Mantan Ibu Mertuaku Melihatku di Pernikahan 5 Tahun Setelah Perceraian. Dia Menertawakan Aku—Lalu Putriku Menunjuk Ayahnya
Lima tahun setelah perceraianku, mantan ibu mertuaku melihatku di sebuah pesta pernikahan.
Dia tertawa kecil sambil menatapku dari ujung kepala sampai kaki.
—Ternyata sampai sekarang tidak ada yang mau menerima “bekas” anakku.
Aku tidak bereaksi.

Lalu seorang gadis kecil berusia empat tahun berlari menghampiriku.
—Mama!
Mantan ibu mertuaku tersenyum sinis.
—Kasihan sekali. Tidak punya ayah, ya?
Putriku justru mengernyit kebingungan.
—Ayahku ada di sana.
Dia menunjuk seseorang di seberang ballroom.
Mantan ibu mertuaku menoleh.
Dan gelas di tangannya jatuh ke lantai.
Resepsi pernikahan sepupuku malam itu berlangsung di sebuah hotel mewah di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.
Ballroom dipenuhi bunga putih, lampu kristal, dan suara musik lembut. Para tamu mengenakan batik, kebaya, serta setelan formal terbaik mereka.
Aku, Alya Prameswari, memilih duduk tenang di meja nomor enam.
Aku datang untuk merayakan pernikahan sepupuku, bukan untuk membuka kembali luka lama.
Namun rupanya Ratna Kusumawardani, mantan ibu mertuaku, punya rencana berbeda.
Aku bahkan belum menyelesaikan segelas air ketika melihatnya berjalan mendekati mejaku.
Lima tahun tidak banyak mengubah Ratna.
Rambutnya masih tersisir sempurna.
Perhiasannya masih mencolok.
Dan tatapan merendahkan yang dulu selalu membuatku mempertanyakan harga diriku sendiri masih sama persis.
Ratna mengambil segelas minuman dari nampan pelayan.
Kemudian, entah sengaja atau tidak, dia berbicara cukup keras hingga tamu di beberapa meja sekitar dapat mendengarnya.
—Wah, Alya.
Aku mengangkat wajah.
Ratna tersenyum.
—Lima tahun berlalu, ternyata kamu masih datang ke acara seperti ini sendirian.
Beberapa orang mulai melirik.
Aku tahu permainan itu.
Dulu, selama tiga tahun menjadi menantunya, Ratna selalu melakukan hal yang sama.
Dia tidak pernah menghina dengan berteriak.
Dia melakukannya sambil tersenyum.
—Sepertinya memang tidak ada laki-laki yang mau menerima “bekas” anak saya.
Percakapan di meja sebelah mendadak berhenti.
Aku tetap diam.
Ratna tampaknya mengira diamku adalah kekalahan.
Dia melanjutkan.
—Dulu saya sudah bilang kepada Raka. Dia pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada istri yang suka membuat drama dan menuduh suaminya berselingkuh tanpa bukti.
Nah.
Akhirnya keluar juga.
Cerita lama yang selama lima tahun terus dipelihara keluarga mereka.
Menurut versi Ratna, aku adalah istri pencemburu yang menghancurkan rumah tangganya sendiri.
Menurut versi mereka, Raka Kusumawardana, mantan suamiku, adalah korban.
Tidak ada yang pernah membicarakan pesan-pesan yang kutemukan.
Tidak ada yang membicarakan tagihan hotel.
Tidak ada yang membicarakan perempuan bernama Cynthia yang meneleponku sambil menangis dan mengaku sudah enam bulan menjalin hubungan dengan suamiku.
Dan tentu saja, tidak ada yang membicarakan malam ketika Raka menatap wajahku dan berkata:
“Kalau kamu pergi dari rumah ini, jangan pernah berharap bisa kembali.”
Jadi aku pergi.
Dan aku tidak pernah kembali.
Aku menatap Ratna dengan tenang.
Tidak marah.
Tidak membela diri.
Aku sudah menghabiskan terlalu banyak tahun untuk belajar bahwa tidak semua kebohongan harus kita lawan dengan suara keras.
Kadang-kadang, hidup sendiri yang akan memberikan jawabannya.
Lalu terdengar suara kecil dari arah lantai dansa.
—Mama!
Aku langsung tersenyum.
Seorang anak perempuan berusia empat tahun berlari ke arahku dengan gaun pesta warna biru muda.
Rambutnya yang panjang bergoyang di belakangnya.
Itu Nara, putriku.
Dia baru saja bermain bersama anak-anak sepupuku.
Nara langsung memeluk pinggangku.
—Mama, tadi aku dapat cokelat!
Aku tertawa dan mengusap rambutnya.
Ratna membeku beberapa detik.
Matanya turun ke wajah Nara.
Lalu kembali kepadaku.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Aku mengenal senyum itu.
Dia baru saja menemukan senjata baru.
Ratna membungkukkan tubuh sedikit agar sejajar dengan Nara.
—Ya ampun, cantiknya.
Nara tersenyum sopan.
—Terima kasih, Tante.
Wajah Ratna berubah sedikit mendengar dirinya dipanggil Tante, tetapi dia mempertahankan senyumnya.
Kemudian dia menatapku sekilas.
—Kasihan sekali anak secantik ini.
Aku langsung tahu ke mana arah pembicaraan itu.
—Ratna—
Namun dia sudah melanjutkan.
—Tidak ada ayahnya, ya?
Nara mengerutkan kening.
Bukan sedih.
Bukan malu.
Dia benar-benar kebingungan.
Seolah baru saja mendengar pertanyaan paling aneh di dunia.
—Ada, kok.
Ratna terdiam.
Nara kemudian berbalik dan menunjuk ke seberang ballroom dengan jari kecilnya yang masih sedikit lengket karena cokelat.
—Ayahku ada di sana.
Ratna mengikuti arah jarinya.
Aku juga menoleh.
Di dekat meja hadiah berdiri seorang pria tinggi dengan setelan jas abu-abu gelap.
Dr. Arga Mahendra.
Suamiku.
Ayah Nara.
Arga sedang berbicara dengan salah satu kerabatku ketika pandangannya menemukan kami.
Ekspresinya langsung berubah lembut saat melihat Nara.
Putriku melambaikan kedua tangannya.
—Ayah!
Arga tersenyum.
Kemudian dia mulai berjalan ke arah kami.
Aku menoleh kembali kepada Ratna.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat perempuan itu benar-benar kehilangan kendali atas ekspresinya.
Jari-jarinya melemah.
Gelas di tangannya terlepas.
PRAANG!
Gelas itu menghantam lantai ballroom.
Beberapa tamu tersentak.
Minuman membasahi lantai dan mengenai ujung sepatu mahal Ratna.
Tetapi dia bahkan tidak melihat ke bawah.
Tatapannya terkunci pada Arga.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Bibirnya bergerak.
—Mahendra…
Hanya satu kata.
Namun cara Ratna mengucapkannya membuat tengkukku merinding.
Bukan karena kagum.
Bukan karena dia mengenali seorang dokter terkenal.
Itu terdengar seperti seseorang yang baru saja melihat masa lalu yang seharusnya tetap terkubur.
Aku memandang Arga.
Kemudian Ratna.
Ada sesuatu yang tidak kupahami.
Arga memang seorang dokter spesialis bedah di salah satu rumah sakit swasta besar di Jakarta.
Kami bertemu hampir tiga tahun setelah perceraianku.
Dia tidak pernah peduli siapa mantan suamiku.
Tidak pernah menanyakan berapa banyak orang yang mempercayai cerita buruk tentangku.
Dia hanya pernah berkata:
—Aku tidak menikahi masa lalumu, Alya. Aku menikahi perempuan yang berdiri di depanku sekarang.
Setahun kemudian kami menikah sederhana di Bandung.
Nara lahir tidak lama setelahnya.
Hidupku tidak sempurna.
Tetapi hidupku tenang.
Dan setelah bertahun-tahun, aku akhirnya memahami bahwa ketenangan jauh lebih berharga daripada terlihat menang di depan orang lain.
Namun sekarang…
Ratna menatap suamiku seolah Arga bukan orang asing.
Dan Arga?
Ketika jaraknya tinggal beberapa meter dari kami, langkahnya melambat.
Senyumnya menghilang.
Dia mengenali Ratna.
Aku bisa melihatnya.
Arga berhenti.
Ratna mundur satu langkah.
—Kamu…
Arga tidak menjawab.
Nara berlari menghampirinya.
—Ayah!
Arga langsung mengangkat putri kami ke dalam pelukannya.
—Hei, Putri Ayah. Kok mulutnya penuh cokelat?
Nara tertawa.
Tetapi tatapan Arga tetap tertuju pada Ratna.
Suasana di sekitar kami berubah.
Beberapa kerabat mulai berbisik.
Aku berdiri.
—Arga?
Suamiku akhirnya menatapku.
Ada sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Bukan ketakutan.
Lebih seperti seseorang yang baru menyadari bahwa sebuah rahasia lama akhirnya datang mengetuk pintu rumahnya sendiri.
Di belakangku, sahabat lamaku, Maya, berdiri dekat meja prasmanan.
Dia sudah mengenal semua yang terjadi dalam pernikahan pertamaku.
Maya menangkap tatapanku.
Lalu dia memberi anggukan kecil ke arah Ratna.
Bibirnya bergerak tanpa suara.
Perhatikan dia.
Aku menoleh.
Ratna tidak lagi memandangku.
Tidak juga memandang Nara.
Dia menatap Arga.
Tangannya gemetar.
Kemudian aku mendengar mantan ibu mertuaku berbisik:
—Kamu seharusnya tidak berada di sini.
Arga memeluk Nara sedikit lebih erat.
—Saya justru bisa mengatakan hal yang sama kepada Ibu.
Darahku serasa berhenti mengalir.
—Kalian saling kenal?
Ratna langsung menjawab.
—Tidak.
Pada saat yang sama, Arga berkata:
—Ya.
Keheningan jatuh di antara kami.
Aku menatap suamiku.
Arga menarik napas panjang.
Lalu dia menatap Ratna dan mengatakan kalimat yang membuat wajah mantan ibu mertuaku berubah sepenuhnya.
—Lima tahun lalu, sebelum saya mengenal Alya, saya pernah menjadi dokter jaga malam ketika seorang perempuan dibawa ke IGD setelah kecelakaan di Jalan Gatot Subroto.
Ratna menggenggam sisi meja.
Arga melanjutkan dengan suara rendah.
—Perempuan itu bernama Cynthia.
Nama itu menghantamku lebih keras daripada suara gelas pecah tadi.
Cynthia.
Perempuan yang dulu disebut Raka sebagai hasil imajinasiku.
Perempuan yang menurut Ratna tidak pernah ada.
Arga menatapku.
Kemudian dia berkata:
—Dan sebelum kehilangan kesadaran malam itu, Cynthia memberikan sesuatu kepada saya untuk diserahkan kepada polisi jika ada orang dari keluarga Kusumawardani datang mencarinya.
Aku tidak mampu bergerak.
Ratna mundur satu langkah lagi.
Lalu satu suara terdengar dari belakang kerumunan.
—Bu?
Aku mengenali suara itu.
Aku menoleh.
Di pintu masuk ballroom berdiri seorang pria yang selama lima tahun tidak pernah kulihat secara langsung.
Raka.
Mantan suamiku.
Dan ketika Raka melihat Arga…
wajahnya berubah persis seperti wajah ibunya.
Saat itulah aku mengerti.
Pernikahan sepupuku malam itu bukan sedang mempertemukanku dengan masa lalu secara kebetulan.
Ada sesuatu yang selama lima tahun disembunyikan dari semua orang.
Dan entah bagaimana, suamiku memegang bagian terakhir dari rahasia tersebut.
Lima tahun lalu, Ratna mengatakan aku menghancurkan keluarganya dengan sebuah kebohongan.
Malam itu, di tengah ballroom yang dipenuhi ratusan tamu, aku akan mengetahui bahwa perempuan yang mereka sebut “tidak pernah ada” bukan hanya nyata.
Dia meninggalkan bukti.
Dan bukti itu akan mengubah seluruh cerita tentang perceraianku.
Raka berdiri di pintu ballroom seperti seseorang yang baru saja melihat hantu dari masa lalunya sendiri.
Bukan aku yang membuat wajahnya pucat.
Bukan Nara.
Bukan pula kenyataan bahwa aku sudah menikah lagi.
Tatapannya hanya tertuju pada Arga.
—Kamu… —suara Raka tercekat.— Dokter malam itu.
Aku menatap mereka bergantian.
Jantungku berdegup begitu keras sampai musik dari panggung terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh.
Ratna bergerak lebih cepat.
Dia menghampiri putranya dan mencengkeram lengannya.
—Raka, kita pulang.
—Bu…
—Sekarang.
Arga menurunkan Nara dari pelukannya, lalu berjongkok.
—Sayang, pergi sama Tante Maya sebentar, ya?
Nara memandangku.
Aku mengangguk.
Maya segera menggandeng tangannya dan membawa Nara menjauh dari kerumunan.
Barulah Arga berdiri.
—Saya rasa Alya berhak mengetahui semuanya.
Ratna tertawa pendek.
Namun suara itu terdengar rapuh.
—Mengetahui apa? Cerita seorang perempuan gila?
Aku membeku.
Lima tahun lalu, kata yang sama pernah digunakan Raka.
Gila.
Paranoid.
Histeris.
Setiap kali aku menemukan sesuatu yang mencurigakan, mereka membuatku mempertanyakan pikiranku sendiri.
Arga menatap Ratna tanpa ekspresi.
—Cynthia tidak gila.
—Kamu tidak mengenalnya.
—Saya mengenalnya cukup lama untuk mendengar apa yang dia katakan sebelum operasi.
Raka tiba-tiba berkata:
—Dia meninggal?
Arga menatapnya.
—Tidak.
Satu kata itu mengubah segalanya.
Raka terhuyung sedikit.
Aku menahan napas.
—Apa?
Arga berbalik kepadaku.
—Cynthia selamat, Alya.
Aku merasa lututku kehilangan tenaga.
Selama lima tahun aku tidak pernah tahu apa yang terjadi pada perempuan itu.
Setelah perceraian, nomornya tidak aktif.
Akun media sosialnya menghilang.
Raka mengatakan dia hanyalah perempuan bermasalah yang sengaja menghancurkan pernikahan kami.
Ratna bahkan pernah mengatakan kepadaku bahwa Cynthia mungkin menggunakan nama palsu.
Lama-lama aku berhenti mencari.
Bukan karena percaya kepada mereka.
Aku hanya ingin hidup.
—Kalau dia selamat… kenapa dia menghilang?
Arga diam sejenak.
—Karena dia takut.
Ratna langsung memotong.
—Ini tidak masuk akal.
—Justru sangat masuk akal.
Arga mengeluarkan ponselnya.
—Malam itu Cynthia mengalami kecelakaan tunggal. Polisi awalnya menganggap dia kehilangan kendali atas mobilnya. Tapi saat sadar sebentar di IGD, dia terus mengatakan bahwa seseorang mengikutinya.
Wajah Raka semakin pucat.
—Bohong.
Arga menatapnya.
—Saya tidak pernah mengatakan orang yang mengikutinya adalah kamu.
Raka terdiam.
Keheningan itu jauh lebih buruk daripada pengakuan.
Beberapa tamu mulai berbisik.
Aku menatap mantan suamiku.
—Bagaimana kamu tahu?
—Alya…
—Bagaimana kamu tahu Arga sedang membicarakanmu?
Raka membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
Ratna mencengkeram tangannya.
—Jangan bicara lagi.
Dan tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
Ratna bukan sedang melindungi dirinya.
Dia melindungi Raka.
Seperti dulu.
Selalu seperti dulu.
Kami pindah ke sebuah ruang keluarga kecil di samping ballroom agar tidak merusak pesta sepupuku lebih jauh.
Hanya aku, Arga, Raka, Ratna, dan Maya.
Nara dititipkan kepada kakakku.
Begitu pintu tertutup, aku menatap Arga.
—Ceritakan semuanya.
Arga menarik napas.
—Aku seharusnya memberitahumu lebih cepat.
—Kamu tahu Cynthia sebelum mengenalku?
—Ya.
Dadaku terasa sesak.
Arga segera melanjutkan.
—Tapi aku tidak tahu hubungannya denganmu sampai sekitar enam bulan lalu.
Aku mengernyit.
—Bagaimana?
—Dia menghubungiku.
Arga menunjukkan sebuah pesan di ponselnya.
Nama pengirimnya membuat tanganku dingin.
Cynthia Halim.
Pesannya sederhana.
“Dokter Arga, saya tidak tahu apakah Anda masih mengingat saya. Anda menyelamatkan hidup saya lima tahun lalu. Saya akhirnya siap menyelesaikan sesuatu yang dulu saya tinggalkan.”
Aku duduk perlahan.
—Kenapa kamu tidak memberitahuku?
—Karena ketika akhirnya aku mengetahui bahwa Raka adalah mantan suamimu, Cynthia memintaku untuk tidak mengatakan apa pun sebelum dia siap memberikan keterangan resmi. Dia takut kalau informasi itu bocor, bukti yang masih tersisa akan dihancurkan.
Aku marah.
Tentu saja aku marah.
—Aku istrimu, Arga.
—Aku tahu.
—Kamu seharusnya percaya padaku.
—Aku percaya padamu.
Suara Arga melembut.
—Justru karena aku percaya padamu, aku tidak ingin membuatmu hidup dalam ketakutan selama berbulan-bulan hanya karena sesuatu yang belum bisa kubuktikan.
Aku ingin membantah.
Tetapi Ratna mendadak berdiri.
—Sudah cukup.
Dia mengambil tasnya.
—Raka, ayo.
Maya menghalangi pintu.
—Duduk dulu, Bu Ratna.
—Minggir.
Maya tersenyum tipis.
—Tidak.
Ratna menatapku.
—Kamu menikmati ini, ya? Lima tahun menunggu kesempatan mempermalukan kami?
Anehnya, aku tidak merasakan kepuasan.
Aku hanya merasa lelah.
—Saya bahkan tidak tahu Ibu akan datang malam ini.
—Pembohong.
Aku berdiri.
—Lima tahun lalu Ibu mengatakan saya gila karena menemukan kuitansi hotel di mobil Raka. Ibu mengatakan foto yang saya lihat sudah diedit. Ibu mengatakan Cynthia tidak pernah ada.
Ratna tidak menjawab.
—Sekarang saya hanya ingin satu jawaban. Kenapa?
Untuk pertama kalinya, sesuatu di wajahnya retak.
Bukan kemarahan.
Kesedihan.
Namun Raka tiba-tiba berkata:
—Karena aku yang meminta Ibu melakukannya.
Kami semua menoleh.
Raka duduk dengan kedua tangan menutupi wajah.
—Cynthia memang selingkuhanku.
Aku sudah tahu.
Tetapi mendengarnya mengakui secara langsung tetap terasa seperti membuka kembali bekas luka.
—Enam bulan —lanjutnya.— Awalnya aku pikir cuma main-main.
Ratna berbisik:
—Raka, diam.
—Tidak, Bu.
Raka mengangkat wajah.
Matanya merah.
—Sudah lima tahun.
Dia menatapku.
—Kamu benar tentang semuanya, Alya.
Aku tidak mengatakan apa pun.
—Hotel itu benar. Pesan-pesan itu benar. Cynthia benar. Aku berbohong karena aku takut kehilangan rumah, bisnis, reputasi… semuanya.
Aku tertawa kecil tanpa humor.
—Jadi kamu memilih membuatku berpikir aku kehilangan kewarasanku.
Raka menunduk.
—Ya.
Satu kata.
Tidak ada alasan.
Tidak ada pembelaan.
Aneh sekali.
Selama bertahun-tahun aku membayangkan hari ketika dia akhirnya mengaku.
Kupikir aku akan merasa menang.
Ternyata tidak.
Aku hanya merasa kasihan kepada perempuan berusia dua puluh sembilan tahun yang dulu duduk sendirian di kamar mandi sambil bertanya kepada dirinya sendiri apakah dia benar-benar sudah menjadi istri yang gila.
Aku ingin kembali ke masa lalu dan memeluk perempuan itu.
Mengatakan kepadanya:
Kamu melihat apa yang memang ada.
Kamu tidak gila.
Namun Arga belum selesai.
—Perselingkuhan bukan alasan Cynthia bersembunyi lima tahun.
Raka kembali menegang.
Arga menatapnya.
—Ceritakan bagian lainnya.
—Aku tidak tahu maksudmu.
—Kamu tahu.
Ratna mendadak menangis.
Itu mengejutkanku lebih dari apa pun.
Selama mengenalnya, aku hampir tidak pernah melihat Ratna menangis.
Bahkan ketika ayah Raka meninggal, dia berdiri tegak sepanjang pemakaman.
Sekarang tangannya gemetar.
—Saya yang mengikuti Cynthia malam itu.
Ruangan seolah kehilangan udara.
Raka menoleh tajam.
—Apa?
Bahkan dia tampak tidak tahu.
Ratna menutup wajahnya.
—Dia menelepon saya.
Aku membeku.
—Cynthia?
Ratna mengangguk.
—Dia bilang dia hamil.
Raka berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
—Apa?!
Ratna menangis lebih keras.
—Dia bilang anak itu kemungkinan besar anakmu.
Aku menatap Raka.
Wajahnya kosong.
Ternyata ini pun rahasia baginya.
Ratna melanjutkan terbata-bata.
—Saya panik. Saya baru saja mengetahui kalian akan bercerai. Bisnis keluarga sedang bermasalah. Ayahmu baru meninggal. Lalu perempuan itu mengatakan dia hamil dan ingin Raka bertanggung jawab.
—Jadi Ibu mengejarnya? —tanyaku.
—Saya hanya ingin bicara!
—Sampai mobilnya kecelakaan?
—Saya tidak menabraknya!
Ratna hampir berteriak.
—Saya mengikuti mobilnya. Saya membunyikan klakson. Saya mencoba membuatnya berhenti. Lalu hujan deras dan dia kehilangan kendali.
Dia menangis.
—Saya melihat mobilnya menghantam pembatas jalan.
Tak seorang pun bicara.
—Saya takut —lanjut Ratna.— Jadi saya pergi.
Aku merasa mual.
—Ibu meninggalkannya?
Ratna mengangguk sambil menangis.
—Saya menelepon ambulans secara anonim beberapa menit kemudian. Saya bersumpah. Tapi saya tidak kembali.
Raka menatap ibunya seperti sedang melihat orang asing.
—Kenapa Ibu tidak pernah bilang?
Ratna mengusap air mata.
—Karena saya pikir dia meninggal.
Arga menggeleng.
—Dia kehilangan kandungannya.
Raka menutup mata.
Aku melihat sesuatu runtuh dalam dirinya.
Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahanku berubah menjadi kesedihan yang aneh.
Bukan untuk pernikahan kami.
Untuk seorang anak yang tidak pernah punya kesempatan mengenal dunia.
Dan untuk Cynthia yang harus menanggung semuanya sendirian.
Aku pikir itulah rahasia terbesar malam itu.
Aku salah.
Arga membuka ponselnya lagi.
—Ada alasan Cynthia akhirnya kembali enam bulan lalu.
Dia menunjukkan sebuah foto.
Cynthia berdiri di samping seorang perempuan tua di sebuah rumah sederhana.
Aku tidak mengenali perempuan tua itu.
Tetapi Ratna mengenalinya.
Dia langsung memegang meja.
—Tidak mungkin.
Arga berkata:
—Namanya Lestari Kusumawardani.
Raka menatapnya.
—Siapa?
Ratna berbisik:
—Adik ayahmu.
Aku semakin bingung.
Arga menjelaskan.
Setelah kecelakaan, Cynthia meninggalkan Jakarta. Bertahun-tahun kemudian, saat bekerja di sebuah yayasan kesehatan di Yogyakarta, dia bertemu Lestari.
Pertemuan itu mengungkap sesuatu yang bahkan Cynthia tidak pernah duga.
Ayah Raka ternyata pernah menitipkan dokumen kepada Lestari sebelum meninggal.
Dokumen mengenai perusahaan keluarga.
Perusahaan yang selama ini diklaim Ratna diwariskan sepenuhnya kepada Raka.
—Dokumen apa? —tanya Raka.
Arga menatap Ratna.
—Surat wasiat terakhir.
Wajah Ratna membeku.
Raka perlahan menoleh kepada ibunya.
—Bu?
Ratna tidak menjawab.
Arga melanjutkan.
—Ayahmu tidak mewariskan perusahaan sepenuhnya kepadamu. Empat puluh persen sahamnya diperuntukkan bagi sebuah yayasan pendidikan yang didirikan atas nama mendiang kakak perempuanmu.
Raka tampak seperti baru saja dipukul.
Aku ingat kakaknya.
Dinda.
Dia meninggal karena leukemia saat berusia tujuh belas tahun.
Ratna hampir tidak pernah membicarakannya.
—Dan tiga puluh persen lainnya —lanjut Arga— seharusnya dikelola atas nama Raka, tetapi tidak boleh dijual selama sepuluh tahun.
Raka memandang ibunya.
—Ibu bilang Ayah memberikan semuanya kepadaku.
Ratna diam.
—Ibu menjual sebagian saham tiga tahun lalu.
Masih diam.
—Dari mana surat wasiat yang Ibu tunjukkan kepadaku?
Ratna mulai menangis lagi.
Dan aku tahu jawabannya sebelum dia mengatakannya.
—Saya mengubahnya.
Raka terduduk.
Malam itu, perempuan yang lima tahun lalu menuduhku sebagai pembohong akhirnya mengakui bahwa sebagian besar hidupnya sendiri dibangun dari kebohongan.
Polisi tidak datang menyeret Ratna dari pesta.
Hidup nyata jarang bekerja sedramatis itu.
Tetapi dua hari kemudian, Cynthia memberikan keterangan resmi terkait kecelakaannya.
Rekaman panggilan darurat lama, data lalu lintas yang masih tersimpan dalam berkas perkara, serta pengakuan Ratna menjadi bagian dari penyelidikan baru.
Masalah surat wasiat diserahkan kepada pengacara keluarga.
Aku tidak mengikuti detailnya.
Itu bukan hidupku lagi.
Raka juga tidak kembali kepadaku.
Dan aku tidak menginginkannya.
Tiga minggu kemudian, dia meminta bertemu.
Kami duduk di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan.
Dia tampak jauh lebih tua.
—Aku sudah keluar dari perusahaan.
Aku mengangguk.
—Aku juga menyerahkan pengelolaan saham yayasan kepada pengurus independen.
—Bagus.
Dia menatap cangkirnya.
—Aku minta maaf.
Aku menunggu.
—Bukan karena ketahuan. Bukan karena Cynthia kembali. Aku minta maaf karena selama bertahun-tahun aku membuatmu meragukan dirimu sendiri.
Mataku panas.
Itulah permintaan maaf yang sebenarnya kubutuhkan lima tahun lalu.
Sekarang aku tidak membutuhkannya untuk hidup.
Tetapi ternyata aku masih membutuhkannya untuk menutup pintu.
—Aku memaafkanmu, Raka.
Dia menatapku.
—Benarkah?
—Ya.
Matanya berkaca-kaca.
Aku melanjutkan:
—Tapi memaafkan bukan berarti aku ingin kamu kembali ke hidupku.
Dia tersenyum sedih.
—Aku tahu.
Kami berpisah di depan kedai kopi.
Untuk pertama kalinya, aku tidak menoleh ke belakang.
Beberapa bulan kemudian, sebuah paket datang ke rumah.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat sebuah amplop dan sebuah foto.
Foto Cynthia.
Dia berdiri di halaman sebuah sekolah kecil di Yogyakarta.
Di belakangnya terdapat anak-anak berseragam.
Aku membuka suratnya.
Tulisan tangannya sederhana.
“Alya, aku sudah lama ingin meminta maaf kepadamu.”
Aku berhenti membaca.
Arga duduk di sebelahku.
Aku melanjutkan.
“Dulu aku tahu Raka sudah menikah. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan apa yang kulakukan. Aku ikut menyakitimu.”
“Setelah kecelakaan, aku kehilangan anakku dan hampir kehilangan hidupku. Selama bertahun-tahun aku berpikir itu adalah hukuman.”
Air mataku jatuh.
“Sekarang aku mengerti bahwa rasa bersalah tidak harus menjadi rumah tempat kita tinggal selamanya.”
“Dana pertama dari yayasan Dinda akhirnya cair bulan ini. Kami menggunakannya untuk memberikan beasiswa kepada 32 anak perempuan.”
Aku melihat foto itu lagi.
Cynthia tersenyum.
Bukan senyum orang yang melupakan masa lalu.
Senyum orang yang akhirnya berhenti membiarkan masa lalu menentukan masa depannya.
Di bagian paling bawah surat tertulis:
“Terima kasih karena dulu kamu memilih pergi. Keberanianmu melakukan sesuatu yang saat itu tidak bisa kulakukan: meninggalkan kebohongan.”
Aku menangis.
Arga memelukku.
Kemudian terdengar langkah kaki kecil.
Nara muncul dari kamar sambil membawa boneka kelincinya.
—Mama kenapa nangis?
Aku cepat-cepat mengusap pipi.
—Mama cuma sedang bahagia.
Nara memanjat sofa.
—Kalau bahagia kenapa nangis?
Aku tertawa.
—Nanti kalau Nara besar, Nara akan mengerti.
Dia berpikir sebentar.
Lalu memelukku.
—Kalau begitu Nara tunggu sampai besar.
Arga tertawa.
Aku memeluk mereka berdua.
Dan kupikir cerita itu selesai di sana.
Ternyata masih ada satu kejutan terakhir.
Setahun setelah pernikahan sepupuku, kami menerima undangan ke Yogyakarta.
Yayasan Dinda membuka sebuah pusat pendidikan baru.
Cynthia mengundang kami.
Aku hampir tidak datang.
Tetapi akhirnya aku, Arga, dan Nara pergi.
Di halaman sekolah, aku melihat Cynthia untuk pertama kalinya setelah lebih dari enam tahun.
Kami berdiri saling memandang.
Tidak ada musik dramatis.
Tidak ada kemarahan.
Dia hanya berjalan mendekat.
—Hai, Alya.
—Hai.
Matanya berkaca-kaca.
—Aku benar-benar minta maaf.
Aku mengangguk.
—Aku tahu.
Lalu kami berpelukan.
Singkat.
Tetapi cukup.
Saat acara hampir selesai, Nara sedang menggambar bersama anak-anak ketika seorang perempuan tua mendatangiku.
Lestari.
Adik mendiang ayah Raka.
Dia memberikan sebuah kotak kecil.
—Ini sebenarnya untukmu.
—Untuk saya?
—Kakak saya menitipkannya sebelum meninggal.
Aku membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah surat.
Tanggalnya tujuh tahun lalu.
Dua tahun sebelum perceraianku.
Aku membaca baris pertama.
“Untuk Alya, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, berarti saya gagal memperbaiki anak saya sebelum terlambat.”
Tanganku gemetar.
Ayah Raka ternyata tahu.
Dia mengetahui perselingkuhan pertama Raka bahkan sebelum Cynthia.
Dia pernah memperingatkannya.
Dalam surat itu dia menulis:
“Saya melihat bagaimana Ratna selalu membersihkan kesalahan Raka sejak kecil. Saya ikut bersalah karena terlalu lama diam.”
Lalu bagian terakhir membuatku menangis.
“Kalau suatu hari mereka membuatmu merasa bahwa mempertahankan harga dirimu adalah tindakan egois, jangan percaya.”
“Pergilah.”
“Rumah yang meminta seseorang menghancurkan dirinya sendiri agar tetap diterima bukanlah rumah.”
Aku menutup surat itu di dada.
Lestari tersenyum.
—Kakak saya tidak pernah sempat memberikannya.
Aku memandang ke halaman.
Arga sedang berlari mengejar Nara yang tertawa sambil membawa balon.
Matahari sore Yogyakarta jatuh lembut di wajah mereka.
Dan tiba-tiba aku memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun aku mengira kemenangan terbesarku adalah membuktikan bahwa aku tidak berbohong.
Ternyata bukan.
Kemenangan terbesarku adalah hidupku tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk mempercayai cerita lama itu.
Ratna pernah menyebutku “bekas” anaknya.
Seolah perempuan yang bercerai adalah barang rusak yang sudah dipakai seseorang.
Padahal aku bukan sisa dari pernikahanku dengan Raka.
Cynthia bukan sekadar perempuan dari perselingkuhan.
Raka bukan hanya kesalahan terburuk yang pernah dibuatnya.
Bahkan Ratna, dengan segala konsekuensi yang harus dia hadapi, bukan satu-satunya orang yang menentukan akhir cerita kami.
Kami semua adalah manusia yang harus hidup setelah pilihan-pilihan kami.
Sebagian meminta maaf.
Sebagian memperbaiki kerusakan.
Sebagian menerima konsekuensi.
Dan sebagian belajar pergi sebelum kehilangan dirinya sendiri.
Nara melihatku dari kejauhan.
—Mama!
Aku tersenyum.
—Ya, Sayang?
Dia menunjuk Arga.
—Ayah kalah!
—Nara curang! —protes Arga sambil tertawa.
Aku berlari menghampiri mereka.
Surat itu masih kugenggam.
Lima tahun sebelumnya aku meninggalkan sebuah rumah dengan dua koper, rekening tabungan yang hampir kosong, dan keyakinan bahwa mungkin Ratna benar.
Mungkin aku terlalu sulit dicintai.
Mungkin tidak akan ada orang yang menginginkanku lagi.
Hari itu, di halaman sebuah sekolah di Yogyakarta, putriku menggenggam tangan kiriku.
Suamiku menggenggam tangan kananku.
Dan akhirnya aku tahu jawabannya.
Aku memang tidak pernah membutuhkan seseorang untuk mengambil “sisa” dari kehidupan lamaku.
Karena aku bukan sisa.
Aku adalah seseorang yang selamat dari akhir sebuah cerita—lalu memiliki keberanian untuk menulis cerita berikutnya sendiri.
