Di Acara Syukuran Bayi Bawahanku, Aku Menyadari Bayi Itu Anak Suamiku—Aku Hanya Menelepon Kakakku dan Berkata, “Tarik Investasi Triliunan Itu.”
Di acara syukuran kelahiran bayi milik bawahanku sendiri, aku menemukan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku terasa membeku.
Bayi yang sedang digendongnya ternyata adalah anak biologis suamiku.
Aku tidak menangis.
Aku tidak membuat keributan.
Aku hanya berjalan keluar dari ruangan, menelepon kakakku, lalu berkata dengan tenang,
“Mas, tarik seluruh investasi triliunan rupiah itu.”
Kurang dari sepuluh menit kemudian, perusahaan suamiku mulai runtuh.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berdiri di hadapanku tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Acara syukuran kelahiran bayi Maya Pradipta, salah satu direktur yang bekerja di bawah divisi yang kupimpin, digelar di ballroom sebuah hotel mewah di kawasan SCBD, Jakarta.
Semuanya terasa berlebihan.
Rangkaian bunga memenuhi ruangan.
Lampu kristal berkilauan di langit-langit.
Meja-meja dipenuhi hidangan mahal, sementara para eksekutif, investor, dan tamu penting bergantian memberikan ucapan selamat.
Aku duduk di meja VIP bersama beberapa anggota direksi.
Namaku Nadira Wijaya.
Dan sampai sore itu, aku percaya hidupku hampir sempurna.
Aku memiliki seorang putri berusia empat tahun.
Karier yang kubangun selama lebih dari satu dekade.
Dan seorang suami bernama Arga Mahendra, CEO perusahaan teknologi yang sedang berkembang pesat di Jakarta.
Maya berdiri di atas panggung sambil menggendong bayi laki-lakinya.
Aku tersenyum sopan ketika pembawa acara meminta kami bertepuk tangan.
Kemudian bayi itu bergerak.
Kaki kecilnya menendang pelan hingga selimut sutra yang membungkus tubuhnya tersingkap.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Sebuah gelang kaki emas mungil.
Entah kenapa, benda itu langsung menarik perhatianku.
Ketika lampu ballroom memantul pada bagian dalam gelang, aku melihat ukiran kecil.
27/10.
Aku berhenti bernapas.
27 Oktober.
Tanggal pernikahanku dengan Arga.
Aku mencoba mengatakan kepada diriku sendiri bahwa itu hanya kebetulan.
Mungkin tanggal lahir seseorang.
Mungkin angka yang mempunyai arti lain bagi Maya.
Aku hampir memalingkan wajah ketika Maya mengangkat bayinya sedikit lebih tinggi.
Kepala bayi itu miring.
Dan aku melihat sesuatu tepat di belakang telinga kanannya.
Sebuah tanda lahir kecil berwarna cokelat muda.
Jantungku seperti jatuh ke dasar perut.
Aku mengenal tanda itu.
Ibu mertua Arga memilikinya.
Arga juga memilikinya.
Bahkan putriku, Keisha, memiliki tanda yang sama persis di belakang telinga kanannya.
Tiga generasi.
Lokasi yang sama.
Bentuk yang hampir sama.
Dan sekarang…
bayi Maya memilikinya.
Aku menatap wajah anak itu lebih lama.
Hidungnya.
Garis dagunya.
Bentuk matanya ketika mulai mengantuk.
Tiba-tiba semuanya menjadi terlalu jelas.
Lalu Arga berjalan menuju panggung.
Suamiku tersenyum sambil berdiri di samping Maya.
Ketika bayi itu mulai rewel, Arga spontan mengulurkan tangan.
Gerakannya begitu alami.
Begitu terbiasa.
Dia menopang kepala bayi itu, menepuk punggungnya perlahan, lalu mengayunkannya dengan ritme yang sama seperti ketika dia dulu menenangkan Keisha.
Bayi itu langsung diam.
Maya menatap Arga.
Bukan tatapan seorang bawahan kepada CEO-nya.
Ada keakraban di sana.
Ada sesuatu yang selama berbulan-bulan mungkin berada tepat di depan mataku, tetapi tidak pernah ingin kulihat.
Aku akhirnya mengerti.
Bayi yang dibungkus selimut mahal itu…
adalah anak suamiku.
Anehnya, aku tidak menangis.
Aku tidak berjalan ke panggung.
Tidak menampar Maya.
Tidak melempar gelas.
Aku hanya meletakkan gelas kristal di atas meja dengan perlahan.
Kemudian aku berdiri.
Aku berjalan melewati para tamu menuju koridor kaca di luar ballroom.
Angin sore Jakarta menggoyangkan pepohonan jauh di bawah gedung.
Tanganku mengambil ponsel.
Aku membuka satu nomor yang hampir tidak pernah kuhubungi untuk urusan pribadi.
Harrison Wijaya.
Kakakku.
Ketua perusahaan investasi keluarga Wijaya.
Orang yang enam bulan sebelumnya menyetujui pendanaan besar untuk menyelamatkan ekspansi perusahaan Arga.
Telepon tersambung.
“Nadira?”
Aku menatap pantulan wajahku sendiri di kaca.
Anehnya, wajah itu terlihat sangat tenang.
“Mas.”
“Ada apa?”
Aku menarik napas.
“Aktifkan klausul penarikan.”
Di seberang sana, Harrison terdiam.
“Investasi Arga?”
“Semua.”
Kali ini keheningan berlangsung lebih lama.
“Nadira, kamu tahu berapa nilainya?”
Aku tahu.
Pendanaan itu bernilai belasan triliun rupiah jika seluruh fasilitas investasi, jaminan kredit, dan komitmen modal dihitung bersama.
Tanpa dana keluarga kami, ekspansi Arga tidak memiliki bantalan likuiditas yang cukup.
“Tarik semuanya.”
Suara Harrison berubah.
Dingin.
Serius.
“Apa yang dia lakukan?”
Aku menoleh melalui dinding kaca.
Dari tempatku berdiri, aku masih bisa melihat Arga menggendong bayi Maya.
“Anak Maya adalah anaknya.”
Harrison tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.
Kemudian dia bertanya,
“Kamu yakin?”
Aku melihat tanda lahir kecil itu sekali lagi.
“Sangat yakin.”
Aku mendengar kakakku menarik napas panjang.
“Baik.”
“Harrison—”
“Pulanglah bersama Keisha malam ini.”
Nada suaranya membuatku terdiam.
Kemudian dia berkata,
“Beri aku sepuluh menit.”
Telepon terputus.
Aku berdiri di depan kaca selama beberapa detik.
Kemudian aku membuka tas kecilku.
Mengeluarkan lipstik merah.
Memperbaikinya perlahan.
Dan kembali memasuki ballroom.
Tidak seorang pun tahu bahwa sebuah keputusan yang dapat menghancurkan kerajaan bisnis Arga baru saja dibuat.
Musik masih dimainkan.
Para tamu masih tertawa.
Maya masih tersenyum.
Dan suamiku…
masih terlihat seperti pria paling bahagia di ruangan itu.
Aku kembali duduk di kursiku.
Arga menatapku dari panggung.
Dia tersenyum.
Senyum tampan yang selama tujuh tahun membuatku percaya bahwa aku adalah satu-satunya perempuan dalam hidupnya.
Aku membalas senyum itu.
Lalu—
ponsel di saku jasnya bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Arga mengabaikannya.
Kemudian ponsel Maya ikut bergetar.
Setelah itu, ponsel direktur keuangan perusahaan Arga berbunyi.
Pria itu melihat layar.
Wajahnya langsung pucat.
Dia berdiri begitu cepat hingga kursinya hampir jatuh.
“Pak Arga…”
Arga menoleh.
“Ada apa?”
Direktur keuangan itu berjalan mendekat dan berbisik sesuatu.
Aku tidak bisa mendengar kata-katanya.
Tetapi aku melihat perubahan wajah suamiku.
Senyumnya menghilang.
Dia menyerahkan bayi kepada Maya dan mengambil ponselnya.
Layar dipenuhi notifikasi.
Satu fasilitas kredit dibekukan.
Kemudian satu komitmen modal ditarik.
Lalu jaminan pendanaan untuk proyek terbesar perusahaannya ditangguhkan sesuai klausul kontrak.
Arga mulai menelepon seseorang.
Tidak dijawab.
Dia mencoba nomor lain.
Kemudian satu lagi.
Semakin lama, wajahnya semakin pucat.
Para eksekutif mulai meninggalkan meja mereka.
Bisikan menyebar di ballroom.
Maya turun dari panggung sambil memeluk bayinya.
“Ada apa?” tanyanya panik.
Arga tidak menjawab.
Dia menatap layar ponselnya seperti sedang melihat gedung yang dibangunnya selama bertahun-tahun terbakar tepat di depan matanya.
Lalu teleponku berbunyi.
Sebuah pesan dari Harrison.
Selesai.
Aku mengunci layar.
Arga perlahan mengangkat kepala.
Matanya menyapu ruangan.
Kemudian berhenti tepat padaku.
Untuk beberapa detik, kami hanya saling memandang.
Aku melihat kebingungan di wajahnya berubah menjadi kecurigaan.
Lalu ketakutan.
Dia tahu.
Entah bagaimana…
dia akhirnya tahu.
Arga berjalan cepat menghampiriku.
“Nadira.”
Aku tetap duduk.
“Apa yang kamu lakukan?”
Aku menatapnya tenang.
“Aku?”
“Dana Wijaya ditarik.”
Beberapa orang di meja kami langsung terdiam.
Arga menurunkan suaranya.
“Pendanaan proyek Surabaya dibekukan. Fasilitas kredit kita ikut ditinjau ulang. Harrison tidak menjawab teleponku.”
Aku mengangguk kecil.
“Kalau begitu mungkin kamu harus bertanya pada dirimu sendiri kenapa.”
Wajah Arga berubah.
Dia menatapku.
Kemudian tanpa sadar matanya bergerak ke arah Maya.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi itu sudah cukup.
Aku tersenyum tipis.
“Kamu bahkan tidak pandai menyembunyikannya.”
“Nadira, dengarkan aku.”
“Berapa lama?”
Dia membeku.
“Berapa lama kamu tidur dengan Maya?”
Maya yang berdiri beberapa meter dari kami langsung pucat.
Percakapan di sekitar kami berhenti.
Arga menatapku seolah ingin menyangkal.
Lalu aku berkata pelan,
“Jangan.”
Suaraku hampir seperti bisikan.
“Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan berbohong sekarang.”
Aku menunjuk bayi itu dengan pandangan mata.
“Gelang kaki bertanggal 27 Oktober.”
Arga tidak bergerak.
“Tanda lahir di belakang telinga kanan.”
Wajahnya kehilangan warna.
Aku berdiri.
“Dan cara kamu menggendongnya.”
Aku meraih tas.
“Selamat, Arga.”
Matanya memerah.
“Nadira—”
“Putramu sangat tampan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Maya mulai menangis.
Tetapi sebelum aku sempat berjalan pergi, Arga meraih pergelangan tanganku.
“Kamu tidak bisa menghancurkan perusahaan hanya karena masalah pribadi!”
Aku menatap tangannya.
Kemudian menatap matanya.
“Lepaskan.”
Dia langsung melepaskannya.
Aku mendekat sedikit.
“Dan satu hal lagi, Arga.”
“Apa?”
Aku tersenyum.
“Kamu salah memahami sesuatu selama tujuh tahun pernikahan kita.”
Dia mengerutkan kening.
Aku melanjutkan,
“Perusahaanmu tidak pernah menjadi alasan keluarga Wijaya berinvestasi.”
Wajahnya membeku.
“Kamulah yang selalu mengira Harrison percaya padamu.”
Aku mengambil ponsel dan menunjukkan satu dokumen yang baru saja dikirim kakakku.
“Padahal investasi itu diberikan karena aku meminta.”
Arga menatap layar.
Tangannya mulai gemetar.
Namun bahkan aku belum mengetahui kejutan terbesar malam itu.
Karena beberapa detik kemudian, Harrison mengirim pesan kedua.
Hanya satu kalimat.
Aku membacanya.
Dan kali ini…
akulah yang membeku.
“Nadira, jangan pulang ke rumah. Bawa Keisha langsung ke tempatku. Ada sesuatu tentang Arga dan Maya yang jauh lebih besar daripada perselingkuhan ini.”
Aku mengangkat kepala.
Di seberang ballroom, Maya sedang menatapku.
Air matanya telah berhenti.
Dan ekspresi di wajahnya bukan lagi ketakutan.
Melainkan kepanikan.
Saat itulah aku sadar…
bayi itu hanyalah awal dari rahasia yang selama ini mereka sembunyikan dariku.
LANJUTAN — Bayi Itu Ternyata Bukan Rahasia Terbesar Suamiku
Aku membaca pesan Harrison sekali lagi.
“Nadira, jangan pulang ke rumah. Bawa Keisha langsung ke tempatku. Ada sesuatu tentang Arga dan Maya yang jauh lebih besar daripada perselingkuhan ini.”
Jari-jariku mendadak dingin.
Untuk pertama kalinya sejak melihat tanda lahir di belakang telinga bayi Maya, ketenanganku retak.
Aku mengangkat kepala.
Maya berdiri di sisi ballroom sambil memeluk bayinya.
Beberapa menit sebelumnya dia menangis.
Sekarang tidak.
Wajahnya justru pucat seperti seseorang yang baru menyadari sebuah rahasia akan terbongkar.
Arga mengikuti arah pandanganku.
“Nadira.”
Aku memasukkan ponsel ke tas.
“Aku harus pergi.”
“Tunggu.”
Arga bergerak menghalangi jalanku.
“Jangan pulang dulu. Kita bicara.”
Kalimat itu membuatku berhenti.
Bukan karena aku ingin mendengarkan.
Karena Harrison baru saja mengatakan hal sebaliknya.
Jangan pulang ke rumah.
Aku menatap Arga.
“Kenapa?”
“Apa?”
“Kenapa kamu begitu ingin aku tetap di sini?”
Rahangnya mengeras.
“Aku cuma ingin menjelaskan.”
“Menjelaskan bahwa kamu punya anak dengan bawahanku?”
“Nadira—”
“Besok pengacaraku akan menghubungimu.”
Aku berjalan melewatinya.
Namun saat aku hampir mencapai pintu ballroom, Maya memanggilku.
“Bu Nadira!”
Aku berhenti.
Semua orang menoleh.
Maya menyerahkan bayinya kepada pengasuh, lalu berlari menghampiriku.
“Jangan pergi ke rumah.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Arga langsung membentak.
“Maya!”
Maya tersentak.
Aku perlahan berbalik.
“Kenapa aku tidak boleh pulang?”
Maya menatap Arga.
Arga berjalan mendekat.
“Dia sedang emosional. Jangan dengarkan—”
“Diam.”
Suaraku tidak keras.
Tapi Arga berhenti.
Aku menatap Maya.
“Katakan.”
Bibirnya bergetar.
“Aku… aku tidak bisa.”
“Kalau begitu minggir.”
Aku melangkah.
Maya meraih lenganku.
“Keisha.”
Aku membeku.
Nama putriku membuat seluruh suara ballroom seakan menghilang.
“Apa hubungannya dengan Keisha?”
Air mata menggenang di mata Maya.
“Aku minta maaf.”
“Untuk apa?”
Dia membuka mulut.
Namun Arga menariknya menjauh.
“Cukup!”
Kali ini beberapa tamu benar-benar mundur.
Aku menatap suamiku.
Dan saat itulah aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat selama tujuh tahun pernikahan kami.
Ketakutan.
Bukan ketakutan kehilangan perusahaan.
Bukan ketakutan kehilangan uang.
Ketakutan karena sebuah rahasia hampir keluar dari mulut Maya.
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.
Aku berjalan keluar.
Harrison mengirim sopirnya untuk menjemputku.
Aku meminta pengasuh Keisha membawa putriku ke rumah kakakku di Menteng.
Sepanjang perjalanan, aku mencoba menelepon Harrison.
Dia hanya menjawab singkat.
“Aku akan jelaskan setelah kamu sampai.”
“Harrison, ini tentang anakku.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu tahu sesuatu, katakan sekarang.”
“Nadira.”
Nada suaranya berubah lembut.
“Keisha aman. Itu yang paling penting.”
Telepon terputus.
Aku menatap jalanan Jakarta dari balik kaca mobil.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari betapa banyak bagian hidupku yang selama ini kuanggap pasti.
Pernikahanku.
Rumahku.
Suamiku.
Keluargaku.
Semuanya tiba-tiba terasa seperti panggung.
Dan seseorang telah mengganti naskah tanpa memberitahuku.
Ketika mobil memasuki halaman rumah Harrison, Keisha sudah menungguku.
“Mama!”
Dia berlari.
Aku berlutut dan memeluknya begitu erat hingga dia tertawa kecil.
“Mama, sakit.”
Aku langsung melonggarkan pelukan.
“Maaf, Sayang.”
Dia menunjukkan gambar yang dibuatnya.
Ada aku.
Ada dirinya.
Ada Arga.
Tiga orang bergandengan tangan.
Dadaku seperti diremas.
“Papa kapan datang?”
Aku tidak bisa menjawab.
Harrison muncul di belakangnya.
“Keisha, Tante Rina punya es krim di dapur.”
Keisha langsung berlari masuk.
Begitu pintu tertutup, aku berdiri.
“Katakan.”
Harrison tidak langsung menjawab.
Dia membawaku ke ruang kerjanya.
Di atas meja terdapat sebuah laptop, beberapa dokumen, dan satu map hitam.
“Aku sebenarnya berharap tidak perlu menunjukkan ini kepadamu.”
“Apa ini?”
“Alasan sebenarnya aku menyetujui investasi ke perusahaan Arga.”
Aku mengernyit.
“Kamu bilang karena aku meminta.”
“Itu alasan pertamanya.”
Dia duduk.
“Alasan kedua, aku ingin masuk cukup dekat untuk melihat pembukuannya.”
Aku menatapnya.
“Kamu menyelidiki suamiku?”
“Sejak dua tahun lalu.”
“Tanpa memberitahuku?”
“Karena kalau aku salah, aku akan menghancurkan pernikahan adikku sendiri hanya karena kecurigaan.”
Aku ingin marah.
Namun kemudian Harrison membuka map.
Di dalamnya ada daftar perusahaan.
Sebagian besar namanya tidak kukenal.
“Perusahaan cangkang,” katanya.
“Apa hubungannya dengan Arga?”
“Dana dari perusahaannya dipindahkan melalui kontrak konsultasi palsu. Nilainya hampir dua triliun rupiah selama tiga tahun.”
Aku menatap angka-angka itu.
“Dia menggelapkan uang?”
“Bukan cuma itu.”
Harrison menggeser dokumen lain.
Satu nama muncul berulang kali.
Maya Pradipta.
Aku menutup mata sebentar.
“Tentu saja.”
“Jangan buru-buru.”
Aku membuka mata.
Harrison menunjuk nama lain.
PT Kencana Arunika.
“Pemilik manfaat perusahaan ini disembunyikan melalui beberapa lapisan badan usaha.”
“Siapa?”
Harrison menatapku.
“Arga.”
Aku masih tidak mengerti.
“Dan?”
“Perusahaan itu membeli aset.”
“Jenis aset apa?”
“Rumah. Tanah. Saham. Apartemen.”
Dia berhenti.
“Termasuk rumah yang kamu tinggali sekarang.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Rumahmu sudah dijadikan jaminan.”
Aku berdiri.
“Tidak mungkin. Sertifikat rumah itu atas namaku.”
“Salinan sertifikat yang kamu simpan memang atas namamu.”
Kata salinan membuatku merinding.
Harrison mengeluarkan satu dokumen lagi.
Ada tanda tanganku.
Aku mengenal bentuknya.
Tapi aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.
“Palsu.”
Harrison mengangguk.
“Arga memalsukan tanda tanganmu untuk membuat surat kuasa.”
Aku merasa mual.
“Kenapa?”
“Karena dia butuh aset keluarga kita sebagai jaminan untuk menutup lubang keuangan perusahaannya.”
Aku berjalan menuju jendela.
Selama bertahun-tahun, Arga selalu mengatakan dia ingin membangun sesuatu sendiri.
Dia tidak ingin hidup di bawah bayang-bayang keluarga Wijaya.
Aku mengaguminya karena itu.
Ternyata diam-diam dia menggunakan namaku sebagai tangga.
“Masih ada satu hal,” kata Harrison.
Aku menoleh.
Dia tidak melihatku.
Itu membuatku takut.
“Harrison.”
Dia akhirnya mengangkat wajah.
“Ini tentang Keisha.”
Aku kembali duduk.
“Jangan bermain-main denganku.”
“Aku tidak akan pernah.”
Dia membuka laptop.
Sebuah foto muncul.
Arga sedang keluar dari sebuah klinik bersama seorang perempuan.
Bukan Maya.
Perempuan itu terlihat berusia sekitar lima puluh tahun.
Aku mengenalnya.
Dr. Ratna Suryani.
Dokter fertilitas yang membantu program kehamilanku lima tahun lalu.
Aku merasa lantai bergerak.
“Kenapa Arga menemui dokter Ratna?”
“Itulah yang ingin kuketahui.”
Harrison membuka dokumen berikutnya.
Catatan pembayaran.
Arga mengirim uang kepada dokter Ratna setiap tahun.
Jumlahnya besar.
“Suap?” tanyaku.
“Sepertinya.”
“Untuk apa?”
Harrison diam.
Kemudian dia berkata,
“Kamu ingat ketika kamu menjalani program IVF?”
“Tentu.”
“Kamu dan Arga menyimpan beberapa embrio.”
Aku mengangguk.
“Setelah Keisha lahir, kami sepakat sisanya tetap disimpan.”
Harrison menatapku.
“Tidak semuanya tetap disimpan.”
Aku tidak langsung memahami kalimat itu.
Lalu tubuhku menjadi dingin.
“Tidak.”
“Nadira—”
“Tidak.”
Aku berdiri.
“Harrison, jangan katakan—”
“Bayi Maya.”
Aku menutup mulut.
“Tes awal yang kami lakukan melalui sampel yang diperoleh investigator menunjukkan hubungan genetik yang sangat kuat dengan Arga.”
“Itu sudah jelas.”
“Dan denganmu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku tidak bernapas.
Harrison melanjutkan sangat perlahan.
“Bayi Maya bukan hanya anak Arga.”
Air mataku jatuh sebelum aku menyadarinya.
“Dia juga anak biologismu.”
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk tanpa bergerak.
Satu menit.
Lima menit.
Mungkin lebih.
“Tidak mungkin.”
“Itulah sebabnya aku belum mau membuat kesimpulan sebelum tes resmi.”
“Tidak mungkin!”
Aku berdiri begitu cepat hingga kursi terdorong ke belakang.
“Aku tidak pernah hamil anak itu!”
“Karena embrionya ditanamkan pada Maya.”
Aku menatap kakakku.
Kata-kata itu terlalu besar untuk masuk ke kepalaku.
“Tanpa izin?”
Harrison mengangguk.
Aku muntah di tempat sampah di samping meja.
Harrison memegang bahuku.
Aku menepisnya.
“Jangan sentuh aku.”
Bukan karena aku marah padanya.
Aku hanya merasa seluruh tubuhku bukan milikku lagi.
Seseorang telah mengambil sesuatu yang dibuat dari tubuhku.
Dari harapanku.
Dari pernikahanku.
Lalu menanamkannya pada perempuan lain.
Aku teringat gelang kaki bayi itu.
27/10.
Bukan hadiah romantis Arga kepada selingkuhannya.
Tanggal itu adalah tanggal embrio tersebut dibuat dan dibekukan.
Hari jadi pernikahan kami.
Aku mulai menangis.
Bukan tangisan elegan seperti di film.
Aku terisak sampai sulit bernapas.
“Kenapa?”
Harrison duduk di sampingku.
“Kita harus mendengar Maya.”
Maya datang malam itu.
Sendirian.
Tanpa Arga.
Dia duduk di ruang tamu sambil gemetar.
Begitu melihatku, dia menangis.
“Bu Nadira…”
“Anak itu anakku?”
Dia menunduk.
“Ya.”
Satu kata itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.
“Namanya siapa?”
Maya menangis lebih keras.
“Rafa.”
Aku menutup mata.
“Kenapa?”
Maya mengusap wajah.
“Awalnya aku tidak tahu.”
Aku tertawa pahit.
“Kamu hamil melalui IVF tapi tidak tahu embrio siapa yang ditanamkan?”
“Arga bilang embrio itu miliknya.”
“Dengan siapa?”
“Dia bilang donor.”
Aku menatapnya.
“Dan kamu percaya?”
“Aku mencintainya.”
Kalimat itu menusuk, tetapi anehnya bukan itu yang paling menyakitkan lagi.
“Kapan kamu tahu?”
“Ketika kehamilanku masuk bulan kelima.”
“Bagaimana?”
“Dokter Ratna mabuk saat makan malam bersama kami. Dia mengatakan Rafa akan punya wajah mirip Keisha.”
Maya mulai menangis.
“Aku memaksa Arga menjelaskan.”
“Dan?”
“Dia bilang embrio itu milik kalian.”
Aku mengepalkan tangan.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
Maya menatapku dengan rasa malu yang telanjang.
“Karena aku takut kehilangan bayi ini.”
Aku ingin membencinya.
Sungguh.
Tapi ketika dia mengatakan kalimat itu, aku melihat seorang perempuan yang telah membuat keputusan egois karena takut kehilangan seorang anak.
Bukan berarti dia tidak bersalah.
Tapi monster terbesar di ruangan itu bukan dia.
“Kenapa Arga melakukan ini?”
Maya menelan ludah.
“Dia ingin anak laki-laki.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Dia selalu bilang keluarga Mahendra harus punya penerus laki-laki.”
Aku hampir tertawa karena absurditasnya.
“Jadi dia mencuri embrio kami?”
“Bukan hanya itu.”
Maya mengeluarkan flash drive dari tas.
Tangannya gemetar ketika meletakkannya di meja.
“Aku mengumpulkan ini sejak aku tahu kebenarannya.”
Harrison mengambilnya.
“Apa isinya?”
“Rekaman percakapan. Transfer uang. Dokumen klinik.”
Dia menatapku.
“Arga berencana meninggalkan Bu Nadira setelah perusahaan mendapatkan putaran investasi berikutnya.”
Dadaku mengencang.
“Kenapa menunggu?”
“Karena sebagian besar investor percaya pada perusahaan itu karena hubungan dengan keluarga Wijaya.”
Tentu.
Selalu uang.
Maya melanjutkan,
“Setelah pendanaan masuk, dia berencana memindahkan aset ke luar perusahaan, membuat Bu Nadira terlihat bertanggung jawab atas transaksi tertentu, lalu menceraikan Bu Nadira.”
Harrison berdiri.
“Dia ingin menjadikan Nadira kambing hitam?”
Maya mengangguk.
“Tapi ada satu masalah.”
“Apa?”
Maya menatapku.
“Dia juga berencana mengambil Keisha.”
Aku merasa darah naik ke kepalaku.
“Tidak mungkin.”
“Dia sudah menyiapkan dokumen.”
“Kenapa?”
“Karena Keisha punya trust fund dari keluarga Wijaya.”
Saat itulah semuanya menjadi jelas.
Bukan cinta.
Bukan keluarga.
Bukan bahkan perselingkuhan.
Arga sedang membangun jalan keluar.
Aku hanyalah jembatan menuju kekayaan keluargaku.
Keisha adalah aset.
Rafa adalah pewaris laki-laki yang dia inginkan.
Dan Maya…
hanyalah wadah yang bisa dia kendalikan.
Aku menatap Maya.
“Kamu membantunya.”
Dia menangis.
“Ya.”
“Kamu tidur dengan suamiku.”
“Ya.”
“Kamu merahasiakan anakku dariku.”
“Ya.”
Setiap jawabannya seperti pisau.
Kemudian aku bertanya,
“Kenapa sekarang kamu memberikan semua ini?”
Maya memandang ke lantai.
“Karena minggu lalu aku mendengar dia berbicara dengan dokter Ratna.”
“Tentang apa?”
“Dia ingin memindahkan Rafa ke luar negeri setelah transaksi selesai.”
“Bersamamu?”
Maya menggeleng.
“Tanpaku.”
Aku terdiam.
“Dia bilang aku tahu terlalu banyak.”
Pagi berikutnya, semuanya bergerak cepat.
Pengacara keluarga mengajukan permohonan pembekuan aset yang terkait dengan dugaan pemalsuan dokumen.
Auditor menyerahkan bukti transaksi mencurigakan.
Pihak berwenang mulai menyelidiki laporan mengenai dokumen dan aliran dana perusahaan.
Aku tidak meminta Harrison menghancurkan Arga.
Aku hanya mengatakan,
“Berikan semua bukti kepada orang yang berwenang. Biarkan hukum yang menyelesaikannya.”
Perusahaan Arga tidak benar-benar lenyap dalam sepuluh menit.
Yang runtuh dalam sepuluh menit adalah ilusi bahwa perusahaan itu tidak bisa disentuh.
Begitu dukungan Wijaya ditarik, kreditur meminta penjelasan.
Investor meminta audit.
Dewan direksi mengadakan rapat darurat.
Dan ketika dokumen Maya muncul…
Arga diskors dari jabatannya.
Beberapa minggu kemudian, aku bertemu dengannya di ruang mediasi.
Dia terlihat sepuluh tahun lebih tua.
“Nadira.”
Aku duduk di seberangnya.
“Kamu mengambil semuanya dariku.”
Aku hampir tersenyum.
“Tidak.”
Aku meletakkan satu dokumen di meja.
“Kamu melakukannya sendiri.”
Dia menatapku.
“Kalau kamu tidak menelepon Harrison—”
“Kalau aku tidak menelepon Harrison, kamu akan mengambil anakku, menggunakan namaku, mencuri asetku, lalu meninggalkanku menanggung akibatnya.”
Dia diam.
Kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku muak.
“Aku mencintaimu.”
Aku menatapnya lama.
“Tidak, Arga.”
Air mataku hampir jatuh, tetapi aku menahannya.
“Kamu mencintai apa yang bisa kuberikan.”
Aku berdiri.
“Dan itu bukan hal yang sama.”
Enam bulan kemudian, hasil tes DNA resmi selesai.
Rafa adalah anak biologisku dan Arga.
Tidak ada lagi keraguan.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih sulit.
Siapa ibunya?
Secara biologis, aku.
Secara kehamilan dan kelahiran, Maya.
Secara emosional…
kami berdua mencintainya.
Aku bisa saja berusaha mengambil Rafa sepenuhnya.
Sebagian diriku ingin melakukannya.
Tetapi setiap kali melihat Maya menggendongnya, aku tahu satu kenyataan yang tidak bisa dihapus oleh tes DNA.
Dia mengandung Rafa.
Dia merasakan tendangannya.
Dia melahirkannya.
Dia bangun setiap malam ketika dia menangis.
Kesalahan Maya terhadapku tidak menghapus ikatannya dengan Rafa.
Setelah proses hukum dan konseling yang panjang, kami mencapai kesepakatan yang mungkin terdengar aneh bagi orang lain.
Rafa tinggal bersama Maya.
Aku mendapatkan hak untuk menjadi bagian dari hidupnya secara terbuka sesuai pengaturan hukum yang disepakati.
Tidak ada kebohongan.
Tidak ada lagi rahasia.
Suatu sore, Maya datang membawa Rafa ke rumahku.
Keisha berlari menuju pintu.
“Adik!”
Dia memeluk Rafa.
Rafa tertawa.
Aku berdiri beberapa langkah dari mereka.
Maya mendekat.
“Aku tahu kata maaf tidak cukup.”
“Memang tidak.”
Dia mengangguk.
“Tapi aku akan tetap mengatakannya selama diperlukan.”
Aku memandangnya.
“Aku belum memaafkanmu sepenuhnya.”
“Aku tahu.”
“Mungkin suatu hari.”
Air mata muncul di matanya.
“Itu lebih dari yang pantas kuterima.”
Aku tidak menjawab.
Kemudian Keisha memanggil.
“Mama! Lihat Rafa!”
Aku berjalan mendekat.
Rafa mengulurkan tangan kecilnya kepadaku.
Aku membeku.
Kemudian kugenggam tangannya.
Jari-jarinya menutup telunjukku.
Dan untuk pertama kalinya…
aku tidak melihat pengkhianatan Arga ketika memandang wajah anak itu.
Aku melihat anakku.
Setahun setelah acara syukuran bayi itu, aku kembali melewati hotel di SCBD tempat semuanya dimulai.
Aku meminta sopir berhenti sebentar.
Aku turun.
Gedung itu masih sama.
Kaca yang sama.
Lampu yang sama.
Kota yang sama.
Tetapi aku bukan perempuan yang sama.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Harrison.
“Rapat jam tiga. Jangan terlambat, CEO.”
Aku tersenyum.
Setelah restrukturisasi, dewan perusahaan lama Arga meminta tim baru mengambil alih bisnis yang masih sehat.
Aku tidak mengambil perusahaan itu sebagai balas dendam.
Aku bahkan menolak menggunakan nama Mahendra.
Perusahaan dibangun ulang dengan manajemen baru, audit independen, dan perlindungan bagi karyawan yang tidak terlibat dalam kejahatan Arga.
Ratusan orang tidak harus kehilangan pekerjaan hanya karena keserakahan satu pria.
Aku masuk kembali ke mobil.
Di kursi belakang ada sebuah foto.
Keisha sedang memegang tangan Rafa.
Di belakang foto itu, aku menulis satu kalimat:
Keluarga bukan tentang siapa yang memiliki siapa. Keluarga adalah tentang siapa yang memilih untuk tidak mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Aku pernah mengira hari ketika aku menemukan anak rahasia suamiku adalah hari keluargaku hancur.
Aku salah.
Hari itu justru hari ketika kebohongan berhenti menjadi fondasi keluargaku.
Arga kehilangan perusahaan.
Dia kehilangan pernikahannya.
Dia kehilangan kendali atas orang-orang yang selama ini dia anggap bisa dimanipulasi.
Tetapi aku mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
Kebenaran.
Kebebasan.
Dan seorang anak laki-laki yang bahkan tidak pernah kuketahui telah diambil dariku.
Sebelum mobil bergerak, aku melihat gelang emas kecil di dalam kotak beludru yang kubawa.
Gelang Rafa.
Di bagian dalamnya masih terukir:
27/10.
Dulu aku membenci angka itu.
Aku menganggapnya simbol pengkhianatan terbesar dalam hidupku.
Sekarang aku memutuskan tidak akan menghapusnya.
Karena tanggal itu bukan milik Arga.
Bukan milik pernikahan yang telah gagal.
Tanggal itu adalah bagian dari kisah dua anakku.
Aku menutup kotaknya.
Sopir bertanya,
“Ke kantor, Bu Nadira?”
Aku melihat Jakarta terbentang di depan.
Lalu aku tersenyum.
“Ya.”
Mobil mulai bergerak.
Aku tidak menoleh lagi ke hotel itu.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu.
Balas dendam terbaik bukan melihat orang yang menghancurkanmu jatuh.
Balas dendam terbaik adalah membangun kehidupan yang begitu utuh setelah kepergiannya, sampai suatu hari kamu menyadari bahwa kehancurannya sudah tidak penting lagi.
Dan pria yang pernah mengira dia telah mencuri masa depanku…
ternyata hanya membuka pintu menuju kehidupan yang seharusnya kumiliki sejak awal.
TAMAT.
