.

Memutarnya.

Tidak terjadi apa-apa.

Dia mencoba sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Setelah itu dia mulai mengetuk pintu.

“May?”

Tidak ada jawaban.

Dia menekan bel.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Kemudian dia mulai mengetuk lebih keras.

“Maya!”

Di dalam rumah, Ayah duduk di ruang tamu.

Dia sengaja tidak langsung membuka pintu.

Bukan karena ingin membuat keributan.

Ayah cuma ingin Raka punya cukup waktu untuk memahami bahwa sesuatu sudah berubah.

Beberapa menit kemudian, Raka meneleponku.

Ponselku bergetar di meja kecil di samping ranjang rumah sakit.

Namanya muncul di layar.

RAKA.

Aku menatapnya cukup lama.

Jari telunjukku hampir menekan tombol hijau.

Tapi kemudian aku teringat wajahnya saat kaca mobil naik di antara kami.

Tatapan kosong itu.

Cara dia meninggalkanku.

Aku membalik ponsel.

Tidak kujawab.

Dia menelepon lagi.

Lalu lagi.

Setelah panggilan kelima, pesan masuk.

KAMU DI MANA?

Pesan kedua.

KENAPA KUNCI RUMAH DIGANTI?

Pesan ketiga.

JANGAN MAIN-MAIN, MAYA.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Jangan main-main.

Lucu.

Beberapa jam sebelumnya, aku hampir melahirkan prematur di pinggir jalan.

Tapi menurutnya, akulah yang sedang bermain-main.

Aku tidak membalas.


Di rumah, Raka mulai kehilangan kesabaran.

Dia memukul pintu dengan telapak tangannya.

“Buka pintunya!”

Ayah akhirnya berdiri.

Dia membuka pintu hanya selebar bahunya.

Raka langsung berhenti bicara.

“Ayah?”

Ayah menatapnya.

Raka memandang ke dalam rumah.

“Mana Maya?”

“Di rumah sakit.”

Wajah Raka berubah sedikit.

“Rumah sakit?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Ayah tidak menjawab.

Raka tampak kesal.

“Ayah, saya tanya kenapa Maya di rumah sakit.”

Ayah menatapnya dengan tatapan yang tidak berubah.

“Mungkin kamu bisa jawab sendiri.”

Raka terdiam.

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya mulai berubah.

“Ayah sudah dengar?”

“Dengar apa?”

Raka mengusap wajahnya.

“Mayanya berlebihan.”

Ayah masih diam.

“Dia tiba-tiba sakit dan maksa saya berhenti. Kami sudah terlambat ke acara Mama. Dia memang sudah beberapa hari cari alasan supaya tidak ikut.”

Ayah menatapnya seperti sedang mendengarkan seseorang menjelaskan sesuatu yang sangat bodoh.

Raka melanjutkan.

“Saya cuma menyuruh dia tenang.”

“Dengan meninggalkannya di pinggir jalan?”

Raka menarik napas.

“Saya pikir dia akan pesan taksi online.”

Ayah tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Lebih seperti seseorang yang baru saja memastikan bahwa lawan bicaranya benar-benar tidak memahami apa yang telah dia lakukan.

“Dia hamil delapan bulan.”

“Saya tahu.”

“Dia kesakitan.”

“Dia sering mengeluh akhir-akhir ini.”

“Dia menelepon layanan darurat dari pinggir jalan.”

Raka terdiam.

Ayah kemudian mengeluarkan ponselnya.

Dia membuka satu foto yang dikirimkan olehku dari rumah sakit.

Foto tangan kiriku dengan infus.

Monitor janin terlihat samar di latar belakang.

Ayah menunjukkan layar itu kepada Raka.

“Dokter bilang dia mengalami kontraksi prematur.”

Wajah Raka kehilangan warna.

“Apa?”

“Dan mereka sedang mengawasi kemungkinan masalah pada plasenta.”

“Ayah…”

“Kamu tinggalkan istrimu di pinggir jalan saat dia mengalami kondisi darurat.”

Raka menatap layar ponsel.

Untuk pertama kalinya, kesombongannya seperti runtuh.

“Bayinya bagaimana?”

“Masih hidup.”

Kalimat itu membuat Raka menelan ludah.

Ayah sengaja menggunakan kata-kata sederhana.

Karena tidak ada gunanya memperhalus kenyataan.

“Mayanya?”

“Masih dirawat.”

Raka mengangkat tangan ke kepala.

“Astaga…”

Kemudian, seperti banyak orang yang takut menghadapi konsekuensi, Raka langsung mencari cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

“Saya tidak tahu.”

Ayah menatapnya.

“Saya benar-benar tidak tahu kondisinya seserius itu.”

“Dia sudah bilang.”

“Dia bilang perutnya sakit.”

“Dan kamu menganggap dia bohong.”

“Saya pikir…”

Ayah memotong.

“Itu masalahnya.”

Raka berhenti.

“Kamu selalu pikir kamu lebih tahu apa yang dirasakan orang lain.”

Raka menunduk.

Beberapa detik kemudian dia mencoba melangkah masuk.

Ayah menghalangi.

“Saya mau ambil barang.”

“Tidak malam ini.”

“Ayah, saya tinggal di sini.”

“Tidak lagi.”

Raka menatapnya tajam.

“Apa maksudnya?”

Ayah mengambil map cokelat dari meja kecil dekat pintu.

Dia membuka isinya.

Di dalamnya ada fotokopi sertifikat rumah, surat waris, dan beberapa dokumen lain.

Ayah menyerahkannya.

“Baca.”

Raka memandang dokumen itu.

Awalnya wajahnya masih keras.

Kemudian ekspresinya mulai berubah.

Sertifikat rumah hanya mencantumkan satu nama.

MAYA SANTOSO.

Raka mengangkat kepala.

“Ini rumah kami.”

“Tidak.”

Ayah menjawab dengan sangat tenang.

“Ini rumah Maya.”

“Kami menikah.”

“Dan?”

“Saya membayar renovasi.”

“Sebagian.”

“Saya tinggal di sini hampir empat tahun.”

“Benar.”

“Ayah tidak bisa mengusir saya begitu saja.”

Ayah mengangguk pelan.

“Mungkin.”

Raka tampak sedikit lega.

Sampai Ayah melanjutkan.

“Itulah sebabnya besok pagi saya sudah menjadwalkan pertemuan dengan pengacara.”

Wajah Raka kembali menegang.

“Kamu boleh mengambil barang pribadi dengan cara yang benar.”

Ayah menarik dokumen itu kembali.

“Tapi malam ini, kamu tidak masuk.”

Raka menatapnya penuh marah.

“Ini urusan saya dan Maya.”

Ayah mengangguk.

“Betul.”

“Jadi Ayah tidak perlu ikut campur.”

“Aku ikut campur ketika anakku dibawa ke rumah sakit setelah suaminya meninggalkannya sendirian di jalan.”

Untuk pertama kalinya, suara Ayah meninggi sedikit.

Tidak keras.

Tapi cukup membuat Raka terdiam.

“Kalau cucuku sampai kenapa-kenapa malam ini, kamu pikir saya akan berdiri di sini mendengarkan alasan tentang acara makan malam?”

Raka tidak menjawab.

Lalu terdengar suara perempuan dari belakang.

“Raka?”

Sebuah mobil lain baru saja berhenti.

Bu Ratih turun.

Tentu saja.

Raka rupanya menelepon ibunya.

Bu Ratih berjalan cepat ke pagar dengan tas mahal menggantung di lengannya.

“Ada apa ini?”

Dia melihat Ayah.

Kemudian pintu.

Kemudian Raka yang masih berdiri di luar.

“Kenapa kamu tidak masuk?”

Raka mengusap wajahnya.

“Kuncinya diganti.”

Bu Ratih langsung menatap Ayah.

“Apa maksudnya kunci diganti?”

Ayah berdiri tegak.

“Rumah ini milik Maya.”

Bu Ratih mendengus.

“Dia istrinya Raka.”

“Betul.”

“Jadi Raka punya hak tinggal di sini.”

Ayah tidak tertarik berdebat.

“Besok pengacara bisa membahas hak masing-masing.”

Bu Ratih menyilangkan tangan.

“Ini keterlaluan.”

Ayah menatapnya.

“Yang keterlaluan itu anak Anda meninggalkan istri hamil delapan bulan di pinggir jalan.”

Bu Ratih terdiam sesaat.

Tapi hanya sesaat.

Kemudian dia berkata sesuatu yang membuat bahkan Raka menatapnya.

“Maya memang suka berlebihan.”

Ayah memandangnya cukup lama.

“Saya mengerti sekarang.”

Bu Ratih mengerutkan kening.

“Mengerti apa?”

“Dari mana dia belajar.”

Raka langsung menyela.

“Mama, cukup.”

Tapi Bu Ratih justru semakin marah.

“Tidak. Saya mau tahu kenapa keluarga kita dipermalukan seperti ini.”

Ayah mengangkat alis.

“Keluarga Anda dipermalukan?”

“Raka baru saja dipromosikan. Semua orang sedang merayakan. Lalu sekarang istrinya membuat masalah besar hanya karena—”

“Hanya karena?”

Ayah melangkah satu langkah maju.

Bu Ratih berhenti.

“Hanya karena dia mengalami kontraksi prematur?”

Suasana menjadi hening.

Tetangga sebelah mulai membuka tirai.

Ayah jelas tidak ingin membuat keributan di depan rumah.

Dia menarik napas.

“Pergilah.”

Bu Ratih menatapnya dengan marah.

“Ini belum selesai.”

“Betul.”

Ayah menutup pintu perlahan.

“Belum.”


Keesokan paginya aku masih berada di rumah sakit.

Kontraksi mulai berkurang.

Dokter mengatakan kondisi bayi lebih stabil.

Tapi aku harus tetap menjalani observasi.

Aku hampir tidak tidur.

Sekitar pukul tujuh pagi, ponselku kembali penuh pesan dari Raka.

MAYA, AKU MINTA MAAF.

AKU TIDAK TAHU KAMU BENAR-BENAR SAKIT.

AKU PANIK.

Aku membaca pesan itu.

Lalu berhenti.

Panik?

Dia tidak terlihat panik ketika meninggalkanku.

Pesan berikutnya masuk.

AKU MAU KE RUMAH SAKIT.

Lalu:

TOLONG JANGAN DENGARKAN AYAHMU DULU. KITA BICARA BERDUA.

Aku menutup mata.

Itulah Raka.

Bahkan dalam permintaan maaf, dia masih mencoba mengendalikan siapa yang boleh kudengarkan.

Tak lama kemudian, Ayah masuk membawa bubur dan air hangat.

“Kamu tidur?”

“Sedikit.”

Dia meletakkan makanan di meja.

Aku menunjukkan pesan dari Raka.

Ayah tidak mengambil ponselku.

Dia hanya membaca dari tempat duduknya.

“Apa kamu ingin bertemu dia?”

Pertanyaan itu membuatku diam.

Aku tidak tahu.

Sebagian diriku ingin melihat wajahnya.

Ingin mendengar sendiri alasan apa yang akan dia berikan.

Sebagian lain ingin dia tidak pernah muncul lagi.

“Aku bingung.”

Ayah mengangguk.

“Kamu tidak harus memutuskan semuanya hari ini.”

Aku menatapnya.

“Ayah marah kalau aku masih mau bicara dengan dia?”

“Tidak.”

Jawaban itu mengejutkanku.

Ayah menuangkan air ke gelas.

“Kamu istrinya. Kamu yang menjalani pernikahan itu.”

Dia menyerahkan gelas kepadaku.

“Ayah cuma memastikan kamu punya pilihan.”

Kalimat itu membuat mataku panas.

Pilihan.

Sudah lama aku merasa tidak punya itu.


Sekitar satu jam kemudian, perawat masuk.

“Bu Maya?”

“Iya?”

“Ada seseorang ingin menemui Ibu.”

Aku langsung tahu siapa.

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Ada siapa?”

Perawat melihat papan kecil di tangannya.

“Pak Raka.”

Aku menatap Ayah.

Dia tidak berkata apa pun.

Keputusannya milikku.

Aku menarik napas panjang.

“Biarkan dia masuk.”

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka.

Raka berdiri di sana.

Wajahnya kusut.

Kemejanya sudah diganti.

Rambutnya tidak serapi biasanya.

Dia membawa tas kecil berisi buah dan beberapa barang rumah sakit.

Begitu melihatku, matanya langsung tertuju ke alat monitor.

“May…”

Aku tidak menjawab.

Dia mendekat perlahan.

“Aku benar-benar minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

Dia terdiam.

“Apa?”

“Aku mau dengar.”

Aku menahan suaraku agar tetap tenang.

“Kamu minta maaf untuk apa?”

Raka memegang sandaran kursi.

“Aku salah meninggalkan kamu.”

“Hanya itu?”

“Aku tidak tahu kamu mengalami komplikasi.”

“Aku bilang aku sakit.”

“Aku tahu.”

“Aku bilang aku takut sesuatu terjadi pada bayi.”

Dia menunduk.

“Aku tahu.”

“Aku minta kamu menepi.”

“Aku tahu.”

“Lalu kamu tarik aku keluar dari mobil.”

Wajahnya menegang.

“Aku emosi.”

“Kamu bilang aku bohong.”

“Aku salah.”

“Kamu bilang aku menggunakan kehamilan sebagai alasan.”

Dia diam.

Aku menatapnya lama.

“Apa kamu sadar betapa takutnya aku?”

Raka tidak mampu menjawab.

“Aku berdiri sendirian di pinggir jalan sambil mikir anak kita mungkin akan lahir di sana.”

Air mataku mulai keluar.

“Tapi yang paling menyakitkan bukan itu.”

Dia mengangkat kepala.

“Yang paling menyakitkan adalah kamu melihat aku memohon.”

Aku menyentuh dadaku.

“Kamu lihat wajahku.”

Raka menelan ludah.

“Kamu dengar aku bilang tolong.”

Aku menghapus air mata.

“Dan kamu tetap pergi.”

Ruangan hening.

Ayah berdiri di dekat jendela.

Dia tidak ikut campur.

Raka akhirnya duduk.

“Aku sangat menyesal.”

Aku menatapnya.

“Kalau dokter bilang aku baik-baik saja tadi malam, apa kamu tetap akan menyesal?”

Pertanyaan itu menghentikannya.

Aku tahu jawabannya.

Dia juga tahu.

Kalau aku ternyata tidak mengalami komplikasi, Raka mungkin masih yakin akulah yang membuat drama.

Mungkin dia akan pulang dan marah karena Ayah mengganti kunci.

Mungkin dia akan memaksaku meminta maaf kepada ibunya.

Kesadaran itu jauh lebih menyakitkan daripada permintaan maafnya.

Raka mengulurkan tangan.

Aku menarik tanganku menjauh.

Dia membeku.

“Aku mau memperbaiki ini.”

Aku menggeleng.

“Tidak hari ini.”

“May…”

“Aku bahkan belum tahu apa yang harus kuperbaiki.”

Dia memandangku.

Aku melanjutkan.

“Karena aku mulai sadar masalah kita bukan kejadian tadi malam.”

Raka tidak berkata apa-apa.

“Masalahnya sudah lama.”

Aku menarik napas.

“Setiap kali ibumu menghina aku, kamu bilang aku terlalu sensitif.”

Wajahnya berubah.

“Setiap kali aku bilang aku lelah karena hamil, kamu bilang semua perempuan juga hamil.”

“May…”

“Setiap kali aku butuh sesuatu, kamu membuatku merasa bersalah.”

Aku menatap langsung ke matanya.

“Dan tadi malam cuma pertama kalinya aku melihat ke mana semua itu bisa membawa kita.”

Dia menggeleng pelan.

“Aku bukan suami jahat.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Lalu apa?”

Aku menatap alat monitor di samping ranjang.

“Aku bilang aku tidak lagi merasa aman bersamamu.”

Kalimat itu membuatnya terpukul.

Lebih dari teriakan.

Lebih dari kemarahan.

Dia tidak menjawab selama hampir satu menit.

Kemudian dia berdiri.

“Jadi kamu mau cerai?”

Aku menatapnya.

“Aku belum memutuskan.”

Wajahnya langsung menunjukkan frustrasi.

“Tapi Ayahmu sudah mengusir aku dari rumah.”

Ayah akhirnya bicara.

“Rumah bukan masalah utamanya.”

Raka menoleh.

Ayah melanjutkan.

“Istrimu mengatakan dia tidak merasa aman bersamamu.”

Raka mengusap wajah.

“Semua orang membuat ini lebih besar daripada—”

Dia berhenti.

Aku menatapnya.

“Apa?”

Raka langsung sadar dia hampir mengulang kesalahan yang sama.

“Tidak ada.”

Tapi sudah terlambat.

Aku mendengarnya.

Dia masih berpikir semuanya dibesar-besarkan.

Aku mengangguk pelan.

“Pulanglah.”

“May…”

“Aku perlu istirahat.”

Dia tidak bergerak.

“Pulang ke mana?”

Aku menatapnya.

“Itu bukan masalahku hari ini.”


Setelah Raka pergi, aku menangis cukup lama.

Bukan karena ingin dia kembali.

Bukan juga karena sudah yakin pernikahan kami selesai.

Aku menangis karena untuk pertama kalinya aku melihat pernikahan kami tanpa alasan yang biasa kubuat untuk dirinya.

Dia sibuk.

Dia stres.

Ibunya sulit.

Pekerjaannya berat.

Aku terlalu sensitif.

Aku sedang hamil.

Selama bertahun-tahun aku selalu punya alasan.

Tapi tadi malam tidak ada alasan yang cukup besar.


Siang harinya, dokter kembali memeriksaku.

“Kontraksinya sudah jauh berkurang.”

Aku mengembuskan napas lega.

“Bayinya?”

“Lebih stabil.”

Aku menutup mata sesaat.

“Terima kasih, Dok.”

“Tapi Anda tetap perlu istirahat dan menghindari stres berat.”

Aku hampir tertawa.

Terlambat.

Ketika dokter keluar, Ayah menyerahkan satu map kepadaku.

“Apa ini?”

“Dokumen dari pengacara.”

Aku langsung menatapnya.

“Ayah…”

“Bukan surat cerai.”

Aku membuka map itu.

Isinya daftar aset pribadi, dokumen rumah, rekening atas namaku, dan catatan beberapa hal yang harus kulindungi jika aku memutuskan hidup terpisah sementara.

“Ayah tidak memutuskan apa pun untukmu.”

Dia duduk.

“Ini cuma supaya kamu tahu apa yang kamu punya.”

Aku membalik halaman.

Rumah.

Tabungan peninggalan Nenek.

Satu deposito yang bahkan sudah lama tidak kuingat.

Aku menatap Ayah.

“Kenapa Ayah melakukan semua ini?”

Dia tersenyum tipis.

“Karena orang lebih mudah membuat keputusan ketika mereka tahu mereka tidak terjebak.”

Aku menahan air mata.

Namun sebelum sempat menjawab, ponselku berbunyi.

Satu pesan masuk dari nomor Bu Ratih.

Aku mengernyit.

Selama hampir empat tahun menikah, dia jarang mengirim pesan langsung kepadaku.

Pesannya pendek.

MAYA, KITA PERLU BICARA SEBELUM KAMU MENGHANCURKAN KARIER RAKA DAN MEMPERMALUKAN KELUARGA INI.

Aku membaca kalimat itu sekali.

Lalu dua kali.

Ayah melihat ekspresiku.

“Ada apa?”

Aku menyerahkan ponsel.

Dia membaca pesan tersebut.

Kemudian ekspresinya berubah.

“Jangan balas.”

Aku hampir setuju.

Tapi beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

Kali ini disertai sebuah foto.

Aku membuka gambarnya.

Dan tubuhku langsung membeku.

Foto itu memperlihatkan sebuah dokumen.

Sebuah formulir bank.

Di bagian tanda tangan…

Ada namaku.

Tapi aku tidak pernah menandatanganinya.

Aku memperbesar layar.

Nominal transaksi tertera jelas.

Rp850.000.000.

Aku menatap Ayah.

“Ayah…”

“Apa?”

Aku menunjukkan layar.

“Ini bukan tanda tanganku.”

Ayah mengambil ponsel.

Wajahnya langsung berubah.

“Rekening apa ini?”

“Aku tidak tahu.”

Pesan ketiga dari Bu Ratih masuk.

KALAU KAMU MASIH MAU MEMPERPANJANG MASALAH, KITA BISA BICARA SOAL UANG INI JUGA.

Dadaku berdebar.

Beberapa jam sebelumnya, kupikir masalah terbesar dalam pernikahanku adalah suami yang meninggalkanku di pinggir jalan.

Ternyata aku belum tahu apa-apa.

Karena kalau dokumen di layar itu benar…

Seseorang telah menggunakan namaku untuk memindahkan hampir satu miliar rupiah.

Dan satu-satunya orang yang punya akses ke semua dokumen pribadiku selama empat tahun terakhir…

Adalah Raka.