SUAMIKU PERGI DINAS 7 HARI, LALU IBU MERTUAKU TIBA-TIBA MENGHILANG—SAAT AKU MENEMUKAN AMPLOP DI BALIK LEMARI OBAT, BARULAH AKU MENGERTI MENGAPA DIA TIDAK INGIN AKU KEMBALI KE RUMAH

Avatar penulis
Cerita 05
17 menit baca 409 tayangan
Indeks

SUAMIKU PERGI DINAS 7 HARI, LALU IBU MERTUAKU TIBA-TIBA MENGHILANG—SAAT AKU MENEMUKAN AMPLOP DI BALIK LEMARI OBAT, BARULAH AKU MENGERTI MENGAPA DIA TIDAK INGIN AKU KEMBALI KE RUMAH

Tujuh hari setelah perjalanan dinasnya, suamiku pulang hampir tengah malam.

Begitu melangkah masuk ke rumah, pertanyaan pertamanya adalah:

—Ibu di mana?

Aku duduk di ruang tamu. Di depanku tergeletak sebuah amplop cokelat yang sudah kusut.

Aku tidak langsung menjawab.

SUAMIKU PERGI DINAS 7 HARI, LALU IBU MERTUAKU TIBA-TIBA MENGHILANG—SAAT AKU MENEMUKAN AMPLOP DI BALIK LEMARI OBAT, BARULAH AKU MENGERTI MENGAPA DIA TIDAK INGIN AKU KEMBALI KE RUMAH

Dia meletakkan koper, lalu nada suaranya meninggi.

—Aku tanya, Ibu di mana?

Aku mengangkat kepala dan menatap lelaki yang sudah hidup bersamaku selama delapan tahun.

—Kau benar-benar tidak tahu?

Wajahnya langsung berubah.

Semua bermula sembilan hari sebelumnya.

Dua hari sebelum suamiku berangkat dinas, ibu mertuaku tiba-tiba datang ke rumah.

Beliau membawa satu tas kecil berisi pakaian dan mengatakan atap rumah lamanya sedang diperbaiki, jadi dia ingin tinggal bersama kami selama sekitar satu minggu.

Aku tidak mencurigai apa pun.

Sejak ayah mertuaku meninggal, beliau memang tinggal seorang diri. Hubungan kami tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak pernah mengalami konflik besar.

Malam itu, aku menyiapkan kamar untuknya.

Saat melewati ruang kerja, aku mendengar suamiku sedang menelepon seseorang.

—Lakukan saja sesuai rencana. Jangan sampai dia tahu lebih dulu.

Langkahku berhenti.

Namun tepat ketika aku hendak mengetuk pintu, dia sudah membukanya.

—Kau berdiri di sini untuk apa?

—Aku mau mengambil handuk untuk Ibu.

Dia menatapku beberapa detik, lalu mematikan layar ponselnya.

—Urusan kantor saja.

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Keesokan paginya, saat kami sedang sarapan nasi goreng, ibu mertuaku tiba-tiba bertanya:

—Kalau suatu hari kau mengetahui bahwa orang terdekatmu menyembunyikan sesuatu yang sangat besar darimu, apa yang akan kau lakukan?

Aku tertawa kecil.

—Tergantung apa yang mereka sembunyikan, Bu.

Beliau menundukkan kepala.

—Bagaimana kalau mereka bilang semua itu dilakukan demi kebaikanmu?

Aku mulai merasa aneh.

Namun suamiku segera menyela.

—Ibu ini memikirkan apa lagi?

Ibu mertuaku langsung diam.

Malam harinya, suamiku mulai mengepak barang.

Dia bilang harus pergi menemui rekan bisnis di kota lain selama tujuh hari.

Aku bertanya:

—Proyek apa yang mendadak sekali?

Dia menarik ritsleting koper.

—Proyek gudang dan distribusi yang pernah kuceritakan.

Aku mengingatnya dengan sangat jelas.

Seharusnya proyek itu baru mulai dijalankan akhir bulan.

Namun aku tidak membongkar kebohongannya.

Sebelum berangkat, dia bahkan berpesan secara khusus:

—Beberapa hari ke depan aku sangat sibuk. Kalau tidak benar-benar mendesak, jangan terus menelepon.

Aku menatapnya.

—Termasuk kalau ada sesuatu yang terjadi pada Ibu?

Tangannya berhenti sesaat.

Hanya satu detik.

—Ibu sehat-sehat saja. Memangnya bisa terjadi apa?

Taksi di luar pagar membunyikan klakson.

Dia menarik koper dan pergi.

Hari pertama tidak terjadi apa-apa.

Hari kedua, ibu mertuaku mulai bertingkah aneh.

Beliau terus memeriksa jendela, mengintip ke halaman, dan beberapa kali bertanya apakah aku melihat sebuah mobil hitam terparkir di dekat rumah.

Malam itu, beliau bahkan memintaku mengunci pintu belakang.

Aku bertanya:

—Ibu sedang takut pada seseorang?

Beliau langsung menggeleng cepat.

—Tidak.

Hari ketiga, saat aku pulang kerja, ibu mertuaku sudah tidak ada di rumah.

Ponselnya tertinggal di atas meja.

Sandalknya masih berada di dekat pintu.

Tasnya pun masih ada di kamar.

Aku bertanya kepada para tetangga.

Tidak ada seorang pun yang melihat beliau keluar rumah.

Aku langsung menelepon suamiku.

Panggilan pertama tidak diangkat.

Panggilan kedua ditolak.

Panggilan ketiga justru dijawab seorang perempuan.

—Halo?

Aku melihat layar untuk memastikan aku tidak salah nomor.

—Saya mencari suami saya.

Perempuan itu terdiam beberapa detik.

—Dia sedang rapat.

—Siapa Anda?

—Saya asisten yang menangani proyek.

Aku belum pernah mendengar suamiku memiliki asisten perempuan.

Namun saat itu aku tidak peduli.

—Ibu kandungnya menghilang. Suruh dia segera menelepon saya.

—Menghilang?

—Ya.

—Anda sudah mencari baik-baik di dalam rumah?

Pertanyaan itu membuat tengkukku merinding.

—Bagaimana Anda tahu ibu mertuaku sedang tinggal di rumah saya?

Di ujung sana langsung sunyi.

Kemudian dia menjawab:

—Dia pernah menyinggungnya.

Aku langsung menutup telepon.

Satu jam kemudian, suamiku menelepon balik.

Namun reaksinya sama sekali tidak seperti yang kubayangkan.

Dia tidak bertanya kapan ibunya menghilang.

Tidak bertanya apakah aku sudah menghubungi polisi.

Kalimat pertamanya justru:

—Kau masuk ke kamar Ibu?

Aku terdiam.

—Apa maksudmu?

—Kamar Ibu. Kau mengacak-acak barangnya?

Aku menatap ke arah lorong.

—Ibumu menghilang dan yang kau khawatirkan justru apakah aku menyentuh barang-barangnya?

Dia segera mengubah nada bicara.

—Aku cuma takut obat-obatan Ibu ada di sana. Jangan sentuh barangnya dulu. Tunggu sampai aku pulang.

Aku tidak menjawab.

Setelah telepon berakhir, aku langsung berjalan menuju kamar ibu mertuaku.

Ruangan itu terlihat sangat rapi.

Namun lemari obat di samping tempat tidur bergeser sekitar dua sentimeter dari dinding.

Aku menariknya keluar.

Di belakangnya terdapat sebuah amplop cokelat yang ditempel dengan selotip.

Di bagian luar hanya tertulis namaku.

Tanganku mulai gemetar.

Di dalam amplop terdapat tiga benda.

Sebuah kunci brankas.

Satu bukti penitipan barang di bank.

Dan selembar surat tulisan tangan dari ibu mertuaku.

“Tari, kalau kau membaca tulisan ini, berarti Ibu mungkin sudah tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan semuanya secara langsung.”

Aku terpaksa duduk di tepi tempat tidur sebelum mampu membaca bagian berikutnya.

“Jangan percaya pada perjalanan dinas Arman.”

Jantungku berdegup lebih keras.

“Dan jangan percaya bahwa rumah ini masih menjadi milik kalian berdua.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Rumah yang kami tinggali dibeli setelah kami menikah.

Selama delapan tahun, cicilannya dibayar dari rekening bersama.

Mengapa Ibu berkata seperti itu?

Keesokan paginya, aku membawa bukti penitipan itu ke bank.

Setelah memeriksa dokumennya, seorang pegawai membawaku ke ruang khusus.

Kunci itu membuka sebuah kotak penyimpanan kecil.

Di dalamnya tidak ada uang.

Tidak ada emas.

Hanya setumpuk dokumen.

Halaman pertama adalah surat pengalihan aset.

Tanggal penandatanganannya empat bulan lalu.

Nama pihak yang menyerahkan aset: suamiku.

Nama penerima: seorang perempuan yang tidak kukenal.

Aku membalik halaman berikutnya.

Sebuah surat kuasa.

Halaman ketiga merupakan mutasi rekening yang menunjukkan sejumlah uang sangat besar telah ditarik dari tabungan keluarga.

Namun benda yang benar-benar membuatku membeku berada di bagian paling akhir.

Salinan surat nikah.

Nama suami: Arman.

Nama istri…

bukan aku.

Tanggal pernikahan tercatat sebelas tahun lalu.

Tiga tahun sebelum aku dan dia mengadakan pernikahan.

Aku duduk diam cukup lama.

Kemudian pegawai bank berkata:

—Masih ada satu benda lagi.

Dia mengeluarkan sebuah ponsel lama.

—Orang yang menitipkan barang meminta agar ponsel ini diberikan bersama dokumen tadi.

Ponsel itu tidak memiliki kata sandi.

Di dalamnya hanya terdapat satu video.

Aku menekan tombol putar.

Layar sedikit bergetar.

Ibu mertuaku muncul.

Beliau sedang duduk di kamar yang sama di rumahku.

Wajahnya pucat.

—Tari, maafkan Ibu.

—Ibu sudah mengetahui semuanya sejak lama.

—Tapi Ibu tidak memiliki keberanian untuk memberitahumu.

Baru sampai di situ, terdengar suara pintu terbuka dari belakang.

Ibu mertuaku langsung menoleh panik.

Gambar bergetar hebat.

Suara seorang laki-laki terdengar.

—Ibu sedang merekam apa?

Aku mengenali suara suamiku.

Video langsung berhenti.

Aku segera membawa semuanya pulang.

Malam ketujuh, aku duduk menunggu.

Pukul 23.43.

Pintu terbuka.

Arman menarik koper masuk.

—Ibu di mana?

Aku meletakkan amplop cokelat itu di atas meja.

Wajahnya seketika memutih.

—Kau dapat ini dari mana?

Aku tidak menjawab.

Aku hanya mendorong salinan surat nikah ke arahnya.

—Jelaskan.

Dia menatap dokumen itu.

Lalu menatapku.

Setelah lama terdiam, dia tiba-tiba tertawa.

Tawanya membuat seluruh tubuhku terasa dingin.

—Tari, seharusnya kau tidak menemukan ini.

Aku menggenggam ponsel erat-erat.

—Ibumu di mana?

Dia tetap diam.

Tepat saat itu, ponsel lama di atas meja mendadak bergetar.

Sebuah pesan baru muncul.

Pengirimnya adalah nomor ibu mertuaku.

Hanya ada satu kalimat:

“JANGAN BIARKAN ARMAN TAHU KAU SUDAH MELIHAT VIDEO ITU. SEGERA KELUAR DARI RUMAH.”

Aku membeku.

Karena ibu mertuaku sudah menghilang selama empat hari.

Sementara Arman berdiri tepat di hadapanku.

Tatapannya perlahan turun ke layar ponsel yang masih menyala.

Kemudian dia mengangkat kepala.

Senyum di wajahnya lenyap.

—Siapa yang baru saja mengirim pesan kepadamu?

BAGIAN 2

—Siapa yang baru saja mengirim pesan kepadamu?

Suara Arman terdengar pelan, tetapi justru itu yang membuat bulu kudukku berdiri.

Aku segera membalik ponsel lama itu hingga layarnya menghadap meja.

—Pesan iklan.

Arman menatapku cukup lama.

Tatapannya turun ke tanganku, lalu ke amplop cokelat dan dokumen pernikahan di atas meja.

—Tari, berikan ponsel itu kepadaku.

—Kenapa?

—Karena itu barang Ibu.

Dia maju satu langkah.

Aku ikut mundur.

Pada saat itulah aku teringat pesan tadi.

“SEGERA KELUAR DARI RUMAH.”

Aku memaksakan diri tetap tenang.

—Aku ingin ke kamar mandi.

Arman menghalangi jalan.

—Setelah kau menyerahkan ponselnya.

Jantungku berdetak begitu keras hingga telingaku berdenging.

Namun tepat saat itu, suara klakson terdengar dari luar pagar.

Arman menoleh refleks.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Aku menyambar amplop dan ponsel, lalu berlari ke pintu samping.

—Tari!

Arman mengejarku.

Aku bahkan tidak sempat memakai sandal.

Begitu keluar, aku melihat sebuah mobil kecil berhenti di depan rumah.

Pengemudinya adalah Bu Rina, tetangga yang tinggal dua rumah dari tempat kami.

Dia membuka kaca jendela.

—Tari? Kenapa kau berlari?

—Bu, buka pintunya!

Aku masuk tanpa menjelaskan.

Arman sudah berdiri di depan pagar.

—Tari, turun! Kita belum selesai bicara!

Bu Rina melihat wajahku yang pucat, lalu langsung menginjak pedal gas.

Baru setelah mobil berbelok ke jalan utama, aku bisa bernapas.

Tanganku gemetar saat membuka pesan dari nomor ibu mertua.

Ada pesan kedua.

“Pergilah ke rumah adik Ibu. Jangan hubungi polisi dulu. Ibu aman.”

Aku hampir menangis karena lega.

Ibu masih hidup.

Aku langsung membalas.

“Ibu di mana?”

Tidak ada jawaban.

Bu Rina mengantarku ke rumah adik perempuan ibu mertua yang tinggal sekitar empat puluh menit dari sana.

Begitu pintu dibuka, aku terpaku.

Ibu mertuaku berdiri di ruang tengah.

Beliau masih mengenakan pakaian yang sama seperti hari ketika menghilang.

—Ibu!

Aku memeluknya.

Barulah beliau menangis.

—Maafkan Ibu, Tari. Ibu membuatmu ketakutan.

Setelah kami duduk, beliau menceritakan semuanya.

Sebelas tahun lalu, Arman memang pernah menikah dengan seorang perempuan bernama Maya.

Pernikahan itu sah.

Namun hanya berlangsung kurang dari setahun.

Maya meninggalkan Arman setelah mengetahui bahwa Arman menggunakan namanya untuk mengajukan pinjaman bisnis tanpa izin.

Mereka berpisah, tetapi proses perceraian tidak pernah diselesaikan.

Arman memberi tahu keluarganya bahwa semuanya sudah selesai.

Tiga tahun kemudian, dia bertemu denganku.

—Jadi selama ini… pernikahan kami?

Ibu mertuaku menundukkan kepala.

—Ibu baru mengetahui dua tahun lalu bahwa perceraian mereka tidak pernah tercatat.

Aku merasa dada seperti dihantam sesuatu.

—Kenapa Ibu tidak memberi tahu aku?

—Karena Arman bersumpah akan menyelesaikannya.

Ternyata bukan hanya itu.

Empat bulan terakhir, bisnis Arman mengalami kerugian besar.

Dia diam-diam mengalihkan rumah kami kepada seorang perempuan.

Perempuan itu bukan kekasihnya.

Dia adalah Maya.

Aku semakin bingung.

—Kenapa rumah kami diberikan kepada mantan istrinya?

Ibu menarik napas panjang.

—Karena Maya mengancam akan melaporkan pemalsuan dokumen lama yang dilakukan Arman.

Arman mencoba membeli diamnya.

Rumah kami menjadi jaminan.

Tabungan keluarga juga ikut dikuras.

—Lalu perjalanan dinas itu?

Ibu menatapku.

—Tidak ada perjalanan dinas.

Arman pergi menemui Maya untuk menyelesaikan kesepakatan terakhir.

Perempuan yang mengangkat teleponmu bukan asistennya. Dia bekerja untuk seorang perantara hukum yang membantu mereka bernegosiasi.

Aku merasa seluruh delapan tahun pernikahanku runtuh dalam beberapa kalimat.

—Kenapa Ibu tiba-tiba menghilang?

Ibu meremas tanganku.

—Karena dua malam sebelum pergi, Ibu mendengar Arman berbicara dengan seseorang. Dia tahu Ibu telah mengambil salinan semua dokumen.

Hari ketika aku pulang dan mendapati beliau hilang, ternyata ibu mertua sengaja meninggalkan rumah melalui halaman belakang.

Sebelumnya beliau sudah menitipkan dokumen di bank.

Beliau ingin menemuiku setelah mendapatkan bukti tambahan.

Namun Arman mengetahui sebagian rencananya.

Itulah sebabnya dia terus bertanya apakah aku masuk ke kamar Ibu.

—Pesan tadi dikirim dari mana?

Adik Ibu mengangkat sebuah ponsel.

—Ibu menggunakan kartu baru. Nomor lamanya kami aktifkan kembali sore tadi setelah yakin Arman sudah pulang. Kami ingin mengetahui apakah dia akan langsung mencarimu.

Aku menatap dokumen di tanganku.

—Kalau begitu kita harus melapor.

Ibu mengangguk.

—Sekarang sudah waktunya.

Keesokan paginya, kami mendatangi kantor polisi bersama seorang pengacara.

Semua bukti diserahkan.

Rekening.

Dokumen pengalihan rumah.

Rekaman video.

Percakapan.

Bukti bahwa namaku pernah digunakan sebagai penjamin beberapa transaksi tanpa persetujuan.

Tetapi kejutan terbesar datang sore harinya.

Pengacara menerima telepon.

Setelah menutup sambungan, dia menatapku serius.

—Maya ingin bertemu denganmu.

Aku menegang.

—Untuk apa?

—Dia bilang semua orang salah memahami satu hal.

—Apa?

Pengacara meletakkan ponselnya.

—Dia tidak pernah meminta rumahmu.

—Justru selama empat bulan terakhir, dia berusaha mencegah Arman menjualnya.

Aku dan ibu mertua saling berpandangan.

Lalu pengacara mengeluarkan satu dokumen yang baru dikirim Maya.

Begitu melihat tanda tangan di halaman terakhir, tubuhku membeku.

Tanda tanganku ada di sana.

Sangat mirip.

Namun aku tidak pernah menandatanganinya.

Pengacara menunjuk tanggal di pojok bawah.

—Tari, menurut dokumen ini, tiga bulan lalu kaulah yang secara sukarela menyetujui pengalihan rumah kepada Arman.

Aku menatapnya.

—Tapi tiga bulan lalu aku bahkan sedang berada di luar kota selama seminggu.

Pengacara mengangguk perlahan.

—Itulah masalahnya.

Dia menarik satu lembar lagi dari map.

—Kami juga menemukan permohonan pinjaman senilai hampir dua miliar rupiah.

Nama peminjamnya bukan Arman.

Aku membaca baris pertama.

Darahku seakan berhenti mengalir.

Nama yang tercetak di sana adalah namaku sendiri.

BAGIAN 3

Malam itu aku tidak tidur.

Selama delapan tahun, aku mengira masalah terbesar dalam rumah tanggaku hanyalah kebohongan.

Ternyata Arman bukan sekadar berbohong.

Dia perlahan-lahan membangun kehidupan keduanya di atas identitasku.

Keesokan harinya aku bertemu Maya.

Aku membayangkan perempuan licik yang berusaha merebut rumahku.

Namun perempuan yang masuk ke ruang pertemuan itu tampak kelelahan.

Usianya sekitar akhir tiga puluhan.

Dia membawa sebuah map tebal.

Begitu melihat ibu mertua, dia menundukkan kepala.

—Maaf, Bu.

Ibu tidak menjawab.

Maya kemudian menatapku.

—Aku tidak tahu Arman menikah lagi sampai dua tahun lalu.

Kalimat pertama itu langsung menghapus sebagian prasangkaku.

Maya menjelaskan bahwa setelah meninggalkan Arman sebelas tahun lalu, dia pindah ke kota lain.

Dia mengira proses perceraian telah diurus Arman karena semua dokumen diserahkan kepadanya.

Baru ketika hendak menikah lagi beberapa tahun kemudian, Maya mengetahui status perkawinannya ternyata belum pernah diputus.

Dia menghubungi Arman.

Sejak saat itu Arman terus menunda.

Ketika Maya akhirnya mengancam melapor, Arman menawarkan uang.

—Aku menolaknya.

Maya membuka map.

Di dalamnya ada puluhan tangkapan layar.

Pesan dari Arman.

Surat elektronik.

Foto dokumen.

Bahkan rekaman suara.

—Empat bulan lalu dia mengirim salinan sertifikat rumah dan berkata rumah itu miliknya sendiri. Dia ingin mengalihkannya kepadaku sebagai penyelesaian.

Maya menggeser sebuah percakapan ke arahku.

Aku membaca pesan Arman.

“Rumah ini atas kendaliku. Tari tidak perlu tahu.”

Tanganku dingin.

Pesan berikutnya bahkan lebih buruk.

“Aku sudah mengurus tanda tangannya.”

Maya melanjutkan:

—Aku mulai curiga. Karena itu aku menghubungi ibunya.

Aku menoleh ke ibu mertua.

Beliau mengangguk.

Ternyata Maya dan ibu bekerja sama selama dua bulan terakhir.

Mereka mengumpulkan bukti sebelum Arman bisa menghapus semuanya.

Perjalanan “dinas” tujuh hari itu sebenarnya terjadi karena Maya sengaja meminta Arman bertemu dengan perantara hukum.

Dia ingin memancing Arman agar membawa dokumen asli.

—Perempuan yang menjawab teleponmu adalah konsultan yang bekerja denganku.

Maya terlihat bersalah.

—Dia memang tidak seharusnya berbohong kepadamu. Tapi waktu itu kami takut kalau Arman tahu ibunya sudah menyerahkan bukti.

Aku akhirnya memahami semuanya.

Tetapi satu hal masih membuatku sakit.

Aku menatap ibu mertua.

—Semua orang tahu kecuali aku.

Ruangan menjadi sunyi.

Air mata ibu langsung jatuh.

—Itulah kesalahan terbesar Ibu.

Beliau tidak mencari alasan.

Tidak mengatakan semua dilakukan demi kebaikanku.

Tidak meminta aku memahami.

Beliau hanya berkata:

—Ibu terlalu takut kehilangan anak sendiri sampai hampir menghancurkan hidup menantu Ibu.

Kalimat itu justru membuat kemarahanku perlahan surut.

Bukan hilang.

Tetapi berubah menjadi sesuatu yang lebih jernih.

Aku tidak harus memaafkan semuanya hari itu.

Namun setidaknya beliau akhirnya memilih mengatakan kebenaran.

Bukti yang dikumpulkan Maya sangat lengkap.

Polisi menemukan bahwa Arman menggunakan tanda tanganku pada beberapa dokumen.

Pinjaman hampir dua miliar rupiah belum sempat dicairkan karena pihak pemberi pinjaman meminta verifikasi tambahan.

Rumah juga ternyata belum benar-benar berpindah tangan.

Dokumen yang kutemukan di bank hanyalah bagian dari proses pengalihan yang belum selesai.

Artinya, rumah itu masih bisa diselamatkan.

Pengacara bergerak cepat.

Permohonan blokir transaksi diajukan.

Rekening bersama dibekukan sementara.

Dokumen palsu dilaporkan.

Dalam waktu kurang dari dua minggu, seluruh transaksi rumah dihentikan.

Arman beberapa kali mencoba menghubungiku.

Aku tidak menjawab.

Sampai akhirnya dia mengirim pesan:

“Tari, kita bicara saja. Aku bisa menjelaskan semuanya.”

Aku hanya membalas satu kali.

“Jelaskan kepada pengacaraku.”

Setelah itu aku memblokir nomornya.

Kasusnya berjalan selama beberapa bulan.

Aku tidak ingin menjadikan hidupku bergantung pada apakah Arman dihukum berat atau ringan.

Yang lebih penting bagiku adalah mengambil kembali apa yang masih bisa kuselamatkan.

Aku mengajukan pembatalan status perkawinan kami melalui jalur hukum yang tepat.

Karena pernikahan Arman sebelumnya belum selesai ketika dia menikah denganku, prosesnya memang rumit.

Namun bukti yang ada membuat posisiku jelas.

Aku juga menuntut pengembalian bagian dana yang diambil dari rekening bersama.

Sebagian uang tidak dapat kembali.

Aku menerima kenyataan itu.

Aneh rasanya.

Dulu aku mengira kehilangan ratusan juta akan membuat hidupku berakhir.

Ternyata setelah kehilangan kepercayaan kepada orang yang tidur di sampingku selama delapan tahun, angka di rekening terasa jauh lebih kecil.

Enam bulan kemudian, aku kembali ke rumah itu.

Bukan sebagai istri Arman.

Bukan sebagai perempuan yang menunggu penjelasan.

Rumah berhasil dipertahankan.

Melalui kesepakatan hukum, bagian kepemilikan yang memang berasal dari uangku dikembalikan kepadaku, sedangkan kewajiban Arman dipisahkan.

Aku memutuskan menjual rumah tersebut.

Ibu mertua terkejut.

—Tari, rumah itu sudah kembali. Kenapa dijual?

Aku tersenyum.

—Karena aku tidak ingin kemenangan berarti harus tinggal di tempat yang selalu mengingatkanku pada kebohongan.

Aku membeli rumah yang lebih kecil.

Tidak mewah.

Ada halaman sempit di belakang.

Cukup untuk menanam cabai, serai, dan bunga yang kusukai.

Aku juga menggunakan sebagian uang hasil penjualan untuk membuka jasa pembukuan kecil bersama seorang teman lama.

Selama bertahun-tahun aku mengurus keuangan rumah tangga, membantu usaha Arman, memperbaiki laporan, bahkan menangani persoalan pajaknya.

Ironisnya, semua kemampuan yang dulu kuanggap hanya “membantu suami” justru menjadi jalan untuk membangun hidupku sendiri.

Usaha kami perlahan berkembang.

Tiga klien menjadi sepuluh.

Sepuluh menjadi puluhan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku mempunyai penghasilan yang sepenuhnya berada dalam kendaliku sendiri.

Hubunganku dengan ibu mertua juga berubah.

Beliau tidak lagi memanggilku menantu di depan orang lain.

Beliau memanggilku Tari.

Sesekali beliau datang membawa sayur atau makanan buatan sendiri.

Kami tidak pernah berpura-pura bahwa masa lalu tidak terjadi.

Suatu sore, hampir setahun setelah malam ketika aku menerima pesan itu, kami duduk di teras rumah baruku.

Ibu memandang tanaman cabai yang tumbuh berantakan.

—Dulu Ibu pikir kalau menutupi kesalahan anak sendiri, berarti Ibu sedang melindungi keluarga.

Aku menuangkan teh untuknya.

—Sekarang?

Beliau tersenyum pahit.

—Sekarang Ibu tahu keluarga yang dibangun di atas kebohongan sebenarnya sudah retak sejak awal.

Aku tidak menjawab.

Karena tidak semua luka membutuhkan kalimat penutup.

Beberapa cukup dibiarkan sembuh.

Beberapa bulan kemudian, Maya mengirim undangan pernikahan.

Akhirnya status perkawinannya dengan Arman resmi selesai.

Aku datang bersama ibu.

Saat melihatku di pintu, Maya tertawa.

—Aku tidak pernah membayangkan orang yang paling kutakuti setahun lalu justru datang ke pernikahanku.

Aku ikut tertawa.

—Aku juga pernah mengira kau perempuan yang mengambil rumahku.

Kami saling berpelukan.

Tidak ada persahabatan dramatis.

Tidak ada janji akan menjadi saudara selamanya.

Hanya dua perempuan yang pernah sama-sama dibohongi oleh lelaki yang sama, lalu memilih berhenti menjadikan lelaki itu pusat kehidupan mereka.

Malam itu, setelah pulang dari pesta, aku berdiri sendirian di depan rumah.

Ponselku berbunyi.

Sebuah nomor tak dikenal mengirim pesan.

“Tari, ini Arman. Aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja.”

Aku membaca pesan itu sekali.

Dulu, mungkin aku akan marah.

Mungkin bertanya mengapa.

Mungkin menuntut penjelasan yang lebih panjang.

Sekarang tidak.

Aku menghapus pesan itu.

Kemudian masuk ke rumah.

Di atas meja terdapat laporan keuangan perusahaan yang harus kuselesaikan besok.

Di kulkas ada kue yang dibawakan ibu.

Di halaman belakang, lampu kecil menyinari tanaman yang baru kusiram.

Hidupku tidak menjadi sempurna.

Tetapi hidup itu akhirnya benar-benar milikku.

Sebelum tidur, aku membuka ponsel lama yang pernah ditinggalkan ibu.

Pesan yang menyelamatkanku malam itu masih tersimpan.

“SEGERA KELUAR DARI RUMAH.”

Aku menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum.

Dulu aku mengira pesan itu hanya memintaku meninggalkan sebuah bangunan.

Sekarang aku mengerti.

Yang harus kutinggalkan sebenarnya jauh lebih besar.

Sebuah pernikahan palsu.

Sebuah kehidupan yang dibangun dari kebohongan.

Dan seorang perempuan bernama Tari yang selama delapan tahun selalu percaya bahwa mempertahankan rumah tangga berarti harus terus bertahan.

Aku mematikan layar.

Di luar jendela, fajar perlahan muncul.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ketika memikirkan hari esok, aku tidak merasa takut.

Aku merasa bebas.