Saat hamil delapan bulan, aku memohon kepada suamiku agar menghentikan mobil karena rasa sakit di perutku begitu hebat sampai aku hampir tidak bisa bernapas. Bukannya menolong, dia malah menyuruhku turun, menuduhku berpura-pura, lalu meninggalkanku sendirian di pinggir jalan seolah aku sama sekali tidak berarti baginya.

Avatar penulis
Cerita 04
19 menit baca 984 tayangan
Saat hamil delapan bulan, aku memohon kepada suamiku agar menghentikan mobil karena rasa sakit di perutku begitu hebat sampai aku hampir tidak bisa bernapas. Bukannya menolong, dia malah menyuruhku turun, menuduhku berpura-pura, lalu meninggalkanku sendirian di pinggir jalan seolah aku sama sekali tidak berarti baginya.
Indeks

Saat hamil delapan bulan, aku memohon kepada suamiku agar menghentikan mobil karena rasa sakit di perutku begitu hebat sampai aku hampir tidak bisa bernapas. Bukannya menolong, dia malah menyuruhku turun, menuduhku berpura-pura, lalu meninggalkanku sendirian di pinggir jalan seolah aku sama sekali tidak berarti baginya.

Aku akhirnya dibawa ke rumah sakit, ketakutan memikirkan keselamatan bayi kami dan diriku sendiri.

Namun ketika suamiku akhirnya pulang malam itu, dia dibuat terpaku.

Aku sudah dirawat karena kondisi darurat.

Dan Ayah sudah mengganti semua kunci rumah.

Saat hamil delapan bulan, aku memohon kepada suamiku agar menghentikan mobil karena rasa sakit di perutku begitu hebat sampai aku hampir tidak bisa bernapas. Bukannya menolong, dia malah menyuruhku turun, menuduhku berpura-pura, lalu meninggalkanku sendirian di pinggir jalan seolah aku sama sekali tidak berarti baginya.

Rasa sakit itu datang begitu tajam hingga tanpa sadar aku berteriak memanggil namanya.

“Arga!”

Saat itu kandunganku sudah memasuki bulan kedelapan. Tubuhku gemetar di kursi penumpang sementara kedua tanganku memegangi bagian bawah perut.

“Arga, tolong berhenti.”

Suamiku tetap mengemudi.

Rahangnya mengeras, seolah rasa sakit yang kurasakan hanyalah gangguan kecil yang merusak rencananya malam itu.

“Ada yang tidak beres,” kataku dengan napas tersengal. “Perutku sakit sekali. Aku hampir tidak bisa bernapas.”

“Kita sudah terlambat.”

“Aku tidak peduli soal makan malam!”

Malam itu kami seharusnya menghadiri makan malam keluarga di sebuah restoran mewah di kawasan Sudirman, Jakarta.

Ibu mertuaku, Ratna, sudah mengundang hampir seluruh keluarga besar untuk merayakan promosi Arga di kantornya.

Sejak pagi, Ratna berkali-kali menelepon untuk memastikan kami tidak terlambat.

Namun saat mobil kami melaju menuju Jakarta, rasa sakit di perutku semakin hebat.

Gelombang berikutnya datang begitu kuat hingga tubuhku membungkuk.

“Arga, berhenti!”

Kali ini aku hampir berteriak.

Arga menginjak rem dan membawa mobil ke bahu jalan.

Selama satu detik yang bodoh, aku merasa lega.

Kupikir akhirnya dia menyadari bahwa aku benar-benar membutuhkan pertolongan.

Ternyata aku salah.

Arga membuka pintunya, berjalan cepat mengitari mobil, lalu membuka pintu di sisiku.

“Ayo turun.”

Aku menatapnya kebingungan.

“Apa?”

“Turun.”

“Arga, aku kesakitan.”

Dia memegang lenganku dan membantuku keluar, tetapi bukan untuk membawaku ke rumah sakit.

Begitu kakiku menyentuh tanah, dia melepaskan tangannya.

“Kamu mau bikin drama?” katanya dengan suara dingin. “Silakan. Tapi jangan merusak malam pentingku.”

Aku menatap wajah suamiku sendiri dan hampir tidak mengenalinya.

“Aku hamil delapan bulan.”

“Kamu selalu memakai kehamilan sebagai alasan.”

Dadaku terasa sesak.

“Perutku benar-benar sakit.”

“Kamu cuma tidak suka pada Ibu.”

Aku terdiam.

Jadi itu yang dia pikirkan?

Bahwa aku rela berpura-pura mengalami keadaan darurat hanya supaya tidak perlu menghadiri acara ibunya?

“Arga, dengarkan aku.”

Aku memegang pintu mobil karena kakiku mulai lemas.

“Aku takut ada sesuatu yang terjadi pada bayi kita.”

Namun Arga sudah kembali ke kursi pengemudi.

Aku mengetuk kaca jendelanya.

“Tolong jangan tinggalkan aku di sini.”

Dia menoleh.

Mata kami bertemu.

Aku masih berharap melihat sedikit rasa khawatir di wajahnya.

Sedikit saja.

Namun Arga hanya menyalakan mobil.

Lalu pergi.

Aku berdiri membeku di bahu jalan ketika lampu belakang mobilnya semakin menjauh.

Kendaraan-kendaraan melintas dengan cepat di sampingku.

Angin dari jalan raya menerpa pakaianku.

Satu tanganku memegangi perut, sementara tangan lainnya gemetar mencari ponsel di dalam tas.

Aku takut.

Bukan hanya takut pada rasa sakit itu.

Aku takut setiap detik akan melihat darah.

Aku mencoba menelepon Arga sekali.

Tidak dijawab.

Dua kali.

Tetap tidak dijawab.

Akhirnya aku menghubungi layanan darurat.

Beberapa orang yang kebetulan berhenti di dekatku ikut membantu sampai ambulans datang.

Ketika petugas medis melihat kondisiku, ekspresi mereka langsung berubah serius.

Aku segera dibawa ke rumah sakit terdekat.

Sesampainya di IGD, semuanya bergerak begitu cepat.

Perawat memasang infus.

Alat monitor ditempelkan ke tubuhku.

Seorang dokter kandungan bernama dr. Maya berdiri di samping tempat tidur sambil memperhatikan layar monitor.

Aku mencoba membaca ekspresinya.

“Dok… bayi saya bagaimana?”

Dia tidak langsung menjawab.

Dan keheningan singkat itu membuatku semakin takut.

“Kami melihat adanya kontraksi prematur,” katanya akhirnya. “Ada beberapa hal lain yang perlu kami periksa karena kami khawatir dengan kondisi plasenta.”

Darahku terasa dingin.

“Apakah bayi saya akan lahir sekarang?”

“Kami sedang berusaha menstabilkan kondisi Ibu dan bayi terlebih dahulu.”

Aku menggenggam seprai.

“Bayi saya selamat, kan?”

“Kami akan melakukan yang terbaik.”

Saat itulah aku menangis.

Bukan hanya karena rasa sakit.

Bukan hanya karena ketakutan kehilangan bayi yang selama delapan bulan tumbuh di dalam tubuhku.

Aku menangis karena baru beberapa puluh menit sebelumnya, ayah dari bayi ini melihatku memohon pertolongan…

dan memilih meninggalkanku.

Aku menelepon satu-satunya orang yang terpikir olehku.

Ayah.

Sekitar empat puluh menit kemudian, pintu kamar perawatanku terbuka.

Ayahku, Hendra Pramono, masuk.

Usianya enam puluh dua tahun. Rambutnya sudah dipenuhi uban, dan sepanjang hidupku aku hampir tidak pernah melihatnya kehilangan kendali.

Ayah bukan tipe orang yang berteriak.

Kalau marah, dia justru semakin diam.

Begitu melihatku terbaring dengan infus dan monitor di samping tempat tidur, langkahnya berhenti.

Dia memandang wajahku.

Lalu perutku.

Kemudian kursi kosong di samping tempat tidur.

“Arga di mana?”

Aku tidak langsung mampu menjawab.

Ayah mendekat.

“Nadira?”

Bibirku bergetar.

“Dia meninggalkanku di pinggir jalan.”

Ayah tidak mengatakan apa-apa.

Wajahnya tidak berubah.

Namun tubuhnya menjadi benar-benar diam.

Entah kenapa, itu jauh lebih menakutkan daripada kalau dia langsung marah.

“Dia melakukan apa?”

“Dia pikir aku pura-pura sakit karena tidak mau datang ke acara Bu Ratna.”

Ayah menarik kursi dan duduk di sampingku.

Tangannya menggenggam tanganku.

“Dokter bilang apa?”

“Mereka khawatir aku mengalami kontraksi prematur dan ada masalah dengan plasenta.”

Ayah menunduk selama beberapa detik.

Ketika kembali menatapku, suaranya sangat tenang.

“Nadira, dengarkan Ayah baik-baik.”

Aku mengangguk.

“Rumah di Bintaro yang kalian tempati sekarang masih atas namamu, benar?”

Aku berkedip.

Pertanyaan itu sama sekali tidak kuduga.

“Iya.”

Rumah dua lantai di Bintaro itu diwariskan kepadaku oleh almarhumah nenek sebelum aku menikah dengan Arga.

“Arga pernah dimasukkan ke sertifikat kepemilikan?”

“Tidak.”

“Pernah ada perubahan kepemilikan setelah kalian menikah?”

Aku menggeleng.

“Tidak pernah.”

Tatapan Ayah berubah.

Dingin.

Tegas.

“Bagus.”

“Ayah…”

Dia berdiri.

“Sekarang kamu fokus pada dirimu dan cucu Ayah.”

“Ayah mau ke mana?”

Ayah mengambil ponselnya.

“Melakukan sesuatu yang seharusnya sudah Ayah lakukan sejak lama.”

Aku langsung memahami maksudnya.

“Ayah, jangan cari Arga. Aku tidak mau ada keributan.”

Ayah menatapku.

“Siapa bilang Ayah mau mencari dia?”

Dia membungkuk dan mencium keningku.

“Rumah itu milikmu.”

Kemudian dia berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, Ayah berhenti dan menoleh sekali lagi.

“Dan orang yang tega meninggalkan putri Ayah yang sedang hamil delapan bulan sendirian di pinggir jalan tidak berhak pulang malam ini seolah tidak terjadi apa-apa.”

Untuk pertama kalinya sejak Arga meninggalkanku, sesuatu berubah di dalam diriku.

Rasa takut itu masih ada.

Tetapi di bawahnya muncul sesuatu yang jauh lebih tenang.

Jauh lebih kuat.

Selama berbulan-bulan, Arga membuatku percaya bahwa karena aku sedang hamil, aku membutuhkan dirinya.

Bahwa aku terlalu lemah untuk melawan.

Bahwa aku akan selalu memaafkan apa pun yang dia lakukan demi mempertahankan keluarga kami.

Namun malam itu, Arga melakukan satu kesalahan besar.

Dia mengira aku terjebak karena sedang mengandung anaknya.

Dia lupa satu hal sederhana.

Rumah yang selama ini dia sebut sebagai rumahnya…

tidak pernah menjadi miliknya.

Dan ketika Arga akhirnya pulang beberapa jam kemudian setelah makan malam bersama ibunya, dia berdiri di depan pagar rumah kami sambil mencoba kunci yang tidak lagi bisa membuka pintu.

Semua kuncinya sudah diganti.

Koper berisi pakaiannya sudah berada di teras.

Dan di atas koper itu terdapat sebuah amplop yang sengaja ditinggalkan Ayah untuknya.

Namun Arga belum tahu bahwa pergantian kunci bukanlah kejutan terbesar yang menunggunya malam itu.

Karena sementara dia berdiri di depan rumah dan meneleponku berkali-kali…

dokter masuk ke kamar rawatku dengan hasil pemeriksaan terbaru di tangannya.

Ekspresinya membuat jantungku berhenti sesaat.

“Nadira,” katanya pelan, “ada sesuatu yang perlu kami bicarakan sekarang.”

“Nadira,” kata dr. Maya pelan, “ada sesuatu yang perlu kami bicarakan sekarang.”

Jantungku seperti berhenti berdetak.

Tanganku spontan menutupi perut.

“Bayi saya?”

Dr. Maya menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur.

“Denyut jantung bayi masih stabil. Itu kabar baik.”

Aku mengembuskan napas yang bahkan tidak kusadari sedang kutahan.

“Tapi?”

“Kami menemukan tanda awal solusio plasenta. Sebagian plasenta tampaknya mulai terlepas dari dinding rahim.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Aku pernah membaca istilah itu selama kehamilan.

Aku tahu itu bisa berbahaya.

“Apakah karena tadi?”

“Kami tidak bisa menyimpulkan penyebab hanya dari satu kejadian. Kondisi seperti ini bisa dipengaruhi berbagai faktor. Yang penting sekarang, Anda berada di rumah sakit dan kami bisa memantau Anda.”

“Apakah bayi saya harus dilahirkan?”

“Belum tentu. Kalau kondisi Anda dan bayi tetap stabil, kami akan berusaha mempertahankan kehamilan selama aman. Tapi kalau perdarahan meningkat atau kondisi bayi berubah, kami mungkin harus melakukan tindakan segera.”

Tanganku gemetar.

Tiba-tiba ponsel di meja samping tempat tidur menyala.

Arga.

Panggilan ke-11.

Aku membalikkan ponsel.

Aku tidak ingin mendengar suaranya.

Belum.

Beberapa menit kemudian Ayah kembali.

Aku menceritakan penjelasan dokter kepadanya.

Wajah Ayah pucat, tetapi dia tetap tenang.

“Rumah sudah aman,” katanya. “Kuncinya sudah diganti.”

Aku menatapnya.

“Barang Arga?”

“Barang pentingnya Ayah masukkan ke koper. Sisanya tidak Ayah sentuh.”

“Ayah benar-benar melakukannya?”

“Rumah itu milikmu. Tapi keputusan berikutnya tetap keputusanmu.”

Kalimat itu membuat mataku panas.

Ayah tidak mengatakan aku harus bercerai.

Tidak menyuruhku membalas dendam.

Dia hanya memastikan aku memiliki tempat yang aman untuk pulang.

Ponselku bergetar lagi.

Kali ini pesan.

Nadira, kamu di mana?

Kemudian:

Ayahmu gila? Kenapa kunci rumah diganti?

Pesan ketiga membuat dadaku sesak.

Buka pintunya. Ibu ada di sini. Jangan mempermalukanku di depan keluarga.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Bukan:

Apakah kamu baik-baik saja?

Bukan:

Bagaimana bayi kita?

Bukan:

Maaf.

Hal pertama yang dia pikirkan tetap sama.

Dirinya sendiri.

Aku menyerahkan ponsel kepada Ayah.

Dia membacanya, kemudian meletakkannya kembali.

“Jangan jawab kalau kamu belum siap.”

Aku mengangguk.

Lalu sebuah pesan baru masuk.

Dari Ratna.

Apa pun masalah kalian, jangan bawa-bawa orang tua. Arga besok harus kerja. Suruh ayahmu buka rumah.

Aku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena untuk pertama kalinya aku melihat semuanya dengan sangat jelas.

Selama ini aku selalu mengira masalah dalam pernikahanku terdiri dari ratusan kejadian kecil.

Arga yang membatalkan janji dokter karena rapat.

Arga yang mengatakan aku terlalu sensitif ketika ibunya mengkritik berat badanku.

Arga yang memberikan kunci rumah kepada Ratna tanpa bertanya kepadaku.

Arga yang menggunakan tabunganku untuk membantu ibunya merenovasi dapur lalu berkata, “Kita keluarga.”

Satu demi satu selalu kumaafkan.

Malam ini semua kepingan itu akhirnya membentuk satu gambar.

Aku bukan pasangan bagi Arga.

Aku adalah seseorang yang keberadaannya dianggap pasti.

Seseorang yang akan selalu ada.

Sampai malam ketika dia meninggalkanku di jalan.


Pagi berikutnya, kondisiku lebih stabil.

Kontraksi berkurang.

Dokter mengatakan kami masih harus diawasi ketat.

Ayah pulang sebentar untuk mandi dan mengambil beberapa barang untukku.

Sekitar pukul sembilan, seorang perawat masuk.

“Mbak Nadira, ada seseorang ingin bertemu.”

Aku langsung menegang.

“Suami saya?”

Perawat menggeleng.

“Seorang perempuan. Namanya Sinta.”

Aku mengerutkan kening.

Aku mengenal nama itu.

Sinta adalah asisten administrasi di kantor Arga.

Aku pernah bertemu dengannya dua kali.

“Suruh masuk.”

Beberapa saat kemudian seorang perempuan sekitar tiga puluh tahun masuk membawa tas laptop.

Wajahnya tampak gugup.

“Mbak Nadira.”

“Sinta?”

Dia duduk.

“Saya dengar Mbak masuk rumah sakit.”

“Dari siapa?”

Sinta menelan ludah.

“Pak Arga.”

Aku menatapnya.

“Dia datang ke kantor?”

“Tadi pagi. Dia marah-marah karena katanya tidak bisa masuk rumah.”

Tentu saja.

Aku hampir bisa membayangkannya.

“Ada apa, Sinta?”

Dia menatap pintu, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas.

“Sebenarnya saya sudah mau menghubungi Mbak sejak dua minggu lalu.”

Dadaku mulai tidak nyaman.

“Kenapa?”

“Karena ada sesuatu yang Pak Arga lakukan menggunakan nama Mbak.”

Aku membeku.

Sinta meletakkan beberapa lembar fotokopi di meja.

Aku melihat namaku.

Nadira Prameswari.

Nomor identitasku.

Alamat rumahku.

Dan tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.

“Apa ini?”

“Dokumen pengajuan pinjaman.”

Aku merasa darah meninggalkan wajahku.

“Pinjaman apa?”

“Pak Arga sedang berusaha mendapatkan dana untuk masuk sebagai investor di perusahaan baru bersama dua temannya. Dia mengajukan dokumen yang mencantumkan rumah Mbak sebagai salah satu aset pendukung.”

Aku langsung duduk lebih tegak.

“Rumah saya?”

Sinta cepat mengangguk.

“Belum selesai. Itu sebabnya saya datang. Prosesnya masih tahap verifikasi.”

Aku menatap tanda tangan itu.

“Itu bukan tanda tangan saya.”

“Saya tahu.”

“Kamu tahu dari mana?”

Sinta membuka laptopnya.

“Karena tiga minggu lalu Pak Arga menyuruh saya mencetak beberapa dokumen lama milik Mbak dari berkas asuransi keluarga.”

Aku merasa mual.

“Untuk apa?”

“Katanya untuk pembaruan data.”

Dia berhenti.

“Lalu saya melihat tanda tangan Mbak muncul di dokumen ini.”

Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.

Aku menatap Sinta.

“Kenapa kamu baru memberi tahu saya sekarang?”

Matanya turun.

“Karena saya takut kehilangan pekerjaan.”

Setidaknya dia jujur.

“Tapi kemarin sore Pak Arga menelepon saya dari restoran. Dia meminta saya memastikan proses verifikasi dipercepat hari ini.”

“Kemarin?”

“Iya.”

Saat aku berdiri sendirian di pinggir jalan, suamiku ternyata bukan hanya sedang menuju pesta promosi.

Dia juga masih memikirkan bagaimana menggunakan rumahku untuk rencananya.

“Kenapa sekarang kamu berubah pikiran?”

Sinta menatap perutku.

“Saya mendengar apa yang terjadi.”

Suaranya melemah.

“Dan saya punya adik perempuan yang sedang hamil enam bulan.”

Matanya berkaca-kaca.

“Saya membayangkan kalau suaminya melakukan hal yang sama.”

Dia mendorong amplop itu kepadaku.

“Semua yang saya punya ada di sini.”

Aku menutup mata.

Satu air mata jatuh.

Namun anehnya, aku tidak merasa hancur.

Aku merasa seperti baru saja bangun dari tidur panjang.


Ayah datang satu jam kemudian.

Ketika melihat dokumen itu, dia langsung menghubungi pengacara keluarga.

Siang harinya kami mendapat kepastian bahwa rumahku belum berpindah tangan dan belum dibebani hak apa pun.

Pengajuan itu belum selesai.

Aku masih bisa menghentikannya.

Dan aku melakukannya.

Hari itu juga.

Namun sesuatu yang lebih penting terjadi setelahnya.

Aku akhirnya menjawab telepon Arga.

“Apa-apaan ini, Nadira?”

Tidak ada salam.

Tidak ada pertanyaan tentang bayi.

“Dokumen pinjaman itu apa?”

Sunyi.

Hanya dua detik.

Tapi dua detik itu sudah menjadi jawaban.

“Kamu dapat dari siapa?”

Aku hampir tersenyum.

Bukan, dokumen apa?

Melainkan, dapat dari siapa?

“Jadi memang kamu.”

“Nadira, dengarkan dulu.”

“Aku mendengarkan.”

“Itu cuma administrasi awal.”

“Dengan tanda tanganku?”

“Aku mau bicara sama kamu setelah semuanya jelas.”

“Kamu memalsukan tanda tanganku.”

“Aku tidak memalsukan—”

“Rumah itu milikku.”

“Dan aku suamimu!”

Suara Arga meninggi.

Aku memejamkan mata.

Kalimat itu.

Akhirnya keluar juga.

“Karena kamu suamiku, kamu merasa berhak?”

“Kita sedang membangun masa depan bersama!”

“Dengan menjaminkan rumah yang diwariskan nenekku tanpa memberitahuku?”

“Kamu pasti akan menolak kalau aku bilang dari awal.”

Aku terdiam.

Arga juga terdiam.

Mungkin dia baru menyadari apa yang baru saja diakuinya.

Aku berkata pelan, “Jadi kamu tahu aku tidak setuju.”

“Nadira—”

“Dan tetap melakukannya.”

“Kamu tidak mengerti tekanan yang aku alami.”

“Aku mengerti.”

Suaraku begitu tenang sampai aku sendiri terkejut.

“Kemarin aku juga mengalami tekanan, Arga.”

Tidak ada jawaban.

“Aku berdiri di pinggir jalan sambil memegangi perut dan takut bayi kita akan mati.”

“Nadira, aku tidak tahu seserius itu.”

“Aku bilang aku tidak bisa bernapas.”

“Kamu sering—”

Dia berhenti.

“Sering apa?”

Sunyi.

“Katakan.”

“Aku sedang stres.”

Aku menatap monitor denyut jantung bayi di samping tempat tidur.

Suara kecil yang teratur itu menjadi satu-satunya hal yang ingin kudengar.

“Aku harus pergi.”

“Tunggu. Aku datang ke rumah sakit.”

“Jangan.”

“Aku ayah bayi itu.”

“Benar.”

Aku menarik napas.

“Dan kemarin bayi itu membutuhkan ayahnya.”

Aku memutus panggilan.


Dua hari kemudian, Arga datang juga.

Dia tidak bisa masuk begitu saja karena aku sudah meminta rumah sakit membatasi pengunjung.

Akhirnya, setelah berbicara dengan Ayah dan dokter, aku setuju menemuinya di ruang tunggu.

Arga tampak berbeda.

Kemejanya kusut.

Matanya merah.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, dia tidak terlihat seperti laki-laki yang selalu memiliki jawaban.

Dia terlihat kecil.

“Nadira.”

Aku duduk di kursi roda karena dokter tidak ingin aku terlalu banyak berjalan.

Arga menatap perutku.

“Bagaimana bayi kita?”

Akhirnya.

Pertanyaan itu datang hampir dua hari terlambat.

“Stabil.”

Dia mengusap wajah.

“Syukurlah.”

Aku tidak menjawab.

“Nadira, aku melakukan kesalahan.”

“Yang mana?”

Wajahnya berubah.

“Meninggalkanmu.”

“Dan?”

“Dokumen itu.”

“Dan?”

Dia mengerutkan kening.

Aku menatapnya.

“Berapa lama kamu membiarkan ibumu memperlakukan rumahku seolah rumah itu miliknya?”

Arga menunduk.

“Berapa kali kamu membiarkannya menghina aku lalu mengatakan aku terlalu sensitif?”

Tidak ada jawaban.

“Berapa kali aku pergi ke dokter sendirian karena pekerjaanmu atau acara keluargamu lebih penting?”

“Nadira…”

“Aku tidak kehilangan kepercayaan kepadamu kemarin.”

Air mataku mulai turun.

“Kemarin cuma hari ketika aku akhirnya sadar kepercayaan itu sudah habis.”

Arga mulai menangis.

Aku belum pernah melihatnya menangis sejak pemakaman ayahnya.

Dia berlutut di depanku.

“Aku akan berubah.”

Dulu, kalimat itu mungkin cukup.

Namun sesuatu di dalam diriku sudah berubah.

“Bangun.”

“Nadira, tolong.”

“Bangun, Arga.”

Dia berdiri.

“Aku akan ikut konseling. Aku akan keluar dari bisnis itu. Aku akan memperbaiki semuanya.”

Aku mengangguk perlahan.

“Kamu memang harus memperbaiki dirimu.”

Harapan muncul di matanya.

“Tapi bukan supaya aku kembali.”

Harapan itu padam.

“Aku sudah bicara dengan pengacara.”

Wajahnya pucat.

“Aku ingin berpisah.”

“Nadira…”

“Aku tidak mengatakan ini karena marah.”

Dan itulah bagian paling menyakitkan.

Aku benar-benar tidak marah lagi.

“Aku mengatakannya karena aku tidak bisa membesarkan anak perempuan kita sambil mengajarinya bahwa cinta berarti menerima penghinaan.”

Arga menatapku.

“Anak perempuan?”

Aku mengusap perut.

Kami sengaja tidak mengetahui jenis kelamin bayi selama kehamilan.

Namun setelah pemeriksaan tambahan, dokter tanpa sengaja mengungkapkannya ketika menjelaskan hasil USG kepadaku.

“Perempuan.”

Bibir Arga bergetar.

Dia menutup wajah dengan kedua tangan.

Aku menangis bersamanya.

Bukan karena ingin kembali.

Aku menangisi keluarga yang seharusnya bisa kami miliki.

Kadang-kadang cinta memang berakhir bukan karena tidak pernah ada.

Tetapi karena seseorang terlalu sering menginjaknya sampai yang tersisa hanyalah kenangan.


Tiga minggu kemudian, aku terbangun menjelang subuh karena kontraksi.

Kali ini aku tidak sendirian.

Ayah tidur di sofa ruang tamu rumahku.

Begitu mendengar suaraku, dia langsung bangun.

“Sudah waktunya?”

“Ayah…”

Dia melihat wajahku.

Kemudian panik.

“Ya Tuhan. Sudah waktunya.”

Di tengah rasa sakit, aku malah tertawa.

Ayah yang mampu menghadapi pengacara, bank, dan Arga tanpa menaikkan suara mendadak tidak bisa menemukan kunci mobil yang ternyata ada di tangannya sendiri.

Beberapa jam kemudian, di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, putriku lahir.

Kecil.

Sehat.

Dengan rambut hitam tebal dan suara tangisan yang membuat seluruh tubuhku gemetar.

Ketika perawat meletakkannya di dadaku, aku menangis.

“Halo, Sayang.”

Jari mungilnya menutup di sekitar telunjukku.

Aku menamainya Alea.

Ayah berdiri di dekat jendela sambil menghapus air mata diam-diam.

“Ayah menangis?”

“AC-nya terlalu dingin.”

Aku tertawa sambil menangis.

Kemudian pintu diketuk.

Aku mengira perawat.

Ternyata Arga.

Dia berdiri di luar.

Tidak masuk.

Hanya menunggu izin.

Aku menatap Ayah.

Ayah tidak mengatakan apa pun.

Keputusan itu milikku.

“Biarkan dia masuk.”

Arga berjalan mendekat perlahan.

Begitu melihat Alea, wajahnya runtuh.

“Dia…”

Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Aku menyerahkan Alea kepadanya.

“Tahan kepalanya.”

Tangannya gemetar saat menerima putrinya.

“Hai.”

Satu kata.

Lalu Arga menangis.

Tangis yang dalam dan tidak bisa disembunyikan.

“Ayah minta maaf.”

Aku memalingkan wajah ke jendela.

Entah apakah suatu hari Alea akan memaafkannya.

Itu akan menjadi keputusan Alea ketika cukup dewasa memahami semuanya.

Namun aku membuat satu keputusan hari itu.

Aku tidak akan menggunakan putriku sebagai senjata.

Arga boleh menjadi ayahnya jika dia mampu menjadi ayah yang aman, bertanggung jawab, dan hadir.

Tetapi dia tidak akan otomatis mendapatkan kembali posisi sebagai suamiku.

Dua hal itu berbeda.


Enam bulan berlalu.

Proses perpisahan kami berjalan.

Penyelidikan terhadap dokumen pinjaman juga berjalan sesuai jalur hukum. Karena pengajuan berhasil dihentikan sebelum rumahku terbebani dan bukti-bukti telah diserahkan kepada pihak yang berwenang, pengacara menyarankan agar aku membiarkan proses formal menentukan konsekuensinya.

Arga kehilangan promosi yang malam itu begitu ingin dia rayakan.

Bukan karena aku meminta kantornya menghukumnya.

Sinta ternyata bukan satu-satunya pegawai yang menemukan masalah.

Audit internal menemukan beberapa pelanggaran prosedur terkait proyek investasi yang sedang dia bangun bersama rekan-rekannya.

Ratna datang ke rumah sekali.

Aku membiarkannya masuk.

Dia duduk di sofa sambil memandang Alea yang tidur di pelukanku.

Untuk pertama kalinya, ibu mertuaku tidak datang membawa kritik.

Dia datang membawa rasa malu.

“Saya terlalu banyak ikut campur,” katanya.

Aku tidak menyangkal.

“Saya membesarkan Arga sendirian setelah ayahnya meninggal. Mungkin saya membuat dia percaya bahwa keluarga selalu akan membereskan kesalahannya.”

Aku menatapnya.

“Bu Ratna, Arga sudah dewasa.”

Dia mengangguk.

“Saya tahu.”

Sebelum pulang, dia meletakkan sebuah kotak kecil di meja.

Di dalamnya ada gelang bayi milik Arga ketika baru lahir.

“Kalau suatu hari kamu merasa Alea pantas memilikinya.”

Aku menerima kotak itu.

Bukan sebagai tanda bahwa semuanya telah dimaafkan.

Tetapi sebagai bukti bahwa terkadang manusia bisa terlambat menyadari kesalahannya dan tetap memilih untuk berubah.


Pada ulang tahun pertama Alea, halaman belakang rumah dipenuhi keluarga.

Tidak ada pesta mewah.

Tidak ada restoran mahal.

Hanya nasi tumpeng, balon, keluarga dekat, dan suara tawa.

Arga datang tepat waktu.

Dia membawa hadiah sederhana dan tidak membawa Ratna tanpa bertanya kepadaku terlebih dahulu.

Selama setahun terakhir dia mengikuti konseling, bekerja di tempat baru, dan tidak pernah sekali pun memintaku membatalkan proses perpisahan.

Perubahan yang nyata ternyata tidak banyak bicara.

Ia hanya konsisten.

Ketika pesta hampir selesai, Ayah duduk di sampingku.

Alea tertidur di dadanya.

“Ayah mau kasih sesuatu.”

Dia menyerahkan sebuah amplop.

Aku langsung curiga.

“Apa lagi ini?”

“Buka.”

Di dalamnya ada salinan dokumen lama.

Aku membaca nama pemilik rumah.

Namaku.

Lalu ada surat tulisan tangan dari nenekku yang selama ini kusangka sudah hilang.

Aku mengenali tulisan itu.

Tanganku mulai gemetar.

Untuk Nadira.

Aku membaca perlahan.

Nenek menulis surat itu beberapa bulan sebelum meninggal.

Ada satu kalimat yang membuat air mataku jatuh.

Rumah ini Nenek tinggalkan bukan supaya kamu selalu punya tempat tinggal, tetapi supaya kamu selalu punya tempat untuk pulang ketika seseorang membuatmu lupa bahwa kamu berhak merasa aman.

Aku menutup mulut.

“Ayah…”

“Ayah menemukannya di antara dokumen lama.”

Aku menangis.

Selama ini kupikir kejutan terbesar dalam hidupku adalah mengetahui rumah itu telah menyelamatkanku dari rencana Arga.

Ternyata bukan.

Nenekku tidak pernah mengenal Arga.

Tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Dia hanya mengenal kehidupan.

Dan dia mengenal cucunya.

Aku melihat sekeliling.

Rumah yang dulu terasa seperti medan perang kini dipenuhi suara keluarga.

Di halaman, Arga sedang membereskan kursi tanpa diminta.

Kami belum kembali bersama.

Mungkin tidak akan pernah.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak membutuhkan jawaban tentang masa depan.

Aku sudah memilikinya.

Alea bergerak dalam pelukan Ayah lalu membuka matanya.

Aku mengambilnya.

Dia menyentuh pipiku dengan tangan kecilnya.

Aku tersenyum.

Setahun sebelumnya, aku berdiri di pinggir jalan sambil memegangi perutku dan berpikir hidupku mungkin akan berakhir malam itu.

Ternyata yang berakhir hanyalah kehidupan yang selama ini kupaksakan untuk tetap utuh.

Aku kehilangan pernikahan yang kukira harus kuselamatkan.

Tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Keberanian untuk menyelamatkan diriku sendiri.

Aku mencium kening Alea.

Di belakangku, rumah peninggalan Nenek berdiri dengan pintu terbuka lebar.

Dan akhirnya aku memahami arti suratnya.

Rumah bukan sekadar tempat yang kuncinya bisa diganti.

Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu memohon untuk dianggap berharga.

Tempat di mana rasa takut tidak disebut drama.

Tempat di mana cinta tidak meminta kita mengorbankan harga diri untuk membuktikan kesetiaan.

Aku memeluk putriku lebih erat.

“Ayo masuk, Sayang.”

Lalu aku melangkah melewati pintu itu.

Bukan sebagai perempuan yang ditinggalkan suaminya di pinggir jalan.

Bukan sebagai istri yang gagal mempertahankan rumah tangga.

Tetapi sebagai seorang ibu yang akhirnya mengerti bahwa terkadang pintu yang harus kita tutup dengan berani…

adalah pintu yang membuat kita menemukan jalan pulang.