DI MALAM PERNIKAHAN KAMI, ISTRIKU BERKATA, “HAIDKU DATANG LEBIH CEPAT. SEBAIKNYA MALAM INI KITA TIDUR TERPISAH DULU.” PUKUL 00.43, AKU TERBANGUN UNTUK KE KAMAR MANDI DAN MENDENGAR SUARA ANEH DARI DALAM KAMAR AYAHKU. AKU TIDAK BERTERIAK ATAU MEMANGGIL SIAPA PUN. AKU BERJALAN KE PINTU ITU DAN MEMBUKANYA. APA YANG KUTEMUKAN DI SANA MEMBUAT MASALAH PERNIKAHANKU TERNYATA MENJADI HAL TERKECIL DI RUMAH ITU…

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 650 tayangan
DI MALAM PERNIKAHAN KAMI, ISTRIKU BERKATA, “HAIDKU DATANG LEBIH CEPAT. SEBAIKNYA MALAM INI KITA TIDUR TERPISAH DULU.” PUKUL 00.43, AKU TERBANGUN UNTUK KE KAMAR MANDI DAN MENDENGAR SUARA ANEH DARI DALAM KAMAR AYAHKU. AKU TIDAK BERTERIAK ATAU MEMANGGIL SIAPA PUN. AKU BERJALAN KE PINTU ITU DAN MEMBUKANYA. APA YANG KUTEMUKAN DI SANA MEMBUAT MASALAH PERNIKAHANKU TERNYATA MENJADI HAL TERKECIL DI RUMAH ITU…
Indeks

DI MALAM PERNIKAHAN KAMI, ISTRIKU BERKATA, “HAIDKU DATANG LEBIH CEPAT. SEBAIKNYA MALAM INI KITA TIDUR TERPISAH DULU.” PUKUL 00.43, AKU TERBANGUN UNTUK KE KAMAR MANDI DAN MENDENGAR SUARA ANEH DARI DALAM KAMAR AYAHKU. AKU TIDAK BERTERIAK ATAU MEMANGGIL SIAPA PUN. AKU BERJALAN KE PINTU ITU DAN MEMBUKANYA. APA YANG KUTEMUKAN DI SANA MEMBUAT MASALAH PERNIKAHANKU TERNYATA MENJADI HAL TERKECIL DI RUMAH ITU…

BAGIAN 1

Di malam pernikahanku, aku melihat seorang perempuan memasuki kamar ayahku…

Dan selama beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, aku benar-benar yakin perempuan itu adalah istriku sendiri.

Namaku Raka Pratama. Umurku 32 tahun dan aku bekerja sebagai teknisi alat berat di sebuah bengkel di kawasan Bekasi, Jawa Barat.

Istriku, Nadia, berusia 28 tahun dan bekerja sebagai guru sekolah dasar.

DI MALAM PERNIKAHAN KAMI, ISTRIKU BERKATA, “HAIDKU DATANG LEBIH CEPAT. SEBAIKNYA MALAM INI KITA TIDUR TERPISAH DULU.” PUKUL 00.43, AKU TERBANGUN UNTUK KE KAMAR MANDI DAN MENDENGAR SUARA ANEH DARI DALAM KAMAR AYAHKU. AKU TIDAK BERTERIAK ATAU MEMANGGIL SIAPA PUN. AKU BERJALAN KE PINTU ITU DAN MEMBUKANYA. APA YANG KUTEMUKAN DI SANA MEMBUAT MASALAH PERNIKAHANKU TERNYATA MENJADI HAL TERKECIL DI RUMAH ITU…

Kami menikah pada suatu Sabtu di bulan Oktober setelah hampir tiga tahun berpacaran.

Karena keluarga kami cukup besar dan ayahku tidak ingin mengeluarkan biaya terlalu banyak untuk gedung, acara pernikahan diadakan di rumah orang tuaku di kawasan Tambun, Bekasi.

Rumah itu cukup besar.

Bangunan satu lantai dengan halaman luas, teras belakang, gudang perkakas, dapur tambahan, dan beberapa kamar yang dibangun ayah sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.

Ayahku bernama Hendra, 61 tahun.

Selama puluhan tahun, dia bekerja di bidang konstruksi sebelum akhirnya membuka usaha sendiri. Dia membeli alat-alat proyek bekas, memperbaikinya, lalu menyewakannya kembali kepada kontraktor kecil di Bekasi dan Karawang.

Ayah adalah tipe laki-laki yang suaranya selalu paling keras di meja makan.

Dia terbiasa mengambil keputusan untuk semua orang.

Dan ada satu kalimat yang sudah kudengar sejak kecil.

“Masalah keluarga harus diselesaikan di dalam keluarga.”

Ibuku, Bu Sari, berusia 58 tahun.

Hampir seluruh hidupnya dihabiskan mengurus rumah, kebun kecil di belakang, serta mencatat setiap rupiah yang keluar-masuk dari usaha ayah.

Ibu memiliki tekanan darah tinggi, tetapi hampir setiap pagi dia tetap bangun sebelum pukul enam.

Membuat kopi.

Menyiapkan sarapan.

Memeriksa pengeluaran.

Dan memastikan semua orang di rumah mendapatkan apa yang mereka butuhkan.

Pesta pernikahan kami baru benar-benar selesai sekitar pukul sebelas malam.

Tamu terakhir pulang.

Kursi plastik mulai ditumpuk.

Piring-piring kotor memenuhi dapur belakang.

Beberapa kerabat memilih menginap karena rumah mereka cukup jauh.

Ketika Nadia dan aku akhirnya masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuk kami, dia duduk di tepi ranjang sambil memegangi perutnya.

Wajahnya tampak tidak nyaman.

“Mas…”

Aku langsung mendekatinya.

“Kenapa?”

Nadia menundukkan kepala, sedikit malu.

“Haidku datang lebih cepat.”

Aku terdiam.

“Mungkin karena beberapa hari ini aku stres dan kurang tidur,” lanjutnya. “Sepertinya malam ini kita istirahat saja dulu.”

Aku tersenyum dan memeluknya.

“Kita baru menikah, Nad. Kita masih punya seluruh hidup kita.”

Aku pergi ke dapur, memanaskan air, lalu membuatkan kompres hangat untuknya.

Malam pertama kami akhirnya tidak seperti yang mungkin dibayangkan kebanyakan pengantin baru.

Kami hanya berbaring sambil mengobrol.

Membicarakan rumah kontrakan yang rencananya akan kami tempati setelah menikah.

Membicarakan tabungan.

Bahkan bercanda soal siapa yang harus mencuci piring kalau suatu hari kami punya anak.

Entah kapan, kami akhirnya tertidur.

Lalu aku terbangun.

Aku melihat layar ponsel.

00.43.

Tenggorokanku kering dan aku ingin ke kamar mandi.

Namun saat aku duduk, aku menyadari sesuatu.

Sisi ranjang Nadia kosong.

Aku menyentuh seprai.

Masih hangat.

Kupikir dia sedang berada di kamar mandi.

Aku membuka pintu kamar dan keluar ke lorong.

Rumah sangat sunyi.

Lampu ruang tengah sudah dimatikan.

Hanya ada cahaya redup dari dapur.

Kemudian terdengar suara kecil.

Buk.

Seperti sesuatu menyentuh dinding.

Aku berhenti.

Suara itu datang dari arah kamar ayah.

Aku mengerutkan kening.

Selama hampir dua tahun terakhir, ayah dan ibu tidur di kamar terpisah.

Menurut ayah, kasur ibu terlalu keras dan membuat pinggangnya sakit. Selain itu, katanya, telepon dari pelanggan sering masuk larut malam sehingga dia tidak ingin mengganggu tidur ibu.

Aku tidak pernah mempertanyakannya.

Sampai malam itu.

Pintu kamar ayah sedikit terbuka.

Hanya beberapa sentimeter.

Aku hendak berjalan melewatinya ketika melihat sebuah bayangan bergerak di dalam.

Aku berhenti.

Seorang perempuan.

Rambut panjang.

Tubuh ramping.

Tingginya kurang lebih sama seperti Nadia.

Dadaku langsung terasa sesak.

Lalu terdengar suara tertahan dari dalam kamar.

Aku mundur satu langkah.

Jantungku berdetak begitu keras sampai rasanya bisa terdengar di seluruh lorong.

Nadia?

Tidak mungkin.

Aku ingin mendorong pintu itu.

Aku ingin melihat sendiri siapa perempuan di dalam kamar ayahku.

Tanganku bahkan sudah terangkat.

Namun aku tidak melakukannya.

Entah karena takut.

Entah karena aku belum siap melihat sesuatu yang mungkin menghancurkan pernikahanku hanya beberapa jam setelah akad.

Aku kembali ke kamar.

Kakiku gemetar.

Aku duduk di ujung ranjang sambil menatap pintu.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit kemudian…

Pintu yang terhubung ke arah dapur terbuka.

Nadia masuk.

Dia membawa sebuah kaus basah.

“Aku mencuci ini sebentar,” katanya. “Kena noda. Aku malu kalau besok ada yang lihat.”

Aku menatapnya dari kepala sampai kaki.

Rambutnya sedikit berantakan.

Tapi pakaiannya berbeda dari bayangan yang kulihat.

Atau mungkin aku hanya tidak melihatnya dengan jelas?

“Nadia.”

“Hmm?”

“Kamu tadi lewat depan kamar ayah?”

Ekspresinya berubah.

“Enggak.”

“Kamu yakin?”

“Tentu. Aku lewat dapur belakang.”

Dia menatapku beberapa detik.

“Memangnya kenapa?”

Aku ingin mengatakan semuanya.

Namun kalimat itu tidak keluar.

“Enggak apa-apa.”

“Raka, ada apa?”

“Sudahlah. Aku cuma masih capek.”

Nadia memandangku seolah tahu aku menyembunyikan sesuatu.

Malam itu kami tidur membelakangi satu sama lain.

Bukan karena haidnya.

Melainkan karena pikiranku dipenuhi satu pertanyaan.

Siapa perempuan yang berada di kamar ayahku?

Pagi berikutnya, ayah muncul di meja makan seperti tidak terjadi apa-apa.

Dia tertawa bersama beberapa saudara yang masih menginap.

Dia bahkan mengambilkan kentang goreng dan telur untuk Nadia.

“Makan yang banyak,” katanya sambil tersenyum. “Sekarang kamu sudah jadi anak di rumah ini. Bukan tamu lagi.”

Nadia tersenyum sopan.

“Terima kasih, Pak.”

Aku hampir tidak bisa menatap wajah ayah.

Setiap kali dia tersenyum kepada Nadia, perutku terasa semakin tidak nyaman.

Menjelang siang, kami mulai membereskan sisa pesta.

Tenda dibongkar.

Kursi dikembalikan.

Aku sedang mengangkat meja lipat menuju gudang ketika seseorang memanggilku.

“Raka.”

Aku menoleh.

Itu Om Dedi, adik kandung ayah.

Umurnya sekitar 55 tahun dan selama bertahun-tahun dia membantu ayah mengurus penyewaan alat proyek.

Wajahnya terlihat serius.

“Kenapa, Om?”

Dia melihat ke arah rumah sebelum mendekat.

“Kamu semalam keluar ke lorong?”

Aku berhenti mengangkat meja.

“Kenapa Om tanya begitu?”

Dedi tidak langsung menjawab.

Dia memastikan tidak ada orang di sekitar kami.

Kemudian dia berkata pelan.

“Karena sekitar tengah malam aku dengar pintu belakang kamar ayahmu terbuka.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Aku meletakkan meja.

“Ada perempuan di dalam kamar Ayah.”

Wajah Om Dedi langsung berubah pucat.

Bukan terkejut.

Itulah yang membuatku semakin takut.

Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja mendengar rahasia lama akhirnya terbongkar.

“Raka…”

“Om tahu siapa dia?”

Dedi mengatupkan rahangnya.

Aku semakin mendekat.

“Semalam aku hampir mengira perempuan itu Nadia.”

“Bukan Nadia.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku menatapnya.

“Bagaimana Om bisa yakin?”

Dedi terdiam.

Matanya bergerak ke halaman depan.

Ayah sedang berdiri di sana sambil tertawa bersama dua orang kerabat.

Kemudian Om Dedi mengatakan sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.

“Karena pintu itu bukan baru pertama kali terbuka tadi malam.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

“Apa maksud Om?”

Dedi menarik napas panjang.

“Sudah lama aku curiga. Tapi aku tidak punya bukti.”

“Curiga tentang apa?”

Dia tidak menjawab.

Sebaliknya, dia bertanya:

“Semalam kamu benar-benar tidak melihat wajah perempuan itu?”

“Tidak.”

“Baju?”

“Tidak jelas.”

“Tas? Sandal? Apa pun?”

Aku mencoba mengingat.

Bayangan.

Rambut panjang.

Suara dari kamar.

Lalu tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Ada gelang.”

Om Dedi membeku.

“Gelang?”

“Ya. Waktu tangannya bergerak dekat pintu, aku melihat sesuatu memantulkan cahaya. Sepertinya gelang emas.”

Wajah Dedi kehilangan warna.

“Bentuknya bagaimana?”

Aku mencoba mengingat.

“Cukup tebal. Ada sesuatu seperti batu kecil berwarna merah di tengah.”

Dedi langsung mencengkeram lenganku.

“Jangan bilang siapa-siapa.”

“Kenapa?”

“Terutama jangan bilang ibumu.”

Aku menarik tanganku.

“Om sebenarnya tahu apa?”

Dedi memandangku.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan nyata di wajahnya.

“Kalau itu gelang yang kupikirkan…”

Dia berhenti.

“Apa?”

Dedi menelan ludah.

“Gelang itu pernah kulihat sebelumnya.”

“Dipakai siapa?”

Sebelum dia sempat menjawab, suara ayah terdengar dari halaman.

“Dedi!”

Kami berdua menoleh.

Ayah berdiri sekitar dua puluh meter dari kami.

Dia tersenyum.

Tapi matanya tidak.

“Kalian ngomongin apa lama sekali?”

Om Dedi segera melepaskan lenganku.

“Cuma urusan bengkel.”

Ayah berjalan mendekat.

Saat melewatiku, dia menepuk bahuku.

“Kamu pengantin baru. Jangan pikirkan pekerjaan dulu.”

Kemudian dia menatap Dedi.

Hanya satu atau dua detik.

Namun aku melihatnya.

Ada sesuatu di antara mereka.

Sesuatu yang tidak pernah kusadari sebelumnya.

Peringatan.

Om Dedi menundukkan kepala.

Ayah kembali berjalan menuju rumah.

Aku menunggu sampai dia cukup jauh.

“Om.”

Dedi tidak menjawab.

“Siapa pemilik gelang itu?”

Dia menatapku.

Lalu berkata sangat pelan:

“Kalau aku benar, Raka… perempuan yang masuk ke kamar ayahmu semalam bukan orang asing.”

Dadaku semakin sesak.

“Siapa?”

Dedi melirik ke arah dapur.

Di sana, ibuku sedang berdiri bersama Nadia dan beberapa perempuan dari keluarga kami.

Kemudian dia berbisik:

“Cari album foto pernikahan orang tuamu yang lama.”

“Kenapa?”

“Cari foto keluarga dari sekitar dua puluh delapan tahun lalu.”

Aku menatapnya bingung.

“Apa hubungannya?”

Om Dedi mundur selangkah.

“Lihat gelangnya.”

Sebelum aku sempat bertanya lagi, dia pergi.

Aku berdiri sendirian di halaman.

Dan saat itulah aku mulai memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada dugaan bahwa istriku mengkhianatiku di malam pernikahan kami.

Rahasia di kamar ayah ternyata sudah ada jauh sebelum Nadia masuk ke keluarga kami.

Mungkin bahkan…

sebelum aku lahir.

Dan aku belum tahu bahwa ketika akhirnya menemukan foto yang dimaksud Om Dedi, aku akan melihat seorang perempuan memakai gelang emas dengan batu merah yang sama.

Masalahnya bukan sekadar siapa perempuan itu.

Masalah sebenarnya adalah perempuan tersebut berdiri di samping ibuku dalam foto lama itu.

Dan di belakang foto tersebut, ada tulisan tangan ayahku yang membuat seluruh cerita tentang keluargaku selama 32 tahun terasa seperti sebuah kebohongan.

BAGIAN 2

Malam itu, setelah semua tamu terakhir benar-benar pulang, aku tidak bisa tidur.

Nadia sudah berbaring di sampingku, tetapi aku terus menatap langit-langit.

Kalimat Om Dedi berputar-putar di kepalaku.

Cari album foto pernikahan orang tuamu yang lama.

Sekitar pukul satu dini hari, aku bangun perlahan.

“Nggak bisa tidur?” tanya Nadia tanpa membuka mata.

“Aku mau minum.”

Dia mengangguk.

Aku keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang penyimpanan kecil di dekat ruang keluarga.

Sejak kecil, ibu menyimpan album foto, akta kelahiran, buku sekolah, dan dokumen lama di dalam sebuah lemari kayu berkaca.

Aku menyalakan lampu.

Album pernikahan orang tuaku ada di rak paling bawah.

Sampulnya sudah kusam.

Aku membawanya ke meja makan dan mulai membuka halaman satu per satu.

Ayah dalam setelan abu-abu.

Ibu dengan kebaya putih.

Om Dedi masih sangat muda.

Nenek.

Kakek.

Beberapa kerabat yang bahkan tidak lagi kuingat namanya.

Lalu aku sampai pada sebuah foto yang tampaknya diambil beberapa bulan setelah pernikahan mereka.

Ibu berdiri di depan rumah lama kami.

Di sebelahnya ada seorang perempuan muda.

Rambut panjang.

Tubuh ramping.

Tangannya diletakkan di bahu ibu.

Dan di pergelangan tangannya…

Ada gelang emas tebal.

Di tengahnya terdapat batu merah kecil.

Aku berhenti bernapas.

Tanganku bergetar ketika menarik foto itu dari plastik pelindung.

Di belakangnya ada tulisan tangan.

Tinta sudah memudar, tetapi masih bisa dibaca.

“Sari dan Ratih. Dua perempuan yang menyelamatkan hidupku. 1994.”

Ratih.

Aku tidak pernah mendengar nama itu.

Di bawah tulisan tersebut ada kalimat lain.

Lebih kecil.

“Maaf karena aku tidak mampu menepati janji.”

Aku mendengar langkah kaki di belakang.

Aku langsung berbalik.

Nadia berdiri di ambang pintu.

“Raka?”

Aku tidak menjawab.

Dia melihat foto di tanganku.

“Apa yang kamu cari sebenarnya?”

Untuk sesaat aku ingin berbohong.

Kemudian aku teringat bagaimana tadi malam aku sempat mencurigainya.

Dia berhak tahu.

Aku menarik kursi.

“Duduk.”

Aku menceritakan semuanya.

Bayangan perempuan di kamar ayah.

Suara yang kudengar.

Gelang.

Om Dedi.

Foto.

Nadia tidak menyela sampai aku selesai.

Lalu dia mengambil foto itu.

“Ratih…”

“Kamu pernah dengar?”

Nadia menggeleng.

“Tapi aku melihat sesuatu tadi pagi.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Waktu membantu Ibu Sari di dapur, ada perempuan datang lewat pintu belakang.”

Dadaku berdegup.

“Perempuan?”

“Dia nggak masuk. Cuma bicara sebentar sama Bapak.”

“Seperti apa?”

“Umurnya mungkin lima puluhan. Rambutnya panjang. Pakai masker. Bapak memberinya amplop.”

“Kenapa kamu nggak bilang?”

Nadia menatapku lama.

“Karena setelah semalam kamu menanyakan kamar ayahmu, aku takut kamu mengira aku sedang membuat cerita.”

Rasa malu langsung menusukku.

“Nad…”

“Tidak apa.”

“Tidak. Aku sempat curiga padamu.”

Dia terdiam.

“Aku tahu.”

Aku menunduk.

“Aku minta maaf.”

Nadia menggenggam tanganku.

“Kita cari jawabannya bersama.”

Besok paginya, aku menemui Om Dedi di bengkelnya.

Begitu melihat foto yang kubawa, dia langsung menutup pintu kantornya.

“Jadi kamu menemukannya.”

“Siapa Ratih?”

Om Dedi duduk.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada kemarin.

“Ratih itu kakak sepupu ibumu.”

Aku terdiam.

“Mereka sangat dekat waktu muda. Hampir seperti saudara kandung.”

“Lalu kenapa aku tidak pernah mendengar namanya?”

Dedi mengusap wajah.

“Karena sekitar tiga puluh tahun lalu, sesuatu terjadi.”

“Apa?”

Dia menatapku.

“Ratih menghilang dari keluarga.”

“Kenapa?”

“Karena ayahmu.”

Ruangan mendadak terasa sempit.

Dedi melanjutkan.

“Sebelum menikahi ibumu, Hendra pernah punya hubungan dengan Ratih.”

Aku mengepalkan tangan.

“Jadi Ayah selingkuh dengan sepupu Ibu?”

“Tidak persis seperti itu.”

“Maksud Om?”

“Hubungan mereka berakhir sebelum Hendra menikah dengan Sari. Setidaknya… itu yang kami kira.”

Aku berdiri.

“Kalau perempuan semalam Ratih, berarti mereka masih…”

“Raka.”

Nada Dedi berubah.

“Jangan menyimpulkan dulu.”

“Lalu aku harus menyimpulkan apa?”

Dedi membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tua.

“Aku menyimpan ini hampir dua puluh sembilan tahun.”

Di dalamnya ada salinan surat.

Tulisan tangan.

Ditujukan kepada ayahku.

Aku membaca.

Hendra,

Aku tidak bisa kembali ke rumah setelah apa yang terjadi. Sari tidak boleh tahu dulu. Aku takut dia tidak akan sanggup menerimanya. Anak ini bukan kesalahan. Apa pun yang orang lain katakan, dia bukan kesalahan.

Aku berhenti.

“Anak?”

Dedi mengangguk pelan.

Aku membaca kalimat berikutnya.

Aku hanya minta satu hal. Jangan biarkan dia tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya.

Tanganku mati rasa.

Aku menatap Dedi.

“Ratih punya anak dari Ayah?”

Dia tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

“Siapa anaknya?”

Dedi menundukkan kepala.

“Aku tidak tahu.”

“Kau bilang menyimpan surat ini hampir tiga puluh tahun!”

“Karena Hendra meminta bantuanku mengantarkan uang beberapa kali. Setelah itu Ratih pindah ke luar Jawa. Aku tidak pernah bertemu anaknya.”

Aku memikirkan usia.

Jika anak itu lahir sekitar dua puluh delapan atau dua puluh sembilan tahun lalu…

Hampir sebaya dengan Nadia.

Pikiran buruk menyambar begitu cepat sampai aku merasa mual.

Aku langsung menelepon Nadia.

Dia mengangkat.

“Raka?”

“Nadia, nama lengkap ibumu siapa?”

Hening.

“Apa?”

“Jawab dulu.”

“Nur Aisyah. Kenapa?”

“Nama lahir?”

“Nadia Nur Aisyah Putri. Ibuku ya Nur Aisyah. Raka, kamu bikin aku takut.”

Aku menutup mata.

Bukan Ratih.

Aku bahkan hampir tertawa karena lega.

Namun Dedi sedang memperhatikanku.

“Jangan khawatir. Nadia bukan anak Ratih.”

Aku menatapnya tajam.

“Om tahu?”

“Aku sudah memikirkan kemungkinan itu tadi malam.”

“Lalu siapa?”

Dedi berkata pelan:

“Mungkin orang yang paling takut mengetahui jawabannya adalah ibumu.”

Siang itu aku pulang lebih awal.

Ayah sedang duduk di teras belakang.

Aku meletakkan foto dan surat di meja di depannya.

Wajahnya langsung berubah.

“Dari mana kamu dapat surat ini?”

“Jadi benar?”

Ayah tidak menjawab.

“Ratih ada di kamar Ayah malam pernikahanku?”

Dia memejamkan mata.

“Ya.”

Aku menendang kursi kosong di samping meja.

“Gila!”

“Jangan berteriak.”

“Kenapa? Karena masalah keluarga harus diselesaikan di dalam keluarga?”

Ayah menatapku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, dia tidak terlihat seperti laki-laki yang mengendalikan segalanya.

Dia terlihat takut.

“Ratih datang bukan untuk tidur denganku.”

Aku tertawa pahit.

“Jangan bohong.”

“Dia sedang sakit.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Dia terkena kanker pankreas.”

Amarahku sedikit goyah.

Ayah melanjutkan.

“Dia datang karena kondisinya memburuk dan ingin menyelesaikan sesuatu sebelum terlambat.”

“Kenapa masuk kamar tengah malam?”

“Karena dia tidak mau ibumu tahu sebelum kami bicara.”

“Suara yang kudengar?”

“Dia kesakitan. Aku membantu memberinya obat.”

Aku menatap ayah lama.

“Lalu kenapa pintu belakang?”

“Karena Ratih tahu ibumu bisa terbangun kapan saja.”

Aku masih tidak percaya sepenuhnya.

“Anaknya siapa?”

Ayah membeku.

Aku mendekat.

“Anak Ratih siapa?”

Dia menatap ke dalam rumah.

“Raka…”

“Jangan panggil namaku seperti itu.”

“Duduk.”

“Aku tidak mau duduk.”

Ayah menarik napas.

“Anak Ratih sudah meninggal.”

Aku terdiam.

“Kapan?”

“Dua puluh tujuh tahun lalu.”

Aku menatapnya.

“Masih bayi?”

Ayah mengangguk.

“Demam tinggi. Rumah sakit terlambat menangani.”

Aku mencoba menyusun semuanya.

“Kalau anaknya sudah meninggal, kenapa dia kembali sekarang?”

Ayah tidak menjawab.

Aku membentak:

“KENAPA?”

Sebuah suara terdengar dari belakangku.

“Karena anak itu tidak mati.”

Aku berbalik.

Ibu berdiri di pintu dapur.

Wajahnya putih seperti kertas.

Ayah langsung berdiri.

“Sari…”

“Sudah cukup, Hendra.”

Ibu berjalan perlahan ke arah kami.

Tangannya gemetar.

“Aku mendengar semuanya.”

Aku menatap keduanya.

“Ibu tahu tentang Ratih?”

Ibu tertawa kecil, tetapi air matanya mulai jatuh.

“Aku tahu lebih banyak daripada yang kalian kira.”

Ayah berbisik:

“Jangan.”

Ibu menatapnya.

“Tiga puluh dua tahun aku diam.”

Kemudian dia menatapku.

“Sekarang Raka berhak tahu.”

Dadaku berdegup tidak beraturan.

Ibu menarik kursi dan duduk.

“Anak Ratih tidak meninggal.”

“Lalu di mana?”

Ibu menatap tepat ke mataku.

Dan berkata:

“Di depan Ibu sekarang.”

Aku tidak memahami kalimat itu.

Tidak selama beberapa detik.

Lalu seluruh tubuhku terasa dingin.

“Apa?”

Air mata ibu jatuh.

“Kamu anak Ratih.”

Dunia seperti berhenti.

Aku menatap ayah.

Dia tidak menyangkal.

Aku kembali menatap ibu.

“Tidak.”

“Raka…”

“Tidak.”

Aku mundur.

“Kalian gila.”

Ibu menangis.

“Ratih melahirkanmu ketika dia masih sangat muda. Keluarganya marah besar karena dia belum menikah.”

Aku menoleh ke ayah.

“Ayah biologisku?”

Dia mengangguk.

“Hendra.”

Aku merasa ingin muntah.

“Lalu Ibu?”

Sari menggenggam ujung bajunya.

“Aku tidak bisa punya anak.”

Aku terdiam.

“Setahun setelah menikah, dokter bilang peluangku sangat kecil. Ratih datang dalam keadaan hamil.”

Ibu menangis lebih keras.

“Keluarga memaksanya menyerahkan bayi itu atau pergi dari rumah. Hendra ingin menikahinya dulu sebelum menikah denganku, tapi semuanya sudah terlambat dan hubungan mereka sudah hancur.”

“Jadi Ibu mengambil aku?”

“Ratih memintaku.”

Aku menggeleng.

“Tidak mungkin.”

“Dia berkata kalau dia tidak mampu memberimu rumah yang aman.”

“Kenapa kalian bilang anaknya meninggal?”

Ayah menjawab:

“Supaya keluarga berhenti mencarinya. Supaya tidak ada yang mencoba mengambilmu.”

Aku tertawa tanpa suara.

Tiga puluh dua tahun.

Seluruh identitasku berubah dalam beberapa menit.

“Jadi kalian semua berbohong kepadaku.”

Ibu berdiri.

“Aku ibumu.”

“Bukan secara darah.”

Wajahnya hancur.

Begitu kata-kata itu keluar, aku langsung menyesal.

Tetapi aku terlalu marah untuk menariknya kembali.

Ibu mundur satu langkah.

“Benar.”

Suaranya sangat pelan.

“Aku tidak melahirkanmu.”

Kemudian dia menatapku.

“Tapi ketika kamu demam umur tiga tahun, aku tidak tidur tiga malam.”

Aku terdiam.

“Ketika kamu jatuh dari sepeda dan dagumu harus dijahit, tanganku yang kamu pegang.”

Air mataku mulai turun tanpa bisa kutahan.

“Ketika kamu gagal masuk sekolah teknik pertama kali dan mengunci diri di kamar, aku yang duduk di luar pintumu sampai pagi.”

Ibu menyeka wajahnya.

“Aku mungkin tidak melahirkanmu, Raka. Tapi jangan bilang tiga puluh dua tahun itu bukan menjadi ibumu.”

Aku tidak mampu menjawab.

Aku pergi.

Nadia menemukanku malam itu duduk di pinggir Danau Cibeureum, sendirian di dalam mobil.

Dia masuk tanpa bertanya.

Aku menceritakan semuanya.

Setelah selesai, aku berkata:

“Aku bahkan tidak tahu siapa aku sekarang.”

Nadia diam lama.

Kemudian berkata:

“Kamu tetap Raka.”

“Semudah itu?”

“Tidak.”

Dia menggenggam tanganku.

“Tapi orang yang membesarkanmu tidak hilang hanya karena kamu mengetahui siapa yang melahirkanmu.”

Aku menatap kaca depan.

“Ratih masih hidup.”

Nadia mengangguk.

“Kamu mau bertemu?”

Aku tidak tahu.

Namun keesokan harinya, aku pergi.

Ratih tinggal sementara di sebuah rumah kontrakan kecil di Cikarang.

Saat pintu terbuka, aku langsung mengenali gelang itu.

Perempuan dari kamar ayah.

Dia jauh lebih kurus daripada di foto lama.

Wajahnya pucat.

Tapi matanya…

Matanya sama seperti mataku.

Dia tidak mencoba memelukku.

Dia hanya berdiri di sana sambil menangis.

“Raka.”

Aku langsung merasa marah.

“Jangan panggil aku seperti kita saling kenal.”

Dia mengangguk.

“Maaf.”

Kami duduk.

Ratih menceritakan bahwa setelah menyerahkanku kepada Sari, dia pergi bekerja ke Batam, kemudian Malaysia.

Dia menikah.

Pernikahannya gagal.

Dia tidak punya anak lagi.

“Kenapa tidak pernah mencariku?”

“Aku mencarimu.”

Dia mengambil sebuah kotak.

Di dalamnya ada puluhan amplop.

Semua bertuliskan namaku.

Untuk Raka, ulang tahun ke-5.

Untuk Raka, ketika masuk SMP.

Untuk Raka, ulang tahun ke-18.

Puluhan surat.

Tidak pernah dikirim.

“Aku menulis setiap tahun,” katanya.

Aku membuka salah satunya.

Di dalamnya hanya ada beberapa kalimat.

Hari ini kamu mungkin sudah bisa membaca sendiri. Aku tidak tahu apakah kamu suka sepak bola atau menggambar. Tapi aku berharap Sari memelukmu saat kamu takut. Karena dia selalu lebih pandai memeluk orang daripada aku.

Dadaku terasa patah.

“Kenapa tidak dikirim?”

“Karena aku berjanji tidak akan mengganggu hidupmu.”

Aku menatapnya.

“Lalu kenapa sekarang?”

Dia tersenyum sedih.

“Karena aku kehabisan waktu.”

Tiga bulan berikutnya mengubah keluarga kami.

Ratih menjalani pengobatan paliatif.

Aku mulai mengunjunginya seminggu sekali.

Tidak langsung memanggilnya ibu.

Tidak langsung memaafkan semuanya.

Kami hanya bicara.

Tentang hidupnya.

Tentang hidupku.

Tentang hal-hal sederhana yang hilang selama tiga dekade.

Sari juga akhirnya datang.

Aku mengira pertemuan mereka akan penuh kemarahan.

Ternyata ketika Sari masuk ke kamar Ratih, keduanya hanya saling menatap.

Lalu Ratih berkata:

“Terima kasih sudah membesarkan anakku.”

Sari menangis.

“Anak kita.”

Ratih menutup wajahnya.

Mereka berpelukan.

Ayah berdiri di luar kamar dan tidak berani masuk.

Beberapa hari kemudian, aku bertanya kepada Ratih sesuatu yang masih menggangguku.

“Kenapa datang malam pernikahanku?”

Dia tersenyum lemah.

“Karena aku melihat foto pernikahanmu di Facebook Om Dedi.”

Aku terdiam.

“Aku tahu kondisiku memburuk. Aku cuma ingin melihatmu sekali sebagai pengantin.”

“Kenapa harus masuk kamar Ayah?”

“Aku datang lewat belakang supaya tidak merusak pestamu. Tapi setelah melihatmu dari jauh, aku menangis dan seranganku kambuh. Hendra membawaku masuk supaya aku bisa duduk dan minum obat.”

Aku memejamkan mata.

Semua kecurigaanku malam itu ternyata salah.

Ratih meninggal enam minggu kemudian.

Di rumah sakit kecil di Bekasi.

Saat napasnya semakin pelan, Sari berdiri di satu sisi ranjang.

Aku di sisi lainnya.

Ratih memandangku.

Tangannya kurus dan dingin.

“Aku boleh minta satu hal?”

Aku mengangguk.

“Apa?”

“Sekali saja.”

Aku sudah tahu.

Tenggorokanku terasa tertutup.

Namun akhirnya aku berkata:

“Iya, Bu.”

Air mata mengalir dari sudut matanya.

Dia tersenyum.

Itu adalah senyum terakhirnya.

Setelah pemakaman, pengacara Ratih datang membawa sebuah dokumen.

Kami semua mengira itu soal warisan.

Ternyata bukan uang.

Bukan rumah.

Bukan tanah.

Ratih menyerahkan seluruh tabungannya kepada sebuah yayasan yang membantu ibu tunggal dan anak-anak terlantar.

Untukku, dia hanya meninggalkan satu benda.

Gelang emas dengan batu merah.

Di kotaknya terdapat secarik kertas.

Raka, gelang ini dulu diberikan nenekmu kepadaku ketika aku berumur tujuh belas tahun. Aku memakainya pada malam aku menyerahkanmu kepada Sari. Aku juga memakainya pada malam pernikahanmu. Mungkin karena aku ingin sesuatu dari keluargaku tetap berada dekat denganmu. Sekarang gelang ini milik keluargamu. Berikan kepada seseorang yang kamu cintai, ketika waktunya tepat.

Setahun kemudian, Nadia melahirkan anak perempuan kami.

Kami memberinya nama:

Alya Ratih Pratama.

Ketika Sari pertama kali menggendongnya, dia menangis begitu keras hingga Nadia ikut menangis.

Aku mengambil gelang itu dari kotaknya.

Aku tidak memberikannya kepada Nadia.

Aku meletakkannya di tangan Sari.

Ibu menatapku bingung.

“Kenapa untuk Ibu?”

Aku tersenyum.

“Karena Ratih bilang gelang ini harus diberikan kepada seseorang yang kucintai.”

Bibir ibu gemetar.

Aku melanjutkan:

“Dan aku pernah mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Bahwa Ibu bukan ibu kandungku.”

Air mata langsung jatuh.

Aku memeluknya.

“Ratih memberiku kehidupan.”

Aku menarik napas.

“Tapi Ibu yang mengajariku bagaimana menjalani kehidupan itu.”

Sari memelukku seperti ketika aku masih kecil.

Di belakang kami, ayah menundukkan kepala sambil menangis.

Nadia menggendong Alya.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam pernikahanku, aku akhirnya memahami sesuatu.

Keluarga tidak selalu dimulai dari darah.

Kadang keluarga dimulai dari sebuah keputusan yang sangat sulit.

Seorang perempuan yang memilih melepaskan anak yang dicintainya agar anak itu memiliki masa depan.

Seorang perempuan lain yang memilih membesarkan anak yang tidak pernah lahir dari tubuhnya seolah darah mereka sama.

Dan seorang anak yang, tiga puluh dua tahun kemudian, akhirnya harus belajar bahwa mengetahui kebenaran tentang asal-usulnya tidak berarti kehilangan keluarga yang selama ini dimilikinya.

Aku pernah mengira suara dari kamar ayah pada malam pernikahanku akan menghancurkan rumah kami.

Ternyata suara itu membuka sebuah rahasia yang sudah dikubur selama tiga dekade.

Rahasia yang menyakitkan.

Tidak sempurna.

Penuh kebohongan.

Namun di balik semua itu terdapat dua perempuan yang, dengan cara berbeda, telah mencintaiku sepanjang hidup mereka.

Sampai sekarang gelang emas dengan batu merah itu masih disimpan oleh Ibu Sari.

Dia hanya memakainya pada satu hari setiap tahun.

Hari ulang tahun Alya.

Dan setiap kali cucuku bertanya,

“Nenek, gelang siapa itu?”

Sari selalu tersenyum dan menjawab:

“Ini milik seorang perempuan yang sangat mencintai ayahmu.”

Dia tidak pernah mengatakan hanya satu ibu.

Karena pada akhirnya…

aku memang memiliki dua.