PUKUL 6 PAGI, SEPULANG DARI SHIFT MALAM YANG MELELAHKAN, AKU MENEMUKAN PUTRIKU YANG BARU BERUSIA LIMA TAHUN MENGGIGIL DI LANTAI DAPUR YANG DINGIN—SEMENTARA SUAMIKU TIDUR DI KAMAR TAMU BERSAMA ADIK KANDUNGKU SENDIRI. “JANGAN LEBAY,” KATANYA. “ANAK KECIL MEMANG SUKA BANGUN DAN JALAN SENDIRI MALAM-MALAM.” TAPI PUTRIKU MENGGENGGAM TANGANKU DAN BERBISIK, “AYAH YANG SURUH AKU DIAM DI TEMPAT GELAP, BUNDA… KATANYA KALAU AKU NURUT SAMPAI PAGI, AYAH AKAN BELIIN AKU ANAK ANJING.” AKU LANGSUNG MEMBAWANYA PERGI. NAMUN SAAT MATAHARI TERBIT, AKU MENEMUKAN BAHWA KAMAR TAMU ITU MENYIMPAN SESUATU YANG JAUH LEBIH BESAR DARIPADA PERSELINGKUHAN MEREKA. SATU DETAIL TERSEMBUNYI MEMBUATKU SADAR—MEREKA SUDAH MENIPUKU JAUH LEBIH LAMA DARIPADA YANG PERNAH KUBAYANGKAN…
BAGIAN 1
“Rani? Kamu sudah gila?! Kamu bawa Alya pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan?”
Suara suamiku, Arga, meledak dari speaker mobil.
Dia bahkan tidak bertanya apakah putri kami baik-baik saja.
“Kenapa Alya tidur di lantai dapur, Arga?”
Aku berusaha menjaga suaraku tetap tenang.

Setelah hampir sepuluh tahun bekerja sebagai perawat di IGD sebuah rumah sakit di Jakarta, aku belajar bahwa dalam keadaan darurat, kepanikan hanya membuat kita kehilangan kendali.
Kita harus melihat.
Mendengar.
Mengingat setiap detail.
Lalu bertindak.
“Dia pasti bangun sendiri!” bentak Arga. “Kamu baru selesai shift malam. Kamu capek dan sekarang membesar-besarkan semuanya. Bawa Alya pulang dan berhenti bersikap seolah-olah kamu korban paling menderita di dunia!”
Saat itulah terdengar suara kecil dari kursi belakang.
“Bunda?”
Aku melihat melalui kaca spion.
Alya sudah bangun.
Tubuh kecilnya masih dibungkus jaket kerjaku. Dia hanya mengenakan kaos tipis dan celana tidur.
“Kenapa, Sayang?”
Alya melirik speaker mobil dengan mata cemas.
“Ayah marah sama Alya?”
Aku langsung mematikan mikrofon.
“Enggak. Bunda ada di sini.”
Dia terdiam.
Kemudian bibir kecilnya bergetar.
“Berarti Alya enggak dapat hadiahnya?”
Aku mengerutkan kening.
“Hadiah apa?”
“Anak anjing.”
Aku langsung menepikan mobil.
Aku berbalik menghadap putriku.
“Ceritakan sama Bunda. Kenapa Ayah mau kasih kamu anak anjing?”
Alya menunduk.
“Ayah bilang kita main permainan rahasia.”
“Permainan apa?”
“Operasi Prajurit Diam.”
Jantungku mulai berdegup lebih cepat.
“Ayah bilang Alya harus jaga dapur dalam gelap. Enggak boleh berisik dan enggak boleh naik ke lantai atas.”
“Sampai kapan?”
“Sampai Bunda pulang.”
“Kenapa kamu enggak kembali ke kamar kalau kedinginan?”
Alya menatapku polos.
“Ayah mengunci pintu kamar Alya.”
Aku membeku.
“Ayah mengunci kamar kamu?”
Dia mengangguk.
“Katanya supaya Alya enggak lupa aturan. Kalau Alya naik ke atas atau bikin suara, misinya gagal dan kita enggak jadi punya anak anjing.”
Aku merasa seperti baru saja ditinju tepat di dada.
Ini bukan kecelakaan.
Alya tidak berjalan keluar dari kamar saat tidur.
Dia tidak tersesat ke dapur.
Suamiku sengaja menyuruh seorang anak berusia lima tahun duduk diam di lantai dapur sepanjang malam.
Dia bahkan mengunci kamar Alya agar putrinya sendiri tidak bisa kembali ke tempat tidur.
Semua supaya tidak ada yang mengganggunya.
Karena malam itu dia tidak sendirian.
Aku mengaktifkan kembali mikrofon.
Arga masih mengomel.
“Rani? Kamu dengar aku? Jangan bikin keputusan bodoh cuma karena kamu sedang emosi.”
“Aku tahu Siska ada di sana bersamamu.”
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Aku bahkan bisa mendengar napas Arga berubah.
Siska adalah adik kandungku.
Usianya dua puluh sembilan tahun.
Enam bulan terakhir dia sering datang ke rumah kami di Pondok Indah, Jakarta Selatan, dengan alasan bisnis online-nya bangkrut dan dia sedang mengalami masalah keuangan.
Aku sendiri yang mengizinkannya menginap di kamar tamu.
Aku yang memberinya uang ketika dia mengaku kesulitan membayar cicilan.
Aku bahkan sering membawakan makanan sepulang kerja karena merasa kasihan.
Ternyata aku sedang membantu perempuan yang tidur dengan suamiku sendiri.
“Rani…” akhirnya Arga berkata. “Apa pun yang kamu pikir kamu lihat, kamu salah paham.”
“Aku melihat pakaianmu di depan kamar tamu.”
Diam.
“Aku melihat sepatu Siska.”
“Dengarkan penjelasanku dulu.”
“Dan aku melihat putri kita menggigil di lantai dapur.”
“Itu tidak ada hubungannya dengan Siska!”
Kali ini aku hampir tertawa.
“Justru itu satu-satunya hal yang penting sekarang.”
“Pulang.”
“Tidak.”
“Rani!”
“Tidak.”
Aku menatap jalan yang masih diselimuti cahaya pucat pagi.
Lalu aku mengatakan sesuatu yang sejak tadi sengaja kusimpan.
“Oh iya, Arga.”
“Apa?”
“Aku membawa kunci brankas utama.”
Hening lagi.
Tapi kali ini berbeda.
Aku mendengar ketakutan dalam napasnya.
“Kenapa kamu mengambil kunci brankas?”
Aku tersenyum tipis.
Akhirnya.
Aku menemukan sesuatu yang benar-benar membuatnya takut.
“Karena aku tahu tentang rekening di luar negeri itu.”
Telepon langsung terputus.
Aku menatap layar.
Panggilan berakhir.
Pria yang beberapa detik sebelumnya berteriak menyuruhku pulang mendadak kehilangan semua keberaniannya ketika aku menyebut rekening tersebut.
Aku baru mengetahui rekening itu tiga hari sebelumnya.
Saat mencari dokumen asuransi rumah, aku menemukan sebuah amplop bank terselip di antara dokumen perusahaan Arga.
Nama pemilik rekening bukan namaku.
Ada transfer rutin dari rekening bersama kami.
Jumlahnya tidak kecil.
Dan transaksi pertama ternyata dilakukan hampir tiga tahun lalu.
Aku belum sempat menyelidikinya karena jadwal kerjaku sangat padat.
Namun sekarang aku mulai bertanya-tanya.
Bagaimana kalau perselingkuhan bukan alasan utama Arga panik?
Aku membawa Alya ke rumah sahabatku, Maya, di Kebayoran Baru.
Begitu melihat keadaan Alya, Maya tidak membuang waktu dengan banyak pertanyaan.
“Masuk dulu.”
Dia membuatkan susu hangat untuk Alya, memberikan selimut, lalu membiarkannya menonton kartun di ruang keluarga.
Aku duduk di meja makan sambil memegang kunci brankas.
Namun pikiranku terus kembali pada satu hal.
Kamar tamu.
Sebelum meninggalkan rumah, ketika mengambil beberapa pakaian Alya, aku sempat melihat sebuah kotak hitam di bawah meja kecil kamar tersebut.
Saat itu aku tidak memeriksanya.
Prioritasku hanya satu: membawa putriku keluar.
Sekarang aku teringat ada stiker kecil di sudut kotak itu.
Logo perusahaan Arga.
Aku segera membuka aplikasi kamera keamanan rumah.
Dua tahun sebelumnya rumah kami pernah hampir dibobol, sehingga aku memasang beberapa kamera.
Pintu depan.
Garasi.
Ruang keluarga.
Dan koridor lantai dua.
Aku membuka rekaman malam sebelumnya.
Tidak lama sebelum tengah malam, Siska terlihat masuk melalui pintu samping.
Arga membukakan pintu.
Mereka berpelukan.
Aku mempercepat rekaman.
Beberapa menit kemudian Arga berjalan menuju kamar Alya.
Dia masuk.
Lalu keluar sambil membawa sesuatu.
Aku menghentikan video.
Memperbesar gambar.
Selimut Alya.
Aku menahan napas.
Arga membawa selimut putri kami ke kamar tamu.
Bukan ke dapur.
Berarti dia tahu Alya berada di bawah.
Dia tahu anaknya kedinginan.
Dan dia tetap mengambil selimut itu untuk dirinya dan Siska.
Tanganku mulai gemetar.
Aku terus memutar rekaman.
Sekitar setengah jam kemudian, Siska keluar dari kamar tamu membawa kotak hitam yang tadi kulihat.
Dia menyerahkannya kepada Arga.
Arga membukanya di koridor.
Aku tidak bisa melihat seluruh isinya.
Tapi satu benda terlihat jelas.
Sebuah map biru.
Aku mengenal map itu.
Itulah tempat aku menyimpan dokumen pembelian rumah kami.
Rumah di Pondok Indah tersebut sebagian besar dibeli menggunakan uang warisan dari almarhum ayahku.
Kenapa dokumennya berada di kamar tempat suami dan adikku berselingkuh?
Aku memperbesar rekaman.
Tiba-tiba sebuah foto jatuh dari dalam kotak.
Siska membungkuk dan mengambilnya.
Sebelum memasukkannya kembali, dia tanpa sengaja mengangkat foto tersebut menghadap kamera.
Hanya sepersekian detik.
Aku mengambil tangkapan layar.
Memperbesarnya.
Dan seluruh tubuhku langsung dingin.
Aku mengenali tempat dalam foto itu.
Sebuah vila di Puncak, Bogor.
Dan aku mengenali dua orang yang berdiri di balkon.
Arga.
Dan Siska.
Mereka sedang berpelukan.
Tapi bukan itu yang membuatku hampir menjatuhkan ponsel.
Di sudut foto terdapat tanggal.
Aku memperbesarnya lagi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Karena otakku menolak menerima apa yang kulihat.
Foto itu bukan diambil enam bulan lalu.
Bukan setahun lalu.
Foto tersebut diambil enam tahun sebelumnya.
Sebelum Alya lahir.
Jauh sebelum Siska mengaku bisnisnya bangkrut dan mulai sering menginap di rumah kami.
Artinya hubungan mereka bukan perselingkuhan baru.
Bukan kesalahan sesaat.
Mereka sudah membohongiku selama bertahun-tahun.
“Ran…”
Maya tiba-tiba menunjuk layar ponselku.
“Apa?”
“Perbesar bagian meja di belakang mereka.”
Aku melakukannya.
Di meja kecil dalam foto terdapat sebuah dokumen.
Sebagian besar tulisannya kabur.
Tapi satu hal masih terbaca.
Nama perusahaan Arga.
Aku merasa perutku berputar.
Arga selalu mengatakan perusahaan itu baru dia dirikan empat tahun lalu.
Namun foto ini berusia enam tahun.
Berarti perusahaan tersebut sudah ada setidaknya dua tahun lebih awal daripada yang dia ceritakan kepadaku.
Kenapa dia berbohong soal itu?
Dan kenapa Siska sudah bersamanya saat perusahaan itu bahkan belum pernah dia ceritakan kepadaku?
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Sebuah pesan masuk.
Jangan kembali ke rumah sebelum kamu tahu siapa sebenarnya pemilik rekening itu.
Di bawah pesan tersebut terdapat sebuah foto.
Foto halaman pertama dokumen pembukaan rekening luar negeri.
Aku memperbesarnya.
Mataku langsung mencari nama pemilik dan penerima manfaat.
Ketika membacanya, aku merasa seluruh ruangan mendadak kehilangan udara.
Nama itu bukan Arga.
Bukan Siska.
Dan bukan aku.
Itu nama seseorang yang seharusnya sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga kami selama bertahun-tahun.
Aku menatap layar tanpa berkedip.
Saat itulah aku akhirnya mengerti.
Perselingkuhan hanyalah lapisan paling luar.
Apa pun yang disembunyikan Arga dan Siska di kamar tamu sudah dimulai jauh sebelum malam ketika aku menemukan putriku menggigil sendirian di lantai dapur.
Dan jika dokumen di tanganku asli…
mereka bukan hanya sedang menghancurkan pernikahanku.
Mereka sedang mencoba mengambil sesuatu yang sejak awal tidak pernah menjadi milik mereka.
BAGIAN 2
Aku menatap nama di dokumen itu sampai huruf-hurufnya terasa kabur.
Hendra Pratama.
Nama ayahku.
Ayah yang sudah meninggal tujuh tahun lalu.
Aku berdiri begitu cepat sampai kursi di belakangku hampir jatuh.
“Ini enggak mungkin.”
Maya mengambil ponsel dari tanganku.
“Ran…”
“Enggak mungkin.”
Ayahku meninggal karena serangan jantung ketika aku sedang hamil muda.
Setahun setelah itu, Arga mulai mengatakan bahwa dia ingin membangun bisnis sendiri.
Dia mengaku memulai semuanya dari nol.
Katanya dia mengambil pinjaman.
Katanya dia menggadaikan mobil.
Katanya dia mempertaruhkan semua tabungan pribadinya.
Selama bertahun-tahun, aku mempercayainya.
Bahkan ketika perusahaan itu mulai berkembang, aku bangga padanya.
Aku selalu berpikir dia membangun semuanya dengan kerja keras.
Sekarang sebuah dokumen menunjukkan sesuatu yang sama sekali berbeda.
Rekening luar negeri itu dibuka menggunakan nama ayahku.
Dan Arga telah melakukan transfer ke sana selama bertahun-tahun.
Tanganku gemetar ketika membaca baris berikutnya.
Beneficial controller: Arga Mahendra.
Aku menatap Maya.
“Dia menggunakan nama Ayah.”
Maya menghela napas panjang.
“Tapi untuk apa?”
Aku juga ingin tahu.
Nomor tak dikenal tadi kembali mengirim pesan.
Kalau kamu ingin jawaban, buka brankas sebelum Arga sempat memindahkan isinya.
Aku langsung berdiri.
Maya ikut bangun.
“Kamu enggak bisa kembali sendirian.”
“Aku enggak akan bawa Alya.”
“Bukan itu maksudku.”
“Aku tahu.”
Maya menatap wajahku cukup lama.
“Kalau kamu ke sana, aku ikut.”
Aku menggeleng.
“Tidak. Kamu tetap di sini sama Alya.”
“Rani—”
“Kalau terjadi sesuatu, setidaknya putriku ada sama orang yang aku percaya.”
Kalimat itu membuat kami sama-sama diam.
Aku membenci kenyataan bahwa sekarang kata “percaya” terasa seperti sesuatu yang mahal.
Sebelum pergi, aku menelepon kakak sepupuku, Dimas, yang bekerja sebagai pengacara korporasi di Jakarta.
Aku tidak menjelaskan semuanya.
Aku hanya berkata, “Aku mungkin menemukan dokumen keuangan atas nama almarhum Ayah. Aku butuh kamu datang ke rumahku.”
Nada suaranya langsung berubah serius.
“Aku berangkat.”
Aku juga menghubungi satpam kompleks dan meminta mereka mencatat siapa pun yang keluar dari rumahku membawa koper atau dokumen besar.
Ketika sampai di rumah, mobil Arga masih ada.
Mobil Siska juga.
Pintu depan terkunci.
Aku menggunakan sidik jariku.
Tidak bisa.
Kode akses sudah diubah.
Aku hampir tertawa.
Bahkan setelah semuanya terbongkar, Arga masih berpikir rumah itu miliknya.
Aku menunjukkan KTP pada petugas keamanan kompleks dan meminta mereka menemani sampai depan pintu.
Lalu aku membuka aplikasi rumah pintar.
Untungnya, akun utamanya masih menggunakan emailku.
Aku melakukan reset akses.
Pintu terbuka.
Rumah terasa sunyi.
Terlalu sunyi.
Aku masuk.
“Arga?”
Tidak ada jawaban.
Aku naik ke lantai dua.
Kamar utama kosong.
Kamar tamu berantakan.
Seprai kusut.
Siska sudah tidak ada.
Kotak hitam juga menghilang.
Aku menahan napas.
Lalu melihat pintu ruang kerja Arga.
Terbuka.
Brankas besar berada di balik lemari buku.
Tanganku memasukkan kunci.
Sekali putar.
Klik.
Di dalamnya ada uang tunai, beberapa sertifikat, paspor lama, dan dua flashdisk.
Tapi yang paling menarik adalah sebuah map cokelat tebal.
Aku membuka halaman pertama.
Surat kuasa.
Nama ayahku.
Nama Arga.
Tanda tangan.
Aku mengenali tanda tangan ayah.
Tapi tanggalnya membuatku merinding.
Dokumen itu ditandatangani dua bulan setelah ayahku meninggal.
“Ya Tuhan…”
Seseorang telah memalsukan tanda tangannya.
Aku terus membalik halaman.
Ada salinan perusahaan.
Dokumen pendirian.
Pemindahan saham.
Pinjaman.
Dan daftar transaksi.
Semakin kubaca, semakin jelas polanya.
Arga tidak pernah membangun bisnis itu dari nol.
Modal awal berasal dari rekening investasi milik ayahku.
Ayahku ternyata memiliki portofolio yang jauh lebih besar daripada yang pernah kuketahui.
Dia menyimpan sebagian aset atas namaku sebagai ahli waris.
Namun setelah kematiannya, ada beberapa dokumen yang dialihkan.
Secara perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Seolah-olah seseorang berharap aku tidak akan sadar.
Lalu aku melihat nama Siska.
Bukan sebagai penerima uang.
Sebagai saksi.
Tanda tangannya muncul di tiga dokumen.
Tanganku langsung dingin.
Berarti dia tahu.
Bukan sekadar berselingkuh dengan Arga.
Dia membantu.
Pintu depan tiba-tiba terbanting.
Aku berdiri.
Beberapa detik kemudian Arga muncul di lorong.
Wajahnya merah.
“Keluar.”
Aku menatapnya.
“Dari rumahku sendiri?”
“Jangan mulai.”
Aku mengangkat dokumen.
“Kamu memalsukan tanda tangan ayahku.”
Wajahnya berubah.
Hanya sepersekian detik.
Cukup.
“Aku enggak tahu kamu ngomong apa.”
“Dua bulan setelah Ayah meninggal, tanda tangannya muncul di surat kuasa ini.”
Dia menutup pintu ruang kerja di belakangnya.
“Kamu terlalu capek. Kamu enggak ngerti dokumen bisnis.”
Aku hampir tersenyum.
Kalimat yang sama.
Selalu cara yang sama.
Aku terlalu lelah.
Aku terlalu emosional.
Aku terlalu bodoh.
Aku terlalu dramatis.
Selama bertahun-tahun, Arga selalu membuatku meragukan apa yang sebenarnya kulihat.
Kali ini tidak.
“Aku sudah kirim fotonya ke pengacara.”
Wajahnya langsung menegang.
“Siapa?”
“Bukan urusanmu.”
“Rani, dengar.”
Dia mengambil satu langkah ke depan.
Aku mundur.
“Jangan mendekat.”
Untuk pertama kalinya dia berhenti.
Mungkin ada sesuatu dalam nada suaraku yang akhirnya dia kenali.
Bukan ketakutan.
Bukan kemarahan.
Selesai.
“Ini semua tidak seperti yang kamu pikir,” katanya.
“Kalau begitu jelaskan.”
Dia mengusap wajah.
“Ayahmu dulu punya masalah pajak.”
“Bohong.”
“Aku bantu mengelola aset.”
“Tanpa sepengetahuanku?”
“Karena kamu lagi hamil!”
“Enam tahun?”
Dia diam.
Aku mengangkat dokumen lain.
“Kenapa Siska jadi saksi?”
Tatapannya berpindah ke lantai.
Saat itulah aku tahu.
Apa pun jawabannya, dia sudah kalah.
“Sejak kapan?”
“Rani…”
“Sejak kapan kamu sama Siska?”
Dia tidak menjawab.
Aku menunggu.
Akhirnya dia berkata, “Sudah lama.”
“Enam tahun?”
Diam.
“Lebih?”
Dia duduk di kursi.
Aku merasa mual.
“Lebih?”
“Delapan.”
Aku memejamkan mata.
Delapan tahun.
Lebih lama dari umur Alya.
Lebih lama dari hampir seluruh hidup pernikahan kami yang terasa bahagia.
“Kenapa?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Bukan karena aku masih membutuhkan penjelasan.
Tapi karena ada sebagian kecil dalam diriku yang ingin tahu bagaimana seseorang bisa menatap wajahmu setiap hari sambil menjalani kehidupan lain.
Arga menatap meja.
“Aku enggak merencanakannya.”
“Kalian semua selalu bilang begitu.”
“Siska yang duluan tahu soal aset ayahmu.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Dia pernah bantu Ayah urusan administrasi.”
Aku menatapnya.
Ayahku memang pernah meminta Siska membantu beberapa urusan kantor ketika dia masih kuliah.
Saat itu aku bekerja di rumah sakit hampir setiap hari.
Aku tidak pernah curiga.
“Setelah Ayah meninggal, dia menemukan dokumen investasi.”
“Lalu?”
“Kita punya utang.”
“Kita enggak punya utang sebesar itu.”
“Aku punya.”
Jadi ini dia.
Akhirnya.
Arga mengaku.
Sebelum membuka bisnis, dia punya utang besar dari investasi gagal.
Dia takut mengatakannya kepadaku.
Siska tahu.
Mereka kemudian menggunakan akses dokumen ayahku untuk mengambil sejumlah dana.
Awalnya, menurut Arga, “hanya sementara.”
Mereka berniat mengembalikannya.
Tapi perusahaan justru tumbuh cepat.
Dan ketika uang mulai masuk, mereka tidak berhenti.
Mereka semakin berani.
Mengalihkan aset.
Memalsukan dokumen.
Menyembunyikan transfer.
Lalu perselingkuhan mereka dimulai.
Atau mungkin justru sudah dimulai sebelum semuanya.
Aku bahkan tidak lagi peduli mana yang lebih dulu.
“Jadi rumah ini?”
Aku bertanya.
Arga diam.
“Rumah ini dibeli pakai uang warisan Ayah. Kenapa dokumennya ada di kamar tamu?”
“Karena…”
“Karena apa?”
Dia menatapku.
“Karena Siska ingin menjualnya.”
Aku tertawa pendek.
Sebuah suara tanpa humor.
“Rumahku?”
“Kami cuma membahas opsi.”
“Kami?”
Kata itu terasa lebih menyakitkan daripada yang kuduga.
Bukan Arga.
Bukan Siska.
Kami.
Mereka adalah satu tim.
Aku hanya orang luar dalam pernikahanku sendiri.
Tiba-tiba bel depan berbunyi.
Aku tidak bergerak.
Arga berdiri.
“Siapa?”
“Pengacaraku.”
Dimas masuk bersama seorang notaris yang dia kenal dan dua petugas keamanan kompleks.
Wajah Arga berubah.
Dimas tidak banyak bicara.
Dia membaca beberapa dokumen.
Lima menit kemudian dia menatapku.
“Ran, jangan tanda tangan apa pun. Jangan pindahkan aset apa pun. Jangan serahkan dokumen ini.”
“Kenapa?”
“Karena kalau ini asli, kita bukan cuma bicara perselingkuhan atau masalah keluarga.”
Dia menatap Arga.
“Ini bisa masuk pidana.”
Arga langsung membela diri.
Tapi Dimas mengangkat tangan.
“Aku bukan polisi. Aku enggak akan berdebat.”
Kemudian suara lain terdengar dari depan rumah.
“Saya juga enggak.”
Aku menoleh.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di pintu.
Wajahnya familiar.
Tapi aku tidak langsung ingat.
Dia memperkenalkan diri.
Pak Surya.
Mantan akuntan ayahku.
Aku pernah melihatnya waktu kecil.
Dia memegang sebuah tas dokumen hitam.
“Nomor tak dikenal itu dari saya.”
Aku menatapnya.
“Kenapa baru sekarang?”
Wajahnya jatuh.
“Karena saya pengecut.”
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Surya menjelaskan bahwa setelah ayah meninggal, dia menemukan kejanggalan.
Beberapa instruksi transfer muncul setelah kematian.
Awalnya dia mengira itu administrasi yang tertunda.
Namun kemudian tanda tangan baru terus muncul.
Dia menanyakannya kepada Arga.
Arga mengatakan semua sudah disetujui keluarga.
Siska menguatkan cerita itu.
Pak Surya curiga, tapi takut.
Arga saat itu sudah punya koneksi bisnis kuat.
Pak Surya memilih pensiun dan diam.
“Lalu kenapa sekarang?”
Aku bertanya.
Dia menarik napas.
“Karena tiga minggu lalu saya melihat Siska menemui broker properti.”
Aku menegang.
“Untuk rumah ini?”
Dia mengangguk.
“Bukan hanya rumah ini.”
Dia membuka tasnya.
Ada salinan dokumen beberapa aset.
Sebuah gudang di Bekasi.
Tanah di Bogor.
Saham perusahaan.
Semuanya berasal dari aset lama ayahku.
Dan semuanya perlahan dipindahkan.
“Kalau penjualan rumah ini berhasil,” katanya, “mereka bisa memindahkan hampir seluruh sisa aset yang masih bisa kamu klaim.”
Aku menatap Arga.
Dia tidak lagi terlihat marah.
Dia terlihat takut.
Tapi belum selesai.
Pak Surya mengeluarkan satu amplop terakhir.
“Ini yang paling penting.”
Aku membuka.
Sebuah surat tulisan tangan.
Dari ayahku.
Tulisan tangannya nyata.
Aku langsung mengenalinya.
Surat itu dibuat tiga minggu sebelum dia meninggal.
Isinya sederhana.
Ayah mengatakan dia sudah menyiapkan aset untukku dan untuk cucunya di masa depan.
Dia juga menyebut satu hal yang membuat lututku lemas.
Semua aset utama harus tetap berada di bawah kendali Rani sampai anaknya berusia dua puluh lima tahun.
Bukan karena Ayah tidak percaya padaku.
Tapi karena dia tahu aku terlalu mudah percaya pada orang yang kucintai.
Aku berhenti membaca.
Air mataku akhirnya jatuh.
Selama ini aku marah karena merasa Ayah merahasiakan terlalu banyak hal dariku.
Ternyata dia sedang mencoba melindungiku.
Dengan cara yang tidak pernah sempat dia jelaskan.
Aku menutup surat.
Arga berkata pelan, “Rani, kita bisa beresin ini.”
Aku menatapnya.
“Tidak ada ‘kita’ lagi.”
BAGIAN 3
Dua hari kemudian, aku resmi melaporkan dugaan pemalsuan dokumen dan penggelapan aset.
Pengacaraku meminta pengadilan melakukan pembekuan sementara terhadap beberapa aset yang masih bisa dilacak.
Perusahaan Arga mulai diperiksa.
Rekening luar negeri dibekukan.
Dan broker properti yang hendak menangani penjualan rumah membatalkan proses begitu mengetahui ada sengketa kepemilikan.
Siska menghilang selama hampir seminggu.
Aku tidak tahu dia tinggal di mana.
Aku juga tidak mencarinya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhenti mengejar orang yang memilih meninggalkanku.
Aku fokus pada Alya.
Itulah bagian yang paling sulit.
Bukan polisi.
Bukan pengacara.
Bukan uang.
Alya masih bertanya tentang anak anjing.
“Bunda, Alya gagal ya?”
Aku duduk di samping tempat tidurnya.
“Kamu enggak gagal apa-apa.”
“Tapi Ayah bilang…”
“Ayah salah.”
“Kalau Alya lebih kuat, mungkin Ayah senang.”
Aku langsung memeluknya.
Saat itu aku sadar sesuatu yang jauh lebih penting daripada semua dokumen.
Kerusakan paling besar yang Arga lakukan bukan pada rekening.
Bukan pada rumah.
Bukan pada perusahaan.
Dia membuat seorang anak kecil berpikir bahwa rasa sakit adalah sesuatu yang harus ditahan demi mendapatkan cinta.
Aku tidak akan membiarkan itu tumbuh bersamanya.
Aku membawa Alya ke psikolog anak.
Kami mulai pelan-pelan.
Mengajarinya bahwa orang dewasa tidak boleh meminta anak merahasiakan sesuatu yang membuatnya takut.
Bahwa cinta tidak diberikan sebagai hadiah karena patuh.
Bahwa dia boleh berkata tidak.
Bahwa dia boleh memanggil Bunda.
Bahwa dia tidak perlu “kuat” untuk pantas disayang.
Tiga minggu setelah semuanya terbongkar, Siska akhirnya datang menemuiku.
Bukan ke rumah.
Ke sebuah kafe di Jakarta Selatan.
Dia terlihat jauh berbeda.
Tanpa riasan.
Mata bengkak.
Dia duduk di depanku dan menangis bahkan sebelum bicara.
“Aku enggak minta kamu maafin aku.”
“Bagus.”
Dia menunduk.
“Aku cuma mau cerita satu hal.”
Aku hampir pergi.
Tapi sesuatu dalam wajahnya membuatku tetap duduk.
“Arga bohong sama aku juga.”
Aku tertawa kecil.
“Jangan mulai.”
“Dia bilang kamu tahu soal aset.”
“Apa?”
“Dia bilang Ayah memang mau uang itu dipakai buat bisnis.”
Aku menatapnya.
Siska menjelaskan bahwa awalnya dia memang membantu membuka dokumen ayah.
Dia mengaku salah.
Dia tahu beberapa transfer tidak benar.
Tapi Arga selalu meyakinkannya bahwa semuanya masih berada dalam “keluarga.”
Bahwa perusahaan dibangun untuk masa depan kami.
Bahwa suatu hari kepemilikan akan dibagi.
“Terus hubungan kalian?”
Aku bertanya.
Dia menangis.
“Itu enggak ada pembelaannya.”
Setidaknya kali ini dia tidak mencoba.
“Aku jatuh cinta sama orang yang seharusnya enggak boleh aku sentuh.”
“Delapan tahun?”
Dia menutup wajah.
Aku menatap perempuan yang dulu tidur sekamar denganku ketika kecil.
Orang yang pernah kupeluk ketika dia takut petir.
Adikku.
Aku ingin membencinya sepenuhnya.
Tapi kenyataan jauh lebih rumit.
Aku tetap membencinya karena apa yang dia lakukan.
Dan tetap merasa kehilangan dia.
Dua hal itu ternyata bisa hidup bersamaan.
Sebelum pergi, Siska memberiku satu benda.
Flashdisk.
“Ini salinan semua percakapan sama Arga.”
Aku menatapnya.
“Kenapa kasih ke aku?”
“Karena dia mau kabur.”
Aku membeku.
“Ke mana?”
“Singapura dulu. Habis itu mungkin Australia.”
“Kenapa kamu enggak ikut?”
Dia menatapku dengan mata merah.
“Karena tadi malam dia bilang kalau semuanya gagal, semua kesalahan akan dia lempar ke aku.”
Aku tidak terkejut.
Tidak lagi.
“Dan karena…”
Siska berhenti.
“Karena apa?”
“Alya.”
Aku menatapnya.
“Setelah aku lihat rekaman malam itu… aku baru sadar sampai sejauh apa dia bisa pergi.”
Dia mulai menangis lagi.
“Aku ada di kamar itu, Ran. Aku dengar Alya sempat mengetuk pintu.”
Darahku terasa berhenti.
“Apa?”
“Aku tanya Arga.”
Siska terisak.
“Dia bilang jangan dibuka. Katanya kalau dibuka, Alya bakal terus ganggu.”
Aku tidak bisa bicara.
“Kenapa kamu diam?”
“Aku enggak tahu.”
“Jawab.”
“Aku pengecut.”
Aku berdiri.
Kursiku bergeser kasar.
“Aku enggak bisa maafin kamu.”
“Aku tahu.”
“Mungkin enggak akan pernah.”
“Aku tahu.”
Aku mengambil flashdisk.
Lalu pergi.
Data itu akhirnya menjadi salah satu bukti terpenting.
Ada pesan tentang aset.
Tentang dokumen.
Tentang broker.
Tentang rencana pindah.
Dan satu percakapan yang membuat kasus terhadap Arga jauh lebih kuat.
Dalam pesan itu, Arga menulis:
Kalau Rani mulai curiga, kita jual rumah dulu. Setelah itu dia enggak punya leverage.
Dia salah.
Karena rumah itu bukan leverage.
Alya bukan leverage.
Aku juga bukan.
Enam bulan kemudian, proses hukumnya masih berjalan.
Tidak semua selesai dengan cepat.
Kenyataan tidak bekerja seperti film.
Ada sidang.
Ada audit.
Ada pemeriksaan.
Ada malam-malam ketika aku menangis diam-diam setelah Alya tidur.
Ada pagi ketika aku masih refleks ingin mengirim pesan ke Siska saat menemukan sesuatu lucu.
Lalu aku ingat.
Dan rasa sakit itu kembali.
Tapi hidup tetap bergerak.
Aku kembali bekerja.
Aku mengurangi shift malam.
Aku menjual beberapa aset yang berhasil dipulihkan secara sah dan memasukkan sebagian ke rekening pendidikan Alya.
Rumah Pondok Indah tetap atas namaku.
Tapi aku tidak tinggal di sana lagi.
Aku menjualnya setelah proses hukum memungkinkan.
Bukan karena Arga menang.
Justru karena aku tidak ingin rumah itu menjadi monumen pengkhianatan.
Aku membeli rumah yang lebih kecil di daerah Bintaro.
Ada halaman belakang.
Tidak mewah.
Tapi hangat.
Dan setiap kamar punya jendela besar.
Alya memilih warna kamarnya sendiri.
Pada hari kami pindah, dia menarik tanganku ke halaman.
“Bunda.”
“Apa?”
“Boleh Alya minta sesuatu?”
Aku tersenyum.
“Asal bukan unicorn.”
Dia tertawa.
Kemudian wajahnya menjadi serius.
“Anak anjing.”
Aku diam.
Beberapa minggu kemudian, kami pergi ke shelter hewan di Tangerang.
Alya berjalan melewati beberapa kandang sampai seekor anak anjing cokelat kecil dengan satu telinga terlipat menghampirinya.
Alya berjongkok.
Anjing itu langsung menjilat tangannya.
Dia tertawa.
Tawa yang sudah lama tidak kudengar.
“Aku mau yang ini.”
Aku ikut jongkok.
“Kamu yakin?”
Alya mengangguk.
Kemudian dia bertanya sesuatu yang membuat mataku panas.
“Alya enggak harus menang permainan dulu, kan?”
Aku memeluknya erat.
“Enggak.”
“Enggak harus diam?”
“Enggak.”
“Enggak harus kuat?”
Aku mencium rambutnya.
“Kamu cuma perlu jadi Alya.”
Dia tersenyum.
Kami menamai anak anjing itu Bintang.
Beberapa bulan kemudian, aku menerima surat terakhir dari pengacara.
Salah satu rekening utama berhasil dipulihkan.
Jumlahnya besar.
Tapi bukan angka yang membuatku menangis.
Ada catatan kecil dari bank yang mengonfirmasi bahwa rekening awal memang dibuat oleh ayahku sendiri bertahun-tahun lalu.
Bukan untuk bisnis.
Bukan untuk Arga.
Untukku.
Dan penerima kedua adalah “cucu pertama Rani.”
Ayah sudah menuliskan itu bahkan sebelum Alya lahir.
Aku duduk di ruang tamu rumah baru.
Alya bermain dengan Bintang di halaman.
Matahari sore masuk melalui jendela.
Untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, rumah terasa seperti rumah.
Aku membuka surat ayah sekali lagi.
Di bagian akhir ada satu kalimat yang sebelumnya tidak terlalu kuperhatikan.
Tulisan tangan itu sedikit miring.
Kalau suatu hari kamu kehilangan sesuatu karena terlalu percaya pada orang, jangan kehilangan dirimu sendiri.
Aku membacanya berkali-kali.
Kemudian melipat surat itu dan menyimpannya.
Dulu aku mengira malam ketika menemukan suamiku bersama adikku adalah malam yang menghancurkan keluargaku.
Ternyata bukan.
Keluargaku sudah retak jauh sebelum aku menyadarinya.
Malam itu hanya menyalakan lampu.
Dan untuk pertama kalinya, aku akhirnya bisa melihat semuanya dengan jelas.
Aku tidak mendapatkan kembali pernikahanku.
Aku tidak mendapatkan kembali adikku seperti dulu.
Aku bahkan tidak mendapatkan kembali enam tahun hidup yang dipenuhi kebohongan.
Tapi aku mendapatkan sesuatu yang lebih penting.
Putriku kembali merasa aman.
Aku kembali mempercayai diriku sendiri.
Dan aku akhirnya mengerti bahwa pergi bukan selalu berarti kehilangan.
Kadang-kadang…
pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan apa yang masih tersisa.
