Di Hari Ibu, Mama menatap lurus ke mataku dan berkata, “Seandainya bisa mengulang hidup, Mama berharap tidak pernah punya anak perempuan.” Aku berdiri, menatapnya tenang, lalu menjawab, “Kalau begitu, mulai hari ini anggap saja Mama memang tidak pernah punya anak perempuan.” Aku pergi dengan mobilku. Keesokan paginya, ponselku tidak berhenti berdering—dan tiba-tiba semua orang memohon agar aku mengangkat telepon.

Avatar penulis
Cerita 04
17 menit baca 411 tayangan
Di Hari Ibu, Mama menatap lurus ke mataku dan berkata, “Seandainya bisa mengulang hidup, Mama berharap tidak pernah punya anak perempuan.” Aku berdiri, menatapnya tenang, lalu menjawab, “Kalau begitu, mulai hari ini anggap saja Mama memang tidak pernah punya anak perempuan.” Aku pergi dengan mobilku. Keesokan paginya, ponselku tidak berhenti berdering—dan tiba-tiba semua orang memohon agar aku mengangkat telepon.
Indeks

Di Hari Ibu, Mama menatap lurus ke mataku dan berkata, “Seandainya bisa mengulang hidup, Mama berharap tidak pernah punya anak perempuan.” Aku berdiri, menatapnya tenang, lalu menjawab, “Kalau begitu, mulai hari ini anggap saja Mama memang tidak pernah punya anak perempuan.” Aku pergi dengan mobilku. Keesokan paginya, ponselku tidak berhenti berdering—dan tiba-tiba semua orang memohon agar aku mengangkat telepon.

“Aku berharap tidak pernah punya anak perempuan.”

Mama, Ratna Prameswari, mengucapkan kalimat itu tepat di depan wajahku.

Kami sedang duduk di sebuah restoran keluarga yang cukup mewah di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, merayakan Hari Ibu.

Di Hari Ibu, Mama menatap lurus ke mataku dan berkata, “Seandainya bisa mengulang hidup, Mama berharap tidak pernah punya anak perempuan.” Aku berdiri, menatapnya tenang, lalu menjawab, “Kalau begitu, mulai hari ini anggap saja Mama memang tidak pernah punya anak perempuan.” Aku pergi dengan mobilku. Keesokan paginya, ponselku tidak berhenti berdering—dan tiba-tiba semua orang memohon agar aku mengangkat telepon.

Di atas meja ada buket bunga yang kubelikan untuknya, kue yang bahkan belum disentuh, beberapa kotak hadiah, dan tagihan makan siang yang sejak awal memang sudah berniat kubayar sendiri.

Mama menatap lurus ke mataku ketika mengatakannya.

Selama beberapa detik, aku tidak bisa bergerak.

Kakak laki-lakiku, Rendra, hanya menunduk menatap piringnya.

Istrinya, Maya, tiba-tiba terlihat sangat sibuk merapikan tisu di pangkuannya.

Tak seorang pun membelaku.

Mama menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Kamu dengar, kan, Nadia? Sejak menikah dengan Arif, hidupmu cuma soal pekerjaan, rumahmu, suamimu, dan urusanmu sendiri. Kamu hampir lupa kalau masih punya keluarga.”

Aku berusia tiga puluh empat tahun.

Aku bekerja sebagai manajer operasional regional untuk sebuah perusahaan logistik besar di Jakarta.

Jam kerjaku sering melewati sepuluh jam sehari.

Setelah Papa meninggal tiga tahun lalu, akulah yang diam-diam membantu Mama membayar cicilan rumahnya setiap bulan.

Ketika usaha Rendra hampir bangkrut dan dia terjerat masalah hukum dengan mantan rekan bisnisnya, akulah yang membayar biaya pengacaranya.

Saat Lebaran tahun lalu, ketika pekerjaan sedang kacau dan Arif sudah merencanakan liburan singkat untuk kami, aku membatalkannya karena Mama berkata dia tidak sanggup merayakan hari raya di rumah sendirian.

Aku bahkan menyetir berjam-jam menembus kemacetan hanya agar bisa duduk makan ketupat bersamanya.

Tetapi rupanya semua itu masih belum cukup.

Aku menarik napas perlahan.

“Menurut Mama, apa yang harus kulakukan supaya dianggap sebagai anak yang baik?”

Mama langsung menjawab.

“Anak yang baik selalu mendahulukan keluarga.”

Rendra akhirnya mengangkat kepala.

“Nad, mungkin sekarang bukan waktunya membicarakan hal begini.”

Aku tertawa kecil.

Tentu saja.

Aneh sekali.

Setiap kali aku terluka, selalu saja “bukan waktunya”.

Tetapi ketika mereka membutuhkan uang, bantuan, waktu, atau seseorang untuk menyelesaikan masalah mereka, aku selalu dituntut tersedia saat itu juga.

Mama mendorong kursinya sedikit ke belakang.

“Mama sudah mengorbankan seluruh hidup Mama untuk kalian.”

Aku menatapnya lama.

“Dan aku sudah menghabiskan hampir seluruh kehidupan dewasaku membayar kembali pengorbanan yang terus Mama jadikan utang kepadaku.”

Wajah Mama langsung berubah.

Tatapannya mengeras.

Kemudian dia mengatakan kalimat yang akhirnya memutus sesuatu di dalam diriku.

“Kalau Mama bisa mengulang semuanya, Mama lebih baik tidak pernah punya anak perempuan.”

Suasana meja benar-benar sunyi.

Aku meraih tasku.

Arif, yang sejak tadi duduk di sampingku, menyentuh pergelangan tanganku dengan lembut.

“Nad…”

Aku menggeleng.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada adegan dramatis.

Aku hanya berdiri.

“Kalau begitu, mulai hari ini anggap saja Mama memang tidak pernah punya anak perempuan.”

Mama berkedip.

“Apa?”

Aku menatapnya dengan tenang.

“Mama bilang berharap tidak pernah punya anak perempuan. Baiklah. Mulai hari ini, keinginan Mama terkabul.”

Rendra langsung mencibir.

“Jangan lebay, Nadia.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kak Rendra mungkin baru akan mengerti besok.”

Wajahnya berubah sedikit.

Tapi aku tidak menjelaskan apa pun.

Arif berdiri dan mengikuti langkahku keluar dari restoran tanpa sepatah kata pun.

Kami berjalan menuju area parkir.

Aku membuka pintu SUV hitamku, masuk ke balik kemudi, lalu menyalakan mesin.

Sebelum pergi, aku sempat melihat melalui kaca restoran.

Mama berdiri di dekat jendela.

Dia menatap mobilku meninggalkan tempat itu.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku melakukan sesuatu yang selama bertahun-tahun selalu terlalu takut kulakukan.

Aku memblokir nomor Mama.

Kemudian nomor Rendra.

Lalu Maya.

Setelah itu, aku membuka laptop.

Ada beberapa transfer otomatis yang selama bertahun-tahun kubiarkan berjalan setiap bulan.

Cicilan rumah Mama.

Asuransi rumah.

Tagihan listrik dan internet.

Biaya perawatan kendaraan.

Iuran lingkungan.

Semuanya dibayar dari rekeningku.

Aku menatap daftar itu cukup lama.

Arif berdiri di belakangku.

“Kamu yakin?”

Aku menoleh kepadanya.

“Aku cuma memenuhi permintaan Mama.”

Dia tidak bertanya lagi.

Aku menghentikan semua pembayaran otomatis yang menjadi tanggung jawabku.

Bukan mengambil uang mereka.

Bukan merusak rekening mereka.

Bukan melakukan sesuatu yang ilegal.

Aku hanya berhenti membayar tagihan orang yang baru saja mengatakan dia berharap aku tidak pernah menjadi anaknya.

Malam itu aku tidur lebih nyenyak daripada beberapa bulan terakhir.

Lalu pukul 06.17 pagi, ponsel Arif mulai bergetar di meja samping tempat tidur.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian berkali-kali.

Arif meraih ponselnya.

Ekspresinya berubah.

“Nadia.”

Aku membuka mata.

“Apa?”

Dia menunjukkan layar ponselnya kepadaku.

23 panggilan tak terjawab.

Tiga pesan suara.

Beberapa pesan dari Rendra.

Pesan terbaru berbunyi:

NADIA, TELEPON AKU SEKARANG. CICILAN RUMAH MAMA GAGAL TERBAYAR. ASURANSINYA JUGA GAGAL. KAMU NGAPAIN?!

Belum sempat aku menjawab, pesan berikutnya masuk.

Ini nggak lucu. Kalau begini terus, Mama bisa kehilangan rumahnya.

Aku duduk perlahan di tempat tidur.

Kemudian pesan ketiga muncul.

Tolong jangan kekanak-kanakan. Mama cuma sedang emosi kemarin. Aktifkan lagi semuanya.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Mama cuma sedang emosi.

Menarik.

Ketika dia menghancurkan hatiku, itu hanya emosi.

Tetapi ketika pembayaran bulanannya berhenti…

tiba-tiba menjadi keadaan darurat keluarga.

Arif duduk di sampingku.

“Kamu mau jawab?”

Aku memandang layar beberapa detik.

Lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tersenyum tanpa sedikit pun merasa bersalah.

Karena ada sesuatu yang belum diketahui Rendra.

Sesuatu yang tidak diketahui Mama.

Rumah yang selama ini mereka kira hampir lunas karena “Mama pandai mengatur keuangan” sebenarnya bisa bertahan hanya karena selama bertahun-tahun akulah yang membayar sebagian besar kewajibannya.

Dan cicilan rumah itu…

hanyalah permulaan.

Menjelang pukul tujuh pagi, telepon Arif kembali berdering.

Kali ini bukan Rendra.

Nama yang muncul membuatku langsung terdiam.

Pak Hendra – Bank.

Aku mengenalnya.

Dia adalah manajer hubungan nasabah yang beberapa tahun sebelumnya membantu mengurus restrukturisasi pinjaman rumah Mama setelah Papa meninggal.

Arif menatapku.

“Apa kita angkat?”

Aku belum sempat menjawab ketika sebuah pesan masuk dari nomor lain yang tidak kusimpan.

Pesannya hanya satu kalimat:

Bu Nadia, mohon segera hubungi kami. Ada masalah kepemilikan rumah Ibu Ratna yang selama ini tampaknya tidak pernah dijelaskan kepada keluarga Anda.

Senyum di wajahku perlahan menghilang.

Aku menatap layar.

Masalah kepemilikan?

Aku pikir aku tahu semua tentang rumah Mama.

Ternyata aku salah.

Dan beberapa menit kemudian, ketika aku akhirnya menerima telepon dari bank, satu kalimat dari Pak Hendra membuatku menyadari bahwa pertengkaran Hari Ibu kemarin bukanlah awal dari masalah keluarga kami.

Itu hanya pintu yang secara tidak sengaja membuka sebuah rahasia yang telah disembunyikan sejak Papa masih hidup.

Aku menatap nama Pak Hendra di layar ponsel Arif selama beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol hijau.

“Halo, Pak.”

Suara di ujung sana terdengar hati-hati.

“Bu Nadia, maaf menghubungi sepagi ini. Saya sebenarnya sudah mencoba menghubungi Ibu Ratna sejak kemarin sore, tapi tidak ada jawaban.”

Aku langsung duduk lebih tegak.

“Masalahnya apa, Pak?”

Ada jeda.

“Masalahnya bukan hanya cicilan yang gagal.”

Dadaku mulai terasa tidak nyaman.

Pak Hendra menarik napas.

“Bu Nadia, apakah Ibu tahu bahwa rumah yang ditempati Ibu Ratna di Antapani itu… bukan sepenuhnya milik beliau?”

Aku membeku.

“Maaf?”

Arif menoleh kepadaku.

Aku mengaktifkan speaker.

Pak Hendra melanjutkan.

“Setelah almarhum Pak Surya meninggal, pernah dilakukan restrukturisasi kredit. Waktu itu ada tunggakan cukup besar dan risiko rumah disita. Karena Ibu Ratna tidak memenuhi syarat restrukturisasi sendiri, ada pihak kedua yang masuk sebagai penanggung sekaligus pemegang porsi kepemilikan.”

Aku sudah bisa menebak jawabannya.

Namun ketika kalimat itu benar-benar keluar, rasanya tetap seperti ditampar.

“Nama pihak kedua itu adalah Ibu Nadia.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku menatap Arif.

“Apa maksud Bapak?”

“Secara administratif, empat puluh persen hak ekonomis rumah itu berada atas nama Ibu. Bukan sertifikat penuh, tetapi ada akta pengikatan, surat pengakuan utang keluarga, dan perjanjian penyertaan dana.”

Aku menelan ludah.

“Aku tidak pernah menandatangani akta kepemilikan rumah Mama.”

“Benar. Karena yang ditandatangani Ibu dulu adalah dokumen restrukturisasi dan penjaminan. Tapi di dalam lampirannya, ada klausul bahwa seluruh dana tambahan yang Ibu setor selama masa penyelamatan kredit dicatat sebagai penyertaan.”

Kepalaku langsung dipenuhi ingatan.

Tiga tahun lalu.

Papa baru meninggal.

Mama menangis hampir setiap malam.

Aku datang ke bank bersama Rendra.

Banyak dokumen disodorkan.

Aku membaca bagian pokoknya, tetapi saat itu pikiranku kacau.

Yang kuingat hanya satu hal.

Aku ingin menyelamatkan rumah yang dibangun Papa.

Rumah tempat kami tumbuh.

Rumah yang katanya ingin Mama pertahankan sampai akhir hidupnya.

“Kenapa saya baru tahu sekarang?”

Pak Hendra terdiam sejenak.

“Karena Pak Surya meninggalkan instruksi tertulis agar detail itu diberikan kepada Ibu hanya jika terjadi gagal bayar, sengketa keluarga, atau upaya pengalihan aset.”

Aku merasa tenggorokanku mengering.

“Papa?”

“Iya.”

Lalu Pak Hendra mengatakan sesuatu yang membuatku benar-benar tak bisa bernapas selama beberapa detik.

“Dan satu lagi, Bu Nadia. Tiga minggu lalu, Ibu Ratna mengajukan permohonan untuk menjaminkan rumah itu kembali.”

“Apa?”

“Untuk pinjaman baru.”

“Pinjaman untuk apa?”

Pak Hendra tidak langsung menjawab.

“Nilainya cukup besar.”

“Berapa?”

“Dua koma empat miliar rupiah.”

Arif menatapku tajam.

Aku merasa darahku turun ke kaki.

“Untuk apa Mama meminjam sebanyak itu?”

“Dalam formulir disebutkan untuk modal usaha keluarga.”

Aku sudah tahu siapa keluarga yang dimaksud.

Rendra.

Aku memejamkan mata.

Tentu saja.

Aku mematikan speaker dan menempelkan ponsel ke telinga.

“Pak Hendra, apakah pengajuan itu sudah disetujui?”

“Belum. Karena membutuhkan persetujuan Ibu.”

Aku membuka mata.

“Aku tidak pernah menyetujui apa pun.”

“Itulah sebabnya prosesnya tertahan.”

“Apakah Mama tahu saya harus menyetujui?”

“Iya.”

Aku diam.

Lalu sesuatu di dalam kepalaku menyambung.

Ucapan Mama kemarin.

Kamu hampir lupa kalau masih punya keluarga.

Anak yang baik selalu mendahulukan keluarga.

Aku pikir itu hanya sindiran lama.

Sekarang aku mulai curiga ada alasan lain.

“Pak… apakah ada dokumen yang bisa saya lihat?”

“Saya sarankan Ibu datang hari ini.”

“Aku akan datang.”

Setelah telepon berakhir, aku masih memegang ponsel cukup lama.

Arif duduk di sebelahku.

“Jadi ini bukan soal Mother’s Day.”

Aku menatap lurus ke depan.

“Tidak.”

“Dia marah karena kamu belum menandatangani sesuatu yang bahkan belum kamu tahu?”

“Mungkin.”

Arif menghela napas panjang.

“Dan Rendra?”

Aku menatap pesan-pesannya.

Lalu tiba-tiba aku teringat satu kalimat dari beberapa minggu sebelumnya.

Rendra pernah meneleponku tengah malam.

Dia bilang sedang “mengembangkan bisnis distribusi bahan bangunan.”

Dia meminta aku mempertimbangkan investasi.

Aku menolak.

Katanya tidak apa-apa.

Katanya dia sudah punya rencana lain.

Sekarang aku tahu rencana itu.

Rumah Mama.

Atau lebih tepatnya…

rumah yang selama bertahun-tahun kubayar juga.

Pukul sembilan pagi, aku dan Arif tiba di bank.

Pak Hendra sudah menunggu bersama seorang perempuan bernama Bu Siska, bagian legal.

Di atas meja ruang rapat kecil ada sebuah map cokelat tua.

Pak Hendra mendorongnya ke arahku.

“Ini dokumen yang ditinggalkan almarhum Pak Surya.”

Tanganku langsung gemetar ketika melihat tulisan tangan Papa di bagian depan.

Untuk Nadia. Dibuka hanya jika rumah ini kembali menjadi sumber masalah.

Aku tidak bergerak.

Arif menyentuh punggung tanganku.

Aku membuka map itu perlahan.

Di dalamnya ada salinan akta.

Catatan pembayaran.

Surat notaris.

Dan sebuah amplop putih.

Namaku tertulis di sana.

Tulisan Papa.

Aku bahkan hampir lupa seperti apa bentuk hurufnya.

Tiba-tiba aku kembali menjadi anak dua puluh tahun yang menunggu Papa pulang membawa martabak.

Aku membuka amplop itu.

Suratnya tidak panjang.

Namun kalimat pertamanya membuat mataku langsung panas.

Nadia, kalau kamu membaca ini, berarti Papa gagal menjaga satu hal yang paling Papa takutkan: rumah ini menjadi alasan kalian saling menyakiti.

Aku menahan napas.

Aku membaca pelan.

Papa menulis bahwa selama bertahun-tahun, kondisi keuangan keluarga sebenarnya jauh lebih buruk daripada yang Mama pernah ceritakan.

Usaha Papa jatuh.

Ada utang.

Ada keputusan buruk.

Namun menjelang akhir hidupnya, Papa menemukan sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan.

Rendra diam-diam pernah memakai tanda tangan Papa untuk menjamin pinjaman usaha.

Papa menutup masalah itu agar Rendra tidak masuk proses pidana.

Sebagai gantinya, Papa membuat pengaturan hukum agar rumah keluarga tidak bisa dijadikan jaminan lagi tanpa persetujuanku.

Tanganku mulai dingin.

Aku terus membaca.

Papa memilih namamu bukan karena Papa ingin membebani kamu. Papa memilihmu karena kamu satu-satunya yang pada saat itu selalu bertanya, “Apakah ini benar?” sebelum bertanya, “Apa untungnya buat saya?”

Air mataku jatuh.

Arif diam.

Aku membaca bagian terakhir.

Kalau suatu hari Mama atau Rendra membuatmu merasa bersalah karena tidak mau menyelamatkan mereka, ingat satu hal: menolong keluarga tidak sama dengan membiarkan mereka menghancurkan hidupmu.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Tiga tahun.

Tiga tahun aku merasa bersalah setiap kali telat datang.

Setiap kali tidak mengangkat telepon.

Setiap kali memilih makan malam dengan Arif daripada menemani Mama.

Tiga tahun aku percaya bahwa menjadi anak baik berarti selalu tersedia.

Dan ternyata Papa…

sudah melihat semua ini sebelum meninggal.

Bu Siska lalu menggeser satu dokumen lain.

“Bu Nadia, ada hal yang perlu Ibu ketahui.”

Aku mengusap air mata.

“Apa lagi?”

“Permohonan pinjaman dua koma empat miliar itu tidak hanya menggunakan rumah sebagai jaminan.”

Dia menunjuk satu lembar.

“Di sini ada surat persetujuan pemegang kepentingan.”

Aku melihatnya.

Nama: Nadia Prameswari.

Tanda tangan: milikku.

Atau setidaknya dibuat menyerupai milikku.

Aku menatap dokumen itu lama.

“Ini bukan tanda tangan saya.”

Bu Siska mengangguk.

“Kami juga menduga begitu. Karena sampel tanda tangan berbeda.”

Arif langsung berdiri sedikit dari kursinya.

“Siapa yang menyerahkan?”

Pak Hendra menjawab.

“Ibu Ratna datang bersama Pak Rendra.”

Aku merasa sesuatu di dalam diriku patah.

Bukan marah.

Lebih buruk.

Kosong.

“Mama tahu?”

Pak Hendra tidak menjawab langsung.

Namun wajahnya sudah cukup.

Aku bangkit.

“Aku harus pulang.”

Arif ikut berdiri.

“Ke rumah Mama?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu?”

Aku menatap surat Papa.

“Ke notaris.”

Siang itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhenti bereaksi sebagai anak yang takut dianggap durhaka.

Aku bertindak sebagai orang dewasa yang harus melindungi dirinya sendiri.

Aku mencabut seluruh kuasa tidak tertulis yang selama ini kuberikan kepada keluarga.

Aku meminta bank membekukan proses pinjaman.

Aku membuat surat keberatan atas penggunaan tanda tanganku.

Dan yang paling penting…

aku meminta salinan resmi seluruh transaksi yang berhubungan dengan rumah sejak Papa meninggal.

Dua hari kemudian, semuanya meledak.

Rendra datang ke kantorku.

Dia bahkan tidak membuat janji.

Resepsionis menelepon.

“Bu Nadia, ada kakak Ibu di lobby. Dia bilang darurat.”

Aku turun.

Rendra berdiri dengan wajah merah.

“Kamu keterlaluan.”

Aku hanya menatapnya.

“Kenapa pinjaman dibekukan?”

“Karena tanda tanganku dipalsukan.”

“Itu bukan pemalsuan.”

Aku tertawa pendek.

“Lalu apa?”

“Mama cuma membantu mempercepat.”

Aku menatapnya tajam.

“Dengan memalsukan tanda tanganku?”

Rendra mendekat.

“Kamu tahu aku butuh uang itu.”

“Untuk apa?”

“Bisnis.”

“Bisnis apa?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengeluarkan satu lembar kertas dari tasku.

“Perusahaan distribusi yang kamu bilang sedang berkembang itu ternyata sudah punya utang satu koma tujuh miliar.”

Wajahnya berubah.

Aku melanjutkan.

“Dua pemasok menggugat. Gudangnya disita sementara. Dan kamu mau menjaminkan rumah Mama untuk menutup semuanya.”

Rendra mengepalkan rahang.

“Kamu menyelidiki aku?”

“Tidak. Bank yang melakukan analisis kredit.”

Dia diam.

Lalu suaranya berubah.

Lebih pelan.

“Kalau bisnis itu gagal, aku habis.”

Aku menatap kakakku.

Dan untuk sesaat, aku tidak melihat pria egois yang sering memanfaatkanku.

Aku melihat anak laki-laki yang dulu selalu menungguku pulang sekolah.

Yang pernah memukul teman sekelasku karena mengejekku.

Yang mengajariku naik sepeda.

Dadaku sakit.

Namun aku tetap berkata:

“Kalau bisnismu gagal, kita cari solusi.”

Dia mengangkat kepala.

“Tapi bukan dengan mencuri tanda tanganku.”

Matanya merah.

“Kalau kamu tidak membekukan itu, semuanya bisa selesai.”

“Tidak. Hanya ditunda.”

“Rumah itu punya Mama!”

“Tidak sepenuhnya.”

Dia membeku.

Aku tahu saat itu dia belum tahu.

“Maksudmu?”

“Empat puluh persen hak ekonomisnya ada padaku.”

Wajah Rendra kehilangan warna.

“Bohong.”

“Papa yang mengaturnya.”

Rendra menatapku lama.

Lalu dia berbalik dan pergi tanpa mengucapkan satu kata pun.

Malamnya, nomor asing menelepon.

Aku tahu siapa bahkan sebelum mengangkat.

Mama.

“Nadia.”

Suara itu terdengar berbeda.

Tidak keras.

Tidak marah.

Lelah.

“Ya, Ma.”

Dia terdiam lama.

“Kamu sudah tahu semuanya?”

“Sebagian.”

Mama menangis pelan.

Aku menutup mata.

“Aku cuma mau membantu kakakmu.”

“Dengan tanda tanganku?”

“Mama panik.”

“Ma, itu bukan alasan.”

“Rendra bisa kehilangan semuanya.”

Aku hampir tertawa karena ironinya.

“Dan supaya dia tidak kehilangan semuanya, Mama mau mengambil risiko kehilangan rumah?”

Sunyi.

Lalu Mama berkata kalimat yang selama bertahun-tahun menjadi senjatanya.

“Dia kakakmu.”

Aku menjawab pelan.

“Dan aku anak Mama.”

Dia terdiam.

Untuk pertama kalinya, kalimat itu memantul kembali kepadanya.

Aku melanjutkan.

“Kenapa rasa takut Rendra selalu lebih penting daripada rasa sakitku?”

Mama mulai menangis lebih keras.

“Aku tidak tahu.”

“Kenapa kalau dia gagal, semua orang harus menyelamatkannya? Tapi kalau aku capek, aku egois?”

“Nadia…”

“Kenapa, Ma?”

Aku tidak berteriak.

Justru karena tenang, pertanyaan itu terasa lebih berat.

Mama menangis cukup lama.

Lalu akhirnya berkata sesuatu yang tidak pernah kuduga.

“Karena dari kecil kamu selalu lebih kuat.”

Aku tertawa pahit.

“Itu alasannya?”

“Mama selalu takut Rendra tidak bisa berdiri sendiri. Kamu… kamu selalu bisa.”

Air mataku jatuh.

“Jadi karena aku kuat, Mama pikir aku tidak bisa terluka?”

Tidak ada jawaban.

“Karena aku mandiri, aku boleh terus dikorbankan?”

“Nadia, Mama salah.”

Itu pertama kalinya dalam tiga puluh empat tahun aku mendengarnya mengucapkan kalimat itu.

Bukan “kalau kamu tersinggung.”

Bukan “Mama cuma emosi.”

Bukan “kamu juga salah.”

Mama salah.

Aku duduk di lantai kamar sambil menangis diam-diam.

Arif duduk di dekatku.

Mama melanjutkan.

“Surat Papa… kamu sudah baca?”

“Sudah.”

Suara Mama pecah.

“Papa pernah bilang satu hari kamu akan capek menyelamatkan kami.”

Aku tidak bisa bicara.

“Mama marah waktu itu. Mama bilang dia terlalu membela kamu.”

Aku menatap kosong ke depan.

“Ternyata dia benar.”

Beberapa minggu berikutnya tidak mudah.

Aku tidak langsung memaafkan Mama.

Aku juga tidak kembali membayar semua tagihannya.

Rumah itu akhirnya dijual.

Bukan karena disita.

Bukan karena bangkrut.

Tapi karena kami sepakat itu satu-satunya cara mengakhiri sesuatu yang sudah terlalu lama mengikat kami.

Setelah sisa kredit lunas, bagian Mama cukup untuk membeli rumah kecil yang lebih sederhana di Bandung.

Bagian hak ekonomisku kukembalikan sebagian kepadanya.

Bukan karena kewajiban.

Karena aku memilihnya.

Sisanya kusimpan.

Rendra kehilangan bisnisnya.

Namun ternyata kehilangan itulah yang menyelamatkannya.

Setelah berbulan-bulan menghindar, dia akhirnya mengaku bahwa bisnis itu bukan cuma gagal.

Dia juga kecanduan mengejar proyek besar karena ingin membuktikan dirinya tidak kalah dariku.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia bekerja sebagai manajer operasional biasa di perusahaan orang lain.

Gajinya jauh lebih kecil.

Mobilnya dijual.

Apartemennya dilepas.

Anehnya, dia terlihat lebih tenang.

Hampir setahun setelah Mother’s Day itu, kami berkumpul lagi.

Bukan di restoran mahal.

Bukan dengan bunga besar.

Bukan dengan hadiah mewah.

Hanya makan siang sederhana di rumah baru Mama.

Aku datang bersama Arif.

Rendra membawa es krim.

Maya membawa buah.

Tidak ada yang berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Kami masih punya luka.

Masih ada jarak.

Tapi untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang meminta aku membayar apa pun.

Setelah makan, Mama memintaku ikut ke kamarnya.

Dia membuka laci kecil dan mengeluarkan sebuah kotak kayu.

“Ada satu barang Papa yang belum Mama kasih.”

Di dalamnya ada jam tangan lama Papa.

Aku langsung mengenalinya.

Dia memakainya hampir setiap hari.

Di bawah jam itu ada kertas kecil.

Tulisan Papa lagi.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Untuk Nadia, kalau suatu hari kamu akhirnya memilih dirimu sendiri, jangan merasa bersalah. Papa justru berharap kamu belajar melakukannya lebih cepat daripada Papa.

Aku tidak bisa menahan tangis.

Mama berdiri di depanku.

Lalu berkata:

“Maaf karena Mama membuatmu merasa harus membeli tempat di keluarga ini.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat ibu yang selalu benar.

Aku melihat seorang perempuan tua yang juga penuh ketakutan, kesalahan, dan penyesalan.

Aku memeluknya.

Bukan karena semuanya sudah selesai.

Bukan karena aku lupa.

Tapi karena kali ini, pelukan itu tidak dibeli dengan cicilan rumah, tagihan listrik, atau pengorbanan.

Mama berbisik di bahuku.

“Kalau Mama bisa mengulang hidup…”

Aku menegang sedikit.

Dia melanjutkan.

“…Mama tetap ingin punya anak perempuan.”

Aku menangis dan tertawa bersamaan.

“Tapi kali ini,” katanya, “Mama akan belajar mencintainya tanpa membuat dia merasa berutang.”

Di luar kamar, kudengar Rendra memanggil.

“Nad, es krimnya meleleh!”

Aku mengusap wajah.

Lalu sebelum keluar, aku menatap jam Papa sekali lagi.

Selama bertahun-tahun aku pikir Hari Ibu itu adalah hari aku kehilangan keluargaku.

Ternyata aku salah.

Hari itu justru menjadi hari ketika keluargaku akhirnya berhenti hidup dari rasa bersalah.

Aku tidak kehilangan Mama.

Aku kehilangan versi hubungan kami yang membuat cinta terasa seperti utang.

Aku tidak kehilangan Rendra.

Aku kehilangan peran sebagai penyelamat yang harus selalu datang membawa uang.

Dan aku tidak kehilangan diriku.

Aku akhirnya menemukannya.

Sebelum keluar kamar, Mama menggenggam tanganku.

“Nadia.”

Aku menoleh.

“Makasih sudah tetap datang.”

Aku tersenyum.

“Kali ini aku datang karena aku mau, Ma.”

Bukan karena dipaksa.

Bukan karena merasa bersalah.

Bukan karena takut dianggap anak buruk.

Aku datang karena cinta.

Dan akhirnya, untuk pertama kalinya dalam hidupku…

itu cukup.