AKU PULANG 4 JAM LEBIH AWAL KE RUMAHKU DI PONDOK INDAH DAN MELIHAT TUNANGANKU BERSANTAI SAMBIL MENGANGKAT GELAS, SEMENTARA PENGASUH ANAK-ANAKKU DIUSIR KE TENGAH HUJAN TANPA JAKET. DI DAPUR, AKU MENDENGAR DIA BERKATA, “GADIS SEPERTI DIA TIDAK PUNYA SIAPA-SIAPA YANG AKAN PERCAYA PADANYA.” AKU TIDAK BERTERIAK. AKU MENYIMPAN REKAMANNYA, MENELEPON PENGACARAKU, DAN MEMBERI MEREKA SEPULUH MENIT UNTUK PERGI. TAPI KETIKA AKU MEMERIKSA SAKU CELEMEKNYA, AKU MENEMUKAN SESUATU YANG JAUH LEBIH BURUK DARIPADA CINCIN ITU.
BAGIAN 1
“Jangan biarkan Papa mengusir Kak Nisa dari rumah!”
Teriakan Rafi terdengar tepat ketika Arga Pratama masuk ke rumah mewahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, empat jam lebih cepat dari jadwal.
Seharusnya pengusaha berusia tiga puluh enam tahun itu baru pulang menjelang malam.
Namun rapat dengan salah satu investor di kawasan SCBD selesai lebih cepat dari perkiraan.

Arga turun dari mobil masih mengenakan jas dan mantel tipisnya.
Begitu membuka pintu ruang keluarga, langkahnya langsung terhenti.
Seprai putih dari kamar utama dibentangkan di antara dua sofa besar, membentuk sebuah benteng.
Bantal-bantal ditumpuk seperti tembok.
Dan di tengah kekacauan itu, ketiga anak kembarnya yang baru berusia tiga tahun—Rafi, Niko, dan Alya—sedang tertawa sampai berguling-guling di lantai.
Di depan mereka berdiri Nisa Ramadhani, pengasuh berusia dua puluh empat tahun yang baru bekerja di rumah itu selama tiga minggu.
Ia mengenakan sarung tangan karet kuning, membuat ekspresi menyeramkan, lalu mengejar ketiga anak itu sambil berpura-pura menjadi monster.
Arga hanya berdiri diam.
Sudah lama sekali ia tidak mendengar rumah itu dipenuhi tawa seperti itu.
Istrinya, Maya, meninggal akibat komplikasi setelah melahirkan ketiga anak mereka.
Sejak hari itu, Arga mengubur dirinya dalam pekerjaan.
Rapat.
Perjalanan bisnis.
Kontrak.
Akuisisi perusahaan.
Ia memastikan anak-anaknya mendapatkan semuanya.
Rumah terbaik.
Dokter terbaik.
Mainan terbaik.
Sekolah terbaik.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa ia beli dengan uang.
Seorang ayah yang benar-benar hadir.
Nisa akhirnya menyadari keberadaannya.
Wajahnya langsung pucat.
“Pak Arga…”
Ia segera melepas sarung tangan.
“Maaf. Di luar hujan deras, jadi anak-anak tidak bisa bermain di halaman. Saya akan membereskan semuanya sekarang.”
Tawa ketiga anak itu mendadak berhenti.
Niko bahkan berlari dan bersembunyi di belakang kaki Nisa.
Pemandangan itu menusuk dada Arga.
Putranya sendiri mencari perlindungan di belakang seorang perempuan yang baru dikenalnya tiga minggu.
Bukan di belakang ayahnya.
Dari pintu menuju dapur, Bu Ratih, kepala rumah tangga yang sudah bekerja untuk keluarga Arga hampir dua belas tahun, menatap kekacauan itu dengan bibir mengerucut.
Bu Ratih selalu percaya anak kecil membutuhkan disiplin.
Jam makan harus tepat.
Jam tidur tidak boleh berubah.
Mainan harus tersusun.
Rumah harus tenang.
Sementara Nisa memiliki cara yang berbeda.
Dalam tiga minggu saja, ia sudah mengetahui bahwa Rafi takut tidur dalam keadaan gelap.
Bahwa Alya hanya bisa terlelap jika memegang pita rambut milik almarhum ibunya.
Dan bahwa Niko selalu menolak minum obat kecuali boneka beruangnya “minum obat” terlebih dahulu.
Arga tidak mengetahui satu pun dari hal-hal itu.
Ia memandang benteng dari seprai tersebut.
“Apa yang ada di dalam benteng?”
Nisa tampak bingung.
“Pak?”
“Benteng ini.”
Nisa melirik ketiga anak itu sebelum tersenyum kecil.
“Tempat di mana tidak ada naga yang boleh membuat anak-anak merasa sendirian.”
Arga terdiam beberapa detik.
Kemudian sesuatu yang tidak pernah diduga siapa pun terjadi.
Ia meletakkan tas kerjanya.
Melepas sepatunya.
Lalu berlutut di lantai.
“Masih ada tempat untuk satu orang lagi?”
Mata Alya langsung berbinar.
“Ada!”
Gadis kecil itu berlari mengambil mahkota karton berwarna emas buatan mereka dan memasangkannya di kepala Arga.
Rafi merebut ponsel dari tangan ayahnya.
“Kalau masuk benteng nggak boleh kerja!”
“Kenapa?”
“Karena Raja nggak boleh main HP.”
Nisa menahan tawa.
Arga mengangkat kedua tangannya.
“Baik. Raja menyerah.”
Beberapa menit kemudian, sesuatu yang bahkan lebih sederhana terjadi.
Niko mendekatinya.
Perlahan.
Ragu-ragu.
Lalu menyandarkan kepala kecilnya di dada Arga.
Arga hampir lupa bagaimana rasanya memeluk putranya tanpa terburu-buru.
“Papa lawan naga?” tanya Rafi.
Arga mengernyit.
“Naga apa?”
Ketiga anak itu menunjuk Nisa.
Nisa tampak salah tingkah.
“Saya hanya bilang kepada mereka kalau Bapak sering bepergian karena sedang melawan naga supaya mereka tetap aman.”
Arga menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ia memahami sesuatu.
Perempuan itu sebenarnya memiliki banyak kesempatan untuk membuat anak-anak membencinya.
Ia bisa saja berkata bahwa ayah mereka tidak pernah pulang.
Bahwa pekerjaan lebih penting bagi Arga daripada keluarga.
Bahwa ayah mereka terlalu sibuk untuk bermain.
Tetapi Nisa tidak melakukannya.
Sebaliknya, ia menjaga sosok Arga tetap menjadi pahlawan di mata ketiga anaknya.
Padahal Arga sendiri hampir tidak pernah hadir.
Tiba-tiba terdengar suara sepatu hak tinggi dari lorong.
Tak.
Tak.
Tak.
Semua orang menoleh.
Selena Wijaya, tunangan Arga, memasuki ruang keluarga sambil membawa beberapa tas belanja bermerek dari butik mewah di Plaza Indonesia.
Ia mengenakan gaun putih mahal, rambutnya tertata sempurna, dan sebuah kacamata hitam bertengger di kepalanya meski hari sedang hujan.
Begitu melihat benteng dari seprai, ekspresinya berubah.
“Astaga…”
Ia memandang sekeliling dengan jijik.
“Ini rumah atau tempat penitipan anak murah?”
Senyum Nisa langsung menghilang.
Kemudian Selena menatapnya dari ujung rambut sampai kaki.
“Dan kamu.”
Nisa berdiri.
“Iya, Bu?”
“Jauhkan tanganmu dari anak-anak tunanganku.”
Ruangan mendadak sunyi.
Selena menyilangkan kedua tangan.
“Kita tidak tahu kebiasaan seperti apa yang kamu bawa dari lingkunganmu.”
Arga langsung berdiri.
“Selena.”
Nada suaranya membuat semua orang diam.
“Nisa merawat anak-anak lebih baik daripada siapa pun yang pernah bekerja di rumah ini.”
Selena menatapnya tidak percaya.
“Arga…”
“Dan jangan pernah bicara seperti itu lagi kepadanya.”
Wajah Selena mengeras.
Namun ia memilih diam.
Malam itu, Arga membuat keputusan sederhana.
Tetapi bagi Selena, keputusan itu terasa seperti penghinaan.
Saat meja makan disiapkan, Arga berkata kepada Bu Ratih,
“Tambahkan satu kursi.”
Bu Ratih berhenti.
“Untuk siapa, Pak?”
“Nisa.”
Selena hampir menjatuhkan gelasnya.
“Pengasuh makan bersama kita?”
Arga menarik kursi untuk Alya.
“Dia sudah menghabiskan sepanjang hari bersama anak-anak. Saya tidak melihat masalahnya.”
Nisa sendiri terlihat tidak nyaman.
“Pak, saya bisa makan di dapur.”
“Duduk.”
Nada Arga tidak keras.
Tetapi tegas.
Akhirnya Nisa duduk di ujung meja.
Sepanjang makan malam, Selena beberapa kali menyindir pakaiannya.
“Bajumu lucu sekali.”
Nisa tersenyum canggung.
“Terima kasih.”
“Dari pasar?”
Bu Ratih menunduk, menyembunyikan senyum tipis.
Arga memperhatikannya.
Ia tidak menyukai arah percakapan itu.
Namun sebelum sempat berkata apa pun, Rafi mulai memainkan sepotong roti.
Ia membuat roti itu seperti pesawat kecil dan menerbangkannya mengelilingi gelas.
“Ngeeeeng…”
Selena menutup mata dengan kesal.
“Rafi, berhenti.”
Anak itu tidak mendengarkan.
“Ngeeeeng…”
Selena tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
Keras.
“Sudah kubilang berhenti!”
Rafi terkejut.
Tangannya menyenggol gelas.
Air tumpah tepat ke gaun Selena.
Selena berdiri.
“Anak kurang ajar!”
Rafi langsung menangis.
Dan sebelum Arga sempat bergerak, Nisa sudah berdiri di antara mereka.
“Dia baru tiga tahun.”
Selena menatapnya tajam.
“Apa?”
“Kalau Ibu tidak suka pada saya, silakan.”
Suara Nisa bergetar, tetapi ia tetap berdiri tegak.
“Ibu boleh menghina pakaian saya. Boleh meremehkan pekerjaan saya.”
Ia melirik Rafi yang sedang menangis.
“Tapi jangan lampiaskan kemarahan kepada anak-anak.”
Selena tertawa pendek.
“Siapa kamu sampai berani mengajariku?”
Kemudian ia menatap Arga.
“Pecat dia.”
Arga mengangkat Rafi ke dalam pelukannya.
Anak itu langsung memeluk lehernya.
“Tidak.”
Selena seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Arga.”
“Saya bilang tidak.”
Arga menatap tunangannya.
“Dan kamu juga tidak akan pernah membentak anak-anak saya seperti itu lagi.”
Wajah Selena berubah merah.
Tanpa berkata apa pun, ia mengambil tasnya dan meninggalkan ruang makan.
Tetapi bukannya langsung pulang, Selena berhenti di lorong dekat dapur.
Di sana Bu Ratih sedang berdiri sendirian.
Selena menoleh ke kanan dan kiri.
Kemudian perlahan ia melepaskan sebuah cincin berlian dari jarinya.
Cincin itu bukan cincin biasa.
Itu adalah cincin warisan keluarga Wijaya yang kabarnya bernilai hampir Rp35 miliar.
Selena meletakkannya di telapak tangan Bu Ratih.
Bu Ratih menatap berlian besar itu.
Lalu menatap Selena.
“Apa maksud Ibu?”
Selena mendekat dan berbisik,
“Sebelum tengah malam, saya ingin gadis itu keluar dari rumah ini.”
Bu Ratih menelan ludah.
“Bagaimana caranya?”
Selena menutup jari-jari Bu Ratih di sekitar cincin itu.
“Letakkan di tempat yang tidak mungkin dia jelaskan.”
Tatapan Bu Ratih perlahan berubah.
“Lalu?”
Selena tersenyum.
“Besok pagi semua orang akan mengenalnya sebagai pencuri.”
Bu Ratih masih diam.
Selena mendekatkan wajahnya.
“Gadis seperti dia tidak punya siapa-siapa yang akan mempercayainya.”
Beberapa detik kemudian…
Bu Ratih tersenyum.
Dan kedua perempuan itu sama sekali tidak menyadari bahwa dari ujung lorong, sebuah kamera keamanan kecil sedang merekam setiap gerakan mereka.
Mereka juga tidak tahu bahwa beberapa jam kemudian Arga akan pulang empat jam lebih awal sekali lagi…
dan menemukan Nisa berdiri di tengah hujan tanpa jaket, memeluk dirinya sendiri sambil menangis.
Namun cincin berlian senilai Rp35 miliar itu ternyata bukan rahasia terbesar yang disembunyikan malam itu.
Karena ketika Arga memeriksa celemek Nisa…
ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya seolah berhenti mengalir.
Sesuatu yang berhubungan dengan kematian Maya.
Ibu dari ketiga anaknya.
Dan pada saat itulah Arga sadar—
selama tiga tahun terakhir, ia mungkin telah mempercayai orang yang salah.
