AKU MENJUAL SEMUA HARTA SETELAH SUAMIKU “MENINGGAL”—EMPAT HARI KEMUDIAN, BRANKAS RAHASIA MEMBONGKAR RENCANA YANG DISEMBUNYIKANNYA BERTAHUN-TAHUN!

Avatar penulis
Cerita 05
18 menit baca 491 tayangan
Indeks

AKU MENJUAL SEMUA HARTA SETELAH SUAMIKU “MENINGGAL”—EMPAT HARI KEMUDIAN, BRANKAS RAHASIA MEMBONGKAR RENCANA YANG DISEMBUNYIKANNYA BERTAHUN-TAHUN!

Tiga hari setelah suamiku dan kakak laki-lakinya pergi ke daerah pegunungan untuk meninjau sebuah proyek resor, mobil mereka ditemukan di dasar jurang yang curam.

Pintu mobil ringsek, kaca pecah berhamburan, sementara ponsel, dompet, dan dua jam tangan mereka masih tertinggal di dalam.

Namun, tidak ada seorang pun di sana.

Tim pencarian menyisir kawasan hutan selama sepuluh hari penuh. Pada akhirnya, mereka hanya bisa memberikan satu kesimpulan:

Kemungkinan keduanya masih hidup nyaris tidak ada.

Kabar buruk itu bahkan belum sempat kami cerna ketika masalah lain menghantam keluarga kami.

AKU MENJUAL SEMUA HARTA SETELAH SUAMIKU “MENINGGAL”—EMPAT HARI KEMUDIAN, BRANKAS RAHASIA MEMBONGKAR RENCANA YANG DISEMBUNYIKANNYA BERTAHUN-TAHUN!

Suamiku, Arga, ternyata diam-diam telah menjadikan seluruh jaringan toko batik milik keluarga sebagai jaminan untuk sebuah pinjaman dalam jumlah fantastis.

Totalnya lebih dari seratus miliar rupiah.

Jika utang itu tidak dibayar tepat waktu, bukan hanya toko-toko yang akan disita. Pabrik produksi, gudang, bahkan rumah besar milik ibu mertuaku juga terancam dilelang.

Setelah mendengar pengacara selesai menjelaskan semuanya, ibu mertuaku, Bu Ratih, duduk membeku cukup lama.

Sementara aku justru merasa sangat tenang.

Terlalu tenang.

Karena semua ini pernah kualami sebelumnya.

Aku terlahir kembali.

Dalam kehidupanku sebelumnya, setelah Arga menghilang, aku dan ibu mertuaku mati-matian mempertahankan bisnis keluarga.

Kami meminjam uang ke sana kemari, menjual perhiasan, menjual mobil, bahkan menggadaikan rumah kecil peninggalan orang tuaku.

Aku yang sebelumnya hanya bertanggung jawab pada bagian desain terpaksa mengambil alih seluruh pengelolaan pabrik.

Siang hari aku memeriksa barang dan mengurus pesanan.

Malam hari aku melakukan siaran langsung untuk menjual batik.

Bahkan ketika demamku hampir mencapai empat puluh derajat, aku masih harus duduk di depan kamera dan tersenyum kepada para pelanggan.

Ibu mertuaku yang sudah berusia lebih dari enam puluh tahun pun masih ikut mengemas pesanan dengan tangannya sendiri.

Kami bertahan seperti itu selama empat tahun.

Ketika akhirnya cicilan terakhir berhasil dilunasi, aku benar-benar mengira penderitaan kami telah berakhir.

Namun tepat pada malam itu…

Arga pulang.

Dia bukan hanya masih hidup.

Dia bahkan membawa seorang perempuan muda dan seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.

Sampai sekarang aku masih mengingat senyum di wajahnya ketika dia melangkah masuk ke rumah.

—Terima kasih sudah menjaga semuanya untukku.

Belakangan aku baru mengetahui bahwa kecelakaan bertahun-tahun lalu hanyalah sebuah sandiwara.

Arga dan kakaknya telah memindahkan sejumlah besar uang secara diam-diam ke luar negeri.

Mereka sengaja menghilang agar seluruh beban utang jatuh kepada orang-orang yang ditinggalkan.

Perhitungan mereka sangat tepat.

Aku mencintai suamiku.

Ibu mertuaku menyayangi anak-anaknya.

Kami pasti akan mempertaruhkan segalanya demi mempertahankan bisnis keluarga.

Setelah seluruh utang lunas, mereka tinggal pulang dan menikmati hasilnya.

Dan mereka memang berhasil.

Setidaknya…

Dalam kehidupanku sebelumnya.

Namun kali ini, tidak akan kubiarkan.

Pagi setelah tim pencarian mengumumkan kesimpulan mereka, aku meletakkan seluruh dokumen perusahaan di hadapan ibu mertuaku.

—Bu, kita jual semuanya.

Bu Ratih tersentak.

—Apa yang kamu katakan?

—Jual seluruh jaringan toko, pabrik, dan gudang. Apa pun yang merupakan bagian dari aset Arga dan kakaknya dan secara hukum bisa kita lepaskan, kita jual. Jangan sisakan apa pun.

Wajah ibu mertuaku langsung pucat.

—Ini usaha yang dibangun ayah mereka selama lebih dari tiga puluh tahun!

Aku menatapnya.

—Kalau begitu, Ibu mau menghabiskan empat tahun, lima tahun, atau bahkan sepuluh tahun sisa hidup Ibu untuk membayar utang yang dibuat oleh dua laki-laki itu?

Dia terdiam.

Aku mendorong satu bundel dokumen lain ke hadapannya.

Itu adalah catatan transaksi yang diam-diam pernah kuselidiki sebelum aku terlahir kembali.

Hotel.

Restoran.

Apartemen mewah.

Perhiasan.

Dan berbagai transfer uang kepada perempuan-perempuan di luar sana.

Bu Ratih membaca setiap lembar.

Tangannya semakin lama semakin gemetar.

Ketika sampai pada halaman terakhir, dia tiba-tiba tertawa.

Suaranya sangat pelan.

Namun entah mengapa, suara itu terdengar lebih mengerikan daripada tangisan.

—Tiga puluh dua tahun.

Dia berkata lirih.

—Selama tiga puluh dua tahun Ibu memasak untuk ayahnya. Tapi ternyata dia membelikan perempuan lain sebuah apartemen yang bahkan lebih mahal daripada rumah yang Ibu tempati.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Beberapa saat kemudian, Bu Ratih menutup dokumen tersebut.

—Jual.

Hanya satu kata.

Tiga hari kemudian, kami mulai melikuidasi seluruh aset.

Yang bisa dijual, kami jual.

Yang bisa dialihkan, kami alihkan.

Yang masih dijaminkan, kami negosiasikan dengan pihak kreditur.

Aku bahkan menghubungi sebuah perusahaan tekstil besar dan menjual merek batik yang selama ini dianggap sebagai harta paling berharga oleh keluarga suamiku.

Harganya hampir dua puluh persen lebih rendah daripada nilai pasar.

Pengacara kami sampai merasa sayang dan berkali-kali bertanya apakah aku benar-benar tidak ingin mempertimbangkannya lagi.

Aku hanya tersenyum.

Aku tidak membutuhkan harga tertinggi.

Aku membutuhkan transaksi tercepat.

Karena aku tahu kedua laki-laki itu belum mati.

Dan aku juga tahu bahwa hal yang benar-benar ingin mereka pertahankan bukanlah toko-toko yang berdiri di pinggir jalan.

Pada malam hari keempat, setelah kontrak terakhir selesai ditandatangani, aku dan ibu mertuaku kembali ke rumah lama.

Bu Ratih mengunci gerbang.

Menutup seluruh tirai.

Kemudian, tanpa menyalakan lampu, dia mengambil senter dan membawaku menuju bengkel batik tua di bagian belakang rumah.

Tempat itu sudah bertahun-tahun tidak digunakan.

Peralatan membatik tertutup debu tebal, tetapi aroma malam batik yang khas masih samar-samar memenuhi ruangan.

Bu Ratih berhenti di depan sebuah lemari kayu besar.

—Bantu Ibu menggesernya.

Kami membutuhkan hampir sepuluh menit untuk memindahkan lemari itu.

Di belakangnya terdapat satu bagian dinding yang warnanya sedikit berbeda dari bagian lain.

Jantungku mulai berdetak kencang.

Dalam kehidupanku sebelumnya, aku sama sekali tidak mengetahui tempat ini.

Ibu mertuaku mengambil palu dan memukul bata ketiga dari bawah.

Krak!

Bata itu terlepas.

Di baliknya terlihat sebuah panel kunci elektronik.

Aku terpaku.

—Apa ini?

—Lima belas tahun lalu, ayah mertuamu mengira Ibu sudah tidur dan diam-diam turun ke sini. Suatu kali Ibu pernah mengikutinya.

Dia menatapku.

—Ibu tidak tahu apa yang ada di balik sana. Tapi waktu itu Ibu mendengar dia berkata kepada kakak Arga bahwa sekalipun perusahaan bangkrut, selama benda-benda di bawah sini masih aman, keluarga kita selalu bisa memulai semuanya dari awal.

Bu Ratih memasukkan tanggal lahir suaminya.

Salah.

Tanggal lahir kedua putranya.

Salah.

Tanggal berdirinya perusahaan.

Masih salah.

Tiba-tiba aku teringat sebuah detail dari kehidupanku sebelumnya.

Pada hari Arga pulang, perempuan yang dibawanya mengenakan sebuah gelang dengan empat angka terukir di permukaannya.

Saat itu aku mengira angka tersebut hanyalah tanggal peringatan tertentu.

Namun ketika mengingatnya sekarang, seluruh tubuhku mendadak terasa dingin.

Aku menyebutkan keempat angka itu.

Ibu mertuaku memasukkannya.

“Tit!”

Terdengar suara mekanis dari balik dinding.

Sebuah pintu logam perlahan terbuka.

Namun di baliknya bukan emas.

Bukan pula uang tunai.

Melainkan puluhan kotak dokumen yang ditumpuk memenuhi ruangan dari lantai hingga hampir menyentuh langit-langit.

Bu Ratih mengambil kotak yang paling dekat dengannya.

Begitu dibuka, napas kami seakan berhenti.

Di dalamnya terdapat paspor dengan identitas palsu.

Dokumen kepemilikan berbagai rekening.

Kontrak pemindahan uang.

Dan berkas-berkas berisi foto banyak orang yang sama sekali tidak kukenal.

Aku membuka kotak kedua.

Sebuah buku catatan hitam jatuh tepat di dekat kakiku.

Aku memungutnya.

Di halaman pertama hanya terdapat satu kalimat:

“RENCANA PELARIAN.”

Di bawahnya terdapat daftar langkah demi langkah.

Menciptakan utang.

Memindahkan aset.

Merekayasa kecelakaan.

Menghilang.

Menunggu keluarga menyelesaikan seluruh kewajiban.

Pulang kembali.

Tangan ibu mertuaku gemetar hebat.

—Mereka… benar-benar masih hidup?

Aku belum sempat menjawab ketika ponsel di sakuku tiba-tiba bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Hanya ada satu foto.

Dalam foto tersebut, Arga sedang duduk santai di tepi kolam renang.

Tubuhnya sehat.

Kulitnya kecokelatan karena matahari.

Dan lengannya melingkar mesra di pinggang seorang perempuan muda.

Pesan kedua segera muncul.

“Sayang, terima kasih sudah bekerja keras. Aku akan segera pulang.”

Bu Ratih menatap layar ponselku.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Namun aku justru tertawa.

Aku membungkuk dan mengambil satu bundel dokumen lain dari dasar kotak.

Nama Arga tertulis jelas di bagian sampul.

Di bawahnya tercantum sebuah angka yang begitu besar hingga aku sendiri sampai menahan napas.

Itu bukan sekadar catatan aset.

Melainkan bukti keberadaan dana rahasia yang nilainya hampir sepuluh kali lipat dari seluruh utang yang baru saja kami selesaikan.

Dan satu-satunya orang yang tercatat memiliki hak akses darurat terhadap seluruh dana tersebut…

Bukan Arga.

Bukan pula kakaknya.

Melainkan ibu mertuaku.

Bu Ratih menatap namanya sendiri di dokumen itu.

Seluruh tubuhnya membeku.

Tepat pada saat itu…

Suara mesin mobil terdengar dari halaman depan.

Sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang.

Lalu terdengar tiga ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Ponselku kembali menyala.

Pesan baru dari Arga muncul di layar.

Hanya enam kata:

“Aku sudah pulang. Buka pintunya.”

Aku dan ibu mertuaku saling berpandangan.

Kemudian Bu Ratih perlahan menutup kotak dokumen tersebut.

Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, sebuah senyum muncul di wajahnya.

—Ning, menurutmu…

Tangannya mencengkeram erat bundel dokumen itu.

—Kita buka pintunya dan menyambut mereka masuk…

Dia berhenti sejenak.

Senyumnya semakin dalam.

—Atau kita biarkan mereka berdiri di luar sana dan melihat sendiri siapa yang sekarang benar-benar memiliki semuanya?

BAGIAN 2

Aku menatap Bu Ratih selama beberapa detik, lalu mengambil buku hitam bertuliskan “RENCANA PELARIAN” dan memasukkannya ke dalam tas.

—Kita buka pintunya, Bu.

Bu Ratih mengerutkan kening.

—Kamu yakin?

Aku tersenyum tipis.

—Kalau kita tidak membukanya, bagaimana kita bisa melihat wajah mereka saat mengetahui semuanya sudah terlambat?

Kami meninggalkan ruang rahasia itu, mengembalikan lemari ke tempat semula, lalu berjalan menuju ruang depan.

Ketukan di gerbang semakin keras.

—Ning! Buka! Ini aku!

Suara Arga.

Suara yang dalam kehidupanku sebelumnya pernah membuatku menangis karena bahagia setelah empat tahun menunggu.

Sekarang, mendengarnya hanya membuatku merasa muak.

Aku membuka gerbang.

Arga berdiri di sana bersama kakaknya, Damar.

Keduanya terlihat sehat, bahkan jauh lebih segar daripada sebelum “kecelakaan”.

Di belakang mereka terparkir sebuah mobil mahal.

Dan yang membuatku hampir tertawa adalah perempuan muda yang turun dari kursi belakang.

Perempuan yang sama dalam foto di tepi kolam renang.

Arga langsung merentangkan tangan.

—Ning…

Aku mundur satu langkah.

Tangannya berhenti di udara.

—Kenapa?

—Kamu sudah dianggap meninggal selama berbulan-bulan. Tiba-tiba muncul malam-malam begini. Aku takut hantu.

Wajah Damar berubah.

Namun Arga malah tertawa.

—Kamu masih suka bercanda.

Dia berjalan masuk tanpa menunggu izin.

Matanya segera berkeliling.

—Ibu mana?

Bu Ratih muncul dari ruang tengah.

Arga tersenyum lebar.

—Bu!

Dia hendak memeluk ibunya.

Namun Bu Ratih mengangkat tangan.

Plak!

Tamparannya begitu keras hingga kepala Arga miring ke samping.

Ruangan langsung sunyi.

Damar membentak.

—Ibu sudah gila?!

Bu Ratih menatap kedua putranya dengan mata merah.

—Seharusnya kalian tetap menjadi orang mati.

Arga perlahan menyentuh pipinya.

—Ibu bicara apa?

Aku menutup gerbang.

Lalu berkata santai:

—Duduklah. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan.

Arga akhirnya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Dia melihat sekeliling rumah.

—Kenapa lukisan di ruang tamu hilang? Di mana lemari jati? Dan mobil Ibu?

—Dijual.

Jawabanku membuatnya membeku.

—Apa?

—Mobil dijual. Koleksi barang antik dijual. Gudang dialihkan. Pabrik juga sudah berpindah tangan.

Damar berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

—Kamu bilang apa?!

Aku tersenyum.

—Oh, iya. Hampir lupa. Seluruh jaringan toko batik juga sudah kami jual.

Wajah kedua laki-laki itu seketika pucat.

Arga menerjang ke arahku.

—Siapa yang mengizinkanmu?!

Aku meletakkan dokumen di meja.

—Utang lebih dari seratus miliar rupiah datang setelah kalian “meninggal”. Kami perlu membayarnya. Jadi aset yang secara hukum dapat diselesaikan melalui proses waris dan kewajiban perusahaan sudah kami urus bersama pengacara.

—Kamu bodoh!

Arga akhirnya kehilangan kendali.

—Kamu tahu berapa nilai merek itu lima tahun lagi?!

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Tentu saja aku tahu.

Dalam kehidupanku sebelumnya, aku mempertahankannya dengan darah dan air mata.

Hanya agar akhirnya dia mengambil semuanya.

—Lalu menurutmu aku harus bagaimana? Menunggu empat tahun sambil bekerja sampai hampir mati demi melunasi utangmu?

Wajah Arga berubah.

Hanya sesaat.

Namun aku menangkapnya.

Dia terkejut mendengar angka empat tahun.

Aku segera mengubah topik.

—Yang penting sekarang utang sudah selesai.

Damar memegang kepala.

—Selesai? Kalian menghancurkan semuanya!

Bu Ratih tertawa dingin.

—Bukankah kalian sudah mati? Orang mati masih membutuhkan perusahaan?

Damar terdiam.

Perempuan muda di belakang Arga akhirnya mendekat.

—Arga, sudahlah. Bukankah masih ada yang lain?

Ruangan seketika sunyi.

Arga menoleh tajam kepadanya.

—Diam!

Terlambat.

Aku berpura-pura bingung.

—Yang lain?

—Tidak ada apa-apa.

Arga berdiri.

—Bu, aku lelah. Besok kita bicara. Aku mau istirahat.

Aku menghalangi jalan menuju tangga.

—Tidak bisa.

—Ini rumahku.

—Dulu.

Aku mengeluarkan satu dokumen lagi.

—Rumah ini juga sudah dijual.

Mata Arga membelalak.

—Apa?!

—Pemilik baru mengizinkan kami tinggal sampai akhir bulan. Setelah itu rumah ini akan direnovasi menjadi tempat tinggal karyawan.

Untuk pertama kalinya, aku melihat kepanikan yang nyata di wajah Arga.

Namun beberapa detik kemudian, dia justru tenang kembali.

Dia bertukar pandang dengan Damar.

Aku tahu apa yang mereka pikirkan.

Ruang rahasia.

Dana tersembunyi.

Selama itu masih ada, kehilangan perusahaan bukan masalah besar.

Arga tersenyum tipis.

—Baiklah. Kalau begitu besok kita selesaikan semuanya.

Mereka bertiga pergi ke sebuah hotel.

Aku dan Bu Ratih menunggu sampai suara mobil menghilang.

Lalu kami kembali ke ruang rahasia.

Kali ini kami membaca seluruh dokumen dengan teliti.

Semakin banyak yang kami baca, semakin jelas semuanya.

Dana rahasia itu berasal dari keuntungan perusahaan yang selama bertahun-tahun dialihkan melalui sejumlah perusahaan cangkang.

Namun ada satu kesalahan yang dibuat ayah mertua sebelum meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Dia tidak sepenuhnya percaya kepada kedua putranya.

Karena itu, untuk akses darurat, dia mencantumkan nama istrinya—Bu Ratih—sebagai penerima manfaat cadangan dan menyimpan dokumen asli di ruang rahasia.

Yang lebih mengejutkan, ada surat tulisan tangan.

“Ratih, jika kamu menemukan ini, berarti anak-anak kita telah melakukan sesuatu yang tidak bisa lagi kubenarkan. Gunakan apa yang tersisa untuk memperbaiki kesalahan keluarga ini.”

Bu Ratih membaca surat itu tiga kali.

Air matanya jatuh.

Namun kali ini bukan air mata kelemahan.

Dia mengusap wajahnya dan menatapku.

—Besok kita temui pengacara.

Aku menggeleng.

—Bukan besok.

Aku mengambil ponsel.

—Malam ini.

Karena aku tahu Arga.

Begitu dia sadar ada sesuatu yang salah, dia tidak akan menunggu sampai pagi.

Dan benar saja.

Pukul dua lewat tujuh belas menit dini hari, kamera keamanan di ponselku mengirim peringatan.

Dua bayangan melompati pagar belakang.

Arga dan Damar.

Mereka berjalan lurus menuju bengkel batik.

Bu Ratih berdiri di sampingku, memandangi layar.

Aku tersenyum.

—Akhirnya mereka datang mengambil “milik mereka”.

Lalu aku menekan tombol panggilan kepada seseorang yang sejak tadi sudah menunggu.

—Pak, mereka sudah masuk.

BAGIAN 3

Arga dan Damar tidak tahu bahwa sejak sore ruang rahasia itu sudah kosong.

Seluruh dokumen asli telah kami pindahkan ke tempat aman bersama pengacara.

Sementara di dalam kotak-kotak tersebut, kami hanya meninggalkan salinan.

Dan sebuah amplop putih.

Kamera merekam saat Arga menggeser lemari dengan panik.

Dia memasukkan kode.

Pintu logam terbuka.

Keduanya langsung masuk.

Beberapa detik kemudian terdengar teriakan.

—Tidak mungkin!

Arga membongkar kotak demi kotak.

Damar menemukan amplop putih.

Di bagian depannya tertulis:

“UNTUK DUA ORANG YANG SUDAH MENINGGAL.”

Tangannya gemetar ketika membuka amplop.

Di dalam hanya ada selembar kertas.

“Selamat datang kembali.”

Saat itulah lampu bengkel menyala.

Aku dan Bu Ratih berdiri di pintu.

Di belakang kami ada pengacara keluarga dan beberapa petugas keamanan.

Arga menatap kami.

—Kalian menjebakku?

—Menjebak?

Aku menggeleng.

—Ini rumah yang secara legal masih berada dalam masa pengalihan kepemilikan. Kalian masuk diam-diam pukul dua pagi menggunakan identitas yang menurut dokumen resmi bahkan belum dipulihkan statusnya. Kami hanya ingin tahu apa yang kalian cari.

Damar menunjuk ruang rahasia.

—Semua di sini milik keluarga!

Bu Ratih maju.

—Keluarga?

Suaranya tenang.

—Ketika kalian membuat utang dan menghilang, apakah kalian menganggap kami keluarga?

Tidak ada jawaban.

Arga menatapku.

—Ning, dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan.

Aku hampir tertawa.

Dalam kehidupan sebelumnya, aku menunggu penjelasan itu selama empat tahun.

Sekarang aku tidak membutuhkannya lagi.

—Jelaskan kepada pengacara.

Aku menyerahkan buku hitam kepadanya.

—Termasuk ini.

Wajah Arga seketika kehilangan warna.

Dia mengenali buku itu.

—Dari mana kamu mendapatkannya?

—Dari tempat yang kalian kira tidak akan pernah ditemukan dua perempuan bodoh yang kalian tinggalkan.

Bu Ratih mengeluarkan ponselnya.

—Dan Ibu sudah membaca semuanya.

Damar tiba-tiba mencoba merebut buku tersebut.

Petugas keamanan langsung menahannya.

—Lepaskan aku!

Bu Ratih tidak bergerak.

—Damar, cukup.

Hanya dua kata itu membuatnya berhenti.

Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia menyadari bahwa ibunya tidak lagi berdiri di pihak mereka.

Beberapa hari berikutnya menjadi mimpi buruk bagi Arga dan Damar.

Setelah mereka resmi muncul kembali, berbagai persoalan yang selama ini disembunyikan ikut terbuka.

Pengacara menyerahkan bukti rekayasa kecelakaan, dokumen identitas palsu, transaksi mencurigakan, serta catatan pemindahan aset kepada pihak berwenang.

Para kreditur juga mulai mempertanyakan bagaimana dua orang yang dianggap hilang ternyata hidup nyaman sementara keluarga mereka dipaksa membereskan kewajiban perusahaan.

Arga berkali-kali meneleponku.

Aku tidak menjawab.

Sampai suatu sore dia menungguku di depan kantor pengacara.

Penampilannya sudah jauh berbeda.

Tidak ada lagi pakaian mahal atau senyum percaya diri.

—Ning, kita masih suami istri.

Aku berhenti.

—Secara hukum, status itu sedang diselesaikan.

—Aku melakukan semua ini untuk masa depan kita.

Aku menatapnya lama.

—Masa depan kita?

—Dana itu cukup untuk membuat kita hidup tanpa bekerja seumur hidup.

—Lalu perempuan dan anak yang kamu bawa pulang?

Arga terdiam.

Aku tersenyum.

—Kamu tidak pernah merencanakan masa depan untuk “kita”, Arga. Kamu hanya merencanakan bagaimana memanfaatkan orang-orang yang masih cukup bodoh untuk mencintaimu.

Aku berjalan melewatinya.

Dia tiba-tiba memegang lenganku.

—Dana itu di mana?

Akhirnya.

Itulah pertanyaan yang sebenarnya ingin dia tanyakan.

Aku melepaskan tangannya.

—Bukan urusanmu lagi.

—Itu uang keluarga!

Suara seseorang terdengar dari belakang.

—Benar. Karena itu sekarang digunakan untuk memperbaiki apa yang sudah keluarga ini rusak.

Bu Ratih berdiri di tangga kantor.

Arga membeku.

Bu Ratih mendekat.

—Sebagian dana yang secara sah dapat dipulihkan akan digunakan untuk menyelesaikan kewajiban yang masih tersisa. Sisanya akan diproses sesuai hukum. Ibu juga sudah membuat keputusan tentang bagian yang menjadi hak Ibu.

—Keputusan apa?

—Kamu tidak perlu tahu.

Arga menatap ibunya seolah sedang melihat orang asing.

—Ibu memilih dia daripada anak sendiri?

Bu Ratih tersenyum pahit.

—Tidak. Ibu akhirnya memilih diri Ibu sendiri.

Enam bulan berlalu.

Proses hukum terhadap berbagai transaksi Arga dan Damar masih berjalan, tetapi hidup kami tidak lagi berhenti menunggu hasilnya.

Rumah besar itu benar-benar direnovasi oleh pemilik barunya menjadi tempat tinggal karyawan.

Anehnya, aku tidak merasa sedih ketika melihat papan nama lama keluarga diturunkan.

Aku justru merasa lega.

Seolah-olah sesuatu yang selama bertahun-tahun membelenggu kami akhirnya dilepaskan.

Dengan bagian dana yang sah menjadi milik Bu Ratih serta uang yang tersisa setelah seluruh kewajiban kami diselesaikan, kami tidak membeli rumah mewah.

Kami juga tidak membangun kembali kerajaan bisnis lama.

Kami membeli sebuah bangunan sederhana dengan halaman luas.

Lantai bawah kami jadikan studio batik.

Lantai atas menjadi tempat pelatihan.

Bu Ratih mengusulkan satu hal.

—Kita pekerjakan perempuan-perempuan yang sulit mendapatkan pekerjaan.

Janda.

Ibu tunggal.

Perempuan berusia lanjut.

Mereka yang pernah kehilangan sumber penghasilan dan harus memulai dari nol.

Aku setuju.

Kami memulai hanya dengan dua belas orang.

Aku mengurus desain dan pemasaran.

Bu Ratih mengajari mereka teknik batik tradisional yang selama puluhan tahun dia pelajari dari para pengrajin tua.

Tidak ada utang besar.

Tidak ada gedung mewah.

Tidak ada puluhan toko.

Namun setiap sore, tempat itu dipenuhi suara tawa.

Setahun kemudian, dua belas orang menjadi empat puluh.

Pesanan mulai datang dari berbagai daerah.

Suatu hari seorang distributor besar menawarkan kerja sama.

Ketika melihat angka kontraknya, Bu Ratih menatapku.

—Dulu Ibu pasti langsung menandatangani.

—Sekarang?

Dia tertawa.

—Sekarang Ibu baca dulu sampai huruf paling kecil.

Aku ikut tertawa.

Dua tahun setelah malam ketika Arga mengetuk gerbang, aku menerima sebuah surat.

Proses perceraianku akhirnya selesai sepenuhnya.

Aku membawa surat itu pulang.

Bu Ratih sedang duduk di halaman sambil memeriksa kain.

Aku meletakkannya di meja.

Dia membaca beberapa detik.

Lalu masuk ke dapur.

Aku bingung.

—Mau apa, Bu?

Dia kembali membawa dua gelas es teh dan sepiring kue.

—Merayakan.

Aku tertawa.

—Cuma begini?

—Memangnya kamu mau pesta seratus juta?

—Tidak.

Kami bersulang dengan gelas es teh.

Sore itu matahari jatuh perlahan di balik atap studio.

Para pekerja sedang pulang satu per satu.

Seorang anak kecil berlari menjemput ibunya sambil membawa gambar batik buatannya sendiri.

Aku memandang semuanya dan tiba-tiba teringat kehidupanku sebelumnya.

Aku pernah mati dalam keadaan percaya bahwa kehilangan Arga berarti kehilangan seluruh hidupku.

Ternyata aku salah.

Kehilangan orang yang salah terkadang bukan akhir.

Justru itulah pintu keluar.

Bu Ratih tiba-tiba bertanya:

—Kalau suatu hari kamu menikah lagi, kamu akan meninggalkan Ibu?

Aku menoleh.

—Kenapa saya harus meninggalkan Ibu?

—Karena Ibu mantan ibu mertuamu.

Aku mengambil sepotong kue.

—Salah.

—Apa yang salah?

—Arga yang mantan. Ibu tetap keluarga saya.

Bu Ratih terdiam.

Matanya langsung memerah.

Dia buru-buru memalingkan wajah.

—Angin sore ini bikin mata pedih.

Aku pura-pura tidak melihat air matanya.

Beberapa saat kemudian, dia menggenggam tanganku.

Di depan kami terbentang puluhan kain batik yang sedang dijemur.

Tidak ada lagi rumah besar.

Tidak ada lagi kerajaan bisnis keluarga.

Tidak ada suami yang harus kutunggu pulang.

Namun untuk pertama kalinya dalam dua kehidupanku, aku merasa benar-benar kaya.

Bukan karena uang yang kami temukan di balik dinding.

Melainkan karena akhirnya kami memiliki sesuatu yang tidak bisa lagi diambil Arga dari kami.

Kebebasan.

Harga diri.

Dan sebuah kehidupan yang kami pilih sendiri.

Aku menggenggam tangan Bu Ratih lebih erat.

Kali ini, kami tidak sedang memulai kembali kehidupan milik keluarga mereka.

Kami sedang membangun kehidupan milik kami sendiri.

Dan kali ini…

tidak seorang pun akan mengambilnya lagi.