Aku Pulang dari Perjalanan Dinas dan Menemukan Istriku Sudah Meninggal—Lalu Putriku Berbisik, “Ayah, Nenek Berbohong.”
Aku pulang dari perjalanan dinas selama tiga hari sambil membawa hadiah untuk istri dan putriku… tetapi yang kutemukan justru kabar bahwa istriku telah meninggal saat aku pergi.
Ketika ibuku menangis sambil berkata, “Kamu terlambat pulang,” putriku yang baru berusia enam tahun tiba-tiba menggenggam tanganku erat dan berbisik,
“Ayah… Om Rian membuat Ibu ketakutan… dan Nenek mengambil ponsel Ibu.”
Saat itu juga aku menghentikan seluruh prosesi pemakaman dan menghubungi polisi.
Namun yang belum kuketahui adalah bahwa orang di balik semua ini bukan sekadar seseorang dari keluargaku.
Dia adalah eksekutif berkuasa yang selama ini menandatangani gajiku.
BAGIAN 1
“Nenek bohong!”
“Ibu tidak pergi meninggalkan kita seperti yang Nenek bilang!”
Suara putriku yang berusia enam tahun, Naya, tiba-tiba terdengar keras di tengah rumah duka.
Semua percakapan langsung berhenti.
Aku baru saja tiba kembali di Bandung setelah tiga hari menjalankan tugas pengiriman khusus untuk sebuah perusahaan logistik besar tempatku bekerja.
Selama tugas itu, kami diwajibkan menyerahkan ponsel pribadi karena menangani pengiriman dokumen dan barang bernilai tinggi untuk salah satu klien utama perusahaan.
Di dalam tas perjalananku masih ada syal sutra hijau yang kubeli untuk istriku, Laras.
Dan sebuah boneka baru untuk Naya.
Sepanjang perjalanan pulang dari Jakarta, aku terus membayangkan Laras dan Naya menungguku di depan rumah.
Aku bahkan sempat tersenyum ketika membayangkan Laras mengomel karena aku membeli hadiah terlalu mahal.
Tetapi ketika mobil memasuki kompleks rumah kami di kawasan Antapani, senyum itu langsung hilang.
Bunga duka memenuhi halaman.
Puluhan kursi plastik tersusun di bawah tenda putih.
Sebuah kain hitam terpasang di pagar depan.
Dan di samping pintu masuk…
Berdiri foto besar Laras dengan bingkai bunga.
Aku menghentikan mobil begitu mendadak sampai tas di kursi sebelah jatuh ke lantai.
Aku turun dengan kaki gemetar.
“Ibu?”
Ibuku, Sri, berlari menghampiriku.
Matanya bengkak karena menangis.
Begitu sampai di depanku, dia langsung memelukku.
“Kamu terlambat, Dimas.”
Suaranya pecah.
“Laras sudah meninggal hampir tiga hari lalu.”
Aku tidak langsung memahami kalimat itu.
Rasanya seperti mendengar seseorang berbicara dari tempat yang sangat jauh.
“Apa?”
Ibu menangis semakin keras.
“Laras sudah tidak ada.”
Aku mendorong bahunya pelan.
“Kenapa tidak ada yang memberi tahu aku?”
“Kami sudah berusaha menghubungimu.”
“Ponselmu tidak aktif.”
Aku menatapnya.
“Kalian tahu kantor tempatku bertugas.”
“Kalian bisa menghubungi perusahaan.”
Ibu menghindari tatapanku.
“Atasanmu, Pak Surya, bilang tugasmu tidak boleh diganggu.”
Nama itu membuatku diam sesaat.
Surya Pranoto.
Direktur operasional perusahaan tempatku bekerja.
Pria yang menyetujui tugasku tiga hari lalu.
Pria yang secara pribadi mengatakan bahwa pengiriman itu sangat rahasia dan tidak boleh terganggu dalam keadaan apa pun.
Aku tidak memikirkan hal itu terlalu lama.
Aku langsung masuk ke rumah.
Di tengah ruang tamu…
Peti jenazah Laras sudah berada di sana.
Kakiku hampir kehilangan tenaga.
Aku berjalan mendekat seperti orang yang sedang bermimpi.
Wajah Laras terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Aku menggenggam sisi peti.
“Laras…”
Tidak ada jawaban.
Tentu saja tidak ada.
Tetapi bagian kecil di dalam diriku masih berharap dia membuka mata dan mengatakan semua ini hanya kesalahpahaman.
Di sebelah peti berdiri Tante Mira, kakak ibuku.
Dia bersama suaminya mengelola sebuah rumah duka kecil di Bandung.
Tante Mira melihat jam tangannya beberapa kali.
“Kita sebaiknya berangkat ke pemakaman sebelum terlalu sore.”
Aku menoleh kepadanya.
Dia melanjutkan,
“Jangan ditunda lagi, Dimas.”
“Laras beberapa minggu terakhir memang sedang banyak tekanan.”
“Lebih baik kita biarkan dia beristirahat dengan tenang.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Apa maksudnya banyak tekanan?”
Tante Mira terdiam.
“Masalah biasa.”
“Masalah rumah tangga.”
“Masalah pekerjaan.”
Aku memandang semua orang di ruangan itu.
“Kenapa semuanya seperti ingin buru-buru?”
Tidak ada yang menjawab.
Di dekat tangga duduk ayahku, Hendra.
Dua tahun sebelumnya dia terkena stroke.
Tubuh bagian kanannya masih lemah dan dia menggunakan kursi roda.
Bicaranya juga menjadi tidak jelas.
Namun pikirannya masih sangat tajam.
Sejak kecil aku mengenal setiap ekspresi wajahnya.
Dan saat itu…
Ayah terlihat ketakutan.
Begitu mata kami bertemu, dia memukul sandaran kursi rodanya tiga kali.
Tok.
Tok.
Tok.
Lalu dia menatap ke arah lantai dua.
Aku mengernyit.
“Ayah?”
Dia kembali memukul sandaran.
Kemudian menunjuk ke atas.
Sebelum aku sempat mendekat, ibuku berdiri di samping peti Laras dan mulai menangis keras.
“Kenapa kamu meninggalkan kami, Laras?”
“Kami semua sayang padamu.”
Saat itulah Naya tiba-tiba melepaskan tangannya dari ibuku.
Wajah anakku pucat.
Matanya sembap.
Dia menunjuk langsung ke arah neneknya.
“Nenek bohong!”
Ruangan itu langsung sunyi.
Ibu berhenti menangis.
“Naya…”
“Nenek bohong!”
Suara Naya semakin keras.
“Om Rian mendobrak pintu kamar Ibu!”
“Om Rian membuat Ibu takut!”
“Om Rian mengambil ponsel Ibu!”
“Dan Nenek tidak membiarkan aku keluar kamar!”
Semua orang menoleh ke arah adikku.
Rian berdiri di dekat jendela.
Wajahnya langsung kehilangan warna.
“Naya tidak mengerti apa yang dia lihat,” kata ibuku cepat.
“Dia masih kecil.”
“Dia trauma.”
Aku berjalan mendekati putriku lalu berlutut.
“Naya.”
Aku menggenggam kedua tangannya.
“Lihat Ayah.”
Dia menatapku sambil menangis.
“Ceritakan apa yang terjadi.”
Naya langsung memeluk leherku.
“Ibu terus memanggil Ayah.”
“Om Rian tidak membiarkan Ibu turun.”
“Nenek menutup pintu.”
“Ibu terus bilang suruh telepon Ayah.”
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
“Apa Ibu sakit?”
Naya menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Om Rian marah.”
“Ibu juga marah.”
“Terus ada orang lain datang.”
Aku membeku.
“Orang lain?”
Naya mengangguk.
Tetapi sebelum dia menjawab, suara keras terdengar dari belakang.
Tok!
Ayah kembali memukul kursi rodanya.
Tok!
Tok!
Semua orang menoleh.
Ayah berusaha mengangkat tangan kirinya.
Dia menunjuk ke bawah bantalan kursi rodanya.
Tante Mira langsung bergerak mendekat.
“Sudahlah.”
“Pak Hendra pasti sedang bingung.”
Aku berdiri.
“Ayah tidak bingung.”
Tante Mira menghalangi jalanku.
“Dimas, ini bukan waktunya.”
“Biarkan pemakaman selesai dulu.”
“Kalau ada masalah keluarga, kalian bisa membicarakannya nanti.”
Kalimat itu membuat seluruh tubuhku menegang.
Masalah keluarga.
Sejak aku tiba, semua orang terus menggunakan kalimat yang sama.
Masalah keluarga.
Tekanan.
Jangan ditunda.
Biarkan Laras beristirahat.
Tidak ada satu pun yang menjelaskan dengan jelas bagaimana istriku meninggal.
Aku menatap Tante Mira.
“Dokter bilang Laras meninggal karena apa?”
Dia tidak langsung menjawab.
Ibuku menyela.
“Jantung.”
Aku menoleh.
“Laras tidak punya riwayat penyakit jantung.”
“Bisa terjadi tiba-tiba,” jawab Ibu.
“Siapa dokter yang memeriksanya?”
Tidak ada jawaban.
Aku kembali menatap ayahku.
Dia masih menunjuk ke bawah kursinya.
Aku berjalan mendekat.
Tante Mira mencoba menahanku.
“Dimas.”
Aku mengabaikannya.
Aku mengangkat bantalan kursi roda ayah.
Di bawahnya ada sebuah kunci kecil.
Dan secarik kertas yang dilipat berkali-kali.
Tanganku bergetar ketika membukanya.
Tulisan di sana tidak rapi karena dibuat dengan tangan kiri ayah.
Hanya ada tiga kata.
KAMAR. LACI. BAWAH.
Aku menatap ayah.
Dia mengangguk pelan.
Saat itu juga aku tahu satu hal.
Ayah sedang berusaha menunjukkan sesuatu kepadaku.
Dan seseorang di rumah ini tidak ingin aku menemukannya.
Aku mengeluarkan ponsel lama milik salah satu sepupuku.
Lalu menelepon polisi.
Begitu ibuku sadar apa yang kulakukan, dia langsung mendekat.
“Dimas!”
“Jangan.”
“Ini urusan keluarga.”
Aku menatapnya.
“Kalau seseorang meninggal dalam keadaan mencurigakan, itu bukan lagi sekadar urusan keluarga.”
“Polisi harus tahu.”
Wajah Rian berubah tegang.
Tante Mira mulai mondar-mandir.
Beberapa kerabat perlahan mundur keluar rumah.
Tidak lama kemudian, suara sirene terdengar dari ujung jalan.
Dua mobil polisi berhenti di depan rumah.
Saat petugas mulai memasuki halaman, aku melihat Tante Mira berdiri di dekat lorong menuju dapur.
Tangannya bergerak cepat di atas ponselnya.
Dia sedang mengirim pesan.
Aku hanya sempat melihat sebagian layar sebelum dia mematikannya.
Empat kata terlihat jelas.
Dia mulai curiga sekarang.
Darahku terasa dingin.
Aku berjalan cepat ke arahnya.
“Tante menghubungi siapa?”
Dia memasukkan ponsel ke dalam tas.
“Tidak ada.”
Pada saat yang sama, dari sudut mataku, aku melihat Rian bergerak perlahan menuju tangga belakang.
Aku langsung berdiri di depannya.
“Mau ke mana?”
Dia berhenti.
“Ke kamar mandi.”
“Kamar mandi ada di bawah.”
Rian menelan ludah.
Aku menunjuk ke ruang tamu.
“Tidak ada yang naik ke atas.”
“Tidak ada yang menyentuh apa pun.”
Dia menatapku beberapa detik lalu menundukkan kepala.
Saat itulah aku melihat sesuatu di sisi wajahnya.
Sebuah bekas goresan tipis di dekat rahang.
Bukan luka lama.
Dan di pergelangan tangannya…
Ada bekas kemerahan seperti seseorang pernah mencengkeram atau mencakarnya kuat-kuat.
Aku menatap Rian.
Dia buru-buru menarik lengan bajunya.
Salah satu polisi mendekat.
“Pak Dimas?”
“Bisa jelaskan apa yang membuat Bapak mencurigai kematian istri Bapak?”
Aku memandang peti Laras.
Lalu Naya.
Kemudian ayahku.
“Ada saksi.”
“Putri saya.”
“Dan mungkin ayah saya juga tahu sesuatu.”
Petugas itu mengangguk.
“Kami perlu menghentikan prosesi pemakaman untuk sementara.”
Ibuku langsung berteriak.
“Tidak!”
Semua orang menoleh.
Dia terlihat seperti baru menyadari dirinya bereaksi terlalu keras.
Kemudian dia mulai menangis lagi.
“Maksud saya… kasihan Laras.”
“Jangan ganggu ketenangannya.”
Polisi itu tidak berubah ekspresi.
“Kami hanya akan memastikan semuanya sesuai prosedur.”
Dua petugas naik ke lantai dua.
Aku ikut bersama mereka.
Rian mencoba mengatakan sesuatu.
Tetapi polisi memintanya tetap di bawah.
Kami sampai di depan kamar utama.
Pintu terlihat normal.
Namun ketika salah satu petugas memeriksanya dari dekat, dia menemukan bekas kerusakan pada bagian kusen.
Seperti pernah didorong paksa.
Naya tidak berbohong.
Pintu itu memang pernah didobrak.
Kami masuk.
Seprai sudah diganti.
Lantai terlihat terlalu bersih.
Meja rias Laras hampir kosong.
Tidak ada ponsel.
Tidak ada tas kerja.
Tidak ada laptop.
Seorang petugas langsung berkata,
“Jangan sentuh apa pun.”
Aku melihat lemari kecil di samping tempat tidur.
Kunci yang diberikan ayah ternyata pas dengan laci paling bawah.
Klik.
Laci terbuka.
Di dalamnya hanya ada beberapa pakaian lama.
Aku hampir mengira kami salah.
Lalu petugas menemukan papan tipis di dasar laci.
Ada ruang tersembunyi di bawahnya.
Ketika papan itu diangkat…
Aku melihat sebuah USB berwarna hitam.
Sebuah kartu memori kecil.
Dan sebuah amplop cokelat.
Di bagian depan amplop…
Laras menulis namaku.
Untuk Dimas. Kalau sesuatu terjadi padaku.
Tanganku langsung membeku.
Polisi mengambil amplop itu sebagai barang bukti.
Aku berdiri di samping tempat tidur sambil mencoba bernapas.
Lalu dari lantai bawah terdengar suara pintu depan dibuka keras.
Seseorang baru saja tiba.
Beberapa detik kemudian seorang petugas muncul di pintu kamar.
Wajahnya serius.
“Pak Dimas.”
“Ada seseorang yang ingin bicara dengan Anda.”
Aku turun.
Dan ketika sampai di ruang tamu…
Aku berhenti.
Berdiri di dekat pintu adalah seorang pria dengan kemeja putih mahal, celana bahan gelap, dan dua orang dari bagian legal perusahaan di belakangnya.
Aku mengenalnya dengan sangat baik.
Surya Pranoto.
Direktur operasional perusahaan tempatku bekerja.
Orang yang mengirimku pergi selama tiga hari.
Orang yang mengatakan tugasku tidak boleh diganggu.
Orang yang selama tujuh tahun terakhir menandatangani seluruh evaluasi dan kenaikan gajiku.
Dia menatap peti Laras.
Lalu menatapku.
Ekspresinya terlihat tenang.
Terlalu tenang.
“Dimas,” katanya pelan.
“Saya baru mendengar ada masalah.”
Aku tidak menjawab.
Surya melanjutkan,
“Saya rasa kita sebaiknya membicarakan ini secara pribadi.”
Saat itulah ayahku tiba-tiba mulai menghantam sandaran kursinya sekeras mungkin.
Tok!
Tok!
Tok!
Surya menoleh kepadanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba…
Wajah pria itu berubah.
Hanya sesaat.
Tetapi aku melihatnya.
Ketakutan.
Ayahku juga melihatnya.
Dengan seluruh tenaga yang masih dimilikinya, dia menunjuk langsung ke arah Surya.
Lalu mengeluarkan dua kata yang hampir tidak terdengar.
“Dia… datang.”
Ruangan itu membeku.
Aku menatap Surya.
“Ayah saya bilang Anda pernah datang ke rumah ini.”
Surya tidak menjawab.
Aku melangkah satu langkah mendekat.
“Pertanyaannya cuma satu, Pak Surya.”
“Kenapa direktur perusahaan tempat saya bekerja datang ke rumah saya saat saya sengaja dikirim keluar kota… tepat sebelum istri saya meninggal?”
Tidak ada seorang pun bergerak.
Dan saat itulah aku sadar…
Aku mungkin tidak pulang terlambat karena kebetulan.
Seseorang telah memastikan aku berada jauh dari rumah.
Dan mungkin sejak awal…
Perjalanan dinas tiga hari itu bukanlah pekerjaan.
Melainkan jebakan.
BAGIAN 2
Ruangan itu terasa lebih sempit ketika Pak Surya akhirnya menjawab.
“Saya memang datang ke rumah ini dua hari lalu.”
Ibuku langsung menunduk.
Rian memalingkan wajah.
Tante Mira menggenggam tasnya semakin erat.
Aku menatap Surya tanpa berkedip.
“Untuk apa?”
Surya menghela napas panjang.
“Karena Laras menghubungi saya.”
Aku hampir tertawa karena marah.
“Istri saya menelepon Anda, tapi tidak bisa menelepon saya?”
“Dimas, dengarkan dulu.”
“Tidak. Anda dengarkan saya.”
Aku menunjuk ke peti Laras.
“Istri saya meninggal saat saya dikirim ke luar kota oleh Anda.”
“Anak saya bilang adik saya mendobrak pintunya.”
“Ibu saya mengambil ponselnya.”
“Bibi saya terburu-buru mengurus pemakaman.”
“Dan sekarang Anda berdiri di rumah saya sambil mengakui bahwa Anda datang sebelum dia meninggal.”
“Kalau Anda punya penjelasan, sekarang waktunya.”
Salah satu petugas meminta semua orang tenang.
Surya menatap polisi, lalu kembali menatapku.
“Laras menemukan sesuatu di perusahaan.”
Aku terdiam.
Surya melanjutkan.
“Sekitar enam minggu lalu, dia menghubungi saya dan mengatakan ada transaksi yang tidak masuk akal.”
Aku mengernyit.
Laras memang bekerja dari rumah sebagai konsultan akuntansi lepas.
Sesekali dia membantu beberapa perusahaan memeriksa laporan keuangan.
Tapi aku tidak pernah tahu dia pernah mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan kantorku.
“Apa maksud Anda?”
“Dia sedang memeriksa rekening sebuah vendor kecil,” kata Surya.
“Vendor itu ternyata terhubung ke beberapa proyek distribusi perusahaan kami.”
“Awalnya dia pikir hanya ada kesalahan pencatatan.”
“Tapi semakin dia mencari, semakin banyak yang dia temukan.”
Salah satu polisi bertanya, “Apa yang dia temukan?”
Surya menatapku.
“Pembayaran fiktif.”
“Perusahaan cangkang.”
“Pengalihan dana.”
“Dan beberapa nama internal.”
Dadaku terasa berat.
“Nama siapa?”
Surya tidak langsung menjawab.
Aku tahu jawabannya sebelum dia mengucapkannya.
“Rian.”
Aku menoleh tajam ke adikku.
Rian mundur selangkah.
“Bukan seperti yang kamu pikir.”
Aku berlari ke arahnya.
Dua polisi langsung menahan bahuku.
“Kamu terlibat?”
Rian gemetar.
“Aku cuma diminta buka rekening.”
“Oleh siapa?”
Dia diam.
Aku berteriak,
“Oleh siapa, Rian?”
Akhirnya bibirnya bergerak.
“Pak Surya.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Aku menoleh ke arah Surya.
Wajahnya justru tidak berubah.
“Dia bohong,” kata Surya.
Rian tertawa pendek dengan suara panik.
“Sekarang Bapak bilang saya bohong?”
“Kalian semua dengar, kan?”
“Dia yang suruh saya tanda tangan!”
Surya menggeleng.
“Saya tidak pernah menyuruhmu.”
Rian makin panik.
“Bapak bilang rekening itu untuk dana operasional!”
“Bapak bilang semuanya legal!”
Aku menatap dua orang dari bagian legal perusahaan yang datang bersama Surya.
Keduanya saling melihat.
Saat itu polisi meminta agar semua ponsel dikumpulkan.
Tidak ada yang boleh pergi.
Lalu salah satu petugas turun dari lantai atas membawa amplop Laras.
“Pak Dimas,” katanya.
“Kami perlu membuka ini di hadapan Anda.”
Tanganku dingin.
Amplop itu dibuka dengan hati-hati.
Di dalamnya ada tiga lembar kertas.
Halaman pertama adalah tulisan tangan Laras.
Aku langsung mengenali setiap lekuk hurufnya.
Dimas,
Kalau kamu membaca ini, berarti aku gagal menjelaskan semuanya langsung kepadamu.
Maaf.
Aku tahu kamu akan marah karena aku menyimpan rahasia ini.
Tapi semakin jauh aku masuk, semakin aku sadar ini bukan cuma soal uang.
Ada orang-orang yang takut kehilangan jabatan.
Ada orang-orang yang takut masuk penjara.
Dan ada orang di keluargamu yang sudah terjebak terlalu dalam.
Aku menelan ludah.
Aku hampir tidak sanggup melanjutkan.
Tulisan berikutnya membuat seluruh tubuhku membeku.
Jangan langsung percaya pada orang yang tampak paling bersalah.
Dan jangan langsung percaya pada orang yang datang sebagai penyelamat.
Aku mengangkat kepala.
Semua orang di ruangan itu terasa seperti orang asing.
Petugas melanjutkan membaca halaman kedua.
Di sana Laras menulis bahwa dia sudah menyimpan salinan bukti di tiga tempat.
USB di kamar.
Sebuah akun cloud dengan kata sandi yang hanya bisa kutebak.
Dan satu salinan yang sudah dia kirim kepada seseorang bernama “B.”
Aku menoleh ke Tante Mira.
Dia langsung menggeleng.
“Bukan aku.”
Kemudian aku teringat.
Beatrice dalam cerita hidupku bukan nama siapa-siapa.
Tapi “B” bisa berarti banyak hal.
Petugas membuka halaman ketiga.
Hanya satu kalimat.
Kalau aku tidak sempat bicara dengan Dimas, cari Bu Ratih.
Nama itu asing bagiku.
Surya tiba-tiba berubah.
Bukan takut.
Tapi tegang.
Polisi melihat ekspresinya.
“Anda kenal Bu Ratih?”
Surya mengangguk pelan.
“Dia mantan kepala audit internal perusahaan.”
“Mantan?”
“Dia dipecat tiga bulan lalu.”
“Kenapa?”
Surya diam.
Rian tiba-tiba menyela.
“Karena dia menemukan dana gelap.”
Semua mata beralih padanya.
Rian melanjutkan dengan suara serak.
“Dia mencoba melapor.”
“Lalu Pak Surya bilang dia tidak stabil.”
Surya membentak,
“Cukup!”
Untuk pertama kalinya topeng tenangnya retak.
Polisi langsung berdiri di antara mereka.
Aku menatap Surya.
“Jadi dia benar.”
Surya menutup mata sebentar.
“Aku tidak memecat Ratih.”
“Dewan yang melakukannya.”
“Dan aku mencoba melindunginya.”
Aku tertawa pahit.
“Melindungi? Seperti Anda melindungi Laras?”
Surya menatapku.
“Dimas, saya datang ke rumahmu karena Laras meminta saya datang.”
“Dia bilang dia takut.”
“Dia bilang ada seseorang dari keluargamu yang menekannya.”
Aku menoleh ke Rian.
Surya berkata lagi,
“Dan ketika saya datang, saya melihat ibumu.”
Aku melihat wajah ibuku.
Dia mulai menangis.
“Ibu?”
Sri menutup mulut dengan kedua tangan.
“Aku cuma ingin melindungi kalian.”
“Dari apa?”
Dia tidak menjawab.
Aku berteriak,
“Dari apa?”
Akhirnya Ibu berkata,
“Dari utang Rian.”
Ruangan itu sunyi.
Rian menunduk.
Ibu melanjutkan.
“Rian terlilit utang besar.”
“Dia meminjam uang untuk bisnis.”
“Bisnisnya gagal.”
“Lalu ada orang yang menawarkan jalan keluar.”
Aku menatap adikku.
“Orang siapa?”
Rian menangis.
“Pak Bagas.”
Aku belum pernah mendengar nama itu.
Surya langsung pucat.
Dan kali ini, aku tahu rasa takutnya nyata.
Polisi bertanya, “Siapa Pak Bagas?”
Surya menjawab pelan.
“Bagas Wiratama.”
“Komisaris utama grup perusahaan.”
Ruangan itu seperti kehilangan udara.
Aku mengenal nama itu.
Semua orang di perusahaan mengenalnya.
Pria itu hampir tidak pernah muncul di kantor.
Namanya hanya ada di dokumen, rapat tahunan, dan berita bisnis.
Dia salah satu orang paling berpengaruh di sektor logistik nasional.
Dan di atas Surya…
Hanya ada beberapa orang.
Bagas adalah salah satunya.
Rian mengusap wajahnya.
“Dia bilang aku cuma perlu pinjamkan nama.”
“Buka rekening.”
“Tanda tangan dokumen.”
“Dapat komisi.”
“Awalnya cuma beberapa juta.”
“Lalu puluhan juta.”
“Terus mereka mulai transfer miliaran.”
Aku merasa mual.
“Dan Laras menemukannya.”
Rian mengangguk.
“Dia tahu rekening itu atas namaku.”
“Dia memanggilku.”
“Dia bilang aku harus pergi ke polisi.”
“Aku panik.”
“Karena kalau aku bicara, mereka bilang semua kesalahan akan ditaruh di aku.”
“Aku takut masuk penjara.”
“Jadi kamu mendobrak kamar Laras?”
“Aku cuma mau ambil USB.”
Naya mulai menangis lagi.
Aku melihat putriku.
Dan saat itulah rasa marahku berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
“Terus apa yang terjadi pada Laras?”
Rian menangis lebih keras.
“Aku tidak membunuh dia.”
Aku mencengkeram lengannya.
“Lalu siapa?”
Dia menatap ibuku.
Sri langsung menggeleng keras.
“Bukan Ibu.”
Rian berkata,
“Malam itu ada orang datang.”
“Siapa?”
“Pak Bagas.”
Surya langsung berdiri.
“Tidak mungkin.”
Rian menoleh kepadanya.
“Bapak tahu.”
“Bapak juga datang.”
Surya membalas,
“Saya datang setelah Laras menghubungi saya.”
Rian tertawa pahit.
“Dan Bagas datang setelah Bapak pergi.”
Aku menatap ibu.
Dia akhirnya mengangguk sambil menangis.
“Dia datang.”
“Dia bilang semua bisa selesai kalau Laras menyerahkan bukti.”
“Aku cuma ingin dia menyerahkan USB.”
“Supaya Rian tidak hancur.”
Aku merasa sesuatu di dadaku pecah.
“Ibu memilih melindungi Rian?”
Sri menangis.
“Aku memilih anakku.”
Aku menunjuk ke peti Laras.
“Dia juga keluargamu!”
Ibu menutup wajah.
“Dia masih hidup saat Bagas pergi.”
Semua orang terdiam.
Aku hampir tidak berani bertanya.
“Apa?”
“Laras masih hidup saat Bagas pergi.”
“Lalu bagaimana dia meninggal?”
Ibu menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Polisi langsung bergerak.
“Bu Sri, kami perlu keterangan lengkap.”
Ibu gemetar.
“Laras sesak napas.”
“Dia bilang dadanya sakit.”
“Dia jatuh.”
“Kami panik.”
“Rian ingin bawa ke rumah sakit.”
“Tapi Tante Mira bilang kalau polisi datang semuanya akan terbuka.”
Aku menoleh ke Tante Mira.
Wajahnya putih.
“Jadi kalian membiarkan dia?”
Tante Mira langsung menangis.
“Tidak!”
“Aku panggil dokter.”
“Dokter siapa?”
Dia diam.
Polisi mendesaknya.
Akhirnya dia berbisik,
“Dokter pribadi keluarga Bagas.”
Aku menatapnya seperti melihat monster.
“Dan dia menyatakan Laras meninggal?”
Mira mengangguk.
“Katanya serangan jantung.”
Aku hampir jatuh.
Petugas memegang bahuku.
Aku menatap peti Laras, lalu semua orang yang selama ini kusebut keluarga.
Mereka tidak membunuhnya dengan tangan mereka sendiri.
Tapi mereka menutup pintu.
Mereka menyembunyikan ponselnya.
Mereka memanggil dokter yang salah.
Mereka membiarkan ketakutan lebih penting daripada nyawanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku memahami sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan.
Kadang-kadang orang yang mencintaimu tetap bisa menghancurkanmu karena mereka terlalu takut kehilangan sesuatu yang lain.
BAGIAN 3
Malam itu, rumah kami berubah menjadi tempat penyelidikan.
Jenazah Laras dibawa untuk pemeriksaan forensik.
Semua prosesi pemakaman dihentikan.
Rian, Ibu, dan Tante Mira dibawa untuk dimintai keterangan.
Surya juga diperiksa.
Aku dan Naya tinggal di rumah bersama Ayah.
Aku duduk di lantai di samping kursi rodanya.
Untuk pertama kalinya sejak pulang, rumah benar-benar sunyi.
Aku menatap Ayah.
“Kenapa Ayah tidak bisa memberi tahu aku lebih cepat?”
Matanya berkaca-kaca.
Dia berusaha bicara.
Sulit.
Tapi aku menunggu.
“L… Laras…”
“Iya.”
“Re… rekam.”
Aku langsung berdiri.
“Laras merekam?”
Ayah mengangguk.
Kemudian menunjuk ke bawah meja kecil di samping kursinya.
Aku meraba bagian bawahnya.
Ada sesuatu ditempel dengan selotip.
Sebuah perekam suara kecil.
Aku langsung memanggil polisi.
Rekaman itu diputar beberapa jam kemudian.
Suara pertama adalah suara Laras.
“Aku merekam ini karena aku tidak tahu siapa yang masih bisa dipercaya.”
Lalu terdengar suara Rian.
Kemudian Ibu.
Lalu suara laki-laki yang berat.
Aku belum pernah mendengarnya secara langsung.
Tapi Surya mengenalinya.
“Itu Bagas.”
Dalam rekaman itu, Bagas tidak pernah mengancam membunuh Laras.
Justru kata-katanya lebih dingin.
“Kamu punya anak kecil.”
“Suamimu punya karier.”
“Adik iparmu bisa masuk penjara.”
“Serahkan bukti itu dan semua orang tetap punya kehidupan.”
Laras menjawab,
“Kalau saya diam, berapa banyak keluarga lain yang akan kehilangan uang karena kalian?”
Bagas tertawa kecil.
“Ini bukan film, Bu Laras.”
“Orang seperti Anda tidak mengubah sistem.”
Laras menjawab,
“Kalau begitu kenapa Anda datang sendiri?”
Ruangan pemeriksaan sunyi ketika rekaman itu diputar.
Beberapa menit kemudian, suara Bagas terdengar lagi.
“Kalau sesuatu terjadi, orang pertama yang dicurigai adalah keluarga Anda.”
Aku merinding.
Dia sudah merencanakan semuanya.
Bukan hanya menekan Laras.
Tapi memastikan kalau sesuatu terjadi, keluargaku saling menghancurkan.
Lalu rekaman berakhir dengan suara pintu.
Beberapa detik kemudian terdengar Ayah memukul kursi rodanya.
Tok.
Tok.
Tok.
Ternyata sejak awal Ayah mencoba menyimpan satu-satunya bukti suara yang tidak sempat ditemukan siapa pun.
Dua hari berikutnya membawa jawaban yang lebih buruk.
Hasil forensik menunjukkan Laras memang mengalami gangguan jantung akut.
Tapi penyebabnya bukan penyakit bawaan.
Ada zat stimulan dosis tinggi di dalam darahnya.
Bukan racun.
Bukan sesuatu yang langsung membunuh.
Tapi cukup untuk memicu serangan jantung pada kondisi stres berat.
Polisi menemukan zat yang sama di botol suplemen milik Rian.
Aku hampir kehilangan kendali.
Namun kemudian muncul fakta lain.
Botol itu dibeli oleh sopir pribadi Bagas.
Rekaman CCTV minimarket menunjukkan orang tersebut membelinya dua hari sebelum Laras meninggal.
Lalu pertanyaan terbesar muncul.
Bagaimana zat itu masuk ke tubuh Laras?
Jawabannya datang dari Naya.
Putriku menggambar sebuah gelas.
Gelas teh.
Dia bilang seorang “om tua dengan cincin besar” memberikan teh kepada Ibu.
Bagas selalu memakai cincin batu hitam besar.
Polisi menemukan cangkir yang dibuang di bak sampah belakang rumah.
Masih ada sisa zat yang sama.
Kasus itu berubah total.
Bagas ditangkap tiga minggu kemudian di Bandara Soekarno-Hatta saat hendak terbang ke Singapura.
Investigasi perusahaan membongkar jaringan pengalihan dana senilai ratusan miliar rupiah.
Surya tidak terbukti terlibat dalam kematian Laras.
Tapi dia terbukti tahu soal sebagian transaksi dan memilih diam terlalu lama.
Dia mengundurkan diri.
Rian dihukum karena membantu pembukaan rekening dan menghilangkan barang bukti.
Tante Mira juga diproses karena menghalangi penyelidikan dan membantu mempercepat pemakaman tanpa prosedur wajar.
Ibuku…
Kasusnya yang paling sulit.
Dia tidak meracuni Laras.
Dia tidak merencanakan kematian.
Tapi dia mengurung Naya di kamar.
Mengambil ponsel Laras.
Menyembunyikan informasi.
Dan menunda pertolongan.
Ketika hakim membacakan putusan, Ibu menatapku dari kursi terdakwa.
Dia tidak meminta maaf pada awalnya.
Dia hanya berkata,
“Aku pikir aku masih bisa menyelamatkan Rian.”
Aku menjawab pelan,
“Dan karena itu, Ibu kehilangan Laras.”
Air mata jatuh dari wajahnya.
“Dan kehilangan aku juga.”
Setelah persidangan, aku tidak langsung bisa memaafkannya.
Mungkin aku tidak akan pernah memaafkan semuanya.
Tapi hidup terus berjalan.
Dan ternyata kejutan terbesar belum datang.
Enam bulan setelah kematian Laras, Bu Ratih datang ke rumah.
Dia membawa sebuah kotak kecil.
“Ada sesuatu yang Laras titipkan pada saya.”
Di dalamnya ada hard disk.
Dan sebuah surat.
Aku membuka surat itu dengan tangan gemetar.
Dimas,
Kalau semuanya sudah selesai dan kamu membaca ini, jangan hidup sebagai orang yang hanya mengingat bagaimana aku pergi.
Ingat bagaimana kita hidup.
Ingat Naya tertawa saat hujan.
Ingat kamu selalu lupa membeli cabai.
Ingat kita pernah bertengkar satu jam hanya karena warna sofa.
Aku tersenyum sambil menangis.
Lalu aku membaca bagian terakhir.
Ada sesuatu yang belum sempat aku katakan.
Aku terlambat dua minggu.
Aku sempat tes.
Aku positif hamil.
Aku belum bilang karena ingin menunggumu pulang dari perjalanan dinas.
Tanganku jatuh ke meja.
Aku tidak bisa bernapas.
Naya sedang duduk di sampingku.
“Ayah kenapa?”
Aku memeluknya erat.
Begitu erat sampai dia tertawa kecil.
“Ayah nangis.”
“Iya.”
“Karena Ibu?”
Aku mengangguk.
“Karena Ibu punya kejutan.”
Naya menatapku.
“Hadiah?”
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada anak enam tahun.
Jadi aku cuma berkata,
“Ibu sebenarnya ingin kasih tahu kita kalau keluarga kita akan bertambah.”
Naya diam cukup lama.
Kemudian dia menatap foto Laras di ruang tamu.
“Berarti aku hampir punya adik?”
Aku mengangguk.
Dia tidak menangis.
Dia malah mengambil boneka yang kubawa dari perjalanan dinas enam bulan lalu.
Boneka yang tidak pernah sempat kuberikan pada hari aku pulang.
Dia meletakkannya di depan foto Laras.
“Kalau begitu ini untuk adik.”
Saat itu aku benar-benar hancur.
Bukan karena marah.
Bukan karena ingin balas dendam.
Tapi karena akhirnya aku mengerti betapa banyak masa depan yang dirampas dari kami dalam satu malam.
Beberapa bulan kemudian, uang hasil penyitaan dari jaringan Bagas dikembalikan sebagian kepada korban dan sebagian masuk proses hukum perusahaan.
Aku keluar dari pekerjaanku.
Aku tidak sanggup lagi bekerja di tempat yang mengingatkanku pada semua itu.
Dengan bantuan Bu Ratih, aku mendirikan sebuah lembaga kecil yang membantu keluarga korban penipuan korporasi dan karyawan yang ingin melaporkan penyimpangan tanpa kehilangan perlindungan.
Aku menamainya Yayasan Laras.
Bukan untuk mengingat bagaimana dia meninggal.
Tapi karena dia menolak diam.
Ayah tinggal bersamaku dan Naya.
Kondisi bicaranya perlahan membaik.
Rian masih menjalani hukumannya.
Ibu menulis surat setiap bulan.
Aku membaca semuanya.
Tapi aku belum membalas.
Belum.
Mungkin suatu hari nanti.
Suatu malam, hampir setahun setelah semuanya terjadi, Naya duduk di lantai ruang tamu sambil menggambar.
“Ayah.”
“Hm?”
“Kalau orang meninggal, dia masih bisa bangga sama kita?”
Aku berhenti bekerja.
Aku menatapnya.
“Menurut Ayah, bisa.”
Naya tersenyum.
“Berarti Ibu bangga sama Ayah.”
Aku menggeleng.
“Kenapa bukan sama Naya?”
Dia tertawa.
“Ibu pasti lebih bangga sama aku.”
“Kenapa?”
“Karena aku yang bilang Nenek bohong.”
Aku terdiam.
Lalu tertawa sambil menangis.
Dia benar.
Seluruh kebenaran terbuka bukan karena polisi.
Bukan karena direktur.
Bukan karena auditor.
Bukan karena aku.
Semuanya dimulai dari seorang anak kecil yang menolak ikut diam.
Aku memandang foto Laras di dinding.
Untuk pertama kalinya setelah hampir setahun, melihat wajahnya tidak membuat dadaku terasa seperti ditikam.
Masih sakit.
Tapi berbeda.
Ada rasa hangat di sana.
Aku akhirnya mengerti satu hal.
Keadilan tidak pernah bisa mengembalikan orang yang kita cintai.
Kebenaran juga tidak selalu menyembuhkan semuanya.
Tapi kebenaran memberi kita satu hal yang kebohongan selalu coba rampas.
Kesempatan untuk memilih bagaimana kita hidup setelah semuanya hancur.
Aku memilih membesarkan Naya tanpa rasa takut.
Aku memilih menyebut nama Laras tanpa hanya mengingat hari kematiannya.
Dan aku memilih percaya bahwa meskipun Bagas berhasil mengambil satu masa depan dari keluarga kami…
Dia tidak akan mengambil seluruh hidup kami.
Aku memeluk Naya malam itu.
Di luar, hujan turun pelan di atas Bandung.
Naya menatap jendela.
“Ayah.”
“Iya?”
“Besok kita beli cabai, ya.”
Aku tertawa.
“Kenapa?”
“Soalnya kata Ibu di surat, Ayah selalu lupa.”
Aku tertawa lebih keras sampai air mataku jatuh lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari aku pulang membawa syal hijau dan sebuah boneka…
Rumah itu tidak terasa seperti tempat kematian.
Rumah itu terasa seperti rumah lagi.
TAMAT.

