Aku Datang ke Pernikahanku dan Mendapati Semua Dekorasi Hilang—Ternyata Adikku Memindahkan Semuanya ke Pesta Pertunangannya

Avatar penulis
Cerita 04
16 menit baca 1,369 tayangan
Aku Datang ke Pernikahanku dan Mendapati Semua Dekorasi Hilang—Ternyata Adikku Memindahkan Semuanya ke Pesta Pertunangannya
Indeks

Aku Datang ke Pernikahanku dan Mendapati Semua Dekorasi Hilang—Ternyata Adikku Memindahkan Semuanya ke Pesta Pertunangannya

Aku tiba di lokasi pernikahanku dan mendapati semua meja sudah hilang.

Bunga-bunganya tidak ada.

Kue pengantin lenyap.

Bahkan kursi untuk aku dan calon suamiku ikut dibawa pergi.

Adikku ternyata memindahkan semuanya ke pesta pertunangannya.

Lalu Ibu mengirim pesan:

Aku Datang ke Pernikahanku dan Mendapati Semua Dekorasi Hilang—Ternyata Adikku Memindahkan Semuanya ke Pesta Pertunangannya

“Adikmu cuma akan bertunangan sekali seumur hidup. Nanti kamu juga akan mengerti.”

Tamu pertamaku akan tiba dalam 37 menit.

Aku tidak menangis.

Aku hanya mengirim satu foto.

Sebelas menit kemudian, tiga truk yang sedang menuju pesta adikku langsung berbalik arah.

Orang pertama yang meneleponku adalah adikku sendiri.

“Kamu harus bisa berpikir dewasa, Nadira,” suara Ibu terdengar santai dari telepon. “Larissa membutuhkan pesta pertunangan yang sempurna. Ibu sudah meminta Ayah memindahkan semua dekorasimu ke ballroom di Sudirman.”

Aku berdiri membeku di tengah ballroom pernikahanku di Jakarta Selatan.

Ruangan yang seharusnya dipenuhi bunga, meja makan elegan, kain linen mewah, dan dekorasi yang kupersiapkan berbulan-bulan kini hampir kosong.

Aku menatap sekeliling.

“Jadi Ibu mengambil seluruh perlengkapan pernikahanku yang nilainya hampir Rp1 miliar… untuk pesta pertunangan Larissa?”

“Jangan lebay!” bentak Ibu. “Bukankah dekorasi bunga itu cuma hobi kecilmu? Larissa akan menikah dengan keluarga terpandang. Kamu dan Raka bisa mengadakan acara pernikahan kecil-kecilan lagi nanti.”

Aku hampir tertawa.

Hobi kecil?

Mereka benar-benar tidak tahu.

Selama bertahun-tahun keluargaku mengira aku hanya memiliki usaha dekorasi bunga kecil yang melayani pesta ulang tahun dan pernikahan sederhana.

Mereka tidak tahu bahwa Arunika Signature Events, perusahaan yang kubangun diam-diam dari nol, telah menjadi salah satu penyedia acara privat paling eksklusif di Jakarta.

Klien kami adalah keluarga pengusaha, eksekutif perusahaan besar, dan orang-orang yang membayar mahal demi privasi.

Setiap rangkaian bunga milik perusahaan memiliki satu ciri khas:

label kecil berwarna biru tua dengan lambang bunga yang menjadi tanda tanganku.

Dan sekarang puluhan label itu sedang terpajang di pesta pertunangan adikku.

Keluargaku mengira aku akan diam.

Seperti biasanya.

Selama lebih dari dua puluh tahun, aku memang selalu menjadi anak yang mengalah.

Kalau Larissa menginginkan sesuatu, aku diminta menyerah.

Kalau Larissa melakukan kesalahan, aku diminta memaafkan.

Kalau aku keberatan, Ibu selalu mengatakan kalimat yang sama:

“Kamu kakaknya. Harus lebih dewasa.”

Namun ada satu hal yang tidak pernah mereka pahami.

Orang yang terus-menerus diinjak tidak akan selamanya menjadi keset.

Dan ketika akhirnya dia berdiri, semua orang yang terbiasa menginjaknya akan kehilangan keseimbangan.

Saat itulah tunanganku, Raka, masuk ke ballroom.

Ia berhenti beberapa langkah dari pintu.

Matanya menyapu ruangan kosong.

Tidak ada bunga.

Tidak ada meja utama.

Tidak ada kue pengantin.

Hanya aku yang masih mengenakan gaun pengantin, berdiri di tengah ruangan sambil menggenggam ponsel.

Raka tidak bertanya siapa yang melakukannya.

Ia hanya menatapku dan berkata,

“Kamu butuh apa?”

Aku menarik napas panjang.

“Dua puluh menit.”

Aku menyerahkan buket kecil yang masih tersisa kepadanya.

“Jangan biarkan satu tamu pun masuk sebelum aku bilang boleh.”

Lalu aku berhenti menjadi Nadira, anak perempuan yang sepanjang hidupnya selalu diminta mengalah.

Aku kembali menjadi Nadira Prameswari, CEO sebuah perusahaan event kelas premium.

Aku segera mengetahui bagaimana semuanya terjadi.

Ibuku menelepon beberapa vendor pagi itu dan mengaku berbicara atas namaku.

Ia mengatakan lokasi acara berubah.

Ayah kemudian membantu mengarahkan kru pengangkut ke ballroom tempat pesta pertunangan Larissa berlangsung.

Linen premium.

Dekorasi meja.

Rangkaian bunga impor.

Backdrop.

Peralatan makan.

Bahkan kue pengantin bertingkat yang dibuat khusus untukku dan Raka.

Semuanya sedang berada di jalan menuju Sudirman.

Lalu ponselku bergetar.

Pesan dari kepala vendor logistikku muncul.

“Nadira, kami sekitar 15 menit lagi sampai di lokasi pesta Larissa. Ada orang di sana yang bilang lokasi pernikahanmu dipindahkan. Ini benar?”

Aku membuka media sosial Larissa.

Dan di sanalah aku melihatnya.

Adikku baru saja mengunggah foto sambil tersenyum di depan dekorasi bungaku.

Dekorasi yang kurancang sendiri.

Di belakangnya berdiri backdrop milikku.

Bahkan kue pengantinku terlihat di sudut foto.

Aku menyimpan foto itu.

Lalu mengirimkannya langsung ke grup vendor.

“Pernikahanku tidak pernah dipindahkan.”

Aku mengetik cepat.

“Acara kita dibajak.”

“Perbesar fotonya. Kalian bisa melihat label Arunika di semua rangkaian bunga itu.”

“Aku meminta ini sebagai klien kalian dan sebagai pemilik Arunika Signature Events, bukan sebagai anak dari siapa pun.”

Aku berhenti sejenak.

Kemudian mengirim kalimat terakhir.

“Bawa semua inventarisku kembali ke ballroom pernikahanku. Sekarang.”

Pesan itu dibaca.

Beberapa detik kemudian muncul balasan pertama.

“Dimengerti, Bu Nadira.”

Lalu balasan kedua.

“Truk satu berbalik.”

Balasan ketiga menyusul.

“Truk dua juga.”

Dan akhirnya:

“Truk tiga sudah putar balik. Kami menuju tempat Anda.”

Aku melihat jam.

Tamu pertama akan tiba dalam 26 menit.

Sebelas menit setelah aku mengirim foto itu, tiga truk besar yang hampir mencapai pesta pertunangan Larissa berbalik arah.

Aku bahkan belum sempat meletakkan ponsel ketika layar kembali menyala.

LARISSA CALLING.

Aku menatap namanya beberapa detik.

Kemudian mengangkat telepon.

Jeritannya langsung memenuhi telingaku.

“KAK NADIRA! KAMU NGAPAIN?!”

Aku tersenyum tipis sambil memandang ballroom kosong di depanku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa perlu menjelaskan diriku kepada keluargaku.

Karena mereka belum tahu bagian terburuknya.

Tiga truk itu bukan satu-satunya yang baru saja kubatalkan.

Dan keluarga terpandang yang begitu dibanggakan Ibu sebagai calon mertua Larissa…

ternyata adalah salah satu klien terbesar perusahaanku.

Tiga Truk Itu Berbalik dari Pesta Adikku—Tapi Saat Calon Mertuanya Melihat Label Biru Itu, Semuanya Berubah

“KAK NADIRA! KAMU NGAPAIN?!”

Jeritan Larissa membuatku menjauhkan ponsel dari telinga.

Di belakang suaranya terdengar kekacauan. Orang-orang berbicara bersamaan, seseorang memanggil kru dekorasi, dan Larissa tampaknya sedang berjalan cepat karena napasnya tersengal.

“Aku mengambil kembali barang milikku,” jawabku.

“Barang milikmu?”

Ia tertawa pendek, nyaris histeris.

“Ibu bilang dekorasi itu sudah diberikan kepadaku!”

“Kalau begitu minta Ibu menunjukkan bukti pembeliannya.”

Larissa terdiam.

Aku melanjutkan dengan tenang.

“Bunga, linen, peralatan makan, backdrop, meja dekoratif, dan kue itu dibayar melalui kontrak pernikahanku. Sebagian besar inventarisnya milik Arunika. Tidak ada satu pun yang pernah kuberikan kepadamu.”

“Kamu mau mempermalukanku di depan keluarga Wiratama?”

Nama itu membuat Raka yang berdiri di dekatku menoleh.

Aku menatapnya.

Ia juga mengenal nama itu.

Semua orang di industri bisnis Jakarta mengenalnya.

Keluarga Wiratama bukan sekadar “keluarga terpandang” seperti yang selalu dibanggakan Ibu.

Mereka adalah pemilik Wiratama Hospitality Group, jaringan hotel dan properti premium yang selama tiga tahun terakhir menggunakan Arunika untuk beberapa acara privat mereka.

Dan yang tidak diketahui Larissa adalah bahwa dua bulan sebelumnya, perusahaan mereka baru meminta Arunika mengajukan proposal untuk mengelola gala ulang tahun ke-50 grup tersebut.

Nilainya hampir Rp4 miliar.

Aku menutup mata sebentar.

Sungguh ironis.

Ibuku mencuri dekorasi pernikahanku untuk membuat Larissa terlihat pantas di depan keluarga yang justru mengenal pekerjaanku jauh lebih baik daripada keluargaku sendiri.

“Nadira!”

Larissa masih berteriak.

“Suruh truk-truk itu kembali!”

“Tidak.”

“Kalau kamu melakukan ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu!”

Untuk pertama kalinya kalimat itu tidak menyakitiku.

Aku hanya menjawab,

“Aku sudah terlalu lama hidup demi mendapatkan maaf dari orang-orang yang tidak pernah meminta maaf kepadaku.”

Lalu kututup telepon.


Dua puluh tiga menit kemudian, truk pertama masuk ke area belakang ballroom.

Tim Arunika bergerak seperti sedang menangani keadaan darurat.

Aku mengenakan sneakers di balik gaun pengantinku, menggulung sedikit ujung gaun, lalu ikut membantu.

Tidak ada waktu untuk menjadi pengantin yang panik.

Meja dipasang.

Linen dibentangkan.

Rangkaian bunga dikembalikan.

Kru hotel membantu menyusun kursi.

Kue pengantin datang terakhir dengan satu sisi dekorasinya sedikit rusak karena perjalanan bolak-balik.

Ketika kepala pastry meminta maaf, aku justru tertawa.

“Biarkan.”

Ia menatapku bingung.

“Serius, Bu?”

“Serius. Hari ini memang tidak sempurna.”

Aku memandang Raka.

“Dan aku mulai berpikir itu bukan masalah.”

Raka tersenyum.

“Itu baru calon istriku.”

Tamu pertama tiba ketika beberapa staf masih menyalakan lilin dekoratif.

Aku bersiap meminta maaf.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Sahabatku, Sinta, melihat kru berlarian lalu langsung meletakkan tasnya.

“Aku harus bantu apa?”

Sepuluh menit kemudian, beberapa sepupuku dari pihak Ayah ikut mengatur kartu tempat duduk.

Teman-teman Raka mengangkat kursi.

Bahkan seorang paman berusia hampir tujuh puluh tahun berdiri di dekat pintu sambil mengarahkan tamu ke area minuman agar kru mendapat tambahan waktu.

Tak ada yang mengeluh.

Tak ada yang bertanya kenapa dekorasinya belum sempurna.

Mereka membantu.

Dan saat aku berdiri di sudut ruangan melihat semuanya, sesuatu di dalam diriku terasa pecah.

Bukan karena sedih.

Karena baru saat itulah aku menyadari perbedaan antara keluarga yang menuntut pengorbanan dan orang-orang yang benar-benar menyayangimu.

Yang satu mengambil kursimu.

Yang lain datang lebih awal dan membantu memasangnya kembali.

Aku hampir menangis.

Namun ponselku kembali bergetar.

Ibu.

Aku membiarkannya.

Lalu Ayah.

Kubiarkan juga.

Kemudian muncul nomor yang kukenal.

Bapak Surya Wiratama.

Aku langsung mengangkatnya.

“Selamat sore, Pak.”

“Nadira.”

Suaranya tenang, tetapi dingin.

“Saya sedang berada di pesta pertunangan anak saya.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Saya mengerti.”

“Dan saya baru saja melihat tiga truk meninggalkan tempat ini.”

Aku tidak menjawab.

Ia melanjutkan.

“Saya juga melihat label biru Arunika pada beberapa rangkaian bunga yang tertinggal.”

Aku menelan ludah.

“Pak Surya, saya bisa menjelaskan.”

“Saya harap begitu.”

Aku menceritakan semuanya.

Tidak kulebihkan.

Tidak kukurangi.

Tentang telepon Ibuku kepada vendor.

Tentang Ayah yang mengalihkan pengiriman.

Tentang foto Larissa.

Tentang pernikahanku yang hampir kosong.

Setelah aku selesai, sambungan telepon hening cukup lama.

Lalu Pak Surya bertanya,

“Apakah Larissa tahu?”

“Entahlah.”

“Apakah anak saya tahu?”

Aku terdiam.

“Aku juga tidak tahu, Pak.”

Ia menghela napas.

“Baik. Selamat menikah, Nadira.”

Kemudian sambungan terputus.

Aku berdiri menatap layar.

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku tidak nyaman.

Namun aku tidak punya waktu memikirkannya.

Musik mulai dimainkan.

Upacara akan dimulai.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku mematikan ponsel.


Aku menikahi Raka sore itu.

Bukan di ruangan sempurna yang kurancang berbulan-bulan.

Beberapa bunga sedikit miring.

Satu bagian kue retak.

Ada dua meja dengan linen yang warnanya tidak persis sama karena kru mengambil cadangan hotel.

Namun ketika Raka mengucapkan janji pernikahannya, semua kekurangan itu menghilang.

“Aku tidak berjanji hidup kita akan selalu rapi,” katanya sambil menggenggam tanganku. “Tapi kalau suatu hari seseorang mengambil semua kursi kita lagi, aku akan duduk di lantai bersamamu.”

Para tamu tertawa.

Aku menangis.

“Dan setelah itu,” lanjutnya, “kita ambil kursinya kembali.”

Aku tertawa di tengah air mata.

Itulah momen favoritku dari seluruh pernikahan.

Bukan bunga impor.

Bukan kue.

Bukan ballroom.

Satu kalimat sederhana dari lelaki yang ketika melihat hidupku berantakan tidak bertanya siapa yang harus disalahkan.

Ia bertanya apa yang kubutuhkan.


Aku baru menyalakan ponsel lagi setelah acara makan malam dimulai.

Ada 48 panggilan tak terjawab.

Sebagian besar dari Ibu dan Larissa.

Lalu sebuah pesan dari Ayah.

“Kamu sudah keterlaluan. Pertunangan adikmu hancur.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Bukan:

“Maaf kami mengambil barangmu.”

Bukan:

“Apakah pernikahanmu baik-baik saja?”

Yang dipikirkan Ayah tetap Larissa.

Aku mengetik jawaban.

Lalu menghapusnya.

Tidak ada gunanya.

Tetapi pesan berikutnya membuatku berhenti.

Dari nomor tidak dikenal.

“Bu Nadira, saya Adrian Wiratama. Bisa bicara sebentar?”

Adrian.

Tunangan Larissa.

Aku menunjukkan pesan itu kepada Raka.

“Jawab,” katanya.

Aku menelepon.

Adrian mengangkat pada dering pertama.

“Selamat atas pernikahanmu,” katanya.

“Terima kasih.”

Lalu ia terdiam.

“Aku ingin minta maaf.”

Aku mengerutkan kening.

“Kamu tidak mengambil barangku.”

“Tidak. Tapi aku tahu Larissa berencana memakai dekorasi pernikahanmu.”

Tanganku langsung dingin.

“Apa?”

“Aku tidak tahu itu dicuri.”

Ia berbicara pelan.

“Tiga hari lalu Larissa bilang kakaknya punya perusahaan dekorasi kecil dan memberikan semua dekorasi sebagai hadiah pertunangan. Katanya pesta kalian ditunda.”

Aku menutup mata.

Jadi Larissa tahu.

Mungkin ia tidak mengetahui seluruh detail pemalsuan telepon yang dilakukan Ibu, tetapi ia tahu barang-barang itu milikku.

Dan ia menerimanya.

“Aku percaya padanya,” lanjut Adrian. “Sampai Ayah mengenali label Arunika.”

Aku menatap Raka.

“Apa yang terjadi?”

Adrian menarik napas panjang.

“Ayah bertanya kepada Larissa sejak kapan keluarganya punya hubungan dengan Arunika Signature Events.”

“Lalu?”

“Larissa bilang perusahaan itu milik teman keluarga.”

Aku hampir tertawa karena begitu absurd.

“Dan kemudian?”

“Ayah meneleponmu.”

Aku mulai memahami.

“Setelah telepon itu, Ayah bertanya lagi kepada Larissa apakah dekorasi tersebut benar-benar diberikan olehmu.”

Adrian berhenti.

“Kali ini Larissa bilang iya.”

Dadaku terasa sesak.

Ia masih berbohong.

Bahkan setelah ketahuan.

“Aku bertanya langsung,” kata Adrian. “Dan ibumu ikut membela Larissa. Katanya sebagai kakak, kamu memang seharusnya memberikan sesuatu untuk adikmu.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Kemudian Adrian mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak kuduga.

“Aku membatalkan pertunangan.”

Aku berdiri dari kursi.

“Apa?”

“Bukan karena dekorasi.”

Suaranya terdengar lelah.

“Karena kebohongan.”

Ia menjelaskan bahwa keluarganya tidak mencari menantu dari keluarga kaya.

Mereka tidak peduli apakah Larissa memiliki bisnis besar atau tidak.

Yang mereka pedulikan adalah karakter.

Dan dalam waktu kurang dari satu jam, Larissa berbohong tiga kali di depan mereka.

Tentang siapa pemilik dekorasi.

Tentang apakah aku memberikannya.

Dan tentang apakah ia tahu pernikahanku berlangsung hari itu.

“Aku mencintainya,” kata Adrian.

Untuk pertama kalinya suaranya pecah.

“Itulah yang membuat ini sakit.”

Aku tidak merasakan kemenangan.

Aneh sekali.

Setelah dua puluh tahun menjadi nomor dua setelah Larissa, seharusnya aku puas melihat dunianya runtuh.

Tapi aku tidak.

Aku hanya merasa lelah.

“Adrian,” kataku pelan, “jangan batalkan pernikahan karena aku.”

“Aku tidak melakukannya karena kamu.”

Ia berhenti.

“Aku melakukannya karena untuk pertama kalinya aku melihat siapa dia ketika mendapatkan sesuatu yang bukan miliknya.”


Larissa datang ke pernikahanku pukul sembilan malam.

Masih mengenakan gaun pertunangannya.

Maskaranya luntur.

Ibu dan Ayah berada di belakangnya.

Raka langsung berdiri.

Aku menyentuh lengannya.

“Biar aku.”

Larissa berjalan mendekat.

Semua percakapan di sekitar kami perlahan berhenti.

“Kamu puas sekarang?”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

“Kamu menghancurkan hidupku!”

“Aku mengambil kembali barangku.”

“Karena dekorasi bodoh itu Adrian meninggalkanku!”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Adrian meninggalkanmu karena kamu berbohong.”

Ibu maju.

“Sudah cukup, Nadira! Lihat adikmu!”

Aku menoleh kepada Ibu.

“Aku sudah melihatnya sepanjang hidupku.”

Ibu terdiam.

“Sekarang sekali saja, Bu, lihat aku.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku tidak berteriak.

Justru suaraku semakin pelan.

“Waktu ulang tahunku yang ke-16, uang tabunganku dipakai untuk pesta Larissa karena katanya dia sedang sedih.”

Wajah Ibu berubah.

“Waktu aku diterima kuliah di Bandung, Ayah bilang tidak ada biaya kos karena Larissa butuh les privat.”

Ayah menunduk.

“Waktu bisnis pertamaku hampir bangkrut, kalian bilang itu akibat aku terlalu ambisius.”

Aku menunjuk ballroom.

“Dan hari ini kalian mengambil pernikahanku karena sekali lagi acara Larissa dianggap lebih penting.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Aku tidak marah karena bunga.”

Aku mengusap pipi.

“Aku marah karena setelah tiga puluh dua tahun, aku akhirnya sadar bahwa kalian tidak pernah berharap Larissa belajar menghormatiku. Kalian hanya berharap aku terus belajar menahan sakit.”

Tidak seorang pun menjawab.

Lalu sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Larissa duduk.

Begitu saja.

Di salah satu kursi.

Ia menutupi wajahnya.

Dan menangis.

Bukan tangisan marah.

Tangisan seorang anak kecil.

“Aku tidak tahu caranya jadi seperti Kakak.”

Aku membeku.

Larissa mengangkat wajah.

“Aku tahu Ibu selalu memilihku.”

Ibu langsung berkata, “Larissa—”

“Jangan, Bu.”

Untuk pertama kalinya aku mendengar Larissa memotong perkataan Ibu.

“Jangan bela aku lagi.”

Ia menatapku.

“Aku tahu.”

Suaranya gemetar.

“Setiap kali aku salah, Ibu bilang Kak Nadira akan mengerti. Setiap kali aku menginginkan sesuatu, Ayah bilang Kak Nadira bisa mengalah.”

Ia menangis semakin keras.

“Aku tumbuh dengan berpikir cinta berarti seseorang harus kehilangan sesuatu supaya aku mendapatkannya.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada semua teriakannya.

Karena untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang selama ini tak pernah kupikirkan.

Aku bukan satu-satunya anak yang dirusak oleh pola keluarga kami.

Aku diajari bahwa cinta berarti mengalah.

Larissa diajari bahwa cinta berarti berhak mengambil.

Kami berdua dibesarkan dalam kebohongan yang berbeda.


Tiga bulan berlalu.

Aku tidak langsung memaafkan Larissa.

Maaf bukan tombol.

Ia tidak menghapus dua puluh tahun dalam satu percakapan.

Larissa pindah dari rumah orang tua kami.

Ia mulai bekerja di perusahaan lain tanpa bantuan koneksi Ayah.

Pertunangannya dengan Adrian tetap batal.

Namun enam minggu kemudian, ia mengembalikan sesuatu kepadaku.

Sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada label biru Arunika yang ia ambil dari salah satu rangkaian bunga hari itu.

Di belakang label itu ia menulis:

“Aku tidak akan mengambil sesuatu yang bukan milikku lagi, termasuk hak Kakak untuk dihargai.”

Aku menyimpannya.

Bukan sebagai tanda bahwa semuanya sudah selesai.

Sebagai pengingat bahwa orang bisa berubah hanya setelah mereka berhenti dibebaskan dari konsekuensi.

Hubunganku dengan Ibu dan Ayah jauh lebih sulit.

Mereka tidak suka batasan baruku.

Aku berhenti membayar beberapa kebutuhan keluarga yang selama ini otomatis dibebankan kepadaku.

Aku tidak lagi membatalkan pekerjaan demi masalah kecil mereka.

Dan setiap kali Ibu berkata,

“Kamu kan kakaknya…”

Aku menjawab,

“Benar. Aku kakaknya. Bukan penggantinya, bukan dompetnya, dan bukan orang yang harus kehilangan sesuatu supaya dia bahagia.”


Enam bulan setelah pernikahan, aku menerima undangan rapat dari Wiratama Hospitality Group.

Aku mengira proposal gala Rp4 miliar itu sudah mati setelah kekacauan pertunangan.

Ternyata aku salah.

Pak Surya duduk di ujung meja rapat ketika aku datang.

“Nadira,” katanya, “kami sudah mengambil keputusan mengenai kontrak gala.”

Aku bersiap mendengar penolakan.

Ia mendorong sebuah map ke arahku.

Nilainya bukan Rp4 miliar.

Rp11,8 miliar.

Aku menatapnya.

“Ada kesalahan?”

Pak Surya tersenyum.

“Tidak.”

Mereka bukan hanya memilih Arunika untuk gala.

Mereka ingin menjadikan perusahaanku mitra event eksklusif untuk beberapa properti mereka selama dua tahun.

Aku hampir tidak bisa bicara.

“Kenapa?”

Pak Surya bersandar.

“Karena pada hari pernikahanmu sendiri, ketika orang lain mencuri inventarismu, kamu tidak menghancurkan acara siapa pun. Kamu hanya mengambil kembali apa yang secara hukum dan profesional memang milikmu.”

Ia menunjuk kontrak.

“Saya tidak sedang membeli bunga, Nadira.”

“Saya sedang membeli integritas.”

Aku pulang hari itu sambil membawa kontrak terbesar sepanjang sejarah Arunika.

Namun kejutan terakhir datang malamnya.

Raka sudah menungguku di rumah.

Di meja makan ada satu vas kecil berisi bunga larkspur biru.

Di sebelahnya tergeletak amplop.

Aku membukanya.

Bukan surat dari klien.

Bukan dokumen bisnis.

Itu foto pernikahan kami.

Foto saat aku dan Raka tertawa di depan kue yang retak.

Di belakangnya, ia menulis satu kalimat:

“Hari terbaik dalam hidupku dimulai di ruangan yang hampir kosong.”

Aku menangis.

Saat itulah aku akhirnya mengerti.

Selama bertahun-tahun aku mengira kemenangan terbesar adalah membuat keluargaku menyesal.

Ternyata bukan.

Kemenangan terbesar adalah ketika hidupku tidak lagi ditentukan oleh apakah mereka menyesal atau tidak.

Larissa tidak kehilangan Adrian karena aku.

Ibu tidak kehilangan kendali karena aku menjadi kejam.

Ayah tidak kehilangan putrinya karena aku membalas dendam.

Mereka hanya kehilangan versi diriku yang selalu berkata iya.

Dan aku?

Aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada pesta pernikahan sempurna.

Aku mendapatkan suami yang memilih berdiri di sampingku ketika ruangan kosong.

Aku mendapatkan adik yang akhirnya belajar bahwa cinta tidak memberinya hak atas hidup orang lain.

Aku mendapatkan perusahaan yang selama ini dianggap keluargaku sebagai “hobi kecil”, lalu melihatnya menandatangani kontrak terbesar dalam sejarahnya.

Tetapi yang paling penting…

aku mendapatkan diriku sendiri kembali.

Kadang-kadang aku masih memandangi foto pernikahan itu.

Bunga di belakang kami tidak simetris.

Salah satu linen salah warna.

Kue kami retak di satu sisi.

Dan aku terlihat seperti pengantin yang baru saja berlari maraton.

Tetapi aku tidak akan mengubah satu pun dari semuanya.

Karena jika hari itu berjalan sempurna, mungkin aku masih akan menjadi Nadira yang sama.

Perempuan yang meminta izin untuk mempertahankan sesuatu yang sebenarnya miliknya.

Sekarang aku tahu lebih baik.

Keluarga boleh meminta bantuan.

Mereka boleh meminta pengertian.

Mereka bahkan boleh meminta pengorbanan.

Tetapi mereka tidak boleh mengambil sesuatu darimu lalu menyebutnya cinta.

Dan jika suatu hari seseorang kembali mencoba mengambil kursiku untuk diberikan kepada orang lain…

aku tidak akan duduk di lantai sambil tersenyum lagi.

Aku akan berdiri.

Aku akan mengambil kembali kursiku.

Lalu aku akan menyisakan tempat di sebelahku hanya untuk orang-orang yang tidak pernah memintaku menjadi lebih kecil agar mereka bisa merasa lebih besar.