PUTRIKU MENGHILANG BEBERAPA MENIT SEBELUM PERNIKAHANKU; AKU MENEMUKANNYA TERKUNCI DI RUANG LAUNDRY, DAN APA YANG DIA KATAKAN TENTANG CALON ISTRIKU MENGUBAH SEGALANYA

Avatar penulis
Cerita 04
9 menit baca 49 tayangan
PUTRIKU MENGHILANG BEBERAPA MENIT SEBELUM PERNIKAHANKU; AKU MENEMUKANNYA TERKUNCI DI RUANG LAUNDRY, DAN APA YANG DIA KATAKAN TENTANG CALON ISTRIKU MENGUBAH SEGALANYA
Indeks

PUTRIKU MENGHILANG BEBERAPA MENIT SEBELUM PERNIKAHANKU; AKU MENEMUKANNYA TERKUNCI DI RUANG LAUNDRY, DAN APA YANG DIA KATAKAN TENTANG CALON ISTRIKU MENGUBAH SEGALANYA

Kurang dari lima menit sebelum akad nikahku dimulai, aku menemukan putriku yang berusia sembilan tahun terkunci di ruang laundry gedung pernikahan.

PUTRIKU MENGHILANG BEBERAPA MENIT SEBELUM PERNIKAHANKU; AKU MENEMUKANNYA TERKUNCI DI RUANG LAUNDRY, DAN APA YANG DIA KATAKAN TENTANG CALON ISTRIKU MENGUBAH SEGALANYA

Keranjang bunga kecil yang seharusnya dia bawa saat berjalan menuju pelaminan tergeletak di lantai.

Begitu melihatku, hal pertama yang dikatakan Alya adalah,

“Pa… Tante Nadira bilang aku harus tetap di sini sampai acaranya selesai.”

Seketika tubuhku terasa dingin.

Aku berjongkok di depannya.

“Kenapa dia bilang begitu?”

Alya menundukkan kepala.

“Katanya kalau aku berjalan bersama Papa, semua orang akan teringat Mama. Tante Nadira bilang hari ini seharusnya cuma tentang dia.”

Aku tidak tahu berapa lama aku terdiam.

Di luar, di taman sebuah gedung pernikahan di kawasan Sentul, Bogor, hampir seratus tamu sedang menunggu aku muncul untuk memulai akad.

Adikku, Rina, sibuk mencariku.

Fotografer beberapa kali bertanya di mana Alya karena dia seharusnya menjadi pembawa bunga.

Dan Nadira, perempuan yang sudah dua tahun menjalin hubungan denganku, mungkin sedang berdiri di ruang pengantin sambil berpikir bahwa beberapa menit lagi dia akan resmi menjadi istriku.

Namun aku masih berdiri di depan putriku.

“Dia menguncimu di sini?”

Alya menggeleng pelan.

“Dia menyuruhku masuk. Setelah itu pintunya ditutup. Katanya nanti ada orang yang akan menjemputku setelah acara selesai.”

Aku menoleh ke pintu.

Tanganku menyentuh gagangnya.

Lalu aku menyadari sesuatu.

Kunci ruang laundry itu hanya bisa dikunci dari luar.

Dan saat itulah semuanya berubah.

Selama ini Nadira selalu terlihat menyayangi Alya di depanku.

Dia sering mengajak Alya membeli es krim.

Dia datang ke acara sekolahnya.

Dia bahkan beberapa kali membantunya mengerjakan tugas.

Yang paling membuatku percaya, Nadira tidak pernah terlihat terganggu ketika aku atau Alya membicarakan Maya, mendiang istriku sekaligus ibu kandung Alya.

Maya meninggal empat tahun lalu karena kecelakaan.

Sejak saat itu, aku membesarkan Alya seorang diri.

Aku masih menyimpan beberapa foto Maya di ruang keluarga.

Bukan karena aku tidak bisa melanjutkan hidup, tetapi karena aku ingin Alya tumbuh tanpa merasa bahwa ibunya pernah dihapus dari rumah kami.

Nadira tahu itu.

Bahkan dia pernah berkata kepadaku,

“Aku tidak akan pernah mencoba menggantikan posisi ibunya Alya. Aku cuma ingin punya tempat sendiri di hatinya.”

Kalimat itulah yang membuatku percaya kepadanya.

Kalimat itulah yang membuatku akhirnya berani membuka hati lagi.

Dan mungkin, kalimat itulah salah satu alasan aku melamarnya.

Aku kembali menatap Alya.

“Alya, Papa mau tanya sesuatu. Nadira pernah mengatakan hal seperti ini sebelumnya?”

Alya terdiam.

Hanya beberapa detik.

Tetapi keraguannya terasa seperti sesuatu yang menghantam dadaku.

“Alya?”

“Ada…”

Aku menahan napas.

“Apa?”

“Kadang Tante Nadira bilang kalau nanti kalian sudah menikah, banyak hal di rumah harus berubah.”

Aku merasakan tengkukku menegang.

“Hal apa?”

Alya memainkan ujung gaunnya.

“Katanya foto Mama di ruang keluarga terlalu banyak.”

Aku tidak menjawab.

“Terus katanya aku harus belajar tidak mengganggu kalau Papa sedang bersama dia.”

Tanganku mengepal tanpa sadar.

“Masih ada?”

Alya mengangguk.

“Dia juga pernah bilang aku sudah besar, jadi aku tidak boleh tidur di kamar Papa kalau mimpi buruk.”

Aku menatap wajah kecil putriku.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang ke Papa?”

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Karena Tante Nadira bilang kalau aku mengadu, Papa bakal berpikir aku cuma cemburu dan tidak mau Papa bahagia.”

Dadaku terasa sesak.

Selama berbulan-bulan, anakku memendam semua itu sendirian karena dia takut menjadi penghalang kebahagiaanku.

Dan aku sama sekali tidak menyadarinya.

Saat itulah Rina muncul dari ujung koridor dengan wajah panik.

“Mas Arga! Semua orang nyariin kamu. Penghulunya sudah siap. Nadira juga marah karena—”

Kalimatnya terputus ketika melihat Alya berdiri di sampingku.

Matanya turun ke keranjang bunga di lantai.

Kemudian dia melihat pintu ruang laundry.

“Alya?”

Rina mendekat.

“Kamu ngapain di sini?”

Aku belum sempat menjawab ketika terdengar suara langkah kaki dari belakangnya.

Nadira muncul.

Dia masih mengenakan kebaya pengantin putih yang indah.

Riasannya sempurna.

Di rambutnya terpasang hiasan melati.

Namun ekspresi wajahnya langsung berubah begitu melihat Alya sudah berdiri di luar ruang laundry.

Hanya sesaat.

Tetapi aku melihatnya.

Kaget.

Bukan lega karena seorang anak yang sempat menghilang akhirnya ditemukan.

Melainkan kaget karena Alya berhasil keluar.

“Alya?”

Nada suara Nadira terdengar kaku.

“Kamu ngapain di sini?”

Aku berdiri.

“Kamu yang harus jawab.”

Nadira menatapku.

“Apa maksudmu?”

“Kenapa Alya ada di dalam ruang laundry?”

Wajahnya menegang.

“Arga, jangan mulai bikin masalah sekarang. Tamu sudah menunggu.”

“Jawab dulu.”

Rina berdiri di sampingku.

Nadira mengembuskan napas panjang.

“Aku tidak melakukan apa-apa. Aku cuma minta dia menunggu sebentar di sini.”

“Pintunya dikunci dari luar.”

Rina langsung menatap Nadira.

“Apa?”

Nadira mengangkat kedua tangannya.

“Aku tidak mengunci siapa pun.”

Aku menunjuk pintu.

“Penguncinya hanya bisa digunakan dari luar.”

Untuk pertama kalinya, Nadira kehilangan kata-kata.

Lalu wajahnya berubah.

Bukan lagi panik.

Melainkan kesal.

“Alya sedang emosional.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Nadira tertawa kecil dengan nada tidak percaya.

“Karena sejak pagi dia sudah tiga kali bertanya apakah dia boleh membawa foto Maya saat akad.”

Alya menggenggam tanganku lebih erat.

Nadira melanjutkan,

“Arga, coba pikirkan perasaanku. Hari ini aku menikah denganmu. Tapi anakmu ingin berjalan ke depan sambil membawa foto mendiang istrimu.”

Aku tidak berkata apa-apa.

Nadira tampaknya menganggap diamku sebagai kesempatan untuk membela dirinya.

“Semua orang nanti akan melihat foto itu. Semua orang akan membicarakan Maya. Menurutmu aku harus merasa bagaimana?”

Rina memotong,

“Jadi kamu memasukkan Alya ke ruang laundry?”

“Aku cuma ingin dia tenang!”

“Dengan mengunci pintunya?”

“Aku tidak mengunci dia!”

Alya tiba-tiba berbisik,

“Tante yang menutup pintunya.”

Nadira menoleh tajam.

“Alya, jangan mengarang cerita.”

Aku langsung berdiri di antara mereka.

“Jangan bicara seperti itu kepada anakku.”

Koridor mendadak sunyi.

Nadira menatapku seolah tidak percaya.

Aku pun akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin kulihat.

Bagi Nadira, Alya bukan bagian dari keluarga baru yang ingin dia bangun bersamaku.

Alya adalah masalah.

Sebuah pengingat bahwa sebelum Nadira datang, pernah ada perempuan lain yang kucintai.

Dan dia tampaknya percaya bahwa setelah kami menikah, masalah itu perlahan bisa dia singkirkan.

Aku menatap Nadira.

“Akadnya batal.”

Wajahnya membeku.

“Apa?”

“Pernikahan ini batal.”

Beberapa detik dia bahkan tidak berkedip.

Kemudian wajahnya memerah.

“Kamu gila?”

Aku tidak menjawab.

“Di luar ada hampir seratus orang!”

“Aku tahu.”

“Keluargaku datang dari Jakarta. Orang tuaku sudah mengeluarkan banyak uang. Semua sudah siap!”

“Aku tahu.”

“Kamu mau mempermalukanku di depan semua orang hanya karena anak sembilan tahun sedang ngambek?”

Rina langsung menatap Nadira dengan mata membesar.

Aku sendiri tidak bergerak.

Karena pada detik yang sama, aku merasakan tangan Alya bergetar di genggamanku.

Lalu putriku mulai menangis.

Bukan tangisan keras.

Justru tangisan kecil yang selama ini mungkin sudah terlalu sering dia tahan sendirian.

“Pa…”

Aku langsung berjongkok.

“Iya, Sayang?”

Alya mengusap pipinya.

“Ada satu lagi.”

“Apa?”

Dia melihat Nadira.

Kemudian kembali menatapku.

“Tante Nadira bilang setelah kalian menikah, aku mungkin akan tinggal sama Nenek.”

Aku merasa seperti tidak mendengar dengan benar.

“Apa?”

“Katanya rumah kita nanti terlalu sempit untuk keluarga baru kalian.”

Nadira langsung menyela.

“Dia bohong!”

Namun Alya melanjutkan,

“Dia bilang sudah bicara sama seseorang supaya aku tidak tinggal bareng Papa lagi.”

Wajah Nadira kehilangan warna.

Aku berdiri perlahan.

“Bicara sama siapa?”

“Arga, jangan percaya omongan anak kecil!”

Aku menatapnya.

“Nadira. Bicara sama siapa?”

“Tidak ada siapa-siapa!”

Kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Alya memasukkan tangan ke dalam saku kecil yang dijahit di sisi gaunnya.

Dia mengeluarkan sebuah ponsel lama.

Aku mengenal ponsel itu.

Itu ponsel bekas milikku yang kuberikan kepadanya beberapa bulan lalu hanya untuk keadaan darurat.

Alya memegangnya dengan kedua tangan.

“Pa…”

“Apa?”

“Aku rekam.”

Semua orang terdiam.

“Apa yang kamu rekam?”

“Waktu Tante Nadira ngomong sama aku.”

Nadira tiba-tiba melangkah maju.

“Kasih ponsel itu ke sini!”

Aku langsung berdiri di depan Alya.

“Jangan mendekat.”

“Arga, ini sudah keterlaluan!”

“Alya,” kataku tanpa mengalihkan pandangan dari Nadira, “buka rekamannya.”

Tangan kecil putriku gemetar ketika membuka layar.

Dia masuk ke folder rekaman suara.

Ada beberapa file.

Bukan satu.

Bukan dua.

Ada sembilan rekaman.

Aku menatap layar itu.

Kemudian menatap Nadira.

“Sejak kapan?”

Alya menjawab pelan.

“Sekitar tiga minggu.”

Jantungku terasa seperti jatuh.

Tiga minggu.

Artinya apa pun yang sedang terjadi bukan keputusan spontan Nadira pada pagi pernikahan kami.

Alya sudah merasa cukup takut selama tiga minggu hingga memilih merekam percakapan mereka.

Dia menekan file pertama.

Suara berdesis terdengar dari pengeras suara kecil.

Kemudian terdengar suara Nadira.

Jelas.

Tenang.

Tidak sedang marah.

Justru itu yang membuatnya semakin mengerikan.

“Alya, setelah Tante menikah sama Papa kamu, kamu harus mulai mengerti kalau keluarga ini akan punya aturan baru.”

Aku menatap Nadira.

Dia tidak bergerak.

Rekaman berlanjut.

“Papa kamu juga suatu hari nanti akan punya anak lagi. Jadi kamu tidak bisa terus-menerus membuat dia merasa bersalah karena Mama kamu sudah meninggal.”

Rina menutup mulutnya.

Mata Alya mulai basah lagi.

Lalu terdengar suara kecil Alya dari rekaman.

“Tapi aku nggak pernah bikin Papa merasa bersalah.”

Suara Nadira menjawab,

“Kamu mungkin tidak sadar.”

Aku merasakan darahku mendidih.

Namun rekaman belum selesai.

“Pokoknya nanti setelah kami menikah, Tante sudah punya rencana supaya semuanya lebih mudah. Kamu akan lebih sering tinggal sama Nenek. Papa kamu tetap bisa menjenguk. Lama-lama kamu juga akan terbiasa.”

Aku menekan tombol jeda.

Koridor itu menjadi begitu sunyi hingga suara musik dari taman terdengar samar dari kejauhan.

Aku memandang perempuan yang beberapa menit sebelumnya hampir menjadi istriku.

Namun wajah Nadira bukan lagi bagian yang paling menakutkan.

Yang paling menakutkan adalah melihat daftar rekaman di layar ponsel Alya.

Karena file yang baru kami dengar adalah rekaman paling lama.

Di bawahnya masih ada delapan file lainnya.

Dan salah satunya dibuat malam sebelumnya.

Namanya otomatis tercatat di ponsel:

REC_0087 — 22:43.

Aku menekan file itu.

Nadira langsung berkata,

“Arga, jangan.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, suaranya terdengar benar-benar takut.

Bukan takut kehilangan pernikahan.

Takut karena aku akan mengetahui sesuatu.

Aku menekan tombol putar.

Awalnya hanya terdengar suara langkah.

Lalu suara Nadira sedang menelepon seseorang.

“Besok setelah akad selesai, semuanya akan jauh lebih gampang.”

Aku membeku.

Suara laki-laki di ujung telepon tidak terlalu jelas.

Kemudian Nadira berkata lagi,

“Arga tidak tahu apa-apa. Setelah status kami resmi, aku tinggal butuh tanda tangannya. Soal Alya, sudah aku atur.”

Tanganku langsung mengepal.

Rina menatapku.

Namun Nadira tiba-tiba menerobos maju.

“Matikan rekamannya!”

Aku mengangkat ponsel itu menjauh darinya.

“Kenapa?”

Wajahnya pucat.

Karena rekaman masih berjalan.

Dan beberapa detik kemudian, kami mendengar Nadira menyebut satu nama.

Nama seseorang yang kukenal.

Seseorang yang bahkan berada di lokasi pernikahan pagi itu.

Saat mendengar nama tersebut, Rina menoleh kepadaku dengan wajah ngeri.

Aku sendiri hanya berdiri diam.

Karena saat itulah aku sadar—

rencana Nadira ternyata bukan sekadar menyingkirkan putriku setelah menikah denganku.

Pernikahan itu sendiri adalah bagian dari rencana yang jauh lebih besar.

Dan orang yang membantunya ternyata sudah berada di dekat keluargaku selama bertahun-tahun.